Namun, dia tidak ingin Zayyan berpikir macam-macam tentangnya. Memang ada yang salah kalau Aftar dekat dengan Mita? “Kamu kenapa gelisah begitu?” tanya Zayyan seolah mengerti dengan gelagat istrinya. “Mungkin Aftar dan adiknya Ardi cuma teman biasa.” “Kamu yakin, Mas?” “Ya namanya juga pergaulan, kita tidak bisa ikut menyeleksi siapa-siapa saja yang berinteraksi sama adik-adikku. Kecuali terbukti ada yang membawa pengaruh buruk bagi mereka, baru di saat itulah aku akan bertindak.” Zayyan menjelaskan. “Semoga ini cuma prasangka buruk aku saja, mau gimana lagi ... Mita itu kan dulunya gencar sekali ngejar-ngejar kamu, aku curiga dia ...” Zayyan menunggu Sindy menyelesaikan ucapannya. “Takutnya Mita dekat-dekat Aftar cuma buat modus,” sambung Sindy dengan wajah muram. “Dia mau ngapain kek, yang penting aku tidak akan menanggapi. Jadi kamu tidak perlu khawatir, oke?” Sindy tidak menjawab. “Kok malah diam?” “Tidak apa-apa ...” “Jangan dipikirkan selama adiknya Ardi t
“Aku sudah ancam begitu, Bu. Tapi tetep saja nggak mempan,” keluh Ardi. “Mita saksinya ...” “Di mana adik kamu itu?” “Ngebo di kamar, heran. Perawan kok dibiarkan kayak gitu, nanti siapa yang mau jadi jodohnya?” Ratna terdiam. “Kalau kata aku, lebih baik Ibu didik Mita mulai dari sekarang deh. Jangan sampai jodohnya jadi menjauh gara-gara dia terlalu malas,” ujar Ardi lambat-lambat. “Aku cuma nggak mau kalau dia nanti diperlakukan remeh sama suaminya karena cuma bisa minta nafkah, tapi nggak bisa urus kerjaan rumah tangga.” Ratna mengembuskan napas panjang, ucapan Ardi memang ada benarnya. Namun, rasa sayang Ratna yang begitu besar terhadap anak-anak perempuannya membuat dia menyayangi mereka dengan berlebihan. “Suami Mita nanti laki-laki mapan, pasti dia akan memperlakukan adik kamu seperti ratu ...” “Iya kalau kejadian, kalau jauh dari harapan gimana?” “Kamu ini kok malah mendoakan yang enggak-enggak sih, Di? Nggak suka kalau adik-adik kamu dapat jodoh orang sukses?”
“Gimana di, berhasil?” Ratna sudah menunggu di depan pintu ketika Ardi tiba di rumah. “Berhasil Bu, Sisil mau aku ajak main.” “Bagus!” Ardi berjalan melewati ibunya dan pergi ke dapur. “Nggak bikin cemilan apa-apa ya, Bu? Tumben ...” “Uang kamu lagi ibu irit-irit, biar cukup sampai gajian kamu berikutnya. Penginnya juga kayak biasa, di. Bisa siapkan cemilan pas kamu pulang kerja,” pungkas Ratna sambil membuka lemari persediaan. “Beberapa hari lagi kopi kamu juga habis, di ...” “Aduuuhhh!” Ardi mengeluh, dia paling tidak bisa kalau tidak minum kopi sembari makan cemilan. “Pusing kan? Makanya kamu harus cepat-cepat dekat sama Sisil, di. Setidaknya kita asuh dia sambil mengumpulkan uang ...” “Uang dari mana, Bu?” “Dari Sindy lah, dia pasti kasih uang buat kebutuhan Sisil. Bisa diatur itu nanti, yang penting anak kamu nggak akan kekurangan sekaligus kita bisa sisihkan sebagian uangnya.” Ardi berpikir sebentar, dalam hati dia tidak yakin jika Sindy akan setuju. “Ya jan
Zayyan berusaha untuk tidak terpancing dengan kata-kata Clara, lagipula dia dan Keke sudah berusaha untuk membalas jasa Clara selama dirinya kecelakaan. Namun, kesalahan fatal yang Clara lakukan terhadap restorannya juga tidak bisa dimaafkan begitu saja. Sudah bagus Zayyan tidak menuntut ganti rugi atas setoran yang dia pegang sebelumnya. “Sudahlah, Cla. Tidak perlu dilanjutkan,” tepis Zayyan. “Kamu memberikan jasa sekaligus kerugian yang besar terhadap kehidupan aku, jadi mau apa lagi?” Clara menarik napas panjang. “Kamu dan Tante Keke menolak permintaanku untuk rujuk, baiklah ... Kalau begitu, jadikan aku temanmu. Itu sudah cukup bagiku, Mas.” Zayyan mengangguk singkat. “Kamu bersedia, Mas? Terima kasih, aku senang banget ...” “Aku bilang dulu sama sindy, karena ada hati yang harus aku jaga.” Zayyan sukses mengempaskan harapan Clara hingga jatuh ke tanah, setelah itu dia menyingkir pergi dari hadapannya. “Kurang ajar!” desis Clara seraya memukul lantai dengan heels-nya.
