Amber memulai latihannya. Dia melakukan peregangan, kemudian berlanjut melatih kekuatannya."Kalau kau mau jadi petarung MMA, latihan kekuatan dasar itu wajib," kata Amber sambil memberikan isyarat dengan tangannya agar Marko mengikuti gerakannya.Marko mengangguk. "Baik, Nona Amber."Sebenarnya latihan seperti ini makanan sehari-hari seorang Marko Davies. Dia paham betul semua latihan yang diperlukan oleh calon atlet MMA. Tapi, dia pura-pura tidak tahu agar dia bisa mengambil keuntungan melihat tubuh sintal Amber lebih lama."Dimulai dari angkat beban supaya ototmu tidak cuma jadi pajangan," ucap Amber lagi. Marko terkekeh pelan. "Baik, Nona pelatih."Amber mendengus geli, lalu dia menunjuk ke arah barbel yang sudah dipasang beban. "Oke. Kita mulai dengan latihan deadlift. Ini gerakan penting untuk melatih kekuatan punggung dan kaki," jelas Amber mengajari Marko dengan profesional.Amber mengambil posisi menunduk untuk menggenggam barbel dengan kedua tangan. Sementara Marko berada
Marko dan Amber melakukan seks panas mereka di toilet. Mereka seks sampai sepuluh ronde, dan baru berhenti saat Marko mendapatkan pesan dari pelanggan Fast Foodnya.Marko menyudahi sesi bercintanya dengan Amber, lalu memakai pakaiannya kembali."Besok aku akan ke sini lagi, Nona pelatih," ucap Marko tersenyum. Dia meninggalkan Amber yang masih telanjang di toilet. Sementara Amber menatap kepergian Marko dengan tidak rela. Sepertinya dia menyukai Marko.***Di tengah perjalanan menuju rumah pelanggan Fast Food, Marko bersiul senang. Tubuhnya terasa lebih sehat dan kuat seiring bertambahnya waktu.Bahkan latihan tadi tidak membuat tubuhnya kelelahan sama sekali.Marko tiba di depan rumah pelanggannya lima menit kemudian. Dia hendak turun dari motornya, tapi pesan masuk dari Bryan membuat Marko berubah pikiran.[Tolong aku, Marko. Hanya kau yang bisa menolongku]."Sialan! Siapa lagi yang mencoba mengganggu temanku," geram Marko mencengkeram kuat hpnya. Dia lalu menghubungi kurir Fast F
Marko membawa Bryan ke rumah sakit lagi. Kali ini ke rumah sakit yang lebih bagus agar penanganannya lebih baik.Tapi, Bryan meronta-ronta saat perawat mendorongnya menggunakan brankar."Marko, aku tidak mau berobat di sini. Di sini sangat mahal," ucap Bryan khawatir."Aku yang akan membayarnya, Bryan. Tidak perlu khawatir. Kau hanya perlu menurut saja," balas Marko yang ikut mendorong brankar.Saat Bryan sudah dibawa masuk ke ruangan unit darurat, dia menghela napas lega.Marko kemudian pergi ke bagian administrasi setelah Bryan ditangani.Di bagian administrasi, seorang petugas wanita menatap Marko tanpa senyuman.Begitu Marko duduk di kursi yang disediakan, petugas wanita itu menyerahkan selembar kertas padanya."Ini rincian biaya perawatan Tuan Bryan. Totalnya sepuluh ribu dolar. Kau harus melunasinya hari ini," tukas pertugas wanita itu."Maaf, Nona. Di sakuku hanya tinggal seratus dolar. Bolehkah aku mengambil uangku dulu di bank baru aku ke sini lagi untuk membayarnya?" balas M
