"Komandan!" Dika datang dengan 4 anggota Polisi, mereka yang awalnya menantang Damar hampir akan pergi sebelum Polisi mengejar mereka dan menendangnya karena lari. "Bahu kiri Anda—" "Ini hanya goresan saja. Apa wanita tadi sudah aman?" tanya Damar. "Ternyata wanita itu dikejar karena motor yang dia gunakan dianggap kredit macet, 2 pria itu mengikutinya sejak keluar dari tempatnya bekerja," jelas Dika yang tau sedikit masalah wanita itu. Damar menemui wanita itu dan memastikan dengan benar masalah mereka. Setelah itu Damar coba mengobati lukanya sebelum dia pulang. Ini akan menjadi masalah untuknya, ketika Jenar tau. Jam munjukan pukul 12 malam ketika Damar sampai di rumah. Rasa bersalah terlihat jelas ketika melihat isterinya menunggu di ruang tamu sampai tertidur. "Bukankah Mas bilang sudah sampai Bandara sejak pukul 8. Kenapa baru pulang?" "Ada masalah tadi di jalan, kamu bisa pastikan pada Mbak Widi besok kalau bertemu. Akh!" Rintihan lirih ketika Damar membuka jaket
"Puas sekali menggoda orang, sekarang malah tertawa," gerutu bumil yang masih pagi sudah bawel setelah mengobrol dengan suaminya. "Makanya kamu juga jawabnya begitu. Tenanglah, Sayang, aku masih lama di sini. Karir yang aku jalani di sini masih terbilang baru. Untuk rumah baru, nanti aku coba bicarakan dengan salah satu teman. Kita pilih yang nyaman untukmu." Damar hanya membohongi Jenar tentang pindah tugas ke Papua. Dia diperbolehkan untuk fokus di Batalyon dan juga istrinya. Apalagi kondisi kehamilan sang istri sedang tidak baik, meski harusnya mengutamakan tugas. "Kamu suka sekali menggoda isterimu, sepertinya masa kehamilan Jenar sangat manja. Dikit menangis, ingat menangis, apa yang dia mau menangis," sahut Susi. "Mama sudah rapi, mau ke mana?" tanya Damar. "Mama hari ini mau pulang, ada Wulan dan ibumu juga di sini. Nanti 3 bulanan Mama akan datang. Beberapa minggu saja kan. Titip anak Mama yang bawel ini, dia akan semakin merepotkanmu dengan tingkah manjanya," balas Susi.
"Izin, Pak Danyon. Apa kabar!" Dengan sikap hormat, orang dihadapan Damar menjabat sebelum dipersilahkan duduk kembali. "Lama tidak bertemu, Anda juga tidak ada kabarnya, ke mana saja?" Damar tampak senang teman satu satuan dulu datang berkunjung. "Aku masih menjalankan tugas ku di lapangan. Beruntung Anda sekarang sudah dengan tenang membuat rencana untuk Prajurit. Bekerja di balik meja kerja ini."Pria dihadapan Damar adalah seorang kapten, beliau pernah menjadi satu regu ketika penugasan. Belum lagi mereka sering di perintahkan untuk tugas sebelum akhirinya Damar menjadi seorang Komandan Batalyon sekarang. Mereka malah asyik bicara. Apalagi kedatangan Kapten Bambang memiliki sebuah tujuan bukan hanya saling sapa. Damar untuk pulang karena ada tamu, entah akan seperti apa Jenar nanti marah padanya, yang pasti dia tidak bisa pulang sekarang. "Tidak bisakah Anda bergabung latihan kita lusa, satuan mengadakan latihan gabungan aman bersama NKRI, jika mau saya kirimkan jadwalnya."
