"Aku ada rencana buat memancing Eliza keluar dari persembunyiannya," kata Victor dengan nada penuh percaya diri.Komisaris John menyilangkan tangan di dadanya, wajahnya serius. "Aku percayakan semuanya padamu, Victor. Tapi ingat, jangan sampai gagal lagi. Kau tahu kan, apa akibatnya kalau ini berantakan?"Victor hanya tersenyum tipis, sedikit geli dengan ancaman itu. Dia sendiri masih ragu apakah Eliza benar-benar Letnan Quenza atauhanya orang lain yang menjadi alat dari pihak yang lebih besar. Namun, dia tidak akan membiarkan keraguan menghalangi langkahnya."Tenang saja," jawab Victor santai. "Kalau Eliza memang Quenza, aku akan pastikan dia tidak punya tempat untuk kabur. Dan kalau ternyata dia cuma boneka pihak lain... ya, aku akan menghabisinya juga. Kali ini, aku akan bereskan semuanya sampai ke akarnya."Komisaris John mendekat, menatap Victor dengan tajam. "Bagaimana caramu memastikan itu? Kau punya rencana, kan?"Victor menyeringai, matanya menyipit penuh perhitungan. "Kelvi
Eliza langsung menutup telepon dengan tangan gemetar setelah mendapatkan informasi penting tentang rencana penculikan Kelvin. Wajahnya tegang, namun fokus. Dia segera menghubungi anak buah Antonio, memberikan perintah singkat namun tegas untuk melindungi Kelvin dengan segala cara."Ada apa, Eliza?" tanya Diego dari belakang, nada suaranya dipenuhi rasa ingin tahu dan kekhawatiran."Mereka berencana menculik Kelvin," jawab Eliza cepat tanpa menoleh."Kapan ini terjadi? Apa yang kau tahu?" tanya Diego lagi, mencoba memahami situasi.Eliza menatapnya sekilas, matanya penuh ketegangan. "Tidak ada waktu untuk penjelasan panjang! Aku harus pergi sekarang juga!" katanya tegas sambil mengambil tas kecilnya.Dia berlari keluar rumah tanpa menunggu respons dari Diego, langkahnya penuh determinasi. Diego, yang masih kebingungan, segera mengejarnya. "Eliza, tunggu! Apa rencanamu? Setidaknya biarkan aku ikut!"Namun, sebelum Diego berhasil mendekat, Eliza sudah masuk ke dalam mobil hitamnya dan me
“Dokter! Tolong istriku!” Diego berteriak panik, mendorong brankar Eliza yang penuh luka ke ruang IGD. Nafasnya tersengal-sengal, dadanya berdebar kencang melihat kondisi Eliza yang tidak sadarkan diri.“Bapak tunggu di luar, kami akan segera menangani,” kata seorang perawat sebelum menutup pintu ruangan.Diego terdiam di depan pintu sejenak, masih memegangi kepala sambil menatap kosong. Dengan langkah berat, ia berjalan menuju kursi ruang tunggu dan langsung duduk, mencoba menenangkan dirinya yang tidak karuan. Tangannya mengepal erat, berusaha meredam emosi yang campur aduk.“Yoona…” gumamnya lirih sambil menggelengkan kepala. Ia tak habis pikir, bagaimana wanita yang dulu begitu memikat hatinya bisa berubah sebrutal ini. “Bagaimana aku bisa terlibat dengan orang seperti dia?” Diego bertanya pada dirinya sendiri, rasa sesal bercampur marah menghantam pikirannya.Pikirannya lalu teralih ke Miko. Anak kecil itu, dengan senyum cerianya yang selalu mengingatkan Diego akan sesuatu yang t
