POV Bian "Shaynala Azkayra, aku ceraikan kamu dengan talak satu. Mulai hari ini, kamu bukan istriku lagi." Ragaku rasanya seperti tercabut dalam badan, aku merasa hampa setelah mengucapkan ikrar talak itu. Ini sangat berbeda jauh saat aku bercerai dengan Ivanka. Bahkan aku merasa lega melepaskan wanita itu. Nala, wanita di depanku yang sekarang sudah menjadi mantan istriku tampak biasa saja. Apa dia memang begitu menginginkan perpisahan ini. Ya tentu saja, sejak dulu dia ingin. Sejak pertama kali diminta hamil lagi, dia mengajukan syarat itu. Pasti sekarang dia bahagia karena sudah terlepas dariku, pria kejam tak berperasaan. Padahal itu dulu, selama ini aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk perhatian dan menyayanginya. Bodoh sekali kamu, Bi. Kenapa kau lepaskan dia. Bukankah harusnya kamu berjuang untuk meyakinkan Nala. Tidak, Nala bahagia jika berpisah denganku. Mencintai tak harus memiliki. Jika aku memang mencintai Nala, maka harus rela melepasnya asal dia bahagia. Seperti
"Mommy, Cenna kangen!" Putraku berseru sambil berlarian ke arah Ivanka yang tengah bersantai di ruang tamu. Sengaja kubawa pulang Cenna setelah begitu lama dia tinggal di rumah Mama, berharap memperbaiki hubungan dengan Ivanka. Aku tak berharap hubungan kami masih seperti dulu, mungkin hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas. Aku akan membiarkan dia berbuat sesuka hatinya, tapi tidak akan bercerai dengannya. Cenna yang menganggapnya sebagai wanita yang sudah melahirkannya tentu saja menjadi salah satu alasan. Meskipun tidak terlalu dekat, tapi Cenna begitu sayang pada Ivanka. Bocah itu selalu mengatakan, "Aku akan menjaga dan menyayangi Mommy seperti yang Daddy lakukan." Aku memang selalu menunjukkan kemesraan dan perhatian pada istriku itu meskipun di depan putraku. Bocah itu melihat kami sebagai pasangan yang harmonis dan bahagia. "Jangan dekati aku, aku bukan mommymu," seru Ivanka dengan tangan terulur di depan dadanya. Bocah itu langsung berhenti di depan Ivanka. Di
"Ayo Cenna sekolah dulu, diantar sama supir," ucap Mama, memotong pembicaraan kami. Aku bahkan tak tahu lagi mau berkata apa pada Cenna. Aku tak mau memberinya banyak harapan lagi, khawatir dia semakin kecewa. Kupikir bocah itu tak akan pernah mengalami bagaimana rasanya kehilangan saat kedua orang tuanya berpisah. Namun ternyata, Cenna harus mengalami hal ini juga. "Cenna sekolah dulu ya, Sayang. Banyak teman kan di sana," bujukku. Harusnya tahun depan dia mulai sekolah, tapi karena merasa sudah sehat bocah itu begitu menginginkan untuk mengikuti kegiatan prasekolah. "Ayo," ajak Mama lagi.Cenna menganggukkan kepala, lalu mengikuti omanya dengan kepala tertunduk dan wajah tertekuk. Aku hanya bisa menghela nafas melihat Cenna seperti itu. Setelah kepergian Cenna, aku kembali ke kamar, membersihkan diri dan berganti pakaian. Hari ini aku tak berniat pergi bekerja. Harusnya memang aku bekerja dari rumah karena masih di rumah Nala, jadwalnya begitu. Tapi kenyataannya aku sudah kemb
