Dengan hati-hati, Reno menjaga jarak. Motor hitam yang ia tunggangi melaju dalam keheningan malam, membuntuti mobil putih Nara yang meluncur mulus membelah jalanan kota yang mulai sepi. Lampu jalan menyorot lembut ke aspal basah bekas hujan sore tadi, memantulkan kilau samar pada helmnya yang legam. Angin dingin menerpa wajahnya yang tersembunyi di balik visor, menusuk hingga ke tengkuk, namun tidak cukup untuk mengalihkan pikirannya yang tengah kacau.Dalam diamnya, Reno menyadari betapa cepat degup jantungnya berdetak, hampir menyamai suara mesin motor yang menderu lembut. Bukan karena kecepatan, tapi karena pertanyaan yang terus berputar di kepalanya—pertanyaan yang tak berani ia jawab sendiri.Mobil itu berbelok ke kiri, memasuki kawasan yang tak asing baginya. Kompleks bangunan komersial yang di siang hari tampak biasa saja, kini menjelma menjadi wilayah abu-abu, tempat penginapan dan hotel-hotel yang ramai namun tetap menyimpan nuansa misterius. Papan-papan neon menyala temaram,
Dan yang lebih ia takutkan sekarang adalah Reno telah mencurigaimya sebagai Wanita yang gak bener. Maka, tanpa pikir panjang lagi, Nara membuka layar ponselnya, mengetik sebuah pesan. Pesan yang sudah ia rancang dalam kepala sejak beberapa menit lalu.“Reno... kalau kamu sempat nanti malam, temui aku di hotel ini. Setelah acara keluargamu selesai. Tapi hanya kalau Rama belum pulang. Karena sebenarnya aku ke sini... atas saran Rama. Dia akan menyusulku.”Ia menekan kirim.Nara tertegun sejenak menyesali kebohongannya, Tapi hanya itulah cara satu satunya yang terbaik. Cara untuk melindungi sesuatu yang lebih penting: Kepercayaan Reno. Jika Reno percaya, jika dia tidak curiga, maka semuanya akan tetap dalam kendali. Setidaknya, untuk sementara waktu.Di luar jendela, lampu kota terus berkedip. Dan di dalam kamar itu, Nara tenggelam dalam diam—dalam bayang-bayang rasa bersalah, kebohongan, dan ketidakpastian yang semakin menyesakkan.Arka baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih
“Boleh,” kata Rama akhirnya. “Tapi kamu bawa mobil sendiri aja, ya.”Soraya menatapnya, alisnya sedikit terangkat. “Kenapa? Kamu gak bareng aku?”Rama tersenyum ringan. “Aku ada urusan kecil yang harus diberesin dulu di sekitar hotel. Nanti aku nyusul ke kamar. Masalah dalam hotel bisa aku atur.”Soraya tampak puas dengan jawaban itu. Ia mengangguk, lalu melirik jam tangannya. “Oke. Aku jalan duluan, ya. Mau sekalian mampir ke salon, sih.”“Silakan. Aku nyusul,” ucap Rama santai, walau pikirannya jauh dari kata santai.Setelah Soraya pergi, Rama kembali duduk sejenak. Ia membuka ponselnya, memeriksa pesan dari Nara tadi pagi.Aku nginap di hotel, Rama. Aku gak nyaman di rumah. Takut... seperti ada yang ngawasin.Rama menghela napas.Dia belum menanyakan lebih jauh alasan Nara memilih tinggal sementara di hotel.“Ren, kamu ke mana?” tanya Tante Reni, sepupu almarhum ayahnya, begitu melihat Reno berdiri dari kursi dan mengambil kunci motor dari atas meja kecil di pojok ruangan.“Sebenta
Dita duduk di dalam mobil hitamnya yang terparkir rapi di basement gedung perkantoran miliknya. Lampu-lampu redup menyinari wajahnya yang tegang, dan layar tablet di pangkuannya masih menampilkan titik merah kecil yang bergerak perlahan di atas peta digital—lokasi Arka.Hotel.Titik itu sudah berhenti sejak hampir satu jam lalu di sebuah hotel bintang empat di pusat kota. Jantung Dita berdegup cepat. Tangannya mencengkeram tablet itu erat-erat, matanya nyalang, penuh kemarahan yang nyaris tak bisa dikendalikan.Arka tak mengirim file itu. Tidak juga memberikan kabar. Padahal, hanya tinggal satu langkah lagi. Hanya satu. Kenapa dia malah... ke sana?Bibir Dita mengatup rapat. Ia menggeser layar, membuka folder pesan terenkripsi yang sebelumnya ia kirimkan ke ponsel Arka, berisi instruksi yang seharusnya tak bisa ditolak: kirim file. Lalu pergi. Biarkan sisanya ia urus.Namun, sampai detik ini, tidak ada file yang masuk ke sistem penyimpanan darurat miliknya.“Brengsek,” gumamnya pelan.
