"Tidak, memangnya kenapa?" "Ti–dak, hanya bertanya saja." Matanya fokus pada ponsel dan segera menghapus tanpa ingin membalas pesan yang masuk. Dia tidak mau nantinya akan menjadi masalah untuk hubungan mereka. "Mas, mau coba?" Damar langsung membalikan layar ponselnya ketika sang istri tiba-tiba di sampingnya sambil membawakan kue buatannya dan juga secangkir kopi. "Apa ini kue ... apa ya, aku lupa namanya tapi aku pernah makan. Ini kenapa kuning dan ungu, kok tidak sama?" Jenar sengaja membuat yang original dengan bungku daun, tak banyak. "Yang daun ini original, yang ini ubi dan jagung, coba rasakan." Senyumnya merekah ketika menawarkan kue yang dibuat. Namun, sesaat kemudian luntur karena sang suami menatap aneh. "Kenapa? Apa Mas ragu untuk makan? Gini-gini juga jago bikin kue, coba dulu kemudian komentar," ujar Jenar. Damar menyuapkan satu sendok kecil ke mulutnya yang rasa ubi ungu. Jenar menunggu jawaban dari mulut suaminya setelah mencoba kue buatannya. "Kok begini ras
"Mas banyak diam, ada apa? Apa merasa tidak enak badan?" Setelah dari makam, mereka berdua langsung ke rumah Anggi, Ibu Damar. Dan sejak dari rumah Jenar, suaminya itu banyak diam. Hanya fokus pada jalanan saja. "Tidak, aku coba mengingat sesuatu. Tempat untuk berlibur kita, enaknya ke mana ya? Mumpung aku libur panjang." "Bolehkah ke Jogya saja, Mas. Aku ingin melihat Sendratari Ramayana di Prambanan, bisakah, Mas? Semalam saja, tidak usah lama-lama." "Yasudah, lusa kita pergi. Nanti sekalian pulang ke Solo, tidak apa-apa kan? Hari ini aku ada janji dengan temanku, boleh aku pergi?" "Apa akan beli burung untuk koleksi lagi, Mas?" Tatapannya sudah tajam, dan coba mengingatkan apa yang suaminya lakukan ketika bertemu temannya. "Tidak, ini sahabat karibku. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya. Hanya sebentar saja, urusan laki-laki, janji tidak akan lama." "Pergilah, aku juga ingin pergi bersama Mbak Wulan kalau jadi. Katanya Zio ingin jalan-jalan ke Mall." "Yang penting hati-h
Selesai bersiap, seperti rencana mereka pergi ke Mall dengan Rumi dalam gendongan Jenar. Dia rindu dengan gadis kecil itu karena hampir 1 bulan tidak bertemu. "Zio, mau beli apa? Beli yang dibutuhkan saja, Nak, jangan asal ambil." Putra sulung Wulan itu sedang memilih mainan yang dia incar beberapa waktu ini. "Kata Tante mumpung uang Om, tidak apa-apa mau beli apa saja," jawab Zio. "Iya, tapi tetap saja, ambil yang paling suka, jangan diambil semua begitu." "Biarkan saja, Mbak," ucap Jenar. "Aku tidak membiasakan anakku mendapatkan apa yang dia inginkan dengan mudah, biar tidak kebiasaan nantinya. Daripada gede nya tantrum, dan membuat nangis orang tuanya ketika apa yang dia minta tidak terkabul." "Benar juga, Mbak. Semoga jadi anak yang pintar ya, Zio." Setelah membayar dan mendapatkan apa yang mereka cari, mereka masuk ke tempat makan Jepang. Di sana Rumi sudah terlelap dan dibaringkan di kursi samping ibunya yang menikmati makan siang. Anggi tidak ingin ikut, karena bilang s