Aku segera pergi ke rumah Nala seperti yang diminta Mama. Kalaupun tidak rujuk, setidaknya kubawa saja dia ke rumah. Pertama-tama kubawa dia ke rumah dengan alasan Cenna, lalu berikutnya tinggal meyakinkan dia untuk mau menikah lagi denganku. Gampang, semua terlihat begitu mudah saat aku bayangkan. Aku hanya bisa terus berharap di sepanjang jalan, agar Nala belum pergi dari rumahnya. Harusnya belum, Hafizah masih bayi, apa iya dia kan langsung pergi begitu saja.Pagi-pagi sekali aku sudah berada di depan pintu gerbang rumah Nala. Semalam, aku tidak langsung ke rumahnya saat sampai karena hari sudah beranjak malam. Kami bukan lagi pasangan suami istri jadi kuputuskan untuk menginap di hotel saja. Aku memencet bel yang tersedia di pintu gerbang rumah Nala berulang kali. Entah kenapa setelah tak jadi suaminya, aku juga tak ingin masuk rumah yang begitu saja seperti biasanya. Beberapa saat menunggu akhirnya pintu terbuka. Terlihat seorang wanita keluar dari rumah Nala. Tapi dia bukan Bi
"Saya pulang," ucapku berpamitan.Tak ingin tahu lebih banyak lagi tentang Saga dan Nala, jika aku terus berada di sini berbincang dengan pria ini. Aku yakin mereka berdua memang bisa menjaga diri, hanya saja membayangkan mereka saling memendam perasaan membuatku sakit hati."Tunggu dulu, Pak. Bapak baru saja datang," cegah Saga. "Tidak apa-apa, bagaimana saya bisa bersantai di sini sedangkan istri dan anak entah berada di mana. Saya harus segera menemukan mereka."Aku tak peduli dengan perkataan Saga dan memilih untuk berdiri dari Sofa. Namun, tiba-tiba aku merasa kepalaku berputar, mataku berkunang-kunang. Apa karena aku melewatkan makan siang, bahkan tadi pagi aku hanya makan buah-buahan di restoran hotel. Aku memegangi kepala sambil bersandar kembali ke sofa. "Bapak tidak apa-apa?" tanya Saga."Tidak, saya hanya pusing. Nanti juga sembuh saat di jalan.""Tunggu, biar saya antar."Aku langsung menatap Saga dengan pandangan penuh tanya. "Kamu mau mengantar saya pulang, padahal jar
POV NalaWaktu berlalu dengan sangat cepat, seakan tidak ingin menyisakan banyak kenangan. Memang, tak ada kenangan indah maupun sedih selama satu setengah tahun yang aku lalui, tanpa Saga, tanpa Bian. Hidupku datar, hanya ada aku dan Hafizah. Tapi aku merasa tenang menjalani semua ini. Kadang kala, aku mengingat Bian dan Cenna. Penasaran dengan keadaan mereka. Tapi saat membayangkan mereka sudah bahagia dengan Mbak Ivanka, membuatku segera berusaha melupakan dua orang itu. Biarlah mereka bahagia dengan keluarganya, dan aku bahagia dengan Hafizah.Tak terasa, usia Hafizah sudah menginjak dua tahun. Dia sudah pandai berbicara, banyak kosa kata yang bisa dia ucapkan. Kata Ibu adalah kata pertama yang dia bisa. "Bu." Aku terharu saat pertama kali dia mengatakan kata itu. Hanya saja, dia tak mengenal kosa kata pasangannya. Ayah, papa, atau semisalnya. Hingga usianya menginjak dua tahun, Hafizah tak mengenal sosok ayahnya. Dia hanya tahu ada wanita yang selalu bersama dan menyayanginya,
"Hai Boy, ngapain ke toko bunga?" tanya Pak Ardi pada Cenna Cenna menatap pada Pak Ardi lalu padaku. "Om sendiri ngapain ke sini?" Cenna balik bertanya. "Cari bunga, tentu saja," jawab Pak Ardi.Cenna lantas menatap padaku. "Cenna mau cari sesuatu," balasnya, sembari berlalu dari hadapan kami. Bocah itu terlihat mengelilingi ruangan seakan mencari sesuatu. "Pak Ardi kenal dia?" tanyaku. "Kenal, daddynya satu kampus denganku dulu saat kuliah. Perusahaan kami ada kerja sama, kebetulan hari ini ada rapat jadi dia datang ke sini," terang Pak Ardi panjang lebar. "Oh." Aku membalas singkat perkataannya. Pandanganku kembali teralihkan ke arah Cenna yang terus mengelilingi toko bungaku yang memang cukup luas. Bocah itu berhenti di depan meja kasir seakan mencari sesuatu. "Cari apa, Nak?" tanyaku sambil berjalan mendekat padanya. Kutinggalkan Pak Ardi yang masih sibuk memilih bunga. Dan mendekat pada Cenna yang sedang sibuk mencari sesuatu."Bisa ketemu dengan pemilik toko bunga ini?"
