Share

Bab 17

last update Last Updated: 2025-01-10 23:20:34

Malam itu terasa lebih dingin daripada biasanya. Rainer memandang langit, yang seolah ikut berduka dengan apa yang akan mereka hadapi. Udara di sekitar kota terasa berat, seperti menahan napas, menunggu sesuatu yang besar akan terjadi. Tidak hanya para penjaga yang mengawasi gerak-gerik mereka, tetapi Rainer merasa, dunia itu sendiri memandangi mereka dengan cara yang berbeda. Mereka—ia dan Elyse—tengah berada di jalur yang sempit, di mana setiap langkah bisa menjadi langkah terakhir.

Rainer berdiri di luar gerbang benteng penjaga, mata tajamnya menelusuri benteng yang kokoh dan tidak mudah ditembus. Saat ia berbalik, ia melihat Elyse berdiri di sampingnya, menggenggam pedang kecilnya dengan tangan yang terlihat tegang, meski ada tekad di balik matanya.

“Rainer…” Elyse memulai, suaranya rendah, namun jelas, “Kita tahu risiko ini. Tetapi kita harus yakin dengan langkah kita. Kita telah datang sejauh ini.”

Rainer menatapnya. Di wajah Elyse, ada keyakinan yang hampir bisa menyamai milikn
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 18

    Rainer dan Elyse berdiri dalam keheningan yang menekan, memandang Valen yang kini tampak lebih seperti musuh daripada sekutu. Setiap kata yang terucap dari mulutnya seperti batu tajam yang menggores dalam hati mereka, mengingatkan betapa dalamnya pengkhianatan ini. Rainer merasakan darahnya berdesir, ada perasaan hampa yang mengalir ke dalam tubuhnya. Ini bukanlah hanya soal kalah dalam perang atau konflik fisik, ini tentang kehilangan segala yang pernah ia percayai.Elyse, yang selalu berdiri di sisinya, kini memandang Valen dengan tatapan tajam. Mata gadis itu menyala dengan api kemarahan yang tak terbendung. “Jadi, kita hanya permainanmu, Valen?” suara Elyse penuh rasa tidak percaya. “Semua yang kita lakukan, semua pengorbanan ini... untuk siapa?”Valen tetap tersenyum dingin, seolah ia menikmati setiap momen kegelisahan yang tercipta. “Tidak ada yang salah dengan menjadi alat, Elyse. Semua orang di dunia ini pada akhirnya hanya alat. Kami hanya lebih bijak dalam menggunakan posisi

    Last Updated : 2025-01-11
  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 19

    Rainer berdiri di depan jendela ruang tamu yang sederhana, matanya menyapu pemandangan kerajaan yang tampak megah, meski di baliknya tersembunyi tumpukan masalah. Meskipun dunia ini penuh dengan sihir dan keajaiban, kenyataan yang dihadapi olehnya terasa jauh lebih gelap. Sihir mungkin bisa mengubah bentuk realitas, tetapi tidak bisa menghapuskan ketidakadilan yang mengakar. Di dunia ini, kecerdasan dan strategi adalah senjata yang paling berharga, tetapi juga yang paling berbahaya. Bahkan seorang jenius sepertinya harus memikirkan seribu langkah ke depan hanya untuk bertahan hidup.Elyse, yang berdiri di dekat pintu, menatap Rainer dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia merasa khawatir tentang perjalanan mereka yang semakin berat. Namun, di sisi lain, ia juga merasa semangat yang tumbuh seiring dengan semakin jelasnya tujuan mereka. Dunia ini mungkin terbagi dalam kasta dan kekuasaan yang menindas, tetapi tidak ada yang bisa menghentikan dua orang yang bertekad untuk membuat p

    Last Updated : 2025-01-11
  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 20

    Rainer dan Elyse tiba di kota yang tersembunyi di balik tembok-tembok tinggi yang menghalangi pandangan dari luar. Kota ini tidak terlihat seperti pusat kekuasaan kerajaan, tetapi justru berada di luar radar para bangsawan. Di sinilah kelompok pembangkang yang disebut “Kelompok Bayangan” beroperasi. Mereka bukan hanya seorang pemberontak biasa. Mereka adalah orang-orang yang terdesak, yang telah lama berjuang di bawah bayang-bayang sistem kasta yang menindas, berjuang untuk bertahan hidup di tengah kemiskinan dan ketidakadilan.Namun, meski mereka memiliki tujuan yang sama dengan Rainer—mengubah sistem yang ada—Rainer tahu bahwa meyakinkan mereka untuk bergabung dalam perjuangan mereka akan lebih sulit dari yang dia bayangkan. Ini bukan hanya soal kesamaan tujuan, tapi juga tentang membangun kepercayaan di antara mereka, sebuah hal yang sangat langka di dunia ini.“Mereka tidak akan mudah percaya padaku,” Rainer bergumam saat mereka melangkah masuk ke jalan sempit yang dihiasi dengan

