MasukIn a whirlwind of deceit and desire, Jasmine's life is turned upside down when her father remarries, setting off a chain of events that includes betrayal by her step-sister Layla and her own boyfriend, Paul. For her mother's treatment, Jasmine becomes a surrogate mother, leading to the birth of twins. Just as she begins to rebuild, billionaire Damon sets his sights on her, igniting a passion neither can deny. Their steamy encounters reveal hidden desires and challenge Jasmine's resolve. Damon's lips brushed against hers, sending shivers down her spine. "Trust me, Jasmine. Let me show you a world of passion and pleasure you've only dreamed of." "Stop it," Jasmine said. Suddenly two sweet buns interrupted their moment, "Mommy, Mommy, Dad is not little child, we are. love us!"
Lihat lebih banyak“Ada apa?” Dahi Okta mengkirut, saat melihat jalanku yang lunglai dengan wajah yang terlihat terkejut bukan main. Aku bahkan tidak bisa menyembunyikannya dengan senyumanku yang sering mereka katakan menenangkan siapa pun yang melihatnya. Aku kalut dengan segudang beban yang tiba-tiba menumpuk dipundakku dan sekuat tenaga mencoba untuk ku sembunyikan dari teman-temanku ini.
Aku tidak tahu harus memulai dari mana, yang pasti setiap kata yang akan ku ucapkan kali ini akan membuat suasana hancur. Tidak ada yang mengatakan bahwa aku tidak boleh menangis atau bersedih untuk saat-saat tersulit ini. Hanya saja, aku tidak suka wajah bahagia mereka berganti dengan iba saat melihatku jatuh. Aku tahu ini hanya pemikiran kerdil seorang wanita yang baru diwisuda beberapa bulan lalu, hanya saja aku merasa ini berat dan aku tidak suka mengatakan seberapa lemahnya diriku saat ini di hadapan mereka.
Sandy tahu perubahan wajahku, tetapi wanita ini mencoba menyemangatiku dengan senyuman. Sungguh, ia sahabatku yang begitu baik dan aku sangat menyayanginya seperti aku menyayangi kak Disa. “Aku dapat telepon dari mama ….” Aku menjeda, mencoba menemukan kekuatan pada suaraku yang mendadak gemetar.
Ini memalukan, sepanjang aku menempuh pendidikan di tempat ini sendiri, jauh dari orang tua. Aku tidak pernah mengeluh, bahkan meminta uang tambahan untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Aku selalu memegang pedoman yang selalu dikatakan oleh ayah, jika kesuksesan itu tercipta karena bekerja keras. Bukan datang dari orang lain, termasuk kekayaan orang tua. Aku mencoba untuk bekerja paruh waktu di luar kelas mata kuliah hanya agar aku bisa menyelesaikan S2ku tanpa membebani orang tua.“Lalu?” Sandy yang tidak sabaran seperti biasanya, ia mencoba menemukan permasalah yang terjadi dari ekspresiku. Biasanya ia begitu peka dengan apa yang ku rasakan, tapi untuk masalah-masalah yang sepele. Tidak dengan masalah keluarga yang benar-benar seperti sebuah goncangan dahysat ini.
“Aku harus pulang,” kataku dengan suara lirih, tak sanggup berbicara banyak. Aku mengalami goncangan dan itu realitanya. Aku pun tidak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang, selain kembali dan mencoba mengatur ulang semuanya yang kacau. Meskipun ini terkesan konyol dan terlalu sok, tapi tidak ada yang bisa mereka andalkan kecuali diriku.
“Kenapa? Papa sakit?” Kali ini Okta yang bertanya, dia juga begitu peka dan perhatian. Aku senang dengan segala perhatiannya, meskipun selamanya itu tidak akan membuat kami bisa bersatu. Dia ada disekitarku, itu sudah lebih dari cukup meskipun aku tidak bisa memilikinya. Namun, setelah semua ini? Apa kami masih bisa saling bertemu?
Aku pun mengangguk. “Ya udah pulang saja. Perlu aku antar?” tawar Bagas dan aku menggeleng. Aku tahu mereka pikir, aku khawatir pada papa karena sakit dan sebenarnya semuanya tidak sesederhana itu. Aku mencoba untuk menguatkan diriku dan mengatakan semua yang terjadi.
“Tidak hanya itu, restaurant yang dikelolah papa semua bangkrut dan menyisahkan hutang. Semua properti disita dan sekarang kami membutuhkan rumah baru. Karena itu, aku sepertinya tidak bisa melanjutkan S2, mereka membutuhkanku.” Akhirnya aku mengatakan apa yang seharusnya dikatakan dan aku tidak sanggup untuk menatap mata mereka. Membayangkan rasa iba yang selalu berusaha untuk ku hindari dari siapa pun.
