“Telurnya hampir gosong!” Frida mengingatkan dengan mengerutkan keningnya.“Oh!” Johan tersadar dari bengongnya, lalu segera berlari ke dapur.…Pada era internet sekarang ini, pergantian informasi sangatlah cepat. Setelah masalah duta merek telah berlalu, Gina pun kembali ke lokasi syuting untuk melanjutkan pekerjaannya.Thalia juga sudah menyelesaikan pemotretan iklan sebagai duta merek GK. Dia pun kembali ke lokasi syuting.Sore harinya, Thalia mentraktir Sonia dan Darren untuk minum. Dia juga berjanji setelah gajinya dicairkan, dia akan mentraktir mereka makan enak.Darren bertanya dengan tersenyum, “Makan enak apa?”“Mie kecap tambah paha ayam!” jawab Thalia dengan tersenyum lebar.Darren pun terdiam. Apa katanya? Thalia memang terkenal dengan pelitnya!Jujur saja, Darren sungguh gembira. Setelah masalah duta merek berlalu, Thalia menjadi semakin terkenal saja. Buktinya, tadi pagi ada yang datang mengunjunginya dan meminta tanda tangan.Namun, Thalia masih seperti dahulu kala. Dia
“Hah?” Thalia melihat Gina dengan terkejut. Detak jantungnya semakin kencang lagi.Nomor kontak Reza?Apa benar Thalia boleh memintanya?Reza adalah kekasihnya Sonia. Sementara, Sonia adalah teman baiknya. Meskipun demikian, Thalia tetap tidak bisa menahan godaan. Dia membalas dengan suara ringan, “Boleh, terima kasih, ya!”Gina memberi nomor WhatsApp Reza kepada Thalia. Tiba-tiba ada yang memanggil Gina. Gina pun berdiri dan sewaktu dia hendak pergi, dia pun berkata, “Wajahmu sungguh mirip dengan Sonia. Pantas saja kalian berdua bisa akrab.”“Benarkah?” Thalia mengangkat kepalanya dengan sedikit kaget.“Iya, seperti kakak beradik saja.” Gina tersenyum, lalu berjalan pergi.Thalia mengusap wajahnya. Apa benar dirinya mirip dengan Sonia?Setelah Gina berjalan pergi, Thalia masih duduk di tempat sambil melihat nomor WhatsApp Reza. Dia merasa tangannya sangat panas.Foto profil lelaki itu adalah bayangan seorang wanita yang sedang berdiri di depan jendela. Gambar itu diedit menjadi bentuk
Sudah setengah hari, Reza masih tidak membalas pesannya. Dia belum membacanya atau tidak ingin membacanya?Awalnya Thalia cukup gugup ketika bertatapan dengan Sonia. Hanya saja, setelah dipikir-pikir, Thalia pun tidak menggubrisnya lagi. Bagaimanapun juga, dia cukup menghargai pertemanannya dengan Sonia. Thalia juga tidak berharap Sonia akan salah paham nantinya.Setelah selesai kerja, Sonia sedang membereskan barang-barangnya. Reza pun memberi tahu bahwa dirinya telah tiba.Mendekati penghujung tahun, cuaca semakin dingin lagi. Setiap harinya, Reza akan datang untuk menjemput Sonia.Sonia membalas pesan, lalu menyimpan ponselnya. Tiba-tiba Thalia berlari mencarinya, lalu bertanya dengan senyum manis, “Sonia, kamu sudah selesai? Hari ini aku bawa mobil, biar aku antar kamu.”“Nggak usah, terima kasih, ya.” Sonia tersenyum.“Pak Reza datang jemput kamu?” Thalia memaksakan dirinya untuk tersenyum sambil merangkul lengannya. “Mobilku berhenti di parkiran sebelah sana, ayo kita jalan baren
