Pagiiii.........ku....mendungku.....
Reval tersenyum tipis meskipun rasa sakit masih terasa. “Dulu, waktu aku remaja, aku sering menjelajah hutan. Salah satu pelajaran berharga yang aku dapat adalah bagaimana mengatasi kaki terkilir.” Naura memiringkan kepalanya, jelas penasaran. “Menjelajah hutan? Serius, Pak?” Reval mengangguk, pandangannya berubah sedikit jauh, seperti mengingat masa lalunya. “Iya, aku dulu sering ikut eksplorasi bersama teman-teman. Ada satu kejadian yang sampai sekarang nggak pernah aku lupa.” Ia mulai memijat pergelangan kakinya dengan gerakan hati-hati, sambil melanjutkan ceritanya. “Waktu itu, aku dan beberapa teman masuk ke dalam hutan besar di dekat desa kakekku. Kami terlalu asyik menjelajah sampai akhirnya tersesat. Malam mulai turun, dan kami mulai panik.” Naura mendekat sedikit, tertarik dengan ceritanya. “Terus, apa yang terjadi?” Reval tersenyum samar, matanya sedikit berkaca-kaca mengenang. “Aku terpeleset di tebing kecil dan pergelangan kakiku terkilir. Teman-temanku juga ketakutan
Cahaya matahari pagi mulai merembes melalui celah-celah dinding gubuk kecil itu. Naura perlahan membuka matanya, merasa ada sesuatu yang hangat dan nyaman di bawah kepalanya. Seketika wajahnya memerah ketika menyadari bahwa ia telah tidur di pangkuan Reval. Jemari lelaki itu masih bertengger lembut di rambutnya, seolah melindungi dari dinginnya malam sebelumnya. Ia melirik wajah Reval yang masih terpejam, napasnya teratur. Wajahnya yang biasanya dingin tampak lebih tenang dalam tidur. Naura mencoba bangkit perlahan agar tidak membangunkannya, tetapi gerakannya terhenti oleh suara keras dari luar. Brak! Pintu gubuk terbuka lebar, disertai suara langkah-langkah tergesa. “Pak Reval, Ibu Naura!” panggil seseorang dengan suara penuh kecemasan. Naura terlonjak, buru-buru menegakkan tubuhnya. Ia salah tingkah saat mendapati pandangan Reval yang baru terbangun, masih sedikit mengantuk, tetapi dengan cepat menyadari situasi. “Ervan!” seru Naura, suaranya bergetar. Lelaki tersebut ber
Naura tertegun, matanya membulat tak percaya. Jemarinya menggenggam ponsel gemetar. Ia menatap kosong ke arah lantai, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba melonjak. “Mas Dion,” ia berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil, meski ada getaran yang tak bisa disembunyikan, “Pak Reval sedang sakit Mas, mana mungkin aku menanyakan soal uang itu? Kenapa Mas Dion tidak menanyakan keadaanku?” Hening sesaat di ujung sana, sebelum Dion menjawab, “Aku tanya begitu karena ini penting, Naura. Kalau aku nggak butuh, aku nggak akan repot-repot nanya. Kamu bisa kan coba cari cara?” Naura terdiam, rahangnya mengeras. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan amarah yang mulai naik. Tanpa menjawab, ia menekan tombol merah dan memutus panggilan itu. Telepon berakhir, meninggalkan keheningan yang menggantung. Naura menatap layar ponselnya, hatinya terasa kosong. Tiba-tiba Reval muncul di belakang Naura. Meski ia tidak mendengar isi percakapan, ekspresi Naura sudah cukup membuatnya be
