Beberapa hari berlalu. Orlena merasa tidak ada masalah yang muncul mengingat dia pernah bertemu dengan Adele di supermarket. Wanita itu merasa ada sesuatu yang direncanakan oleh wanita itu. Orlena baru saja masuk ke dalam rumah setelah mengantarkan Mia ke sekolah. Dia meraih ponsel dari dalam tas. Dia mengecek ponselnya dan dikejutkan oleh notifikasi panggilan terjawab dari Max sebanyak tiga puluh kali. Mata wanita itu terpejam dan merutuki dirinya karena melupakan suaminya. Orlena berpikir Max pasti mengkhawatirkannya. Segera wanita itu menghubungi suaminya. Terdengar nada tunggu sejenak sebelum akhirnya tersambung.“Ethan, maafkan aku. Tadi aku sedang dalam perjalan pulang setelah mengantarkan Mia. Ada apa menelponku? Apakah ada masalah penting?” tanya Orlena.“Tidak apa-apa, Orlena. Aku bisa menjaga suamimu.” Seketika tubuh Orlena membeku mendengar suara Adele. Pertanyaan demi pertanyaan pun berputar dalam pikirannya. Salah satunya adalah kenapa Adele bisa mengangkat panggilan da
“Janinnya dalam kondisi baik-baik saja Mr. Steltzer. Istri anda pingsan karena faktor kelelahan atau pikiran yang sedang menekannya. Hal itu biasa terjadi pada wanita hamil.”Samar-samar Orlena mendengar penjelasan dokter itu. Dia tidak ingat dirinya tertidur. Terakhir yang diingatnya adalah dia menangis di kamar. Perlahan matanya terbuka. Sinar lampu membuatnya kembali terpejam. Kepalanya terasa pusing karena cahaya terang yang ditangkap retina matanya.“Kamu sudah bangun, Sayangku?” Suara Max terdengar di telinga Orlena.“Bisakah kau mematikan lampunya, Max?” pinta OrlenaTerdengar suara langkah kaki menjauh. Dan beberapa saat kemudian ruangan itu menjadi gelap. Perlahan Orlena membuka matanya dan merasa jauh lebih baik. Dia melihat Max menghampirinya dan duduk di tepi ranjang.“Apakah tadi dokter datang memeriksaku?” tanya OrlenaMax menganggukkan kepalanya. “Aku begitu mencemaskanmu karena itu aku memanggil dokter.”“Apakah baik-baik saja? Maksudku janinnya. Apakah tidak ada masal
Rumah dengan design klasik khas perancis memperlihatkan asal usul sang pemilik rumah. Di dalam rumah terlihat megah dengan perabotan yang cocok dengan dengan rumah itu, Ethan meletakkan gelas winenya dengan suara keras di atas meja.“Kamu bilang Orlena mengusirmu? Bahkan setelah melihat suaminya tidur dengan wanita lain?” Terlihat Ethan tidak puas karena rencana mereka tidak berjalan lancar.“Aku tidak mengerti mengapa Orlena tidak meninggalkan Max. Seharusnya dia marah karena aku sudah tidur dengan suaminya. Wanita sialan itu membuatku tidak bisa memiliki Max,” Adele mendengus kesal.Ethan juga terlihat kesal. Dia pikir dengan menggunakan Adele akan semakin mempercepat rencananya. Tapi hasilnya wanita itu sama sekali tidak berguna baginya.“Apa kamu memiliki rencana lain?” Tanya Adele sama sekali tidak takut dengan amarah Ethan.“Rencana lain? Tentu saja aku memilikinya.” Ethan menganggukkan kepalanya.“Apa rencananya?” Penasaran Adele.“Kamu akan segera mengetahuinya.” Salah satu su