    Last Updated : 2025-01-11
  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 21

    Malam semakin larut ketika Rainer dan Elyse menyusun strategi di kamar kecil tempat mereka menginap. Peta lusuh yang mereka dapatkan dari pemimpin Kelompok Bayangan terbentang di meja kayu sederhana. Garis-garis tinta memetakan wilayah kekuasaan para bangsawan, benteng-benteng utama mereka, dan jalur perdagangan yang menjadi nadi kekayaan kerajaan.Rainer menghela napas panjang. Ia menelusuri peta dengan jarinya, berhenti pada simbol kecil yang menandai salah satu pos perdagangan di perbatasan timur. "Ini titik awal kita," katanya pelan, namun dengan nada penuh keyakinan.Elyse mendekat, matanya mengamati peta dengan cermat. "Kenapa di sini? Bukankah wilayah ini jauh dari pusat kekuasaan?""Itulah intinya," jawab Rainer. "Mereka tidak akan mengira kita akan mulai dari tempat yang begitu terpencil. Pos perdagangan ini kecil, tetapi cukup penting untuk mendukung perekonomian bangsawan di wilayah timur. Jika kita berhasil mengganggu jalur ini, kita bisa menciptakan celah dalam sistem mer

    Last Updated : 2025-01-12
  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 22

    Malam itu, Rainer berdiri di depan peta besar yang terpampang di dinding markas Kelompok Bayangan. Sorot mata pria muda itu penuh dengan tekad. Cahaya lilin yang redup memantulkan bayangannya di dinding, menciptakan aura kepemimpinan yang memukau. Elyse duduk di kursi kayu di belakangnya, mengamati dengan seksama setiap gerakan Rainer."Kita berhasil memutus salah satu simpul ekonomi mereka," Rainer memulai, suaranya rendah tetapi jelas. "Namun, ini hanya langkah pertama. Mereka akan segera membalas. Bangsawan tidak akan tinggal diam saat sistem mereka terganggu."Elyse mengangguk pelan, namun ada sedikit keraguan di wajahnya. "Rainer, aku setuju kita perlu bergerak cepat. Tapi bagaimana kita bisa menghadapi serangan balik mereka? Jumlah kita terlalu kecil."Rainer berbalik, menatap Elyse dengan mata tajam. "Itulah mengapa kita perlu memperluas jaringan kita. Perlawanan ini tidak bisa hanya bergantung pada satu kelompok. Kita harus menggerakkan rakyat—orang-orang yang selama ini terab

    Last Updated : 2025-01-12
  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 23

    Rainer berdiri di aula utama markas Kelompok Bayangan, memandangi para pemimpin pemberontak yang telah bergabung dalam aliansi. Di depan mereka, peta besar dunia terbentang di atas meja kayu tua. Simbol-simbol yang mewakili kekuatan mereka tersebar, sebagian besar kecil dibandingkan simbol-simbol besar yang melambangkan kekuatan para bangsawan.“Kita memiliki sumber daya yang terbatas,” kata Rainer, menunjuk ke bagian peta yang menampilkan wilayah-wilayah aliansi mereka. “Tetapi, kita memiliki sesuatu yang mereka tidak miliki: solidaritas dan semangat untuk perubahan.”Elyse, yang berdiri di sisi Rainer, memandang para pemimpin dengan sorot mata penuh keyakinan. Ia tahu bahwa momen ini adalah titik balik dalam perjuangan mereka. “Ini bukan hanya tentang kekuatan militer,” tambahnya. “Ini tentang memenangkan hati dan pikiran rakyat. Jika kita bisa menggerakkan mereka, maka kita akan menjadi kekuatan yang tak terhentikan.”Garret, pemimpin kelompok utara yang sebelumnya skeptis terhadap

    Last Updated : 2025-01-12
  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 24