"Kenapa, sudah makan dan habiskan." Jenar hanya menatap makanan yang baru dia makan beberapa suap saja. Padahal tadi begitu senang bisa makan diluar berdua. Nyatanya, setelah mengisi perutnya beberapa suap, dia tidak ingin lagi. "Mas saja yang makan, aku mual." Mata yang berkaca-kaca tanda dia memang sedang menahan rasa mual. Kasihan juga jika sudah seperti ini, Jenar malah tidak bisa makan dengan lahap, rasa mual menyiksanya. Meski itu tanda baik, akan tetapi Damar kasihan pada istrinya. "Enak?" Jenar menangguk senang, dia menyedot susu pisang yang dia minum. Damar mengusap ujung kepala istrinya, dari makanan yang dipesan dia hanya makan 2 suap saja setelahnya Damar yang menghabiskan, dia sangat ingin makan itu, tapi malah mual. Jenar belum tau apa yang pas untuk perutnya, hanya susu pisang yang tidak membuatnya mual. "Maafkan aku, Mas," ucapnya. Usia kandungannya jalan 3 bulan, meski sesekali masih merasa sakit dibagian perutnya, kondisi kehamilan Jenar tetap terkontrol. Apa
"Apa mual, Mbak?" "Sejauh ini tidak, Mbak. Apa memang maunya buah ya, Mbak. Sulit sekali makan nasi. Membayangkan saja sudah terasa mual." "Apalagi bayi kembar, seperti mualnya dobel, tetap semangat. Setelah trimester pertama akan sedikit merasa nyaman. Walau hanya sebentar. Besok ada kegiatan lomba, nanti pukul 2 siang sepertinya ibu-ibu coba untuk menyiapkan hadiah. Apa Mbak ikut?" "Ikutlah, Mbak, malu kalau gak ikut apalagi alasannya hamil. Semua orang juga merasakan itu, aku tidak mau malah di anggap seenaknya sendiri karena kedudukan suamiku." "Lalu untuk jabatan yang ketua berikan bagaimana?" tanya Widi. "Tidak, Mbak. Biar yang lain saja, aku belum siap saja." Jenar diminta menjadi ketua ibu-ibu Persit, dia malah menolaknya. Dia tidak mau dipikir suaminya Danyon, lantas dia bisa menjabat sebagai Ketua. Apalagi dia masih baru. Pengalamannya kurang, itu pikir Jenar. "Aku belum tau banyak, jadi takut salah. Apalagi banyak para senior yang mampu memimpin. Ketua sekarang
"Izin, Ndan! Selamat sore! Baru pulang?" "Sore. Apa isteriku ada di dalam?" tanya Damar yang baru pulang dari latihan hari ini. Jam menunjukkan pukul 5 saat dia sampai Batalyon. "Iya, Ndan. Beliau ada di dalam." Damar melangkah masuk, coba melihat isterinya yang katanya di dalam. Terlihat dia sedang duduk sambil membungkus beberapa hadiah untuk acara besok. Damar tidak langsung menghampiri, dia menatap dari ambang pintu. Kadang dia merasa bersalah ketika melarang Jenar melakukan pekerjaannya. "Loh ... Pak Danyon di sini. Mau jemput Nyonya Jenar bukan, Pak?" Jenar yang mulanya tidak tau kedatangan Damar langsung mencari di mana suaminya berada. Senyumnya mengembang ketika ada pria yang dia cintai berjalan ke arahnya setelah menjawab pertanyaan salah satu anggota Persit. "Apa belum selesai?" tanya Damar. "Izin, sudah, Ndan. Semua selesai, tinggal persiapan untuk besok. Mau mengajak Nyonya Jenar pulang bukan, Ndan?" "Jika sudah selesai, boleh kah?" "Izin, boleh, Ndan. S
"Memangnya kenapa?" "Ingin tau, siapa tau kan ada yang merasa ada peluang." Tatapan Jenar mengarah pada sang suami yang hanya diam sambil menghela nafas pelan. "Aku dengar pernikahannya gagal, mereka juga sempat bertengkar minggu kemarin di sini. Kepala Dokter sudah menegurnya, tapi ... entahlah." "Oh ... janda." Jenar memperjelas ucapan temannya dengan menyebut janda. Damar sendiri tidak mengatakan apapun. Dia hanya diam, tidak ingin malah salah bicara. Dia tau jika isterinya sedang cemburu melihat kedekatan mereka tadi. Karena memang mereka pasien terakhir, Jenar dengan santai bicara sambil melihat kondisi anak mereka melalui alat USG. Pembahasan itu jadi ke seseorang yang menyapa Damar tadi. Kalau begini, apa yang bisa Damar lakukan, membantah juga akan salah. Dia seakan pasrah dengan apa yang sedang isterinya katakan. Meski mulutnya ingin menjelaskan, dia tak ingin malah membuat mood Jenar buruk. "Bukankah Anda mengenalnya, Pak Danyon?" "Ya, suamiku mengenalnya. Aku