Orlena mengamati keadaan luar dari jendela mobil yang tengah melaju. Dia berusaha mengingat jalan-jalan yang dilewatinya. Sayangnya wanita itu tak mampu melakukannya karena pohon-pohon yang menjulang tinggi tampak sama saja di matanya. Bahkan langit gelap semakin menyulitkannya.Kepalanya menunduk dan melihat putrinya sudah terlelap dalam pangkuannya. Dia sama sekali tidak menyangka harinya yang indah saat menghadiri acara di sekolah Mia berubah menjadi malapetaka ketika Ethan hadir di sana. Selama ini Orlena selalu percaya pada pria itu. Tapi dia tidak menyangka jika pria itu justru memiliki niat yang buruk. Sehingga Orlena mulai sadar jika Ethan bukanlah pria yang baik. Dia sangat berbahaya.“Jadi kamu mulai membenciku sekarang, Orlena?” Terdengar suara Ethan begitu tenang.Orlena menoleh dan melihat Ethan duduk di sudut kursi lainnya. Wanita itu memilih menyingkir hingga menempel di pintu mobil untuk menghindari pria berbahaya itu sembari menarik putrinya yang masih terlelap.“Aku
Orlena tak melepaskan tatapannya dari Mia yang terlihat lahap menyantap makanannya. Bibirnya tak mampu menahan senyumannya. Melihat gerak-gerik putrinya menjadi obat tersendiri bagi wanita itu. Beruntung wanita itu tak melihat Ethan keluar dari sebuah ruangan sejak mereka tiba. Karena itu bisa memberikan Orlena ketenangan bersama dengan putrinya.“Apa kau ingin tambah lagi, Sayangku?” Tanya Orlena saat piring putrinya hampir habis.“Aku rasa perutku hendak meletus, Ma.” Mia memegang perutnya yang kekenyangan.Tawa Orlena pun pecah mendengar ucapan bocah itu menganggap perutnya bagaikan balon.“Perutmu tidak akan meletus jika kau berhenti sayang. Sekarang saatnya kamu menggosok gigi. Kalau tidak nanti ada monster kecil tinggal di gigimu.”Mia bergidik ngeri mendengar akan ada monster dalam mulutnya. “Aku tidak mau ada monster dalam mulutku, Mama.”“Kalau begitu ayo ikut, Mama.” Orlena mengulurkan tangannya.Mia tersenyum dan meraih tangan ibunya. Wanita itu menarik putri kecilnya. Tata
Malam semakin larut. Orlena masih terjaga dia menunggu suasana safe house itu terdengar sunyi. Dia melihat Mia sudah terlelap di atas ranjang sejak empat jam yang lalu.Perlahan Orlena beranjak dari ranjang dan berjalan mengendap menuju pintu. Dengan berusaha keras tidak mengeluarkan suara, dia membuka pintu itu. Wanita itu menjulurkan kepalanya dan melihat ke sekeliling rumah. Dia tidak melihat tanda kehidupan di ruangan itu.Wanita itu mengganjal pintu itu dengan kursi kecil yang mampu diraih tangannya. Kemudian dia kembali ke ranjang dan membuka selimut yang menyelimuti Mia. Perlahan dia meraih tubuh putrinya dan menggendongnya. Beruntung bagi wanita itu karena Mia tak bersuara sedikitpun saat berada dalam gendongannya.Berhati-hati wanita itu membawa putrinya keluar dari kamarnya. Mengendap-endap hingga menuju jendela besar yang dilihatnya saat mengantar Mia menggosok gigi. Tinggi jendela itu hampir setinggi tubuhnya.Dia berjongkok dan membuka pengait jendela itu. Orlena menoleh
Orlena membuka matanya dan disambut langit-langit ruangan kayu berwarna coklat. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. “Kau sudah sadar?” Suara itu mengalihkan perhatian Orlena.Terlihat Ethan berjalan menghampiri Orlena. Dalam gerakan cepat wanita itu duduk di atas ranjang. Kepalanya terasa berdenyut karena ingatannya satu demi satu mulai terkuak. Orlena bisa merasakan ranjang di sampingnya merosot dan aroma Ethan bisa tercium oleh hidungnya.“Kamu tidak apa-apa, Lorraine?” Terdengar nada cemas dari suara Ethan. Namun hal itu membuat Orlena mendengus kesal.“Lorraine? Aku bukan Lorraine, Ethan.” Ucapannya yang sinis menciptakan ketegangan di sekitar mereka.“Bagiku sekarang kamu adalah Lorraine." Ethan masih bersikeras. “Kamu gila! Aku sudah bilang kalau aku bukan Lorraine, Ethan."Tak ada rasa takut maupun rasa bersalah dalam raut wajah Ethan. Hanya terlihat senyuman yang memperlihatkan betapa kejamnya pria itu. “Sayangnya Kamu akan tetap menjadi Lorraine-ku. Kamu pikir