“Apa? Hubungan ini?” Nara memundurkan diri setengah langkah. “Kalau kamu nyebut ini hubungan, maka kamu harus tahu: sekarang sudah berakhir.”Arka diam. Matanya sedikit membelalak, seolah baru sadar bahwa kata-kata Nara kali ini berbeda. Lebih tegas. Lebih akhir.“Kalau kamu masih punya sedikit harga diri, Arka…” lanjut Nara, suaranya lebih tenang tapi dingin, “hapus file itu. Sekarang juga. Di hadapanku. Kalau kamu benar-benar peduli sama aku, kalau kamu punya sedikit rasa hormat... kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.”Arka menggeleng perlahan, menunduk, lalu mengambil ponselnya dari meja kecil di samping ranjang. Jari-jarinya sempat berhenti, ragu, saat membuka satu folder tersembunyi di galeri. Tapi akhirnya, layar itu menampilkan beberapa video. Ada satu file yang judulnya membuat dada Nara seperti diremas: "NRA-BLCK".“Cuma satu ini,” ucap Arka pelan.Nara menahan napas. “Hapus.”Arka menatap layar ponselnya dalam beberapa detik terakhir. Lalu, dengan satu sapuan jari, ia meng
Di dalam lift yang sedang naik perlahan, Rama bersandar sejenak ke dinding logam dingin. Sorot matanya kosong, namun jari-jarinya menggenggam ponsel dengan kuat. Suara dengung mekanik lift bergema pelan, bercampur dengan suara elektronik dari angka digital yang berubah—lantai 4… 5… 6.Ia menatap layar ponselnya sekali lagi. Pesan dari Nara masih terbuka.715.Namun saat lift melambat dan bunyi denting halus menandai berhentinya di lantai enam, pintu terbuka.Soraya masuk—dengan langkah ringan dan senyum yang langsung memenuhi ruang sempit itu."Rama!" serunya antusias, seperti baru menemukan kejutan menyenangkan. "Pas banget."Rama, sedikit terkejut, mengangkat alis dan membalas dengan senyum tipis. "Kamu udah sampai duluan?""Iya dong," balas Soraya riang sambil masuk dan berdiri di sampingnya. "Aku kira kamu udah nyampe dari tadi. Aku udah nunggu sambil nyiapin semuanya." Suaranya ringan, seperti percakapan biasa. Tapi dari mata berbinar dan aroma parfum elegan yang menguar dari tub
Pintu kamar 715 tertutup rapat di belakang mereka.Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Nara. Hanya langkah pelan, penuh kemarahan yang terpendam, menuju Reno—yang kini Tengah berdiri mematung, mencoba menebak-nebak arah badai yang sedang datang mendekat. Tapi belum sempat ia berkata apa pun, Tiba-tiba Nara telah mendorong tubuhnya ke dinding. Keras. Tapi bukan kebencian yang terlihat di matanya—melainkan sesuatu yang lebih berbahaya.Dendam.“Brengsek! dia memilih Wanita pelacur itu,” ucap Nara pelan, hampir seperti gumaman. “Setelah semua yang kulakukan untuknya... dia memilih wanita lain. Babi Anjing!”Reno mengangkat tangan, menyentuh pipi Nara. “Nara—sabar.”“Aku nggak butuh belas kasihanmu,” potong Nara cepat. Suaranya tajam, tapi tubuhnya tetap dekat. Napas mereka menyatu. “Yang aku butuh sekarang... cuma satu.”Tatapannya menembus mata Reno, liar tapi jelas. Reno tak bergerak. Ia tahu ini bukan sekedar tentang cinta. Ini bukan sekedar tentang kasih. Ini adalah sisa-sis