"Maaf, Nyonya, sepertinya anda salah." Aku berkata lirih sambil mengurai pelukannya. "Kok Nyonya, sih. Tante, atau mama juga boleh," tegas wanita itu, mengoreksi panggilanku. "Iya, Tante salah. Saya hanya tukang bunga, tadi ke sini mau mengantarkan bunga ini." Aku berkata sembari memberikan bunga padanya. "Ah, jangan merendah begitu. Hanya tukang bunga tapi lihat ini auranya." Beliau menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Ayolah, Mam. Jangan bikin Shaynala tidak nyaman," sela Pak Ardi."Benar kan, Bi. Lihat ini, wanita yang mempesona. Tertutup dan terjaga, siapa yang gak mau punya mantu dan istri seperti ini." Mama Pak Ardi berbicara pada Bian. "Ah, iya Tante," balas Bian, tergagap. Pandangan matanya masih menatap tajam padaku tadi, langsung berubah saat menjawab pertanyaan mama Pak Ardi "Maaf, Tante. Tapi saya sudah punya anak. Bagaimana jadi calon istrinya Pak Ardi, Tante benar-benar salah orang."Mendengar perkataanku barusan, wanita itu seperti terkejut dan tak ber
Ekstra Part 2 "Terima kasih udah menjagaku selama ini, Ga," ucapku pada Saga yang sedang duduk di sampingku.Kali ini aku ingin berterima kasih padanya dengan benar. Dulu saat dia pergi ada banyak hal yang terjadi, hingga aku tak benar-benar bisa mengucapkan terima kasih padanya. Maka kali ini saat semua sudah berada pada tempatnya, dan semua sudah mendapat kebahagiaan masing-masing, aku ingin mengucapkan terima kasih tanpa terbebani perasaan apapun. Saat ini aku dan Saga tengah berada di kolam ikan, tempat dulu di mana kami juga menghabiskan waktu sambil berbincang saat pertama kali di yayasan ini. Saat itu kami sedang merajut mimpi, akan saling menjaga dan tinggal di tempat ini bersama. Tapi takdir berkata lain, Saga tetap berada di sini dan menikah dengan pemilik yayasan, sedangkan aku tetap bersama dengan Bian. Bian sedang menemani anak-anak berkeliling dan bermain di tempat ini. Sejak pertama kali datang tadi pagi, mereka sudah sangat senang dengan tempat ini. Baik Hafizah mau
"Kamu bilang Saga sudah menikahkan, jangan curiga padaku. Aku ke sana hanya ingin mengucapkan terima kasih dengan benar padanya. Juga mengenalkan anak-anak pada orang-orang yang tak seberuntung mereka. Aku ingin Cenna dan Hafizah memiliki rasa peduli pada orang yang lebih membutuhkan," tuturku panjang lebar."Kapan mau ke sana?" tanya Bian. Aku tak menyangka dia akan dengan mudah mengiyakan setelah kukatakan alasannya. "Weekend minggu ini gimana?" tanyaku mau minta pendapat. "Boleh. Oke persiapkan semuanya."***Kami sampai di hotel tepat saat adzan ashar berkumandang. Bian sengaja memesan hotel lalu akan menginap di hotel terlebih dahulu, sebelum esok paginya kami pergi ke tempat Saga. Bian mengatakan tak ingin merepotkan orang-orang di sana, sehingga dia mengatakan lebih baik menginap di hotel lalu pagi harinya ke yayasan dan sore harinya kembali ke hotel lagi. Kami memesan kamar dengan sistem connecting door di mana anak-anak tidur berdua sedangkan aku dan dia akan tidur bersam