Tiga hari sudah berlalu. Waktu akan terasa berjalan lama kala kecemasan melanda. Hal itulah yang dirasakan oleh Max. Pria itu tak sabar menanti hasil pencarian detektif Furrer. Dia memilih terjun ke jalanan untuk mencari keberadaan sang istri bersama dengan Altherr.Namun sayang mencari seseorang di kota besar sangatlah tidak mudah. Untuk kesekian kalinya baru saja Max mendengar jika tidak ada yang melihat sang istri. Pria itu kembali ke mobil dan menyandarkan kepalanya di kursi. Matanya terpejam. Merasa lelah sekaligus frustasi. Dia tidak tahu lagi harus mencari Orlena ke mana lagi. Tiba-tiba ponsel Max berdering, membuat mata pria itu terbuka. Dia melihat nama ‘Romain’ tertera di layar ponselnya.“Max, kau di mana?” Suara Romain menyapa telinga saat mengangkatnya.“Aku sedang di jalanan mencari Orlena,” jawab Max.“Sebaiknya kamu cepat ke rumahku. Detektif Furrer menemukan informasi penting mengenai Ethan.” Romain memberitau pria itu.“Informasi apa?” Max memicingkan matanya.“Akan
Mia menatap pantulan dirinya di depan cermin besar. Wanita itu mengenakan gaun putih gading yang terlihat indah. Gaun lengan panjang itu melebar di bagian bawah pinggang. Di belakangnya ekor gaun menjuntai beberapa meter. Gaun itu terlihat begitu mewah karena brokat emas yang menghiasi seluruh gaun."Apakah ini tidak terlalu berlebihan, Mrs. Vardalos?" tanya Mia kepada calon ibu mertuanya.Zeta berdiri di samping Mia. Wanita itu menatap penampilan calon menantunya dengan tatapan kepuasan. Bibirnya tersenyum lebar tampak sangat bahagia."Tidak ada yang berlebihan, Sayangku. Kamu sangat cantik." Zeta memeluk bahu Mia meyakinkan wanita itu."Tapi aku tidak yakin tampil dengan gaun ini, Mrs. Vardalos. Aku merasa tidak pantas mengenakannya." Mia menunduk sedih.Zeta memutar tubuh Mia sehingga wanita itu menghadap ke arahnya. Wanita itu menepuk bahu Mia sehingga menatap ke arahnya."Reynard sudah memberitahuku jika kamu kesulitan untuk percaya diri, Mia. Tak seorang pun di dunia ini yang bi
Reynard sudah mencarinya di seluruh resort. Namun dia belum kunjung menemukan tunangannya. Dia begitu ketakutan terjadi hal buruk pada Mia. Lalu tatapannya tertuju ke arah lautan. Dia berpikir mungkin saja Mia tidak sengaja jatuh ke lautan. Tapi segera Reynard menggelengkan kepalanya. Dia tahu hal aneh seperti itu hanya ada dalam drama-drama, tidaklah nyata.Tiba-tiba seorang pria mengenakan setelan hitam berjalan menghampirinya. Langkahnya terhenti tepat di hadapan Reynard. Mata Reynard mengamati pria itu dengan tatapan penuh tanda tanya."Apakah anda adalah Reynard Metraxis?" tanya pria itu.Reynard menganggukkan kepalanya. "Benar. Saya adalah Reynard Metraxis. Anda siapa?""Saya adalah Daniel Wade. Saya diperintahkan seseorang untuk mengantarkan anda ke suatu tempat." Pria itu memberitahu Reynard.Reynard memicingkan matanya menatap pria itu. "Siapa yang memerintahkan kamu kemari?"Pria itu tersenyum. "Saya tidak bisa memberitahu anda, Mr. Metraxis. Tapi ini berhubungan dengan tunan
