Home / Romansa / Frozen in Love / Violet dan Jeffry [3]

Share

Violet dan Jeffry [3]

Author: Indah Hanaco
last update Last Updated: 2021-03-15 16:00:56

Jeffry, yang sedang duduk tepat di depannya, menatap pramusaji yang sedang mengantar pesanan mereka dengan berani. Memang, semua pramusaji perempuan di restoran itu memakai blus pas badan dengan beberapa kancing atas dibiarkan terbuka. Cukup mengekspos area dada yang umumnya berbalut kulit terang. Lalu, masih dipadu dengan rok mini berwarna hitam yang panjangnya berada di atas lutut. Pakaian yang cukup provokatif.

Violet sendiri tidak melihat apa hubungan antara laris-tidaknya suatu restoran dengan pakaian pramusajinya. Dia tak pernah bisa berhenti mengerti hal-hal seperti itu. Bagi Violet, itu hanyalah salah satu cara untuk mengeksploitasi perempuan. Anehnya, yang dieksploitir sendiri tidak merasa keberatan.

“Selamat menikmati,” pungkas si pramusaji dengan senyum indah yang merekah.

“Terima kasih, Mbak,” Jeffry yang menjawab dengan antusias. Violet memperhatikan dengan bibir terkatup.

“Jeff,”panggilnya dengan suara rendah. Sebagian harga diri Violet ingin memberontak dengan cara menyiramkan semua makanan yang baru datang itu ke wajah Jeffry. Namun, akal sehatnya tidak memberi izin. Dengan susah payah, dia berusaha menarik napas.

“Vi, kenapa tidak mulai makan? Ayo, nanti kalau keburu dingin, malah tidak enak, lho!” Jeff dengan antusias mulai mengambil sendok. Dia bahkan sempat menyeruput minumannya, segelas orange float yang tampak nikmat. Violet terpaku dan ingin mengucapkan sesuatu, tapi kemudian mengurungkan niatnya. Violet memutuskan untuk makan, mengumpulkan tenaga sebelum bertengkar dengan Jeffry. Karena biasanya lelaki itu punya segunung alasan.

Violet menyantap menu yang dipilihnya dalam diam. Sementara Jeffry kadang berceloteh tentang sesuatu. Entah apa. Violet kehilangan konsentrasi dan semangat untuk mendengar setiap kata yang meluncur dari bibir pacarnya. Ada yang sedang menggeliat sakit di dalam dadanya. Bagi orang lain, ini mungkin hal sepele. Karena Jeffry “cuma” jelalatan, bukan berselingkuh. Bagi Violet, sebaliknya.

“Vi, kenapa? Kok kamu diam saja? Apa makanannya tidak enak? Ingin memesan yang lain?” Jeffry mengerutkan kening, keheranan dengan sikap pacarnya.

Violet menggeleng. “Makanannya enak dan aku nggak mau memesan apa-apa lagi.

“Atau kamu memang sangat ingin pulang ke Medan?” Mata Jeffry berpendar penuh perhatian. Lelaki itu berhenti mengunyah untuk sesaat. “Kan aku tadi sudah bilang, aku bisa mengantarmu, Vi. Lihat, kamu cemberut sejak bicara tentang kerinduan pada mamamu. Kamu nggak apa-apa? Atau ada masalah?”

Tatapan lembut Jeffry ditujukan pada Violet. Gadis itu mendesah dalam hati. Entah harus mensyukuri atau melaknat mata itu. Jeffry memiliki mata yang bersinar lembut dan mampu memberi efek menenangkan untuk Violet. Namun sekarang gadis itu juga tahu bahwa tatapan mata Jeffry mampu menyihir banyak perempuan. Violet bertanya-tanya, mungkinkah dirinya juga termasuk di dalamnya?

“Jeff, sebelum pulang, bisa temani aku ke toko buku sebentar?” Violet memilih untuk mengalihkan pembahasan. Dia sudah memutuskan untuk tak bertengkar dengan Jeffry hari ini. Mereka harus bicara untuk kesekian kalinya, tapi nanti saja. Saat hati Violet sedang tenang dan dia bisa objektif serta berpikir jernih.

“Oke. Kamu mau beli apa? Novel lagi?”

