Aku memasuki rumah Oma dengan perasaan yang campur aduk. Setelah semua yang terjadi di rumah Aiden, rasanya tempat ini adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa merasa tenang. Aroma kayu cendana menyelimuti ruangan, membuatku sedikit lebih rileks, mengurangi beban yang menekan pikiranku.Oma sudah duduk di ruang tengah, seakan menungguku datang. Begitu melihatku, senyum lembutnya muncul. Dia berdiri dan membukakan tangannya, mengisyaratkanku untuk mendekat.“Dea, cucuku tersayang. Akhirnya kamu datang juga,” ucapnya, memelukku dengan penuh kehangatan.Aku membalas pelukannya erat. Rasanya seperti menemukan tempat bernaung di tengah badai yang telah menghantam hidupku. “Oma, aku butuh waktu untuk menenangkan diri,” ucapku pelan, mencoba menahan emosiku.Oma mengangguk, lalu menuntunku duduk di sofa di hadapannya. “Kamu sudah melewati banyak hal, Dea. Tidak apa-apa kalau kamu merasa perlu waktu untuk menenangkan diri. Di sini kamu aman.” Oma sudah tau apa yang terjadi tadi pagi. Aku s
Oma tersenyum mendengar pertanyaanku. “Tidak ada cara instan, Dea. Pusaka ini adalah bagian dari dirimu. Kekuatan yang ada di dalamnya harus kamu pahami seiring waktu. Namun, kamu harus menerima dan percaya bahwa pusaka ini akan melindungimu di saat yang paling dibutuhkan.”Aku berusaha mencerna kata-katanya. “Jadi, aku harus menerima semua ini? Semua rasa sakit, semua beban?”Oma mengangguk lembut. “Ya, Dea, tapi ingat, kamu tidak sendirian. Aku, mertuamu, dan leluhur kita semua ada di sisimu. Kamu selalu punya tempat untuk pulang.”Titik menyentuh pundakku dengan lembut. “Raden Ayu, kekuatan pusaka ini bukan hanya untuk melindungi, tapi juga membimbing Anda. Pusaka ini akan memberi tanda ketika Anda berada dalam bahaya atau membutuhkan bantuan.”Aku menatap pusaka itu dengan perasaan campur aduk. Segala peristiwa di rumah Aiden, rasa sakit yang tak terhingga karena kematian Kak Aeros, serangan dari Wendy, seolah-olah menjadi bagian dari ujian yang harus kuhadapi untuk memahami makna
Setibanya Aiden di rumah Oma, aku melihat dari teras belakang. Wajahnya terlihat tegang, gerakannya tergesa-gesa. Aku tahu dia mencariku, tapi aku enggan bertemu dengannya sekarang. Aku duduk bersama Oma, mencoba menikmati suasana tenang di tengah taman yang asri ini, jauh dari segala ketegangan rumah.“Dea,” panggil Aiden dengan suara yang nyaris berbisik. Aku hanya menoleh sekilas, lalu mengalihkan pandanganku kembali ke taman. Oma, yang sedari tadi duduk tenang di sampingku, menatap Aiden dengan lembut namun penuh makna. "Kalau ingin bicara, bicaralah dengan hati yang terbuka, Nak," ucap Oma, memberinya isyarat untuk duduk.Aiden pun menuruti, lalu duduk di kursi di sampingku. Ia menatapku dalam diam, seolah mencari kata-kata yang tepat. Setelah beberapa saat, dia akhirnya bersuara, suaranya terdengar pelan dan ragu."Dea, aku tahu aku sudah mengecewakanmu. Aku tahu kamu sangat terluka." Dia menghela napas, tampak penuh penyesalan. "Aku minta maaf."Aku menatapnya dengan dingin. Su
