Home / Romansa / Ibu Susu untuk Sang Pewaris / 18. Petaka Susu Formula

Share

18. Petaka Susu Formula

Author: Devie Putri
last update Last Updated: 2025-03-18 18:54:01

"Aku nggak akan kasih dia susu formula," jawab Marsel dengan tegas.

"Kamu ini papa yang pelit banget sama anak. Kasihan sekali anakmu. Hanya minum ASI yang nggak berkualitas dari si Nawang," ucapnya sambil menatap Nawang dengan bengis.

"Maaf, Bu, tapi setahu saya nggak ada yang namanya ASI yang nggak berkualitas. Semua ASI itu bagus," jawab Nawang. Dia ikut geram dengan kalimat-kalimat yang ibunya Marsel lontarkan.

"Tahu apa kamu soal anak? Punya anak satu aja mati. Sok-sokan ngajari aku soal tumbuh kembang anak."

Nawang tersentak. Perasaannya hancur seketika bagai dihantam benda keras. Tapi Nawang berusaha menahan air matanya agar tidak turun. Dia pantang terlihat menangis di depan perempuan itu. Perempuan yang tidak punya empati.

"Mama!" hardik Marsel.

Intan langsung diam. Matanya beralih menatap ke arah lain. Tapi hatinya mendendam hebat. Sekarang Marsel bahkan sudah berani membentaknya demi membela Nawang.

"Kalau mama nggak ada keperluan di sini, lebih baik mama pulang. Kita
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   19. Aksinya Ketahuan

    "Ibu kasih Axelle apa?" hardik Nawang. Dia takut jika Marsel memarahinya dan mengira ini adalah ulah dirinya. Padahal apa yang terjadi pada anaknya adalah akibat dari ulah ibunya. Jika ditanya kenapa Nawang sampai berani membentak ibunya Marsel, itu karena dia sudah hampir kehabisan kesabaran menghadapi perempuan itu. Ada saja ulahnya yang membuat Nawang meradang. "Eng ... enggak kasih apa-apa," jawab Intan gelagapan sambil berusaha menyembunyikan botol susu di belakang punggungnya. "Terus itu apa? Apa yang ibu sembunyikan di balik punggung itu?" tunjuk Nawang. Spontan, Intan langsung menjatuhkan botol itu ke atas lantai. "Nggak apa-apa kok," elaknya lagi. Tapi Nawang bergegas mengambil botol susu tersebut. Dia mengambilnya lalu mengangkat botol itu, mengarahkan ke depan wajah Intan. "Ini apa, Bu? Ini botol susu kan? Kenapa ibu kasih Axelle susu diam-diam?" Nawang mulai geram. Bukan karena dia tidak menghormati Intan sebagai nenek dari Axelle. Tapi di sini, semua tentang Axelle a

    Last Updated : 2025-03-19
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   20. Sumpah Intan

    "Pak Marsel, sepertinya anak Anda ini mengalami alergi susu sapi. Apa dia habis diberi susu formula?" tanya dokter. Marsel lalu menatap mamanya. "Iya, Dok. Pengasuhnya yang ngasih susu formula ke cucu saya," jawab Intan langsung. "Bohong, Dok. Bukan saya yang ngasih Axelle susu formula. Tapi neneknya sendiri." Nawang membela diri. Dia tidak terima difitnah di depan Marsel dan dokter. "Halah ... ngaku aja, Nawang. Kamu pasti punya niat jelek kan ke cucu saya," desak Intan. "Pak Marsel, Anda harus percaya dengan saya. Saya nggak mungkin ngasih susu formula ke Axelle. Memangnya bagaimana caranya saya beli susu formula? Pakai daun? Uang satu rupiah saja saya nggak punya." Nawang berbicara apa adanya. "Sudah ... sudah. Saya nggak mau tahu juga siapa yang ngasih. Nanti kalian selesaikan sendiri di rumah. Sekarang susunya di stop ya. Kasihan ini bayinya juga diare lho," terang dokter. Kedua perempuan itu mengangguk bersamaan. "Ini sudah saya resepkan obat untuk ditebus di apotek ya. Se

