Hanna masih menahan napasnya sejenak, tidak percaya bahwa setiap scene bertatapan dengan Louis selalu bisa membiusnya. Tapi nyatanya itulah yang terjadi, bahkan ketampanan pria itu membuat debar jantung Hanna tidak pernah normal. Louis sendiri ikut terpaku. Setiap menatap bibir Hanna, saklar di tubuhnya mendadak on dan ia membenci dirinya sendiri karena itu. "Sampai kapan kau mau menatapku, hah? Perutku sakit dan aku kedinginan!" seru Louis tiba-tiba, tepat di depan wajah Hanna. Suara itu tidak meninggi seperti biasanya, walaupun jelas ini adalah nada perintah. "Ah, maafkan aku, Pak," sahut Hanna canggung. "Ck, sudahlah, aku bisa sendiri!" Baru saja Hanna akan menurunkan kaos itu, tapi Louis sudah mengambil alih dan menurunkan kaosnya sendiri menutupi tubuhnya. "Ah, harusnya aku tidak melewatkan makan malamku," gumam Louis saat rasa tidak nyaman di perutnya kembali terasa. Hanna mengerjapkan matanya. "Kalau sudah tahu Anda bisa sakit kalau melewatkan makan malam, mengap
Hanna terbangun di tengah malam, kelopak matanya terasa berat. Ia tidak ingat kapan tepatnya tertidur, tapi saat ini ia sudah duduk bersandar di samping Louis. "Ya ampun, aku tertidur," gumamnya sambil buru-buru meraba dahi pria itu.Demamnya sudah turun.Sejak Louis terlelap, Hanna tidak langsung tidur. Ia terus mengompresnya, mengganti kain dingin berkali-kali, hingga akhirnya kelelahan dan ikut terlelap.Hanna menghela napas lega dan berniat bangkit dari ranjang. Namun, tatapannya tanpa sengaja jatuh pada wajah Louis.Saat tidur dan saat tidak sedang sinis, wajah itu begitu tampan dan damai. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan bibir tipis yang ....Seketika Hanna merinding mengingat rasa bibir Louis di tubuhnya, desahan kasar pria itu di telinganya, serta sentuhan panas di sekujur tubuhnya sampai Hanna langsung memeluk dirinya sendiri. "Astaga, apa yang kau pikirkan, Hanna?" gerutunya, menepiskan pikirannya.Tanpa menoleh lagi, Hanna pun akhirnya merapikan bak
"Akhirnya kau datang juga, Hanna!" Suara Susan langsung menyambut Hanna begitu ia tiba di kantor siang itu. Hanna mengernyit. "Ada apa, Susan?" "Refi sudah dua kali menelepon dan bertanya tentangmu." "Refi? Asistennya Pak Louis?" "Iya, memangnya Refi siapa lagi?" Jantung Hanna berdetak sedikit lebih cepat. "Ya ampun, tapi kenapa dia mencariku?" Susan mengangkat bahu. "Aku juga tidak tahu. Saat aku tanya ada pesan apa, dia hanya bilang tidak ada. Tapi kalian ada urusan apa sampai dia mencarimu terus?" Hanna menggeleng. "Aku tidak ada urusan apa-apa dengannya. Tapi biarkan saja. Kalau memang penting, dia pasti menelepon lagi nanti!" Hanna berusaha bersikap santai, walaupun ia terus bertanya-tanya sendiri. Mengapa Refi mencarinya? Apa Louis yang menyuruhnya? Apa Louis benar-benar ingin memastikan apakah Hanna sudah kembali? Hanna tidak menelepon balik, dan ternyata, Refi pun tidak menelepon lagi sampai akhirnya jam pulang kerja tiba. "Aku baru sadar kalau si Refi tidak menc