Violet mengangguk. “Bukan saatnya menimbun buku pelajaran. Sudah lewat masanya. Sekarang, aku sedang menikmati hidup sebagai manusia bebas tanpa kewajiban untuk belajar.”

Jeffry tertawa kecil. “Kegemaranmu membaca kadang membuatku iri. Kamar kosmu sepertinya penuh dengan novel.”

“Hmm, nggak juga. Kamar kosku masih jauh dari perpustakaan mini. ”

Jeffry memang bukan penggemar buku. Selera film mereka pun sebenarnya berbeda jauh. Violet memuja film aksi dan serial detektif. Jeffry justru penggemar film komedi. Violet bahkan merasa bahwa mereka nyaris tidak punya kesamaan minat. Tapi itulah rahasia terbesar tentang cinta. Mereka berdua bisa memintal dua hati dalam cinta.

Keluar dari restoran, Jeffry menggandeng Violet dengan mesra. Seperti biasa. Namun ganjalan di dada Violet tidak berkurang karenanya. Violet merasa dirinya bukanlah tipe pencemburu. Namun dia tidak bisa terus menoleransi sikap kekasihnya yang sangat suka “memanjakan mata” dan menatap tanpa kedip pada sosok perempuan-perempuan menawan yang mereka temui.

“Yang terpenting, aku kan nggak pernah selingkuh, Vi! Aku setia padamu, sejak awal kita pacaran. Masa aku tidak boleh melihat perempuan lain, sih?” Itu argumen Jeffry yang diulang-ulang sejak kali pertama Violet menegur kebiasaannya. “Kamu nggak perlu cemburu.”

“Aku nggak cemburu!” bantah Violet. “Kamu mungkin nggak selingkuh. Tapi, memandangi perempuan lain dengan penuh perhatian sementara ada aku di sebelahmu, itu sangat mengganggu, Jeff. Ini soal kepantasan. Aku merasa kamu nggak menghargaiku.”

Kalimat senada juga pernah dilontarkan Violet entah berapa kali. Namun, tak ada perubahan berarti. Jeffry masih tetap suka memandangi perempuan lain dengan mata penuh binar. Bukan sekali dua pula Violet mendengar orang-orang yang mereka temui berkomentar negatif tentang hal itu. Violet tak tahu bagaimana cara terbaik supaya Jeffry menganggap serius masalah itu.

Di toko buku, Jeffry berhenti di rak psikologi, sementara Violet berlama-lama di rak novel. Dia menjangkau beberapa novel lokal dan terjemahan. Saat itu, dunia Violet menyempit. Hanya ada dirinya dan lautan buku yang membentengi gadis itu dari dunia luar.

“Aku menunggu di sini,” kata Jeffry sebelum mereka berpisah.

Suara hiruk-pikuk pengunjung yang memenuhi toko buku sama sekali tidak mempengaruhinya. Violet melangkah di atas ombak gairah. Hal magis yang tak bisa diungkapkan dengan bahasa verbal, sesuatu yang selalu terjadi saat dia berada di toko buku. Violet bisa melupakan segalanya saat berada di antara buku-buku yang menarik minatnya.

Gadis itu menggerakkan kepalanya, membuat rambut panjangnya bergoyang lembut. Kulitnya yang berwarna cokelat karamel itu tampak bersinar di bawah siraman lampu. Violet berkonsentrasi pada buku-buku yang memenuhi rak.

Setelah menemukan dua buah novel lokal dan tiga buah novel terjemahan, mata Violet mulai mencari-cari sosok Jeffry. Kekesalannya sudah mereda. Diam-diam Violet bersyukur karena tadi tidak langsung menumpahkan kegeramannya saat di restoran. Sehingga mereka terhindar dari pertengkaran atau minimal adu mulut.

Jeffry sudah pindah ke rak komputer yang bersebelahan dengan buku-buku psikologi disusun saat Violet mendatanginya. Jumlah pengunjung yang membludak di akhir pekan membuat gadis itu memilih untuk tak berlama-lama di toko buku. Violet pun mendekat ke arah Jeffry.

“Jeff,” panggilnya.