"Baiklah. Jika itu yang Anda inginkan. Saya akan ikut Anda ke bank terdekat," balas Boris.Marko mengangguk senang. "Tapi, kau naik motor bututku. Tidak masalah kan?"Willow hendak berucap untuk mengatai Marko yang kurang ajar terhadap atasannya. Memangnya siapa gembel itu?! Batinnya geram.Tapi, Boris yang tahu itu segera menghentikan Willow dengan gerakan tangannya."Kita berangkat sekarang, Tuan?""Ya." Marko dan Boris kemudian naik motor tua Marko menuju ke bank terdekat.Selama perjalanan, Boris merasa bernostalgia zaman dia masih remaja. Dia dulu bahkan tidak bisa membeli motor, dan pergi ke mana-mana dengan berjalan kaki. Dia berpikir pemuda di depannya ini pasti bisa sukses seperti dirinya. Atau bahkan lebih."Sudah sampai, Pak," tukas Marko menghentikan motornya di area parkir bank."Iya." Boris turun dari motor, lalu menyerahkan helmnya kepada Marko. Dia menunggu Marko menjagang motornya. Barulah dia berjalan mengikuti Marko ke pintu masuk bank.Marko berjalan santai memasu
Marko dan Boris kembali ke rumah sakit setelah mengambil uang. Willow menatap sinis Marko saat Marko berderap ke arahnya. "Lama sekali. Kau pasti mau menipu Pak Boris kan?"Boris bergeleng pelan. "Jangan berbicara tidak sopan di depannya, Willow.""Kenapa Anda membelanya, Pak Boris? Jelas-jelas dia berniat menipu kita, dan ingin kabur agar dia tidak membayar biaya rumah sakit," balas Willow tidak terima.Boris geram dan berucap lebih keras. "Aku sudah bilang padamu layani pengunjung rumah sakit dengan baik! Jangan membeda-bedakan mereka apalagi menuduh yang tidak-tidak!""Tapi, Pak Boris ....""Diam! Aku tidak mau mendengar alasanmu!" sentak Boris kesal. Kalau bukan karena dia memiliki hutang budi pada ibunya Willow, dia tidak sudi memperkerjakan wanita angkuh itu. Banyak laporan jelek mengenai Willow yang suka membeda-bedakan pasien, sekarang Boris bisa melihatnya secara langsung betapa buruknya pelayanan Willow."Panggilkan aku Sofiya. Aku lebih suka dilayani olehnya," tukas Marko
"Aku benci laki-laki yang suka memukul wanita!" sentak Marko sambil memelintir tangan kekasih Sofiya. "Lebih baik kau lawan aku yang sepadan denganmu, dan bukannya memukul wanita yang lemah!"Arghh! Lepaskan, Sialan!" Kekasih Sofiya berteriak semakin keras, dan berusaha lepas dari tangan Marko. Sialnya cengkeraman Marko terlalu kuat."Aku tahu kesalahanku. Aku minta maaf," tukas kekasih Sofiya pura-pura menyesal agar Marko mau melepaskannya. Karena Marko sangat kuat, dan dirinya pasti tidak mampu mengalahkannya. Jadi, lebih baik dia menunjukkan penyesalan agar masalah bisa selesai lebih cepat. Barulah setelah Marko pulang, dia akan memberi pelajaran pada Sofiya!"Kau salah meminta maaf padaku! Minta maaflah pada Sofiya!" balas Marko mengencangkan cengkeramannya di tangan kekasih Sofiya."Arghh!!! Iya. Maaf! Maafkan aku, Sofiya!" "Dengan sopan! Ulangi lagi!" sentak Marko menekan bagian tulang kekasih Sofiya yang tadi dia patahkan."Arghh!!!" Kekasih Sofiya berteriak lebih keras. Rasa
Marko dan Sofiya melanjutkan seks mereka sampai malam. Marko lalu berpamitan pulang karena dia harus pergi ke kantornya Stella, untuk memastikan Kevin tidak mengganggu istrinya itu lagi.Sofiya tampak sedih saat Marko pulang. Dia berharap Marko mau menemuinya lagi dan melakukan seks bersamanya.***Marko mengendarai motornya kencang menuju kantornya Stella. Kurang dua puluh menit lagi istrinya itu pulang.Setibanya Marko di seberang kantor Stella, dia menjagang motornya, dan duduk di atasnya sambil menunggu Stella keluar.Menunggu lima menit, beberapa karyawan kantor perempuan tampak keluar dari gedung kantor, termasuk Stella.Stella berjalan cepat menuju mobilnya, tapi tiba-tiba temannya, Lela, menjegal kakinya sampai dia jatuh."Upss .... Tidak sengaja. Aku kira tadi tidak ada orang."Stella meringis menahan sakit di kakinya karena terbeset kerikil di jalanan. Tapi, dia tidak memarahi Lela karena wanita itu memiliki hubungan dengan saudara direktur sehingga jika Stella membuat Lela