"Ada konsumsi di mobil, bisakah kalian ambil sisanya dan nikmati bersama," pinta Damar pada mereka yang sedang bersiap untuk kegiatan hari ini. Dia sendiri membawa satu kardus berisi snack untuk anak-anak yang mengikuti lomba. Dalam memperingati hari jadi Batalyon, mereka mengadakan perlombaan di Lapangan dekat Asrama. Walau tidak semua yang ikut karena yang lain menjalankan tugas, tapi hari ini mereka akan bersenang-senang seperti izin dari Danyon. "Aku sudah buatkan, nanti biar aku ambil agak siangan. Biar enak makan siang-siang," ucap Widi yang menghampiri Jenar yang duduk di pinggir lapangan. "Terima kasih, Mbak. Apa ibu Mbak Widi tidak ikut ke sini?" "Tidak, beliau malah mabuk transportasi kemarin, jadi aku memintanya istirahat saja. Aku sendiri malu jika tidak datang." "Benar juga, Mbak. Mas Damar juga melarang tadi, aku tidak mau harua diam di rumah seorang diri," sahut Jenar. "Apa Pak Danyon akan ikut main? Kok tidak keliahatan." "Benar juga, ke mana dia tadi." Jenar c
"Memang Danur punya uang untuk membelinya?" Pertanyaan Prajurit itu membuat bocah itu berpikir. Ekspresinya begitu mengemaskan, selain imut, tampan, dia juga sama seperti ayahnya. Pesona ayahnya turun ke anaknya sekarang. "Danur, Ayah sudah punya anak baru. Bukankah Danur juga punya ayah baru." Damar datang dengan menggendong anak Widi yang baru 10 bulan, dan mengejek putranya itu. Menjadi Komandan Batalyon selama hampir 6 tahun, Damar banyak mendapatkan penghargaan dan prestasi yang dia dapat selama diposisinya. Bukan hanya itu, selain terkenal tegas, Damar juga bersikap baik pada bawahannya. Bukan berarti salah lantas dia akan terus mencari kesalahan, Damar memberikan nasehat yang bisa membuat bawahannya maju bukan malah diam di tempat. Beberapa Prajurit dibantu untuk pendidikan mereka. Dia membantu semampu dia, karena dia tau betul bagaimana berjuang di masa-masa seperti ini. Tegasnya Damar, dia selalu disiplin dan tidak menerima kesalahan yang fatal. "Itu adik Celine, itu b
"Om, mana Ayah Danur?" Dengan pertanyaan yang belum jelas, anak usia 4 tahun itu berdiri di hadapan para Prajurit yang sedang berbaring mendengarkan arahan. "Danur, tunggu Bunda!" Langkahnya terhenti ketika melihat putranya sedang berdiri di hadapan para Prajurit. Senyum wanita cantik itu mengembang, anak kecil yang dia cari tanpa rasa malu ikut dalam barisan itu seperti seorang Komandan yang berdiri di depan Prajurit. "Ayah!!" Teriakan itu membuat wanita cantik itu berlari sebelum anak kecil itu berhasil pada ayahnya. Tawa dari para Prajurit yang berbaris terdengar ketika anak kecil itu menyelai ucapan sang ayah ketika sudah dalam gendongan. "Kenapa Ayah pergi sendiri. Bunda memaksa Danur makan, Danur masih kenyang," keluhnya. "Pak Wadan, gantikan aku bicara, anak kecil ini akan terus menggangguku," pintanya pada Wadan yang berdiri di sampingnya. "Ke mana Bunda sekarang?" tanyanya pada sang anak. Dia mundur ketika wakil komandan mengantikannya bicara dengan beberapa Praj
