Satu kata untuk Pak Reval, dong....
Dengan tangan yang gemetar, bukan karena ragu, tetapi lebih karena emosi yang membanjiri hatinya, Reval berlutut di depan Naura. Ia menarik ujung handuk dengan lembut, melepaskannya dari bahu Naura. Pakaian yang basah menggantung berat di tubuhnya, membuat dinginnya semakin nyata. “Ini mungkin akan sedikit kebesaran, tapi …” Reval berhenti sejenak, tangannya bergerak pelan, membuka kancing-kancing kemeja Naura satu per satu. Jemarinya menyentuh kulit yang dingin, membuat hatinya mencelos penuh rasa peduli yang hampir meluap. Naura memejamkan mata, air matanya jatuh perlahan lagi, tetapi ia tidak menolak. Ketika akhirnya kemeja itu terlepas sepenuhnya, Reval menyisihkan rasa gelisah di dadanya. Ia mengambil kaus yang telah disiapkan dan menyelubungkannya ke tubuh Naura, gerakannya penuh perhatian dan tanpa sedikit pun rasa tergesa. Kaus itu terlampau besar, menggantung longgar di bahunya, lengan yang terlalu panjang nyaris menutupi ujung jari-jarinya. Namun, ada sesuatu yang hanga
Reval membalas pelukan itu, memeluknya seolah dunia di sekeliling mereka bisa lenyap dan tidak ada yang tersisa selain mereka berdua. “Kamu tidak sendiri,” kata Reval dengan nada yang penuh keyakinan. “Aku di sini.” Isakan Naura membesar, tangisnya pecah dalam pelukannya. Setiap air mata yang jatuh membawa rasa sakit yang perlahan-lahan menghilang. Rasa takut, kesepian, dan kehancuran yang selama ini menjeratnya mulai mencair di bawah kehangatan sentuhan yang penuh kasih. “Kalau kamu ingin menangis lagi, menangislah. Aku tidak akan pergi,” kata Reval dengan lembut. Dan seperti tanggul yang runtuh, Naura menangis lagi. Tangisnya mengguncang tubuhnya yang kecil, tetapi kali ini ia tidak sendirian. Kali ini, Reval ada di sana, duduk di sisinya. Malam itu, waktu seolah berhenti. Hujan di luar jendela terus mengguyur, tetapi kehangatan di dalam ruangan itu lebih dari cukup untuk menghalau semua dingin yang tersisa. Naura akhirnya terlelap dalam dekapan Reval, dengan air mata yang ma
Dengan hati-hati, ia melangkah ke arah pintu, membuka sedikit untuk melihat siapa yang ada di luar. Seorang petugas pengantar berdiri dengan senyum ramah, memegang sebuah tas kecil di tangannya. “Permisi, ini titipan untuk Anda, Nyonya,” kata pria itu, menyerahkan tas tersebut. Naura mengerutkan kening, mengambil tas itu dengan rasa penasaran yang memuncak. Ia mengucapkan terima kasih sebelum menutup pintu kembali. Tas itu berisi setumpuk pakaian baru. Pakaian sederhana namun nyaman, yang jelas-jelas disiapkan dengan penuh perhatian. Di atas tumpukan itu, sebuah catatan kecil terlipat rapi. [Kamu boleh memakai manapun yang kamu suka. Jangan lupa makan. Dan jangan berpikir terlalu keras hari ini.] Naura tersenyum kecil tanpa sadar. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, seperti baru saja menerima hadiah paling istimewa yang pernah ia dapatkan. Di kepalanya, bayangan wajah Reval terus muncul, seolah pria itu ada di setiap sudut ruangan, di setiap desahan napasnya. Tetapi bersama
