Share

KEDATANGAN IBU

Penulis: Mommy Alkai
last update Terakhir Diperbarui: 2022-11-05 07:07:08

"Ma, ini pakaian siapa banyak banget. Mama jualan?" tanya Mas Pras saat mendapati dua tumpuk daster di keranjang baju. Padahal sudah kusembunyikan, tapi dia tetap tahu.

"Punya aku Pa, sebagian dikasih Teh Lina. Sebagian dikirim dari Ibu ...."

"Alhamdulillah, berarti tahun ini nggak usah beli daster ya, Ma? Bisa dialihkan ke yang lain kan?" celotehnya kegirangan, tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Ya ampun Pa, udah beli baju sama daster setahun sekali, masa mau dihapus juga. Berarti lebaran ini, ya aku beli gamis dua dong, Pa!" gerutuku sebal.

Kesal sekali dengan sifatnya yang terlalu hitung-hitungan itu. Andai saja dia tahu, siapa yang memberi daster baru itu, apa dia akan sadar, kalau aku lebih berharga di mata lelaki lain?

Kutinggalkan Mas Pras ke dalam kamar. Dia tahu, marahku adalah diam. Jika diganggu akan semakin lama aku mendiaminya. Makanya, dia takkan berani bicara lagi.

Kenapa akhir-akhir ini aku selalu kesal dengan sikap suamiku?

Padahal, dulu aku tak pernah masalah, selama dia tidak mengkhianatiku. Apakah karena sekarang ini ada Aa Hadi sebagai pembandingnya?

***

Sudah tiga hari ini, aku tidak bicara dengan Mas Pras. Aku masih terus kesal dengan ucapannya soal daster. 

Menurutku, Mas Pras seperti berat sekali bila membeli sesuatu untuk kebutuhanku. Seperti yang kubeli adalah beban untuknya.

Seandainya dia mengerti bahwa tugas suami adalah mencukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Itu artinya, baju yang kupakai juga menjadi tanggung jawabnya.

Lain hal jika dia tidak memiliki uang sama sekali. Dia terlalu hemat, karena terobsesi memiliki rumah sendiri. Entah berapa tabungannya sekarang, aku juga tak pernah tahu.

"Assalamualaikum!"

"Waalaikumusalam ...."

Suara yang sangat kukenal berasal dari luar rumah. Tapi ... bukankah itu suara Ibu? Bagaimana bisa Ibu kesini tanpa mengabari lebih dulu?

Ah iya, sejak kemarin aku sengaja tidak mengaktifkan handphone karena takut Aa Hadi meneleponku saat sedang bersama Mas Pras. Karena dua hari ini, dia sedang off.

"Ibu? Ibu sama siapa?" tanyaku yang masih terkejut. Mataku meluas mencari tahu, apakah Bapak atau adikku ikut serta bersama Ibu.

"Ibu sendiri Teh, tadi minta dijemput sama Pras di terminal!"

"Ibu enggak ngabarin Teteh?" 

"Hape Teteh yang nggak aktif!"

"Ada apa atuh, Bu?"

"Ya Ibu cuma pengen tahu kontrakan kamu yang baru. Lagipula, enggak ada alasan seorang ibu kalau kangen sama anaknya ..., " kata Ibu sedikit kesal. Apa aku kentara sekali, kalau tidak suka melihat kedatangan Ibu?

"Iya Bu maaf, Teteh kaget. Ibu jauh-jauh dari Sukabumi ke sini sendirian. Ya udah atuh ibu masuk," kataku mempersilahkan.

Kuraih tas ransel Ibu yang ternyata berat itu. Satu hal yang membuatku menolak kedatangan Ibu, karena beliau mengenal Aa Hadi dan juga sangat dekat dengannya.

Bagaimana bisa aku menjelaskan sama Ibu dan mencegah Ibu mengatakan hal yang macam-macam tentang Aa Hadi kalau sampai mereka bertemu? Sementara hari ini Mas Pras sedang off.

"Bu, jangan keluar rumah ya Bu!" pintaku dengan suara bergetar. Jujur aku takut sekali saat ini.

"Kenapa, Teh?"

"Ibu di dalam saja, kan baru sampai. Jani bikinin teh manis dulu ya Bu ...."

"Assalamualaikum, Neeeeng!"