Arka melirik sekilas ponselnya yang bergetar di lantai. Nomor tak dikenal. Atau mungkin nomor yang ia tahu, tapi terlalu enggan untuk dilihat sekarang.Ia tidak mengangkatnya. Ia hanya menatap layar yang terus bergetar sebelum akhirnya diam dengan sendirinya.Seperti dirinya.Arka lalu merebahkan diri ke lantai, menatap kosong ke atas.Dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai, ia benar-benar merasa… kalah.Kamar hotel itu remang, lampu gantung redup menggelantung di tengah langit-langit, menciptakan bayangan lembut di dinding. Tirai tebal menutup seluruh jendela, membuat dunia luar terasa begitu jauh dari apa yang sedang terjadi di dalam ruangan. Aroma parfum mahal melayang tipis, bercampur dengan desahan lembut AC yang bekerja tanpa suara.Rama berbaring di atas ranjang king-size, tubuhnya masih lengkap berpakaian, tapi pikirannya sudah melayang entah ke mana. Matanya menatap kosong ke langit-langit, sementara di hadapannya, Soraya bergerak dengan penuh kelenturan
"Aku tadinya gak tega, sungguh," lanjutnya, matanya menerawang ke lampu-lampu jalanan di bawah sana. "Tapi kau yang memaksa, Arka. Kau berani berkhianat padaku. Kau ancam rencanaku. Bahkan kau sempat menakut-nakuti aku dengan pesan-pesan itu... kau pikir aku akan diam saja? Kau pikir kau bisa memegang kendali?"Dita tertawa lagi, kali ini lebih keras. Wajahnya bersinar oleh rasa puas yang tak bisa disembunyikan. Angin malam menyibak sebagian rambutnya, tapi ia tak peduli."Terpaksa, Arka... terpaksa sekali. Tapi terima kasih, ya? Kau sudah jadi senjata pembuka jalan untuk rencana besar ini. Indah sekali... kematianmu bahkan lebih dramatis dari yang kuharapkan."Ia menutup jendela perlahan, lalu berjalan ke arah meja kecil di dekat sofa. Di sana, laptop terbuka dengan tab-tab yang masih menyala: satu berita utama tentang kecelakaan Arka, satu lagi tentang profil perusahaan milik Rama, dan satu jendela obrolan pesan pribadi yang belum ia balas—dari Soraya.Dita menyipitkan mata, membaca
Hening menyelimuti kamar hotel mewah itu. Lampu temaram dari dinding hanya menyoroti sebagian tubuh Rama yang tertidur di atas ranjang, masih mengenakan kemeja kusut dan celana bahan yang tidak sempat diganti. Napasnya berat dan teratur, bau alkohol masih samar tercium dari tubuhnya.Nara duduk di ujung ranjang, punggungnya membungkuk, tangan meremas-remas jemari sendiri tanpa sadar. Matanya terus melirik ke arah Rama, memastikan pria itu benar-benar tertidur pulas. Tapi bukan itu yang membuat hatinya berdebar kencang.Pikiran Nara sudah melayang jauh sejak beberapa jam lalu. Ia tidak bisa tidur. Tidak setelah berita duka tentang Arka memenuhi layar TV beberapa jam sebelumnya. Dan sekarang, bayang-bayang itu kembali menghantuinya dengan lebih nyata, lebih mengerikan."Arka..." bisiknya pelan, nyaris tak bersuara.Ia memejamkan mata, mengingat kembali detik-detik terakhir sebelum semuanya berubah.Nara menoleh lagi ke arah suaminya yang terbaring tanpa kesadaran. Tak ada ketenangan dal
Di ujung sambungan, Soraya mengerutkan kening. “Reno?” Ia mengulang pelan, seolah ingin memastikan ia tidak salah dengar. “Kau yakin?”“Dia satu-satunya yang punya akses ke Arka tanpa menimbulkan kecurigaan. Dia dekat dengan Nara. Bisa saja Arka sempat membuka mulut, atau… atau ada informasi yang sampai ke Reno.”“Tunggu,” potong Soraya cepat, nadanya tak setuju. “Itu terdengar terlalu dipaksakan. Reno bahkan bukan bagian dari lingkaran ini, Dita. Dia bukan tipe orang yang main kotor. Bahkan, terlalu bersih menurutku.”