Selamat membaca
_________________Sudah pukul 1 dini hari, tetapi Kia tak kunjung bisa memejamkan matanya. hati dan pikirannya begitu gelisah mengingat apa yang terjadi hari ini.
Bukan tanpa alasan sih, apa yang membuat Kia merasa gelisah. tentu saja lamaran Nando tadi malam, dan ia meminta waktu satu minggu untuk menjawab lamaran Nando, hal itu pun di setujui Nando. pria itu akan menunggu jawaban Kia padanya, selepas di terima atau di tolaknya lamaran yang ia tujukan untuk Kia.
Karena perasaan gelisah yang tak kunjung hilang, Kia memutuskan bangkit dan turun dari ranjangnya. wanita itu berjalan menuju kamar mandi, kemudian mengambil air wudhu. ia akan melaksanakan sholat tahajud untuk menenangkan hatinya yang terus gelisah, serta meminta petunjuk pada yang kuasa untuk semua hal yang membingungkannya saat ini.
Kia begitu khusuk melakukan gerakan sholatnya, tampak tenang dan tak terkesan terburu-buru.
"Ya allah, ampunilah dosa-dosa hamba. dosa ibu-bapak hamba, dan seluruh keluarga hamba. Ya allah, hamba mohon berikanlah hamba petunjuk mu ke jalan yang benar. atas apa yang akan hamba pilih mengenai lamaran mas Nando, agar hamba tak salah jalan nantinya." Kia menyapukan kedua tangannya ke wajah sembari mengucapkan kata amin.
Saat Kia menurunkan tangannya dari wajah, saat itulah Kia tersentak kaget. di depanya berdiri sahabat baiknya yang sangat ia rindukan, sosok itu tengah berdiri menatap wajah Kia sendu.
Sosok itu kemudian menyunggingkan senyum termanisnya untuk Kia, dan tak berapa lama sosok itu menghilang bagaikan debu yang terkena angin.
Kia tersentak saat menyadari hal itu, apa artinya itu tadi? gumam Kia bertanya-tanya. apakah itu petunjuk yang allah berikan untuknya, ataukah itu kode untuk Kia dengan janjinya.
"Eva...." gumam Kia lirih dengan perasaan tak karuan.
*********
"Jadi bagaimana Kia?" tanya Nando.
Saat ini Nando tengah di rumah Kia, seminggu yang ia tunggu telah tiba. dan langsung saja ia melesat ke rumah Kia, ia ingin mendengar jawaban yang langsung keluar dari mulut wanita itu.
Urusan di terima apa enggaknya bagi Nando itu masalah belakangan.
"Mas, aku--" cicit Kia merasa gugup.
"Iya?" tanya Nando tak sabar.
"Bismillah, aku mau mas." ucap Kia seraya menundukkan kepalanya.
"Alhamdulillah, terima kasih Kia."
Nando ingin menyentuh tangan Kia, namun wanita itu menepiskan tangannya kuat.
"Eh, maaf-maaf, aku lupa jika kamu tidak seperti almarhumah Eva."
"Maaf mas, kita tidak boleh bersentuhan meskipun hanya pegangan tangan, mohon pengertiannya ya." Nando mengangguk mengerti.
"Kalau begitu aku pamit ya,"
"Sebentar mas, Kia panggilkan bunda dan ayah dulu." Nando mengangguk.
********
Sebulan kemudian...
Hari yang di tunggu-tunggu Nando, Kia dan seluruh keluarga akhirnya tiba, hari ini adalah hari pernikahan mereka.
Saat ini Kia tengah di rias di ruangan khusus pengantin, berulang kali Kia menarik nafas berat dan menghembuskannya berat juga.
"Gugup ya mbak?" tanya salah satu wanita yang tengah meriasnya.
Kia tersenyum kikuk sebagai jawabannya, karena jujur saat ini ia memang sangat gugup.
"Di bawa santai aja mbak." Kia tersenyum kembali mendengar ucapan wanita yang satunya lagi.
"Sudah selesai mbak." kata kedua perias wanita tersebut menatap kagum pada Kia.
"Cantiknya." puji mereka membuat Kia tersipu malu.
Tak lama suara pintu yang di ketuk pun terdengar, salah satu wanita yang merias Kis tadi membukakan pintu tersebut.
"Apakah pengantin wanitanya sudah selesai di rias?" tanya Isma berdiri di ambang pintu.
"Sudah nyonya," jawab mereka kompak seraya memberikan jalan untuk Isma masuk ke dalam ruangan itu.
"Subhanallah, cantiknya putri bunda." puji Isma yang lagi membuat Kia tersipu malu dengan kedua pipi yang merona merah.