Kedua bibir terasa agak dingin. Begitu kedua bibir saling bertemu, detak jantung masih terasa kencang.Reza mencubit dagunya, lalu mengecup Sonia dengan lembut. Dia bagai sedang mencium barang berharga saja, tidak berani terlalu bertenaga, tetapi tidak rela untuk meninggalkannya.Sonia memeluk pinggang Reza, menutup matanya sambil membalas ciuman yang diberikan.Kepingan salju jatuh ke alis, hidung, ujung bibir, lalu meleleh di dalam ciuman hangat mereka.Rasa dingin itu membuat Sonia merasa sangat nyaman. Reza seolah-olah bisa merasakan betapa gembiranya wanita ini. Dia pun tidak melepaskan ciumannya.Setelah tinggal lama di luar, Reza khawatir Sonia akan kedinginan. Dia pun membawa Sonia untuk berendam air hangat.Di dalam bathup besar, Sonia sedang bersandar di depan dada Reza. Sekujur tubuhnya dibaluti dengan kehangatan.…Malam harinya.Setelah Johan membereskan meja makan, dia pun duduk di sofa menunggu Frida untuk bermain gim bersamanya. Begitu mendengar suara pintu, Johan spont
Johan memejamkan matanya menghirup aroma parfum di tubuh Frida. Dia pun bertanya dengan kesal, “Apa kamu berpacaran dengan No Word?”Frida terdiam sejenak, lalu membalas, “Nggak!”“Jadi, kenapa kamu pergi pacaran tiap hari?” Terdengar kekesalan dari nada bicara Johan.Frida membalas dengan datar, “Aku sudah menolaknya. Aku keluar karena kami lagi mengembangkan sebuah aplikasi. Dia kerja kantoran, jadi cuma ada waktu di malam hari.”“Pokoknya nggak boleh! Aku nggak suka kamu bersama dia!” Johan mendengus dingin.“Kenapa nggak suka?”Johan mengembuskan napasnya di telinga Frida, lalu berkata, “Kamu itu punyaku.”Tiba-tiba tubuh Frida terkaku. Namun, dia segera menenangkan dirinya. “Johan, besok kalau kamu ingat dengan ucapanmu malam ini, kamu pasti akan menyesalinya.”Lengan Johan menopang di atas dinding. Dia mengangkat kepalanya dengan perlahan menatap mata Frida. Tatapannya terlihat agak linglung. “Frida ….”“Emm,” balas Frida sambil menundukkan kepalanya.“Aku ingin menciummu.” Johan
Selama beberapa hari ini Tandy disibukkan dengan ujian akhir semesternya. Hari ini, akhirnya dia bebas!Ujian akhir semester telah berakhir, Sonia juga tidak perlu mengajar Tandy di akhir pekan lagi. Begitu hasil ujian diumumkan, Diana pun menghubungi Sonia untuk menyampaikan rasa terima kasihnya. Dia bertanya kapan Sonia akan pulang ke rumahnya untuk kumpul hari raya dengan keluarganya, dia ingin mempersiapkan sedikit buah tangan untuk dibawa pulang Sonia.Setelah panggilan diakhiri, Sonia pun menerima transfer bonus dari Diana.Jujur saja, Sonia sungguh kaget ketika melihat nominalnya. Dia kembali menelepon Diana mengatakan nominal itu terlalu besar.Diana malah berkata dengan tersenyum, “Tidak banyak sama sekali. Semua sesuai dengan perjanjian kita. Awalnya Ibu ingin aku membelikan hadiah untukmu, tapi aku tidak tahu kamu suka perhiasan yang bagaimana. Jadi, aku transfer saja uangnya. Kamu bisa beli apa pun dengan uang itu.”Sonia menolak beberapa kali, tetapi Diana masih bersikeras
Erline melirik sekeliling. “Kecilkan suaramu. Jangan sampai kedengaran sama si Celine.”“Dia lagi makan di luar!” balas Kally dengan suara kecil, “Dia hanya asistennya Pak Reza. Memangnya dia berhak ikut campur sama kehidupan pribadi Pak Reza!”Erline menarik Kally untuk duduk. “Tadi Pak Reza suruh aku pesan makanan untuk dua orang. Dia juga memesan sup ayam kolagen, sepertinya untuk Nona Sonia.”“Sudah pasti!” Kally kegirangan hingga kedua matanya berkilauan. “Aduh! Pengin banget nonton di dalam!”“Aku juga!”Mereka berdua sungguh penasaran dengan kelanjutan cerita di dalam ruangan sana.Di dalam ruangan, Reza menarik Sonia untuk duduk di atas pangkuannya, lalu menunduk mencium keningnya. “Dingin tidak?”“Nggak, kok. Tadi aku bawa mobil sendiri.” Sonia tersenyum.Reza menggendongnya. “Ayo kita makan.”“Nggak buru-buru. Kamu kerja dulu.” Sonia memeluk leher Reza.“Kalau kamu di sini, mana mungkin aku bisa fokus kerja.” Reza tersenyum lembut, menggendongnya ke sisi sofa.“Sebelumnya sia