"Jaga itu mulut! Jangan mancing emosi orang saja!""Lucu sekali dirimu, kau yang mulai kau yang menuduh orang lain.""Sini kau!" Sheila yang tidak terima di sebut pelacur sudah bersiap akan memukul Jenar. Seorang pria memegang Sheila agar tidak sampai melukai Jenar.Damar sendiri menghalangi Jenar yang akan dipukul oleh Sheila, dia begitu marah karena ucapan Jenar. "Bawa isterimu pergi, biar aku yang urus dia."Mendengar teman laki-laki Damar mengatakan itu, dengan segera juga Jenar dibawa pergi. Meski mulutnya sudah tidak lagi bicara, tapi sorot matanya masih menantang Sheila. "Ini yang di sebut bertemu teman? Apa begitu Mas?" Jenar menghempaskan tangan Damar yang menariknya keluar dan bicara di dekat pembatas Mall yang mengarah ke lantai bawa."Ini bukan seperti yang kamu pikirkan, aku memang bertemu dengan—""Memangnya apa yang aku pikirkan, Mas? Sebaiknya aku pulang." Kembali Jenar menyibakkan tangan suami dan berjalan menemui Wulan.Tak ingin peduli dengan penjelasan Damar, dia
"Mas tetap di sini atau pulang bersamaku?" Dalam perjalanan pulang, Damar yang sejak tadi berusaha menjelaskan tidak dipedulikan apapun oleh Jenar. Dia hanya diam sambil menangis. Dia sungguh marah pada suaminya dengan diam seribu bahasa. "Kalau memang tidak percaya, aku bisa temui temanku itu biar menjelaskan apa yang mau kamu pikirkan itu." "Untuk apa, Mas? Baru semalam aku bilang padamu, dan sekarang Mas sudah bersikap seperti ini. Jika belum bisa melupakan wanita seperti dia dan ingin kembali padanya, sudah saja pergi sana. Aku tidak mau suamiku berbohong meski itu tidak sengaja. Apalagi dia tadi dengan tak tau malu bicara seakan dirinya benar. Aku sungguh ingin menjambak rambutnya saja." Jenar meluapkan kekesalannya pada Damar yang mengira istrinya akan marah besar atau mencaci-maki, nyatanya dia kesal saat tidak bisa menjambak Sheila. "Kalau di sana tadi tidak banyak orang, aku sudah buat wajahnya itu baret dengan kuku ku. Aku tidak peduli Mas mau marah padaku sekarang karen
"Akh! Kenapa kau malah menginjak kakiku!" "Kata orang jawa, kalau diinjak kakinya sama orang yang lagi hamil tanpa diminta bisa cepat nyusul. Biar kau nyusul, bisa hamil secepatnya. Benar tidak, Pak Letnan?" Damar hanya menjawab dengan senyuman, dia sedang bicara dengan suami sahabat Jenar. "Kak, bagaimana menikah dengan orang jawa seperti dia, apa dia tidak banyak mereporkanmu?" tanya Jenar. "Tidak, hanya dia menangis beberapa hari karena kata dia dimarahi terus, padahal cara bicara keluarga kita memang seperti ini." "Kan sekarang tidak lagi, sudah terbiasa. Dan beruntungnya aku mendapatkan mertua super baik. Beliau seperti sahabatku sendiri." "Apa tidak repot kalau naik pesawat? Apalagi dengan perut yang besar?" tanya Damar. "Tidak, Pak, hanya mudah lelah saja. Semuanya aman. Oh ya, maaf ya kita ke sini malah merepotkan kalian. Lain waktu main ke sana, atau nanti pas lahiran kalian pergi berdua ke sana. Mau ya?" tanyanya pada Jenar. "Bagaimana nanti. Kita usahakan bisa, kau t
