Share

Bab 87

Author: Mutiara Sukma
last update Last Updated: 2025-02-13 17:33:51

"Buang saja, Mas. Aku tak mau mengingat kenangan pahit yang dulu pernah aku alami."

Aku menyerahkan kado ter-ga jelas sepanjang masa itu pada Mas Nadhif. Mas Nadhif menerima lalu tersenyum.

"Sepertinya ada mantan yang menyesal telah membuang berlian."

Mas Nadhif membuang kado beserta isinya itu ke tong sampah. Kecuali foto Mas Nadhif merobek potongan gambar yang ada Mas Arsen nya.

"Jangan meledek ku begitu, Mas." Aku merajuk.

"Itu Fakta, Sayang. Tapi, tak apa. Itu menandakan jika istriku ini bukan orang sembarangan. Mas bangga mendapatkan kamu, Dik."

Mas Nadhif membelai kepalaku. Membantu membuka jilbab yang kukenakan dengan lembut.

Perlahan, rambut sepunggungku terurai.

"MasyaAllah, Mas baru lihat Adik seperti ini,"

Tangannya terus membelai rambutku dan dengan lembut mendaratkan sebuah kecupan di kening.

"Maafkan jika sedari dulu aku sudah menyimpan rasa itu padamu. Disaat kamu masih menjadi miliknya."

Aku tertawa lebar. Namun, segera menghentikan tawa yang tak seharusnya itu.

"Mun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH    Bab 88

    "MasyaAllah, Dik. Kamu kenapa? Kok melamun?""Eh, enggak Mas. Aku gapapa."Mas Nadhif hanya tersenyum lalu mengendong Abrar ke kamar mandi. Hah? Aku selama ini tak pernah merasakan dimanja oleh suami. Tapi, dengan Mas Nadhif, aku seakan tak dibiarkan capek. Meski dia juga sibuk mengerjakan pekerjaannya di depan komputer. Namun, untuk pekerjaan rumah tangga dia dengan sigap membantu."Bu, biar Nadhif yang masak. Ibu istirahat aja. Nanti kalau udah mateng kita makan bareng-bareng.""Ndak usah, Nak. Biar ibu sama Bik Inah aja." Tolak ibu. Aku yang sedang menyelesaikan pekerjaan dari ruang tamu menyimak obrolan mereka."Gapapa, Bu. Bik Inah biar ngerjain pekerjaan yang lain. Saya udah lama ga masak. Takut lupa cara menyalakan kompor." Dia terkekeh."Ah, bisa aja. Bener nih, ibu tinggal?""Iya. Serahkan sama cheff Nadhif." Mereka tertawa. Ah, indahnya. Rumah tangga yang selama ini aku idam idamkan. Setiap waktu sholat Mas Nadhif juga disiplin mengiring anak anak ke mesjid. Begitu juga wak

    Last Updated : 2025-02-13
  • KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH    Bab 89

    Aku menatap nanar bangunan toko yang hangus dilalap si jago merah itu. Api dengan cepat melahap semua isi toko. Termasuk bangunan yang berada disebelahnya yang merupakan mess karyawan. Aku sengaja memberikan fasilitas untuk karyawan yang belum berkeluarga untuk tinggal disana. Tak besar, tapi tak juga kecil. "Gapapa, Sayang. Rejeki itu titipan. Setiap titipan pasti akan dimintai kembali oleh yang punya. Nanti Mas akan mencarikan tempat yang strategis untuk memulai usaha ini lagi, ya."Mas Nadhif merangkul pundakku. Dengan lemah kepala ini bersandar di bahunya. Meski tanpa air mata, hatiku tetap saja hancur. Perjuangan membangun toko sejak masih menjadi istri Mas Arsen. Sekarang tinggal kenangan. Bukan masalah materi, tapi lebih ke effort ku mengubah nasibku sendiri."Sabar, ya, Dek. InsyaAllah, Allah akan menggantikan dengan rejeki yang lebih banyak lagi." Ujar Mas Fatan dengan suara bergetar.Mas Fatan tentu lebih terpukul. Mata pencahariannya disana. Dia yang lebih banyak menghabis