Karyawan laki-laki yang baru saja keluar dari kantor langsung menggoda Lela yang telanjang. Mereka menghentikan langkah, dan menikmati pemandangan indah itu."Wow!""Tubuhmu lumayan juga, Lela. Bagaimana kalau kau tidur denganku?""Lela, aku jadi ingin merasakan kewanitaanmu. Apa senikmat kelihatannya?"Bahkan ada beberapa karyawan laki-laki yang memfoto tubuh telanjang Lela untuk dijadikan kenangan, dan alat perangsang saat mereka melakukan masturbasi.Lela berusaha menutupi bagian intimnya dari kejaran mata pria-pria itu. Dia lalu menatap Marko meminta belas kasihan."Kau sudah berhasil memalukanku. Lalu, apa yang kau inginkan lagi? Kau juga mau melihat mereka memerkosaku?" tanya Lela dengan mata berkaca-kaca."Aku hanya ingin kau menyesali perbuatanmu. Kalau kau sudah menyesal, kau boleh memakai pakaianmu kembali, Nona," balas Marko mengalihkan pandangannya dari tubuh telanjang Lela. Dia tidak mau terangsang melihat wanita itu.Marko lalu membantu Stella bangkit berdiri. "Nona Cant
Seminggu kemudian. Marko Hubert dan Victor akhirnya bertemu untuk pertama kalinya di turnamen UFC. Meski, bagi Marko ini tidak benar-benar pertama kalinya.Marko Hubert kini berdiri di belakang panggung arena UFC, mengenakan celana pendek pertarungan hitam dengan garis emas di sisi. Tangannya telah dibalut dengan perban putih, siap untuk menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya. Victor.Sorakan dari ribuan penonton menggema di dalam arena. Lampu sorot menerangi oktagon di tengah stadion, sementara layar raksasa menampilkan wajah Marko dan Victor berdampingan.Di sisi lain ruangan, Victor tengah melakukan pemanasan, tubuhnya penuh dengan otot keras hasil latihan bertahun-tahun. Dia adalah juara bertahan, seorang petarung dengan rekor tak terkalahkan. Mata tajamnya menatap lurus ke arah layar, lalu beralih ke Marko yang berdiri di seberang lorong.Seorang official menghampiri mereka. "Saatnya masuk."Marko menarik napas panjang, lalu melangkah ke dalam lorong panjang yang akan memba
Marko berjalan dengan langkah mantap di antara mayat-mayat yang berserakan di markas Rio Davies. Tangannya masih berlumuran darah, tapi bukan darahnya sendiri, melainkan darah para lawannya yang telah dia habisi tanpa ampun. Tubuhnya terasa ringan, tidak ada luka yang berarti, meskipun dia baru saja menghadapi pasukan pembunuh bayaran terbaik yang dimiliki Rio Davies.Di gendongannya, Stella menggeliat pelan. Matanya yang masih sedikit sayu menatap wajah Marko dengan kebingungan."Marko, kau mau membawaku ke mana?" Suara Stella lemah, tapi masih terdengar jelas di tengah keheningan yang mencekam ini.Marko tidak langsung menjawab. Dia hanya mempererat genggamannya pada tubuh Stella dan terus berjalan keluar dari bangunan yang kini dipenuhi oleh mayat.Di luar, udara malam terasa dingin, berbeda dengan panasnya pertarungan brutal yang baru saja dia lalui. Bintang-bintang bertaburan di langit, seolah mengamati setiap langkahnya dengan diam.Marko menemukan sebuah mobil yang masih dalam
