Karena tamu datang mendadak, mereka tidak sempat bersiap lebih awal dan makan siang pun jadi terlambat. Miko sibuk memasak tanpa henti hingga keringat bercucuran di dahinya.Sebelum pukul dua belas, dia akhirnya berhasil menyajikan delapan hidangan untuk menjamu para tamu.Yogi adalah seorang pedagang ikan. Dia biasanya membeli ikan, udang, dan belut dari desa-desa, lalu menjualnya ke kota. Karena sering bepergian, dia cukup berpengalaman dalam berbagai hal.Saat makan siang, dia mengobrol akrab dengan Hansen dan Hisyam, serta minum sampai wajahnya merah padam. Di tengah acara minum, Yogi yang sudah mabuk mulai menunjuk ke arah Miko dan menghela napas."Adikku ini menikah ke Keluarga Setiawan, sama saja dengan masuk ke tungku api. Selain harus urus ibu mertua dan anak, mereka juga ada utang puluhan juta. Mau gimana melanjutkan hidup?"Miko merasa canggung dan berkata pelan, "Kak, Rafa sekarang sudah buka klinik dan bisnisnya lumayan bagus. Sebentar lagi kehidupan kami akan berubah ....
Rafa tersenyum sekilas. Dia mengambil 400 ratus ribu, lalu pergi ke warung desa untuk membeli sebungkus rokok, satu kotak susu, dan dua botol arak putih agar besok bisa dibawa Miko ke rumah orang tuanya.Dia tahu Miko pasti akan berhemat. Selain itu, kalau Miko datang dengan tangan kosong, kemungkinan besar dia akan dimarahi lagi.Keesokan paginya setelah sarapan, Rafa meminjam motor tua milik Hansen, membawa rokok, arak, dan susu, lalu mengantar Miko dan Alice ke Desa Putih.Di pintu masuk desa, Rafa menghentikan motor dan menurunkan barang-barang, lalu berkata, "Kak, aku nggak ikut ke rumah orang tuamu. Nanti jam tiga sore, aku jemput.""Kamu ini terlalu boros!"Miko menatap rokok, arak, dan susu itu sambil menghela napas. "Bahkan menantu baru pun belum tentu bawa seserahan sebanyak ini. Aku cuma anak perempuan yang pulang ke rumah, apa nggak terlalu berlebihan bawa barang sebanyak ini?""Ini untuk menjaga harga diri. Aku nggak mau lihat kamu seperti kakak-kakakku yang lain, sampai d
"Barter nikah?"Rafa tertegun.Menukar adik perempuannya demi mendapatkan istri, dan Alzam malah mengatakannya dengan senang hati? Sikapnya ini benar-benar ... lebih buruk dari binatang!Rafa tidak peduli bagaimana orang lain memandang barter pernikahan ini. Namun baginya, hal itu adalah penghinaan terhadap perempuan!Secara halusnya memang disebut barter pernikahan, tetapi kenyataannya adalah menjual saudaranya sendiri demi meniduri wanita lain. Lalu, apa bedanya kelakuan ini dengan Binatang?Mengingat peristiwa sebelumnya saat Kanaya mencoba bunuh diri, Rafa bertanya, "Bukannya aku dengar adikmu sudah dijodohkan sama pria tua dari kota?""Bukan pria tua, tapi pria pincang. Tapi sudah batal."Alzam menyeringai, "Ayahku sudah ngomong sama Kanaya dan Kanaya juga sudah setuju untuk barter nikah ini. Dengan wajah secantik adikku ini, masa aku nggak bisa dapat istri yang sama cantiknya?"Haeh, Kanaya yang malang ....Rafa menghela napas dalam hati, lalu tersenyum tipis. "Baiklah, kalau beg
Tak lama kemudian, Hansen datang. Dia sendiri pun tidak memahami tindakan Rafa sehingga bertanya dengan alis berkerut, "Rafa, apa kakak iparmu sudah tahu kamu mau jual kerbau?"Rafa berbohong dengan berucap, "Tahu, ini sudah aku diskusikan sama Kak Miko.""Kalau begitu, kalian sepakat dengan harga berapa?" tanya Hansen.Rafa menjelaskan, "Harganya 20 juta. Aku ambil 10 juta saja. Kerbau tua itu bakal jadi milik Paman Rahman.""Ya, benar. Begitulah kesepakatan kami!" timpal Rahman. Dia segera mengangguk-angguk dengan penuh semangat."Harganya 20 juta?" seru Hansen yang akhirnya paham. Rahman ini jelas sedang menipu Rafa.Namun, mereka semua adalah sesama warga desa. Hansen pun tidak bisa langsung mengatakannya. Dia hanya memberi tahu, "Rafa, jual beli kerbau itu urusan besar. Menurutku, lebih baik kamu bicarakan lagi dengan kakak iparmu sebelum mengambil keputusan.""Nggak perlu! Kalau Paman Rahman langsung bayar, aku akan langsung serahkan kerbaunya!" Tekad Rafa sudah bulat. Dia harus
