"Apa syaratnya?""Syaratnya adalah Ratih harus membawa setidaknya 3 korban setiap satu purnama.""Tiga korban?" gumam Salwa."Ya, korban itu adalah laki-laki yang berhasil bersetubuh dengan Ratih dan berakhir jadi gila atau bunuh diri." jawab Randa dengan tatapan mata lurus kedepan."Bagaimana bisa?""Tentu bisa, dukun itu memasang susuk pada tubuh Ratih untuk menjerat korbannya. Awalnya aku tak setuju, bagaimana mungkin aku membiarkan tubuh wanita yang aku cintai dijamah oleh laki-laki lain?Namun, nenekmu menyetujuinya dan mengabaikan perasaanku. Asal Ratih normal kembali, apapun syaratnya akan dia penuhi.Tapi kembali dukun itu memberitahukan resiko atas apa yang akan terjadi akibat susuk itu. Ratih akan dikendalikan penuh oleh pemilik susuk, dan tak akan bisa lepas begitu saja. Aku kembali tercengang dibuatnya, tapi aku bisa apa? Nenekmu mengambil penuh keputusan tanpa melibatkanku. Saat itu, Nenekmu percaya diri sekali jika semua akan baik-baik saja. Memang benar adanya setelah
"Salwa! Dari mana saja, kau?" tanya Mak Saroh saat melihat Salwa pulang setelah seharian ia pergi."Dari ladang Nek, ikut Bibi petik cabai." jawabnya yakin, sebab memang setelah berhasil keluar dari kampung mati itu ia menyusur melewati ladang yang di garap oleh Rodiya dan kebetulan Rodiya sedang berada di sana.Mak Saroh meragukan jawaban Salwa sebab masih curiga jika Salwa kembali ke kampung itu."Benar kau ke ladang?""Iya, itu bibi Rodiya sama Hesti masih agak di belakang," Tak lama kemudian muncul Rodiya dan anak sulungnya Hesti yang sudah duduk di kelas 6 SD. "Rodiya, benar Salwa ikut kau ke ladang?" tanya Mak Saroh menyelidik."Iya, Mak. Itu bantu petik sayur kankung sama cabai." jawab Rodiya menunjuk kantong yang di pegang Hesti sementara dirinya memanggul kayu bakar."Kenapa rupanya, Mak?" tanya Rodiya."Ah, tak apa! Mak pikir kemana dia, takut tersesat kalau terlalu jauh mainnya." jawab Mak Saroh."Yasudah, hari menjelang gelap baiknya cepatlah bebersih badanmu." Mak Saroh
"Bund, kemaren pak RT bilang kondisi Mursan-" Wahyu menggantung ucapan nya sebab rasanya tak tega dengan kondisi Mursan yang menjadi korban Salwa."Iya, pas belanja juga pada ngomongin itu. Aku udah hubungi pak Haji Nurman tapi beliau sedang ke Jakarta, pulangnya masih lusa." jawab Arini paham arah pembicaraan Wahyu."Bukan soal itu aja yang mau Ayah bicarain, Bund." Wahyu menatap wajah Arini yang tengah bersandar pada kepala ranjang."Apa itu?" "Ada sesuatu yang rasanya tak enak gitu dalam tubuh Ayah, Bund."8"Maksudnya? Bukankah menurut hasil tes kita semua baik-baik saja?""Iya benar, tapi rasanya masih ada yang mengganjal dalam diri ini. Setiap shalat, dzikir atau ngaji tu rasanya panas dan sesak di dada." Arini menegakkan punggungnya dan menatap suaminya khawatir."Udah coba kasih tahu Ibuk apa pak Haji?" Wahyu menggeleng pelan."Oke kita ikhtiar sendiri dulu sembari menunggu pak Haji pulang, bentar ya aku ambilin air putih dulu biar si kakak yang bacain yasinnya." Arini nampak