Beberapa jam kemudian, dokter menyatakan bahwa Reval sudah cukup stabil untuk meninggalkan rumah sakit. Dengan bantuan Ervan, Reval dibantu berpindah ke kursi roda. Naura berdiri di sisi Reval, menunggu dengan sabar. “Terima kasih atas bantuannya, Dokter,” ucap Reval sambil menyalami dokter dengan tangan yang masih sedikit lemas. Naura memperhatikan setiap gerakan Reval, memastikan ia baik-baik saja. Namun, sesaat sebelum mereka keluar dari ruang perawatan, Callista muncul dengan tergesa-gesa. “Reval sayang, kamu sudah boleh pulang?” tanyanya, wajahnya terlihat lega. Reval mengangguk singkat. “Dokter bilang aku sudah bisa istirahat di luar rumah sakit.” Callista langsung menyambar pegangan kursi roda Reval, seolah memastikan bahwa dirinya yang akan mengurus lelaki itu. “Ayo, aku antar kamu kembali ke hotel. Naura, kamu pasti juga butuh istirahat.” Naura menatap Callista sejenak, tetapi tidak berkata apa-apa. Langkahnya melambat, membiarkan Callista mendorong kursi roda R
Reval mengangkat alis, jelas memahami arah pikiran Naura. “Kamu benar-benar memikirkan hal seperti itu?” tanya Reval dengan nada tidak percaya, tetapi ada jejak kesenangan di baliknya. “Saya tidak berpikir apa-apa,” jawab Naura cepat, tetapi matanya tetap menghindari tatapan Reval. Reval mendesah, kemudian menatap Naura lebih dalam. “Naura, aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu, tapi aku tidak melakukan apa pun dengan Callista. Kalau aku mau, aku sudah melakukannya dari dulu. Tapi aku tidak pernah mau.” Naura mendongak, sedikit terpukul dengan kata-kata itu. “Lalu kenapa membiarkan dia di sini?” “Karena dia tidak mau pergi,” jawab Reval jujur. “Tapi aku sudah menyuruhnya untuk tidak datang lagi. Itu cukup, kan?” Naura tidak menjawab. Ada rasa lega di dadanya, tapi juga perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan. Reval, yang tampaknya bisa membaca sedikit perasaan itu, mendekat lagi, kali ini dengan senyum kecil di wajahnya. “Kamu terlihat lucu saat cemburu, Naura,” ujar Rev
Naura tidak menjawab. Sejujurnya, kata-kata Reval membuat dadanya bergetar hebat, tetapi ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya. Dalam diam, ia hanya bisa menunduk, berharap waktu bisa bergerak lebih cepat dan situasi ini segera berlalu. Namun, Reval tidak membutuhkan jawaban. Dengan gerakan lembut, ia mengangkat tangannya, menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah Naura. Sentuhan itu membuat Naura memejamkan mata, mencoba mengendalikan jantungnya yang berdegup kencang. Jemari Reval mendarat di pipinya, hangat dan menenangkan, tetapi sekaligus membingungkan. “Kamu tidak perlu merasa terganggu dengan Callista,” ujar Reval, suaranya lebih pelan namun penuh ketegasan. “Dia tidak berarti apa-apa bagiku. Yang perlu kamu tahu—” Ucapan Reval terpotong oleh dering ponsel yang mendadak memecah suasana. Naura terkejut, buru-buru mengambil ponselnya dari saku. Nama Dion tertera di layar, membuat wajah Naura berubah tegang. “Saya harus pergi,” pamit Naura tergesa-gesa, mencoba melepas
Naura mencoba menenangkan dirinya, tetapi setiap kali mobil berbelok tajam atau melaju lebih cepat, rasa paniknya kembali memuncak. Kegelapan kain yang menutup matanya membuat semua terasa semakin mencekam. Ia hanya bisa mendengar suara deru mesin mobil dan tawa rendah salah satu pria di dalam mobil. “Kita dapat yang cantik malam ini,” suara itu terdengar di dekat telinganya. Naura menggigil. Ia mencoba bergerak, tetapi tangan dan kakinya terikat terlalu erat. Tubuhnya terasa lemas, seolah semua kekuatannya telah menguap bersama harapan untuk lolos. “Sudah, jangan terlalu banyak bicara. Kalau terlalu rusuh, bos nggak bakal senang,” sahut suara lain yang terdengar lebih tegas. Mereka menyebut ‘bos’. Naura semakin ketakutan. Siapa bos yang mereka maksud? ‘Apa yang akan mereka lakukan padaku?’ Tiba-tiba, mobil berhenti mendadak. Naura terdorong ke depan, meski sabuk pengaman mencegah tubuhnya jatuh sepenuhnya. “Sampai. Bawa dia keluar,” perintah suara itu lagi. Naura mendenga