"Belum tidur, Kak Miko!" ucap Rafa. Kemudian, dia segera bangun dan membuka pintu. Miko berdiri di sana dengan mata merah. Jelas sekali, dia baru saja menangis.Rafa menunduk karena merasa bersalah, lalu berujar, "Kak Miko, aku bersalah. Aku nggak seharusnya mengambil keputusan sendiri dan menjual kerbau itu.""Kata Pak Hansen, aku juga rugi dengan harga segitu .... Aku berjanji, mulai sekarang apa pun itu, aku akan selalu berdiskusi denganmu dulu," lanjut Rafa.Miko meraih tangan Rafa, lalu membalas sambil tersenyum, "Dasar bodoh, justru aku yang salah. Rafa, tadi aku terlalu kaget makanya menakutimu.""Setelah kupikirkan lagi, kamu juga ada benarnya. Kita memang nggak punya waktu untuk mengurus kerbau. Apalagi aku tahu, alasan kamu menjual kerbau itu adalah karena kamu peduli padaku. Kamu takut aku akan terbebani oleh utang pada keluargaku," tambah Miko."Kak Miko ...." Mendengar itu, Rafa terharu hingga hidungnya mengerut. Dia benar-benar ingin memeluk kakak iparnya.Miko mengulurka
"Besok, aku baru datang lagi untuk makan. Hihi." Yulan tersenyum sambil melambaikan tangan sebelum naik taksi dan pergi.Rafa menyerahkan uang 6 juta kepada Miko, lalu berucap sambil tersenyum, "Kak Miko, aku sudah menebus kesalahanku. Soal jual kerbau kemarin, kamu jangan marah lagi ya?"Miko tertawa sebelum membalas, "Aku bahkan sudah nggak membahasnya lagi. Kenapa kamu masih kepikiran? Kamu ini seperti wanita saja, cerewet banget!"Rafa ikut tertawa. Dia akhirnya menimpali, "Hahaha! Kak Miko benar. Mulai sekarang, aku harus jadi pria sejati!"Dua hari sudah berlalu sejak rumah kecil selesai dicat. Cuacanya kering, jadi lantai dan dinding di sana sudah benar-benar kering.Rafa dan Miko memindahkan peralatan medis ke sana bersama-sama. Memang sudah ada pintu kecil yang menghubungkan rumah besar dengan rumah kecil sehingga cukup praktis.Di ruangan sisi timur rumah kecil, mereka menaruh satu ranjang single. Sementara itu, rak obat ditempatkan di ruang utama. Supaya tidak ada lalat atau
Pertarungan ini benar-benar terasa tidak adil. Rafa berpikir keras, tetapi tetap tidak mengerti alasan Alzam tiba-tiba mengamuk seperti orang gila.Sementara itu, Alzam masih berjongkok di tanah. Dia menangis sambil berteriak, "Rafa, kamu keterlaluan! Kamu bikin keluargaku celaka!"Rafa makin bingung. Dia pun bertanya, "Apa maksudmu? Gimana caranya aku bikin keluargamu celaka?"Rafa adalah orang yang selalu berbuat baik, bahkan semut pun tidak tega diinjaknya. Setiap hari, dia selalu melakukan perbuatan baik. Di Desa Kenanga, dia bahkan terkenal sebagai orang paling baik. Bagaimana mungkin dia mencelakai keluarga seseorang?Arumi juga tidak paham. Dia pun maju untuk menenangkan Alzam, "Alzam, jangan nangis. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik. Kita semua tetangga, jangan main pukul!"Alzam masih menangis keras. Dia lanjut berseru, "Kerbau keluargaku mati! Ayahku mau gantung diri! Ibuku mau lompat ke sungai! Ini semua gara-gara Rafa! Dialah yang menghancurkan keluargaku!""Kerbau kel
Byuurrr!Tiba-tiba terdengar suara air bercipratan. Alzam dan Vina sama-sama terjatuh ke dalam genangan kotoran ternak.Vina langsung marah besar. Dia tidak peduli dengan tubuhnya yang belepotan kotoran. Sebaliknya, dia langsung mencengkeram Alzam sambil memaki, "Dasar bocah kurang ajar! Kamu mau membunuhku ya!"Alzam berusaha bangkit, tetapi celananya malah tersangkut di tangan Vina. Kakinya yang sudah licin terkena kotoran malah membuatnya terpeleset lagi. Seiring terdengarnya suara, dia jatuh telentang dengan tangan dan kaki mengarah ke atas.Arumi dan yang lainnya yang melihat kejadian itu tidak tahu harus tertawa atau merasa kasihan. Namun karena takut kotoran ternak menempel di tubuh mereka, tidak ada yang berani maju untuk meleraikan.Mereka hanya bisa berdiri di kejauhan sambil berteriak panik, "Tolong! Tolong! Ada orang yang mau mati nih!"Rafa yang sudah berlari agak jauh pun mendengar keributan itu. Dia berhenti dan menoleh ke belakang. Begitu melihat situasi yang konyol itu
