“Kenapa kamu berbicara seperti itu? Apa kamu yang bosan dengan saya? Apa permainan saya kurang memuaskan? Bicaralah biar tahu kesalahan saya apa?”
"Bukan itu maksudku. Tadi siang kita udah melakukannya. Aku nggak tahu kamu emang menginginkan seorang anak atau emang kamu hobi ngelakuin itu, tapi yang jelas walaupun sesering mungkin kita melakukannya, kalau Tuhan belum berkehendak, tetap aja sia-sia.”
“Ya sudah kita tidur saja.” Haris merebahkan tubuhnya, lalu menarik selimut hingga lehernya.
Hanna malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah suaminya. “Kamu marah?”
Wanita itu menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya. "Kamu lucu banget kalau lagi marah, aku suka melihat kamu marah."
Haris kembali menarik selimutnya, lalu memiringkan tubuhnya membelakangi Hanna. "Saya sudah sangat mengantuk, jangan mengganggu saya!"
"Haris, apa nggak ada yang bisa kamu lakuin selain marah? Apa ini jalan ninjamu supa
"Ini aku, Dad." Azzam tertunduk karena merasa bersalah atas perbuatannya. "Maafkan aku membuatmu terkejut.""Astaga, Kakak! Kamu kenapa jam segini bangun? Ngagetin Daddy aja." Evans mengelus dadanya berkali-kali."Daddy kenapa belum tidur? Apa perutmu sakit lagi?""Nggak. Daddy baik-baik aja." Evans bangun dari duduknya, lalu merangkulkan tangannya pada bahu Azzam. "Ayo kita tidur!""Tapi beneran 'kan Daddy nggak sakit?"Evans menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan Daddy. Tapi, Daddy memang baik-baik aja.""Nanti kalau perut Daddy sakit lagi, bilang sama Kakak ya!" titah Azzam setelah naik ke tempat tidur."Siap, Boss!" jawabnya dengan tegas, lalu Evans menyelimuti anak-anaknya dan juga dirinya.Akhirnya ia bisa tertidur, melupakan sejenak masalahnya.Hingga matahari memancarkan sinarnya semua orang masih terlelap, kecuali pelayan di rumah itu yang sudah berkutat deng
"Mas ... aku nggak mau berpisah denganmu ... aku mencintaimu," ucap Lura sambil terisak.Lura menyatakan cintanya supaya Evans mengurungkan niat untuk mengakhiri yang telah ia mulai. Namun, laki-laki itu tetap memutuskan hubungannya dan pergi begitu saja meninggalkan Lura yang sedang menangis.Ia menangis tersedu-sedu karena laki-laki yang dicintainya dan ia percaya akan membahagiakannya malah membatalkan pernikahan yang tinggal menghitung hari."Aku mencintaimu, Mas ...!" teriak Lura, tapi itu percuma saja karena mobil yang ditumpangi kekasihnya sudah melesat kencang.Lura duduk bersimpuh sambil menunduk, buliran bening terus bercucuran membasahi tangannya yang ia taruh di pangkuan."Aku lebih baik mati daripada harus berpisah denganmu, Mas," ucapnya Lirih sambil terus menangis. "Kenapa kamu datang kalau hanya untuk pergi."Lura masih saja menangisi kepergian Evans. Ia menangis sambil berteriak memanggil nama kekasihnya. "Aku mencintaimu, s
Hanna hanya bisa menahan senyum saat adik iparnya mengancam sang suami. Sejujurnya setelah minum teh, Haris mengajaknya ke kamar hendak melancarkan aksinya yang semalam tertunda, tapi ketika hendak masuk ke kamarnya terdengar suara teriakan dan tangisan Lura dari kamar di sebelahnya karena itulah Haris marah pada Lura yang menggagalkan rencananya.“Awas aja kalau dia butuh bantuanku, aku nggak akan mau membantunya,” ucap Lura dengan kesal pada kakaknya. “Tapi, selama ini aku terus yang merepotkan, terakhir minta bantuanku waktu membeli kucing untuk Mbak Hanna aja."“Apa kamu yang membeli kucing itu?” tanya Hanna.“Bukan aku, tapi Mas Haris. Dia minta anter aku untuk milih kucing yang bagus, soalnya dia nggak suka binatang, makanya waktu bawa itu kucing ke rumah, Mama penasaran sama Mbak Hanna karena Mas Haris bela-belain beli kucing itu padahal dia nggak suka sama bulunya yang mudah nempel di mana pun.”&ldq