Sesampainya di rumah Renzo, Diego langsung mengetuk pintu dengan keras, tidak sabar menunggu. Ketukan demi ketukan, hingga akhirnya pintu terbuka. Renzo dan Isabel berdiri di sana, menatap Diego dengan tatapan heran."Diego?" Renzo mengangkat alis. "Ada apa kau datang malam-malam begini?"Diego menarik napas dalam, mencoba menahan emosinya. "Aku nggak akan basa-basi. Aku datang untuk memperingatkanmu."Renzo menyilangkan tangan di dadanya, sikapnya santai tapi penuh sinis. "Peringatan apa? Kau pikir aku peduli?"Diego mendekat, menatap tajam. "Ada yang berencana menculik putramu."Renzo tertawa pendek, nadanya penuh ejekan. "Aku pikir cuma istrimu yang aneh, ternyata kau juga ikut-ikutan delusional."Diego langsung mengepalkan tangan, menahan amarahnya. "Hati-hati bicaramu, Renzo."Renzo mendekat, menatap Diego tanpa rasa takut. "Kalau kau cuma mau omong kosong seperti ini, lebih baik kau pergi. Aku nggak percaya satu pun kata-katamu."Diego mendekat lebih lagi, suaranya mulai meningg
Di ruang rawat Eliza, suasana terasa tenang, hanya suara televisi yang menayangkan berita terkini mengenai skandal besar yang sedang menggemparkan masyarakat. Antonio duduk di kursi dekat ranjang, menatap layar dengan ekspresi serius.“Berita ini semakin liar,” gumam Antonio sambil melirik Eliza, yang terlihat santai bersandar di bantal.Eliza hanya tersenyum tipis, matanya berbinar penuh kemenangan. “Biarkan saja. Semakin mereka banyak bicara, semakin sulit bagi mereka untuk menyembunyikan kebenaran.”Antonio mengangguk pelan. “Tapi, kau tahu, Eliza, berita ini juga menyeret namamu. Banyak yang tidak percaya, orang jujur seperti letnan Quenza bisa terlibat skandal besar."Eliza tertawa kecil. “Itu bagian dari permainan, Antonio. Bukankah aku sudah mati sebagai letnan Quenza? Sekarang aku, Eliza. Tidak perduli dengan nama besar, yang terpenting putraku aman."Ketika nama besar seperti aku terlibat, semua orang akan memperhatikan. Dan saat perhatian itu tertuju, kebenaran yang sebenarn
Sementara itu, Eliza yang tak sabar menunggu di rumah sakit memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Meski harus dibantu tongkat, langkahnya mantap menuju rumah.Sesampainya di rumah, Eliza tertegun melihat Diego duduk di sofa. Wajahnya lebam, sudut bibirnya pecah, dan ada noda darah kering di kausnya. Pemandangan itu membuat Eliza mengerutkan kening."Diego?" panggilnya, suara Eliza terdengar cemas.Diego membuka matanya yang tampak lelah. Dia mengangkat kepalanya perlahan dan menatap Eliza dengan ekspresi kaget bercampur khawatir."El? Kenapa kau pulang? Bukankah dokter menyuruhmu istirahat di rumah sakit?" tanyanya sambil segera berdiri dan memapah Eliza duduk di kursi.Eliza menghela napas, mencoba mengabaikan rasa nyeri di kakinya. "Aku tidak tahan hanya berbaring di sana. Banyak yang harus aku lakukan, Diego. Kelvin—""Kelvin baik-baik saja," potong Diego, suaranya terdengar tegas. "Kau seharusnya memikirkan kesehatanmu dulu."Eliza menatap Diego lekat-lekat. "Aku bisa menjaga
Eliza mematung di depan pintu kamar Miko, menatap Diego yang duduk di tepi ranjang sambil memegang sebuah foto kecil di tangannya. Wajahnya tampak lelah, dan matanya memerah, seolah dia baru saja menangis. Diego tidak menyadari kehadiran Eliza sampai suara langkah kakinya memenuhi ruangan."Kau rindu Miko?" tanya Eliza lembut sambil melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia mendekati Diego dengan hati-hati.Diego menggelengkan kepala pelan tanpa menatap Eliza. "Bukan itu," gumamnya, suaranya hampir tak terdengar."Lalu kenapa kau menangis?" Eliza duduk di sampingnya.Diego terdiam beberapa saat, seolah mencoba menata pikirannya. Akhirnya, ia menyerahkan sebuah amplop kepada Eliza dengan tangan gemetar. "Ini...," ucapnya pelan.Eliza membuka amplop itu dan menemukan hasil tes DNA di dalamnya. Dahinya berkerut saat membaca dokumen itu, kemudian matanya membelalak. "Ini... hasil tes DNA Miko dan aku?" tanyanya bingung.Diego mengangguk lemah. "Selama ini, aku telah ditipu Yoona,"