Violet ternganga karena mendapati kekasihnya sedang menumpukan konsentrasi pada seorang gadis remaja yang memakai kaus ketat dan hot pants yang menampakkan kaki jenjangnya nan mulus. Jeffry bahkan tidak menghiraukan panggilan Violet. Atau mungkin tidak mendengar namanya disebut karena seluruh inderanya terfokus pada gadis muda tersebut.

“Jeffry!” Suara Violet dipenuhi tekanan.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sobri Bajri
walau ga selingkuh tapi mata jajan mulu ngeselin bgt sih
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Frozen in Love   Violet dan Jeffry [4]

    Jeffry tak bisa menyembunyikan kekagetannya saat menoleh ke arah sang pacar. Namun lelaki itu segera menguasai diri dengan “Kamu sudah selesai?” tanyanya tenang, seakan tidak terjadi apa-apa barusan. Senyum tipisnya bahkan mengembang. Violet tidak yakin apakah Jeffry menyadari bahwa yang dilakukannya tadi sudah membuat kekasihnya kesal.“Sudah!” cetus Violet dengan wajah merengut. Tanpa bicara, gadis itu melangkah menuju kasir dan harus antre di sana. Dia sempat melirik Jeffry yang berdiri menunggu di dekat pintu keluar. Kali ini, lelaki itu menunduk karena sibuk memainkan gawainya.Violet berkali-kali menghela napas untuk menenangkan diri sekaligus meredakan kemarahannya. Di tak mau mempermalukan diri sendiri. Meski begitu, dadanya masih naik turun karena emosi yang bergelombang di dalam sana. Seakan siap merubuhkan dinding-dinding ketenangan yang dimiliki Violet.Nyaris sepuluh menit gadis itu harus mengantre. Sebenarnya, ketidaksabaran

    Last Updated : 2021-03-16
  • Frozen in Love   Quinn dan Eireen [1]

    Quinn Zaugustus mendengarkan sang kekasih yang sedang bicara dengan penuh semangat. Eireen, nama gadis yang berhasil menaklukkan hati Quinn itu. Keduanya menjadi pasangan sejak enam minggu silam. Mereka sedang berada di restoran yang menyajikan steak, makanan favorit Eireen. Quinn tak terlalu menikmati menu western, tapi dia ingin menyenangkan sang pacar.Eireen adalah gadis supel yang begitu menawan. Bukan hanya secara fisik, melainkan juga karena kepercayaan dirinya yang kuat. Eireen merupakan sosok yang langsung menarik perhatian kaum adam. Itu juga yang terjadi pada Quinn. Dia baru berkenalan dengan Eireen tujuh bulan silam. Kala itu, Eireen menjadi salah satu pagar ayu di sebuah resepsi yang digelar di hotel tempat Quinn bekerja, The Suite.Sejak itu, Quinn tak melepaskan kesempatan untuk mendekati gadis itu. Apalagi setelah Eireen memastikan bahwa dia tidak memiliki kekasih. Quinn pun cukup intensif berkomunikasi dengan gadis itu hingga akhirnya

    Last Updated : 2021-03-21
  • Frozen in Love   Quinn dan Eireen [2]

    Setelah tiba di halaman parkir ke The Suite, Quinn menyempatkan diri menelepon Eireen, mencari tahu apakah gadis itu sudah tiba di rumahnya atau belum. Eireen malah mengaku dia sedang mampir ke sebuah coffee shop untuk bertemu seorang teman.Satu setengah tahun terakhir, Quinn menduduki posisi bergengsi sebagai residence manager. Jabatan itu membuatnya mengepalai delapan manajer lini pertama. Jadi, tanggung jawab Quinn memang cukup berat karena harus mengawasi dan bertanggung jawab atas kinerja semua departemen di bawahnya.Sudah bergabung di The Suite sejak berusia 24 tahun, hanya berjarak sebulan sejak meraih gelar sarjana, Quinn mengawali kariernya sebagai petugas housekeeping. Setelah itu, secara berkala Quinn berpindah bagian. Mulai dari bagian akunting, food and beverage, front office, engineering, hingga marketing.“Kamu harus paham tiap bagian di hotel ini. Bahkan, kalau bisa, nggak sekadar paham. T

    Last Updated : 2021-03-22
  • Frozen in Love   Quinn dan Eireen [3]