“Mau ngomong empat mata atau dua mulut?” tanya Lura sambil terkekeh untuk menghibur hatinya yang sedang waswas karena takut mimpinya jadi kenyataan.Evans mencubit pipi Lura yang tembem dengan gemas. “Kamu ini nggak bisa diajak serius."“Lah … aku serius, kamu mau ngomong empat mata atau dua mulut?” tanya Lura sekali lagi.“Mulutmu ada dua, Lura, kalau ditambah mulutku ya jadi tiga,” jawab Evans yang membuat Lura kebingungan.“Dua?” Lura meraba bibirnya. “Mulut mana lagi?”“Mulut bawah,” bisik Evans sambil terkekeh, lalu berlari meninggalkan Lura.“Kadal mesum …!” Lura berteriak sambil mengejar calon suaminya yang berlari menuju meja makan.Lura memukuli Evans saat laki-laki itu sudah duduk di kursi dengan meja panjang yang sudah terhidang banyak menu masakan untuk makan siang.“Kalian seperti anak kecil saja. Apa
Evans menciumi tangan Lura berkali-kali. "Aku akan menjagamu, nggak akan aku biarkan siapa pun menyakitimu."Evans tersenyum bahagia, hatinya merasa lega mendengar ucapan sang kekasih. Ia berjanji akan memperjuangkan wanita yang bersedia menemaninya dalam suka dan duka."Evans Prasetyo ... jangan lupa kalau calon istrimu ini mantan pembunuh bayaran," kata Lura sambil terkekeh.Laki-laki jangkung itu mengusap wajah calon istrinya. "Sudah kubilang, jangan memanggilku seperti itu!" ucap Evans dengan tegas, lalu mendekati wajah calon istrinya. "Dibayar berapa kamu waktu jadi pembunuh semut?""Kok semut? Mana ada orang menyewa pembunuh bayaran cuma untuk membunuh semut?" Lura menarik satu sudut bibirnya ke atas sambil mendelikkan mata pada Evans.Evans tertawa melihat wajah kekasihnya. Lalu menjawil dagu gadis itu. "Mana ada pembunuh bayaran menangis waktu dapat teror," cibir Evans sambil mencebikkan bibir meledek Lura."Hahaha ... ketahuan juga.
Ucapan Haris membuat Evans dan Lura kelabakan. Mereka langsung membenarkan posisi duduknya masing-masing.Lura melihat sang kakak yang berdiri di samping istrinya sambil melipat tangan di depan dada. Sorot tajam sang kakak membuat Lura menundukkan kepalanya."Kenapa kalian diam saja? Apa kalian tuli?" Haris bertanya dengan sinis pada adik dan calon suaminya. "Apa perlu saya bertanya sekali lagi?""Tadi aku mau mencium Lura," jawab Evans dengan jujur. "Kenapa kamu harus datang dan mengganggu kesenanganku? Haris, tolong biarkanlah kami bahagia merayakan bersatunya cinta ini.""Lura itu adik saya, dia masih tanggung jawab saya sebelum dia menjadi istrimu. Saya akan melindunginya dari buaya buntung macam kamu," ucap Haris sambil menunjuk Evans."Aku bukan buaya buntung, ekorku masih ada, tapi di depan," jawab Evans sambil terkekeh.Tapi, tidak dengan Haris, laki-laki itu sama sekali tidak tertawa, bahkan tersenyum pun tidak. Berbeda