Eliza berdiri di depan gerbang rumah Yoona, napasnya terengah-engah setelah berlari mengejar Diego. Ketegangan semakin memuncak saat matanya menangkap sosok Diego yang tengah memeluk Miko dengan erat. Miko, yang tampak ketakutan, dibalut dalam pelukan Diego yang penuh kecemasan.Namun, para penjaga rumah Yoona, yang nampak siap menghadapi situasi ini, segera menghampiri Diego. Mereka memukulnya dengan kasar, berusaha memaksanya menjauh dari Miko. Diego berusaha bertahan, tidak peduli dengan pukulan itu. Mata Eliza tajam menatap adegan itu, perasaan marah dan khawatir bercampur dalam hatinya."Diego!" teriak Eliza, berlari menghampiri mereka dengan cepat.Diego, yang mendengar suara Eliza, sejenak menoleh. Namun satu pukulan telak tepat di dada Diego, membuat ia jatuh tersungkur.Eliza tidak bisa tinggal diam, ia maju menghadapi anak buah Yoona.Satu persatu musuh terpental terkena pukulan Eliza."Kalian cari mati!" Pekik Eliza sambil menodongkan senjata api ke arah mereka semua, matan
Eliza berdiri mematung di bawah langit senja, warna keemasan menyelimuti halaman rumah Renzo. Karangan bunga memenuhi halaman rumah Renzo. membawa aroma kesedihan yang bercampur dengan rasa hormat. Senyum tipis menghiasi bibirnya, tapi matanya memancarkan kesedihan yang sulit disembunyikan."Kau senang? Ini yang kau inginkan?" tanya Diego, suaranya datar, namun sorot matanya penuh tanya.Eliza menoleh perlahan, menatap Diego. Untuk sesaat, tak ada jawaban yang terucap. Kata-kata terasa seperti beban yang sulit diungkapkan. Benarkah ini yang ia inginkan? Dia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya dia harapkan selama ini."Aku tidak tahu, Diego," jawab Eliza akhirnya, suaranya lirih. "Aku hanya menjalani apa yang ada di hadapanku. Takdir ini... bukan pilihanku."Diego menghela napas, matanya menatap jauh ke arah bunga-bunga itu, seolah mencoba membaca makna yang tersembunyi di baliknya. "Takdir memang bukan pilihan, El. Tapi apa yang kau lakukan setelahnya, yang akan menentukan segalanya
Di tengah keheningan mencekam, hanya terdengar suara sirene mobil polisi dan percakapan samar melalui radio petugas. Asap tebal membubung dari reruntuhan gedung, menyelimuti area dengan aura suram dan menyesakkan.Diego dan Renzo terduduk lemas di tanah, wajah mereka memancarkan keputusasaan yang mendalam. Namun, di tengah keputusasaan itu, mereka menangkap gerakan kecil di rerumputan yang bergoyang tak jauh dari mereka."Apa itu?" Renzo bergumam, matanya penuh harapan bercampur rasa tak percaya.Tiba-tiba, sebuah penutup logam perlahan terangkat dari bawah tanah. Asap mengepul keluar dari dalam, dan detik berikutnya, kepala Eliza menyembul keluar, wajahnya berlumur darah dan debu, matanya penuh tekad meski lelah."Eliza!"Diego dan Renzo berteriak serempak, seruan mereka memecah keheningan. Dengan cepat, mereka berlari ke arahnya, tak peduli dengan luka di tubuh mereka.Mereka membantu Eliza keluar dari pintu bawah tanah. Eliza terbatuk-batuk, tubuhnya limbung, tetapi senyumnya tipis