"Ayo sayang." ajak Isma lembut mengulurkan kedua tangannya untuk Kia.
Kia meyambut uluran kedua tangan bundanya, dapat Isma rasakan ketegangan dari tubuh putrinya.
"Kamu gugup sayang?" Kia menoleh seraya mengangguk.
"Jangan takut sayang." Kia mengangguk lagi.
"Sudah siap?"
"Udah bun, bismillah." ucap Kia yang segera di tuntun Isma menuju ke tempat prosesi akad nikah.
Happy reading! ________________Ikuti apa yang saya katakan ya." titah pak penghulu pada Nando sang pengantin pria."Ananda Arnando Wicaksana bin Rasyid Wicaksana, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anakku yang bernama Azkia Indira Putra binti Hanif Putra dengan mas kawin berupa mas 10 gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai.""Saya terima nikah dan kawinnya Azkia Indira Putra binti Hanif Putra dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." ucap Nando lancar dengan satu tarikan nafas."Bagaimana para saksi sah?" tanya pak penghulu."Saaaaaahhh." jawab semua orang serentak."Alhamdulillah." pak penghulu pun membacakan doa, dan menyuruh pengantin perempuan untuk mencium tangan kanan Nando, begitu juga Nando yang mencium kening Kia, istrinya.Kemudian mereka memasang cincin pernikah
Sorry gaje Happy reading!Dedek masih volos soalnya gak ngerti yang begituan xixixixixi._____________"Ini pipi kenapa merah begini?" tanya Nando menggoda Kia.Ia usap-usap lembut pipi Kia yang mulus dan halus, di tambah lagi rona merah yang semakin terlihat saat Nando terus mengelusnya."Mas...." "Hm?" "Sebaiknya kita bersihkan diri dulu mas." Nando menyipitkan matanya mendengar ucapan Kia."Membersihkan diri untuk apa?" tanya Nando iseng."Uhm, untuk--""Untuk?" "Kia mau mandi mas." reflek Kia bangkit berdiri kemudian berjalan cepat menuju kamar mandi. meninggalkan Nando yang terbengong melihat reaksinya.Tapi hal itu tak ayal membuat Nando terkekeh, Kia salah tingkah dengan pertanyaan menggoda yang ia lontarkan. dan malu karena ia asyik menatap wajahnya.Dengan iseng Nando mendekat ke arah pintu kamar mandi, mengetuk beberapa kali pintu itu."Iya mas?" tanya Kia
Happy reading! "Kia...." bujuk Nando agar Kia menggeser tubuhnya yang nemplok di pintu lemari."Ak--aku malu mas." "Malu? malu kenapa?" tanya Nando heran."Itu, isi di dalam lemarinya mas." "Ha? memang isi dalam lemarinya apa, kok sampai kamu malu begitu." Kia diam, bingung bagaimana mau mengatakan pada Nando bahwa isi di lemari pakaian itu..."Sini biar mas lihat," tanpa menunggu jawaban Kia, Nando menggeser tubuh Kia.Kia was-was saat Nando membuka pintu lemari pakaian itu, dan..."Ini...." Nando mengerjapkan matanya melihat pakaian-pakaian seksi itu.Kia menggigit bibirnya gugup."Kamu mau mencoba memakainya malam ini, Kia?" tanya Nando berbalik badan menghadap Kia de
Nella tersenyum jahil ke arah Kia dan Nando yang baru bangun tidur, Kia merasa tak enak pada mertuanya karena kesiangan bangun."Pengantin baru, gimana tadi malam? lancarkan?" goda Nella."Lancar dong ya, sampai telat bangun gitu." sambung Nella di selingi tawanya.Hal itu kembali sukses membuat kedua pipi Kia memerah, ternyata ibu dan anak suka sekali menggoda dirinya."Mama!" tegur Nando merasa tak enak melirik ke arah Kia yang kini menundukkan kepalanya."Maaf, maaf. mama terlalu senang nak.""Tapi Kia jadi malu gitu ma.""Kia sayang, maafin mama yang lancang bertanya begitu." Kia mengangkat kepalanya dan menggeleng."Enggak apa-apa ma, malahan Kia merasa gak enak. hari pertama menjadi menantu di keluarga ini, tapi Kia sudah kesiangan bangunnya.""Ah, santai saja nak. oh ya, tadi pagi kalian sholat subuh?" Nando dan Kia mengangguk."Mama tadi pagi ingin membangunkan kalian berdua untuk sholat berjamaah di masjid, tapi begitu di de