Dua hari berlalu begitu cepatnya, Arini terlihat pucat dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang sangat jelas terlihat."Mbak Arini kurang tidur ya? Pucet banget saya lihat," ucap Ika ketika ia datang ke kios."Iya, mbak Ika. Dua hari ini kurang tidur.""Yaudah, mbak Arini istirahat aja. Hari ini tinggal finishing punya bu Komariah sama punya bu Nining, kan?" "Iya, sama itu susulan punya Minarti kemarin minta dikecilin sedikit lagi di pagian pinggang kebawah, dikurangi 5 cm katanya.""Yang mana, Mbak?""Itu dress yang ijo tosca," jawab Arini menunjuk sebuah dress yang ia letakkan di samping mesin jahit."Oh ini!" Arini mengangguk.Tak lama kemudian semua karyawannya datang dan segera mengambil posisi masing-masing."Wik, nanti yang punya bu Nining setrikanya jangan panas-panas ya, katun mahal katanya!" ucap Ika pada salah satu rekannya."Oke, yang warna pastel itu kan?" jawab Dewi sambil menunjuk dres di tumpukan, Ika mengangguk."Mbak Arini sakit ya?" tanya Dewi yang melihat Arin
"Astaghfirullahalazim!" lirih Wahyu dan Rodiya bersamaan. Saking terkejutnya mereka mendengar cerita yang terlontar dari mulut Salwa.Salwa menceritakan semua yang ia ketahui dari Randa kepada Harun dan Rodiya. Tak ada satupun yang terlewat dan ia tutupi, termasuk juga warisan susuk ilmu hitam yang sengaja di pasang sang nenek di tubuhnya."Pantas saja, arwah Ratih selalu mendatangi kita, Pak! Rupanya memang Ratih tak dimakamkan, Ibuk gak nyangka Emak seperti itu!" ungkap Rodiya benar-benar tak menyangka jika akan seperti ini."16 tahun! Kenapa selama ini kami tak menyadari apapun!" sesal Harun."Tak perlu ada yang di sesali, Paman. Sekarang waktunya kita untuk menyadarkan Nenek bahwa tindakannya salah dan kita harus memakamkan jasad Ibu sebelum purnama penuh 1 minggu lagi. Kalau tidak-""Kalau tidak kenapa?" Rodiya menyahut cepat kala Salwa hanya terdiam tak melanjutkan ucapannya."Salwa juga akan mati menyusul Ibu, Bik!""Astaghfirullah!""Kenapa jadi seperti ini?""Nenek mewariskan
"Waluyo!""Mas Harun!"Sepersekian detik mereka saling terdiam dalam keterkejutan. Hingga Waluyo berbalik badan hendak melarikan diri dari hadapan Harun dan Rodiya.Harun segera menyadari jika Waluyo hendak melarikan diri, dengan langlah lebar dan gerakan cepat ia mengejar dan menangkap Waluyo. Ia mengunci kedua tangan Waluyo dibelakang tubuh."Ngapain kamu di sini?" tanya Harun."Gak sengaja, Mas!" jawabnya gugup.Satu tendangan mendarat di kaki bagian belakang hingga membuat Waluyo berlutut masih dengan kedua tangan dipegangi oleh Harun."Mau berkata jujur atau kupatahkan kakimu!" bentak Harun membuat Waluyo ciut nyali."Am-ampun, Mas!" gagapnya."Untuk apa kamu ditempat ini?" ulang Harun."Em, itu-, saya-" "Jawab!" bentak Harun lagi."Mau ambil jerigen, Mas!" jawabnya takut."Jerigen?""I-iya, untuk ambil formalin ke kabupaten." Harun melepaskan tubuh Waluyo kasar hingga ia terjerembab. Harun berjongkok di depan wajah Waluyo dengan amarah memuncak."Sejak kapan kamu terlibat dalam
"Bund, Ayah, Bund! Tolong!"Astaghfirullahalazim! Apa lagi ini? Ardhan berteriak panik, aku segera berlari menuju kamar. Betapa terkejutnya aku begitu sampai, melihat mas Wahyu berguling kesana kemari sambil mengerang kesakitan."Ya Allah, Mas!" "Bund, Ayah kenapa Bund?" Yusuf meringkuk di samping lemari melihat ayahnya kesakitan sambil menangis, sementara si Kakak berusaha menenangkan ayahnya."Astaghfirullahalazim!" Pak Haji dan Bu Hajah menyusulku masuk ke kamar.Aku mencoba meraih tubuh mas Wahyu yang sudah basah oleh keringatnya. Tubuhnya bergetar, wajahnya merah padam dengan keringat mengucur membasahi wajah dan tubuhnya."Yah!" aku tak tahu lagi harus berkata apa, tubuhnya kaku tapi berkeringat. Seoalah ia sedang menahan sakit yang luar biasa.Pak Haji dengan sigap membantuku meraih tubuh mas Wahyu. Dibacakannya ayat-ayat suci dan sholawat, mas Wahyu makin mengerang kesakitan. Entah apa yang singgah dalam tubuhnya hingga mendengar suara sholawat saja ia begitu kesakitan."Bund
