Rachel duduk di kursi belakang mobil dengan tatapan kosong ke luar jendela. Perjalanan pulang dari rumah ibunya terasa jauh lebih panjang dari yang seharusnya. Hatinya masih diliputi perasaan bersalah, meskipun ia sudah memutuskan untuk memperbaiki kesalahannya.Martin yang sedang duduk di sampingnya tetap diam, dan tidak ada komentar sarkastik seperti biasanya bahkan tidak ada sindiran tajam. Hanya hening, seakan memberinya ruang untuk mencerna semuanya.Rachel menarik napas panjang. โMartinโฆโโHm?โRachel menunduk ragu. Ia ingin mengucapkan terima kasih, tapi rasanya terlalu sederhana dibandingkan dengan semua yang telah Martin lakukan.โAkuโฆโ Rachel akhirnya berkata, โAku akan sering mengunjungi Ibu setelah rumahnya direnovasi.โMartin meliriknya sekilas sebelum kembali menatap jalan. โItu keputusan yang bagus.โRachel menoleh ke arahnya dan memperhatikan ekspresi Martin yang tampak sangat serius namun tetap tenang. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa suaminya hanya peduli pada bi
Rachel duduk di sofa dengan ekspresi penuh kewaspadaan, menatap wanita dan pria dibelakangnya yaitu Leonard yang tampak begitu percaya diri. Martin berdiri tak jauh darinya, matanya tajam menatap tamu tak diundang itu dengan penuh kewaspadaan. โJadi, tawaran apa yang ingin kau berikan padaku?โ tanya Rachel tanpa basa-basi. Wanita itu menyilangkan kakinya, tersenyum tipis. โAku akan langsung ke intinya. Aku tahu kau baru saja kembali mendekati ibumu dan ingin menebus kesalahan masa lalu. Aku juga tahu bahwa kau sekarang mulai mempertanyakan posisimu di rumah tangga ini.โ Rachel mengerutkan kening. โApa maksudmu?โ Wanita itu mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya dan meletakkannya di meja. โDi dalamnya ada sesuatu yang mungkin akan mengubah cara pandangmu terhadap pernikahanmu dengan Martin.โ Martin yang sejak tadi diam, kini melangkah maju dengan ekspresi semakin dingin. โAku tidak suka permainan seperti ini.โ Wanita itu hanya tertawa kecil. โAku tidak bermain, Tuan Martin.
Rachel menatap surat perjanjian di hadapannya. Tangan Leonard terulur, memberikan pena kepadanya, seolah menunggu tanda tangannya tanpa memberi ruang untuk pertimbangan lebih lama. โKau hanya perlu menandatanganinya, Rachel,โ suara Leonard terdengar tenang, tapi matanya tajam, penuh keyakinan. Rachel menggigit bibirnya, jantungnya berdetak lebih cepat. Tawaran ini tampak menggiurkan, tapi ada sesuatu yang membuatnya ragu. Selama ini, ia telah belajar bahwa tidak ada yang benar-benar gratis di dunia ini. โApa kau benar-benar berpikir aku akan langsung menerima ini begitu saja?โ tanyanya, menatap Leonard curiga. Lelaki itu tersenyum tipis. โAku tidak menyangka kau akan mudah percaya, tapi aku juga tahu kau cukup cerdas untuk tidak melewatkan kesempatan ini.โ Rachel mengalihkan pandangannya ke kertas itu lagi. Jika ia menandatangani kontrak ini, maka ia akan memiliki peran besar dalam proyek Leonard. Itu berarti jaminan finansial yang lebih stabil. Namun, mengingat sejarahnya de