Ya Allah, itu kan suara Teh Lina? Cobaan apa lagi ini?

Jangan sampai suaminya ikut ke sini juga!

"Waalaikumusalam ...," jawabku sambil berlari ke arah pintu. Aku tak ingin Ibu bertemu dengan Teh Lina, sebelum aku menceritakan semuannya.

"Neng, lagi ada tamu ya? Ini Teteh bikin bakwan jagung pakai udang, banyak. Nih Teteh duain sama kamu!" Teh Lina menyodorkan sepiring bakwan, lengkap dengan sambal kacang.

"Aduh Teh, Jani kebagian mulu ini, kan jadi enak Teh?" kataku sedikit mencairkan ketegangan pada diri sendiri.

Ibu lalu muncul dari dalam kamar kedua yang biasa kujadikan tempat menyimpan pakaian. Mau enggak mau aku harus kenalin Teh Lina ke Ibu.

"Bu, ini Teh Lina yang tinggal di sebelah rumah. Teh, ini Ibu Jani."

"Ibu mirip sekali ya, sama Jani. Oya, Ibu lama tinggal di sini?"

Dalam hati aku harap-harap cemas. Jangan sampai Ibu lama di sini, bahaya!

"Mungkin seminggu Neng," jawab Ibu.

" Mampir atuh Bu kerumah Lina, jangan sungkan! Lina senang sekarang ada Jani di sini, seperti punya adik!"

Glekk

Kembali aku terhenyak mendengar ucapan Teh Lina. Ya Allah ... jahat sekali aku ini. Kenapa harus ada masa lalu di antara hubungan baikku dengan Teh Lina?

"Teh, di kamar tadi ada daster baru banyak banget. Teteh jualan?"

Glekk

Kenapa juga aku harus lupa pindahin baju-baju itu?

Semenjak tinggal di sini, jantungku seperti saat naik roller coaster, deg-degan terus.

"Lho, bukannya Ibu yang kirim?" tanya Teh Lina penasaran.

Mas Pras yang ada di kamar, ikut keluar setelah mendengar Ibu bertanya begitu.

Ya Allah, aku harus bagaimana?

Bab terkait

  • JADI TETANGGA MANTAN   PAKET BERMASALAH

    "Jadi daster itu bukan Ibu yang kirim?" Pertanyaan Mas Pras semakin membuatku gugup."Bukan, Pras!""Coba atuh Neng, dilihat lagi nama pengirimnya!" titah Teh Lina."Bagaimana ya Teh, mana plastiknya sudah Jani buang?" kataku beralasan. "Kalau paket nyasar, bisa bahaya Ma! Bagaimana kalau diminta ganti rugi karena sudah buka paket?"Lagi-lagi Mas Pras bikin aku kesal. Udah tau aku lagi marah, tetap saja pelitnya keluar!"Mama kan, nggak tahu, Pa!""Makanya Ma, jangan asal buka. Aplikasinya aja nggak punya!"Ck, lihat aja, setelah Ibu pulang nanti. Akan ku tambah diamku selama sebulan, biar tau rasa! dengkusku kesal.Gara-gara paket dari Aa Hadi, malam harinya, aku sampai tidak bisa tidur. Selain Mas Pras terlihat curiga, aku juga kepikiran karena belum bisa bicara mengenai Aa Hadi pada Ibu.Dan Mas Pras, lelaki disampingku itu terus mewanti-wanti agar aku tidak menggunakan daster itu dulu, selama satu bulan.Huh! Takut banget kena denda dan disuruh bayar sepertinya!Kulirik jam di di

    Terakhir Diperbarui : 2022-12-26
  • JADI TETANGGA MANTAN   MENGULANG KEDEKATAN IBU DAN AA HADI