    Tiga hari telah berlalu sejak serangan ke desa kecil itu. Kabar kehancurannya membawa gelombang kemarahan di antara anggota aliansi. Desa itu, meskipun kecil, telah menjadi simbol harapan bagi rakyat yang mulai bergabung dalam perjuangan. Kehancurannya bukan hanya pukulan fisik, tetapi juga ancaman terhadap moral mereka.Di aula markas utama, suasana terasa tegang. Para pemimpin aliansi duduk mengelilingi meja besar dengan ekspresi serius. Rainer berdiri di tengah, memandang wajah-wajah mereka satu per satu.“Kita tidak bisa membiarkan tindakan ini tidak terbalas,” kata Garret, suaranya penuh emosi. “Jika kita tidak merespons, mereka akan terus menyerang desa-desa lain. Rakyat akan kehilangan kepercayaan pada kita.”“Tapi jika kita melawan sekarang, tanpa perencanaan matang, kita akan kehilangan lebih banyak,” bantah Eldrin. “Pasukan mereka lebih besar dan lebih terorganisir.”Rainer mengangkat tangannya, meminta semua orang untuk tenang. “Kalian berdua benar. Kita harus merespons, te

    Last Updated : 2025-01-12
  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 25

    Setelah keberhasilan menyelamatkan para tahanan, aliansi Rainer menjadi pusat perhatian. Bukan hanya bagi rakyat yang tertindas, tetapi juga para bangsawan yang mulai menyadari ancaman nyata dari kelompok pemberontak yang semakin terorganisasi. Namun, di tengah sorakan kemenangan, Rainer memahami bahwa keberhasilan kecil ini hanyalah awal dari badai yang lebih besar.Di ruang rapat markas, Elyse memandang peta besar yang tergantung di dinding, menunjuk wilayah yang dikuasai oleh Duke Valen. “Serangan kita telah membuat mereka marah. Mereka tidak akan tinggal diam.”Rainer berdiri di sampingnya, tangan terlipat di dada. “Tentu saja. Tapi itulah yang kita butuhkan.”Elyse mengangkat alis. “Kita butuh mereka marah?”“Benar,” jawab Rainer, matanya tajam. “Kemarahannya membuat mereka ceroboh. Kita bisa memanfaatkan itu.”Garret, yang baru saja memasuki ruangan, menyela. “Rainer, kau berbicara seolah-olah kita memiliki sumber daya tak terbatas. Pasukan kita masih kecil, dan banyak dari mere

    Last Updated : 2025-01-12

Latest chapter

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 161

    Rainer duduk di dalam ruang taktiknya, menatap peta yang terhampar di atas meja. Peristiwa yang baru saja terjadi dengan Tangan Hitam adalah bukti bahwa informasi adalah senjata paling ampuh di dunia ini. Namun, ia tahu bahwa ancaman tidak berhenti di sana.“Kita sudah menghancurkan mereka dari dalam,” kata Marcus, berdiri di seberang meja dengan tangan terlipat. “Tapi ini tidak akan berakhir di sini. Pihak yang lebih besar pasti sudah memperhatikan pergerakan kita.”Elyse mengangguk, ekspresi wajahnya penuh kecemasan. “Kerajaan pasti menyadari bahwa kita semakin kuat. Mereka tidak akan diam saja.”Rainer tersenyum kecil. “Itulah yang aku harapkan.”Ia mengambil bidak catur kayu di meja dan menggerakkannya. “Setiap kemenangan kecil akan mendorong lawan kita untuk bertindak. Dan ketika mereka bertindak, kita bisa membaca pola mereka.”Marcus mengerutkan kening. “Kau ingin mereka bergerak lebih cepat?”Rainer mengangguk. “Ya. Aku ingin melihat

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 160

    Angin malam berembus kencang di atas benteng barat, membawa hawa peperangan yang semakin dekat. Dari kejauhan, cahaya obor berkedip-kedip di sepanjang dataran selatan, menandakan bahwa pasukan Lionel Drakos telah mulai bergerak.Rainer berdiri di atas menara pengawas, matanya tajam mengamati pergerakan musuh. Elyse berdiri di sampingnya, ekspresinya tegang."Kita tidak bisa menunggu lebih lama," katanya. "Jika mereka sampai ke desa-desa di perbatasan, kita akan kehilangan banyak pendukung."Rainer mengangguk, lalu berbalik ke arah Marcus dan para penasihat militernya yang sudah berkumpul di bawah menara."Kita akan melancarkan serangan sebelum mereka siap," Rainer berkata dengan suara mantap. "Tapi kita tidak akan bertindak seperti biasa. Kita akan membuat mereka berpikir bahwa kita lebih lemah dari yang sebenarnya."Marcus mengangkat alisnya. "Kau ingin menjebak mereka?"Rainer tersenyum tipis. "Bukan hanya menjebak. Aku ingin mereka percay