Dorrr!!!Peluru itu melesat cepat menuju kepala Marko.Rio Davies tersenyum penuh kemenangan.Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.Clangg!!!Peluru itu mengenai kulit Marko, namun bukannya menembus, peluru itu justru terpental seolah menabrak baja yang tak terlihat.Mata Rio Davies membelalak. "Apa-apaan ini?!"Marko hanya tersenyum miring. Dia menurunkan kepalanya sedikit, menatap Rio dengan sorot mata dingin. Level legendanya membuat Marko mendapatkan kemampuan baru yang membuat dirinya tidak mempan ditembak ataupun ditusuk pisau.Rio menembak lagi.Dorr!!! Dorr!!! Dorrr!!!Satu, dua, tiga peluru ditembakkan, semuanya mengenai tubuh Marko.Namun, hasilnya sama.Peluru itu tak mampu melukai Marko."Bajingan!" Rio Davies melompat dari kursinya, menggertakkan giginya. Dia memutar badannya, memberikan kode dengan tangannya.Dari balik pintu samping, muncul delapan orang berpakaian hitam dengan wajah tanpa ekspresi.Mereka bukan anak buah biasa.Mereka adalah Shadow Unit, unit pembun
Malam ini. Angin bertiup kencang di sekitar pelabuhan tua. Markas Rio Davies berdiri megah di atas tanah luas yang menghadap langsung ke lautan hitam yang bergelombang. Bangunan beton itu lebih mirip benteng daripada gudang biasa, dengan penjagaan ketat di setiap sudutnya.Dari kejauhan, Marko bisa melihat para penjaga bersenjata mondar-mandir di sekitar gerbang. Mereka semua terlihat waspada, seolah tahu bahwa bahaya bisa datang kapan saja.Marko menarik napas dalam. Dia tahu bahwa menerobos ke dalam akan menjadi hal yang mustahil.Tapi Marko tidak perlu menerobos karena dia memiliki sesuatu yang mereka inginkan. Yaitu sertifikat pulau. Marko akan memancing Rio Davies menggunakan sertifikat itu.Dengan langkah mantap, Marko berjalan ke depan gerbang, sengaja membiarkan dirinya terlihat oleh para penjaga.Butuh waktu kurang dari sepuluh detik sebelum seseorang menyadari kehadirannya."Hei! Siapa yang di sana?! Pergi sebelum kutembak kepalamu!" Salah satu penjaga mengangkat senjatanya,
"Kau ...."Marko berdiri mematung melihat pria yang kini berdiri tegap di depannya.Jantung Marko berdegup semakin kencang, tapi tubuhnya terasa membeku.Di hadapannya seorang pria yang sama sekali tidak asing menatapnya dengan sorot mata tak terbaca. Pria itu adalah tubuhnya sendiri. Marko Davies.Jika sekarang Marko Davies yang sebenarnya berada di tubuh Marko Hubert. Lalu, siapa yang ada di dalam tubuhnya itu?Marko buru-buru bergeleng. "Tidak. Tidak mungkin," gumamnya tidak ingin percaya dengan apa yang ada di hadapannya.Pria di depan Marko itu mengulas senyum. "Apanya yang tidak mungkin?"Marko menatap tajam pria itu. "Siapa kau?! Kenapa kau memakai tubuhku, Sialan?!"Si pria tertawa kecil. "Padahal aku telah lama menunggu waktu bertemu denganmu. Tapi, reaksimu ini sungguh membuatku kecewa, Marko."Marko semakin geram. "Siapa kau, Keparat?! Bagaimana bisa kau memakai tubuhku?! Dan, apa yang kau lakukan di apartemenku?! Apa kau juga yang mengirimkan pesan misterius?!"Si pria ber
"Sialan!"Marko memukul setir mobilnya dengan geram. Mobil yang membawa Jake, Daniel, dan Arnold sudah menghilang di tengah lalu lintas.Dia telah kehilangan jejak mereka.Lalu lintas di kota begitu padat, membuat pengejarannya sia-sia. Rio Davies jelas sudah merencanakan semuanya dengan rapi. Pria itu sangat licik dan memiliki segala taktik untuk melancarkan keinginannya.Marko menarik napas panjang, menenangkan pikirannya. Tidak ada gunanya mengutuk keadaan. Dia harus bergerak cepat.Mata tajamnya menyapu jalanan yang dipenuhi mobil-mobil dan lampu kota yang berkedip. Jika dia tidak bisa mengejar mereka sekarang, dia harus mencari kelemahan lain dalam rencana Rio Davies.Dan ada satu hal yang muncul dalam pikirannya. Sertifikat pulau.Marko lalu berbalik arah, dan menginjak pedal gas. Mobilnya langsung melesat cepat ke arah apartemen milik Marko Davies. Itu adalah satu-satunya tempat yang memiliki sesuatu yang diinginkan Rio Davies selama bertahun-tahun.Sebuah sertifikat pulau yang