Degup jantungku langsung melonjak saat sebuah mobil Panther hitam pekat berhenti di hadapanku, menutup jalan dengan kasar. Kaca gelapnya menutupi pandangan, membuatku tak bisa melihat siapa yang ada di dalam. Baru saja aku mencoba menginjak rem, dua pria keluar dari mobil itu dengan langkah tergesa, wajah mereka tersembunyi di balik masker hitam. Salah satu dari mereka memegang senjata tajam yang berkilauan di bawah cahaya, mengacung-acungkannya ke arahku."Keluar!" teriak salah satu dari mereka, suaranya tegas dan penuh ancaman.Pikiranku langsung berputar, menimbang apa yang harus kulakukan. Aku tak akan keluar dan menyerahkan diriku begitu saja. Segera kurapatkan sabuk pengaman dan kupelintir setir ke arah berlawanan. Aku menginjak pedal gas dalam-dalam, melesat mundur dengan cepat, tapi salah satu pria itu segera berlari mengejar, melayangkan senjata di tangannya ke arah kaca samping mobilku.Brak! Kaca samping bergetar akibat hantamannya, retakan kecil mulai terlihat, membuatku p
Wajah Aiden tampak tegang. Ia melihat kedua orang tuanya yang kini saling berpandangan, rona kekhawatiran tak bisa disembunyikan.“Aiden,” suara Papa Gito bernada jelas dan ketegasan. “Cari Dea sekarang juga!”Mama Rita menggenggam erat lengan suaminya, wajahnya tampak pias, seolah telah membayangkan hal-hal buruk yang menimpa menantunya. "Seharusnya kamu tidak membiarkannya pergi sendiri. Kenapa bisa begini?"Aiden mengepalkan tangan, pikirannya mulai menimbang-nimbang langkah apa yang harus ia ambil. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah ke luar rumah, mengeluarkan ponselnya, dan segera menelpon seseorang.“Hallo?” suara Andre yang merasa aneh menerima panggilan darurat dari adiknya di malam seperti ini.“Dea hilang,” jawab Aiden dengan nada yang putus asa. “Dia belum pulang, dan aku takut ada yang terjadi padanya. Butuh bantuanmu untuk melacak ponselnya atau apapun yang bisa kita pakai untuk menemukannya.”"Oke." Andre segera mematikan telepon dan mulai membuka laptopnya. Gishelle ya
Titik hanya menatapku, wajahnya tampak tenang meski matanya menyala dalam kegelapan. "Raden, jangan takut. Aku di sini," bisiknya lembut.Namun, ketenangan Titik tak mampu meredakan detak jantungku yang makin cepat. Aku berbalik, menatap kegelapan di belakangku—cahaya senter itu semakin mendekat, dan suara langkah kaki mereka makin jelas di telingaku.“Cepat, jangan sampai dia kabur lagi!” seruan salah satu pria itu terdengar nyaring, membuat bulu kudukku berdiri.Aku menggigit bibir, menyeka peluh di dahi. Tidak ada pilihan lagi, aku harus lari. Kugenggam erat tas kecilku dan berlari lebih jauh ke dalam hutan, langkahku terhuyung-huyung karena tanah yang basah dan licin. Ranting-ranting tajam menampar wajah dan tanganku, namun rasa sakit itu tenggelam di balik ketakutan yang kian menghimpit.“Ya Allah, tolong aku,” bisikku dengan suara bergetar.Titik melayang ke depanku, seolah memberi isyarat untuk terus mengikutinya. “Raden, terus maju. Jangan berhenti!” Titik melayang lebih cepat
Aku tak bisa mengalihkan pandangan dari sosok macan kumbang itu. Nafasku tersengal, seluruh tubuh menegang. Sementara macan itu mulai bergerak maju dengan langkah perlahan, siap menerkam. Jarak kami tak lebih dari beberapa meter. setiap detik yang kulewatkan tanpa bergerak mungkin menjadi kesempatan bagi binatang itu untuk menyerang.Titik melayang mendekatiku, matanya berkilat waspada. “Raden, tenang. Jangan lakukan gerakan tiba-tiba,” bisiknya lembut, suaranya penuh kehati-hatian.Tubuhku bergetar, tapi aku mencoba menuruti kata-kata Titik. Sayangnya kakiku gemetar tak bisa diajak kompromi. Namun aku berusaha menyakinkan diri dan mengingat apa yang pernah kubaca jika bertemu hewan buas di hutan. Terpaksa kutatap langsung mata hewan itu. Aku berusaha menunjukkan bahwa aku bukan mangsa yang lemah.Macan itu berhenti sejenak, seolah menimbang gerakanku, tatapannya tetap tajam dan tak berkedip. Kami terlibat dalam pertarungan diam di bawah langit malam yang pekat, masing-masing saling m