    Last Updated : 2025-02-14
  • KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH    Bab 90

    "Sayang, Mas ikhlas. Mas Fatan itu abangmu, yang artinya Abang Mas juga. Ga salah kita membantu Mas Fatan untuk bangkit. Dia pasti sedih sekali atas musibah ini."Aku merebahkan diri ke dada Mas Nadhif. Sungguh bersyukur Allah memberikan suami seperti Mas Nadhif. Walau dia bekerja lewat komputer nya di rumah tapi tak pernah keberatan membantu pekerjaanku. Soal nafkah juga tak perlu itung-itungan. Setiap bulan aku diberi uang untuk kebutuhanku dan anak-anak. "Mas tau, adik punya uang lebih banyak dari yang Mas berikan. Tapi, Mas sangat berharap, adik ridho menerima yang sedikit ini."Ah, MasyaAllah sekali."Mas, aku sangat berterimakasih Mas. Walau aku bisa mencari uang. Tapi, uang pemberian suami jauh lebih nikmat ketika aku gunakan. Terimakasih banyak ya, Mas."Mas Nadhif mengecup puncak kepalaku. Begitu lah kehidupan kami terasa sangat sempurna. Rasa sakit memiliki suami yang tak peka kini digantikan dengan kehadiran Mas Nadhif yang nyaris tanpa cela. Hingga beberapa bulan kemudian

    Last Updated : 2025-02-14
  • KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH    Bab 91

    Aku dan Mas Nadhif saling pandang. Cemas." Maaf, Pak, Bu, saya curiga nih sama janinnya.""Curiga kenapa, Dok? Janin saya sehat kan, Dok?"Dokter cantik itu tersenyum."Tenang, InsyaAllah sehat. Kita coba USG transvag*n*l ya, Bu. Untuk memastikan."Suster dengan sigap membantuku. Dengan berdebar debar aku mengikuti arahan dokter untuk memposisikan diri agar pemeriksaannya cepat selesai.Mas Nadhif juga terlihat sangat khawatir."Tenang, Pak. Ga usah risau. Saya mau memastikan kecurigaan saya aja.""Iya nih, Dok. Saya cemas. Semoga ga kenapa-kenapa, ya, Dok.""Enggak. Bismillah, ya... ibu tarik napas yang dalam, ya ..."Perlahan aku merasakan ada sesuatu yang masuk ke jalan lahirku."Nah, benar, kan?"Dokter itu tersenyum sumringah. "Selamat, ya. Anaknya gamelly. Ada dua kantong janin di dalam."Tak sadar Mas Nadhif bertakbir kencang. Aku pun sama. Anugerah terindah yang Allah berikan disaat suamiku mengharapkan keturunan dariku. Selesai pemeriksaan dokter segera meresepkan vitamin.

    Last Updated : 2025-02-15
  • KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH    Bab 92

    Hari ini kabar mengejutkan datang dari Mas Fatan. Pelaku yang menyebabkan kebakaran toko sudah ditemukan. Seorang laki-laki yang juga memiliki toko kue yang sama di seberang jalan tokoku. Motifnya hanya iri karena melihat toko kami lebih rame dibanding tokonya. Malam itu dia menyiramkan bensin lalu membakar tempat usaha kami lalu melenggang tanpa dosa.Lewat rekaman cctv dari toko sebelah pelakunya dapat diringkus. "Syukurlah, pelakunya sudah ditangkap. Seharusnya dia tak perlu melakukan hal buruk begitu. Karena hanya merugikan diri sendiri. Anak Istri pasti akan goncang karena kepala keluarganya mendapat masalah besar."Aku terdiam. Tadinya aku sangat senang penjahat nya ditangkap. Berharap dipenjara dalam waktu yang lama. Tapi, mendengar ucapan Mas Nadhif aku malah jadi kasian. Kepikiran dengan anak dan istrinya. Biarlah semoga menjadi pembelajaran buat dia untuk lebih bijak lagi ketika melakukan sesuatu.Siang menjelang anak anak sedang kumpul di meja makan. Hari ini Alif dan Wilda