Dinginnya malam merayap ke dalam jaket Marko saat dia berdiri di depan kantor Stella. Matanya masih menatap tajam simbol ular melingkar di dinding luar gedung. Nafasnya berat, uap hangat keluar dari bibirnya saat amarah menggelegak di dadanya.Stella diculik orang-orang yang ada di organisasi mafia yang dipimpin oleh Rio Davies, raja mafia yang merupakan kerabat dekat Marko Davies. Nama Rio Davies dulu hanya sekadar legenda di dunia kriminal. Sebuah bayangan yang mengendalikan segalanya dari balik layar terutama di dunia MMA. Namun kini, bayangan itu merayap ke hidup Marko Hubert. Padahal Marko paling menghindari berurusan dengan Rio Davies.Jantung Marko berdebar kencang. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Stella telah diculik, dan dia tahu ini bukan sekadar penculikan. Ini adalah perangkap.Rio Davies dan anak buah pria itu pasti ingin menarik Marko masuk ke perangkapnya dan membuat Marko tidak bisa lagi kembali ke dunia MMA. Seperti yang dulu terjadi
Di tengah malam yang dingin, sebuah limusin hitam meluncur melewati jalanan sepi. Mobil itu melaju ke arah sebuah bangunan besar di pusat kota yang tidak memiliki plang atau tanda identitas apa pun. Dari luar, gedung itu tampak seperti kantor biasa, tetapi di dalamnya adalah pusat kendali organisasi mafia terbesar di Amerika.Di lantai paling atas, terdapat sebuah ruangan eksklusif dengan pemandangan langsung ke arah kota. Ruangan itu luas, dengan kaca besar yang mencerminkan cahaya lampu kota di kejauhan. Sebuah meja panjang dari kayu hitam berdiri megah di tengah ruangan, dikelilingi oleh kursi kulit mahal.Di ujung meja, seorang pria duduk dengan tenang. Rio Davies.Sosok itu adalah Don, pemimpin tertinggi mafia di seluruh Amerika Serikat. Dia mengenakan setelan hitam yang sempurna, rambutnya rapi, dengan wajah yang dingin tanpa ekspresi. Di tangannya ada sebuah cincin emas dengan lambang keluarga Davies, simbol kekuasaannya.Di hadapannya, Vladimir Ivanov berdiri dengan penuh horm
Kemenangan Marko membuat para petinggi MMA sedikit terusik. Mereka segera melakukan pertemuan khusus untuk membahas atlet bernama Marko Hubert itu.Suasana mencekam di sebuah ruangan eksklusif, tempat para petinggi MMA berkumpul.Ruangan itu luas, dengan desain klasik yang dipenuhi ornamen kayu mahal. Lampu gantung kristal menggantung di langit-langit, menciptakan pencahayaan redup yang menambah kesan eksklusif dan rahasia. Asap rokok melayang di udara, menciptakan atmosfer yang berat dan menekan.Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dari kayu mahoni berdiri megah, dikelilingi oleh beberapa pria berjas hitam. Mereka bukan sembarang orang. Mereka adalah mafia yang selama ini menguasai dunia pertarungan MMA di balik layar.Mereka adalah orang-orang yang mengatur segalanya dari hasil pertandingan, petarung mana yang boleh naik, siapa yang harus jatuh, hingga taruhan ilegal yang menghasilkan miliaran.Dan malam ini, mereka semua memiliki satu masalah yang sama.Yaitu atlet dari club Bla