    Last Updated : 2025-03-20
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   21. Mencuri Makanan Nawang

    Pagi ini, Intan sudah berpakaian bagus, mengenakan set perhiasan yang biasanya hanya dia simpan di dalam lemari dan bau parfum yang menguar dari tubuhnya serasa menusuk hidung. Hal itu sontak mengundang pertanyaan di kepala suaminya. "Tumben udah dandan cantik. Nggak sidak ke rumah Marsel hari ini? Atau masih ngambek sama Marsel gara-gara kemarin?" tanya suaminya sambil duduk di meja makan sambil menikmati segelas susu hangat. "Nggak. Hari ini aku nggak ke sana. Aku ada acara sama teman-teman sosialitaku," jawabnya sambil menyambar roti tawar dan mengoleskan selai kacang di atasnya. "Pantesan itu perhiasan setoko dipakai semua," seru suaminya lagi."Iya lah. Sayang punya berlian kalau cuma disimpan.""Jadi kalian mau kumpul-kumpul apa mau saling pamer perhiasan?""Apa sih. Udah diam saja. Kamu nggak akan ngerti soal beginian. Aku pergi dulu. Assalamualaikum," pamit Intan. "Waalaikumsalam."Intan mempercepat langkah menuju mobil sambil sesekali melirik jam tangan mahal di pergelan

    Last Updated : 2025-03-22
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   22. Dibilang Rakus

    Intan membuka bungkus makanan tersebut. Bibirnya mengerucut melihat caviar bersanding dengan roti, telur dan kentang. Marsel juga menyiapkan buah di dalam kulkas seperti kiwi dan anggur ruby. Intan membawa semuanya tanpa menyisakannya untuk Nawang. "Marsel sudah gila. Pembantu saja dikasih makan seenak ini." Intan mendumel sendiri "Kenapa nggak dibeliin nasi pecel saja sih. Orang miskin kok dikasih makanan semahal ini. Emang ususnya nggak kaget apa?"Intan menutup kembali makanan tersebut dan menyimpannya di lemari makan. Kemudian buah-buahan hasil curiannya juga dia masukkan ke dalam kulkas. "Tapi lumayan lah. Aku jadi nggak perlu masak dan punya banyak stok buah di dalam kulkas. Ide teman-temanku brilian juga." Intan tersenyum puas sembari membayangkan wajah Nawang yang pasti kaget melihat jatah makanannya hilang tak tahu kemana. Sementara itu, di rumah Marsel, Nawang terkejut melihat lemari makan yang biasa penuh oleh makanan tiba-tiba kosong. Hanya ada sepotong tempe mentah dis

    Last Updated : 2025-03-23
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   23. Salah Paham

    "Apa kamu bilang? Rakus? Eh ... denger ya. Aku memang miskin, Sel. Tapi aku nggak mungkin jadi seperti yang kamu tuduhkan." Nawang membela diri sambil berkacak pinggang. "Terus siapa yang ngabisin buah di sini kalau bukan kamu?" tuduh Marsel sambil menunjukkan kulkas yang telah kosong. Nawang mengangkat bahu. "Ya mana aku tahu," jawabnya.Sejenak Nawang berpikir apa mungkin ibunya Marsel yang mengambil semua buah di dalam kulkas? Tapi untuk apa? Bukannya dia bisa beli sendiri. Bahkan beli se-penjualnya sekali pun dia mampu. Untuk apa susah-susah mencuri buah di rumah anaknya?"Apa ada orang yang masuk ke rumah ini?" tanya Marsel lagi. Dia tampak berpikir keras. "Ada," sahut Nawang dengan cepat. "Siapa?" Marsel mengeryit. "Mamamu. Siapa lagi kalau bukan dia," jawab Nawang. Marsel diam sejenak. Dia memikirkan hal yang sama dengan Nawang. Apa mungkin mamanya yang mengambil semua buah itu? Apa mamanya sedang kedatangan tamu mendadak sehingga dia tidak sempat pergi ke supermarket?"A