    "Jani udah hubungi Mas Pras, tunggu dulu ya Bu!" kataku pada Ibu agar dia merasa tenang. Padahal, Mas Pras belum membaca pesanku sama sekali, masih centang satu. Entah kenapa, akhir-akhir ini dia sulit sekali dihubungi."Deuh Teh, hese (susah) ya, enggak punya tetangga mah. Sekalinya punya, ada bonus masa lalunya!" sindir Ibu penuh kemenangan.Aku diam saja mendengar celoteh Ibu, sambil terus menepuk punggung Hamdi yang kegerahan karena kipas angin yang mati.Kulihat juga Nindy mulai tak nyaman, mungkin gerah juga. Ibu dengan sigap membuka pintu dan jendela yang tadi kututup rapat agar ada udara segar yang masuk."Assalamualaikum ...." Teh Lina pagi ini datang sambil menyodorkan sepiring makanan yang dibuatnya. Kali ini, dia buat kue lupis ketan ."Waalaikumusalam ...," jawabku sambil mengambil piring dari tangan Teh Lina. Karena seringnya dia mengantar makanan, aku jadi tidak basa-basi lagi dan langsung menampi (menerima) pemberiannya."Belum mandi Neng?" tanyanya, lengkap dengan lir

    Terakhir Diperbarui : 2022-12-26
  • JADI TETANGGA MANTAN   PELITNYA MAS PRAS

    Dua jam sudah Ibu pergi dengan Aa Hadi dan belum juga kembali. Selesai mandi, aku hanya bermain dengan Nindy dan Hamdi.Kata Teh Lina, aku enggak perlu masak. Dia sengaja bikin makan siang yang banyak biar kami bisa ikut mencicipinya.Ah, Teh Lina ... aku hanya bisa berdoa semoga kamu selalu sehat dan bahagia. Dan rahasia ini, tetaplah menjadi rahasia kami, agar Teteh tidak merasakan sakit hati lagi, batinku.Tak lama, suara derum mobil Aa Hadi terdengar jelas. Beberapa saat kemudian, Ibu datang membawa beberapa paper bag. Gegas kukunci pintu untuk sementara waktu, karena aku kelewat penasaran dengan apa yang terjadi pada mereka selama perjalanan.Setelah itu, kami masuk ke dalam kamar belakang, lalu Ibu pun mulai bercerita.Kata Ibu, Aa Hadi tak hentinya meminta maaf padanya. Seperti yang dia ceritakan, kalau dia dulu tidak mencintai istrinya.Berarti sekarang udah cinta atuh? Duh A, Jani patah hati boleh enggak?Selain itu, Ibu juga bercerita panjang lebar mengenai apa saja yang ter

    Terakhir Diperbarui : 2022-12-26
  • JADI TETANGGA MANTAN   DIA MEMBUATKU TAK NYAMAN

    "Mana Ibu tahu? Ibu cuma tahunya kamu teriak aja," kata Ibu.Syukurlah, pikirku. Ibu tak perlu tahu apa yang terjadi dalam rumah tanggaku. Segera kuturuti permintaan Ibu, agar dia tetap nyaman berada disini.***Dengan berat hati, kuturuti permintaan Ibu agar aku bisa menyelesaikan masalah dengan Mas Pras malam ini juga.Tentu saja, dia cukup terkejut melihatku kembali. Karena selama ini, kalau aku marah bisa lama dan mendiami-nya sampai berhari-hari."Maafkan Papa ya Ma ... Papa kan cuma mau—""Udah enggak usah ngomong yang bikin aku tambah kesal. Lain kali saja bahasnya. Aku mau tidur, jangan lupa besok uang dilebihin!"Sengaja kusela ucapan suamiku. Biasanya dia hanya minta maaf dan tetap tidak mau menerima kalau dia memang salah. Karena itulah, lebih baik kusela pembicaraannya daripada aku tambah kesal.Menjelang siang, kuantarkan beberapa bungkus pepes ikan mas ke rumah Teh Lina sebagai ucapan terima kasih atas bantuan dia dan suaminya.Menurut Teh Lina, suaminya pasti senang sek

    Terakhir Diperbarui : 2022-12-26
  • JADI TETANGGA MANTAN   KONDANGAN

    Kesal rasanya ketika permintaanku ditolak. Padahal kan, aku hanya mencoba menghindar dari godaan mantan. Rasanya gemas melihat sikap suamiku ini. Nanti kalau aku benar-benar tergoda, awas saja menyesal, gerutuku dalam hati. Aku lalu beranjak ke tempat tidur dan berbaring di samping anak-anakku. Percuma saja kalau pembicaraan ini masih dilanjutkan, yang ada malah kami akan bertengkar lagi. Sedangkan, ada hati yang harus aku pikirkan di sini, ada Ibu.***Keesokan harinya, Bapak dan Anjeli adikku datang untuk menghadiri hajatan saudara, sekaligus menjemput Ibu. Mas Pras sengaja berangkat lebih siang, agar bisa menyambut mereka.Jauh hari, sudah kukirimkan pesan pada Anjeli mengenai Aa Hadi, agar dia ikut mewanti-wanti Bapak. Tapi sepertinya, Bapak juga rindu dengan Aa Hadi. Kulihat beberapa kali dia berpura-pura membuang abu rokok ke depan meski telah disediakan asbak."Bolak-balik terus Pak? Anjel pusing nih, mana lagi ngerjain tugas!" sungut adikku yang sibuk dengan laptopnya."Bapak