Hening menyelimuti ruangan. Detik-detik berlalu, namun pikiran Reval terus berputar-putar, mencoba menemukan jawaban yang sepertinya mustahil didapatkan. Setelah beberapa menit berlalu, ia membuka matanya dan menghela napas panjang. Tanpa berpikir lagi, Reval berdiri dan mulai membuka kancing kemejanya. Setiap gerakan terasa lambat, seperti tubuhnya menolak untuk bekerja sama dengan pikirannya yang lelah. Ia melepaskan bajunya, menyisakan tubuh bagian atas yang telanjang, otot-ototnya yang kencang memamerkan jejak ketegangan. Kamar mandi dipenuhi uap panas ketika Reval menyalakan shower. Air hangat mulai mengalir, menghantam lantai marmer dan menciptakan suara gemericik yang seolah menyanyikan lagu penghiburan. Ia memejamkan mata, membiarkan air mengalir di atas kepalanya, membasahi rambut hitam pekatnya yang kini menempel ke kulit kepala. Air hangat membelai wajahnya, turun ke leher dan dadanya, menghapus rasa lelah yang tertanam dalam otot-ototnya. Ia memutar bahu, membiarkan
“Tentu saja.” Naura balas berbisik, matanya mencari-cari di dalam tatapan Reval. “Saya bebas melakukan apa yang saya mau, bukan?” “Tidak Naura!” jawab Reval tegas, tetapi tangan kanannya mengepal kuat di sisi tubuhnya, seolah ia sedang bertarung dengan dorongan dalam dirinya sendiri. “Jangan bermain dengan api.” Naura melangkah lebih dekat, begitu dekat hingga napas mereka berdua saling beradu. “Mungkin saat ini, saya sedang suka bermain dengan api,” gumam Naura, hampir tak terdengar. Matanya menyala dengan keberanian yang bercampur dengan luka batin yang selama ini ia pendam. “Karena api itulah yang membuat saya merasa hidup.” Reval mengangkat tangannya, jemarinya berhenti tepat di dekat pipi Naura, tetapi ia tidak menyentuhnya. Jemarinya bergetar, seperti seorang pria yang berada di tepi jurang. “Kamu ... kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan,” suaranya serak, penuh perasaan yang terpendam. “Lalu ...,” bisik Naura, tantangan itu terucap dengan bibir yang gemetar. Dala
Naura menggeleng pelan, matanya berkilat dengan air mata yang tertahan. “Saya di sini sekarang. Saya tidak akan pergi.” Tangan mereka bertautan, saling menggenggam erat seolah dunia bergantung pada sentuhan itu. Mereka tidak membutuhkan kata-kata, hanya perasaan yang mengalir bebas di antara mereka. Cahaya lampu temaram menorehkan bayangan panjang di lantai yang dingin. Aroma maskulin dari Reval menguar, menyelimuti udara dalam kehangatan yang kontras dengan detak jantung Naura yang berdetak liar di rongga dadanya. Tubuhnya terasa kecil dalam genggaman Reval, yang berdiri tegak di belakangnya dengan tatapan mata tajam seperti bara yang membakar punggung telanjangnya. Tangan besar Reval menyelip di bawah rahangnya, telapak hangat itu menopang dagu Naura dengan tekanan yang lembut namun penuh kendali. Ibu jarinya menyusuri garis pipinya perlahan, menciptakan jejak kehangatan yang membuat kulitnya meremang. Naura tersentak kecil, tetapi tidak bergerak menjauh. Matanya menatap pant
Naura mengangkat wajahnya perlahan. Jarak antara mereka terasa begitu tipis, hanya sehembusan napas yang memisahkan. Bibirnya sedikit bergetar, tetapi ia memutuskan untuk tidak menahan diri. Dalam satu gerakan lembut, ia mencondongkan tubuh dan mengecup pipi Reval, sentuhan yang begitu ringan tetapi cukup untuk membuat dunia di sekeliling mereka seolah berhenti berputar. Ia tak berkata apa-apa. Tidak membantah ataupun mengiyakan ucapan Reval. Reval tertegun sesaat. Matanya membelalak tipis sebelum akhirnya sebuah senyuman melengkung di bibirnya, senyuman yang menggoda, hangat, tetapi penuh makna tersembunyi. Tangannya yang kokoh terangkat, melingkari pinggang Naura dan menarik tubuhnya kembali ke dalam pelukannya. Naura terhimpit oleh dekapan yang kuat namun lembut itu. Hatinya bergetar hebat, tetapi tidak ada ketakutan, hanya rasa nyaman yang menyelinap hingga ke sudut jiwanya. Inilah pertama kali dalam hidupnya ia merasa benar-benar dihargai. Tidak ada tuntutan, tidak ada