    Last Updated : 2025-03-24
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   24. Daging Wagyu

    "Oh ... itu. Iya aku suka kok. Suka banget malahan. Dulu suamiku waktu masih hidup sering beliin aku itu," jawab Nawang santai. "Hah? Aku nggak salah dengar? Katanya miskin. Kok suaminya sering beliin dia caviar? Kerja apa suaminya?" batin Marsel sendiri. "Bagus lah. Jadi nggak buang-buang makanan," lanjut Marsel. "Aku nggak pernah buang-buang makanan. Makan apapun selalu aku syukuri. Walaupun sekedar caviar."Marsel kembali terperangah. "Dia bilang 'sekedar'? Ini sebenarnya dia lagi bercanda atau bicara jujur sih? Tapi kalau dari wajah dia, dia kayak lagi serius. Cuma ...""Kenapa? Kok malah bengong?" tanya Nawang."Enggak apa-apa kok," jawab Marsel gelagapan."Lagian aku juga bosen, Sel, makan daging melulu. Jadi sekali-kali makan caviar nggak apa-apa lah.""Emang kamu kira itu makanan harganya murah? Itu lebih mahal dari daging tau. Kalau kamu minta aku beliin caviar tiap hari ya bangkrut aku," gerutu Marsel dalam hati. Sebenarnya dia juga heran dengan Nawang. Biasanya jarang a

    Last Updated : 2025-03-26
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   25. Ancaman dari Intan

    "Gimana si pengasuh cucumu itu sudah pergi belum dari rumah anakmu?" tanya Maria saat tidak sengaja bertemu dengan Intan saat berbelanja di supermarket. "Belum. Aku juga bingung. Pusing mikirnya," jawab Intan sambil memegangi kepalanya. "Kurang kejam kali kamu.""Aku sudah ambil jatah makan dia. Aku tukar pakai tahu atau tempe mentah sepotong. Tapi dia nggak ngeluh apa-apa tuh.""Ngapain kamu tuker segala? Ambil aja nggak usah dituker. Ya dia nggak akan ngeluh. Orang masih ada makanan yang bisa dimakan. Tahu tempe kan udah makanan dia sehari-hari. Jadi dia nggak kaget lah. Gimana sih kamu ini."Intan berpikir sejenak. Mungkin iya, dia kurang keras memberi Nawang pelajaran. Sementara itu di rumah Marsel, Axelle terus menangis karena ASI Nawang semakin seret. Bagaimana tidak, sejak kelakuan Intan hari itu, Nawang jadi jarang makan. Kadang dia makan sehari sekali jika Marsel benar-benar sibuk dan pulang larut malam. Dia baru bisa makan dua kali jika Marsel pulang sore. "Kenapa Axelle

    Last Updated : 2025-03-29
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   1. Bertemu Kembali

    "Setelah dilakukan pemeriksaan, bayi ibu mengalami kesulitan bernafas karena penyakit jantung bocor bawaan yang dideritanya sejak lahir. Saya sarankan agar anak ibu segera dioperasi." Ucapan dokter itu membuat Nawang hanya bisa meneguk ludah sendiri. Satu yang membuat kepalanya hampir pecah. Darimana dia bisa mendapatkan uang untuk biaya operasi? "Kira-kira berapa biaya operasinya, Dok?" tanya Nawang dengan sudut mata yang mulai basah. "Mungkin sekitar dua ratus sampai lima ratus juta. Untuk rinciannya, ibu bisa tanya ke bagian resepsionis," jelas dokter itu lagi. Sedangkan Nawang hanya bisa menghela nafas panjang. "Maaf, Bu, apa ibu punya BPJS?" Dokter tersebut mencoba memberikan solusi.Nawang menggeleng pelan, "Nggak punya, Dok.""Wah ... sayang sekali, Bu. Padahal jika ibu punya, itu bisa sedikit meringankan biaya operasi. Setidaknya mungkin bisa diusahakan untuk dicover separuhnya. Suami ibu kemana? Mungkin bisa dibicarakan dengan suami lagi soal saran saya ini."Nawang merasa