    Terakhir Diperbarui : 2022-12-26
  • JADI TETANGGA MANTAN   PERHATIAN YANG MENAKUTKAN

    Ibu itu juga suka nyanyi dan naik ke panggung kalau ada yang hajatan. Karena itulah, Aa Hadi sering menyematkan nama Elvy di depan nama Ibu.Perjalanan yang kami lalui, sekitar dua jam dari rumah sampai ke tempat hajatan. Sampai disana, akad nikah baru saja akan dilaksanakan.Setelah akad nikah berlangsung, kami sempat jeda sebentar untuk berfoto bersama.Usai jam makan siang dan azan dzuhur, panggung segera dimulai.Ibu, Bapak dan Teh Lina asyik naik ke atas panggung sambil bernyanyi dengan para biduan. Mataku sempat mencari keberadaan Aa Hadi, tapi tidak ketemu. Mungkin, dia mencari angin segar dan merokok, pikirku.Sedangkan Anjeli, dia asyik bersama para pagar ayu yang juga sepupu-sepupu kami.Ku dudukan Hamdi dan Nindy di kursi, agar aku bisa mengambil es krim dan dimsum untuk mereka. Harapanku, mereka anteng dan aku bisa makan siang. Aku tak khawatir meninggalkan mereka sebentar, karena kursinya dekat dengan meja pagar ayu. Setelah mendapat es krim dan dimsum, aku kembali ke ana

    Terakhir Diperbarui : 2022-12-26
  • JADI TETANGGA MANTAN   PERMINTAAN TEH LINA

    Setibanya di rumah, Mas Pras ternyata sudah pulang dan sedang menonton televisi.Begitu kami datang, dia langsung mengambil Nindy yang tertidur di gendongan Bapak.Tanpa sepatah kata pun, dia meletakan Nindy di dalam, lalu tidur di sampingnya. Segera kuletakan juga Hamdi di tengah-tengah.Setelah seharian lelah, aku semakin kesal karena Mas Pras tidak ada basa-basi sama sekali terhadap Bapak dan Ibu. Bisa kulihat raut wajah berbeda yang kentara jelas di wajah keduanya. Padahal saat bersama Aa Hadi dan Teh Lina tadi, Bapak dan Ibu terlihat bahagia."Sekali-kali ajak ngobrol Bapak sama Ibu, Pa!" pintaku sambil membersihkan wajah dari make-up."Apa yang mau di obrolin Ma? Mereka juga kelihatannya lelah!" katanya beralasan."Nggak usah ngobrol, setidaknya basa-basi kan bisa? Bapak masih di depan, jangan tidur dulu!" pintaku lagi."Kamu kenapa sih, Ma? Enggak biasanya menuntut seperti ini? Kamu kan tahu aku begini sejak dulu!" protesnya.Aku tidak ingin memperpanjang untuk menghindari pert

    Terakhir Diperbarui : 2022-12-26
  • JADI TETANGGA MANTAN   KELEWAT GROGI

    Malam harinya, kuceritakan semuanya pada Mas Pras. Biar bagaimanapun, aku harus tetap meminta izin darinya."Berarti, Papa bisa kurangin uang belanja, dong, Ma? Kan waktu ada Ibu dan Bapak, pengeluaran Papa nambah dua kali lipat!" katanya mulai perhitungan.Tiba-tiba saja dadaku terasa panas. Kesal mendengar tanggapannya barusan. Ingin marah lagi, tapi tidak bisa. Hanya air mata yang tiba-tiba saja keluar dari pelupuk mata tanpa bisa kucegah.Melihatku menangis, Mas Pras terlihat kaget. Tidak biasanya aku begini tanpa marah-marah dulu. Aku lelah Mas, lelah!"Papa salah lagi ya?" tanyanya berlagak polos.Makin ke sini, aku semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran suamiku. Kenapa pelit dan perhitungannya semakin menjadi-jadi?Padahal, sebelum menikah, aku mengenal Mas Pras cukup lama. Dulu, dia tidak se-pelit ini. Kalau kata Anjeli sih, itu hanya tak-tik supaya bisa mendapatkan hatiku. Apapun akan dia bawakan untuk Ibu jika kami berkunjung ke kampung. Begitu juga dengan pesanan Anje