    Quinn bertemu dengan Eireen sekitar dua puluh menit kemudian. Sepanjang perjalanan, dia menyetir dengan jantung dag dig dug tak keruan. Quinn tidak tahu pasti apa yang terjadi selain bahwa Eireen terlibat kecelakaan. Karena tadi dia buru-buru memutuskan perbincangan mereka. Bodohnya Quinn, dia bahkan tidak bertanya apakah Eireen terluka atau tidak.“Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Quinn setelah bertemu pacarnya. Dia menatap Eireen dari ujung rambut sampai ujung kaki dan menarik napas lega karena tidak menemukan tanda-tanda bahwa gadis itu terluka. Mobil Eireen diparkir di halaman sebuah restoran cepat saji yang jam operasionalnya sudah berakhir.“Aku baik-baik saja,” balas Eireen. Perempuan itu berderap ke arah Quinn sebelum memeluk sang kekasih. “Tadi, aku betul-betul takut, Quinn,” bisiknya.Lelaki itu mendekap kekasihnya. Tangan kanannya mengusap punggung Eireen dengan gerakan lembut. Dari tempatnya berdiri, Quinn bisa mel

    Last Updated : 2021-03-23
  • Frozen in Love   Zig Zag [1]

    Hari Jumat selalu menjadi hari yang ditunggu oleh para karyawan, bukan? Karena dua hari ke depan ada libur yang bisa dimanfaatkan untuk melepaskan diri dari rutinitas. Dan melakukan hal-hal yang menggembirakan hati tanpa harus memikirkan pekerjaan. Bersantai.Violet melirik sekilas jam dinding. Sudah hampir pukul lima. Itu artinya, dia akan segera meninggalkan kantor tak lama lagi. Lebih bergegas lagi, perempuan itu membereskan mejanya seraya meneliti lagi hasil pekerjaannya. Violet tersenyum manis, kombinasi antara perasaan lega dan senang.Menjadi sarjana sastra Inggris, Violet diterima bekerja sebagai staf HRD di sebuah perusahaan manufaktur yang memproduksi produk perawatan wajah khusus untuk kaum hawa. Sepanjang pengalamannya setahun terakhir ini, pendidikannya nyaris tidak berkorelasi dengan pekerjaan yang dilakukannya. Kecuali kemampuannya bercas cis cus dalam bahasa negeri Pangeran William itu saja. Itu pun tidak banyak dibutuhkan dalam menuntaskan pekerjaannya

    Last Updated : 2021-03-24
  • Frozen in Love   Zig Zag [2]

    Violet pulang dengan kepala yang terasa berat. Dia masih bisa membayangkan detail garis wajah Nindy saat mendengar kata-katanya. Temannya itu seperti habis disambar petir. Bahkan mungkin lebih parah. Tak hanya hangus, Nindy berubah seperti debu.“Apa? Dari mana kamu tahu ... eh ... mengambil kesimpulan seperti itu?” Nindy langsung panik. Kepucatan di wajahnya kembali lagi.Violet tersenyum tipis. Namun dia yakin jika senyum yang terukir di bibirnya menyerupai lekukan patah yang menyedihkan. Hati Violet ikut nyeri melihat eskpresi temannya. Mengapa Nindy bertahan dengan pria kasar seperti Randy? Apakah tampang dan latar belakang keluarga memang segalanya?“Aku pernah beberapa kali melihat memar-memar di pipi atau lenganmu. Meski kamu berusaha menutupinya dengan make up atau beralasan macam-macam, aku tahu kalau bukan itu yang terjadi,” gumam Violet hati-hati. Di depan gadis itu, bibir Nindy terbuka.Violet memang tidak berd

    Last Updated : 2021-03-25
  • Frozen in Love   Zig Zag [3]