“Pak Reval?” Naura berbisik, hampir tidak percaya. Reval melangkah masuk dengan tenang, mengenakan setelan jas yang masih rapi meski wajahnya tampak dingin dan serius. Ia berhenti di tengah ruangan, matanya menyapu semua orang di sana, sebelum akhirnya berhenti di wajah Naura. “Lepaskan dia,” suara Reval terdengar datar, tapi penuh otoritas. Lelaki berjas hitam itu tertawa kecil. “Dan siapa kamu sampai berani memberi perintah di sini?” Reval tidak menjawab. Sebaliknya, ia mengeluarkan ponsel dari saku, menekan beberapa tombol, lalu memperlihatkan layar ke lelaki itu. Wajah lelaki itu berubah drastis, dari penuh percaya diri menjadi pucat pasi. “Bagaimana … kamu bisa tahu tentang ini?” gumamnya dengan nada terkejut. “Aku punya cara,” jawab Reval sambil melipat tangan. “Sekarang, lepaskan dia, atau aku pastikan semua yang kamu sembunyikan akan berakhir di tangan yang salah.” Lelaki itu terdiam, terlihat sedang mempertimbangkan situasi. Setelah beberapa detik, ia akhirnya membe
“Paman Riko?”Reval merasakan amarah membakar seluruh tubuhnya. Ia mengepalkan tangan, nyaris melayangkan pukulan ke wajah Dion, tetapi pria itu dengan santai menjauh, mengangkat ponselnya lebih tinggi.“Tenang, Reval. Kalau kau menyentuhku, aku bisa saja menyuruh Riko melakukan sesuatu yang lebih buruk pada Naura,” katanya dengan seringai puas. Reval mengertakkan giginya. “Apa yang kau inginkan?”Dion menoleh ke Callista dan tertawa kecil.“Gampang. Akui bahwa anak dalam kandungan Callista adalah milikmu, nikahi dia, dan aku akan melepaskan Naura,” katanya santai.Reval mencibir. “Mimpi.”Callista mendekat dengan tatapan penuh kemenangan. “Reval, kau tahu kau tidak punya pilihan, kan?” ujarnya manja, tangannya berusaha menyentuh dada Reval.Reval menepisnya kasar. “Kalian pikir aku bisa percaya pada kalian? Bahkan jika aku menuruti permintaan kalian, tidak ada jaminan Naura akan selamat.”Dion terkekeh. “Tentu saja ada jaminannya. Tapi kalau kau membangkang…” Ia memutar video lain.
“Sebenarnya ... ini bukan hal yang penting.”Naura tidak tahu harus menjawab apa.“Naura, ada apa? Apapun itu, aku akan mendengarkannya.”Naura menatap Reval, lalu mengambil secarik kertas. “Surat cerai saya sudah resmi. Saya dan Mas Dion … bukan suami-istri lagi.”Reval menatap surat itu. Rasanya seperti beban besar terangkat dari dadanya. Ia merasa lega dan informasi itu adalah sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu olehnya. Bagaimana mungkin Naura mengatakan bahwa itu tidak penting?Namun, ekspresi Naura masih terlihat berat dan seolah sedang dilanda gelisah yang mendalam.“Ada apa lagi?” tanya Reval lembut.Naura menggigit bibirnya. “Saya mendengar sesuatu dari Bu Lastri belakangan ini.”Reval mengernyit. “Apa?”Naura menghela napas, lalu menatap Reval dalam-dalam. “Callista. Sebenarnya dia tidak benar-benar tinggal di rumah Mas Dion. Waktu itu dia hanya kebetulan ada di sana saat saya mengajukan cerai dan dia sengaja memanas-manasi saya.”Reval menegang.“Dan satu lagi.” Naura mene