    Terakhir Diperbarui : 2022-12-26

Bab terbaru

  • JADI TETANGGA MANTAN   KEINGINAN MIA

    Kata orang, menikah dengan lelaki yang tepat akan menjadikan seorang wanita seperti Ratu dan terus merasa bahagia. Aku tahu, meskipun pernikahan pertamaku dengan Mas Pras telah gagal, banyak hikmah yang bisa kuambil untuk dijadikan pelajaran.Begitu juga dengan masa lalu Aa Hadi. Tapi kenapa sekarang ini, aku malah terus dihantui rasa takut? Selain pernah dikhianati Mas Pras, awal perkenalanku dengan Aa Hadi diwarnai kebohongan. Selingkuh dari wanita sebaik Teh Lina, dengan dalih korban perjodohan orangtua.Menikah dengan Aa Hadi pun, pernah menjadi impianku belasan tahun yang lalu. Namun, semuanya sirna, setelah dua tahun lebih kami menjalin hubungan. Pacar dengan usia yang terpaut lebih dari sepuluh tahun itu ternyata sudah memiliki keluarga. Aku lalu memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.Namun, takdir berkata lain. Sebelas tahun kemudian, kami kembali dipertemukan sebagai tetangga.Setelah menjalani lika-liku jadi tetangga mantan, Allah mentakdirkan kami berjodoh.Sosok Aa

  • JADI TETANGGA MANTAN   CARI ALASAN

    Seperti dejavu, aku pernah merasakan ini dulu. Bedanya kali ini beneran, bukan kaki Nindy lagi seperti waktu itu."Cicing(diam) atuh A, ada anak-anak! Kalau mereka tiba-tiba masuk gimana?" Aku berusaha melepaskan tangannya dari pinggang. Tapi pelukannya malah semakin erat."Cuma peluk doang, sisanya nanti malam," bisiknya. Ucapan itu justru lebih terdengar seperti ancaman di telinga. Membuatku semakin ketakutan mendengarnya.Selepas makan malam dan anak-anak sudah kembali ke kamarnya, sengaja kusibukkan diri di dapur demi mengulur waktu. Kali aja habis nyuci piring, dia keburu ngantuk dan lupa akan ancamannya siang tadi."Ngapain?" tanyanya sambil berdiri menatapku."Cuci motor.""Ngelucu? Besok 'kan ada Mbak Imah Jan, ayo istirahat!"Ish, istirahat katanya? Aku yakin, kalau sudah masuk perangkapnya, mana bisa istirahat?"Tanggung A, bentar lagi!"Aku sengaja mengulur waktu dan terus menerus membilas piring berkali-kali sampai benar-benar kesat. Dia yang memerhatikan aku sejak tadi, m

  • JADI TETANGGA MANTAN   GUGUPNYA PENGANTIN BARU

    Sah!!!" Suara riuh menggema di dalam rumah kedua orangtuaku di kampung, saat penghulu mengesahkan pernikahanku dengan Aa Hadi siang ini, meski hanya ada beberapa anggota keluarga dan tetangga yang hadir. Rona bahagia, terpancar jelas di wajah Ibu dan Bapak saat aku melirik ke arah mereka. Sayangnya, kedua orangtua Aa Hadi telah meninggal dunia. Hanya beberapa keluarga inti yang menemaninya sejak pagi tadi.Dengan bergantian, Ranti, Rasyid dan Dini memelukku dengan erat."Terima kasih ya, Mama Jani sudah mau terima Papi," kata Ranti dengan senyum manis dan lesung pipi khas miliknya.Setelah kami semua bersalaman, acara dilanjutkan dengan makan bersama keluarga dan para tetangga. Tidak ada resepsi, karena itu adalah salah satu permintaanku. Semua aku lakukan, karena tidak ingin nantinya Bapak merasa lelah dan terbebani jika harus duduk di kursi roda, di atas pelaminan, dalam waktu yang cukup lama.Bapak memang belum sembuh total. Sehari-harinya, dia bergantung pada kursi roda untuk b