“Aku belum periksa ponsel, sebentar ...” Sindy mengambil ponsel miliknya dari dalam tas dan meneliti satu per satu pesan yang masuk. “Belum ada, Mas.” Zayyan mengangguk. “Berarti tidak ada kendala, mungkin Ardi benar-benar berusaha menepati janjinya.” “Aku harap juga begitu, Mas. Capek juga memikirkan hal-hal seperti ini, dia kan sudah bapak-bapak. Masa tidak tahu arti tanggung jawab?” Zayyan mengangguk singkat, dia memang tidak banyak berkomentar jika topik pembicaraan mereka fokus pada Ardi. Cemburu? Sedikit. Perhatian sindy dan Zayyan teralihkan ketika pesanan mereka tiba, dua porsi mi instan spesial telur dengan irisan cabai dan taburan bawang goreng di atasnya. “Wangi sekali, Mas!” “Cepat dimakan, mumpung masih panas.” Sindy mengangguk antusias, lalu perlahan menyendok mi yang masih panas itu dengan garpu. “Jauh-jauh ke kebun teh cuma buat makan mi instan,” komentar Zayyan ketika mereka bersiap pulang. “Di kota juga bisa ...” “Tapi rasa dan suasananya beda, di
Tanpa menunggu jawaban apa-apa dari Ardi, sindy keburu memutus pembicaraan mereka. Melihat ekspresi wajah Sindy yang super keruh, Zayyan sudah bisa menebak apa yang terjadi. “Ardi bikin masalah lagi?” “Persis seperti yang kamu bilang tadi, Mas. Aku tidak tahu lagi ... ke mana jalan pikiran ayahnya Sisil, masa aku juga yang harus bayar semua keperluan adik-adiknya? Kemarin kan dia izin ajak Sisil, logikanya dia dong yang harusnya keluar uang ...” Zayyan berdiri dari duduknya dan memijat-mijat kedua bahu sindy, dia sangat mengerti kekesalan yang dirasakan istrinya. “Aku benar-benar tidak habis pikir, siapa sih yang punya ide buat ajak Sisil berenang? Dia kan!” Sindy mengomel lagi. “Aku tidak masalah kalau adik-adiknya mau ikut, tapi jangan semuanya dibebankan ke aku juga!” Zayyan mengangguk paham. “Itu juga yang tadi aku pikirkan di jalan, entahlah ... Aku merasa Ardi mau mengambil keuntungan dari keberadaan Sisil, tapi untuk melarangnya juga bukan hak aku sepenuhnya. Aku c
“Baguslah, itu artinya Ardi tidak menyepelekan apa yang aku ucapkan tadi.” Nada suara Sindy terdengar masih menahan kesal, karena sempat merasa dimanfaatkan. Usai menghabiskan waktu liburan kurang lebih satu bulan, kini tiba saatnya bagi si kembar untuk kembali ke luar kota demi melanjutkan pendidikan mereka. “Tetap ingat pesan mama, belajar yang baik, selesaikan kuliah kalian dan kerja.” “Iya, Ma ...” “Nganggur sebentar boleh, Ma?” “Jangan lama-lama, yang penting usaha cari kerjaan!” “Siap, Ma.” Zayyan tersenyum saja melihat adegan perpisahan yang berlangsung di depan matanya, sedangkan sindy saja ikut terharu. “Pamit dulu, Kak ...” “Aku balik ya, Kak!” “Hati-hati kalian, sering kasih kabar sama Mama.” Zayyan berpesan. Selanjutnya Affan dan Aftar berpamitan kepada kakak ipar mereka, sindy. Setelah itu barulah mereka meninggalkan rumah masa kecil mereka untuk melanjutkan pendidikan di luar kota. “Sepi juga rasanya kalau si kembar sudah balik kuliah,” komentar Ke