    “Teman sekantormu, ya? Apa dia tak ingin putus dari kekasih yang seperti itu? Sepupuku juga ada yang mengalami hal semacam itu. Bedanya, yang memukuli adalah suaminya sendiri. Sepupuku itu sempat kabur bertahun-tahun sebelum pulang ke Indonesia.” Kelly ikut emosional. “Kalau aku, tak akan pernah kubiarkan ada orang yang mengaku mencintaiku tapi melakukan hal-hal itu padaku. Aku anti kekerasan, fisik ataupun verbal.”Violet mengangkat bahu. Dia benar-benar merasa lelah. “Yang kudengar, mereka akan segera bertunangan.”Mata Kelly membesar. “Apa?”“Iya, sudah beberapa minggu ini temanku bercerita tentang rencana pertunangannya.”“Dan kayaknya dia tetap akan melanjutkan rencana itu? Walau pacarnya begitu berengsek?” desak Kelly dengan nada tak percaya.“Sepertinya begitu. Tadi, kubilang kalau aku tahu dia sering dipukuli. Tapi katanya itu semua karena kesalahannya. Dia tak in

    Last Updated : 2021-03-26
  • Frozen in Love   Risau [1]

    Quinn melepas kacamata bacanya, meletakkan benda itu di atas laptop yang baru saja ditutup. Punggungnya terasa pegal. Lelaki itu bersandar di kursi sembari meregangkan tubuh. Dia memejamkan mata selama sesaat. Saat ini sudah pukul lima sore. Hari Jumat. Bagi karyawan kantoran biasa, Jumat selalu menjadi hari yang ditunggu-tunggu. Namun hal itu tidak berlaku bagi Quinn atau orang-orang yang bekerja di The Suite.Setelah berlalu sekitar lima menit, Quinn pun menegakkan tubuh. Tatapannya disapukan ke arah dua kursi kosong tepat di depannya. Sebelum beralih ke layar monitor di bagian kanan mejanya yang menampilkan rekaman kamera CCTV di berbagai titik. Ya, The Suite memang memiliki ruang khusus yang menampilkan semua gambar dari kamera CCTV yang dipasang. Beberapa di antaranya bisa dilihat Quinn dari ruangannya.“Kenapa kamu minta layar monitor juga ditaruh di ruang kerjamu, Quinn?” tanya Jan, kala pertama kali cucunya mengajukan permintaan itu.“S

    Last Updated : 2021-04-05

Latest chapter

  • Frozen in Love   Epilog

    Wynona memasuki masa berkabung karena patah hati tanpa air mata atau kesedihan yang berlarut-larut. Kendati berpisah dari David setelah hubungan selama sembilan tahun, tetap saja bukan hal yang mudah untuk dihadapi. Akhir hubungan mereka begitu tak menyenangkan karena sikap David dan keluarganya. Namun Wynona makin yakin dia sudah mengambil keputusan yang tepat.Ada beberapa sebab, tak cuma melulu “dosa” David saja, melainkan juga kesalahan Wynona. Sejak malam itu, David bahkan tak berusaha menghubungi Wynona lagi. Lelaki itu seolah menghilang begitu saja. Sembilan tahun yang mereka miliki bersama-sama, tak penting. Wynona pun tampaknya dianggap bukan lagi perempuan yang pantas untuk diperjuangkan.Sementara dari sisinya, Wynona kian yakin bahwa perasaannya pada David sudah benar-benar tawar. Hatinya sudah berubah. Gadis itu tak keberatan disalahkan karena seolah memberi peluang pada Leon untuk masuk dalam hidupnya.Dia tak akan menampik hal itu. Nam

  • Frozen in Love   Mengikuti Kata Hati [3]

    Kata-kata yang dilontarkan orangtua Leon itu membuat Wynona benar-benar merasa dihargai. Dia tak bisa mencegah rasa haru menusuk-nusuk dadanya. Namun. Tentu saja dia tak boleh menangis lagi di sini. Sudah cukup air mata yang ditumpahkannya hari ini.“Wyn, mau main ludo atau halma?” Suara erangan terdengar dari berbagai arah sebagai respon untuk kata-kata Anton. Lelaki itu menunjukkan ekspresi tak berdosa saat membela diri. “Papa kan belum pernah main ular tangga dengan Wynona.”“Tolong Pa, kreatiflah sedikit. Setiap tamu selalu diajak main halma atau ludo. Apa tidak ada yang lain?” gerutu Trisa. Lalu, perempuan itu bicara pada tamunya. “Wyn, kapan kamu bisa mengirim daftar belanjaan untuk minggu depan? Lebih cepat lebih baik, kan?”“Iya Kak, aku akan menyiapkan daftarnya secepatnya. Besok atau paling telat lusa,” janji Wynona.Trisa mengangguk senang. “Mungkin sehari sebelum acara, akan leb

