Share

Bab 23. Gangguan Pagi

Author: Dian Matahati
last update Last Updated: 2024-11-30 14:00:29

“Beneran gak mau ikut Mas ke kantor?”

Aku mengangguk sambil mengunyah sarapan yang sudah masuk ke mulut. Baru setelah makanannya ku telan, aku baru meneruskan jawaban.

“Iya, Mas. Di rumah saja lah sama Mak Ijah. Di kantor juga mau ngapain, cuma pindah tidur.”

Mas Denis tertawa kecil mendengarnya. Beruntung pagi ini suasana sudah jauh lebih baik. Tidak ada lagi perang dingin seperti kemarin. Aku sudah memaafkan Mas Denis, dan Mas Denis pun rasanya juga begitu.

“Nanti siang Mas pulang di jam istirahat. Makan siang bareng, ya?”

Aku mengangguk senang. Kesannya begitu menyenangkan jika suami terlihat ingin sering memastikan keadaan kita baik-baik saja. Apalagi jika sampai meluangkan berbagai kesempatan untuk selalu bersama.

“Mas mau dimasakin sesuatu?” tanyaku kemudian.

“Gak usah. Masak apa yang pengen kamu makan aja.”

Aku kembali m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Gugatan Cerai Setelah Malam Pertama    Bab 24. Memberi Pelajaran

    “Ya memangnya kenapa? Memang istriku mau ikut aku ke kantor, kok. Kamu cuma numpang, kenapa sewot?” “Hah? Apa? Jadi kata Tante kalau kamu ngajak Dila ke kantor itu beneran?” Aku tertegun sejenak. Baru tahu jika ternyata mamanya Mas Denis sedekat itu dengan Dewi, sampai-sampai perkara aku yang diajak ke kantor oleh anaknya saja, diceritakan kepada orang lain. “Iya, memangnya kenapa?” Mas Denis masih saja menjawabnya dengan ketus. Mas Denis langsung masuk ke pintu kemudi dan menyalakan mesin. Dewi yang panik segera masuk ke kursi belakang. Dewi terlihat masih syok sekaligus kesal. Dia pasti berharap bisa duduk bersebelahan dengan Mas Denis jika tidak ada aku. Sayangnya, aku tidak akan memberikan kesempatan seperti itu selama ada aku. “Mas, nanti jadi mampir ke bubur ayam yang depan gang sana, ya? Anak kamu kayaknya lagi ngidam bubur ayam Bandung, deh.” 

    Last Updated : 2024-11-30
  • Gugatan Cerai Setelah Malam Pertama    Bab 25. Ide Mengidam

    Sesuai dugaanku. Begitu aku dan Mas Denis melewati kubikel tim kerjanya Mas Denis, mereka semua menyapa sambil tersenyum penuh arti kepadaku. Ini pasti erat kaitannya dengan Mas Denis yang mengatakan aku mendadak mengidam bubur ayam di saat kami perjalanan ke kantor. Beruntung Mas Denis punya jabatan cukup tinggi di perusahaan. Sehingga tidak ada yang berani menggoda terang-terangan di depan kami berdua saat sedang melewati mereka. “Bisa bikinin kopi, Dik?” “Bisa, Mas. Tunggu, ya.”Sejak aku ikut ke kantornya Mas Denis, Mas Denis tidak pernah lagi mau dibuatkan kopi oleh Office Boy atau sekretarisnya. Dia selalu meminta tolong kepadaku, dengan alasan katanya takaran seleranya yang paling pas adalah yang aku buat. Tentu saja aku tidak keberatan sama sekali, dan justru merasa bangga akan hal itu. Artinya, pelayanan yang aku berikan bisa diterima dengan baik oleh suamiku. 

    Last Updated : 2024-11-30
  • Gugatan Cerai Setelah Malam Pertama    Bab 26. Bebek Goreng