Akhir-akhir ini, Sindy sering melihat Keke yang tampak gelisah. Meski terkadang masih suka bercanda dengan Sisil, tapi ada jeda waktu tertentu di mana Keke terlihat melamun sebelum akhirnya tersadar karena suara celoteh Sisil. “Aku jadi kasihan lihat Mama,” komentar Sindy, dia berbisik lirih kepada Zayyan karena jarak mereka lumayan dekat dengan Keke. “Apa sampai detik ini Aftar belum juga kasih kabar?” Zayyan menggeleng. “Aku juga tidak tahu apa maunya anak itu, tapi yang jelas Mama telanjur kepikiran.” Sindy melirik Keke dengan samar, berharap jika rencana menikah Aftar masih jauh dari bayangan. Bukan apa-apa, menikah muda merupakan momok yang bisa saja justru menjerumuskan jika keduanya hanya menikah karena keburu napsu belaka. Dan Sindy tidak ingin adik iparnya itu salah langkah dalam mengambil keputusan. “Kenapa kamu tidak coba telepon Affan saja, Mas? Barangkali dia tahu sesuatu,” usul Sindy ketika mereka pindah ngobrol di kamar. “Aku pernah tanya Affan, katanya dia k
Namun, dia tidak ingin Zayyan berpikir macam-macam tentangnya.Memang ada yang salah kalau Aftar dekat dengan Mita?“Kamu kenapa gelisah begitu?” tanya Zayyan seolah mengerti dengan gelagat istrinya. “Mungkin Aftar dan adiknya Ardi cuma teman biasa.”“Kamu yakin, Mas?”“Ya namanya juga pergaulan, kita tidak bisa ikut menyeleksi siapa-siapa saja yang berinteraksi sama adik-adikku. Kecuali terbukti ada yang membawa pengaruh buruk bagi mereka, baru di saat itulah aku akan bertindak.” Zayyan menjelaskan.“Semoga ini cuma prasangka buruk aku saja, mau gimana lagi ... Mita itu kan dulunya gencar sekali ngejar-ngejar kamu, aku curiga dia ...”Zayyan menunggu Sindy menyelesaikan ucapannya.“Takutnya Mita dekat-dekat Aftar cuma buat modus,” sambung Sindy dengan wajah muram.“Dia mau ngapain kek, yang penting aku tidak akan menanggapi. Jadi kamu tidak perlu khawatir, oke?”Sindy tidak menjawab.“Kok malah diam?”“Tidak apa-apa ...”“Jangan dipikirkan selama adiknya Ardi tidak mengus
Usai Affan pergi, Roni menoleh ke arah Sindy."Itu nggak apa-apa adiknya Pak Bos disuruh-suruh, Mbak?""Nggak apa-apa lagi, Mas. Mereka kan memang ngisi waktu libur di sini, sama Pak Bos juga digaji kok.""Wah, salut aku.""Kenapa, Mas?""Sejak muda sudah dididik cari uang, nggak semua begitu soalnya.""Iya, mungkin karena perbedaan prinsip atau latar belakang."Mereka berdua tidak lagi mengobrol, melainkan kembali fokus dengan pekerjaan masing-masing."Kak!"Sindy menoleh dan melihat salah satu si kembar muncul di dapur."Sebentar lagi matang, Fan!""Aku Aftar, Kak.""Oh, kamu ada pesanan?"Aftar menggeleng ragu. "Aku tadi pesan minum sama Mbak Nesi, tapi katanya tinggal bikin saja di dapur.""Memang iya, khusus pegawai nggak usah bayar di kasir." Sindy menjelaskan sambil menghias piring saji untuk ikan bakarnya. "Kamu bisa bikin kopi atau teh di sini, Tar."Sebelum Aftar menjawab, tiba-tiba muncul saudara kembarnya."Ngapain kamu, ada pesanan?" Tanya Affan.Sebelum Aftar menjawab, S