Louis menyetir mobilnya dengan perasaan yang masih kesal malam itu. Bukan kesal pada siapa pun, hanya kesal pada dirinya sendiri. Ia sengaja meminta Refi untuk tidak bertanya lagi tentang Hanna karena Louis tidak mau tahu lagi. Bahkan, Louis lembur sampai malam juga agar ia tidak perlu berinteraksi dengan Hanna di rumah. "Terus bertemu dengannya bisa membuatku gila! Aku juga tidak akan mencari tahu tentang dia lagi! Memangnya dia siapa?" "Tapi untunglah akhirnya Indira pulang! Walaupun aku masih marah padanya, tapi lebih baik ada dia daripada aku harus berdua dengan wanita itu!" keluh Louis yang melajukan mobilnya makin cepat. Namun, rencana Louis untuk tidak berinteraksi dengan Hanna pun berantakan saat ia melihat Hanna di depan gerbang rumahnya. Tidak sendiri, melainkan bersama seorang pria yang entah mengapa begitu Louis ingat, pria di rumah sakit waktu itu. Mendadak Louis dirambati amarah yang tidak jelas di dadanya. Moodnya seharian sudah begitu buruk dan pemandangan yang ia
Hanna mematung setelah Louis meninggalkannya begitu saja di depan gerbang. Louis melajukan mobilnya masuk ke halaman rumah dan tidak peduli lagi padanya yang masih berdiri di sana. Jantung Hanna memacu kencang. Ucapan Louis barusan sama sekali tidak ia sangka. Sungguh, Hanna sadar statusnya sebagai istri, ia bukan wanita single lagi dan ia juga tidak bermaksud merayu pria mana pun. Hanya saja, ucapan Louis barusan membuat Hanna merasa ... entah bagaimana harus mengatakannya. Tapi Hanna merasa dimiliki .... Tatapan Hanna goyah sejenak. "Ya Tuhan, pikiranmu mulai tidak jelas, Hanna! Kalau pun dia melarangmu untuk merayu pria lain, itu karena dia tidak terima diselingkuhi. Ya, suami mana yang terima diselingkuhi?" "Tapi aku tidak pernah berpikir untuk selingkuh. Aku ... ck, baiklah, tidak usah dipikirkan lagi. Lebih baik aku masuk karena Bu Indira sudah menungguku." Hanna pun merapikan dirinya dan segera berlari kecil masuk ke rumah. Terlihat Indira sudah duduk di sana dan Louis
Hanna mematung di tempatnya, jantungnya berdebar begitu kencang hingga hampir melompat keluar dari dadanya. Kulitnya masih basah dan dingin setelah mandi, tapi sungguh, semuanya tertutupi oleh panas yang mendadak memenuhi ruangan begitu Louis masuk dengan ekspresi penuh amarah. Bukan hanya kehadiran pria itu yang menegangkan, tapi ucapannya barusan membuat bulu kuduk Hanna meremang. "Anda … bicara apa?" Suaranya bergetar. "Anda pasti mabuk, Pak." Alih-alih mundur atau menjauh, Louis justru semakin mendekat, langkahnya mantap, tatapannya tajam menusuk, seolah menelanjangi Hanna hingga ke lubuk hatinya yang terdalam. "Apa aku terlihat seperti orang mabuk, hah?" Suaranya rendah, tapi sangat mengancam. "Aku bilang ayo kita lakukan sekarang. Aku akan membuatmu hamil, Hanna!" Hanna tersentak, napasnya tercekat, tapi ia bahkan tidak sempat memproses ketakutannya karena sedetik kemudian, Louis sudah ada di hadapannya. Kedua tangan pria itu menangkup wajahnya, jari-jarinya mencengkeram d
Hanna tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat, ia menjaga jarak sejauh mungkin dari Louis, hingga mungkin kalau ia bergerak sedikit saja, ia bisa jatuh dari ranjang. Namun, tanpa sadar, tubuhnya beringsut mencari kehangatan yang seakan menariknya perlahan.Mungkin karena ranjang yang begitu luas. Mungkin karena malam terasa begitu dingin.Atau mungkin … karena di alam bawah sadar mereka, ada sesuatu yang perlahan menyeret mereka lebih dekat. Dan saat Hanna mendapatkan kehangatannya, tidurnya yang tadinya gelisah pun mulai nyenyak. Pagi pun menjelang dengan cepat dan Hanna masih mengeratkan pelukannya ke tubuh Gio. Ya, Hanna masih mengira tubuh yang dipeluknya adalah tubuh Gio karena memang hanya adiknya yang tidur dengannya setiap malam. Namun, Gio-nya terasa berbeda hari ini. Gio-nya mendadak besar dan kekar. Secara naluriah, Hanna menggerakkan tangannya membelai dada Gio, dan mendadak Hanna sadar bahwa itu bukan Gio. Sontak Hanna membuka matanya nyalang. "Ya Tuhan