  • Frozen in Love   Mengikuti Kata Hati [2]

    “Tidak apa-apa. Walau sebenarnya aku ke sini cuma ingin bertemu Om, Tante, dan Kakak,” sahut Wynona. “Agak pesimis juga awalnya, karena menurut Leon, Kakak nggak tinggal di sini.”Trisa tersenyum lebar. “Begitulah kalau menjadi anak perempuan satu-satunya. Kalau aku nggak datang selama beberapa hari, pasti ada yang menelepon. Kalau tidak Mama, Papa, kadang asisten rumah tangga. Ada saja alasan yang diajukan. Yang terbanyak sih, Nadya. Padahal, mereka itu merindukanku,” kelakarnya.“Hahah, aku jadi sangat iri. Aku juga anak perempuan satu-satunya tapi tak ada yang merindukanku seperti itu.”Trisa menatap Wynona sungguh-sungguh. “Aku justru yang iri dengan kemampuan memasakmu, Wyn! Aku semur hidup cuma bisa memasak nasi goreng. Itu pun menggunakan bumbu instan. Kemampuan memasakku nol besar. Padahal Mama jago di dapur. Dan kami terbiasa dimanjakan dengan masakannya.”Setelah kembali ke ruang tamu,

  • Frozen in Love   Mengikuti Kata Hati [1]

    Wynona hampir menabrak dada seseorang saat membalikkan tubuh. Sendok kayu yang dipegangnya, jatuh ke lantai. Tangan kanannya memegang dadaku, seakan dengan begitu rasa kaget gadis itu akan berkurang jauh.“Syukurlah kamu baik-baik saja,” gumamnya dengan ekspresi lega tergambar jelas. Leon pasti tidak pernah tahu kalau Wynona pun tak kalah lega melihatnya.“Kamu mengagetkanku,” bibir Wynona cemberut. Dia hendak berjongkok memungut sendok kayu, tapi Leon bergerak lebih cepat dan menaruh benda itu di wastafel.“Dapurnya indah. Aku suka,” puji Wynona. “Sebentar, aku harus memindahkan mi-nya dulu.”“Butuh mangkuk besar?” Leon membuka sebuah pintu kabinet di bagian atas dan mengeluarkan sebuah mangkuk kaca transparan. “Apakah ini cukup?”Wynona mengangguk. Dengan gerakan hati-hati, dia menyusun mi, kol, dan telur rebus yang sudah dipotong-potong. Saat hendak menua

  • Frozen in Love   Keraguan [5]

    David menatap Wynona tak percaya. Kemarahan tergambar di setiap gerak tubuhnya. “Putus? Kenapa kamu terlalu cepat mengambil keputusan?”Gadis itu menggeleng. “Ini bukan keputusan yang terburu-buru. Selama ini, aku hanya tidak berani mengakui kenyataan.”“Wynona!”Gadis itu menatap wajah David dengan perasaan campur aduk. Betapa lelaki ini pernah membuat hati Wynona berpesta karena cintanya. Betapa David pernah menjadi orang terpenting dalam hidup gadis itu. Betapa Wynona pernah sangat ingin mengubah dirinya agar menjadi sosok paling diinginkan dalam hidup lelaki ini. Itulah kuncinya, pernah. Artinya, itu sudah berlalu lama, sebelum gadis itu akhirnya diterpa kesadaran. Terlambat, tapi Wynona tidak menilainya sebagai sebuah kefatalan. Dia tidak menyesali semuanya. Gadis itu hanya menganggap semua ini sebagai proses panjang yang mendewasakan.“Wyn, jangan cuma karena masalah ini, hubungan kita m

  • Frozen in Love   Keraguan [4]