Hari menjelang malam ketika kami memasuki kawasan kota Jambi, kami memutuskan beristirahat kembali sembari melaksanakan shalat maghrib dan isya sekalian. Pak Haji membawa kami singgah di sebuah masjid besar dan terkenal yaitu masjid Laksamana Cheng Ho yang mirip seperti yang ada di kota Batam, katanya. Sebab aku sendiri belum pernah tahu ataupun sekedar dengar, apalagi menginjakkan kaki di tanah Batam. Masjid besar dengan banyak cerita sejarah berdiri kokoh dengan megahnya di hadapan kami. Aku takjub dengan keindahan bangunan ini, seumur hidup baru kali ini kakiku menginjakkan kaki di tanah Jambi.Usai melaksanakan shalat maghrib yang hampir batas akhir ini, kami tak keluar lagi dari masjid. Sekedar beristirahat sembari berwiridan menunggu waktu isya datang.Tak lama kumandang isya terdengar, para jamaah segera menempati shaf untuk melakukan kewajiban shalat. Banyak sekali yang mengikuti shalat jamaah di masjid ini, rata-rata adalah para warga yang tinggal di sekitaran masjid, ada j
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. 6 bulan sudah Salwa dirawat di rumah Murni di Jakarta. Awalnya Salwa menolak dan memilih kembali ke Jambi. Namun, dengan alasan lebih dekat jika harus kembali ke rumah sakit untuk kontrol, akhirnya ia setuju dengan Bik Jani tetap ikut bersamanya. Ia tak mau lagi merepotkan Murni dan Tri juga ketiga saudara tirinya.Kondisi Salwa semakin memprihatinkan, kian hari kian kurus. Rambut indah itu gini tak lagi tersisa sedikitpun dan hanya menampakkan kulit kepalanya saja. Cekungan mata kian kentara bahkan kini untuk bicara saja sudah mulai kesusahan.Satu bulan lalu, kenyataan pahit kembali menghantam mental Salwa. Dokter menemukan adanya pertumbuhan sel kanker yang sudah menyebar di area kerongkongan akibat virus APV yang di sebut kanker orofaring. Sejak itu pula, Salwa kehilangan suaranya.Meski begitu lemah oleh keadaan, semangatnya masih membara dalam dirinya. Ia menjalani hari-harinya dengan ikhlas, tak ada lagi air mata yang keluar dari mat
Sesampainya di rumah sakit, Murni segera memaksa untuk bisa masuk ke dalam ruang ICU menemani Salwa. Setelah mendapat ijin dari dokter Rudi, akhirnya Murni diijinkan masuk dengan mengenakan APD khusus sebelumnya. Sedangkan Tri menemui dokter Rudi untuk meminta penjelasan lebih detailnya."Salwa!" Murni tergugu melihat Salwa terbaring dengan berbagai alat medis menempel pada tubuhnya. Wajahnya kuyu, pucat dan semakin kurus bahkan tulang pipinya nampak menonjol. Matanya menghitam dengan cekungan yang dalam.Murni membelai pipi tirus Salwa dengan air mata membanjiri kedua pipinya."Maafkan Mama, Nak!" lirihnya."Bangun, Nak! Ini Mama datang! Kamu gak sendiri lagi sekarang!" tangisnya kian menjadi kala Salwa tak merespon ucapannya.Sesak dalam dadanya kian menjadi, kala tak ia temukan rambut panjang yang tergerai indah dari kepala sang anak."Ya Allah, kemana rambut indahnya? Kemana senyum cerianya?" batinnya menangis pilu."Kemana Mama, hingga tak menemanimu berjuang melawan sakit, Nak?