"Jadi semalam kau tidur dengan suamiku?" Begitu Hanna tiba di kantor, Indira langsung memanggilnya dan membahas hal yang sama sampai Hanna tertekan sendiri. Padahal dulu setiap kali Indira memberinya pekerjaan, memintanya lembur atau menemani ke luar kota, Hanna sangat bersemangat karena Indira selalu memberikan bonus yang besar. Namun, sekarang rasanya sangat berbeda. "Tidak, Bu. Lagi-lagi Pak Louis tidak bisa melakukannya denganku," jawab Hanna tanpa basa-basi. Indira menatapnya lama tanpa ekspresi, seolah meneliti setiap inci wajah Hanna untuk memastikan kebohongan. Namun, tanpa berkomentar lebih lanjut, ia membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil, lalu mendorongnya ke hadapan Hanna."Itu alat tespek, periksa dirimu ketika mendekati jadwal haid. Sekalipun kau gagal terus, jangan lupa kalian pernah melakukannya satu kali waktu itu kan? Aku butuh keturunan segera, Hanna!" Hanna menatap kotak di hadapannya sedikit lebih lama, sebelum ia mengangguk dan menga
Hanna masih begitu tegang dengan scene ini, tapi ia tahu apa yang harus ia lakukan. Buru-buru Hanna menarik tangannya dari Louis duluan. "Ah, maaf, Pak!" seru Hanna. "Jalan saja tidak benar, Hanna! Atau kau sengaja tersandung, hmm?" desis Louis yang akhirnya melepas tangan Hanna dengan kasar. Hanna kembali menahan napasnya singkat sambil menatap Louis dengan tajam, sementara Martin malah begitu lembut bicara dengan Hanna. "Kau tidak apa, Hanna?" "Ah, iya, aku tidak apa, Dokter. Terima kasih!" Hanna tersenyum singkat.Louis yang melihatnya kembali kesal. Bisa-bisanya Hanna tersenyum pada Martin, tapi tidak padanya. Hanna mengucapkan terima kasih pada Martin, tapi tidak padanya. Louis mengembuskan napas kesalnya dan memalingkan wajahnya. Sambil memasukkan satu tangan di kantong celananya, Louis melangkah ke arah Indira dan langsung memeluk pinggang istrinya itu dengan mesra. "Ayo kita masuk dulu saja!" ajak Louis. Tanpa menoleh ke arah Hanna lagi, Louis dan Indira pun masuk ke r
"S-selamat malam, Pak, Bu!" Hanna menyapa dengan begitu canggung dan suasana pun hening sejenak. Jantung Hanna memacu begitu kencang karena ia tidak menyangka akan bertemu dengan bosnya itu. Begitu juga dengan Louis dan Indira yang masih membelalak begitu lebar. Namun, sebelum ada yang menyahut lagi, Martin sudah berbicara duluan. "Jadi kalian juga sudah saling mengenal ya, aku tidak tahu kalau bosmu ini adalah suaminya Bu Indira, Hanna." "Sebenarnya itu ...." "Aku yang bosnya. Hanna ini adalah asistenku," sela Indira. Martin terdiam sejenak melirik Louis. "Ah, maafkan aku. Kupikir suamimu adalah bosnya Hanna karena aku beberapa kali bertemu dengannya bersama Hanna." Indira mengernyit mendengar kata beberapa kali bertemu, tapi Louis tidak membiarkan istrinya itu berpikiran macam-macam dan ia langsung menyahut duluan. "Kami suami istri dan Hanna bekerja bersama kami, jadi kami adalah bosnya Hanna, apa bedanya? Tapi aku terkejut sekali melihatmu bersama Hanna, apa kalian ... be