"Akhirnya anak Ayah bisa pulang hari ini." Dalam gendongan sang ayah keluar rumah sakit, bayi kecil itu tampak tenang. Jenar berjalan selangkah dibelakang Damar yang begitu senang setelah hampir 1 bulan putranya di ruang NICU, akhirnya hari ini diperbolehkan pulang. Kondisinya berangsur membaik walau berat badannya masih kurang. Sore itu akhirnya Danur bisa berbaring di tempat tidur mereka. Damar sangat senang karena bisa menggendong lebih lama dari pada di NICU hanya berapa jam saja dalam sehari. Momen ini yang di tunggu sejak beberapa minggu. Sejak keluar rumah sakit, keseharian Damar berbeda. Pagi dia akan membantu istrinya merawat putranya. Membiarkan Jenar mengurus pekerjaan rumah yang lain. Damar juga menemani putranya berjemur ketika dia selesai Apel. "Aku sudah selesaikan tugasku. Aku pulang lebih dulu," ucap Damar. "Siap, Komandan!" "Sejak ada mainan hidup, aku selalu ingin pulang dan bertemu dengannya." "Siap, Ndan. Namanya juga anak baru lahir. Pastinya senang
"Mbak baik-baik saja?" Widi menghampiri Jenar yang termenung di depan ruang rawat. Bukannya istirahat, dia malah diam di sana. Membiarkan Damar yang sedang sakit di dalam di temani ibunya. Kehilangan dan juga kebahagian yang dirasakan sekarang seperti tamparan keras. Bukan hanya itu, Damar juga sakit saat kondisi seperti ini. "Ya, harusnya juga baik-baik saja. Bahkan aku ingin bergegas merawat suamiku yang sedang sakit. Kenapa aku secengeng ini, menjengkelkan sekali." Jemarinya menyeka air mata yang mengalir begitu saja. "Aku yakin Mbak pasti kuat. Aku tidak ingin mengatakan banyak hal karena aku tau jika Mbak mendapatkan itu semua dari keluarga yang mendukung. Mbak harus ingat, masih ada satu anak yang bisa Mbak rawat dan perjuangkan. Ingatlah diriku ini, bagaimana kisahku dengan putriku. Yang tabah, semua pasti akan baik-baik saja." Widi memegang tangan temannya itu. Dia baru bisa bertemu dengan Jenar kali ini. Dia tidak ingin mengganggu ketika di masa duka dan kebahagian y
"Istirahatlah, Nak, kamu terlihat begitu lelah," tutur Susi pada menantunya yang baru sampai dari Jakarta untuk memakam kan putrinya didekat makam ayahnya."Aku masih ingin melihat putraku, Ma. Rasa bersalah ini semakin mencekik ku. Aku tidak becus menjadi seorang ayah, ini terjadi karena diriku." Tangis Damar pecah ketika bicara dengan Susi. Dia menahan agar bisa menerima semua ini, tapi dia tidak sanggup lagi. Rasa sesaknya kian mencekik, dan dia luapkan pada Susi.Wulan yang mengurus semua di sana ketika Damar kembali ke Solo untuk istri dan anaknya yang lain. "Semua sudah menjadi takdir yang Tuhan gariskan. Kamu boleh bersedih, tidak dengan menyalahkan dirimu. Ini semua bukan kesalahanmu, memang kondisi kehamilan istrimu yang tidak baik."Dengan kondisi kaki yang masih dibantu penyangga untuk berjalan, Susi pergi bersama Ragil ke Solo. Dia tidak bisa hanya diam, ketika putra putri mereka membutuhkan mereka orang tuanya."Ikhlas kan, maka kamu akan terima ini semua. Istrimu membutu
"Saya pikir Mbak Jenar akan mengatakan pada Bapak, jika tadi melakukan kontrol mingguan bersama saya karena tak ingin menganggu istirahat Anda."Mendengar penjelasan Widi, bisa apa Damar ketika ini sudah kejadian. Waktu itu juga, Damar mendengarkan penjelasan Dokter Melati tentang kondisi istrinya.Sudah rasa sakit dia rasakan tanpa hilang, Jenar harus merasakan proses induksi karena ingin persalinan normal. Ada rasa kesal, tapi Damar tidak bisa meluapkan sekarang. Fokusnya ada pada Jenar sekarang."Mbak, bisakah kau datang. Jenar mau melahirkan di usai kandungan 25 minggu, aku harap Mbak bisa datang sekarang." Tidak hanya pada Wulan, dia juga minta doa pada Ibu dan mertuanya agar semua berjalan lancar. Meski dengan resiko yang besar."Maafkan aku, Mas," tutur Jenar dengan rintihan lirih merasakan sakit."Aku tidak ingin membahasnya, kamu harus kuat, agar mereka bisa selamat begitu juga dirimu. Kamu hampir mencelakai dirimu sendiri. Sekarang lihatlah hasilnya, tapi aku tidak mau menya