Aku terbangun dengan tubuh yang sudah cukup segar dan mata tak lagi mengantuk. Tadi setelah salat subuh, aku tertidur kembali tanpa membangunkan Bian. Sekarang, kulihat disampingku tak ada lagi pria itu, mungkin dia sudah terbangun. Aku melihat keluar jendela yang masih tertutup oleh tirai, sepertinya matahari sudah tinggi kenapa Bian tidak membangunkanku. Semalam kami berbagi peluh, lalu berbincang, kemudian mengulanginya lagi hingga tak terasa waktu sudah beranjak dini hari, dan kami baru tertidur. "Ya Allah, gimana anak-anakku." Aku berseru, seraya bergegas beranjak dari tempat tidur.Sejak acara pernikahan dilanjutkan dengan pesta semalam, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan Mama. Bahkan semalam Mama yang menidurkan mereka, sekarang tentu saja aku mengkhawatirkan kedua anakku, terutama Hafizah "Sudah bangun?" tanya Bian yang baru saja masuk ke dalam kamar. Pria itu membawa nampan berisi makanan. "Ayo sarapan dulu." Bian berkata sambil mengangkat nampan sedikit tin
"Na, tau gak? Kamu itu ditipu sama Bian." Tanpa menyapa terlebih dahulu, Pak Ardi duduk di kursi yang ada di meja kami dan langsung mengatakan hal itu. "Dia udah tahu," timpal Bian."Udah tahu gimana?" tanya Pak Ardi sambil menatap Bian. "Udah tahu tentang telepon palsu itu. Pokoknya dia udah tahu semuanya. Kamu udah kalah, udah nyerah aja," tutur Bian panjang lebar. Pak Ardi menatap padaku, seakan meminta jawaban. "Bian mengatakan yang sebenarnya, Pak," ucapku. "Kalau Bian bikin susah kamu, bilang saja padaku. Aku siap memboyongmu." Pak Ardi berkata dengan penuh percaya diri. "Itu tidak akan pernah terjadi. Kalau kau harap seperti itu, melajang saja sampai tua," seru Bian tak suka. Kurasa mereka berdua memang sangat dekat, sehingga bisa berbicara sesuka hati seperti ini.***Pesta telah usai, anak-anak sudah terlebih dahulu tidur sebelum pesta selesai. Begitu semua orang pulang dan orang tertidur, suasana rumah juga sepi. Di antara semua penghuni rumah ini, aku dan Bian yang t
Aku mematut diri di cermin, menatap pada diriku yang sudah siap dengan gamis pesta dengan model elegan dan modern berwarna silver. Malam ini adalah malam pesta pernikahanku dengan Bian, harusnya. Setelah tadi siang kami mengadakan acara ijab kabul secara resmi dan hanya di saksikan keluarga dekat saja, maka malam ini adalah pesta untuk memperkenalkan aku dan anak-anak pada rekan kerja Papa dan Bian. Jujur aku gugup dengan semua yang akan terjadi malam ini, apa pandangan mereka semua padaku. Pada anak-anakku, memikirkannya saja membuatku hampir gila. Mungkin beberapa teman dekat Bian sudah ada yang tahu statusku, seperti halnya Pak Ardi. Tapi bagaiman dengan yang lain? Aku segera pergi ke kamar Bian, dia mengatakan agar aku ke sana setelah selesai berganti pakaian dan ber-makeup minimalis. Tadinya Mama akan meminta orang melakukannya, tapi aku menolak. Lebih baik aku melakukannya sendiri saja. Aku mengetuk pintu saat sudah ada di depan kamar Bian. Tak ada jawaban, sepertinya dia ada
"Na, kamu sadar gak apa yang kamu lakukan?" tanya Bian. Kini dia berusaha bertumpu pada kedua tangannya agak tak sepenuhnya menimpaku Ah, ternyata ini kenyataan bukan mimpi. Terlanjur basah, mengaku sajalah. "Sadar," balasku apa adanya. Aku ingin mengurai pelukanku, berniat kembali ke kamarku sendiri. Namun saat aku sudah melepaskan pelukan, Bian malah membalikkan tubuhnya hingga posisiku berada di atasnya. "Mau kemana, katanya kangen," ucap Bian sambil menatap padaku. Mataku yang sejatinya masih mengantuk langsung melebar, seketika hilang rasa kantukku. "Bi, lepas. Aku harus pergi dari sini," kataku, seraya menekan dadanya agar terlepas dari pelukannya. Tapi usahaku sia-sia, pelukannya malah semakin erat. Membuatku menyerah dan merebahkan diri di dadanya."Aku juga rindu, aku semakin sadar sangat membutuhkanmu saat kita berjauhan. Tidurlah saja di sini malam ini. Aku janji tidak akan melakukan apapun padamu. Hanya tidur, benar-benar tidur." "Tapi, Bi ...." Aku kembali berusah