Sindy menatap Zayyan. "Namanya juga anak muda, Mas. Mungkin Aftar mau kumpul-kumpul selagi masih liburan di sini ...""Tapi biasanya anak itu lebih suka di rumah sama Affan, setahu aku libur mereka juga tidak terlalu lama. Ini sudah lebih dari dua mingguan kan?"Tidak berselang lama, terdengar deru suara motor yang melaju pergi meninggalkan rumah."Laki-laki mana ada yang anak rumahan, jarang." Sindy berkomentar."Mungkin, ya sudahlah. Kita lanjutkan, sampai mana tadi?""Belum sampai mana-mana ...""Kelamaan kan ini," kata Zayyan tidak sabar."Sabar ..." Sindy sedikit berdebar karena malam itu Zayyan menginginkan pengaman di antara mereka tidak perlu digunakan lagi. Ada rasa was-was jika penyatuan mereka langsung membuahkan hasil, jujur saja sindy belum merasa siap lahir batin.Keesokan harinya, dapur sudah ramai seperti biasa saat Sindy dan Zayyan turun untuk sarapan."Kemarin kamu pulang jam berapa?" Tanya Keke kepada Aftar, sementara satu tangannya terulur meraih tangan Sisil. "Cuc
"Cukup ya, aku sudah tahan-tahan sejak tadi. Tapi kamu semakin berburuk sangka sama sindy," tegas Zayyan habis sabar. Kalau bukan karena ada Sisil di dekatnya, dia pasti sudah membuat perhitungan dengan Ardi sedari tadi."Aku bicara kenyataan, sindy pasti sudah berhasil memengaruhi Sisil supaya nggak mau ikut aku menginap ...""Cukup, silakan pulang. Aku selalu rutin ajak Sisil jalan-jalan ke taman setiap sore, jadi tolong pengertiannya." Wajah Ardi semakin masam ketika Zayyan terang-terangan mengusirnya di depan Sisil dan Mita.**"Kalau Ardi tetap menggugat hak asuh Sisil melalui meja hijau bagaimana, Mas?"Sejak Zayyan memberi tahu tentang niat Ardi tentang perebutan hak asuh, hati Sindy semakin tidak tenang dari hari ke hari."Aku tidak bermaksud meremehkan ayahnya Sisil, tapi memangnya dia mampu?" "Begitulah, Mas ...""Kalau dia mampu secara keuangan, kenapa tidak memikirkan nafkah Sisil saja? Apa karena dia merasa bahwa semua kebutuhan Sisil sudah tercukupi sama kamu?" "Aku j
Sindy membelalakkan matanya mendengar permintaan Ardi.Lebih tepatnya tuntutan."Hak asuh Sisil? Beraninya kamu ...""Apa salahnya? Sisil anak kandung aku."Sindy melirik Zayyan, seolah meminta izin untuk mengamuk detik itu juga."Sebentar, ini tadi rencananya kan cuma mau bertemu Sisil. Kenapa jadi bahas masalah hak asuh anak?" Tanya Zayyan tidak senang."Sekalian saja mumpung kalian ada di sini, aku nggak mau kalau sampai Sisil melupakan aku sebagai ayah kandungnya atau lebih dekat sama orang lain yang bukan siapa-siapa."Sorot mata Ardi menyala-nyala ketika mengucapkan hal itu, seakan selama ini dia telah dipisahkan dengan sangat sadis oleh sindy."Sebaiknya kamu bawa Sisil kayak dulu," pinta Zayyan kepada Sindy."Iya, mas ...""Tunggu, mau dibawa ke mana anakku? Aku belum puas bertemu sama dia," protes Ardi keras."Kita tidak bisa membicarakan hal-hal seperti ini di depan Sisil," kata Zayyan tenang. "Jadi biarkan dia sama sindy di dalam dulu.""Tapi urusanku cuma sama sindy ...""