Masih edisi honeymoon...Happy reading Hari ini Kia meminta Nando untuk mengajaknya ke Namsan Seoul Tower atau yang biasa orang-orang menyebutnya N Seoul Tower.Tak membutuhkan waktu lama, Kia dan Nando sampai ke tempat tujuannya.N SEOUL TOWER merupakan tempat wisata di Korea Selatan yang sangat populer. Wisatawan bisa menikmati keindahan Korea Selatan dari atas ketinggian mencapai 237 meter ini berlokasi di gunung Namsan.Liburan ke Korea Selatan tidak lengkap rasanya kalau tidak mampir ke N SEOUL TOWER. Di sekitar N Seoul Tower terdapat toko suvenir dan restoran. Di puncak menara ini terdapat sebuah tempat yang bernama love lock (gembok cinta). Anda dapat mengabadikan dan menggembok rasa cinta Anda kepada pasangan dengan memegang gembok disekitar pagar, lalu membuang kunci gemboknya sebagai tanda pengharapan cinta kasih akan terus bersama selamanya.Entah itu mitos atau tidak, yang pasti banyak sekali pengunjung yang mela
Nella dan Rasyid menunggu kepulangan anak dan menantunya di bandara Soekarno-Hatta. hari ini Kia dan Nando pulang dari liburan honeymoon mereka selama di Korea."Itu mereka ma!" ucap Rasyid pada istrinya menunjuk ke arah depan.Kia dan Nando langsung menghambur kepelukan Nella dan Rasyid begitu sudah dekat."Kangen mama dan papa." ucap keduanya serempak."Gimana liburan bulan madu kalian?" tanya Nella penasaran.Kia menatap Nando seakan bertanya, jawaban apa yang harus ia berikan untuk menjawab pertanyaan mama mertuanya."Ma, nanti saja tanyanya setelah kita sampai di rumah ya." bujuk Nando mengajak kedua orang tuanya untuk segera masuk ke dalam mobil."Tapi, mama kan penasaran." ucap Nella merajuk."Ayo ma," ajak Kia merangkul bahu mertuanya.Mereka berempat masuk ke dalam mobil, dan perlahan mobil pun melaju dengan kecepatan sedang."Ayo cerita!" pinta Nella memaksa."Kan kalau sudah sampai rumah ma." Nando mengingatkan
"Hiks!" suara tangisan Aisyah terdengar pilu.Nella dan Rasyid merasa iba mendengarnya. "Coba ceritakan sayang." bujuk Nella."Terlalu sakit bunda, bahkan untuk mengingatnya saja Aisyah gak sanggup.""Tapi ada baiknya kalau kamu curhat sayang, insyaallah hati kamu jadi lebih plong dan lega."Nella terus membujuk Aisyah agar bercerita untuk mengurangi beban yang di pikulnya."Bunda, apakah Aisyah boleh tinggal di sini untuk sementara waktu?"Nella dan Rasyid saling pandang saat mendengar ucapan Aisyah."Boleh sayang, pintu rumah ini selalu terbuka untuk kamu." akhirnya Nella mengizinkan Aisyah untuk tinggal di rumahnya.Aisyah merasa sangat senang dan langsung memeluk tubuh tantenya, Nella membalas pelukan Aisyah dengan perasaan yang campur aduk.Ada rasa gelisah saat Nella menyetujui permintaan keponakannya, anak angkat mendiang kakak kandungnya itu, Nella sudah menganggap Aisyah seperti putri kandungnya sendiri. "Aisyah sayang
"Ada apa ma, pa?" tanya Nando menatap kedua orang tuanya.Setelah selesai makan siang bersama, Nella dan Rasyid meminta seluruh keluarga untuk berkumpul di ruang santai."Jadi begini, mengenai Aisyah." ucap Nella membuka suara.Aisyah menunudukkan kepalanya saat namanya di sebut, ia memeluk anaknya erat yang duduk di sampingnya."Iya, kenapa dengan Aisyah ma?" tanya Nando penasaran"Apakah kalian berdua setuju jika Aisyah tinggal di rumah ini untuk sementara waktu?" tanya Nella meminta persetujuan dari anak dan menantunya.Nando dan Kia saling pandang, seakan meminta pendapat lewat tatapan mereka."Kalau Nando sih setuju saja ma, kamu sayang?" Kia gelagapan ingin menjawab apa, kalau boleh jujur sebenarnya Kia gak keberatan sama sekali, hanya saja perasaannya merasa tak enak dan was-was semenjak kehadiran Aisyah di rumah ini."Kia ikut mas, mama, dan papa saja." jawab Kia akhirnya."Ikut? ikut kemana sayang?" goda Nando menjawi
Rencana liburan Kia dan Nando ke Italia batal, di karena-kan kondisi Kia yang sangat lemah. wanita itu terus saja mual-mual, Nando yang panik pun langsung menghubungi dokter pribadi keluarga mereka.Kecemasan dan kepanikan Nando berubah menjadi kebahagiaan begitu mendengar hasil pemeriksaan dokter Tika. yang mengatakan jika Kia tengah mengandung buah cinta mereka.Tentu saja hal itu menjadi berita penuh kebahagiaan bagi seluruh keluarga. apalagi Rasyid dan Nella yang begitu gembira mendengar kabar ini.Dokter berpesan pada seluruh keluarga, agar tak mengizinkan Kia untuk melakukan hal yang berat. di usia kandungannya yang masih sangat muda, Kia juga di larang berpergian untuk sementara waktu.Kia cukup merasa sedih karena itu, keinginannya yang ingin berlibur ke Italia batal. tapi, di balik itu semua Kia bahagia.