Sonia sedang duduk di atas pangkuan Reza. Ketika mendengar suara pintu dibuka, Sonia langsung terbelalak dan segera membalikkan kursi.Ketika Celine masuk, kebetulan dia melihat kursi sedang dalam keadaan diputar.Meja kerja yang besar itu menutupi kaki Sonia. Celine hanya dapat melihat bayangan punggung Reza. Dia spontan melirik ke sisi lain, lalu tampak tas dan beberapa sketsa di atas meja tamu. Namun, tidak ditemukan bayangan Sonia.Sonia lagi tidak berada di ruangan? Ke mana dia?Sonia sedang memeluk pinggang Reza sambil berondok di depan dada Reza. Reza yang tersenyum lantaran merasa lucu itu malah dibelalaki oleh Sonia.Reza bertanya, “Ada urusan apa?”Celine pun terbengong. Si lelaki membelakanginya dan berbicara dengan suara seraknya. Suara itu malah terdengar sangat seksi bagi Celine. Jantungnya berdegup kencang. Dia pun menarik napas dalam-dalam, lalu bertanya, “Pak Reza, di mana … Nona … Sonia?”“Ada urusan apa kamu mencarinya?” Suara Reza berubah dingin. Dia menunduk meliha
Sonia tertegun sejenak, lalu segera mengangkat kepalanya mengamati sekeliling. Dia refleks mengangkat-angkat alisnya. Apa Reza sedang asal bicara? Bagaimana mungkin dia bisa melihat Sonia?Hanya saja, semuanya sungguh kebetulan!Sonia mengambil air berjalan ke lantai atas. “Aku pergi mandi dulu!”“Pergilah, tidur dengan tenang. Aku akan bangunkan kamu besok pagi,” ucap Kase dengan lembut sembari memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana.Langkah kaki Sonia berhenti. Dia berkata dengan suara rendah, “Kalau sudah jam sembilan aku belum bangun, kamu baru bangunin aku!”Sonia berharap dirinya bisa bangun sendiri. Awalnya saat di laboratorium, Sonia bisa bangun juga dengan mengandalkan dirinya sendiri. Kenapa sekarang malah tidak bisa?Kase mengangguk. “Oke, selamat malam!”Hari ini adalah malam hari Natal. Kase sudah berdoa tadi, semoga malam ini Sonia bisa mimpi indah, tidak terjerat dengan mimpi buruk lagi.Sonia naik ke lantai atas. Kase bersandar di ujung meja sembari menatap bay
Noah menatap wajah familier pria di hadapannya. Saking syoknya, kedua mata Noah langsung terbelalak lebar.Reza kembali mengangkat tangannya, lalu langsung menembak kepala Noah. Dia menurunkan pistolnya, kemudian melangkah dengan menginjak wajah Noah. Nada bicaranya terdengar sangat datar. “Beri tahu Rayden untuk bawa pergi jenazahnya!”Holand segera mengiakan.Sekitar sepuluh menit kemudian, Rayden datang ke vila. Dia menatap jasad Noah dengan dingin. Setelah itu, dia memasuki vila, dia pun melihat pria yang sedang duduk di sofa sembari merokok.Holand mengeluarkan rekaman CCTV di vila untuk memperlihatkannya kepada Rayden. Di dalam CCTV, Noah mengendarai mobil ke luar vila, lalu memasuki vila dengan memanjat tembok. Dia diam-diam berjalan ke belakang pohon, kemudian memanjat lagi ke balkon lantai dua.Setelah itu, tidak ada lagi gambaran di dalam CCTV, hanya terdengar suara jeritan seorang wanita dan juga suara tembakan.Beberapa detik kemudian, Noah jatuh dari atas balkon. Holand b