    “Gak pernah, Dik.”“Bohong.” “Kamu nanya, apa ngajak ribut, sih?” “Nanya, tapi jawaban kamu gak meyakinkan, Mas.” “Ck,” Mas Denis berdecak. “Repot, ya, debat sama cewek. Tanya, dijawab jujur salah. Gak dijawab salah. Apalagi kalau nanti jawabnya bohong, bisa tambah salah,” gerutunya kemudian. Baru setelah mendengar gerutuan itu dari Mas Denis, aku bisa sedikit mempercayai ucapannya. “Jadi beneran, belum pernah sekalipun sama Mbak Indah.”“Belum, Dik. Kenapa emangnya? Aku bukan tipe cowok gila yang tertarik buat begituan di segala tempat.” “Tapi aku mau kamu sedikit gila kalau sama aku,” desisku lirih. “Hah, apa?” tanya Mas Denis entah sungguhan tidak mendengar atau hanya memastikan pendengarannya saja. “Em, enggak, kok, Mas. Gak ada apa-apa,” elakku. Aku memang menginginkan kegilaan Mas Denis sedikit untukku, tetapi aku tahu bukan sekarang waktunya. Mas Denis belum ada rasa denganku. Memintanya berbuat gila tanpa cinta, jelas hal yang mustahil akan dilakukannya. “Dokumennya

    Last Updated : 2024-12-01
  • Gugatan Cerai Setelah Malam Pertama    Bab 27. Pakaian Baru

    Mas Denis sudah berprasangka buruk saja mendengar aku minta mampir ke rumah orang tuaku. Jika aku berniat untuk marah padanya dan tinggal di rumah orang tuaku, tentu saja aku tidak akan meminta izin hingga diantarkan kesana olehnya. “Aku cuma mau mampir sebentar buat menyapa dan lihat kabar mereka, Mas. Bahkan aku juga berniat setelah dari rumah Bapak dan Ibu, mau ajak kamu ke rumah Mama buat makan malam.” “Serius kamu punya rencana gitu? Untuk acara apa? Aku gak melupakan sesuatu, kan?” “Mengunjungi orang tua gak perlu pakai acara khusus, Mas.” Mas Denis menggaruk leher belakangnya karena salah tingkah. “Mas cuma takut saja kalau tanpa sengaja Mas melupakan hari penting di keluarga kita.” “Gak kok, Mas. Aman. Aku memang sudah niat sejak sebelum kita pergi makan siang tadi,” terangku menjelaskan. “Mendadak pengen, gitu? Masa iya kamu ngidamnya k

    Last Updated : 2024-12-01
  • Gugatan Cerai Setelah Malam Pertama    Bab 28. Teman Dekat Risa

    “Nduk, Nak Denis, kalian ke sini kok gak ngabarin dulu, sih.” Ibuku protes begitu melihat aku dan Mas Denis tiba-tiba mampir ke rumah. Mas Denis melirikku, meskipun kemudian berbohong kepada Ibu untuk menutupi kesalahanku. “Iya, Bu. Soalnya mendadak tadi, tanpa rencana. Tau-tau di jalan Dik Dila ngajak mampir ke sini,” katanya. Padahal jelas Mas Denis sudah mengingatkan aku untuk memberi kabar kepada Ibu dan Bapak terlebih dahulu jika kami akan datang. “Yah, di rumah lagi gak masak apa-apa. Ibu tadi cuma masak sayur lodeh sama goreng ikan asin,” sahut ibuku terlihat menyesal. “Kalian makan malam sekalian disini, kan? Biar Ibu masakin dulu, ya?” imbuhnya dengan semangat. “Bu, maaf, Dila lagi ngidam pengen makan malam sama mamanya Mas Denis. Jadi, nanti dari sini kita mau ke rumah Mama. Gak apa, ya?” bujukku. Sekali lagi aku menggunakan kehamilanku sebagai alasan dim

    Last Updated : 2024-12-01
  • Gugatan Cerai Setelah Malam Pertama    Bab 29. Makan Seafood

    Aku dan Mas Denis terpaksa menunda obrolan tentang teman dekatnya Risa karena harus berkunjung ke rumah mamanya Mas Denis sesuai rencana sebelumnya. Hanya saja, pikiranku yang tidak tenang jadi ikut terbawa suasana. “Kita bisa tunda ke rumah Mama kapan-kapan lagi jika kamu hari ini tidak siap, Dik,” ujar Mas Denis. Aku menggeleng pelan. “Nggak perlu, Mas, aku gak apa-apa kok, kita bisa ke rumah Mama sekarang.”“Kamu kelihatan lesu sejak dari rumah Bapak dan Ibu.”“Keliatan banget, ya?” “Hm, makanya aku bilang, ke rumah Mama tunda dulu aja. Jangan dipaksakan!” “Tapi aku pengen ke rumah Mama, Mas. Gak mau ditunda,” balasku masih keras kepala. “Iya sudah, it’s okay. Apa katamu aja, ya?” Aku baru mengangguk puas setelah Mas Denis tidak lagi mencegah. Aku mengajak Mas Denis membelikan seafood kesukaan Mama terleb

    Last Updated : 2024-12-01
  • Gugatan Cerai Setelah Malam Pertama    Bab 30. Aromaterapi Khusus

    Hoek! Aku terus mengeluarkan isi perutku hingga sudut mataku turut serta mengeluarkan air karena rasa tidak nyaman yang tidak kunjung mereda. Mas Denis masih setia memijat bagian tengkuk sambil mengusap punggungku dengan tangan satunya. “Harusnya kamu tadi jangan maksain makan kalau ternyata bikin kamu mual.”Aku tidak mempedulikan kritikan Mas Denis karena masih fokus dengan gejolak di perut yang tidak kunjung hilang. Sejak mencium aroma seafood di meja makan mamanya Mas Denis, aku sudah merasa mual. Hanya saja, demi tekadku mengambil simpatinya Mama, aku tetap memaksa makan dan mengabaikan rasa tidak nyaman di perut hingga kami pulang. Belum sampai di rumah, aku memberi kode kepada Mas Denis untuk menghentikan mobilnya dan membiarkan aku memuntahkan isi perut di pinggir jalan. Mas Denis mengambil botol air mineral dari mobil, dan memberikannya padaku. 

    Last Updated : 2024-12-01
  • Gugatan Cerai Setelah Malam Pertama    Bab 31. Nasi Goreng Spesial

    “Just kidding,” kataku sambil tertawa sumbang. Aku tidak mau terlihat menyedihkan dengan memperlihatkan harapanku bisa sedekat itu dengan suamiku sendiri. Walaupun Mas Denis tidak menolak maupun menjawab apapun, aku bisa menebak rasa keberatannya atas permintaanku. Aku mengambil segelas susu di meja, dan meneguknya hingga habis. Baru setelahnya, mengajak Mas Denis untuk ke kamar dan tidur. Aku mendengar bunyi spray dengan disusul aroma parfum Mas Denis. Ternyata Mas Denis sungguhan menuruti permintaanku untuk tidur dengan parfum yang aku maksud. Aku tidur di ranjang bagianku dengan posisi miring membelakangi bagian Mas Denis. Rasanya tidak sanggup untuk berhadapan dengan Mas Denis, saat mengingat permintaan konyol yang terkesan tidak tahu diri itu. Dadaku bahkan sampai berdebar saat merasakan ranjang bergoyang ketika Mas Denis turut naik ke atas ranjang. Hal yang tidak aku duga sebelu

    Last Updated : 2024-12-02

Latest chapter

  • Gugatan Cerai Setelah Malam Pertama    Bab 60. Ending

    Aku membuka mata, tetapi yang kulihat bukanlah ruangan rumah sakit. Bukan pula wajah Mas Denis atau siapa pun dari keluargaku. Sebaliknya, aku berada di sebuah hamparan hijau yang membentang luas. Rumput-rumputnya berkilauan seperti butiran embun di bawah sinar matahari pagi, dan udara di sekitarku terasa sejuk. Semuanya begitu indah, tapi anehnya... Begitu sunyi. Tidak ada suara burung, tidak ada suara angin yang berbisik. Hanya kesunyian sempurna yang membuatku merasa asing dan bingung.“Aku dimana?” gumamku ya g terasa seperti bergema kembali ke gendang telingaku sendiri. Aku berdiri perlahan, memandangi sekeliling, mencoba memahami di mana aku berada. Perasaan ganjil merayapi hatiku. Rasanya seperti mimpi, tapi sekaligus terasa nyata. Apakah aku sedang bermimpi? Atau... apa ini tempat lain? Aku memegang perutku yang kini terasa kosong, dan jantungku mencelos. Bayiku. Di mana bayiku? 

  • Gugatan Cerai Setelah Malam Pertama    Bab 59. Kontraksi

    ”Dik, aku ada kejutan buat kamu,” ucap Mas Denis sambil mengecup pipiku dari belakang ketika dia baru selesai mandi sepulang kerja sore ini.Aku sengaja menunggunya mandi dengan duduk di sofa dalam kamar yang biasa digunakan Mas Denis mengecek pekerjaan sebelum tidur. Karena sejak kehamilanku masuk trimester terakhir, aku dilarang melakukan pekerjaan rumah apapun termasuk menyiapkan makan untuk suamiku sendiri.“Kejutan apa itu, Mas?” tanyaku dengan senyum lebar. Perutku semakin membesar seiring dengan usia kandungan yang hampir mencapai sembilan bulan. Setiap harinya, Mas Denis semakin manis dan perhatian, seolah-olah aku ini porselen rapuh yang harus dijaga dengan hati-hati. “Nih,” ujar Mas Denis sambil memberikan sebuah amplop putih panjang kepadaku. Saat aku buka amplop tersebut, ternyata surat keterangan cuti yang diambil Mas Denis selama 100 hari kedepan dimulai dari besok. 

  • Gugatan Cerai Setelah Malam Pertama    Bab 58. Kau Rumah

    “Mbak Dila pulang duluan aja sama Mas Denis, Mbak. Abi biar Risa yang nunggu. Katanya setelah kantong infusnya habis, sudah boleh pulang kok,” ujar Risa setelah Abi setuju diberikan obat lewat cairan infus. Aku memang merasa letih dan kurang istirahat selama seminggu ini. Namun, aku juga tidak tega meninggalkan Risa menunggu Abi sendirian di rumah sakit. “Dik, kita pulang aja, ya? Kamu kelihatan udah capek banget. Kasian si kecil di perutmu juga. Butuh istirahat.” “Tapi kasihan Risa, Mas.”“Aku gak apa-apa, Mbak. Serius. Mbak Dila pulang duluan aja sama Mas Denis. Aku juga ada yang perlu dibicarakan berdua sama Abi,” ujar Risa sedikit memaksa. Kemudian Abi berdehem sedikit keras. Seperti memberi kode jika aku memang dimohon untuk pulang supaya mereka punya kesempatan untuk berduaan.“Kita pulang, ya?” ajak Mas Denis lagi. Aku pun menghela napas pa

  • Gugatan Cerai Setelah Malam Pertama    Bab 57. Phobia Jarum Suntik

    Aku berdiri mematung, tubuhku gemetar melihat kejadian itu. Mobil berhenti dengan posisi miring, sopirnya langsung keluar dan tampak syok. Mas Denis berlari menghampiri Abi yang terkapar di jalan, sementara aku menahan Risa agar tidak mendekat terlalu cepat.  “Kamu baik-baik saja, kan?” Mas Denis berusaha memeriksa kondisi Abi.  Abi mengerang kesakitan, tapi ia masih sadar. Lutut dan sikunya berdarah, dan ia meringis menahan nyeri di bahunya. Meski begitu, ia masih sempat tersenyum tipis sambil menoleh ke arah Risa.  “Untung... Kamu selamat,” gumam Abi dengan napas terengah.  Risa terisak, wajahnya pucat pasi. "Bodoh! Kenapa kamu harus melakukan itu? Kenapa kamu mengorbankan dirimu sendiri buat keselamatanku?"  Abi tertawa kecil meski kesakitan. "Karena kamu yang terpenting buatku, Risa."  Aku merasakan sesuatu yang aneh di dadaku—perasaan campur aduk antara lega, syok, dan

  • Gugatan Cerai Setelah Malam Pertama    Bab 56. Rekonsiliasi di Villa

    [Mas, aku ada di Villa Gading Mas, jika kalian masih mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepadaku. Besok, temui aku di villa. Ajak Risa dan Abi juga.]Akhirnya aku memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada mereka bertiga untuk menjelaskan. Mengirimkan sebuah pesan berikut share lokasi yang aku kirim setelah pesan tersebut. Sudah seminggu aku berada di villa ini. Awalnya kupikir waktu sendirian akan membuatku lebih tenang dan mampu berpikir dengan jernih. Tapi kenyataannya, ketenangan malah memperburuk pikiranku. Aku terus memikirkan apa yang terjadi antara Mas Denis, Risa, dan Abi. Aku ingin percaya pada Mas Denis dan Risa, tapi hatiku masih terasa berat.  Selama di sini, aku tetap memberi kabar pada Mas Denis agar dia tidak terlalu khawatir, meskipun selalu kubilang dengan tegas agar tidak mencariku. Mas Denis menurut. Dia mengirim pesan setiap hari untuk memastikan aku baik-baik saja. Dan se

  • Gugatan Cerai Setelah Malam Pertama    Bab 55. Hati yang Bimbang

    “Maaf, Bu. Jadinya mau diantar kemana, ya, Bu?” tanya sopir taksi yang sudah sangat sabar denganku. Hampir setengah jam aku membiarkannya berjalan tanpa tujuan. Menungguku lebih tenang setelah meluapkan segala emosi yang tengah menguasai. “Tolong diantar ke alamat ini saja, Pak,” jawabku sambil menunjukkan ponselku berupa sebuah villa di daerah dataran tinggi yang baru saja aku reservasi secara online.“Baik, Bu.” Setelah mengetikkan alamat di layar maps kendaraannya, sopir taksi itu mengembalikan ponselku yang tidak lama kemudian terdengar berdering.Sejak tadi memang ada banyak yang mencoba menghubungi. Dari Mas Denis, Risa, hingga mamanya Mas Denis. Aku yakin keluargaku juga keluarga Mas Denis saat ini sedang mengkhawatirkan kepergian diriku. Aku sengaja tidak menjawab satupun dari panggilan mereka karena belum siap untuk berbicara dengan siapapun. Meskipun begitu

  • Gugatan Cerai Setelah Malam Pertama    Bab 54. Kecewa Terlalu Dalam

    “Sayang, kita jalan-jalan sore, yuk?” suara Mas Denis memecah kebisuan. Dia berdiri di depanku, menatap dengan penuh perhatian. Sejak bangun tidur dan mandi sore, aku masih banyak diamnya karena belum bisa melupakan kejadian tadi siang. Mas Denis tampak khawatir dan sering mondar-mandir saja di dekatku. Aku mendongak, menatapnya sejenak. “Jalan-jalan ke mana, Mas?” tanyaku datar, meski di dalam hati aku sedikit tertarik dengan ajakannya.Mas Denis mengangkat bahu. “Entah, mungkin sekadar keluar rumah. Sepertinya kita butuh udara segar.” Senyum tipis tersungging di wajahnya, mencoba mengajakku untuk tidak terlalu larut dalam perasaan ini.Meski ragu, aku akhirnya mengangguk. “Boleh,” jawabku pelan.Kami pun berangkat. Di dalam mobil, aku menyandarkan kepala di jendela, menatap jalanan kota yang ramai. Mas Denis di sampingku, sesekali melirik dengan cemas. Kurasa dia ju

  • Gugatan Cerai Setelah Malam Pertama    Bab 53. Pesan Ambigu

    “Gini amat ya, punya suami pekerja keras. Hari libur juga tetap aja dipakai buat kerja dari rumah,” sarkasku pada Mas Denis yang tengah sibuk di depan layar laptopnya. Mas Denis menghentikan sejenak kegiatannya. Menoleh ke arahku dan tersenyum tipis. “Ada apa, sih, Dik? Kamu ada perlu sesuatu?” Aku mengangkat bahu. Masih enggan untuk mengatakan jujur jika aku sedang berharap diajak pergi jalan-jalan atau entah kemana hanya demi bisa bersama Mas Denis menghabiskan akhir pekan yang menyenangkan. “Kalau mau atau butuh sesuatu, kamu bilang langsung aja sama Mas, ya, Dik. Mas bukan cenayang yang bisa baca isi hati dan pikiran kamu,” sahut Mas Denis sambil kembali fokus ke perangkat kerjanya. Aku hanya bisa kembali menghela napas dengan berat. Mencoba fokus pada acara televisi, yang membuat pikiran tentang Risa dan pertengkaran kecil kami saat itu kembali muncul. Meskipun sudah berlalu cukup lama, tetapi aku belum bisa merasa lega jika tidak ada penyelesaian yang jelas. Komunikasiku de

  • Gugatan Cerai Setelah Malam Pertama    Bab 52. Masakan Istimewa

    “Dik?” panggil Mas Denis tanpa menoleh ke arahku. Aku yang duduk tenang di kursi penumpang, tadinya menatap kosong ke luar jendela mobil yang melaju pelan di tengah lampu jalan, akhirnya menoleh tanpa bersuara mendengar panggilan dari Mas Denis. Udara malam terasa sejuk, tetapi pikiranku jauh dari kata nyaman. Pikiranku masih berkutat pada kejadian tadi di rumah orang tuaku. Pertengkaran kecil dengan Risa seolah menyisakan sesak yang menolak sirna. Aku tahu, itu hanya salah paham. Tapi kenapa rasanya begitu menyesakkan?Mas Denis menghela napas di sampingku. “Sayang, kamu mau makan apa? Kita cari makan dulu sebelum pulang, ya?” Aku menggeleng lemah tanpa menoleh. “Nggak lapar, Mas.”Mas Denis akhirnya menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada jalan. “Dik, kamu lagi hamil. Lapar atau nggak, harus tetap makan,” katanya lembut, tapi tegas.Aku tahu Mas Denis benar, tapi r

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status