"Katakan jika ragu." Damar lebih dekat hingga deru nafasnya bisa Jenar rasakan. Matanya sudah terpejam dan tak lama Jenar bisa mulai menikmati setiap sentuhan yang suaminya berikan. "Mas—" Rintihan lirih itu tidak membuat pria tampan yang sedang mencari kenikmatan tidak ingin menghentikan kegiatannya. Dia terus saja memberikan sentuhan sampai Jenar yang awalnya takut, dia mulai mau menerima sentuhan dari suaminya. "Akan terasa sedikit sakit, tapi setelahnya tidak. Apa kamu sungguh ingin melakukannya, sayang?" Dengan posisi menatap isterinya, dia coba bicara, takut jika apa yang akan dilakukan menjadi trauma untuk isterinya. "Aku milikmu, Mas, kapan lagi kita akan melakukannya jika tidak sekarang. Bukankah kamu akan membantuku agar tidak merasa takut?" Sorot matanya memang tidak bisa berbohong, tapi dia tidak bisa jika terus membiarkan Damar menunggu. Dia sudah menjadi isterinya yang sah sejak beberapa waktu lalu, jika sekarang dia masih takut, bukankah itu artinya Jenar bel
"Mama menganggu waktu kalian ya, maafkan Mama ya?" Rambut Jenar yang masih basah seperti tanda jika Susi tau mereka selesai melakukan kegiatan apa. Damar yang berjalan ke arah mereka hanya diam, karena rambutnya belum sepenuhnya kering karena ingin segera keluar. "Kalian makan dulu saja, setelah makan, Mama butuh bicara dengan Damar," tutur Susi. "Memangnya ada apa, Ma, aku masih belum lapar, makan nanti saja, katakan sekarang." "Gak ada apa-apa sih, cuma mau kasih hadiah untuk kalian berdua. Mama mau bertanya apa cutimu panjang?" tanya wanita paruh baya itu. "Lumayan, aku libur 5 hari, ada apa memangnya, Ma?" "Mama belikan tiket liburan untuk kalian, Mama ragu karena takut mengganggu tugas kerjamu. Kalau hanya 5 hari, buat bulan selanjutnya saja ya. Terserah kalian mau liburan ke mana," ucap Susi. "Kenapa repot-repot, Ma. Tidak perlu memberikan hadiah seperti ini, doakan saja agar kita segera mendapatkan momongan, itu sudah cukup untuk kita. Apalagi melihat Mama sehat, sudah m
"Izin, Ndan! Selamat sore! Baru pulang?" "Sore. Apa isteriku ada di dalam?" tanya Damar yang baru pulang dari latihan hari ini. Jam menunjukkan pukul 5 saat dia sampai Batalyon. "Iya, Ndan. Beliau ada di dalam." Damar melangkah masuk, coba melihat isterinya yang katanya di dalam. Terlihat dia sedang duduk sambil membungkus beberapa hadiah untuk acara besok. Damar tidak langsung menghampiri, dia menatap dari ambang pintu. Kadang dia merasa bersalah ketika melarang Jenar melakukan pekerjaannya. "Loh ... Pak Danyon di sini. Mau jemput Nyonya Jenar bukan, Pak?" Jenar yang mulanya tidak tau kedatangan Damar langsung mencari di mana suaminya berada. Senyumnya mengembang ketika ada pria yang dia cintai berjalan ke arahnya setelah menjawab pertanyaan salah satu anggota Persit. "Apa belum selesai?" tanya Damar. "Izin, sudah, Ndan. Semua selesai, tinggal persiapan untuk besok. Mau mengajak Nyonya Jenar pulang bukan, Ndan?" "Jika sudah selesai, boleh kah?" "Izin, boleh, Ndan. S
"Apa mual, Mbak?" "Sejauh ini tidak, Mbak. Apa memang maunya buah ya, Mbak. Sulit sekali makan nasi. Membayangkan saja sudah terasa mual." "Apalagi bayi kembar, seperti mualnya dobel, tetap semangat. Setelah trimester pertama akan sedikit merasa nyaman. Walau hanya sebentar. Besok ada kegiatan lomba, nanti pukul 2 siang sepertinya ibu-ibu coba untuk menyiapkan hadiah. Apa Mbak ikut?" "Ikutlah, Mbak, malu kalau gak ikut apalagi alasannya hamil. Semua orang juga merasakan itu, aku tidak mau malah di anggap seenaknya sendiri karena kedudukan suamiku." "Lalu untuk jabatan yang ketua berikan bagaimana?" tanya Widi. "Tidak, Mbak. Biar yang lain saja, aku belum siap saja." Jenar diminta menjadi ketua ibu-ibu Persit, dia malah menolaknya. Dia tidak mau dipikir suaminya Danyon, lantas dia bisa menjabat sebagai Ketua. Apalagi dia masih baru. Pengalamannya kurang, itu pikir Jenar. "Aku belum tau banyak, jadi takut salah. Apalagi banyak para senior yang mampu memimpin. Ketua sekarang