"Jadi kamu memang merencanakan lamaran ini saat merencanakan liburan kita?" tanya Mia saat mereka sudah kembali ke kabin mereka. Reynard menarik Mia yang baru saja selesai mandi untuk duduk di pangkuannya. "Aku memang merencanakan liburan ini untuk melamarmu. Aku sudah sangat yakin tidak ingin melepaskanmu lagi. Karena kamu adalah wanita yang dikirim Tuhan untuk menemaniku di sisa hidupku." "Bisakah kamu berhenti untuk mengatakan hal-hal yang manis? Kamu membuat pipiku memerah." Mia menyentuh pipinya yang memanas. Reynard terkekeh melihat reaksi sang kekasih. "Aku hanya mengungkapkan isi hatiku, Agape mou. Kenapa wajahmu jadi seperti kepiting rebus?" "Kamu menyebalkan, Reynard." Mia mendengus kesal. Reynard mencium bibir Mia sekilas. "Bagaimana bisa pria tampan ini menyebalkan?" "Kenarsisan-mu mengingatkanku pada tingkat kepercayaan dirimu yang tinggi saat berpikir aku memujimu." Mia terkekeh geli. "Jangan ingatkan aku tentang hal itu." Kali ini Reynard yang tampak kesal. Mia t
Blue Magic merupakan salah satu spot menyelam terbaik. Lokasi ini berada di antara pulau Kri dan pulau Waisai. Dengan perpaduan laut berwarna biru muda yang cantik ditambah dengan keindahan kehidupan bawah lautnya sehingga tidak heran orang-orang menyebut tempat itu sebagai Blue Magic.Reynard dan Miayang sudah mengenakan pakaian dan perlengkapan menyelam sedang menikmati pemandangan kehidupan bawah laut di Blue Magic. Bersama dengan pemandu tour, mereka bersama mengelilingi tempat itu. Reynard menggandeng tangan sang kekasih untuk menjaga wanita itu berada di dekatnya. Seperti yang dikatakan pemandu mereka tadi karena arus yang kuat mampu menyeret penyelam ke laut terbuka.Namun perjuangan mereka tidaklah sia-sia. Karena mereka bisa melihat warna warni batu karang yang cantik serta hewan-hewan laut yang menakjubkan. Seperti ikan pari manta, barakuda, tuna dan makhluk laut yang paling populer di tempat itu adalah kumpulan jackfish.Setelah puas menikmati pemandangan bawah laut itu, Re
"Dan aku akan membuatmu juga sangat liar, Agape mou." Setelah mengucapkan kalimat itu, Reynard langsung menunduk. Bukan untuk mencium bibir Mia melainkan menggigit lembut telinga wanita itu.Hembusan nafas Reynard yang menerpa kulit Mia membuat wanita itu merinding geli. Namun dia merasakan sensasi aneh di perutnya. Seakan perutnya baru saja diguncangkan dengan keras."Reynard." Desah Mia."Kamu menyukainya, Agape mou?" bisik Reynard.Menyukainya? Mia bahkan tidak mengerti bagaimana tubuhnya berubah panas karena tindakan Reynard. Padahal pria itu bahkan belum menyentuh titik sensitif Mia tapi Reynard mampu membangkitkan hasrat liar dalam dirinya.Reynard beralih ke leher Mia. Menciptakan panas yang menjalar dalam setiap kecupannya. Tangan Reynard menyusup dalam kaos wanita itu menangkup salah satu bukit kembar Mia. Mia tak mampu berpikir dengan jernih ketika Reynard memberikan cumbuan serta remasan lembut di payudaranya. Ketika tangan Reynard menurunkan branya dan menyentuh putingnya
Raja Ampat di Indonesia adalah tempat yang dipilih oleh Reynard menghabiskan liburannya bersama dengan Mia. Keindahan pemandangan laut dan pantai sangat memikat pasangan itu begitu mereka sampai di Misool Eco Resort.Misool merupakan satu dari empat pulau terbesar di kepulauan Raja Ampat yang terletak di provinsi Papua Barat. Misool berbatasan langsung dengan laut Seram dan perairan laut lepas yang menjadi jalur lintas hewan besar termasuk paus. Sehingga tidak heran jika Raja Ampat terkenal dengan keindahan kehidupan bawah lautnya.“Tempat ini seperti surga, Reynard.” Mia melihat lautan berwarna biru kehijaun yang sangat indah.“Tempat ini seperti surga jika aku bersamamu, Agape mou.”Mia menoleh dan memperlihatkan rona merah di pipinya. “Berhentilah merayuku terus, Mr. Metraxis. Kamu akan membuatku meleleh seperti mentega di bawah sinar matahari.”Reynard tertawa mendengar perumpamaan sang kekasih. Pria itu meraih tangan Mia dan berjalan menyusuri jembatan kayu di atas laut. “Sayangn