Hujan deras mengguyur dengan suara gemuruh di luar jendela. Rintikannya menari di atas kaca, menciptakan irama yang anehnya selaras dengan denyut jantung Naura yang berpacu liar. Udara terasa sejuk, tetapi tubuhnya memanas. Matanya tidak bisa lepas dari sosok Reval yang masih berada di hadapannya, dadanya yang telanjang naik-turun mengikuti irama napas yang berat. Setiap otot di tubuhnya menegang, terlihat begitu kuat dalam cahaya temaram. Perlahan, Naura mencoba mengalihkan pandangannya, tetapi Reval menangkap pergelangan tangannya dengan lembut. Jemarinya hangat, kontras dengan dinginnya udara di sekitar mereka. Ia tidak bicara. Tatapannya berbicara lebih banyak daripada yang bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ada sesuatu yang gelap dan dalam di matanya, sesuatu yang membuat Naura merasa terjebak dalam pusaran tanpa jalan keluar. “Tetap di sini,” gumam Reval, suaranya serak dan penuh desakan yang tak bisa diabaikan. Reval mendekat, satu tangannya menyentuh pinggang Naura,
Naura duduk di sudut ruangan, kepalanya bersandar pada dinding kayu yang mulai lapuk. Tangannya masih terikat, tapi ia tak mau menyerah begitu saja.Pikirannya terus berputar mencari celah. Ia harus keluar dari sini sebelum Dion benar-benar menghancurkan segalanya.Dari luar, terdengar suara langkah kaki mendekat. Pintu terbuka, dan pria bertopeng yang tadi datang kembali, kali ini tanpa nampan makanan.“Hari ini kau akan dipindahkan,” katanya singkat.Naura menelan ludah. Dipindahkan? Ke mana?Pria itu berjalan mendekat, menarik tali yang mengikat tangannya, lalu menyeretnya berdiri.“Ayo.”Naura tahu ia tak bisa melawan dalam kondisi seperti ini. Tapi, jika dia dipindahkan ke tempat yang lebih jauh, peluangnya untuk selamat akan semakin kecil.‘Tuhan, bantu aku…’Saat mereka melewati lorong sempit yang gelap, Naura memperhatikan sekelilingnya. Matanya menangkap sebilah pisau kecil tergeletak di atas meja kayu di sudut ruangan.Tanpa berpikir panjang, ia menjatuhkan tubuhnya dengan s
“Paman Riko?” Reval merasakan amarah membakar seluruh tubuhnya. Ia mengepalkan tangan, nyaris melayangkan pukulan ke wajah Dion, tetapi pria itu dengan santai menjauh, mengangkat ponselnya lebih tinggi. “Tenang, Reval. Kalau kau menyentuhku, aku bisa saja menyuruh Riko melakukan sesuatu yang lebih buruk pada Naura,” katanya dengan seringai puas. Reval mengertakkan giginya. “Apa yang kau inginkan?” Dion menoleh ke Callista dan tertawa kecil. “Gampang. Akui bahwa anak dalam kandungan Callista adalah milikmu, nikahi dia, dan aku akan melepaskan Naura,” katanya santai. Reval mencibir. “Mimpi.” Callista mendekat dengan tatapan penuh kemenangan. “Reval, kau tahu kau tidak punya pilihan, kan?” ujarnya manja, tangannya berusaha menyentuh dada Reval. Reval menepisnya kasar. “Kalian pikir aku bisa percaya pada kalian? Bahkan jika aku menuruti permintaan kalian, tidak ada jaminan Naura akan selamat.” Dion terkekeh. “Tentu saja ada jaminannya. Tapi kalau kau membangkang…” Ia memutar vide