"Kenapa, sudah makan dan habiskan." Jenar hanya menatap makanan yang baru dia makan beberapa suap saja. Padahal tadi begitu senang bisa makan diluar berdua. Nyatanya, setelah mengisi perutnya beberapa suap, dia tidak ingin lagi. "Mas saja yang makan, aku mual." Mata yang berkaca-kaca tanda dia memang sedang menahan rasa mual. Kasihan juga jika sudah seperti ini, Jenar malah tidak bisa makan dengan lahap, rasa mual menyiksanya. Meski itu tanda baik, akan tetapi Damar kasihan pada istrinya. "Enak?" Jenar menangguk senang, dia menyedot susu pisang yang dia minum. Damar mengusap ujung kepala istrinya, dari makanan yang dipesan dia hanya makan 2 suap saja setelahnya Damar yang menghabiskan, dia sangat ingin makan itu, tapi malah mual. Jenar belum tau apa yang pas untuk perutnya, hanya susu pisang yang tidak membuatnya mual. "Maafkan aku, Mas," ucapnya. Usia kandungannya jalan 3 bulan, meski sesekali masih merasa sakit dibagian perutnya, kondisi kehamilan Jenar tetap terkontrol. Apa
"Izin, Pak Danyon. Apa kabar!" Dengan sikap hormat, orang dihadapan Damar menjabat sebelum dipersilahkan duduk kembali. "Lama tidak bertemu, Anda juga tidak ada kabarnya, ke mana saja?" Damar tampak senang teman satu satuan dulu datang berkunjung. "Aku masih menjalankan tugas ku di lapangan. Beruntung Anda sekarang sudah dengan tenang membuat rencana untuk Prajurit. Bekerja di balik meja kerja ini."Pria dihadapan Damar adalah seorang kapten, beliau pernah menjadi satu regu ketika penugasan. Belum lagi mereka sering di perintahkan untuk tugas sebelum akhirinya Damar menjadi seorang Komandan Batalyon sekarang. Mereka malah asyik bicara. Apalagi kedatangan Kapten Bambang memiliki sebuah tujuan bukan hanya saling sapa. Damar untuk pulang karena ada tamu, entah akan seperti apa Jenar nanti marah padanya, yang pasti dia tidak bisa pulang sekarang. "Tidak bisakah Anda bergabung latihan kita lusa, satuan mengadakan latihan gabungan aman bersama NKRI, jika mau saya kirimkan jadwalnya."
"Puas sekali menggoda orang, sekarang malah tertawa," gerutu bumil yang masih pagi sudah bawel setelah mengobrol dengan suaminya. "Makanya kamu juga jawabnya begitu. Tenanglah, Sayang, aku masih lama di sini. Karir yang aku jalani di sini masih terbilang baru. Untuk rumah baru, nanti aku coba bicarakan dengan salah satu teman. Kita pilih yang nyaman untukmu." Damar hanya membohongi Jenar tentang pindah tugas ke Papua. Dia diperbolehkan untuk fokus di Batalyon dan juga istrinya. Apalagi kondisi kehamilan sang istri sedang tidak baik, meski harusnya mengutamakan tugas. "Kamu suka sekali menggoda isterimu, sepertinya masa kehamilan Jenar sangat manja. Dikit menangis, ingat menangis, apa yang dia mau menangis," sahut Susi. "Mama sudah rapi, mau ke mana?" tanya Damar. "Mama hari ini mau pulang, ada Wulan dan ibumu juga di sini. Nanti 3 bulanan Mama akan datang. Beberapa minggu saja kan. Titip anak Mama yang bawel ini, dia akan semakin merepotkanmu dengan tingkah manjanya," balas Susi.