Reynard melepaskan ciumannya. Sepasang kekasih itu segera menoleh. Karyawan wanita yang beberapa hari yang lalu tidak sengaja mendorong Mia hingga terluka berdiri di depan pintu dengan terkejut. Tidak butuh orang pintar untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan Reynard dan Mia dengan posisi Reynard yang menyergap tubuh Mia diantara dinding."Maafkan aku. Aku akan naik lift berikutnya." Wanita pirang itu segera mengalihkan perhatiannya.Tak lama kemudian pintu lift kembali tertutup. Reynard kembali mengalihkan perhatiannya pada wanita cantik yang terperangkap di hadapannya."Sepertinya kita akan membuat seisi kantor heboh." Mia meringis membayangkan berita baru tentang dirinya dan Reynard yang akan segera muncul."Aku pikir bukan berita buruk yang akan kita dengar." Reynard menyunggingkan senyuman."Bagaimana kamu bisa begitu yakin?" tanya Mia menatap sang kekasih."Apa kamu tidak sadar dengan posisi kita saat ini, Agape mou?" tanya Reynard.Mia melihat Reynard yang berdiri di hadapan
"Jadi kamu masih tidak akan memberitahuku ke mana kita akan pergi akhir pekan ini?" tanya Mia sembari menyantap burgernya.Setelah berpikir lama tentang makanan yang akan mereka pilih sebagai menu makan siang mereka, akhirnya Mia mendesak Reynard untuk pergi ke restoran cepat saji. Dia ingin menikmati burger. Sudah lama wanita itu tidak memakannya. Terakhir kali dia makan makanan bertumpuk itu adalah ketika Alicia mengajaknya untuk merayakan ulang tahun Alicia berdua dengannya."Sudah kukatakan itu adalah kejutan." Reynard menyantap burger bagiannya.Mia berpikir Reynard akan terlihat kaku memakan makanan cepat saji itu. Karena selama ini pria itu selalu menyantap makanan-makanan dari koki terbaik. Tapi ternyata dugaan Mia salah. Gerakan tangan Reynard saat memegang burger itu begitu luwes. Seolah pria itu sudah sering memakannya."Tapi aku tidak tahu apa yang harus aku kenakan, Reynard? Bagaimana jika aku salah kostum? Maksudku bagaimana jika aku mengenakan kaos dan celana pendek tap
Reynard dan Mia sudah berada di dalam mobil pria itu. Namun Reynard tidak segera menghidupkan mesin mobilnya. Pria itu memilih memusatkan perhatiannya pada Mia. Wajah wanita itu tampak pucat. Dia tahu tidak mudah bagi Mia menghadapi situasi seperti tadi."Apakah kamu baik-baik saja, Agape mou?" Reynard mengulurkan tangan menggenggam tangan Mia.Akhirnya wanita yang sejak tadi diam mulai menoleh menatap sang kekasih. Bibirnya berusaha menyunggingkan senyuman. "Aku... Aku baik-baik saja, Reynard.""Kamu yakin? Wajahmu tampak pucat, Agape mou." Tangan Reynard berpindah menyentuh pipi Mia."Sebenarnya aku memang tidak baik-baik saja, Reynard. Aku sangat takut. Bahkan tanganku sampai gemetar seperti ini." Mia mengangkat kedua tangannya yang masih gemetar."Maafkan aku, Agape mou. Kamu harus menghadapi Mama seperti itu. Seharusnya aku tahu lebih awal jika Mama datang kemari. Salahku tidak memperingatkanmu lebih dulu." Sesal Reynard."Jadi benar ibumu selalu melakukannya? Maksudku bersikap