“Sebenarnya ... ini bukan hal yang penting.”Naura tidak tahu harus menjawab apa.“Naura, ada apa? Apapun itu, aku akan mendengarkannya.”Naura menatap Reval, lalu mengambil secarik kertas. “Surat cerai saya sudah resmi. Saya dan Mas Dion … bukan suami-istri lagi.”Reval menatap surat itu. Rasanya seperti beban besar terangkat dari dadanya. Ia merasa lega dan informasi itu adalah sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu olehnya. Bagaimana mungkin Naura mengatakan bahwa itu tidak penting?Namun, ekspresi Naura masih terlihat berat dan seolah sedang dilanda gelisah yang mendalam.“Ada apa lagi?” tanya Reval lembut.Naura menggigit bibirnya. “Saya mendengar sesuatu dari Bu Lastri belakangan ini.”Reval mengernyit. “Apa?”Naura menghela napas, lalu menatap Reval dalam-dalam. “Callista. Sebenarnya dia tidak benar-benar tinggal di rumah Mas Dion. Waktu itu dia hanya kebetulan ada di sana saat saya mengajukan cerai dan dia sengaja memanas-manasi saya.”Reval menegang.“Dan satu lagi.” Naura mene
Reval berjalan mondar-mandir di koridor rumah sakit. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang membuatnya merasa tidak tenang. Firasat buruk terus menghantui pikirannya. Ponselnya di saku bergetar. Dengan malas, ia meraihnya dan melihat nama yang tertera di layar. Dahi Reval mengernyit. Setelah beberapa detik ragu, ia akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan. Di sana ia melihat Callista duduk di atas ranjang dengan wajah pucat. Mata wanita itu tampak merah seolah habis menangis. Reval menutup pintu dan berjalan mendekat. “Apa yang terjadi? Kenapa kamu yang ada di sini?” Callista menundukkan kepalanya, menggenggam ujung selimut dengan erat. “Aku … aku hamil, Reval.” Jantung Reval seperti berhenti berdetak sejenak. Ia menatap Callista dengan tatapan tajam. “Apa hubungannya denganku? Lalu di mana Naura? Aku ingin bertemu dengannya.” “Tentu saja ada hubungannya denganmu, Reval.” Callista mengangkat kepalanya, menatapnya dengan mata penuh harap. “Ini adalah anakmu.” Reval m
Ruang tamu dipenuhi keheningan yang menegangkan. Adelia duduk di sofa dengan tatapan dingin, sementara Reval berdiri di depannya, menatapnya dengan penuh ketegasan. “Apa kamu bilang?” suara Adelia meninggi, ekspresi wajahnya menunjukkan ketidaksenangan. Reval menarik napas panjang, berusaha menahan emosinya. “Aku ingin mama meminta maaf kepada Naura.” Adelia tertawa kecil, namun tidak ada kehangatan dalam tawanya. “Kenapa tiba-tiba kamu meminta hal itu, Reval? Mama tidak merasa punya urusan dengan perempuan itu.” Reval mengepalkan tangan, berusaha tetap tenang. “Karena mama telah menyakitinya.” Adelia menyipitkan mata. “Jangan membesar-besarkan masalah, Reval. Lagipula, perempuan itu bukan siapa-siapa bagi mama.” Reval mendekat, menatap ibunya dengan tajam. “Bukan siapa-siapa? Dia adalah wanita yang sedang mengandung anakku, Ma!” Adelia terdiam sesaat. Matanya membulat, tapi ia segera menyembunyikan keterkejutannya dengan tawa sinis. “Jadi, itu alasan kamu membelanya mati-matian
PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dion, meninggalkan jejak kemerahan yang jelas. Kepala pria itu sedikit tergeleng, namun bukan karena sakitnya tamparan itu, melainkan karena keterkejutannya. Callista berdiri di hadapannya dengan mata membelalak, napasnya memburu penuh amarah. “Ini semua gara-gara kamu, Dion!” suara Callista menggema di seluruh ruangan. Dion mengusap pipinya yang perih, ekspresinya berubah dingin. “Kenapa kamu menamparku, Callista? Kita melakukannya atas dasar suka sama suka.” Callista mendengkus kasar. Ia memeluk tubuhnya sendiri, seakan merasa jijik dengan situasi yang sedang terjadi. “Sial! Aku hanya ingin bersenang-senang, bukan mendapatkan ini!” Suaranya bergetar, dan matanya menatap Dion dengan kebencian. Dion menyipitkan mata. “Maksudmu?” “Aku hamil, Dion! Aku mengandung anak sialan ini gara-gara kamu!” Callista berteriak frustrasi, tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dion terdiam sejenak. Pikirannya berputar cepat, menc