“Justru karena itu,” sahut Dita tajam. “Orang-orang seperti dia... yang tampak bersih dan tak tahu apa-apa... biasanya menyimpan sesuatu yang lebih berbahaya.”“Tapi membunuh Arka? Ayolah, Dit. Itu terlalu jauh untuk seseorang seperti Reno. Dia tidak punya cukup alas an, kan?”Dita menghela napas kasar. “Siapa yang tahu apa yang dia dengar dari Nara? Siapa tahu dia mulai curiga tentang Arka? Tentang kita?”Soraya terdengar ragu. “Kalau benar Reno pelakunya, itu artinya
Nara melangkah mundur perlahan. Napasnya mulai sesak.Dan saat ia berdiri di depan TV yang masih menayangkan ulang gambar mobil Arka yang hancur, satu hal menjadi semakin jelas.Kematian Arka bukan kecelakaan biasa.Soraya masih terjaga di dalam kamar hotelnya, duduk di tepi ranjang dengan mata menatap layar ponsel yang menampilkan berita duka terbaru. Arka, pria yang selama ini menjadi pion dalam permainan busuk mereka, dinyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan tragis. Soraya membaca ulang berita itu beberapa kali, mencoba menyaring setiap informasi yang tertera di layar: lokasi kecelakaan, kondisi mobil, dan terutama detail mencurigakan bahwa sopir truk yang menabrak mobil Arka diduga meloncat dari kendaraan beberapa detik sebelum benturan.Semuanya terlalu rapi. Terlalu sempurna.Soraya memicingkan mata, bibirnya mengerucut, dan jemarinya mulai bergerak cepat mengetik sebuah nama di layar ponsel. Ia menelpon Dita. Butuh tiga nada sambung sebelum akhirnya suara Dita terdengar di ujun
Tubuh Nara membeku di ambang pintu.Dua orang pria berdiri di depannya. Salah satunya tampak mengenakan seragam hitam sederhana, jelas seorang staf hotel—mendorong sebuah kursi roda perlahan.Dan di atas kursi roda itu...Nara menelan ludah. Matanya membelalak, napas tercekat di tenggorokan.Rama.Suaminya sendiri, duduk limbung di kursi roda, tubuhnya terkulai dengan kepala tertuinduk. Kemejanya kusut, beberapa kancing terbuka, dan wajahnya merah padam karena alkohol."Apa yang terjadi…?" gumam Nara, setengah tidak percaya.“Maaf, Ibu. Tadi beliau berada di bar dan… tampaknya terlalu banyak minum. Beliau sempat berpesan kepada bartender untuk diantar ke kamar ini kalau sudah tidak sanggup berdiri,” ucap staf hotel itu, sopan, sedikit tergesa.Tanpa pikir panjang, Nara membuka pintu lebar-lebar. “Cepat bawa masuk, Pak”Mereka mendorong kursi roda perlahan melewati ambang pintu.Nara menyingkirkan tas dan sepatu yang berserakan di lantai, lalu membantu staf bar itu memindahkan Rama ke
Tujuannya adalah ke bar hotel.Tempat ia pernah duduk seorang diri bertahun-tahun lalu… saat konflik dalam hidupnya tak bisa ia lawan dengan logika.Dan malam ini, ia kembali kesana.Lift naik perlahan.Di dalam kotak sempit itu, Rama menyandarkan punggungnya ke dinding baja, menunduk."Aku pengecut, ya?" batinnya lirih."Aku tidak sanggup berhadapan dengan Nara?"Angka terus berganti di panel: 10... 14... 19..."Tapi di bar… setidaknya aku bisa diam. Mungkin ada satu gelas yang bisa bikin semua ini berhenti sebentar."Denting lift terdengar.Pintu terbuka pelan.22.Udara berbeda menyambutnya. Lampu remang, suara musik jazz dari kejauhan, aroma alkohol dan kayu tua.Langkah Rama pelan saat menyusuri lorong.Ia tidak lagi memikirkan alasan atau kata maaf.Ia hanya ingin duduk.Dan lupa.Bar hotel tampak sepi.Seorang bartender tengah membersihkan gelas di sudut meja panjang.Beberapa kursi kosong berjejer di depan cermin besar yang memantulkan pantulan kelam wajah Rama sendiri.Ia men