"Sayang, kamu 'kan udah lama tinggal di rumah Haris, apa dia nggak punya teman untuk diajak bercanda atau sekedar mengisi waktu senggang ketika libur kerja?""Mas Haris cuma punya satu teman dekat, itu pun sama-sama gila kerja, paling juga mereka komunikasi kalau ada kerjaan aja," jawab Lura. "Memangnya kenapa kamu nanya kayak gitu?""Nggak. Aku heran aja kenapa kata nyipok aja nggak ngerti," sahut Evans sambil menatap punggung Haris yang sudah semakin menjauh. Lalu menoleh kepada wanita di sampingnya. "Apa kamu juga nggak ngerti apa itu nyipok?"Lura menggeleng sambil tersenyum. "Nggak. Coba ajarin dong!""Hahaha ...." Evans mencubit pipi calon istrinya dengan gemas, kemudian berkata dengan mesra. "Dengan senang hati, aku akan mengajarimu, Sayang."Baru saja Evans memegangi tengkuk Lura, terdenagr suara dering ponsel dari saku celananya. Dengan terpaksa Evans mengurungkan niatnya. Lalu, merogoh ponselnya, ternyata orang kepercayaannya yang m
Evans dan Lura langsung membenarkan posisi duduknya ketika mendengar suara anaknya."Gagal lagi," gumam Evans sambil menggaruk kepalanya."Anak-anakmu mendukung tobatmu," ucap Lura sambil tersenyum."Dia anakmu juga," sahut Evans."Iya, mereka juga anakku," ucap Lura sambil merentangkan tangannya untuk Qenan."Sayang, kok kamu tahu Mommy ada di sini?" Lura menyisir rambut Qenan dengan jari-jarinya."Kata Om Haris, Mommy dan Daddy manggil kami," jawab Azzam.Anak laki-laki itu duduk di samping sang daddy."Haris," gumam Evans dengan sangat pelan."Ah iya, tadi Mommy berpesan sama Om Haris." Lura tersenyum pada anak-anaknya padahal dalam hati ia sangat kesal dengan kakaknya. Sejak siang tadi ia dimarahi terus."Mommy, apa aku boleh minta buah itu?" tunjuk Qenan pada buah belimbing yang ada di atasnya."Boleh, Sayang," jawab Lura sambil menepuk bahu Evans."Apa?" Evans menoleh pada wanitanya.
Terima kasih untuk semua pembacaku yang sudah membaca karya-karya Nyi Ratu. Mohon maaf banget atas segala kekurangan di setiap karya-karyaku.Follow instag*am @nyi.ratu_gesrek untuk info novel terbaru.Sekali lagi terima kasih banyak untuk semua pembacaku tanpa terkecuali.Dan ... untuk nama-nama yang aku sebutkan di bawah ini, tolong hubungi aku di instag*am untuk klaim hadiah. Ada kenang-kenangan dari Nyi Ratu untuk kalian.1. Husna Amri Jihan Alfathunissa2. Pacet Ke Ceupet3. Joko Lelono4. Mythasary5. Lay Kwe Tjoe6. Iah OlehBaru 3 orang yang sudah klaim hadiah, yang belum, aku tunggu sampai ahir bulan ini.Sampai jumpa lagi di karya terbaruku selanjutnya. Salam sayang dari Nyi Ratu untuk kalian semua.
"Bu Naya sudah pembukaan empat." Ucapan sang dokter membuat Gilang dan Mami Tyas terkejut."Benarkah?" Mami Tyas tidak percaya. "Menantu saya mau melahirkan?" Ia kembali memastikan."Iya, Bu," jawab sang dokter. "Dalam beberapa jam lagi dia akan segera melahirkan.""Ya ampun, kalau gitu Mami pulang ya, Lang. Kamu tungguin Naya di sini, Mami mau pulang dulu, menyiapkan keperluan dia," kata sang mami yang terlihat sangat panik. "Dokter, saya permisi dulu ya."Sebelum pergi, Mami Tyas memeluk menantunya. "Sayang, kamu jangan panik ya, tetap berprasangka baik. Semangat! Semangat ya, Cantik." Mami Tyas memberikan semangat pada menantunya, padahal dia sendiri yang panik."Iya, Mi," jawab Naya sambil tersenyum.Naya bertanya kepada dokter setelah mertuanya keluar dari ruangan. "Dokter, apa bayi saya sehat-sehat aja?" Naya takut terjadi sesuatu dengan bayinya karena HPL-nya masih dua minggu lagi dan ia pernah mengalami keguguranNaya terbayang lagi saat kehilangan bayinya membuatnya merasa k