Padahal baru semalam, Damar memaksa untuk pulang setelah merasa lebih baik. Dia kasihan saja pada istrinya, apalagi Jenar tidak mau saat Damar akan menghubungi Wulan agar datang menemani istrinya.Damar memilih istirahat di rumah, tak ingin mengganggu suaminya, Jenar di temani Widi pergi ke rumah sakit untuk kontrol kehamilan. Namun, kabar kali ini membuat Jenar khawatir apalagi masa kehamilan masih 6 bulan, tepatnya 25 minggu. Padahal, rencananya mereka ingin mengadakan 7 bulanan di Jakarta, 3 bulanan kemarin mereka lewatkan karena kondisi Mama Jenar."Bisa saja waktu melahirkan lebih awal jika kondisinya seperti ini terus. Apa kau sudah merasakan mulas? Dari USG ini bayi sudah masuk panggul, berada di jalannya seperti bersiap akan keluar, dan menekan, hal itu membuat kontraksi palsu.""Ya, semalam aku sudah merasakan mulas, namun hilang timbul, tapi sejak pagi ini sudah mulai teratur rasa sakitnya. Padahal usianya masih 25 minggu, bukankah itu akan beresiko jika melahirkan di waktu
"Ada apa, Mas? Apa terasa sakit?"Jenar terbangun ketika mendengar rintihan lirih dari suaminya. Jam menunjukan pukul 4 pagi ketika suara suaminya membuat dia membuka mata. Beberapa waktu ini Damar begitu sibuk, namun dia tetap menyempatkan waktu untuk Jenar meski lelah.Tanpa menjawab, Damar masih saja merintih. Tangannya meremas selimut yang dikenakan dan wajah pucat pasih meringkuk menyamping. Karena perut yang membuat pergerakannya sulit, Jenar coba memanggil suaminya."Apa yang dirasakan, Mas, katakan?""Perutku rasanya sakit sekali, seperti diremas. Aku sudah coba minum obat, tapi rasanya tetap saja," keluhnya dengan suara lirih."Coba Mas tarik nafas perlahan. Apa ini sakit?" Jenar coba mengecek kondisi suaminya semampu yang dia bisa."Ya, di situ sakit." Jenar sepertinya tau apa yang sedang suaminya alami."Mas bisa bangun? Kita ke rumah sakit saja ya?" tanya Jenar."Tidak. Sebaiknya kembalilah tidur, masih terlalu pagi, aku—" Ucapannya terhenti ketika rasa sakit itu kembali d
"Permisi, maaf sebelumnya. Isteri saya sedang ngidam makan di tempat acara nikahan. Bolehkan saya dan istri saya masuk?" "Tentu, Pak, masuk saja, apalagi istrinya sedang ngidam, tapi makanannya tidak lengkap. Karena sudah malam juga, hanya beberapa saja yang masih ada. Kalau mau masuk saja," ucap wanita yang duduk di tenda depan sebagai penerima tamu. Jam menunjukkan pukul 22.10 saat akhirnya mereka menemukan tempat hajatan. Ketika orang diundang untuk datang, mereka berdua malah datang tanpa diundang, mencari malam-malam hanya karena Jenar ngidam. Damar menatap Jenar yang mengangguk mau setelah bertanya pada wanita itu. Dengan membuang segala rasa malu, Damar masuk setelah mengisi kotak amplop di depan sebelum masuk mengikuti wanita tadi mengantarkan langsung ke tempat makan. Tatapan aneh para keluarga terlihat ketika mereka masuk dengan menggandeng tangan. Meski orang yang temui tadi sudah menjelaskan pada mereka, tapi tetap saja ini membuat malu Damar pastinya, lain hal untuk