“Boleh minta, Nek?” Celetuk Sisil, perhatiannya terpecah saat menyaksikan Mita ngemil.“Tentu saja, Sisil ambil yang disuka.”“Terima kasih, nek.”“Sama-sama, Sayang.”Hati Ardi terasa aneh ketika melihat interaksi yang cukup akrab antara Sisil dan nenek barunya, padahal selama ini dia jarang sekali melihat Ratna bisa sedekat itu dengan sang cucu semata wayang.“Ayah, minum!” Kata Sisil ceria.“Iya, Sil ...” Meski canggung karena seolah Keke mengawasi, Ardi meneguk es sirup yang dihidangkan.Tidak berapa lama kemudian, mobil Zayyan menepi di depan halaman rumah. Begitu mesin mobil berhenti, sindy dan Zayyan langsung turun.“Itu Ibu sama papa Yayan!” Tunjuk Sisil, fokusnya kini teralihkan sepenuhnya kepada mereka berdua.Membuat Ardi kesal saja.“Jadi gimana, Sil? Mau ya ikut sama ayah menginap di rumah nenek Ratna?” Tanya Ardi tanpa bosan sementara Mita lebih memilih untuk melanjutkan ngemilnya.“Gak, Yah ...”“Kok nggak mau sih?”Kali ini Keke diam saja karena sindy dan
“aku akan telepon mama dan memintanya untuk tidak meninggalkan Sisil sendirian, kamu tenang ya?” Bujuk Zayyan, dia sangat mengerti dengan kegelisahan yang dirasakan sindy.“Cepat, Mas! Atau kamu bisa pulang duluan, aku benar-benar tidak tenang ini ...”Zayyan menyentuh lengan sindy sebagai isyarat untuk diam sejenak karena sambungan dengan Keke mulai terhubung.“Halo, Zay?”“Ma, ayah kandung Sisil mau datang ke rumah. Aku minta tolong jangan pernah tinggalkan Sisil sama dia, ini sindy sudah ketakutan setengah mati soalnya.”“Memangnya ada apa, Zay? Ayahnya Sisil Cuma datang buat bertemu, kan?”“Ceritanya panjang, ma. Pokoknya aku minta tolong jangan biarkan Sisil sendirian, tolong ya, Ma?”“Oke, kamu tenang saja. Mama akan jaga Sisil,” sahut Keke buru-buru.Usai pembicaraan dengan ibunya berakhir, Zayyan menoleh memandang Sindy.“Mama sudah aku kasih tahu soal Ardi, jadi kamu tenang saja.”Sindy hanya bisa mengangguk, meski dalam hati rasanya ingin cepat pulang ke rumah.“K
Sindy mengangguk, dia percaya jika Zayyan yang bicara.**Hari yang direncanakan tiba, Ardi harus menekan ego-nya sampai ke dasar demi bisa menemui putri semata wayangnya.Ditemani Mita, dia meluncur pergi ke restoran Zayyan sepulang kerja untuk meminta alamat rumah mereka."Resto sudah tutup belum ya jam segini, Mit?""Masih buka biasanya, kita kan cuma minta alamat rumah kakak bos. Malah lebih nyaman kalau kita bisa menemui Sisil tanpa kehadiran mereka kan, Kak?"Ardi mengangguk setuju. "Betul juga kamu, Mit.""Ayo kita berangkat sekarang, keburu pulang mereka nanti!"Ardi segera menyalakan motornya dan melaju kencang bersama menuju ke restoran Zayyan."Nes, panggil bos kamu sekarang." Ardi memerintah ketika dia tiba di resto dan langsung menemui Nesi di meja kasir."Ada urusan apa kalau boleh tahu?" Tanya Nesi formal."Ada deh, ini urusan aku sama bos kamu. Cepat panggil," perintah Ardi lagi, membuat wajah Nesi seketika masam. Meski begitu, dia langsung meraih gagang telepon dan me
Selama beberapa saat mereka berdua terdiam dan sibuk dengan isi pikiran masing-masing."Apa kita harus membutuhkan pengakuan langsung darinya kalau ingin meneruskan kasus itu?" Tanya Zayyan masih penasaran."Memang tidak harus, asalkan ada bukti yang kuat. Masalahnya adalah kita baru menyelidiki sendiri karena ternyata pihak berwajib kurang gesit dalam menangani kasus Anda, dalam kurun waktu tersebut saya yakin sudah banyak bukti yang entah tercecer, entah tersamarkan." Boby menjawab dengan raut wajah serius."Wah, wah, dia benar-benar bermain cantik dan rapi.""Lebih tepatnya karena didukung situasi juga, Pak. Anda yang saat itu kecelakaan cukup parah, kemudian lanjut terapi, sehingga Nyonya Keke hanya fokus terhadap kesembuhan Anda, dan dia datang sebagai malaikat penolong di saat yang benar-benar tepat."Zayyan mengangguk setuju. "Jadi dia memiliki alibi untuk berkelit kalau kita mendesaknya sekarang?""Saya pikir begitu, terpaksa kita harus bersabar dan tetap memantau pergerakan