  • JADI TETANGGA MANTAN   PILIHAN HATI

    Selain menyaksikan pernikahan Mas Pras dengan Mia, aku sangat mengharapkan kedatangan Aa Hadi dan juga anak-anaknya hari ini.Karena, sejak hari di mana Rasyid tertangkap, aku sudah tidak pernah bertemu dengan mereka lagi.Entah karena Aa Hadi sudah lelah menunggu kepastian dariku, atau karena perasaan bersalahnya pada Rasyid, dia tidak mau menemuiku lagi. Berkirim kabar pun juga tidak pernah. Karena itu, dia tidak tahu kalau Bapak sekarang sedang sakit."Mas Pras udah dua kali nikah, Teteh masih sendiri aja. Ngenes atuh, Teh!" goda Anjeli yang sedang mengaduk aduk es krim di tangannya."Ish, ngenes mana sama kamu?" Aku balik menyindirnya.Anjeli lantas memonyongkan bibirnya. Cemberut namun menggemaskan."Anjeli jomlo 'kan karena standar tinggi, Teh!" katanya beralasan."Ya udah, sana cari pasangan kamu dulu! Nanti kalau kamu yang dapet duluan, baru boleh ngeledek Teteh!"Kucubit hidung Anjeli yang menggemaskan. Minimalis, sama sepertiku. Aku tahu, dia sudah memiliki pasangan, tapi d

  • JADI TETANGGA MANTAN   KETIKA DIA MENYERAH

    Benar juga, ke mana Aa Hadi???Segera ku ambil ponsel dan menghubunginya, namun tidak aktif. Aku masih berpikir positif, mungkin saja dia masih ada keperluan lain, tapi setelah menunggu lama, Aa Hadi tak kunjung datang. Karena penasaran dan perasaanku juga mulai tidak enak, aku mencoba menelepon Ranti. Siapa tahu, papinya menghubungi dia.Benar saja, dari Ranti, aku tahu kalau mereka sekarang dalam perjalanan ke Subang. Mereka mendapat kabar, kalau Rasyid ditangkap polisi karena mengkonsumsi barang haram.Ranti juga menyampaikan maaf dari papinya yang langsung pergi tanpa mengabariku lebih dulu. Katanya, dia panik dan tidak bisa berpikir, bahkan untuk sekedar menghubungiku.Tubuhku lemas seketika mendengar penjelasan Ranti. Belum habis rasa bersalahku terhadap Nindy, kini muncul masalah baru yang membuatku menyesal.Apalagi Rasyid adalah anak yang sangat baik dan pendiam.Aku jadi penasaran, masalah apa yang dialami Rasyid, sampai akhirnya anak sebaik dia bisa melewati batas?Apa kar

  • JADI TETANGGA MANTAN   AA HADI MENGHILANG

    Tapi ucapan Bapak memang benar, siapa lagi yang bisa aku andalkan saat ini?Aa Hadi adalah satu-satunya orang yang bisa menerima aku dan keluargaku, lalu kurang apalagi?Terus bertahan hidup sendiri karena gengsi, sebagai seorang janda, apa aku bisa?Karena selama ini saja aku masih terus bergantung padanya."Bapak nggak mau maksa Teteh, tapi coba dipikirin lagi ya, Teh. Jangan keras kepala, apalagi gengsi."Bapak menyelesaikan percakapan kami dan berlalu meninggalkan aku yang larut dalam pelukan Ibu."Bener kata Bapak Teh, coba dipikirin lagi!" kata Ibu menambahkan.Setelah menyeka airmata, aku keluar dari kamar Ibu dan masuk ke dalam kamarku untuk menemui Hamdi. Tapi saat pintu kamar dibuka, aku disuguhkan pemandangan yang mengharukan. Di sana, Ranti, Dini, Hamdi dan Anjeli sedang berkumpul. Bahkan mereka sampai menambah kasur di bawah supaya muat tidur berbarengan.Pemandangan seperti ini kembali membuatku bimbang. Keluargaku, juga anak-anak Aa Hadi, seakan tidak ada tembok pemisa