    Last Updated : 2025-02-15
  • KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH    Bab 93

    Hari perkiraan lahir makin dekat. Aku sudah kewalahan untuk berjalan. Perasaan juga makin tak menentu. Beruntung Mas Nadhif tak pernah lalai menjagaku. Setiap saat dia selalu menjagaku. Menggantikan peranku sementara merawat anak anak."Mas, kira kira siapa perempuan yang dimaksud Wildan, ya?"Mas Nadhif mengusap kepalaku. Matanya yang teduh menatapku lembut."Bukan siapa siapa. Kamu fokus sama anak kembar kita aja, ya. Ga usah mikir macam macam. Biar Mas yang menyelidiki siapa perempuan itu."Jawaban yang tidak membuatku puas."Apa jangan jangan mantan istri kamu, Mas? Yang berarti ibu kandungnya Wildan."Mas Nadhif menggeleng."Bukan. Semoga bukan. Ibu kandung Wildan sudah mati. Dia sudah mati di hatiku apalagi di hati Wildan. Ga usah nyebut nyebut perempuan itu lagi."Dari kalimat yang dia ucapkan jelas masih tersimpan rasa sakit hati yang sangat mendalam. Kecewa yang akhirnya menumbuhkan dendam meski tak harus dilampiaskan.Pagi ini aku memilih duduk di halaman depan sambil menikm

    Last Updated : 2025-02-17
  • KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH    Bab 94

    "Selamat ya Bu, Dua putrinya lahir dengan selamat, sempurna tanpa kurang suatu apapun."Putri? Sungguh dua anakku bayi bayi perempuan? Air mata jatuh di sudut mataku. Tak terbayang bahagianya Mas Nadhif, jika tahu anak kami keduanya perempuan. Dokter pun menyerahkan satu persatu bayi itu untuk kucium."Selamat datang, Sayang. Terimakasih sudah hadir dirahim Bunda ..." Bayi mungil itu diam begitu menyentuh tubuhku. Dada rasanya meledak karena begitu bahagia. Terimakasih ya, Allah ..***Setelah kondisi stabil aku pun dipindahkan ke ruang perawatan. Mas Nadhif menghampiriku dengan wajah berbinar begitu pintu ruang operasi terbuka."Sayang, dua anak kita sesuai harapan." Bisiknya. Berkali-kali dia mencium tanganku lalu beralih ke kepala."Terimakasih, Sayang .. terimakasih ..."Aku hanya mengangguk. Setetes air menetes lagi di ujung mata. Alhamdulillah ya Allah.Seminggu aku dirawat, akhirnya diperbolehkan pulang. Meski luka bekas operasi belum lah sembuh total karena tentu saja akan mem

    Last Updated : 2025-02-17
  • KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH    95

    "Erna, mantan istri Mas. Usianya tak lama, dokter memperkirakan tinggal 2 bulan lagi, Dik.""Ya Allah ..." Aku spontan menutup mulut dengan tangan. Walau sudah tak ada hubungan apa-apa diantara mereka, tapi aku cemburu. Aku dapat melihat rona sedih di wajah Mas Nadhif. Wajar sih bagaimanapun perempuan itu adalah ibu dari Wildan. Hubungan mereka takkan pernah terputus."Jadi bagaimana, Mas?"Mas Nadhif menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Lama kami sama-sama terdiam."Erna minta Wildan untuk menemani di hari-hari terakhirnya."Degh.Apa yang harus aku lakukan, Tuhan. Aku ingin melarang tapi perempuan itu mempunyai hak sebagai ibunya. Membiarkan Wildan tinggal sementara dengannya, entah kenapa hatiku tak rela."Menurut Mas, gimana?"Mas Nadhif menghela napas panjang. Lalu membuang pandang ke arah jendela."Dia sudah meninggalkan Wildan sejak lama. Bahkan, anak itu mengira ibunya sudah meninggal. Mas bingung. Jika membiarkan Wildan ikut mamanya, pasti dia akan sangat tak nyama