Setelah menandatangani kontrak dengan Martin, kehidupan Rachel berubah drastis. Kini, ia tak hanya dikenal sebagai istri seorang pria kaya, tetapi juga sebagai sosok wanita mandiri yang mulai membangun namanya sendiri.Hari-harinya dipenuhi dengan kesibukanโmulai dari pertemuan bisnis, sesi pemotretan, hingga acara-acara sosial yang memperkenalkannya pada banyak orang berpengaruh. Semua ini terasa begitu cepat, seolah-olah ia telah memasuki dunia yang benar-benar baru.Namun, di balik semua kesuksesan ini, ada perasaan yang terus mengganjal di hatinya. Rumah ibunya sudah direnovasi sesuai rencana, tetapi setiap kali ia mengingat senyum ibunya yang enggan meninggalkan rumah lama itu, Rachel merasa ada sesuatu yang belum tuntas.Sore itu, Rachel sedang duduk di depan meja rias di ruang ganti setelah sesi pemotretan. Ia menatap bayangannya di cerminโwajahnya tampak sempurna dengan riasan tebal, tetapi hatinya terasa kosong. Ia menghela napas panjang dan meraih ponselnya.Ia ingin menghub
Setelah acara makan malam berakhir, Rachel dan Martin kembali ke rumah. Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Begitu memasuki kamar, Rachel langsung melepas sepatu hak tingginya dan berjalan ke balkon. Udara malam yang sejuk menyentuh wajahnya, memberikan sedikit ketenangan di tengah pikirannya yang penuh dengan pertanyaan.Martin masuk beberapa saat kemudian, melepas dasinya, lalu duduk di sofa. Ia mengamati Rachel yang berdiri diam menatap langit.โKau terlihat lelah,โ kata Martin.Rachel menoleh sebentar sebelum kembali memandangi bintang-bintang. โAku hanya berpikir.โMartin berdiri dan berjalan mendekatinya. โTentang apa?โRachel menghela napas panjang. โTentang semua iniโฆ Hidupku berubah begitu cepat. Kadang aku merasa kehilangan arah.โMartin menatapnya dengan saksama. โApa kau menyesal?โRachel menggeleng pelan. โBukan menyesal. Aku hanyaโฆ merasa ada sesuatu yang tertinggal. Aku tidak tahu apakah jalan yang kupilih ini benar atau tidak.โMartin menyandarkan tubuhnya di p
Rachel duduk di depan meja riasnya, menatap bayangannya di cermin. Matanya sembap akibat kurang tidur, pikirannya masih dipenuhi oleh percakapannya dengan ibunya kemarin. Ia sudah memutuskan untuk lebih sering mengunjungi ibunya dan memastikan rumahnya direnovasi, tapi ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya.Martin masuk ke kamar, mengenakan kemeja yang sudah dikancingkan hingga leher. Ia memperhatikannya sejenak sebelum berkata, โKau terlihat lelah.โRachel menghela napas. โAku hanya banyak berpikir.โMartin berjalan mendekat, berdiri di belakangnya. โTentang ibumu?โRachel mengangguk. โAku tahu dia ingin tetap tinggal di sana, tapi aku tidak bisa berhenti khawatir.โMartin menyandarkan tangannya ke meja rias, menatap Rachel melalui cermin. โItu wajar. Kau baru sadar selama ini kau terlalu sibuk dengan dirimu sendiri, dan sekarang kau ingin menebusnya.โRachel mengalihkan pandangan. โKau tidak perlu mengatakannya seperti itu.โโAku hanya mengatakan yang sebenarnya.โRachel tahu
Rachel duduk di tepi tempat tidurnya, pikirannya terus berputar sejak pertemuannya dengan Clara tadi siang. Kata-kata wanita itu masih terngiang di kepalanya: โJika kau ingin tahu sesuatu tentang masa lalu, aku selalu ada.โ Apa maksudnya? Bukankah masa lalunya sudah jelas? Rachel tumbuh dalam keluarga sederhana, kemudian menikah dengan Martin dan menjalani kehidupan yang jauh lebih baik secara finansial. Apa yang bisa disembunyikan dari kehidupannya yang sudah ia jalani sendiri? Martin masuk ke kamar dengan ekspresi serius. Ia sudah memperhatikan perubahan sikap Rachel sejak Clara pergi. โKau belum tidur?โ tanyanya sambil melepas jas dan meletakkannya di sofa. Rachel menggeleng. โAku tidak mengantuk.โ Martin berjalan mendekat, berdiri di depannya. โKau masih memikirkan Clara?โ Rachel menatap suaminya sejenak, lalu menghela napas. โAku hanya tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba muncul. Selama ini aku tidak pernah mencarinya, dan dia juga tidak pernah mencoba menghubungiku.โ