Udara malam menyusup masuk dari celah jaket Reno yang belum ia rapatkan sepenuhnya. Lampu-lampu jalan menari di visor helmnya, sementara motornya melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang sepi. Tapi pikirannya sama sekali tak tenang.Pertanyaan demi pertanyaan menumpuk di kepalanya, seperti kabut pekat yang menolak tersingkap."Siapa mereka tadi?""Apakah ini semua berkaitan dengan Dita… atau bahkan seseorang yang lebih punya pengaruh di balik semua ini?"Reno menggeleng pelan, mencoba menepis kekalutan itu. Tapi semakin ia menepis, semakin kuat firasatnya bahwa ini bukan hanya soal peringatan biasa.Apalagi saat bayangan mobil Kijang gelap yang menabraknya beberapa hari lalu adalah mobil yanmg sama dengan mobil yang ia kejar tadi. Dan kini, ia yakin, mobil itu tidak muncul secara kebetulan. Ada maksud tertentu. Ada mata yang terus mengawasinya, menunggu momen lengahnya."Sial… ini bukan main-main lagi," gumamnya.Baru saja ia hendak mengalihkan perhatian ke jalan, pa
Begitu suara pintu tertutup dan langkah Rama menjauh di lorong hotel, Soraya membuka matanya perlahan.Ia tak langsung bangkit. Matanya menatap langit-langit kamar hotel yang dihiasi bayangan samar dari lampu temaram. Nafasnya tertahan dalam dada, seolah sedang menimbang sesuatu yang terlalu berat untuk ditelan, tapi terlalu dalam untuk dimuntahkan.Detik demi detik berlalu, dan kesunyian kamar menjadi semakin menyesakkan. Rasa perih yang tak terlihat merayap dari dadanya ke tenggorokan. Mata itu—mata yang tadi tampak kosong—kini mulai berair. Tapi air itu bukan tangis sedih… melainkan bara. Bara cemburu yang membakar lambat-lambat.Rama pergi.Pergi karena wanita itu.Pergi... untuk Nara.“Bangsat...” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. Tapi nada itu mengandung muatan penuh luka.Ia menggulingkan tubuhnya pelan, memunggungi sisi ranjang yang dingin karena hanya separuhnya yang digunakan. Ia memejamkan mata sejenak, seakan berharap perasaan itu mereda. Tapi tidak. Perasaan itu justr
Jalanan gelap itu berakhir di pelataran luas sebuah Bangunan gudang tua dengan container container kosong teronggok di sana-sini. Cahaya dari lampu motor Reno menyapu permukaan aspal kasar yang retak. Kijang hitam yang ia kejar kini berhenti di ujung halaman, di depan salah satu bangunan tak berplakat.Reno memperlambat laju motornya, jantungnya berdetak keras. Naluri petarungnya mulai menyala.Saat ia bersiap turun dari motor, terdengar suara pintu mobil dibanting.Satu persatu, sosok-sosok gelap bermunculan dari balik bayangan gudang. Lima orang. Enam. Mungkin lebih. Mereka menyebar dengan langkah lambat namun pasti, seperti kawanan serigala yang mengendus mangsa. Beberapa di antara mereka menggenggam pentungan besi. Ada juga yang memegang samurai, kilatan baja menari di bawah sinar bulan.Reno berdiri di samping motornya, matanya menyapu wajah-wajah mereka. Tidak ada yang dikenalnya. Tapi dari sikap mereka, ia bisa menebak, mereka bukan sekadar penjaga gudang.Salah satu dari mere