Setelah berjam-jam menunggu dengan perasaan cemas, akhirnya Hanna diijinkan menemui Gio yang sudah mulai sadar di ruang ICU menjelang malam itu. "Ayo, Hanna. Kita ke sana," ajak Martin yang juga setia di rumah sakit sampai malam.Martin punya kesibukan lain dan jam praktik, tapi ia tetap menemani saat Gio sadar. Hanna pun langsung masuk ke ruangan Gio dan ia melihat tubuh kecil Gio yang terbaring lemah di atas ranjang dengan berbagai alat medis terpasang di tubuhnya. Selang oksigen masih menutupi wajah mungilnya, tapi yang paling penting adalah Gio hidup. Gio selamat."Gio ...." Suara Hanna bergetar saat ia mendekat dan menggenggam tangan adiknya dengan hati-hati. "Kakak menunggu sejak tadi, Sayang." Martin berdiri di sampingnya dan menepuk bahu Hanna pelan. "Gio dalam keadaan stabil sekarang. Semuanya baik, walaupun ini masih dalam proses pemantauan ketat."Hanna mengangguk cepat, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. "Terima kasih, Dokter! Terima kasih!" Martin ikut mengangguk d
"Kau yakin tidak apa meninggalkan bosmu seperti itu, Hanna?" Martin dan Hanna sudah duduk berdua di kantin rumah sakit. Awalnya Martin sungkan mengajak Hanna makan hanya di "kantin," tapi ia masih punya tanggung jawab yang tidak bisa ia tinggalkan lama-lama. Hanna, yang sejak awal tidak ingin meninggalkan rumah sakit, merasa cukup lega bisa makan dengan tenang di kantin rumah sakit yang sederhana ini. Setidaknya, ia tidak merasa terlalu terikat dengan suasana formal."Ah, tidak apa, Dokter," jawab Hanna, mencoba terdengar santai. "Seperti yang kubilang tadi, dia ... hanya mampir. Dia juga buru-buru.""Begitu ya?" Martin menyimpulkan sambil mengunyah. "Tapi dia bos yang sangat baik, Hanna. Masih sempat mampir di tengah kesibukannya. Kau beruntung punya bos seperti itu."Hanna memaksakan senyuman, tapi hatinya terasa berat. Martin terus saja memberikan pujian, yang sepertinya tak ada habisnya."Dia peduli pada karyawannya," lanjut Martin tanpa menyadari ketegangan yang mulai dirasakan
"Ke mana kita ini? Sepertinya salah jalan!" "Haha, ini menuju ruang operasi!" "Ya ampun, benar-benar salah jalan." Linda dan temannya baru saja akan menjenguk orang di rumah sakit saat mereka salah jalan dan malah melangkah ke arah ruang operasi. Mereka pun berniat berbalik arah saat Linda melihat seseorang yang familiar di depan ruang tunggu operasi. "Eh, itu seperti menantuku, siapa yang bersamanya itu?" seru Linda yang posisinya tidak terlalu jauh dari Louis. Linda bisa melihat Louis yang sedang menghampiri seorang wanita dan memberikan sesuatu untuk wanita itu. "Siapa? Louis Sagala suami Indira itu?" tanya temannya. Linda berdecak. "Ck, anakku hanya satu, menantuku ya jelas hanya satu juga!" "Ah, kau tidak menghitung istri Joseph ya." "Cih, dia bukan anakku! Tapi ayo kita sapa dia dulu!" Baru saja Linda melangkah mendekati Louis dan berniat menyapanya, tapi sedetik kemudian, ia menghentikan langkahnya saat ia mengenali wanita yang bersama Louis. "Ya Tuhan, itu kan Han
Louis masih terdiam menatap Hanna. Sekalipun ia kesal pada penolakan Hanna, nyatanya kemarahan wanita itu tidak membuatnya mundur."Kau benar-benar keras kepala, Hanna! Dengar ya! Aku di sini bukan untuk bertengkar denganmu, aku membawakanmu makanan, jadi lebih baik kau makan dengan patuh saja!" "Ini bukan di kantor, mengapa aku harus menuruti Anda? Aku tidak mau makan!" "Sial, Hanna! Bisakah kau tidak membantahku? Kau belum makan sejak tadi, kau mau adikmu sembuh tapi kau yang sakit, hah? Apa susahnya menerima makanan dariku?" Tatapan Hanna goyah menatap Louis, ia tidak mengerti apa yang sedang Louis lakukan sekarang, marah tapi juga seolah peduli padanya. "Bisakah Anda tidak usah berpura-pura peduli padaku, Pak? Aku ini hanya pembohong dan wanita murahan, aku makan atau tidak, itu tidak ada hubungannya dengan Anda!" Louis kehabisan kata-kata. Ada apa dengan wanita itu yang mendadak mengaum seperti singa dan terus mengungkit kesalahan Louis? Namun, Louis juga tidak akan merenda