Hening tercipta di tengah keramaian cafe. Pada akhirnya aku berhasil merusak suasana makan malam ini. “Kamu tidak harus takut, aku bisa bantu kamu.” Aku mendongak dan melihat mata coklat itu menatapku. Okta, selalu menawarkan segudang pertolongan kapan pun dan dimana pun. Teman kecil sekaligus sahabatku ini, kenapa harus selalu melakukan hal yang sia-sia?
“Aku bisa mengatasinya sendiri,” tolakku dan Okta yang menyadarinya tidak akan melanjutkan ucapannya lagi. Biasanya ia bisa berhati-hati. Namun, saat ini siapa yang tidak terkejut mendengar berita ini? Jika mereka semua terkejut, aku berkali-kali lipat terkejut.
Sandy dan Bagas seketika membungkam mulut mereka. Nampak berpikir, untuk memulai kata-kata yang pas agar tidak menyinggungku. “Dara, aku nggak tau harus ngomong apa sama kamu … Yang pasti, kamu harus tegar. Jika kamu butuh sesuatu, bisa mengatakan pada kami.” Pada akhirnya, Sandy yang selalu bisa mengambil jalan tengah di antara harga diriku dan simpatik mereka. Aku benar-benar ingin berterima kasih kepadanya untuk ini.
Aku mencoba untuk tersenyum. “Hari ini aku harus kembali,” kataku yang tidak bisa berpikir untuk memperlambat pulang. Beberapa detik saja, pikiranku sudah kacau. Bercampur dengan kecemasan yang tidak berujung. Membayangkan mama dan kak Disa yang tidak bisa hidup susah harus tinggal disebuah rumah kecil dan merawat papa yang terkena stoke terus membayang di pikiranku. Bagaimana caraku mengatasi semuanya?
“Bagaimana kalau aku antar?” Okta lagi-lagi menawarkan dirinya.
Saat aku hendak menolaknya, Sandy menatapku. “Uda malam, bahaya kalau pulang sendirian.” Aku tidak bisa mengatakan apa pun kecuali mengangguk dan setelah itu kami pergi bersama.
---***---
Di tengah jalan menuju ibu kota, jalanan masih ramai dengan pernak-pernik lampu jalanan yang menghiasi sepanjang perjalan. Terlalu dangkal untuk dikatakan indah, apa lagi saat memandangnya untuk menghentikan kebosanan karena terjebak oleh macet.
“Setelah ini, apa rencanamu?” Aku menoleh dan mendapati wajah rupawan yang setiap saat memikat, bahkan dikeadaan semengerikan ini, aku masih saja memujinya.
Konyol sekali kamu Adara! Pria ini adalah cinta pertama kakakmu!
Kehadiran Okta, selalu membuat harapan kak Disa kembali. Kak Disa sering sakit-sakitan karena itu papa dan mama tidak memperolehkan kak Disa kuliah di luar ibu kota sama sepertiku.
“Mencari pekerjaan.” Aku hanya akan menjawab begitu singkat karena aku tidak ingin Okta tahu terlalu banyak tentang kesulitan dan apa yang ku rasakan. Semua ini agar aku tidak terus-terusan tergantung kepadanya dan membuat kak Disa sakit lagi saat kami sering bertemu.
“Bagaimana kalau bekerja-“
“Aku nggak mau kalau kita bicara ini. Sudah aku katakan kalau aku yang akan mengurusnya.” Potongku yang tak ingin selalu dan selalu merepotkannya. Aku suka dia di sekitarku tanpa melakukan apa pun. Jika pada akhirnya ia akan bersama kak Disa, aku senang dengan melihatnya seperti itu.
Bukankah diriku sangat naif? Aku sedikit tidak perduli, sebab hanya aku yang merasakannya. Bagaimana perasaan ini bertumbuh dan menjadi belenggu untuk diriku sendiri.
Aku mendengar Okta menghela napas. “Aku begitu peduli sama kamu, Ra.” Kalimat berulang ini semakin membebaniku.
Kenyataanya kami terjebak pada situasi yang menjemukan ini. Dulu, aku selalu ragu karena kak Disa, bahkan sampai detik ini pun sama. Kemudian, kekacauan ini datang membuatku semakin tidak bisa berleha-leha memikirkan perasaan. Keluargaku sudah berada di ujung tanduk dan aku harus menyelamatkannya.
“Aku tahu, aku berterima kasih karena kamu mau menjadi sahabatku sampai detik ini.” Aku harus memotong sesuatu yang sekarang tidak bisa berkembang.
Wajah Okta seketika berubah, seolah berusaha menahan sesuatu bersamaan dengan laju mobil yang semakin cepat.