POV Nala Aku menunggu Bian berganti pakaian sambil duduk di sisi ranjang seperti biasanya. Bian berganti pakaian di ruangan khusus yang ada di kamarnya. Nanti dia akan keluar dari sana setelah rapi dan kami akan pergi bersama ke ruang makan untuk sarapan. Sejak tinggal di sini, aku selalu melakukan hal seperti ini. Pura-pura ke kamar Bian, menantinya berganti pakaian, seolah semalam aku tidur bersamanya. Ini kulakukan demi Cenna, aku kucing-kucingan dengan anak itu. Bertingkah seolah aku dan Daddy-nya tidur di kamar yang sama. Kami bertingkah layaknya suami istri pada umumnya. Sesungguhnya ini sangat merepotkan. Namun, demi Cenna akan kulakukan apa saja. Aku dengar bocah itu pernah masuk rumah sakit hanya gara-gara terlalu banyak pikiran. Apalagi kini Cenna semakin dewasa semakin tahu segalanya. Aku benar-benar tak bisa tidur semalaman, setelah mendapat ancaman dari Bian di ruang keluarga. Malam tadi, aku hanya bisa mengangguk dan tak berkata apa-apa. Mungkin dari mulutnya keluar k
POV BianPonselku benar-benar berdering saat tengah berkendara, aku harap itu benar-benar telepon dari Ardi yang namanya sudah kuganti dengan nama Ivanka. Nala mengambil ponsel tersebut, dengan ekor mata, aku bisa melihat jika dia terkejut saat melihat layar ponselku dan aku semakin yakin itu adalah Ardi yang menelepon. "Siapa?" Aku pura-pura bertanya. "Mbak Ivanka," jawab Nala, dia terlihat tak bersemangat menyebut nama itu. "Oh." Pura-pura tak peduli saja, aku sudah bilang pada Ardi untuk menelpon setidaknya dua sampai tiga kali, agar terlihat begitu penting dan butuh. "Ini, kamu gak mau angkat?" tanya Nala."Biarin saja."Panggilan telepon kubiarkan hingga berakhir dengan sendirinya. Dan seperti yang aku minta, ponsel itu kembali berdering."Dia masih menelpon lagi," ucap Nala sambil memperlihatkan layar ponsel padaku "Terima saja, mungkin penting. kamu bisa menepi," sambungnya. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, aku segera menepi. Jangan sampai Ardi tak mau menelpon lagi dan
POV Bian."Mau kemana?" tanyaku, saat melihat Nala terlihat rapi dan keluar dari kamarnya.Aku sendiri juga baru keluar dari kamar, hari ini aku tidak bekerja karena hari Minggu. Aku tak pernah tahu rutinitas Nala di rumah, ini. Dia tak pernah mengatakan apapun padaku. Tentu saja, siapa aku hingga dia harus membuat laporan hendak kemana dan mau apa. "Mau ke toko bunga," jawab Nala. "Toko bunga?" tanyaku memastikan. "Iya."Toko bunga Nala masih berada di tempat yang sama dengan kantor Ardi. Nala bilang lebih baik di sana daripada pindah lagi, karena kalau pindah seperti memulai dari awal, mencari pelanggan baru begitu katanya. Mendengar kata toko bunga aku langsung meraih tangan Nala dan membawanya masuk kembali ke dalam kamarnya. Tidak ada yang boleh tahu kalau aku berdebat dengan wanita ini, terutama Cenna. Dia selalu waspada kalau sedikit saja aku dan Nala berdebat, sepertinya dia masih ingat hari-hari dimana aku banyak menghabiskan waktu berdebat dengan Ivanka hingga akhirnya k