Dua tahun kemudian.Tok tok tok"Umi! Umi! Tolong!" teriak seorang wanita paruh baya sembari menggedor pintu rumah utama pondok pesantren Al-Khumairah.KrieetttTak lama pintu terbuka dan muncullah seorang wanita berkaca mata yang dipanggil Umi, oleh seluruh santri di pondok pesantren itu."Ada apa, Bi Jani?" tanyanya pada wanita bernama Jani itu."Mbak Salwa, pingsan lagi Umi!" jawabnya panik."Astaghfirullah! Yasudah, ayok kita kesana!" Kedua wanita itu lantas berjalan cepat menuju salah satu pondok yang selama ini di tempati Salwa dan Jani.Waktu menunjukkan pukul 2 pagi, dan ini bukan kali pertama Salwa jatuh pingsan."Ya Allah, Bik cepat telepon dokter Ana!" titah Umi Dewinta pada Jani setelah mendapati Salwa yang terbaring di atas kasur.Jani segera meraih ponsel dan menghubungi dokter Ana, dokter yang selama ini merawat Salwa.Dua bulan setelah Salwa masuk ke pesantren, dia dinyatakan mengidap penyakit kanker serviks stadium 3. Dimana penyakit itu sudah mulai menyebabkan usus
"Selamat ya, Pak, Bu, bayinya perempuan. Cantik sekali seperti ibunya." ungkap dokter wanita ber tag name dr. Intan Kusuma Sp.Og itu di luar ruang operasi kepada Wahyu dan juga Hasnah yang menunggui proses persalinan Arini secara secar."Alhamdulillah wa syukurilah!""Alhamdulillah ya Allah!" Pekik Wahyu dan Hasnah serempak. Tanpa terasa bulir bening membasahi kedua pipi Wahyu juga Hasnah.Proses persalinan tanpa boleh didampingi oleh siapapun itu, rupanya menjadi hadiah terindah dalam hidup Arini juga Wahyu, dengan kelahiran anak ke tiga berjenis kelamin perempuan.Proses yang sangat menegangkan, pasalnya usia Arini yang tak lagi muda dan riwayat darah tinggi yang tidak memungkinkan Arini untuk melahirkan secara normal. "Bayinya baru dibersihkan, nanti kalau sudah siap, suster akan memberitahu Bapak untuk mengazaninya." setelahnya dokter Intan kembali masuk ke dalam ruang operasi.Tak lama kemudian seorang suster keluar dan memanggil Wahyu untuk mengazankan putrinya. Wahyu tergugu
Perjalanan panjang yang melelahkan jiwa dan raga, namun ada hasil yang melegakan.Hidup kami mulai berjalan normal kembali. Tak ada rintihan kesakitan suamiku, tak ada lagi kejadian-kejadian di luar akal sehat manusiawiku.Hari ini, tepat satu minggu dari kejadian terakhir di kampung waktu itu. Aku mengadakan pengajian syukur untuk kesembuhan suamiku, sekaligus acara syukuran empat bulanan kehamilan ke tiga yang Allah percayakan padaku.Haru, bahagia, lega dan bersyukur akan nikmat Allah yang begitu luar biasa dalam kehidupanku. Aku mengundang 100 anak yatim piatu dari panti asuhan dan juga mengundang seluruh keluarga besarku dan suamiku.Alhamdulillah semuanya datang menghadiri acara syukuran ini, terkecuali Salwa. Ya, Mbak Murni sudah menceritakan semuanya pada kami.Sejatinya kami, terkhususnya aku sendiri tak ada dendam dalam hati untuknya. Karena memang semua yang terjadi diluar kehendaknya sendiri, tapi dia sudah membuat keputusan yang terbaik dalam hidupnya dan kami harus meng