Keesokan paginya, Rachel duduk di dalam mobil dengan perasaan campur aduk. Hatinya berdebar saat ia melirik layar ponselnya,pesan dari Clara masih terpampang jelas di sana. โAku sudah menunggumu mengatakan itu. Kita bertemu besok di kafe biasa pukul 10 pagi.โ Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya memberi isyarat pada sopirnya untuk berangkat. Saat mobil melaju di jalanan kota, pikirannya kembali pada ibunya. Wanita itu jelas menghindari pertanyaannya kemarin. Tapi mengapa? Apa yang sebenarnya ia sembunyikan? Rachel menggenggam jemarinya erat. Ia harus mencari tahu. Ketika Rachel tiba di kafe yang telah disepakati, ia langsung melihat Clara duduk di sudut ruangan. Wanita itu mengenakan blus putih sederhana dan tampak begitu tenang, seolah ia sudah tahu Rachel pasti akan datang. Rachel berjalan mendekat, lalu duduk di hadapannya. โKau datang lebih awal.โ Clara tersenyum tipis. โAku sudah tahu kau pasti tidak akan bisa menahan rasa penasaranmu.โ Rachel menatapnya tajam
Sudah hampir dua minggu sejak Dali Malik mulai bekerja di butik Rachel. Sejauh ini, kinerjanya tidak mengecewakan. Ia bekerja tepat waktu, mengantarkan paket tanpa keluhan, dan selalu bersikap sopan kepada Rachel maupun staf lainnya.Rachel merasa lega karena beban pekerjaan semakin terbagi. Kehadirannya memungkinkan Rachel untuk lebih fokus mengelola desain dan produksi pakaian, juga menjalin kerja sama dengan vendor-vendor baru. Outlet yang ia kelola di salah satu mal ternama Jakarta kini menjadi sorotan banyak pelanggan. Bisnis berjalan lancar, dan setiap hari orderan online terus membludak.Namun, ada satu hal yang perlahan-lahan mulai mengganggu pikirannya. Beberapa kali, ia menangkap tatapan aneh dari Dali. Bukan tatapan menggoda atau tidak sopanโmelainkan seperti tatapan seseorang yang menyimpan rahasia. Tapi Rachel selalu mengabaikannya. Ia mengira itu hanya prasangkanya saja.Suatu sore, Martin datang menjemput Rachel sepulang kerja. Saat ia menunggu di parkiran belakang mal,
Seiring berjalannya waktu, kondisi Rachel semakin membaik. Ia rutin meminum obat yang diresepkan dokter, dan ingatannya perlahan mulai stabil. Rasa pusing yang sering menyerangnya kini berkurang, dan ia mulai merasa seperti dirinya yang dulu. Setiap pagi, Martin selalu mengingatkan Rachel untuk tidak melewatkan obatnya. Ia bahkan menyusun alarm di ponselnya agar tak ada satu pun dosis yang terlewat. Perhatian Martin membuat Rachel semakin yakin bahwa suaminya adalah pria terbaik yang pernah hadir dalam hidupnya. Ia memandangi wajah Martin yang tengah sibuk di ruang kerja. Walaupun lahir dari keluarga kaya raya, pria itu tidak pernah memandangnya rendah. Martin selalu menerima dirinya apa adanya, bahkan ketika ia dulu sempat lupa diri dan berubah menjadi orang yang berbeda. Rachel menggigit bibirnya, merasa sedikit bersalah. Dulu, ia terlalu sibuk menikmati kemewahan dan mengabaikan banyak hal penting, termasuk suaminya sendiri. Tapi sekarang, ia ingin menjadi pribadi yang lebih b