    Last Updated : 2025-01-27

Latest chapter

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   25. Ancaman dari Intan

    "Gimana si pengasuh cucumu itu sudah pergi belum dari rumah anakmu?" tanya Maria saat tidak sengaja bertemu dengan Intan saat berbelanja di supermarket. "Belum. Aku juga bingung. Pusing mikirnya," jawab Intan sambil memegangi kepalanya. "Kurang kejam kali kamu.""Aku sudah ambil jatah makan dia. Aku tukar pakai tahu atau tempe mentah sepotong. Tapi dia nggak ngeluh apa-apa tuh.""Ngapain kamu tuker segala? Ambil aja nggak usah dituker. Ya dia nggak akan ngeluh. Orang masih ada makanan yang bisa dimakan. Tahu tempe kan udah makanan dia sehari-hari. Jadi dia nggak kaget lah. Gimana sih kamu ini."Intan berpikir sejenak. Mungkin iya, dia kurang keras memberi Nawang pelajaran. Sementara itu di rumah Marsel, Axelle terus menangis karena ASI Nawang semakin seret. Bagaimana tidak, sejak kelakuan Intan hari itu, Nawang jadi jarang makan. Kadang dia makan sehari sekali jika Marsel benar-benar sibuk dan pulang larut malam. Dia baru bisa makan dua kali jika Marsel pulang sore. "Kenapa Axelle

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   24. Daging Wagyu

    "Oh ... itu. Iya aku suka kok. Suka banget malahan. Dulu suamiku waktu masih hidup sering beliin aku itu," jawab Nawang santai. "Hah? Aku nggak salah dengar? Katanya miskin. Kok suaminya sering beliin dia caviar? Kerja apa suaminya?" batin Marsel sendiri. "Bagus lah. Jadi nggak buang-buang makanan," lanjut Marsel. "Aku nggak pernah buang-buang makanan. Makan apapun selalu aku syukuri. Walaupun sekedar caviar."Marsel kembali terperangah. "Dia bilang 'sekedar'? Ini sebenarnya dia lagi bercanda atau bicara jujur sih? Tapi kalau dari wajah dia, dia kayak lagi serius. Cuma ...""Kenapa? Kok malah bengong?" tanya Nawang."Enggak apa-apa kok," jawab Marsel gelagapan."Lagian aku juga bosen, Sel, makan daging melulu. Jadi sekali-kali makan caviar nggak apa-apa lah.""Emang kamu kira itu makanan harganya murah? Itu lebih mahal dari daging tau. Kalau kamu minta aku beliin caviar tiap hari ya bangkrut aku," gerutu Marsel dalam hati. Sebenarnya dia juga heran dengan Nawang. Biasanya jarang a

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   23. Salah Paham

    "Apa kamu bilang? Rakus? Eh ... denger ya. Aku memang miskin, Sel. Tapi aku nggak mungkin jadi seperti yang kamu tuduhkan." Nawang membela diri sambil berkacak pinggang. "Terus siapa yang ngabisin buah di sini kalau bukan kamu?" tuduh Marsel sambil menunjukkan kulkas yang telah kosong. Nawang mengangkat bahu. "Ya mana aku tahu," jawabnya.Sejenak Nawang berpikir apa mungkin ibunya Marsel yang mengambil semua buah di dalam kulkas? Tapi untuk apa? Bukannya dia bisa beli sendiri. Bahkan beli se-penjualnya sekali pun dia mampu. Untuk apa susah-susah mencuri buah di rumah anaknya?"Apa ada orang yang masuk ke rumah ini?" tanya Marsel lagi. Dia tampak berpikir keras. "Ada," sahut Nawang dengan cepat. "Siapa?" Marsel mengeryit. "Mamamu. Siapa lagi kalau bukan dia," jawab Nawang. Marsel diam sejenak. Dia memikirkan hal yang sama dengan Nawang. Apa mungkin mamanya yang mengambil semua buah itu? Apa mamanya sedang kedatangan tamu mendadak sehingga dia tidak sempat pergi ke supermarket?"A