Jam berjalan begitu cepat, Lura semakin sering merasakan tanda-tanda melahirkan. Ia mengelus-elus perutnya yang terasa mulas.“Sayang, kamu mau ke mana?” tanya Evans saat istrinya turun dari ranjang.Aku mau olahraga, Sayang, biar melahirkannya gampang,” jawab Lura sambil berjongkok, lalu berdiri dan berjongkok lagi, begitu terus yang ia lakukan sesuai arahan dokter.“Jangan olahraga! Mau melahirkan kenapa malah olahraga?”“Tidak apa-apa, Pak, memang disarankan seperti itu biar gampang melahirkannya,” kata sang suster.Evans memegang tangan istrinya dan menemani Lura untuk berjongkok dan berdiri. “Sayang udah ya, kamu kelihatan kesakitan gitu, mending tiduran aja,” kata Evans.“Bentar lagi, Mas,” ucap Lura sambil menahan mulas.Keringat sudah bercucuran di pelipis Lura membuat Evans was-was. “Sayang, kamu sakit banget ya?” tanyanya sambil mengusap keringat di dahi Lura. “Udah ya, aku takut bayi kita ngeberojol.”“Iya, Mas.”Evans membantu Lura untuk naik kembali ke ranjang rumah sak
"Bayi Anda sehat, Bu," jawab sang dokter."Syukurlah." Lura merasa lega mendengarnya."Tante mau menghubungi keluarga kamu dulu ya, nanti biar Tante yang nemenin kamu sebelum mama kamu datang.“Loh aku mau dirawat nggak ngelahirin sekarang?"“Tunggu dulu Lura, kamu tunggu di ruang pertama atau ruang observasi untuk tahap pertama, nanti kalau udah waktunya mau melahirkan pindah ke ruang bersalin.”“Iya, Tante, makasih ya, maaf udah ngerepotin.”“Lura, kamu itu sahabatnya menantu Tante, kamu jangan sungkan.”"Iya, Tante," jawab Lura, lalu wanita hamil itu menoleh kepada Dokter Silvi. “Dokter, aku boleh tanya-tanya lagi?”“Boleh, Bu.”“Tante keluar dulu ya.” Mami Tyas keluar untuk menemui menantunya supaya Naya menghubungi keluarga Evans.Mami Tyas lupa memberitahukan kepada Naya kalau ia tidak perlu menghubungi Evans. Naya menghubungi Evans, tapi ponselnya tidak aktif. “Duh Mas Evans ke mana sih? Jadi mules kan gue.” Naya terlihat panik mendengar sahabatnya sudah mau melahirkan. “Gue t
"Gue takut, Nay," jawab Lura pelan sambil menunduk. Lura benar-benar waswas dengan kehamilannya."Takut kenapa?" Naya memiringkan duduknya supaya menghadap Lura."Gue takut bayi gue kenapa-napa kemarin Mbak Hanna melahirkan jauh dari HPL, lah gue udah waktunya belum lahir juga.""Ya ampun Lura, jangan dipikirkan nanti kamu stres. Itu bayi kamu masih terasa nendang-nendang kan? Itu artinya dia baik-baik aja." Naya berusaha menenangkan Lura, padahal dirinya sendiri merasa waswas.Mami Tyas yang duduk di bangku samping kemudi menoleh ke belakang."Lura, jangan dipikirin terus, kamu harus tenang," kata Mami Tyas. "Ayo kita turun, Tante yakin bayi kamu baik-baik aja.""Iya, Tante, aku juga berharap kayak gitu."Naya dan Lura turun dari mobil lalu segera masuk ke dalam rumah sakit."Minggu kemarin, dokter bilang apa?" tanya Tante Tyas kepada sahabat menantunya."Aku nggak kontrol, Tante, minggu kemarin Mas Evans sibuk banget sama kerjaannya. Qenan juga lagi kurang sehat, jadi aku sama Mami
Keesokan paginya Lura bangun pagi-pagi sekali, ia tidak mau Naya mengomel lagi karena terlambat datang ke rumahnya untuk senam hamil."Mas, anterin aku dulu ke rumah Naya ya. Pulangnya sama Mas Bayu sekalian dia jemput Qenan." "Iya, Sayang," jawabnya sambil mencubit pipi istrinya yang semakin berisi. "Kamu jangan capek-capek ya.""Iya," jawab Lura sambil merapikan dasi dan jas suaminya. "Sudah siap, ayo kita sarapan.""Kalau makanan aja nggak ketinggalan." Evans tersenyum melihat istrinya yang sudah berjalan lebih dulu keluar dari kamar.Mereka sarapan terlebih dulu sebelum pergi, setelah sarapan selesai, Evans mengantar Lura ke rumah Gilang, lalu pergi ke kantor."Nay, gue nggak telat kan?" tanya Lura kepada sahabatnya."Instrukturnya juga belum datang," kata Naya.Lura dan Naya duduk di teras depan menunggu sang instruktur senam hamil sambil mengobrol santai."Nay, HPL lo kapan?" tanya Lura."Perkiraan enam minggu lagi, tapi melihat Hanna melahirkan lebih cepat dari HPL, gue jadi w