    “Wyn,” David menjajari langkah kekasihnya. Sementara Wynona berusaha berjalan lebih cepat. Dia hampir mencapai pintu gerbang ketika David berhasil meraih lenganku.“Apa kamu tidak mendengarku?” tanyanya marah. Ekspresinya berubah keras.“Aku cuma ingin pulang. Aku tidak mau dihina lagi.”David menggelengkan kepalanya. “Mama hanya ingin tahu tentang kamu.”Wynona menatap David dengan tajam. Andai bisa, dia ingin mengguncang tubuhnya David dan meniupkan kesadaran di benaknya agar lelaki ini melihat fakta yang sebenarnya.“Vid, mamamu tidak menyukaiku. Sampai kapan pun akan tetap seperti itu. Percayalah, tidak akan ada yang berubah. Dan aku tidak nyaman diperlakukan seperti tadi.”David masih memegang lengan Wynona. “Aku tidak mengizinkanmu pulang. Nanti aku akan mengantarmu, Wyn! Sekarang, ayo kita masuk ke dalam lagi,” ajaknya.Wynona menggeleng tegas seraya melepa

  • Frozen in Love   Keraguan [3]

    Wynona tersenyum kecil menanggapi gurauannya. David nyaris tidak pernah antusias menikmati masakanku. Gadis itu mengitari ruang tamu yang luas itu dengan tatapannya. Ada belasan perempuan paruh baya yang bergaya trendi. Juga ada beberapa gadis muda yang usianya tak jauh beda dengan Wynona. Aneka aroma parfum mahal menyengat hidung. Membuat campuran aneh yang memusingkan kepala Wynona. Semua orang sibuk berbincang seraya menikmati aneka makanan yang tampak lezat. Gadis itu tidak melihat kehadiran ayah dan saudara David lainnya.Irene mendekat ke arah Wynona, Sofia, dan David yang duduk di sebuah sofa panjang. Perempuan itu memilih sofa tunggal di depan mereka. Wynona baru ingat, dia sama sekali tidak diperkenalkan dengan tamu yang ada.“Ma, coba cicipi ini.” Sofia menyodorkan sepotong kecil pie yang dibawa Wynona. Irene menggigit ujungnya sedikit. Entah mengapa, Wynona menjadi tegang karenanya.“Enak,” ujarnya. Namun dia menolak m

  • Frozen in Love   Keraguan [2]

    Wynona mendesah. “Kukira kamu akan memberiku usul yang masuk akal. Kamu kan tahu apa yang terjadi padaku saat resepsi? Kenapa kamu masih bisa mengusulkan ini?”“Wyn, aku tidak ingin melihatmu sedih atau terluka. Akan tetapi, ada kalanya kita harus berhadapan dengan kepahitan untuk mengetahui apa sebenarnya kebenaran di baliknya. Kalau kamu tidak mau bertemu mamanya David, apa masalah kalian akan selesai? Bukannya malah membuat semuanya menjadi makin rumit?”Wynona mengerutkan alis. “Aku tidak mengerti maksudmu.”Gadis itu mendengar suara tawa ringan di seberang.“Menghindar pasti lebih mudah. Tapi, apa kamu tidak penasaran ingin tahu bagaimana sebenarnya sikap keluarga David? Maksudku, mamanya. Kamu butuh kesempatan untuk bisa menilai dengan objektif. Dan menurutku, ini saat yang tepat.”Wynona tercenung mendengarnya. Keheningan menyergap selama sesaat.Leon bicara lagi. “Sebenarnya

  • Frozen in Love   Keraguan [1]

    Wynona masih berada di dalam kepungan kabut membingungkan sebagai efek dari kata dan tindakan Leon. Dia masih belum bisa berpikir dengan jernih untuk tahu apa yang sebenarnya diinginkan. Semuanya serba membingungkan. Seakan Wynona berada di sebuah labirin paling rumit di dunia.Lalu, David menghubunginya setelah berhari-hari menghilang tanpa kabar. “Wyn, apa kamu baik-baik saja?” tanyanya penuh perhatian.“Ya,” dusta Wynona sembari menggigit bibir.“Aku minta maaf untuk berbagai masalah di antara kita. Tapi aku ingin menyelesaikannya satu per satu.” Jeda beberapa detik. “Mama ingin bertemu denganmu. Nanti malam bisa?”Wynona benar-benar tak siap dengan permintaan itu. “Nanti malam?”“Iya. Apa kamu tidak bisa? Ada pekerjaan?”“Aku....”Jawaban Wynona belum tuntas tapi sudah menukas dan mendesak. “Tolong luangkan waktu, ya? Aku tidak enak kalau har

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status