"Komandan!" Dika datang dengan 4 anggota Polisi, mereka yang awalnya menantang Damar hampir akan pergi sebelum Polisi mengejar mereka dan menendangnya karena lari. "Bahu kiri Anda—" "Ini hanya goresan saja. Apa wanita tadi sudah aman?" tanya Damar. "Ternyata wanita itu dikejar karena motor yang dia gunakan dianggap kredit macet, 2 pria itu mengikutinya sejak keluar dari tempatnya bekerja," jelas Dika yang tau sedikit masalah wanita itu. Damar menemui wanita itu dan memastikan dengan benar masalah mereka. Setelah itu Damar coba mengobati lukanya sebelum dia pulang. Ini akan menjadi masalah untuknya, ketika Jenar tau. Jam munjukan pukul 12 malam ketika Damar sampai di rumah. Rasa bersalah terlihat jelas ketika melihat isterinya menunggu di ruang tamu sampai tertidur. "Bukankah Mas bilang sudah sampai Bandara sejak pukul 8. Kenapa baru pulang?" "Ada masalah tadi di jalan, kamu bisa pastikan pada Mbak Widi besok kalau bertemu. Akh!" Rintihan lirih ketika Damar membuka jaket
Damar sampai di Bandara dan menunggu Dika yang akan menjemput, katanya mobil yang ditumpangi mengalami pecah ban di dekat Bandara, jadi Damar memilih menghampiri Dika menggunakan Taksi online. Jam menunjukan pukul 8 malam saat sampai di Solo. Rasa lelah dia rasakan, apalagi pesawat delay beberapa jam karena cuaca buruk. "Maaf, Komandan, harusnya saya tidak terlambat," ucap Dika ketika melihat Damar menghampirinya. "Apa sudah selesai?" Setelah meletakkan tas yang dibawa, Damar memghampiri Dika yang merapikan ban yang pecah itu ke bagasi, seperti baru selesai. "Mohon izin, baru selesai, Komandan, apa kita—" "Pak, tolong saya. Pria di sana mengikuti saya sejak tadi, bisakah saya pulang bersama dengan menggunakan motor di depan mobil Bapak."Seorang wanita pengguna jalan menghampiri Damar yang berniat akan pulang. Wanita itu tampak ketakutan ketika mengatakannya. Jalanan memang tidak begitu ramai, wanita itu langsung menghampiri Damar dan Dika. Wanita itu melihat Dika memakai seragam
"Ngidam pengen suaminya pulang, bagaimana kalau jadi pindah tugas, akan sulit." Suara seseorang menghentikan tangis Jenar karena mendengarkan kata-kata itu. Hatinya semakin gelisah, dia hanya ingin suaminya pulang sekarang, agar merasa lega. "Aku telepon lagi nanti, aku bicara dulu dengan seniorku. Tidak apa-apa kan?" Meski bekerja di lingkup orang yang lebih tua, tidak membuat Damar besar kepala, karena dia juga masih baru di posisinya sekarang dan harus banyak belajar dari seniornya. "Sudahlah, makin bikin kesal saja." Jenar mematikan sambungan telepon begitu saja karena suaminya masih saja sibuk, padahal dia merindukannya. Lawan bicaranya hanya menatap layar ponsel sesaat panggilan masuk itu tertutup. Mood Jenae Hal seperti ini tidak biasa dia lakukan, mungkin juga karena efek hamil karena beberapa hari kemarin terus bersama dan sekarang ada tugas keluar kota. Namun, jika memang suaminya di pindah tugas, dia sunggu harus merelakan pekerjaannya untuk fokus pada keluarganya.
"Rumah rapi walau kamu sedang sakit, kalau bukan suami yang baik, apa coba. Yang banyak bersyukur, Nak." "Jangan terus memarahi anakmu, nanti dia malah kabur dan Damar menyalahkan kita tidak becus merawatnya," sahut Anggi pada besan yang juga temannya. Mereka dekat karena memang sudah berteman sejak lama. "Aku gemas padanya kalau sudah keras kepala." Yang di marahi hanya diam bersandar di ruang tengah rumah dinas Damar, baru tadi siang dia pulang dan sesampainya di rumah diperlakukan bak ratu karena tidak boleh melakukan apapun, apalagi Dokter bilang harus melewati trimester pertama ini agar janinnya benar-benar kuat untuk diajak melakukan kegiatan. "Kamu tidak menginginkan sesuatu, Je? Makan apa gitu?" tanya Wulan. "Apa ya, Mbak, pengen ketemu Mas Damar saja sih, gak pengen makan apa-apa." "Mau di tungguin suamimu ya. Sabar ya, Nak, kita di sini bersamamu. Lain kali kalau ada apa-apa bilang. Atau kamu mau pulang ke Jakarta saja agar bisa kita bantu," tutur Anggi. "Dan m