Betapa bagusnya jika Rayden membunuh Sonia sejak awal. Noah tahu, selama Sonia masih hidup, dia pasti akan memiliki cara untuk melarikan diri!Sekarang Sonia sedang menyamar menjadi pelayan. Jangan-jangan dia sengaja mendekati Rayden untuk balas dendam? Apa ada rahasia yang disembunyikan Sonia, tapi tidak diketahui Noah?Seandainya Noah mengetahuinya, bisa jadi dia bisa segera mendorong Sonia ke neraka! Noah yang menyimpan rasa dendam itu berjalan pergi melihat ke sisi lift. Dia menyadari Sonia pergi ke lantai satu. Dia segera memasuki lift yang satu lagi untuk turun.Setelah tiba di lantai bawah, Noah menyadari Sonia mengambil kotak makanan, menaiki sebuah mobil. Ke mana Sonia? Noah segera mengendarai mobil yang satu lagi.Jalan-jalan di Istana Fers saling terhubung ke segala arah. Di tengah malam, bayangan pepohonan saling bertumpuk dan cahaya lampu redup berkelap-kelip. Noah mengikuti dari kejauhan, tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak terlalu jauh, hingga akhirnya mobil itu berb
Secara manajemen, pelayan tidak diperbolehkan untuk menggoda pria. Namun, di belakang, mereka berebut dengan sangat ketat.Oleh sebab itu, wanita itu bisa menghalangi Sonia tadi karena melihat Sonia sedang berciuman dengan pria di lantai dansa, dia merasa sangat iri.Sonia berkata dengan datar, “Tuan Noah tinggal di mana?”Para pelayan wanita saling bertukar pandang, tidak ada yang berbicara.Sonia mengambil botol anggur di samping. Inna segera berkata, “Lantai 13, di kamar 1302.”“Emm!” balas Sonia, lalu melangkah pergi.Di bar.Setelah Theresia dan Himawan selesai berdansa, dia pun menemukan Reza di depan meja bar.Reza mengangkat tangan melihat jam tangan sekilas. “Sudah saatnya pulang!”“Oke!” Theresia tersenyum.Mereka berdua berjalan keluar bar dan kebetulan bertemu dengan Himawan. Himawan memeluk wanita tadi sembari menyapa mereka berdua, “Raja Bondala, Nona Lacey.”Reza berkata, “Tadi aku nggak ada di tempat. Terima kasih Tuan Himawan sudah menjaga Lacey.”Tidak terlihat ekspre
Sonia meraih lengan pria tersebut, lalu menjinjit ujung kakinya untuk mencium bibir Reza. Dia bertanya dengan suara serak, “Sistem pertahanan di Istana Fers sangat ketat. Sebelumnya Frida sempat meretas CCTV. Hanya saja, dia cuma sanggup membuat orang nggak menyadarinya dalam waktu singkat. Apa setelah dia bekerja sama dengan Yose, nggak ada yang bisa menyadarinya?”Reza membalas ciuman hangat Sonia. “Saat aku datang, masalah ada perubahan.”“Perubahan apa?” tanya Sonia dengan penasaran.“Sementara ini aku tidak beri tahu kamu dulu. Itu hukuman karena kamu tidak mendengar ucapanku!” Reza menggigit bibirnya.Sebelumnya wanita yang dipukul Sonia mengejar kemari. Ketika melihat Sonia dipeluk dan dicium oleh pria tampan dan tinggi, lalu berdansa bersama. Hubungan mereka berdua kelihatan sangat mesra.“Dasar wanita jalang!” maki si wanita dengan nada iri, lalu membalikkan tubuhnya untuk berjalan pergi.…Ketika Kase kemari, Sonia baru saja keluar dari lantai dansa. Meski Sonia sedang mengen
Himawan menoleh sekilas. Ketika melihat dirinya sudah melangkah mundur hingga menempel di meja bar, dia pun menatap Theresia dengan tidak berdaya. “Baiklah, kalau begitu, aku akan berdansa dengan Nona Lacey. Aku harap Nona jangan marah lagi.”Theresia pun tersenyum, lalu menarik tangan Himawan untuk berjalan ke arena dansa.Bar ini sangat luas dengan dilengkapi lantai dansa yang energik serta lantai dansa waltz yang santai. Ketika keduanya memasuki lantai dansa, Theresia meletakkan tangan panjang dan lembutnya di bahu pria itu, sementara pria itu merangkul pinggangnya, lalu mereka menari dengan anggun di tengah lantai dansa.Theresia sudah mabuk. Jadi, Himawan menuntunnya dengan langkah perlahan.“Sejak kapan Tuan Himawan datang ke Istana Fers?” tanya Theresia.Himawan menjawab dengan datar, “Sudah setengah bulan.”“Ternyata kamu pendatang baru!” Theresia tersenyum. “Dulu kamu kerja di mana?”“Aku bekerja dengan Tritop,” jawab Himawan.“Oh!” Theresia mengangguk. Tiba-tiba dia mengerutk