    Last Updated : 2025-02-18

Latest chapter

  • KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH    Season 2 bab 158

    Alisa mendengus. "Dan aku ini anak yang rumahnya kalian tempati! Kalau Tante Rina dan Om Bayu masih mau tinggal di sini, tolong sadar diri!"Rina hendak membalas, tapi tiba-tiba Wildan, anak tiri Tari, muncul dari belakang. "Sudah, nggak usah ribut."Semua mata menoleh ke arahnya.Wildan menatap Rina dengan dingin. "Tante, aku sudah diam selama ini karena menghormati Ayah. Tapi kalau Tante dan suami Tante terus-terusan bikin suasana rumah ini nggak nyaman, lebih baik pergi.""Wildan—""Aku serius, Tante. Aku juga capek."Suasana semakin menegang. Rina dan Bayu jelas tak terima, tapi untuk pertama kalinya, mereka memilih diam.---Malam itu, Alisa dan Aleeya duduk berdua di kamar, membicarakan keadaan yang semakin kacau."Ayah makin nggak bisa diandalkan," bisik Aleeya.Alisa mengangguk. "Iya. Dia kayak nggak peduli lagi sama kita.""Tapi dia masih peduli sama Tante Rina, adiknya yang tak tau diri itu." Aleeya mendengus.Alisa menatap langit-langit dengan mata berkaca-kaca. "Bunda perg

  • KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH    Season 2 bab 157

    Rumah itu tidak lagi terasa seperti rumah.Setelah beberapa hari Tari menghilang, suasana di dalamnya semakin tegang. Anak-anak mulai merasa kehilangan keseimbangan tanpa kehadiran ibu mereka.Nadhif, yang seharusnya menjadi sosok kuat dalam keluarga, justru semakin tenggelam dalam kebingungannya sendiri. Dia lebih sering mengurung diri di kamar, termenung dengan wajah kusut dan mata lelah. Setiap kali ditanya soal Bunda, jawabannya selalu sama:"Ayah sedang berusaha, sabar dulu."Tapi tidak ada usaha yang terlihat. Tidak ada penyelidikan serius, tidak ada pencarian besar-besaran. Bahkan polisi hanya mencatat laporan kehilangan Tari tanpa tindak lanjut berarti.Ini yang membuat Alisa dan Aleeya semakin muak."Ayah nggak peduli sama Bunda!" bentak Alisa suatu malam saat mereka makan bersama.Nadhif yang duduk di ujung meja mendongak dengan wajah lelah. "Alisa, jangan ngomong begitu. Ayah peduli.""Peduli? Peduli dari mana? Seharian Ayah cuma duduk diam, merokok di teras, atau termenung

  • KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH    Season 2 bab 156

    Nadhif berdiri dengan tubuh menegang."Siapa orang itu?" tanyanya dengan suara serak.Alif memperbesar gambar, mencoba mencari detail yang lebih jelas. Sosok itu memakai masker dan topi, sehingga wajahnya sulit dikenali. Tapi ada satu hal yang mencurigakan. Ketika Tari limbung, sosok itu menoleh ke kamera CCTV.Sekilas, mata laki-laki itu terlihat. Tatapannya… tajam, penuh kebencian. Namun, sayang dia mengunakan masker membuat tak satupun mengenali orang tersebut.Dan Nadhif merasa pernah melihat tatapan itu sebelumnya. Tapi di mana? Pria paruh baya itu terus mencoba mengingat. Tapi, tak ada yang muncul dalam ingatannya.DI TEMPAT TARITari mencoba mempertahankan ketenangannya, meski jantungnya masih berdetak kencang."Apa yang kamu inginkan?" suaranya terdengar lebih tegas daripada yang ia kira.Sosok di hadapannya tersenyum tipis."Aku hanya ingin kita bicara. Tanpa gangguan dari siapa pun."Tari menelan ludah."Kamu nggak perlu sampai menculikku!" Orang itu menatapnya dalam-dalam.

  • KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH    Season 2 bab 155

    Ruang itu gelap dan pengap. Udara yang masuk terasa begitu minim, membuat dada Tari sesak. Kepalanya masih terasa berat, efek dari sesuatu yang entah bagaimana telah membuatnya kehilangan kesadaran.Perlahan, dia mencoba menggerakkan tubuhnya. Pergelangan tangannya terasa sakit, dan ketika mencoba menariknya, dia sadar… tangannya diikat.Astaga… dimana aku?!Jantungnya berdegup kencang. Tari mengatur napasnya yang memburu, mencoba berpikir dengan jernih. Ia mengingat kejadian terakhir sebelum semuanya gelap.Pagi itu, dia keluar rumah dengan niat menenangkan diri. Dia berjalan ke arah taman kecil di sekitar kompleks, menghirup udara pagi yang segar untuk meredakan emosinya setelah pertengkaran besar dengan Nadhif.Tapi saat itulah… seseorang mendekatinya dari belakang.Tari mencoba mengingat wajah orang itu, tapi yang bisa diingatnya hanya bau menyengat—seperti campuran obat dan sesuatu yang asing.Dan sekarang, dia terbangun di tempat ini.Dengan sisa kekuatan yang ada, Tari mencoba

  • KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH    Season 2 bab 154

    Bayu menatapnya tajam. "Jangan pikir aku bakal ceraiin kamu! Kamu milik aku, Rina!""Aku mau cerai!" Rina berteriak histeris.Bayu mendekat dengan gerakan mengancam, tapi kali ini Alif dan Ammar langsung berdiri di depan Rina, menghalangi pria itu."Kamu coba sentuh dia lagi, aku nggak bakal tinggal diam," suara Alif dingin. Meski sedikit kesal pada tantenya itu, tapi mereka tak terima Bayu menyakiti perempuan yang tak berdaya.Bayu menatap Alif dan Ammar dengan marah, tapi dia sadar dirinya kalah jumlah.Rina menangis tersedu-sedu di sofa.Di sisi lain, Nadhif menunduk. Dia tidak mengatakan apa pun, tetapi dari raut wajahnya, terlihat jelas bahwa dia terjebak di antara rasa bersalah dan kebodohannya sendiri.Dan di tengah semua kekacauan itu…Tari masih belum ditemukan.***Di sudut lain kota, di sebuah tempat yang gelap dan dingin, Tari duduk di lantai dengan tangan terikat di belakang.Mulutnya dibekap, matanya sembab.Dia telah menghabiskan waktu berjam-jam di ruangan itu, mendeng

  • KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH    Season 2 bab 153

    Panik melanda rumah itu. Nadhif berdiri di ruang tengah dengan wajah tegang, sementara anak-anaknya berkumpul di sekelilingnya. Mereka semua sudah mencoba menghubungi Tari, tapi ponselnya masih tergeletak di kamar."Ayah, ini nggak wajar. Bunda nggak mungkin pergi begitu aja," suara Alisa bergetar.Alif yang baru tiba dari luar kota langsung bertanya, "Udah cari ke rumah sakit? Kantor polisi?""Belum, ayah pikir bundamu cuma butuh waktu sendiri," kata Nadhif pelan."Tapi sekarang udah dua hari, Yah!" Ammar menekan nada suaranya, tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.Baru saja mereka hendak mengambil langkah serius untuk mencari Tari, tiba-tiba suara gaduh terdengar dari depan rumah.BRAK!Pintu pagar didobrak kasar.Mereka semua menoleh ke arah suara itu.Di sana, berdiri seorang pria berusia empat puluhan, berperawakan tinggi besar dengan wajah sangar dan kumis tebal. Matanya merah, rambutnya berantakan, dan pakaiannya terlihat kusut.Itu Bayu.Suami Rina."Rina!!" suaranya menggel

  • KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH    Season 2 bab 152

    "Masih banyak cara lain selain terus-menerus ngasih uang! Apa Mas nggak sadar kalau Mbak Rina itu memanfaatkan Mas?!"Nadhif menegang. "Jangan ngomong gitu, Tari. Mbak Rina bukan orang lain.""Justru karena dia bukan orang lain, seharusnya dia tahu diri!" suara Tari meninggi.Nadhif diam sejenak, lalu menggelengkan kepala. "Aku nggak mau bertengkar soal ini, Tari. Aku cuma ingin membantu kakakku."Tari mengepalkan tangannya. "Baik. Kalau Mas tetap mau memenuhi semua permintaan Mbak Rina tanpa peduli sama perasaan aku dan anak-anak, silakan. Tapi jangan salahkan aku kalau aku nggak bisa lagi bersikap baik."Setelah mengucapkan itu, Tari keluar dari kamar dengan perasaan campur aduk—kesal, marah, dan kecewa.Sementara itu, di luar kamar, Rina sedang duduk santai di ruang tamu, seolah tidak terjadi apa-apa.Dan Tari semakin yakin…Kakak iparnya ini tidak akan pergi dalam waktu dekat.Hari-hari berikutnya, suasana di rumah semakin tegang. Tari mulai menjaga jarak dari Nadhif. Dia lebih se

  • KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH    Season 2 bab 151

    Hari-hari pertama, Tari masih mencoba bersabar dengan kehadiran Rina di rumah mereka. Tapi semakin lama, sikap kakak iparnya itu benar-benar menguji batas kesabarannya.Rina memperlakukan rumah Tari seolah miliknya sendiri.Pagi itu, Tari yang baru turun dari kamar langsung mengernyit saat melihat ruang tamunya berantakan.Baju-baju berserakan di sofa, beberapa wadah makanan kosong tergeletak begitu saja di meja, dan yang lebih parah, Rina sedang duduk santai di depan televisi sambil mengenakan daster Tari.Tari menghela napas panjang, mencoba menahan kesal. "Mbak Rina, ini baju aku, kan?"Rina menoleh sekilas, lalu terkekeh. "Iya, Tari. Maaf ya, tadi Mbak kedinginan. Aku lihat bajumu di lemari, jadi kupakai sebentar. Eh, enak banget bahannya!"Tari mengepalkan tangannya erat, mencoba tetap tersenyum. "Kalau Mbak butuh baju, bilang aja. Aku bisa kasih baju lain.""Ah, nggak usah repot-repot! Ini aja enak kok." Rina kembali fokus menonton sinetron di televisi, sama sekali tidak merasa

  • KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH    Season 2 part 150

    Jadi ini alasan sebenarnya Rina datang?—Keesokan harinya…Tari sedang duduk di ruang makan bersama anak-anaknya ketika suara bel rumah berbunyi keras.Dari dapur, Rina langsung berseru, "Ah, pasti paket pesanan aku nih!"Namun, saat Tari membuka pintu…Jantungnya langsung mencelos.Seorang pria bertubuh besar dengan wajah garang berdiri di ambang pintu. Matanya tajam, sorotannya mengancam.Bayu.Suami Rina."Mana istri saya?" suaranya berat dan dingin.Tari terdiam. Ketakutan yang baru saja mereda…Kini muncul lagi. Tari merasa dirinya trauma setelah kejadian kemarin itu.Belum sempat Tari menjawab, suara Rina langsung terdengar dari dalam rumah."Astaghfirullah! Ngapain kamu ke sini, Bayu?!"Rina muncul dari dapur dengan wajah ketakutan, tapi juga marah. Tari melihat ekspresi kakak iparnya berubah drastis—dari sebelumnya yang santai, kini penuh ketegangan.Bayu langsung masuk ke dalam rumah tanpa diundang, langkahnya kasar. Tari refleks mundur, sementara Nadhif yang baru saja kelua

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status