Toporejo terdiam sejenak, menatap hutan di sekelilingnya, seakan memindai setiap sudut. “Punika tiyang ingkang nggegem drajat saha dhuwit. Pusaka ingkang panjenengan gadhahi dados pintu tumrap kasiliran tumrap pepunden Jawi. Tiyang punika mboten namung mburu raga panjenengan, nanging ugi batin saha kasampurnanipun.” [Orang itu adalah seseorang yang berambisi akan kekuasaan dan harta. Pusaka yang Anda miliki menjadi gerbang bagi mereka untuk menguasai leluhur Jawa. Mereka bukan hanya mengincar fisik Anda, tetapi juga jiwa dan kesempurnaan Anda.]Aku merasakan bulu kudukku berdiri mendengar kata-katanya. Seakan ini bukan sekadar persaingan atau kekuasaan biasa; ada sesuatu yang lebih besar, lebih mendalam.Toporejo menatapku kembali, kali ini dengan sorot penuh keyakinan. “Nanging aja wedi, Raden Ayu. Panjenengan sampun dados ingkang kapilih. Saged kula sumerep, sanadyan tantangan punika ageng, panjenengan inggih kedah terus maju. Kula saha sedaya danyang ten tanah Jawi punika bakal ngu
Dokter itu tertawa lembut, seolah ingin menenangkan kami. "Dea, hasil tes menunjukkan bahwa kamu hamil. Kamu berada dalam kondisi yang sangat baik, meskipun sempat mengalami mual dan kelelahan. Namun, jangan khawatir. Kondisi ini sangat normal, terutama jika ada perubahan fisik atau emosional."Aku terdiam, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Hamil? Aku hamil? Pikiranku terasa berputar. Tidak ada yang pernah menyebutkan ini sebelumnya, dan tentu saja, aku tidak pernah memikirkan hal ini."Aiden." aku berbisik, suaraku gemetar. "Aku hamil?"Aiden menggenggam tanganku lebih erat. "Iya, Sayang. Kamu hamil. Ini berita yang luar biasa, kamu jangan cemas. Kita akan menghadapinya bersama-sama."Aku terdiam, merasakan campuran perasaan yang sangat dalam. Di satu sisi, ada kebahagiaan yang tak terlukiskan, namun di sisi lain, aku merasa cemas. Bagaimana kami akan menjalani semua ini? Apa arti semua ini untuk kami? Dan yang terpenting, apakah kami siap dengan segala perubah
Dengan langkah yang berat, Aiden menarikku pergi dari pinggir sungai yang seakan berusaha menahan kami. Aku bisa merasakan kekuatan Alam Pusaka yang menahan kami, seolah tempat ini tidak ingin kami pergi begitu saja. Suasana yang tadinya penuh keindahan kini terasa penuh dengan ancaman yang tak terduga. Namun aku percaya pada suamiku, dan aku tahu, ia tidak akan membiarkan aku terluka.Akhirnya, setelah perjuangan panjang, kami tiba di batas Alam Pusaka, tempat yang menjadi pemisah antara dua dunia. Keindahan yang dulu kurasakan kini perlahan memudar, digantikan oleh rasa lega yang datang saat kami kembali ke dunia manusia.Tiba-tiba, aku merasakan tubuhku sedikit lebih baik. Rasa mual yang semula mengguncang perlahan mulai hilang, dan aku bisa merasakan kembali kekuatan dalam tubuhku. Aiden melepaskan pelukannya, meskipun aku bisa merasakan ketegangan yang masih ada di tubuhnya."Kita sudah kembali," katanya dengan suara yang lebih tenang, namun masih terdengar kelelahan. "Tapi aku r