"Kami selaku perwakilan pemerintahan kelurahan Senyerang, mengucapkan banyak terimakasih untuk Pak Kyai Ahmad dan rombongan. Yang sudah berkenan membebaskan salah satu kampung kami yang selama lima tahun terakhir ini hilang dari pandangan mata manusia kami.Insya Allah, dalam waktu dekat kami akan segera membangun kampung mati yang sejatinya bernama kampung Belah ini. Kami akan segera mengajukan untuk penyaluran aliran listrik dan juga pembangunan jalan penghubung, supaya kampung Belah ini tak lagi terisolir.Kami juga akan mencari data pemilik lahan di kampung ini, siapa tahu mereka berkenan kembali menghidupkan kampung Belah ini."Ujar Pak Kades panjang lebar di hadapan para warga dan perangkat desa lainnya.Kejadian malam tadi menarik perhatian orang nomor satu di kelurahan Senyerang ini, lantas mendatangi lokasi beserta para stafnya.Pak Kyai Ahmad menjelaskan secara detail mengenai apa yang terjadi di kampung mati atau kampung Belah ini.Kepala desa dan jajarannya dibuat terkejut
"Sudah cukup main-mainnya, Garmo!"Pak Haji Nurman berdiri dengan gagahnya di ambang pintu. Mbah Garmo berdesis sembari memegangi dadanya."Jangan ikut campur kau, Nurman!" hardiknya sembari bangkit berdiri."Tentu! Aku tidak akan ikut campur jika kau juga tak mengusik keluargaku!" ucap Pak Haji tenang."Keluargamu? Yang benar saja!" Mbah Garmo tertawa sumbang.Sedangkan di luar rumah, Murni, Tri dan Pak Kyai, tengah membantu Harun yang terkapar tak sadarkan diri."Mahardika Mahendra itu keponakanku! Dan kau berani menyentuhnya!" ucap Pak Haji lagi.Salwa dan Rodiya kompak menoleh ke arah Dika yang masih tak sadarkan diri."Jangan salahkan aku, karena bocah ingusan itu yang masuk lebih dulu!" jawab Mbah Garmo."Apa yang kau cari Garmo?" ucap Pak Kyai yang muncul dari balik tubuh Pak Haji Nurman, diikuti Murni dan Tri yang memapah Harun.Rodiya segera berlari menyongsong tubuh suaminya dan segera membantu Tri membaringkan Harun di tepi lantai sebelah kanan, sedangkan Pak Haji dan Pak K
"Masih jauh lagi kah, Mbok? Sudah hampir maghrib loh ini?" tanya Murni semakin cemas."Masih lumayan, Bu. Kita lewat jalur barat jadi memang agak memutar, karena cuma di jalur itu mobil bisa sampai ke kampung. Itupun hanya sampai di kampung Bunga Jati, harus jalan kaki sekitar 15 menit lagi untuk sampai ke kampung Mak Saroh." jelas mbok Satiyem."Ya Allah, Mas tambah kecepatannya lagi!" perintah Murni pada Tri."Gak bisa, Dek. Lha wong jalannya begini, untung ini gak hujan kalau hujan malah kita gak mungkin bisa lewat." jelas Tri tanpa mengalihkan pandangannya pada jalanan yang ia rasa begitu sulit dilalui."Ya Allah, perasaanku gak enak ini." gumamnya sambil beberapa kali menghubungi nomor Harun namun tak dapat tersambung. Akhirnya ia putuskan untuk mengirim pesan saja.[Pak Harun, kami lewat jalur barat kata mbok Yem, ini belum sampai]Pesan ia kirimkan ke nomor Harun, dan masih belum terbaca oleh Harun."Duh, signal aja susahnya ampun, deh!" gerutunya sembari melihat layar ponsel.
"Salwa! Nak, bangun Salwa!"Randa membopong tubuh Salwa dan segera berjalan menuju pintu hendak keluar. Tapi, lagi mereka terpental ke belakang, tak bisa melewati pintu yang terbuka lebar itu."Arrrggghhhh!!Ber*ngs*k!" umpatnya frustasi. Ia terpaksa kembali merebahkan tubuh kecil Salwa pada meja sebelumnya, memastikan bahwa Salwa masih bernafas."Oh, syukurlah!" gumamnya setelah memastikan Salwa masih bernafas."Oh, Tuhan! Apa yang harus aku lakukan?" ucapnya dalam hati."Yah, sakit!" rintih Salwa setelah sadarkan diri."Kenapa, Nak? Mana yang sakit?" tanyanya panik.Salwa mengerang dengan memegang perutnya, ia meringis kesakitan sedangkan keringat dengan cepat membasahi wajahnya."Permisiii!! Assalamualaikum!!"Randa dan Salwa saling bersitatap keheranan. Sayup mereka mendengar suara orang di luar sana."Permisiiii!!!" "Ayah dengar suara itu?" tanya Salwa."Iya, Ayah dengar. Siapa itu ya?" gumam Randa. Lantas ia bergerak menuju jendela dan melongokkan kepalanya keluar, tapi tetap