Reval berjalan mondar-mandir di koridor rumah sakit. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang membuatnya merasa tidak tenang. Firasat buruk terus menghantui pikirannya. Ponselnya di saku bergetar. Dengan malas, ia meraihnya dan melihat nama yang tertera di layar. Dahi Reval mengernyit. Setelah beberapa detik ragu, ia akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan. Di sana ia melihat Callista duduk di atas ranjang dengan wajah pucat. Mata wanita itu tampak merah seolah habis menangis. Reval menutup pintu dan berjalan mendekat. “Apa yang terjadi? Kenapa kamu yang ada di sini?” Callista menundukkan kepalanya, menggenggam ujung selimut dengan erat. “Aku … aku hamil, Reval.” Jantung Reval seperti berhenti berdetak sejenak. Ia menatap Callista dengan tatapan tajam. “Apa hubungannya denganku? Lalu di mana Naura? Aku ingin bertemu dengannya.” “Tentu saja ada hubungannya denganmu, Reval.” Callista mengangkat kepalanya, menatapnya dengan mata penuh harap. “Ini adalah anakmu.” Reval m
Ruang tamu dipenuhi keheningan yang menegangkan. Adelia duduk di sofa dengan tatapan dingin, sementara Reval berdiri di depannya, menatapnya dengan penuh ketegasan. “Apa kamu bilang?” suara Adelia meninggi, ekspresi wajahnya menunjukkan ketidaksenangan. Reval menarik napas panjang, berusaha menahan emosinya. “Aku ingin mama meminta maaf kepada Naura.” Adelia tertawa kecil, namun tidak ada kehangatan dalam tawanya. “Kenapa tiba-tiba kamu meminta hal itu, Reval? Mama tidak merasa punya urusan dengan perempuan itu.” Reval mengepalkan tangan, berusaha tetap tenang. “Karena mama telah menyakitinya.” Adelia menyipitkan mata. “Jangan membesar-besarkan masalah, Reval. Lagipula, perempuan itu bukan siapa-siapa bagi mama.” Reval mendekat, menatap ibunya dengan tajam. “Bukan siapa-siapa? Dia adalah wanita yang sedang mengandung anakku, Ma!” Adelia terdiam sesaat. Matanya membulat, tapi ia segera menyembunyikan keterkejutannya dengan tawa sinis. “Jadi, itu alasan kamu membelanya mati-matian
PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dion, meninggalkan jejak kemerahan yang jelas. Kepala pria itu sedikit tergeleng, namun bukan karena sakitnya tamparan itu, melainkan karena keterkejutannya. Callista berdiri di hadapannya dengan mata membelalak, napasnya memburu penuh amarah. “Ini semua gara-gara kamu, Dion!” suara Callista menggema di seluruh ruangan. Dion mengusap pipinya yang perih, ekspresinya berubah dingin. “Kenapa kamu menamparku, Callista? Kita melakukannya atas dasar suka sama suka.” Callista mendengkus kasar. Ia memeluk tubuhnya sendiri, seakan merasa jijik dengan situasi yang sedang terjadi. “Sial! Aku hanya ingin bersenang-senang, bukan mendapatkan ini!” Suaranya bergetar, dan matanya menatap Dion dengan kebencian. Dion menyipitkan mata. “Maksudmu?” “Aku hamil, Dion! Aku mengandung anak sialan ini gara-gara kamu!” Callista berteriak frustrasi, tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dion terdiam sejenak. Pikirannya berputar cepat, menc
Beberapa minggu telah berlalu. Naura berdiri di depan pintu rumah yang dulu ia tinggali sebagai istri Dion. Pintu rumah itu masih sama seperti terakhir kali Naura melihatnya. Cat cokelat tua yang mulai memudar, gagang pintu berwarna perak yang kini tampak lebih kusam. Namun, bagi Naura, rumah ini sudah kehilangan maknanya sejak lama. Tangannya menggenggam erat amplop cokelat berisi surat cerai. Dalam hati, ia menguatkan dirinya. Ia harus menyelesaikan semuanya. Tidak ada lagi alasan untuk bertahan di dalam pernikahan yang telah hancur sejak lama. Dengan napas panjang, Naura mengetuk pintu. Dadanya berdebar, bukan karena ragu, tetapi karena ia ingin semua ini segera berakhir. Tak butuh waktu lama, suara langkah kaki terdengar dari dalam, lalu pintu terbuka. “Naura!” Suara itu begitu akrab. Hangat. Seakan tidak ada luka yang pernah mengisi kehidupan mereka. Bu Lastri berdiri di ambang pintu dengan mata berbinar, seolah-olah kehadiran Naura adalah sesuatu yang ia rindukan sejak la
Reval menghela napas, lalu menangkup wajah Naura dengan kedua tangannya. “Aku mencintaimu, Naura,” ucapnya serius. “Aku tidak akan menikahimu hanya karena tanggung jawab. Aku ingin bersamamu karena aku memang menginginkannya. Lebih dari apapun.” Naura menatap mata Reval, mencari kepastian di sana. Dan ia menemukannya. Kejujuran. Ketulusan. Tapi tetap saja... “Tidak semudah itu, Pak Reval,” bisiknya. “Ada banyak hal yang harus saya pikirkan.” Reval melepaskan tangannya dari wajah Naura, kemudian menghela napas panjang. “Lalu berapa lama lagi kamu mau berpikir?” tanya Reval dengan nada frustrasi. Naura menunduk, mengusap perutnya yang masih datar. “Apa kamu takut?” tanya Reval lagi. Naura mengangkat wajahnya, menatap Reval dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Ya,” jawabnya jujur. Reval terdiam. Naura menghela napas berat, suaranya lirih ketika berkata, “Saya takut mengambil keputusan yang salah. Takut jika perasaan ini hanya sesaat. Takut jika nanti saya justru menyakiti B
Naura mengangguk cepat. Reval mendesah, lalu melambai pada pelayan. “Pesan satu es krim cokelat.” “Tunggu, Pak Reval! Saya maunya yang stroberi.” Reval terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Oke, stroberi.” Tak butuh waktu lama, es krim datang. Naura langsung menyendoknya dengan bahagia, tapi tiba-tiba ia mengernyit. Reval memperhatikan ekspresinya dengan waspada. “Kenapa lagi?” Naura menggigit bibirnya. “Sepertinya saya ingin yang cokelat.” Reval menatapnya selama beberapa detik sebelum akhirnya tertawa lepas. Naura menatapnya kesal. “Bapak kenapa tertawa?” “Kamu mulai bertingkah seperti ibu hamil pada umumnya.” Naura mendelik. “Saya memang hamil, kan?” Reval mengangkat bahu dengan senyum lebar. “Ya, tapi sekarang kamu benar-benar kelihatan seperti bumil yang sering ngidam aneh-aneh.” Naura mendengkus, tapi diam-diam pipinya merona. Reval memperhatikannya, lalu tanpa sadar mengulurkan tangan dan menyentuh jemari Naura di atas meja. “Apa?” tanya Naura bingung. Reval te
Naura menggeleng cepat. “Tidak. Saya sudah ganti baju yang lebih nyaman. Masa Bapak tetap dengan pakaian basah seperti itu? Saya tidak bisa membiarkan itu.” Reval menatapnya lama, menyadari bahwa wanita di depannya ini benar-benar keras kepala. “Jadi kalau aku tidak ganti baju, kamu tidak mau makan?” tanya Reval sekali lagi untuk memastikan. Naura mengangguk mantap. Reval mendesah panjang. “Baiklah,” ujar Reval pasrah. Naura tersenyum puas. “Ayo kita cari baju untuk Bapak.” Mereka kembali berkeliling dan kali ini, Naura yang mengambil alih pencarian. Ia dengan serius memilihkan pakaian untuk Reval, membandingkan warna dan bahan dengan ekspresi sangat fokus, seolah sedang mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Reval hanya bisa mengamati dari belakang, tersenyum kecil melihat keseriusan Naura. “Bagaimana dengan ini?” Naura mengangkat sebuah kaus berwarna hitam dengan gambar kelapa dan tulisan besar Life’s a Beach. Reval melirik kaus itu, lalu menaikkan satu alisnya. “Aku t