Selama di Alam Pusaka. Aku bisa melihat keindahan yang tidak bisa kulihat selama di dunia manusia. Meskipun aku tidak bisa melihat Aiden secara jelas, setidaknya aku bisa melihatnya dalam bentuk bayangan. "Aku senang sekali melihatmu berlari dan menari seperti ini, Sayang. Ada perasaan sedih juga karena biasanya aku yang membantumu melakukan aktivitas sehari-hari. Di sini, kamu bisa melakukannya sendiri," ucap suamiku lembut, suaranya mengalir seperti aliran sungai yang jernih di depan kami, menenangkan sekaligus menghangatkan.Kami duduk di pinggir sungai yang indah, airnya yang jernih mengalir begitu tenang. Suasana ini begitu damai, dan aku merasa seolah dunia ini hanya milik kami berdua. Di sini, aku tidak merasa terbebani oleh keterbatasan penglihatanku. Alam Pusaka, dengan segala keajaibannya, memberiku kebebasan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku bisa merasakan udara yang lebih segar, aroma bunga yang jarang ditemukan di dunia manusia, dan setiap detik terasa begitu b
Pagi itu, di ruang tamu yang hangat, suasana terasa berbeda. Aiden, suamiku duduk di depan keluarga besarnya, seakan hendak mengungkapkan sesuatu yang penting. Aku berada di sampingnya dengan tenang, meski tampak sedikit cemas. Keluarga sudah berkumpul, mendengar dengan penuh perhatian."Aiden, kamu tampaknya tidak seperti biasanya," kata Oma menyelidik situasi. "Ada apa? Kamu biasanya lebih ceria kalau bicara soal perusahaan."Aiden menarik napas dalam-dalam. "Aku dan Dea akan pergi berbulan madu," ucapnya dengan nada yang mantap, tetapi ada keraguan yang samar terbersit. Semalam kami sudah mengobrol, dan ia sempat mengungkapkan keresahan. Takut kalau tempat itu akan menstimulus traumaku. Namun, aku meyakinkannya. karena di sana aku bisa melihat pemandangan banyak hal karena diselimuti alam gaib. "Ke mana?" tanya Mama Rita, tertarik. "Ada tujuan spesial, Nak?""Alam Pusaka," jawab suamiku, membuat suasana hening seketika. Dea menundukkan kepala, berusaha menahan perasaan yang datang
Malam itu, suasana ruang makan sudah penuh kehangatan. Aroma makanan khas keluarga memenuhi udara, membuat perutku yang tadinya gelisah kini mulai terasa lapar. Semua orang sudah duduk di tempatnya masing-masing, berbincang dengan riang. Aku dan Aiden datang terakhir, menambahkan kursi di sisi meja untuk kami berdua. Mama Rita langsung tersenyum hangat melihat kami. “Akhirnya kalian datang. Kami sudah hampir mulai, loh.” Aiden membantu menarik kursiku dengan lembut, memastikan aku duduk dengan nyaman sebelum ia duduk di sebelahku. “Maaf, kami agak terlambat,” katanya dengan nada santai. “Dea tadi masih butuh waktu untuk bersiap.” Andre yang duduk di ujung meja, bercanda sambil tertawa kecil. “Ah, Aiden. Kamu makin romantis saja.” Semua orang di meja tertawa, kecuali aku yang hanya bisa tersenyum gugup. Rasanya sulit menyesuaikan diri dengan perhatian sebanyak ini. Namun, Aiden, yang sejak tadi menggenggam tanganku di bawah meja, memberiku rasa percaya diri. Setelah semua mak
Aku terdiam sejenak, merasakan pipiku mulai memanas mendengar ajakan Aiden. Suaranya begitu lembut dan menggoda, tetapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat jantungku berdebar lebih cepat.“Aiden,” panggilku pelan, berusaha menyembunyikan rasa gugupku. “Kamu tahu aku tidak terlalu suka dengan ide itu. Lagipula, aku belum terbiasa dengan semua ini.”Aiden tertawa kecil, lalu duduk di sampingku. “Sayang, aku tidak memaksamu. Aku hanya ingin membuatmu nyaman. Setelah semua yang kita lalui, aku merasa kita pantas menikmati momen yang tenang bersama.”Aku merasakan tangannya menggenggam jemariku dengan lembut, seakan memberikan kehangatan yang menenangkan. “Kita tidak harus buru-buru, Dea. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku ada di sini, sepenuhnya untukmu.”Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk merespons. “Kamu terlalu manis, Aiden. Kamu bisa gendong aku?”Aiden terdiam sejenak, lalu aku mendengar tawanya yang lembut dan penuh kehangatan. “Tentu saja, Sayang