Pagi itu, Martin membangunkan Rachel lebih awal dari biasanya.โRachel, bangun. Kita harus ke rumah sakit hari ini,โ katanya lembut sambil menggoyangkan bahu istrinya.Rachel mengerjap pelan, matanya masih terasa berat. Kepalanya berdenyut, dan sebagian ingatannya masih terasa kabur. Ia sempat lupa bahwa hari ini adalah jadwal kontrolnya.Martin membantu Rachel duduk di tempat tidur. โKita harus pastikan kondisimu benar-benar stabil. Setelah itu, kamu bisa kembali minum obat dengan teratur.โRachel mengangguk lemah. Ia tahu Martin sangat mengkhawatirkannya. Sejak kecelakaan itu, suaminya semakin protektif, bahkan ia merasa Martin lebih sering memperhatikannya dibanding dirinya sendiri.Setelah tiba di rumah sakit, dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh. Rachel menjalani beberapa tes untuk memastikan kondisinya, terutama mengenai ingatannya yang masih belum sepenuhnya pulih.โSejauh ini, kondisinya cukup stabil,โ kata dokter sambil menuliskan sesuatu di buku catatan medis. โTapi efek
Sejak kepulangannya dari rumah sakit sebulan lalu, Rachel menjalani hari-harinya dengan lebih tenang. Martin kembali fokus pada perusahaannya yang sempat terguncang, sementara ia sendiri lebih banyak beristirahat di rumah, mengikuti saran dokter agar tubuhnya bisa pulih sepenuhnya.Setiap hari, ia rutin mengonsumsi obat yang diresepkan dokter. Namun, pagi ini, sesuatu terasa berbeda. Saat ia membuka laci tempat menyimpan obatnya, botol itu kosong. Rachel terdiam, mencoba mengingat kapan terakhir kali ia kontrol ke rumah sakit.โOhโฆ seharusnya aku kontrol hari ini,โ gumamnya pelan.Namun, tubuhnya terasa terlalu lemas untuk bergerak. Kepala mulai berdenyut perlahan, lalu semakin tajam seiring berjalannya waktu.Sementara itu, Martin baru saja menyelesaikan rapat di kantornya. Setelah sempat absen selama berminggu-minggu karena kecelakaan, ia harus bekerja ekstra keras untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul di perusahaan. Beberapa orang bahkan mencoba mengambil kesempatan saat diri
Hari kedua di rumah sakit, Rachel mulai menyadari sesuatu yang mengganggu dirinya. Ada bagian dari ingatannya yang terasa kaburโtidak sepenuhnya hilang, tetapi sulit dijangkau. Saat ia berusaha mengingat masa lalu, kepalanya terasa berat, seolah ada kabut yang menghalangi pikirannya.Ia masih mengenali Martin, masih ingat siapa dirinya, dan masih memahami sebagian besar kehidupannya. Tapi ada detail-detail kecil yang terasa hilangโseperti kejadian-kejadian tertentu yang seharusnya ia ingat, tetapi kini hanya menyisakan bayangan samar.Rachel mengerutkan kening, mencoba mengingat sesuatu yang spesifik. โMartinโฆ aku merasa ada yang aneh dengan ingatanku. Aku bisa mengingat banyak hal, tapi rasanya tidak setajam biasanya.โMartin, yang sejak tadi duduk di sampingnya, menatap istrinya dengan tenang meski dalam hatinya ia merasa khawatir. Ia tahu sesuatu yang tidak Rachel sadariโdokter telah memberitahunya bahwa benturan yang dialami Rachel cukup serius dan mungkin menyebabkan gangguan mem
Malam di rumah sakit terasa begitu sunyi. Hanya suara detak mesin medis dan langkah kaki suster yang sesekali terdengar di lorong. Rachel masih terbaring di ranjang, sementara Martin duduk di sofa kecil di sampingnya. Matanya memandangi istrinya yang tertidur, namun pikirannya tak tenang.Siapa pun yang berusaha mencelakai mereka pasti memiliki alasan kuat untuk menyembunyikan kebenaran tentang Adrian. Tapi siapa?Ponsel Martin bergetar di atas meja kecil di samping ranjang. Ia mengambilnya dan melihat nama di layar: Nomor Tidak Dikenal.Martin ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab.โHalo?โ suaranya tenang, tapi waspada.Tak ada jawaban di seberang. Hanya suara napas pelan.โHalo?โ ulangnya, kali ini lebih tegas.Lalu, terdengar suara berat yang nyaris berbisik.โBerhenti mencariโฆ atau kau akan kehilangan lebih dari yang kau bayangkan.โSeketika, panggilan itu terputus.Martin merasakan tengkuknya meremang. Ini bukan peringatan biasaโini ancaman.Ia segera berdiri dan berjalan ke lua