"Hanna, bagaimana?" Suara Susan yang berlari di koridor membuat Hanna menoleh. Hanna langsung tersenyum melihat sahabatnya di sana. "Susan!" Susan buru-buru ke rumah sakit begitu jam istirahat tiba agar ia bisa menjenguk Gio yang dioperasi, tapi ternyata operasinya belum selesai. "Bagaimana di dalam?" tanya Susan yang sudah duduk di samping Hanna. "Aku belum tahu, operasinya belum selesai padahal ini sudah tiga jam berlalu. Aku sampai tidak bisa bernapas lega." "Oh, sabar, Hanna! Semuanya akan baik-baik saja, aku yakin itu." "Terima kasih, Susan." "Tapi apa kau sudah makan? Ayo kita makan bersama!" Hanna menggeleng. "Aku tidak bisa makan. Perutku mual dan aku sama sekali tidak lapar. Aku terlalu tegang, Susan." Susan mendesah. "Ya ampun, aku paham, Hanna. Tapi kau harus makan sedikit, kau bisa lemas kalau seperti ini!" "Nanti saja! Aku mau menunggu dokter keluar." Susan terdiam sejenak sebelum bertanya, "Berapa lama seharusnya operasinya berlangsung?" "Empat sampai enam j
Hanna menggenggam tangan Gio erat saat para perawat mendorong ranjang rumah sakit ke arah ruang operasi pagi itu. Hanna melangkah di sampingnya. Tubuh kecil itu terbaring dengan wajah tegang. Hanna sendiri juga tegang, tapi sebisa mungkin, Hanna menenangkan adiknya itu. "Kak Hanna ...." Suara Gio lirih dan bergetar. "Jangan takut ya, Sayang. Ada Uncle Dokter yang akan menjaga Gio di dalam." "Kak Hanna boleh ikut masuk saja? Temani Gio ...." "Tidak bisa, Sayang." Mata Hanna memanas. "Kakak tidak boleh masuk ke ruang operasi, tapi semuanya akan baik-baik saja ya." Air mata Hanna sudah mau jatuh, tapi Hanna menahannya. Mengantar adiknya yang masih kecil ke ruang operasi sangat mematahkan hatinya. Tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi di dalam ruang operasi nanti, apalagi yang dioperasi adalah jantung Gio. Tapi hanya ini satu-satunya jalan untuk Gio bisa bertahan. Selama di rumah sakit sendiri, kondisi Gio naik turun, dan Hanna percaya ini yang terbaik.Hanna pun sud
"Eh, mana Hanna?" Samuel dan Louis akhirnya keluar dari ruang kerja menjelang siang itu dan Samuel pun langsung mencari Hanna di meja Refi. Baru saja Refi akan menjawabnya, tapi Louis sudah menyelanya duluan. "Untuk apa kau mencarinya, Samuel? Itu tidak penting!" geram Louis. "Tidak ada, hanya ingin menyapanya saja. Tapi apa kau sadar kalau kau sangat aneh, Kak? Sejak kemarin kau aneh, sekarang pun kau aneh. Memangnya ada apa dengan Hanna sampai kau terlihat sangat membencinya?" Louis mengembuskan napas panjangnya. "Siapa yang membencinya? Jangan berpikir yang tidak-tidak!" "Haha, benarkah? Mama sangat menyukainya, Kak." "Ck, Mama baru bertemu dengannya satu kali, Mama belum mengenalnya. Kita tidak boleh melihat orang dari penampilannya saja!" "Apa maksudnya?" "Tidak ada! Tapi ayolah, kita makan siang bersama!" ajak Louis yang langsung membawa Samuel bersamanya. Refi yang mendengarnya sampai merasa tidak enak hati."Apa Hanna pernah memberitahu Bos alasannya menerima tawara