Beberapa minggu telah berlalu. Naura berdiri di depan pintu rumah yang dulu ia tinggali sebagai istri Dion. Pintu rumah itu masih sama seperti terakhir kali Naura melihatnya. Cat cokelat tua yang mulai memudar, gagang pintu berwarna perak yang kini tampak lebih kusam. Namun, bagi Naura, rumah ini sudah kehilangan maknanya sejak lama. Tangannya menggenggam erat amplop cokelat berisi surat cerai. Dalam hati, ia menguatkan dirinya. Ia harus menyelesaikan semuanya. Tidak ada lagi alasan untuk bertahan di dalam pernikahan yang telah hancur sejak lama. Dengan napas panjang, Naura mengetuk pintu. Dadanya berdebar, bukan karena ragu, tetapi karena ia ingin semua ini segera berakhir. Tak butuh waktu lama, suara langkah kaki terdengar dari dalam, lalu pintu terbuka. “Naura!” Suara itu begitu akrab. Hangat. Seakan tidak ada luka yang pernah mengisi kehidupan mereka. Bu Lastri berdiri di ambang pintu dengan mata berbinar, seolah-olah kehadiran Naura adalah sesuatu yang ia rindukan sejak la
Reval menghela napas, lalu menangkup wajah Naura dengan kedua tangannya. “Aku mencintaimu, Naura,” ucapnya serius. “Aku tidak akan menikahimu hanya karena tanggung jawab. Aku ingin bersamamu karena aku memang menginginkannya. Lebih dari apapun.” Naura menatap mata Reval, mencari kepastian di sana. Dan ia menemukannya. Kejujuran. Ketulusan. Tapi tetap saja... “Tidak semudah itu, Pak Reval,” bisiknya. “Ada banyak hal yang harus saya pikirkan.” Reval melepaskan tangannya dari wajah Naura, kemudian menghela napas panjang. “Lalu berapa lama lagi kamu mau berpikir?” tanya Reval dengan nada frustrasi. Naura menunduk, mengusap perutnya yang masih datar. “Apa kamu takut?” tanya Reval lagi. Naura mengangkat wajahnya, menatap Reval dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Ya,” jawabnya jujur. Reval terdiam. Naura menghela napas berat, suaranya lirih ketika berkata, “Saya takut mengambil keputusan yang salah. Takut jika perasaan ini hanya sesaat. Takut jika nanti saya justru menyakiti B
Naura mengangguk cepat. Reval mendesah, lalu melambai pada pelayan. “Pesan satu es krim cokelat.” “Tunggu, Pak Reval! Saya maunya yang stroberi.” Reval terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Oke, stroberi.” Tak butuh waktu lama, es krim datang. Naura langsung menyendoknya dengan bahagia, tapi tiba-tiba ia mengernyit. Reval memperhatikan ekspresinya dengan waspada. “Kenapa lagi?” Naura menggigit bibirnya. “Sepertinya saya ingin yang cokelat.” Reval menatapnya selama beberapa detik sebelum akhirnya tertawa lepas. Naura menatapnya kesal. “Bapak kenapa tertawa?” “Kamu mulai bertingkah seperti ibu hamil pada umumnya.” Naura mendelik. “Saya memang hamil, kan?” Reval mengangkat bahu dengan senyum lebar. “Ya, tapi sekarang kamu benar-benar kelihatan seperti bumil yang sering ngidam aneh-aneh.” Naura mendengkus, tapi diam-diam pipinya merona. Reval memperhatikannya, lalu tanpa sadar mengulurkan tangan dan menyentuh jemari Naura di atas meja. “Apa?” tanya Naura bingung. Reval te