Kia mengerjapkan matanya silau terkena cahaya matahari yang masuk dari celah hordeng jendela kamaranya.Melihat sisi ranjang di sampingnya kosong, membuat Kia bangun dari tidurnya."Dimana mas Nando?" gumamnya mencari keberadaan sang suami.Perlahan Kia turun dari ranjang, mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai. memakainnya cepat lalu melangkah mencari Nando. sayup-sayup ia mendengar suara seseorang yang sedang menelpon di dalam kamar mandi.Kia membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak terkunci, kebiasaan Nando yang satu ini sangat Kia hafal."Bagaimana dengan keadaan mereka?" tanya Nando dengan lawan bicaranya di telepon."............""Rumah sakit jiwa?" kaget Nando."...........""Ya, mungkin itulah hal yang tepat untuk menanganinya. ya sudah kalau begitu, aku tutup dulu ya, nanti aku telpon lagi untuk memastikan k
Masih flashback.Dava kaget mendapati seorang pria yang ada di dalam rumah itu. dengan tangan, kaki terikat. serta mulut yang di tutup lakban.Kondisi yang sangat menyedihkan bagi Dava sebagai seorang pria, mata pria itu terpejam.Dava melangkah hati-hati ke arahnya. "permisi."Perlahan mata pria itu terbuka, terbelalak kaget melihat kehadiran Dava di situ.Dava terlihat panik ketika pria itu seperti menggeram ingin bicara, ragu-ragu Dava melepaskan lakban di mulutnya."Tolong lepaskan aku!" pinta pria itu setelah Dava berhasil melepaskan lakban di mulutnya."A--aku akan melepaskanmu. tapi, aku perlu bicara denganmu.""Baiklah," janji pria itu.Dava melepaskan semua tali yang terikat di tangan dan kakinya."Terima kasih," ucapnya pada Dava."Siapa kamu? kenapa bisa ada disini denga
"Kia, ada ap__mas Ridwan?" kaget Nando melihat seorang pria yang ada di sebelah Dava.Nella, Rasyid, dan Aisyah sangat terkejut. terutama Aisyah yang melotot horor melihat pria yang bernama Ridwan itu."Kenapa pria itu bisa disini?" batin Aisyah bertanya-tanya.Flashback on.Dava menatap pria di depannya, pria yang di tatap itu pun mengeluarkan sebuah benda dan memberikannya pada Dava."Ini bos!" ucap pria itu menyodorkan ponsel di tangannya."Kerja bagus Dika." puji Dava pada pria yang bernama Dika itu, yang ternyata suruhannya untuk mengelabui Aisyah dan mengambil ponsel miliknya.Ah, ternyata pria yang tadi itu! itu berarti semua ini sudah di rencanakan Dava.Tepat sekali!"Tapi maaf bos, aku tidak dapat membuka kata sandi di ponsel milik wanita berhijab itu." ungkap Dika merasa tak enak."Begitu
Nando dan Kia sudah sampai di rumah pada malam hari, Ayesha sudah tertidur saat di perjalanan tadi."Assalamualaikum." sapa Nando dan Kia mengetuk pintu, Kia menggendong Ayesha yang tertidur."Waalaikumsalam," jawab salam Aisyah membuka pintu.Wajah Aisyah di hiasi senyuman manis yang lebar, wajah Nando datar melihatnya tanpa mau repot-repot membalas senyuman Aisyah."Kenapa kalian lama sekali?" tanya Aisyah mengulurkan tangannya, mengambil alih tubuh Ayesha.Kia menyerahkan Ayesha padanya. "iya, Ayesha begitu senang sekali hari ini, sampai kami lupa waktu."Nando tanpa banyak basa-basi langsung berlalu pergi dari hadapan mereka."Nando kenapa?" tanya Aisyah yang bisa meraskan perubahan pada diri Nando."Dia tidak apa-apa, hanya saja hari ini ia menemukan sesuatu hal yang membuatnya terkejut.""Oh ya, apa itu?" tanya Aisyah ke