"Aku mau ke toilet, Mas," jawab Lura. "Ayo buruan, aku udah nggak tahan ini.""Aku kira kamu mau melahirkan," kata Evans sambil terkekeh. "Ya udah kita balik lagi ke kamar Kakak ipar aja lebih dekat.""Ya udah yuk!" Lura dan Evans kembali ke ruang perawatan Hanna.Lura masuk tanpa mengetuk pintu membuat kaget semua yang ada di dalam ruangan. Wanita hamil itu langsung masuk ke kamar mandi tanpa mengatakan satu patah kata pun."Pelan-pelan, Lura!" teriak sang nenek melihat cucunya yang sedang hamil tua berjalan cepat menuju toilet."Lura kenapa?" tanya Mama Riska pada menantunya."Kebelet, Ma.""Anak itu pasti makan sambal terus deh. Udah dibilangin Jangan makan pedas dulu." Mama Riska menggerutu sambil menunggu anaknya keluar dari toilet.Beberapa menit kemudian Lura keluar dari kamar mandi. "Ah leganya.""Lura, kamu jangan kebanyakan makan pedes, kasihan anakmu. Makan makanan yang bergizi biar anak kamu sehat." Mama Riska langsung mengomel kepada anaknya."Aku nggak makan pedas kok,"
"Nenek gendongnya sambil duduk ya," kata Haris sambil melangkah menuju sofa."Baiklah, Nenek duduk." Sang nenek mengikuti Haris dan duduk di sofa, lalu Haris menyerahkan anaknya kepada sang nenek."Masa Nenek aja dikasih gendong adik bayi, tapi aku nggak. Aku kan lebih kuat dari Nenek." Lura mendekati sang nenek dan duduk di sampingnya."Kamu nggak sadar, perutmu membuncit kayak gitu, nanti anak saya mau ditaruh di mana, kamu sendiri aja susah duduknya." Lagi-lagi Haris mengejek adiknya.Lura mendelikkan matanya dengan sinis kepada kakaknya. "Dasar pelit," gumamnya."Sayang, kita juga kan bakalan punya anak. Kayak anak kita lebih banyak, perutmu gede banget." Evans mengusap-usap perut istrinya sambil tersenyum. "Nanti kakakmu jangan diizinin gendong anak kita," ucapnya setengah berbisik."Kamu juga sama aja meledekku terus. Kita kan udah pernah USG, bayi kita cuman satu." Lura memukul lengan suaminya."Aku cuma bercanda." Evans mengacak-acak rambut istrinya."Lura sebaiknya kamu pulan
"Kalian di mana?" tanya Pak Hartono kepada menantunya."Di jalan mau ke rumah sakit, Pa," jawab Evans."Di jalan? Memangnya kalian dari mana? Kenapa lama sekali sampainya? Mama dan Papa udah sejak tadi di rumah sakit." "Iya, Pa, bentar lagi kita sampai. Ini kan kita bawa ibu hamil dua orang, jadi bawa mobilnya pelan-pelan.""Ya sudah hati-hati!" Pak Hartono menutup teleponnya dan memberitahukan kepada sang istri kalau anak dan menantunya masih dalam perjalanan."Syukurlah kalau mereka baik-baik aja." Mama Riska sedikit merasa lega Lura dan suaminya dalam keadaan baik-baik saja.Beberapa detik kemudian Bayu menghampiri keluarga majikannya. "Maaf, Tuan, saya abis beli kopi dulu di kantin. Apa Anda udah dari tadi?" tanya Bayu sambil membawa cup berisi minuman hangat. "Nggak apa-apa, Bayu," jawab Mama Riska. "Apa Haris di dalam ruangan bersalin?" "Iya, Nyonya. Bos ikut ke dalam," jawab Bayu. "Oh ya Tuan, apa Anda ingin minum kopi?" Bayu tidak enak hati minum kopi sendirian."Tidak, te