"Titik!" pekikku tak sadar. Makhluk halus yang hendak pergi itu langsung berbalik ke arahku."Raden Ayu!" kagetnya. Dia kemudian berteriak. "Woy! Dalbo! Raden Ayu bisa melihatku!"Dalam hitungan sekejap sosok yang panggil pun datang. "Benar Raden bisa melihat kami?""Benar, Dalbo. Bagaimana kabar kalian.""Kami semua baik, Raden Ayu," jawab Dalbo. "Yang dikatakan Kanjeng Ratu benar-benar terjadi," ujar Titik. Aku bisa melihat bagaimana ekspresinya. Namun tiba-tiba seseorang keluar dari kamar mandi."Aiden?""Iya, Sayang?" ia mendekat ke arahku. "Kenapa masih memanggilku dengan nama? Panggil Sayang dong." Kemudian hendak menciumku, tetapi segera kutahan."Apa kamu tidak malu dilihat mereka?" cegahku karena Dalbo dan Titik terperangah melihat kami."Mereka?""Titik dan Dalbo. Mereka sedang di sini kan? Bahkan mereka terkejut melihat kamu mau menciumku."Aiden bergeming. "Kamu bisa melihat mereka? Bukannya Ayah bilang kalau kamu bahkan tidak bisa melihat apapun termasuk dunia gaib?""Se
Aku menenggak salivaku dengan paksa. Saling mencintai? Waktu seakan berhenti saat tebakan tersebut terlontar padaku. Sedangkan Aiden tampak enteng menjawab pertanyaan tersebut."Aku memang cinta sama De, Oma. Tapi belum tentu dengan Dea." Pria itu melepaskan keluhan hatinya yang kukira tak akan dibahas lagi.Ruangan mendadak hening setelah pengakuan Aiden. Nahasnya aku pun gugup, "A-aku..." Kalimat itu menggantung, rasa bingung menderai kepalaku."Kalau begitu, kamu harus berjuang lebih cerdas lagi Aiden," sahut Oma. "Begitu ya, Oma?""Iya dong, Aiden. Zaman sekarang kerja keras doang kan nggak cukup," kekeh Oma."Siap, Oma!" ucap Aiden yang langsung berdiri. Entah apa yang dia lakukan, tetapi semua orang tergelak karea dia. Saat gemuruh tawa mulai mereda, Oma bertanya padaku dengan lembut."Dea," panggilnya lembut penuh kasih."Iya, Oma?""Apa kamu nyaman bersama Aiden?" Aku terdiam sesaat. Pertanyaan tersebut terasa tak membebankan dibandingkan sebelumnya. "Nyaman, Oma.""Syukurla
"Gausah pegang-pegang istriku. Pegang istrimu sendiri sana!" nyolot Aiden. "Yaelah. Jabat tangan doang," balas Andre. Sayangnya aku cukup terkejut saat orang lain memanggil namaku. "Hai, Dea. Sudah lama tidak bertemu." Kali ini suaranya terdengar lembut. Itu adalah Ghiselle. Perempuan yang sebelumnya memusuhi dengan terang-terangan. Namun, hari ini aku merasakan frekuensi yang cukup nyaman daripada pertemuan terakhir kami."Iya. Ghiselle." Baru saja menjawab, "Iya Dea. Ak-" ucapan wanita itu terputus karena Mama Rita memanggil kami untuk segera bergabung ke ruang makan."Ayo, De," ajak Aiden kembali membawaku berjalan tanpa tongkat. Langkah kakinya yang lebar sudah ia kontrol mengikuti langkah kakiku. Aku bisa merasakan perubahannya yang sebelumnya kikuk menjadi sangat santai hari ini. Sepertinya ia sudah sangat cocok menjadi relawan untuk orang tuna netra sepertiku. Dia bahkan bisa mengingat detail kecil keperluan sehari-hari. Banyak hal yang ia rubah agar menjadi tempat inklusi ba