  • JADI TETANGGA MANTAN   PESAN DARI BAPAK

    "Nindy sakit Teh, badannya panas nggak turun-turun, jadi Ibu bawa ke rumah sakit!" terang Ibu yang panik di ujung telepon.Baru saja tubuhku hendak diistirahatkan sejenak, kabar dari Ibu memaksaku melupakan segalanya. Pikiranku sekarang tertuju pada Nindy. Apalagi saat terakhir kali video call, dia menangis.Ibu mengatakan, kalau hasil lab, Nindy dinyatakan terkena DBD.Jam di ponsel sudah menunjukan pukul sembilan malam. Bagaimana aku bisa pulang ke kampung di jam segini?Kucoba menghubungi Mas Pras, siapa tahu dia belum terlalu jauh. Sayangnya, Mas Pras tidak menjawab panggilanku. Mungkin karena dia sedang mengendarai sepeda motor.Meski awalnya ragu, mau 'tak mau, lagi-lagi aku harus meminta bantuan Aa Hadi. Karena saat ini, memang hanya dia yang bisa ku andalkan.Tidak butuh waktu lama. Setelah aku menyampaikan padanya, Aa Hadi siap mengantarku ke kampung bersama Ranti dan Dini ikut serta.Perjalanan Jakarta - Sukabumi memakan waktu sekitar tiga jam. Walau kantuk mendera, aku tida

  • JADI TETANGGA MANTAN   DITAKSIR MAS PRAS

    Karena kasihan sama bubur, akhirnya kuceritakan tentang Rini yang sempat salah paham, sampai mengirimkan pesan yang menyakitkan hati."Kenapa nggak cerita? Kebiasaan kamu itu, nyimpen masalah sendiri!" kesal Aa Hadi."Waktu itu mau cerita, tapi 'kan Mia keburu dateng!""Tahu begitu mah, nggak usah dikasih uang!""Ish, kalau ngasih yang ikhlas atuh, A!""Tapi 'kan, dia udah bikin hati kamu sakit?""Kalau mikirnya begitu mah, Aa juga pernah 'kan nyakitin Jani?"Mendengar ucapanku, raut wajah Aa Hadi berubah."Iya deh, Aa nyerah. Jangan bahas masa lalu lagi!"Hmm ... Tuh kan, kalau disentil aja nggak mau!Belum sempat kami menghabiskan bubur, ponsel Aa Hadi berdering."Ada apa, Ran?" "....""Iya, Papi sama Tante Jani pulang.""Kenapa?" tanyaku penasaran, saat Aa Hadi sudah memutuskan sambungan telepon."Ada mantan suami kamu di kontrakan," jelasnya dengan nada ketus.Mas Pras?Mau apa dia ke kontrakan?***"Mana Papanya Hamdi?" tanyaku pada Ranti, begitu sampai di gerbang kontrakan."Ny

  • JADI TETANGGA MANTAN   ADA APA DENGAN BANG DANU?

    Aku bergegas menuju ke dalam pabrik. Di sana, sebagian karyawan sedang berkumpul dan tengah berbisik-bisik. Aku pun mencoba bertanya pada Sita yang baru saja keluar dari kerumunan.Kabar yang kudengar darinya, membuatku terkejut bukan main. Bang Danu dipecat karena ketahuan mencuri tas yang diselundupkan melalui gudang ekspor.Banyak yang menduga, Bang Danu hanya disuruh oleh orang dalam. Karena itu, dia hanya diberhentikan dan kasusnya tidak sampai dilaporkan ke pihak yang berwajib.Mendengar hal itu, aku langsung kepikiran sama Rini. Bagaimana perasaan Rini saat ini? Apalagi, Rini baru saja melahirkan.Selain itu, usia Bang Danu tidak lagi muda. Jika dia diberhentikan sebagai seorang pencuri, sudah pasti tidak akan mendapat uang pesangon. Itu artinya, pengabdiannya selama ini sia-sia akibat kekhilafan semata.Mencari kerja di pabrik serupa, sudah pasti sulit diterima. Selain umurnya tidak lagi muda, Bang Danu pasti sudah masuk daftar hitam. Aku pun berencana menemui Rini sepulang k

DMCA.com Protection Status