"Ibu!" teriak Kelvin, suaranya penuh kebahagiaan dan kelegaan."Mama!" seru Miko, matanya bersinar cerah meskipun situasi masih mencekam.Eliza menatap kedua anaknya dengan lembut. "Kalian baik-baik saja?" tanyanya, khawatir.Keduanya mengangguk dengan senyum kecil, meskipun masih tampak cemas."Kita harus pergi dari sini!" kata Diego tegas, wajahnya serius."Victor sudah memasang bom di gedung ini!" Sela Renzo.Kekhawatiran langsung melintas di mata Eliza. Waktu mereka sangat terbatas. "Kalian bawa anak-anak!" perintah Eliza, sambil menyentuh bahu Diego. "Aku akan melindungi kalian. Cepat!"Diego tanpa ragu menggendong Miko, dan Renzo segera menggendong Kelvin. Dengan langkah cepat dan hati-hati, mereka berlari keluar dari ruangan, menuju pintu utama. Eliza tetap berada di belakang, memastikan mereka aman, sembari mempersiapkan diri untuk menghadapi apapun yang ada di depan. Tembakan terdengar di kejauhan, namun Eliza hanya fokus pada satu tujuan, melindungi keluarganya dan memastika
Damon tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya memberi isyarat kepada pria berjas hitam di belakangnya. Tanpa sepatah kata pun, pria itu berjalan ke meja dan menekan tombol yang memulai proses di layar monitor. Monitor besar itu menyala, menampilkan berbagai gambar dan data yang berpindah dengan cepat."Lihatlah," kata Damon, suara rendah namun penuh ketenangan. Dia memperhatikan ekspresi Eliza yang berubah saat layar memperlihatkan rekaman markas yang meledak, diikuti dengan gambaran tubuh Letnan Quenza yang terluka parah, tergeletak tanpa nyawa. Namun, di detik-detik terakhir, seorang pria bertubuh kekar, salah satu anak buah Damon, muncul membawa tubuh Letnan Quenza yang sekarat ke rumah sakit terdekat. Proses transfer memori yang menegangkan terlihat jelas di layar, alat-alat medis canggih digunakan untuk memindahkan semua ingatan Quenza ke tubuh Eliza yang telah dinyatakan mati."Tidak mungkin!" teriak Eliza, wajahnya berubah kaget dan marah. Dengan cepat, ia mengangkat senjata
Sesampainya di pusat kota, Eliza dengan cekatan menyembunyikan senjatanya di balik jaket panjang yang ia kenakan. Diego dan Renzo melakukan hal yang sama, memastikan tak ada yang mencurigai mereka.Mereka melangkah keluar dari mobil yang diparkir di sudut jalan, tubuh mereka sudah bersih dari luka-luka yang sempat mereka rawat seadanya. Hiruk-pikuk kota menyambut mereka, dengan keramaian manusia yang memadati jalan untuk merayakan hari kemerdekaan Mazatlán.Karnaval Mazatlán berlangsung meriah. Jalanan penuh dengan parade warna-warni, musik tradisional mengalun keras, dan sorak-sorai warga menambah semarak suasana. Polisi tampak berjaga di setiap sudut kota, mengawasi kerumunan dengan ketat.Eliza mengedarkan pandangannya dengan hati-hati. Matanya menelusuri setiap wajah di kerumunan, setiap gerakan yang terasa sedikit janggal. Renzo dan Diego berjalan di belakangnya, sikap mereka sama waspadanya.Namun, suasana meriah itu berubah dalam sekejap.DUAR!Sebuah ledakan keras mengguncang
Mobil melaju dengan kecepatan maksimal membuat jalanan sepi di depan terasa semakin sempit. Diego mengepalkan tangan di setir, matanya fokus ke mobil musuh yang melaju dari arah berlawanan."Aku akan adu banteng dengan mereka!" serunya."Diego, kau gila! Kita bisa mati!" Renzo berteriak, suaranya penuh kepanikan. la memegang dashboard dengan erat, keringat mengucur di wajahnya."Menunduk!" perintah Diego tanpa ragu, suaranya tegas.Eliza langsung merunduk, tapi matanya tetap memperhatikan situasi, rahangnya mengatup rapat. Sementara Renzo hanya bisa berteriak lagi. "Diego! Aku belum mau mati!"Mobil Diego dan musuh semakin mendekat, jarak di antara mereka hanya hitungan detik.BRAK!!Tabrakan keras terjadi. Mobil Diego menghantam mobil musuh dengan kekuatan penuh. Bunyi logam beradu memekakkan telinga, pecahan kaca beterbangan ke segala arah. Benturan itu begitu hebat hingga mobil Diego terlempar ke luar jalur, berputar beberapa kali di udara sebelum menghantam tanah dengan keras.Tub