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 159

    Langit masih gelap ketika suara derap langkah tergesa-gesa menggema di lorong-lorong benteng. Salah satu mata-mata yang ditugaskan Rainer untuk menyusup ke ibu kota Vildoria baru saja kembali, napasnya tersengal seolah ia telah berlari sepanjang malam.Rainer menunggu di ruang taktik, tangannya terlipat di depan dada, sementara Elyse dan Marcus berdiri di sampingnya."Ada berita?" tanya Rainer tanpa basa-basi.Mata-mata itu mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah gulungan perkamen yang tampak lusuh dan berdebu."Ada pergerakan di dalam ibu kota Vildoria, tapi bukan hanya dari pihak kerajaan," lapor mata-mata itu. "Kelompok yang disebut 'Tangan Hitam' mulai bergerak, dan mereka bukan sekadar bayangan.""Tangan Hitam?" Elyse mengulang nama itu dengan alis berkerut.Rainer mengambil perkamen itu, membuka isinya, dan membaca dengan saksama."Mereka adalah kelompok yang bergerak di belakang layar," jelas mata-mata itu. "Mereka bukan bagian da

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 158

    Malam di benteng utama terasa lebih hening dari biasanya. Meskipun pasukan Rainer telah meraih kemenangan besar melawan pasukan Vildoria, ia tahu bahwa kemenangan ini bukanlah akhir. Vildoria bukan satu-satunya ancaman yang harus ia hadapi.Di dalam ruang strateginya, Rainer menatap peta yang terbentang di atas meja. Di sekelilingnya, Elyse, Marcus, dan beberapa komandan utama berdiri menunggu arahannya."Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Marcus, matanya menatap Rainer dengan penuh harapan."Kita tidak bisa hanya bertahan," jawab Rainer. "Jika kita hanya menunggu serangan selanjutnya, cepat atau lambat mereka akan menemukan cara untuk menjatuhkan kita. Kita harus bergerak lebih dulu."Elyse mengangguk. "Kau ingin menyerang mereka langsung?""Bukan serangan langsung," kata Rainer sambil menggeser bidak-bidak di peta. "Kita akan melemahkan mereka dari dalam."Para komandan saling berpandangan, mencoba memahami maksud Rainer.

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 157

    Malam setelah kemenangan di perbatasan barat, Rainer berdiri di dalam tendanya, menatap peta yang dipenuhi tanda-tanda strategis. Di satu sisi, ia merasa puas karena berhasil mengalahkan Lionel Drakos tanpa kehilangan terlalu banyak pasukan. Namun, jauh di dalam benaknya, ia tahu bahwa perang ini belum berakhir.Elyse masuk ke dalam tenda, membawa segulung laporan terbaru. "Kabar dari utara," katanya dengan suara tegang. "Gerakan militer mulai terlihat di perbatasan kerajaan Vildoria."Rainer mengangkat alisnya. "Vildoria akhirnya bergerak?""Sepertinya begitu," jawab Elyse. "Mereka mungkin melihat kelemahan kita setelah perang ini dan berpikir bahwa ini saat yang tepat untuk menyerang."Marcus, yang baru saja memasuki tenda, mendengus. "Mereka salah besar. Justru setelah kemenangan ini, moral pasukan kita sedang berada di puncaknya. Jika mereka berpikir kita lemah, mereka akan menyesalinya."Rainer berpikir sejenak. "Kita harus mengonfirmasi niat