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   22. Dibilang Rakus

    Intan membuka bungkus makanan tersebut. Bibirnya mengerucut melihat caviar bersanding dengan roti, telur dan kentang. Marsel juga menyiapkan buah di dalam kulkas seperti kiwi dan anggur ruby. Intan membawa semuanya tanpa menyisakannya untuk Nawang. "Marsel sudah gila. Pembantu saja dikasih makan seenak ini." Intan mendumel sendiri "Kenapa nggak dibeliin nasi pecel saja sih. Orang miskin kok dikasih makanan semahal ini. Emang ususnya nggak kaget apa?"Intan menutup kembali makanan tersebut dan menyimpannya di lemari makan. Kemudian buah-buahan hasil curiannya juga dia masukkan ke dalam kulkas. "Tapi lumayan lah. Aku jadi nggak perlu masak dan punya banyak stok buah di dalam kulkas. Ide teman-temanku brilian juga." Intan tersenyum puas sembari membayangkan wajah Nawang yang pasti kaget melihat jatah makanannya hilang tak tahu kemana. Sementara itu, di rumah Marsel, Nawang terkejut melihat lemari makan yang biasa penuh oleh makanan tiba-tiba kosong. Hanya ada sepotong tempe mentah dis

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   21. Mencuri Makanan Nawang

    Pagi ini, Intan sudah berpakaian bagus, mengenakan set perhiasan yang biasanya hanya dia simpan di dalam lemari dan bau parfum yang menguar dari tubuhnya serasa menusuk hidung. Hal itu sontak mengundang pertanyaan di kepala suaminya. "Tumben udah dandan cantik. Nggak sidak ke rumah Marsel hari ini? Atau masih ngambek sama Marsel gara-gara kemarin?" tanya suaminya sambil duduk di meja makan sambil menikmati segelas susu hangat. "Nggak. Hari ini aku nggak ke sana. Aku ada acara sama teman-teman sosialitaku," jawabnya sambil menyambar roti tawar dan mengoleskan selai kacang di atasnya. "Pantesan itu perhiasan setoko dipakai semua," seru suaminya lagi."Iya lah. Sayang punya berlian kalau cuma disimpan.""Jadi kalian mau kumpul-kumpul apa mau saling pamer perhiasan?""Apa sih. Udah diam saja. Kamu nggak akan ngerti soal beginian. Aku pergi dulu. Assalamualaikum," pamit Intan. "Waalaikumsalam."Intan mempercepat langkah menuju mobil sambil sesekali melirik jam tangan mahal di pergelan

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   20. Sumpah Intan

    "Pak Marsel, sepertinya anak Anda ini mengalami alergi susu sapi. Apa dia habis diberi susu formula?" tanya dokter. Marsel lalu menatap mamanya. "Iya, Dok. Pengasuhnya yang ngasih susu formula ke cucu saya," jawab Intan langsung. "Bohong, Dok. Bukan saya yang ngasih Axelle susu formula. Tapi neneknya sendiri." Nawang membela diri. Dia tidak terima difitnah di depan Marsel dan dokter. "Halah ... ngaku aja, Nawang. Kamu pasti punya niat jelek kan ke cucu saya," desak Intan. "Pak Marsel, Anda harus percaya dengan saya. Saya nggak mungkin ngasih susu formula ke Axelle. Memangnya bagaimana caranya saya beli susu formula? Pakai daun? Uang satu rupiah saja saya nggak punya." Nawang berbicara apa adanya. "Sudah ... sudah. Saya nggak mau tahu juga siapa yang ngasih. Nanti kalian selesaikan sendiri di rumah. Sekarang susunya di stop ya. Kasihan ini bayinya juga diare lho," terang dokter. Kedua perempuan itu mengangguk bersamaan. "Ini sudah saya resepkan obat untuk ditebus di apotek ya. Se