Aku tahu ia marah dan saat kami bersama dalam keheningan. Tiba-tiba seseorang berpakaian hitam mencoba memotong jalan.
“Okta awas!” Aku terkejut dan berteriak.
Ciiit
Brug
★★★★ "Ellie!" Gary tried to approach Harley's mother, but he stopped him, saying, "Don't come close to mom. I didn't lay my hands on you just because of her even though I was on the verge of ripping your neck off your body. So, Again count yourself lucky!" Harley growled at his father. Just then, one of Harley’s men interrupted. "Boss, this woman is fainting!" Harley’s gaze shifted briefly to Amanda before he gave his orders in a cold, merciless tone. "Take her to the hospital. Make sure she doesn’t die, and ensure she gets proper treatment at our camp." Amanda tried to protest, but her words failed her as she collapsed. Without hesitation, Harley’s men carried her away, leaving the scene in tense silence. By that time, Harley's mom mustered up some strength and looked at her husband with pain and tears. Earlier, when Amanda said those things about Gary, she denied them without a second thought, even though somewhere in her heart, a bad feeling was swirling. But, in the end, she wa
★★★★"Are you hurt?" Harley asked, concern lacing his voice."Yeah, my foot," Nadia winced, her grip tightening around his neck. "I think something’s stuck in it."Without hesitation, Harley scooped her up in his arms, cradling her gently as he made his way inside, his jaw set with determination."It's Amanda, and she has more people inside," Nadia cautioned him so that he could have his gun ready."Humph!" Harley hummed only, then took her to a place where there was little light and a small place to sit. He carefully laid her down, turned on the phone's flashlight, and said, "Hold it up on your feet and let me see what it is?"Nadia's face was tired and sweaty, but her eyes were calm seeing Harley in front of her eyes. She got the phone and held it up, only then did they both notice a nail embedded in her left foot.As soon as Harley touched the nail, Nadia cried out, clutching his hair in her palm as her agonizing voice erupted, "Oh, it’s hurt!"Harley looked up at Nadia’s painful f
★★★★★ "I don't know how...." Harley's mother's hands were shaking as she held the gun in her hand. "There's no time for a lesson! Just put the muzzle on my handcuffs and shoot!" Nadia shouted, her impatience growing as Amanda's people could show up at any second. "Alright," Harley's mother muttered, exhaling sharply. She pressed the muzzle against the lock and fired without hesitation. The handcuffs snapped open instantly. Nadia forthwith ran to Amanda and pulled her back by her hair before Amanda could able to run out of the room. "Let me go, bitch!" Amanda protested, trying to scream. But Nadia held her back with her arm around her neck. Suddenly Amanda's men arrived with guns drawn. Seeing them, Amanda screamed, "Don't just stand there and help me!" She gritted her teeth and spat at the people who should have been running to her aid. "Don't come close to her if you want her alive and well?" Nadia yelled, holding Amanda tightly as she tried to strike a deal for them to escape.
★★★★★Meanwhile, Harley returned home and learned from the servant that his father had been awake for a while but had ordered no visitors until he permitted it. Ignoring the warning, Harley marched straight to his father’s room. Rather than knock, he pounded on the door.His father’s irritated voice boomed from within. "I warned you—I don’t want any interference! If you all want to keep your jobs, stay out of my business!"At that moment, Harley responded by firing on the door lock and then kicking it open. Gary ran to the corner in fear, his back hitting the wall. When Gary saw that it was Harley who had shot at the door, he blurted out, "What's going on in your head? You could have called me!" "Where are they?" Harley yelled with murderous eyes."Who are you talking about?" Gary replied, trying to sound calm, but miserably failed under his son's intense gaze. Harley clenched his teeth and rushed to his father, who tried to escape, but Harley grabbed him by his throat and howled, "
★★★★ "No... Is it just me overthinking, or have you two somehow become good friends?" Jasmine teased, glancing between Damon and Harley. "Now, that would be a miracle." Damon scoffed, his expression twisting with distaste. "Babe, 'friend' isn’t exactly the word I’d use. The definition changes when i
★★★★ As soon as the morning arrived, Paul returned to the house after spending the night at the hotel with that unknown woman. He had no idea how he ended up in that room with her since the last thing he remembered was sitting at the counter having drinks. Suddenly, a certain smell hit his nose, an
★★★★★Nadia could feel the intensity of her emotions, the tug-of-war between her mind and her heart. Her chest felt heavy with frustration, and her inability to shove him away or slap him only deepened her anger. Finally, she pushed him, her hands hitting his chest with more force than she intended.
★★★★★Later in the afternoon, Jasmine got out of her room, a little careful. It was the time when the caretaker left for home. She went to the kitchen and packed all the food into plastic as she was going to throw it. Jasmine hurried to her room, her mind racing. She needed to get to that party—somet
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak