"Mami, kenapa dari kemarin nggak pulang ke rumah sih?" sambut Yudhistira Adira Lukmana saat melihat istrinya masuk ke ruangan kerja putera mereka di lantai 30 Adira Lukmana Building.Langkah Srijita terhenti di tengah ruangan berdinding kaca itu dengan terperangah. Maksudnya mengunjungi Jovan bersama Intan dan Orion tadi hanya untuk makan siang bersama. Dia tak akan mengira bahwa suaminya sedang berada di tempat itu juga. Mentalnya masih belum siap untuk menjelaskan segala kekacauan yang terjadi kemarin karena ulah Bramantyo.Pria berparas tampan dengan garis tulang wajah aristokrat yang tercukur rapi itu menghampirinya dan memeluknya dengan mesra. Rasanya air mata menggenangi bola mata Srijita. "Mami, jangan kuatir. Semua sudah diceritain sama Jovan tadi ke Papi. Hmm ... mungkin sebaiknya kita duduk di sofa aja yuk. Papi mau bicara dari hati ke hati tentang semuanya berdua saja sama Mami!" ajak Pak Yudhi merangkul bahu istrinya yang masih nampak terpukul oleh rasa malunya atas segal
"Selamat pagi, Bu. Kami datang untuk menjemput Bapak Bramantyo Muis Pradipta!" ujar seorang petugas polisi berlabel nama Harris Pratikno berjabatan Ipda di jajarannya.Nyonya Selvi yang ditemui oleh Ipda Harris sontak terperangah, dia tidak tahu kasus hukum apa yang tengah menjerat suaminya. Dia pun segera bertanya setelah pulih dari keterkejutannya, "Pagi, Pak Polisi. Atas tuduhan apa ya? Beliau itu suami saya."Kedua orang itu masih berdiri di teras depan kediaman megah keluarga Pradipta yang bagaikan Istana Bogor. Dengan sabar Ipda Harris Pratikno menunjukkan surat resmi pemanggilan tersangka kasus pelecehan dan pemerkosaan atas Srijita Adira Lukmana kepada wanita di hadapannya."Aarrhh ... Ya Tuhan, Papa!!" seru Nyonya Selvi terkesiap membaca isi surat di tangannya. Dia membatin penuh kegalauan, 'Bagaimana bisa ini terjadi? Papa memerkosa Jeng Srijita, mereka tak pernah bercakap-cakap selama ini di pertemuan sosialita!'Kemudian Ipda Harris pun mendesak, "Tolong panggilkan Pak Bra
"SELVI!" Panggilan kencang itu membuat wanita yang sedang terbakar emosi itu menoleh ke arah sumber suara di ujung lorong kantor polisi."Pa ... Papa nggak jadi ditahan di sini 'kan?" ujar Nyonya Selvi seraya bergegas menghampiri sosok suaminya yang berdiri tak jauh darinya.Namun, ketika ia sudah sampai di hadapan Bram justru yang diterimanya tak pernah ia duga. "PLAKKK!" Sebuah tamparan keras telak mengenai pipi wanita itu hingga terhuyung-huyung nyaris terjerembap ke lantai bila tidak ditahan tubuhnya oleh asisten pribadinya."Papa, kenapa aku ditampar?" tanya Nyonya Selvi tak mengerti apa kesalahannya sehingga layak untuk diperlakukan kasar oleh suaminya di depan umum."Kesalahanmu? Sel, kau menyakiti wanita pujaan hatiku. Tahu diri sedikit deh di depan banyak orang. Itu wartawan pada ngambil foto kamu lagi heboh nampar dan jambak Srijita, apa nggak malu kelakuan kayak preman pasar gitu?!" tegur Bram tanpa memedulikan istri sahnya yang menangis tersedu-sedu di hadapannya."Lho, ya
Setelah resmi menikah dengan Zayn, perempuan berdarah Perancis itu pun tak lagi tinggal di kediaman D'Argentine. Sebagian besar barang pribadinya dipindahkan ke rumah suami barunya di Rue Caroline. Namun, yang aneh adalah dia tidak diizinkan menaruh barang-barang pribadinya di kamar tidur Zayn."Kenapa kamar kita terpisah, Zayn? Bukankah kita sudah menikah?" tanya Azalea berdiri bersedekap di hadapan Zayn sembari menunggui pelayan rumah suaminya membongkar barang bawaannya ke lemari pakaian dan juga berbagai kosmetiknya di meja rias di kamar yang bersebelahan dengan kamar tidur Zayn.Pria tampan itu tertawa pelan, dia merangkul istrinya yang nampaknya merajuk dan membawanya ke sofa bersamanya. "Dengar dulu, aku memang tidak suka berbagi tempat di kamarku dengan barang orang lain sejak kecil. Rasanya terlalu penuh saja. Kau masih bisa tidur setiap malam bersamaku, Lea!" terang Zayn meredakan kekesalan Azalea."Ohh ... kupikir setelah kita menikah justru ada pisah ranjang karena tak sat
Pagi itu Bramantyo menemui pengacara kepercayaannya di ruang jenguk tahanan sementara di Rutan Salemba, Jakarta Pusat yang ada di daerah Cempaka Putih. Dia nampak gelisah dan tak segagah saat berada di luar tahanan biasanya. Penampilannya tak terawat dengan cambang subur menghiasi wajah berumur lebih dari setengah abad tersebut."Maaf, Pak Bram ... pengaruh dari Bapak Dylan Richermond itu sulit untuk dilawan. Aparat penegak hukum yang sudah saya temui untuk meminta tahanan kota maupun tahanan rumah menolak mentah-mentah. Uang berapa pun sudah nggak mempan buat bujuk mereka. Saya kuatir kali ini kasus hukum Pak Bram akan berakhir dengan dibui," tutur Charles Hutapea mengemukakan kekuatirannya.Bram pun berdecak putus asa, segalanya menjadi kacau balau keadaannya. Pihak IDI pun sedang dalam perbincangan serius untuk mencabut izin praktiknya karena kasus pemerkosaan Srijita. Dokter kandungan erat kaitannya dengan kaum wanita, bila moral dokternya dipertanyakan akan menjadi red flag bagi
"Lho, Dokter Emil ... ada apa kok sampai ke mari?!" sapa Bram yang merasa janggal direktur rumah sakit jaringan milik keluarga Pradipta mengunjunginya ke rutan.Kedua kolega dokter tersebut saling berjabat tangan lalu duduk berseberangan di meja ruang besuk tahanan. Dokter Emil tak ingin membuang waktu, dia sadar bahwa mungkin durasi pertemuannya dengan Dokter Bramantyo hanya singkat saja dibatasi aturan rutan."Begini, Dok. Ini penting, proses audit dari IDI sudah keluar keputusannya. Ketua komite memberi kita opsi untuk memindah tangankan kepemilikan rumah sakit ke pihak lain kalau masih ingin diberi izin beroperasi!" terang Dokter Emil dengan jelas mengenai alasan dia mengunjungi Bram di rutan."Ya Tuhan, kacau sekali situasinya! Nggak semudah itu menjual 4 buah rumah sakit besar sekaligus. Siapa yang punya uang sebanyak itu?" jawab Bram memijit pelipisnya yang nyeri dan pening memikirkan berita yang dibawa direktur rumah sakitnya.Namun, kepentingan Dokter Emil hanya menanyakan ap
"Selamat siang, Bu Srijita!" sapa tamu tak diundang yang bangkit dari sofa ruang tamu mengulurkan tangan kanan kepada wanita bersanggul rapi dengan gaun batik selutut yang elegan berjalan memasuki ruangan tersebut.Dengan menghela napas perlahan Srijita menyambut uluran tangan tamunya. "Silakan duduk, Pak. Apa klien Anda yang menyuruh untuk menemui saya?" tanya wanita itu to the point kepada pengacara Bram."Ya, memang benar. Pak Bram berharap akan ada mediasi terkait kasus beliau dengan Bu Srijita. Apakah ada sedikit pintu maaf untuk beliau dari Anda, Bu?" bujuk Charles Hutapea dengan nada mengiba. Pengacara berdarah Batak itu mengamati respon pihak korban dalam kasus yang ditanganinya.Namun, wanita cantik tersebut menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Niat saya untuk menjebloskan Bram ke penjara sudah bulat. Tindakan tidak menyenangkan itu sudah terjadi bertahun-tahun hingga merongrong kedamaian hidup saya dan juga rumah tangga saya bersama Mas Yudhi," jawab Srijita."Tapi maaf, A
Mobil yang dinaiki oleh keluarga Adira Lukmana beserta Intan berhenti di belakang mobil milik Kakek Dylan. Mereka tadi sudah bersepakat untuk berkunjung perdana ke Rumah Sakit Permata Indah Medika, salah satu dari empat rumah sakit yang dibeli oleh Kakek Dylan dari keluarga Pradipta tunai.Dokter Emil Firmansyah sendiri yang menyambut rombongan itu di depan pintu lobi masuk ke rumah sakit. Beliau masih dipercaya menjabat sebagai direktur utama rumah sakit tersebut karena memang secara operasional Kakek Dylan tidak menemukan hal buruk terkait pekerjaan dokter spesialis internis tersebut ketika mengelola rumah sakit milik Bram."Selamat datang, Tuan Dylan Richermond. Mari langsung ke atas saja biar nyaman ngobrolnya!" sambut Dokter Emil menjabat tangan pria tua yang bertelekan tongkat besi berlapis emas dan bertatah berlian mahal tersebut."Terima kasih sudah menyambut kami siang ini, Dokter Emil. Mari—kami ikut saja!" jawab Kakek Dylan melangkah menuju lift diikuti oleh Intan dan kelua
Dengan pikiran buntu dan hati yang panas Zayn berjalan kaki di trotoar setelah meninggalkan kediaman Richermond. Harapan terakhirnya pupus sudah. Semua gara-gara pria sialan keturunan Adira Lukmana itu! Zayn merutuki Jovan.Ketika sampai di sebuah halte bus, Zayn memilih untuk duduk sendiri bengong meratapi nasibnya yang naas. Dia seharusnya menjadi pewaris tunggal aset kekayaan mendiang papanya. Namun, semua tidak bisa diusut. Pengacara keluarga Pradipta malah tersandung kasus hukum hingga masuk bui. Dia sekarang luntang lantung hanya punya dompet dan HP saja. Entah barangnya di kost sudah dibuang ke mana oleh pengelola tempat tersebut atau pula disimpan kalau orangnya baik hati. Zayn belum sempat pulang ke kost. Sebuah mobil sedan Ferrari merah berhenti tak jauh dari halte bus tempat Zayn duduk bengong sendirian di sana. Seorang wanita dengan penampilan heboh dan riasan tebal mendekati Zayn."Hai, apa Mas lagi butuh pekerjaan? Kenalkan namaku Mami Rosa. Aku suka wajah dan perawaka
"Bebaskan saja dia dari tuntutan hukum, Pak Sondang Sirait. Saya lebih senang kalau Zayn menghidupi dirinya sendiri di luar penjara. Cabut laporan kasus saya dari kepolisian ya!" tutur Dokter Maya Suratih pasca sembuh dari cedera di kepalanya.Kepalanya memang bocor di sisi kiri akibat dipukul oleh mantan suaminya itu menggunakan trofi yang terbuat dari kaca. Sungguh tragis justru dia dilukai dengan trofi favorit kebanggaannya sebagai rumah sakit favorit konsumen 6 tahun yang lalu. Saat itu Rumah Sakit Permata Indah Medika masih dipegang managemen lama belum diakuisisi oleh grup Richermond, jadi rumah sakitnya menjadi pilihan utama pasien ibu kota.Usut punya usut, mantan suaminya pernah punya masa lalu hingga memiliki anak haram dengan komisaris utama rumah sakit tersebut. Namun, Dokter Maya menganggap rahasia kelam itu sebatas cukup tahu saja.Pengacara kepercayaan Dokter Maya pun menjawab disertai peringatan, "Baik kalau itu yang diinginkan oleh Bu Dokter Maya. Saya cabut berkas pe
Dini hari sekitar pukul 03.00 WIB Mariana merasakan bagian paha dalamnya dialiri air hangat. Awalnya dia berpikir sedang bermimpi dan mengompol. Namun, ketika merabanya dan mendapati bahwa itu sepertinya air ketubannya ia segera menggoyang-goyang bahu suaminya."Mas Jovan, aku pecah ketuban!" ucapnya sedikit panik karena hampir melahirkan.Jovan yang tadinya masih mengantuk karena baru tidur beberapa jam setelah beberapa putaran bercinta dengan Mariana semalam segera bangun lalu duduk di ranjang. Dia bertanya, "Kuantar ke rumah sakit sekarang ya?""Iya, Mas. Ganti baju dulu. Panggil Pak Sapto buat anterin kita," jawab Mariana lalu perlahan bangkit dari tempat tidur dengan perutnya yang sangat besar. HPL memang besok sebetulnya, wajar lebih cepat sehari. Berat janin terakhir sudah 3.4 kilogram sudah cukup untuk dilahirkan kata Dokter Royce Adler. Mariana mengganti gaun tidurnya yang basah dengan daster batik berkancing depan agar mudah berganti baju pasien nanti di rumah sakit.Setela
"Permisi, Bu. Saya Zayn Alarik Pradipta, kliennya Om Charles. Apa beliau ada di tempat?" ujar Zayn berusaha menemui pengacaranya yang berjanji akan membantu mengurus masalah hak warisnya yang sulit diproses karena surat-surat habis terlahap api saat kediaman Pradipta kebakaran tempo hari.Wanita yang berjaga di bagian front desk kantor firma pengacara serta notaris Hutapea and Friends menghela napas mengulang kalimat yang sama untuk kesekian kalinya ke klien bosnya. "Maaf ya, Mas. Sepertinya saya nggak bisa memberi tahukan sampai kapan beliau tidak bisa memproses kasus hukum Anda. Pak Charles Hutapea tersandung kasus money laundry pejabat pemerintahan sehingga harus ditahan di Rutan Salemba untuk sementara," terang Bu Dyah Pertiwi, karyawati berusia setengah abad itu kepada Zayn yang mendadak bengong."Ta—tapi, perkara hak waris saya gimana dong, Bu? Mungkin rekan Om Charles bisa bantu?!" kejar Zayn, dia risau uang tabungannya tak mampu mencukupi kebutuhan sehari-harinya. "Bisa, sil
Jorges D'Argentine mengusap sudut matanya yang basah. Di sisinya, puteri kesayangannya mengenakan gaun putih sederhana dengan model sabrina mermaid dress memegang lekuk lengannya berjalan dalam langkah anggunnya menuju ke sebuah gazebo berhias mawar putih.Pagi yang sejuk tanpa tertutup lapisan salju di Danau Biel menjadi hari pernikahan sakral yang dinantikan oleh Patrick Olsen. Setelah perjuangan tanpa henti selama berbulan-bulan bolak-balik Jakarta-Genewa, segalanya terbayar lunas. Pada akhirnya Mariana melepaskan kepergian dokter spesialis obsgyn andalannya kembali ke Swiss untuk seterusnya. Dokter Royce Adler yang terikat kontrak menggantikan dirinya sebagai dokter praktik di poli obsgyn rumah sakit jaringan Richermond.Wanita pujaan hatinya yang mungkin adalah jawaban doanya untuk seorang kekasih yang baik hati itu melangkah di seberangnya bersama Tuan Jorges D'Argentine, papanya. Sama seperti calon papa mertuanya, Patrick pun menitikkan air mata haru yang membuat tamu undangan
Sudah beberapa bulan berlalu semenjak pernikahan resmi antara Zayn dan Dokter Maya. Rumah tangga mereka nampak harmonis tanpa ada pertengkaran yang berarti. Namun, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh jua.Memang Zayn sudah mendapat mobil baru untuk akomodasinya pulang pergi ke rumah sakit dan bepergian sendiri. Dokter Maya berangkat ke tempat kerjanya tanpa suaminya seusai sarapan pagi bersama. Dia tidak menaruh curiga sama sekali seperti apa kelakuan Zayn di balik punggungnya.Kehidupan seksual pasangan pengantin baru itu pun sangat aktif nyaris setiap malam mereka bermesraan. Itu pun Dokter Maya bukan hanya dihajar satu atau dua ronde di atas ranjang. Maka dari itu dia tidak pernah berpikir masih ada hasrat yang tak tersalurkan oleh suaminya. Akan tetapi, sesuatu yang tak pernah ia duga terjadi di bawah atap rumahnya.Pintu kamar tidur Zayn diketok tiga kali sebelum dibuka perlahan dari luar. Seorang perempuan berambut panjang hitam legam tergerai sepunggung masuk