Rasa sakit menusuk seluruh tubuh Rachel saat kesadarannya perlahan kembali. Matanya terasa begitu berat, namun ia bisa mendengar suara samar-samar di sekitarnya dan bunyi monitor medis yang berdetak pelan dan suara langkah kaki seseorang.Perlahan, ia membuka matanya. Langit-langit putih dan bau antiseptik memenuhi indranya. Rumah sakit. Ia mencoba menggerakkan tangannya, tetapi rasa nyeri langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya meringis.โRachelโฆโSuara itu. Lembut, penuh kekhawatiran.Rachel menoleh perlahan dan melihat Martin duduk di samping tempat tidurnya. Wajahnya penuh luka dan lebam, namun sorot matanya tetap lembut menatapnya.โKamu sadar,โ katanya, suaranya dipenuhi rasa lega.Rachel mencoba berbicara, namun tenggorokannya begitu kering. Martin langsung menuangkan air ke dalam gelas dan mencoba membantunya untuk minum.โApaโฆ yang terjadi?โ Rachel akhirnya bisa bersuara, meski lemah.Martin menghela napas panjang. โKita telah mengalami kecelakaan. Mobil itu menabra
Pagi itu, yaitu setelah percakapan penuh emosi dengan ibunya, Rachel merasa semakin yakin bahwa dia harus menemukan pria yang dimaksud, yaitu Malik. Orang yang bisa jadi mengetahui lebih banyak tentang Adrian dan masa lalu yang selama ini disembunyikan. Martin, meski ragu, akhirnya setuju untuk ikut serta. Ia tahu betul betapa pentingnya pencarian ini bagi Rachel, dan meski ada rasa khawatir yang menggelayuti dirinya, ia tak bisa membiarkan Rachel melakukannya sendirian.Mereka berdua memutuskan untuk menuju ke daerah yang disebutkan oleh pria misterius di gudangโtempat terakhir Malik terlihat beberapa tahun lalu. Tidak ada petunjuk pasti mengenai keberadaan Malik, namun Rachel merasa bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.Di dalam mobil, suasana sunyi menyelimuti mereka. Rachel melirik Martin, mencoba membaca ekspresinya. Suaminya itu terlihat tegang, memfokuskan perhatian pada jalan yang semakin sepi.โMartin, kamu yakin kita harus melanjutk
Rachel terdiam setelah mendengar kata-kata Pak Surya. Matanya terasa kosong, kosong oleh semua informasi baru yang datang begitu cepat. Apa maksud Pak Surya dengan mengatakan kebenaran ini akan menghancurkannya? Apa yang lebih gelap dari apa yang sudah ia temui? Semua hal yang ia percayai kini terancam hancur.Pak Surya menatapnya dengan raut wajah yang penuh kecemasan. โRachel, aku tidak ingin kau terjebak dalam dunia ini. Dunia yang sudah mengubah hidup banyak orang. Dunia yang menganggap nyawa tak lebih dari sebuah harga yang bisa ditawar.โRachel dengan tegas. โSaya tidak akan mundur begitu saja, Pak. Saya harus tahu apa yang terjadi pada Adrian. Apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu?โPak Surya menghela napas panjang. โMalam ituโฆ bukan hanya Adrian yang menghilang. Ada banyak hal yang terjadi di balik itu. Banyak hal yang tidak pernah seharusnya kamu tahu.โRachel menatapnya intens. โKenapa sekarang, Pak? Kenapa Anda baru bicara sekarang?โPak Surya menundukkan kepala, tampa