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   19. Aksinya Ketahuan

    "Ibu kasih Axelle apa?" hardik Nawang. Dia takut jika Marsel memarahinya dan mengira ini adalah ulah dirinya. Padahal apa yang terjadi pada anaknya adalah akibat dari ulah ibunya. Jika ditanya kenapa Nawang sampai berani membentak ibunya Marsel, itu karena dia sudah hampir kehabisan kesabaran menghadapi perempuan itu. Ada saja ulahnya yang membuat Nawang meradang. "Eng ... enggak kasih apa-apa," jawab Intan gelagapan sambil berusaha menyembunyikan botol susu di belakang punggungnya. "Terus itu apa? Apa yang ibu sembunyikan di balik punggung itu?" tunjuk Nawang. Spontan, Intan langsung menjatuhkan botol itu ke atas lantai. "Nggak apa-apa kok," elaknya lagi. Tapi Nawang bergegas mengambil botol susu tersebut. Dia mengambilnya lalu mengangkat botol itu, mengarahkan ke depan wajah Intan. "Ini apa, Bu? Ini botol susu kan? Kenapa ibu kasih Axelle susu diam-diam?" Nawang mulai geram. Bukan karena dia tidak menghormati Intan sebagai nenek dari Axelle. Tapi di sini, semua tentang Axelle a

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   18. Petaka Susu Formula

    "Aku nggak akan kasih dia susu formula," jawab Marsel dengan tegas. "Kamu ini papa yang pelit banget sama anak. Kasihan sekali anakmu. Hanya minum ASI yang nggak berkualitas dari si Nawang," ucapnya sambil menatap Nawang dengan bengis. "Maaf, Bu, tapi setahu saya nggak ada yang namanya ASI yang nggak berkualitas. Semua ASI itu bagus," jawab Nawang. Dia ikut geram dengan kalimat-kalimat yang ibunya Marsel lontarkan. "Tahu apa kamu soal anak? Punya anak satu aja mati. Sok-sokan ngajari aku soal tumbuh kembang anak."Nawang tersentak. Perasaannya hancur seketika bagai dihantam benda keras. Tapi Nawang berusaha menahan air matanya agar tidak turun. Dia pantang terlihat menangis di depan perempuan itu. Perempuan yang tidak punya empati. "Mama!" hardik Marsel. Intan langsung diam. Matanya beralih menatap ke arah lain. Tapi hatinya mendendam hebat. Sekarang Marsel bahkan sudah berani membentaknya demi membela Nawang. "Kalau mama nggak ada keperluan di sini, lebih baik mama pulang. Kita

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   17. Tak Boleh Jatuh Cinta Lagi

    "Nggak. Aku nggak boleh jatuh cinta lagi sama Marsel. Kita ini beda kasta. Bisa kesurupan nanti mamanya kalau kita balikan," batin Nawang. Namun matanya tidak lepas menatap Marsel yang duduk di depannya. Ada perasaan aneh yang mulai tumbuh. Tapi Nawang tidak mau menanggapi terlalu jauh. Lelaki itu tetap bersikap sedingin kulkas. Dia memang mengajak Nawang pergi makan berdua, namun mereka tidak banyak mengobrol. Marsel lebih banyak diam dan sibuk dengan handphonenya sendiri. Sedikit-sedikit angkat telepon. Persis seperti akting orang penting dalam sinetron. Entah apa saja yang sedang di urus. Nawang sendiri kurang paham dengan pekerjaannya. Setelah mengakhiri sebuah panggilan, Marsel lekas duduk dan menyantap makanannya. Sedangkan Nawang masih sibuk menenangkan Axelle yang rewel. "Kamu nggak makan?" tanya Marsel pada Nawang. "Kamu nggak lihat anakmu lagi rewel?" balas Nawang geram. Baginya pertanyaan Marsel terdengar konyol. Mana mungkin dia bisa makan sementara bayi itu sedang re

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status