"Siapa kamu?" tanya Aisyah ."Wow! galaknya.""Jangan bertele-tele, apa maumu?" lagi Aisyah bertanya."Tidak ada maksud apa-apa, dari jauh aku melihat seorang wanita tengah berdiri di pinggir jalan yang sepi. ku pikir, mungkin kau membutuhkan sebuah bantuan." ucap pria itu menyentuh letak kacamatanya yang tadi sedikit miring."Ah tidak, terima kasih. aku tidak membutuhkan bantuan apapun." elak Aisyah begitu angkuh."Sombong sekali dia! Ciihhh!" umpat batin Dava kesal melihat Aisyah."Sungguh kau tidak membutuhkan bantuan apapun padaku?" lagi Dava bertanya ulang."Sudah aku katakan bukan!"Dava sampai terlonjak kaget mendengarkan bentakan Aisyah. huffft! kalau bukan karena permintaan Kia, mungkin Dava tidak akan mau lagi berurusan dengan wanita macam Aisyah.Di lain tempat..."Jadi, kalian kesini karena i
Aisyah masih setia melihat ponselnya yang menampilkan letak lokasi keberadaan Nando melalui GPS. tersenyum karena dia bukanlah orang lemah yang bodoh hanya diam di rumah tanpa melakukan sesuatu. salah besar!Ciiiiiittttt.Bunyi suara ban berdecit beradu dengan suara rem secara mendadak, tubuh Aisyah bahkan sampai terhempas ke belakang."Ada apa pak?" tanya Aisyah heran."Gak tahu mbak, kayaknya kita nabrak seseorang deh.""Apa?" kaget Aisyah yang langsung keluar begitu juga pak supir taksi.Keduanya keluar untuk mengecek kondisi orang yang mereka tabrak. Aisyah mendekati tubuh seorang pria yang tampak terbaring di depan taksi."Anda tidak apa-apa tuan?" tanya Aisyah menyentuh bahu pria itu dan sedikit mengguncangnya."Aaaaaaaa!!" teriak Aisyah nyaring, kaget karena tiba-tiba pria itu bangkit dan mengambil ponsel Aisyah lalu berlari kenca
"Kalian sudah ingin berangkat?" tanya Nella yang kondisinya sudah lumayan membaik."Iya ma, kami bertiga pamit pergi dulu ya." pamit Nando mencium punggung tangan kanan sang ibu.Di susul Kia dan juga Ayesha yang bergantian mencium punggung tangan kanan Nella."Hati-hati ya kalian di jalan. Oh ya, Aisyah tidak ikut?" tanya Nella yang melihat Aisyah berdiri di ambang pintu kamarnya.Aisyah menggelengkan kepala sedih, sengaja ia lakukan agar menarik perhatian Nella."Oh itu, Ayesha yang gak mau ibunya ikut. iyakan sayang?" ulang Kia lagi bertanya pada Ayesha agar mama mertuanya juga dapat mendengar jelas."Iya oma, Ayesha cuma mau sama bunda Kia dan Ayah Nando saja." ungkap bocah kecil itu begitu polosnya.Nella mengangguk tersenyum, mengelus pelan kepala mungil Ayesha dan mencium wangi rambutnya."Baiklah, ibumu biar di rumah saja untuk menguru
Nando menatap istrinya yang sedari tadi tampak gelisah dalam tidurnya, dengan lembut ia menyentuh pundak Kia."Kia, sayang kamu kenapa?" tanya Nando berbisik di telinga Kia.Kia membuka matanya yang tadi sempat terpejam, membalikkan badannya menghadap sang suami. hingga kini mereka berdua saling berhadapan."Mas?""Iya? jawab Nando menatap lekat wajah istrinya."Sebenarnya ada hal yang ingin aku katakan padamu mas.""Soal apa? Aisyah lagi?" tebak Nando.Kia menggigit bibirnya, melihat respon Nando yang seperti itu membuatnya ragu, antara ingin mengatakannya atau tidak."Bicaralah," titah Nando tak tega juga melihat wajah Kia yang tampak kecewa."Ehm, jika aku mengatakannya, apakah kamu mau mempercayainya mas?" tanya Kia memastikan dan berharap kalau Nando mempercayai ucapannya kali ini."Kenapa gitu? jadi