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 160

    Malam masih gelap saat beberapa bayangan bergerak cepat di gang-gang ibu kota Vildoria. Lima sosok berpakaian gelap, masing-masing dengan simbol kecil berbentuk mata di pergelangan tangan mereka, menyelinap melalui lorong-lorong sempit menuju sebuah gudang tua yang tersembunyi di antara bangunan usang.Di dalam, beberapa pria dan wanita bertopeng sudah berkumpul di sekitar meja panjang, peta dan dokumen tersebar di atasnya. Mereka adalah anggota Tangan Hitam—organisasi rahasia yang beroperasi di balik layar, mengendalikan informasi dan kekuatan dengan cara yang hanya mereka yang berkepentingan bisa pahami.Seorang pria bertopeng duduk di tengah, jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme yang lambat. "Rainer mulai bergerak," katanya dengan suara tenang namun tajam.Salah satu anggota lain mengangguk. "Ya, dan dia sudah mengetahui keberadaan kita. Tidak lama lagi dia akan mencari cara untuk menghancurkan kita dari dalam."Pria bertopeng itu menghela napas. "Maka kita harus bergerak lebih

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 155

    Malam berhembus dingin saat Rainer berdiri di atas menara pengawas, menatap ke arah selatan. Dalam kegelapan, titik-titik api kecil terlihat di kejauhan—kemah pasukan yang mulai berkumpul di wilayah perbatasan. Jika laporan itu benar, seseorang dari keturunan keluarga kerajaan lama sedang membangun kekuatan di sana.Elyse melangkah mendekat, mantel tebal melilit tubuhnya. "Kau tampak gelisah."Rainer tersenyum tipis. "Gelisah bukan kata yang tepat. Lebih ke... mengantisipasi."Elyse bersandar di pagar batu. "Jika benar ada keturunan kerajaan lama yang tersisa, itu bisa menjadi masalah besar. Rakyat yang masih setia pada monarki pasti akan berkumpul di bawah panji mereka.""Dan itulah yang membuat ini menarik," Rainer menjawab. "Orang-orang selalu mencari simbol. Jika seseorang bisa meyakinkan mereka bahwa kerajaan lama bisa bangkit kembali, maka kita akan menghadapi perang yang lebih besar dari sebelumnya."Marcus datang membawa sebotol anggur, wajahnya tetap santai meskipun situasi s

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 154

    Langit di atas wilayah barat masih dipenuhi asap, sisa dari pertempuran yang baru saja berakhir. Kastil milik Count Reinhardt kini berdiri dalam kehancuran, simbol kejatuhan para bangsawan yang menolak tunduk pada perubahan.Di dalam ruang pertemuan yang dulu penuh dengan kemewahan, kini hanya ada aroma debu dan darah. Rainer berdiri di tengah ruangan, menatap peta besar yang terbentang di atas meja. Wilayah barat telah mereka taklukkan, tetapi peperangan belum selesai.Elyse masuk ke ruangan, wajahnya tenang namun penuh ketegasan. “Beberapa pasukan kita masih sibuk mengamankan desa-desa sekitar. Sebagian besar rakyat di sini tidak berani melawan, tetapi ada kelompok kecil yang masih setia pada Reinhardt.”Rainer mengangguk. “Itu sudah kuduga. Reinhardt mungkin sudah tiada, tapi jejaknya masih ada dalam pikiran orang-orang yang dulu hidup di bawah perlindungannya.”Marcus, yang duduk di sudut ruangan dengan cangkir anggur di tangannya, mendengus. “Orang-orang bodoh. Mereka tidak sadar

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 153

    Rainer berdiri di puncak menara istana, menatap ke kejauhan. Kota yang dulunya diperintah dengan tangan besi oleh Duke Alistair kini dalam transisi menuju era baru. Cahaya fajar mulai menyinari bangunan-bangunan yang masih dipenuhi bekas pertempuran. Jalanan yang tadinya berlumuran darah perlahan dibersihkan, meski bau asap dan kematian masih terasa.Di bawahnya, rakyat berkumpul di alun-alun utama, menunggu pengumuman berikutnya.Elyse melangkah mendekat. “Mereka menunggu pidatomu.”Rainer mengangguk, tetapi matanya tetap tertuju ke kejauhan. “Perjuangan ini belum berakhir. Kota ini masih bisa jatuh ke dalam kekacauan jika kita tidak segera bertindak.”Elyse menatapnya dengan penuh perhatian. “Aku tahu. Tapi untuk saat ini, kita telah memberi mereka harapan.”Rainer akhirnya mengalihkan pandangannya ke Elyse. Dalam beberapa bulan terakhir, gadis itu telah menjadi orang yang paling ia percaya. Dengan kecerdasan dan tekadnya, Elyse selalu menjadi suara rasional yang menyeimbangkan pemi

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status