Regan menunduk dengan panik, lalu menjelaskan dengan suara kecil, “Setelah datang ke sini, hidup kita sudah nggak ada pilihan lagi. Kalau aku tidak bermanfaat sama sekali, aku pun sudah dibunuh ketika membantu Hallie untuk menyelamatkanmu.”Sonia mengangguk. Kali ini, dia tidak mengatakan apa pun, langsung meninggalkan kamar.Setiap orang memiliki pengalaman hidup dan pilihan masing-masing. Tidak ada orang yang bisa benar-benar merasakan pengalaman hidup orang lain, juga tidak bisa menilai benar atau salahnya pilihan hidup orang lain!Tiba-tiba Regan berkata, “Nona Sonia, aku harap kamu tidak beri tahu masalah ini kepada Hallie. Biarkan dia mengira aku serakah dan sudah mengecewakannya.”Sonia berucap, “Oke, aku akan bantu kamu rahasiakan masalah ini!”Tatapan Sonia kelihatan berkilauan. “Aku sungguh berterima kasih karena sudah menyelamatkanku. Kalau kamu butuh bantuanku, kamu bisa mencariku kapan saja!”Ekspresi Regan kelihatan sedikit linglung. Dia mengangguk dengan perlahan. “Aku t
Pohon Natal setinggi belasan meter kelihatan berkilauan di tengah istana. Rayden menyuruh pelayannya untuk menggantung hadiah berupa emas, perak asli, dan perhiasan lainnya di bagian teratas. Ada banyak orang ingin memanjat ke bagian teratas untuk merebut berlian sepuluh karat itu. Mereka semua saling memukul, tidak sedikit orang terjatuh dari paling atas.Ketika Sonia dan Theresia melewati, mereka melihat ada yang terjatuh hingga muntah darah, tetapi tidak ada yang menyelamatkan mereka. Mereka malah diinjak oleh yang lain demi bisa memanjat ke atas.Theresia berkata dengan tersenyum, “Orang-orang di sini bagai nggak punya arwah saja.”Hanya ada rasa serakah di diri mereka.Sonia berucap, “Apa kamu nggak merasa Rayden sengaja memperbesar rasa serakah mereka?”Theresia mengangkat-angkat alisnya. “Memang begitu. Sebenarnya apa yang ingin dia lakukan?”Sonia menggeleng. “Aku hanya merasa orang itu aneh sekali!”Malam hari ini, Rayden melakukan jamuan. Bondala dan Kase diundang. Sonia dan
Sonia memutar bola matanya. Angin sepoi-sepoi mengembus rambut di samping telinga Sonia. Rambut itu melayang ke pipi putih mulus Sonia. Kelembutannya sungguh meluluhkan hati orang-orang yang melihatnya.Pada saat ini, Sonia menggigit bibirnya sembari tersenyum. “Kalau nggak, kamu cari dia untuk bahas soal energi terbarukan.”Reza tersenyum dingin. “Aku lebih ingin bahas soal papan nama Suki di altar persembahan kediamannya!”Sonia menarik napas dalam-dalam. “Kamu sudah tahu?”Reza menyipitkan matanya. “Ternyata kamu juga tahu! Kamu beri tahu dia kalau kamu itu Suki?”Sonia segera menggeleng. “Nggak!”Suki sudah “meninggal”. Sonia tidak mungkin mengungkitnya terhadap siapa pun!Tatapan Reza masih kelihatan dingin. “Sebelumnya kalian sudah saling kenal? Apa kalian punya hubungan dekat sewaktu di medan perang?”Sonia berpikir sejenak. “Jujur saja, sebelum bertemu dengan dia, aku sama sekali nggak mengingatnya.”“Bagaimana setelah bertemu dengannya? Ketika melihat dia membangun altar untuk