Eliza duduk di kursi belakang mobil, pandangannya tajam menatap ke luar jendela. Diego mengemudi dengan fokus, sementara Renzo duduk di kursi penumpang depan, menggenggam senjatanya dengan cemas. Ketiganya telah siap dengan senjata masing-masing, meninggalkan markas Antonio dan Daniel tanpa banyak bicara. Eliza tahu mereka tak bisa terus melibatkan orang lain dalam urusannya. Ia hanya berjanji akan menghubungi Antonio jika benar-benar dalam keadaan terdesak.Mobil melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya yang ramai oleh kendaraan lain. Tujuan mereka adalah perbatasan kota, tetapi perjalanan itu akan memakan waktu berjam-jam. Suasana di dalam mobil terasa tegang, dan setiap suara dari luar terdengar lebih nyaring dari biasanya."Sepertinya kepergian kita ada yang membocorkannya lagi," kata Eliza tiba-tiba, matanya menatap kaca spion dengan waspada.Diego melirik spion tengah. "Kau yakin?"Renzo, yang penasaran, menyembulkan kepalanya keluar jendela, mencoba memastikan. "Sial! Tiga
Dari kejauhan, suara deru mobil mendekat, memecah keheningan malam yang hanya diisi oleh gemuruh api dari puing-puing markas Victor. Eliza, Diego, dan Renzo segera bangkit, tubuh mereka menegang dengan kewaspadaan tinggi.Sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat mereka. Pintu mobil terbuka, dan dua pria muncul dari dalam—Antonio dan Daniel. Wajah mereka penuh kekhawatiran saat mereka bergegas menghampiri."Eliza, kau tidak apa-apa?" tanya Daniel, suaranya penuh kekhawatiran.Diego dengan cepat memotong, suaranya terdengar kesal. "Hei, jangan terlalu banyak bicara. Istriku terluka. Cepat bantu!"Daniel hanya mengangguk, memahami situasi tanpa membantah. Bersama Antonio, mereka membantu Eliza ke mobil, sementara Diego dan Renzo tetap berada di sisi Eliza, memastikan dia tidak semakin terluka.Di perjalanan, Eliza hanya diam, mencoba menahan rasa sakit yang menjalar dari lukanya. Renzo, yang duduk di sampingnya, sesekali melirik dengan penuh perhatian, sementara Diego menggenggam tanga
Dentuman tembakan bergema, memantul di sepanjang koridor sempit dengan dinding-dinding beton. Eliza, Diego, dan Renzo bersembunyi di balik pilar besar, dada mereka naik turun seiring napas yang tak beraturan. Bau mesiu memenuhi udara, bercampur dengan keringat dan darah."Mereka semakin dekat," bisik Diego, matanya melirik ke arah lorong tempat musuh terus menembakkan peluru secara membabi buta."Diam!" bisik Eliza, wajahnya penuh dengan konsentrasi meskipun bahunya berdarah. Dia mengintip sedikit, cukup untuk melihat posisi musuh tanpa terlalu terekspos.Dor! Dor! Peluru menghantam pilar, serpihan beton terbang ke segala arah, memercik seperti hujan kecil."Kita tidak bisa terus di sini," Renzo berkata, tangannya menggenggam pistol erat-erat, suaranya gemetar tetapi penuh tekad.Eliza menyeka keringat di dahinya, rasa sakit dari luka tembak di pahanya hampir membuatnya lumpuh, tapi dia menolak menyerah. "Kita akan maju. Aku di depan, kalian di belakangku. Hitung sampai tiga, lalu kit