Dokter Patrick Olsen mencoba mensiasati kesulitannya untuk resigned dari rumah sakit tempat bekerjanya saat ini dengan mengumpulkan jatah cutinya selama beberapa bulan terakhir. Memang mencari dokter spesialis yang bagus tidak mudah, biasanya dokter yang sudah berpengalaman terkontrak praktik di rumah sakit lain. Sedangkan, dokter yang baru lulus pendidikan spesialis masih butuh menimba pengalaman di meja praktik. Adik angkatan sealmamaternya yang diterima bekerja di rumah sakit jaringan Richermond masih di bawah pemantauannya dan dokter senior poli obsgyn lainnya. Kini dia harus berpesan dengan serius kepada Dokter Royce Adler selama mengambil cuti seminggu penuh."Dokter Royce, kuharap kau ingat semua tips dan trick praktik obsgyn yang sudah kuajarkan kepadamu. Ingat-ingat itu semua selama aku pergi seminggu ke Swiss, okay?" ujar Dokter Patrick duduk berhadapan di ruangan praktiknya bersama Dokter Royce Adler.Pria berambut model taper fade warna pirang itu menyeringai jenaka. "He
"Untuk apa perjanjian pranikah ini, Pak?!" bentak Zayn setelah membaca judul berkas yang disodorkan oleh notaris Dokter Maya Suratih kepadanya di ruang tunggu kantor dinas kependudukan Jakarta Pusat.Pak Rian Fantoni yang dipercaya oleh Dokter Maya mewakilinya sebagai pihak legal dalam setiap perjanjian hukum yang dia buat menjawab standar saja pertanyaan Zayn, "Ini sudah jadi keputusan klien saya, Pak. Zaman sekarang harus serba hati-hati terutama Bu Maya itu seorang wanita sukses dengan banyak harta. Kalau Anda menolak mungkin pernikahan ini tidak bisa terlaksana. Kami nantikan itikad baiknya untuk menanda tangani perjanjian pranikah tersebut!"Kening Zayn berkerut dalam, dia tak menyangka bahwa dalam dua pernikahan dia harus selalu diatur dengan perjanjian pranikah. Harta terpisah, tak ada gono gini setelah bercerai. Hatinya terasa dongkol, niatnya mendapat cipratan harta kekayaan Dokter Maya pun pupus sudah. Apa gunanya jadi suami kere setelah menikahi janda kaya raya itu? pikir Z
"Mas Zayn, maaf. Bukannya tidak bisa diurus hal warisnya, tapi butuh waktu yang tidak diprediksi lamanya karena semua berkas penting habis dilahap api dalam kebakaran rumah tempo hari," tutur Charles Hutapea, pengacara langganan keluarga Pradipta. Kemudian Zayn membalas, "Apa mendiang papa nggak membuat surat warisan semasa hidup dulu, Om?" Sebuah gelengan dengan raut wajah prihatin itu disertai jawaban, "Beliau tidak ingin berpikir cepat meninggal dunia waktu saya menyarankan dulu, Mas. Sayang sekali ketika jatuh sakit, saya tidak tahu karena memang sibuk dengan pekerjaan dan Pak Bram pun sama sekali tidak menghubungi saya lagi.""Ckkk ... payah sekali, lantas jalan keluar yang bisa saya tempuh apa dong, Om? Eman-eman sekali warisan ratusan milyar itu nilainya!" Zayn berdecak kesal dengan wajah tertekuk bersandar di sofa kantor pengacara kondang tersebut.Charles Hutapea beranjak berdiri lalu mengambil sebuah map berkas di rak dokumennya. Dia pun duduk kembali dan menyodorkan sebua