Wanita itu mengira Rafa tidak puas, jadi berkata dengan nada menyesal, "Aku tahu kamu mungkin kurang puas, tapi aku cuma bisa kasih segitu. Tapi, aku bisa menambahkan 20 juta sebagai tanda terima kasih karena sudah membantuku tadi.""Nggak, nggak ... aku sangat puas." Rafa berbicara jujur. Dia tersenyum dan meneruskan, "Dalam bisnis, memang harus begitu, harus adil. Soal uang terima kasih, aku nggak bisa terima. Aku bantu bukan karena uang.""Jarang sekali ada orang baik sepertimu." Wanita itu tersenyum. "Baiklah, aku antar kamu ke pasar, biar aku langsung kasih uangnya."Mobil pun melaju menuju pasar obat tradisional."Namaku Karina. Kamu bisa panggil aku Kak Karina." Sambil menyetir, wanita itu bertanya, "Siapa namamu? Dari mana asalmu?""Aku Rafa, dari Desa Kenanga.""Oh, oh ...." Karina mengambil sebuah kartu nama dan tersenyum. "Kalau nanti kamu datang ke kota ini lagi, hubungi saja aku kalau butuh bantuan. Mau jual atau beli obat, aku bisa bantu. Aku jamin kamu bisa jual dengan h
Perampok yang satunya marah besar! Dia mengayunkan kunci inggrisnya ke arah kepala Rafa!"Matilah!" Rafa dengan sigap mengayunkan ranselnya, memukul kunci inggris itu hingga terlempar. Kemudian, dia menyusul dengan satu tendangan tepat ke perut perampok itu!"Aaaarrgh ... ughhh ...." Perampok kedua langsung jatuh berlutut, wajahnya pucat pasi, keringat bercucuran."Berani-beraninya kalian menindas wanita!" Rafa masih dipenuhi amarah. Dia kembali melayangkan tendangan bertubi-tubi, membuat wajah kedua perampok itu penuh luka lebam.Wanita yang memakai rok pendek itu ketakutan. Dia bergegas bangkit dan berteriak cemas, "Dik, cukup! Kalau terus dipukul, mereka bisa mati!"Rafa baru menghentikan aksinya. Dua perampok itu merangkak ke mobil mereka dengan tubuh penuh darah. Dengan sempoyongan, mereka masuk ke mobil, menyalakan mesin, lalu kabur."Fiuh ...." Wanita itu menghela napas lega. Dia merapikan rambut dan pakaiannya, lalu mengangguk ke arah Rafa. "Terima kasih banyak ya.""Sama-sama.
"Ke pemandian ... bisa lihat apa?" Rafa bingung."Lihat apa? Lihat burung! Di pemandian banyak burung, silakan lihat sepuasnya!" sahut pria tua itu dengan ketus."Buset! Begini caramu berdagang?" Rafa murka, menatap tajam pria itu. "Ya sudah! Aku nggak akan pergi ke pemandian hari ini. Aku akan tetap di sini, melihat burung tuamu!"Tiga pegawai wanita di toko itu saling melirik dan menahan tawa. Mereka memberi isyarat agar Rafa segera pergi."Sial, pagi-pagi sudah bertemu iblis. Sial sekali!" Rafa memelototi pria tua itu, menggerutu sambil berjalan pergi.Awalnya, Rafa masih merasa ada kedekatan dengan tanah leluhurnya. Namun, hari ini dia bukan hanya diincar pencuri, tetapi juga bertemu dengan kakek menyebalkan ini. Perasaan hangat itu lenyap seketika.Dia bahkan mulai berpikir, mungkin nenek moyangnya yang pindah ke Desa Kenanga dulu telah mengambil keputusan yang tepat! Tempat ini benar-benar buruk!Rafa masuk ke toko di seberang. Karena telah belajar dari pengalaman, kali ini dia l
Mata Rafa juga sedikit panas, tetapi dia menahan air matanya. Dia menghapus air mata Miko dan berucap, "Kak, tenang saja. Aku tahu tanggung jawabku, aku nggak akan mengecewakanmu."Miko mengangguk, lalu perlahan melepaskan pelukannya. Dia melihat Rafa pergi semakin jauh.Di timur, langit mulai memancarkan sinar fajar. Rafa berjalan cepat melewati jalan setapak menuju Kota Muara. Sesampainya di sana, dia menyewa sebuah mobil van dan langsung menuju stasiun kereta api kota kabupaten.Lima jam perjalanan dengan kereta api. Akhirnya sebelum tengah hari, Rafa tiba di Kota Obat, pusat perdagangan herbal terbesar!Di kota kecil biasa, paling-paling hanya ada satu atau dua toko obat. Di kota besar, mungkin hanya ada satu pasar obat. Namun di sini, bukan sekadar pasar, melainkan kota khusus untuk obat!Dari namanya saja, sudah terasa perbedaan skala yang luar biasa. Sebagai keturunan langsung dari tabib legendaris, Rafa merasa bersemangat.Dia berjalan sambil mengamati suasana hingga akhirnya t
Rafa sungguh kehabisan kata-kata. Dia mengayunkan tangannya, lalu jarum peraknya langsung menusuk punggung tangan Arumi."Aaaahhh ...!" Arumi menjerit kesakitan.Sebelum Arumi pergi, beberapa warga desa mulai berdatangan. Sorenya, semakin banyak yang datang berobat. Ini karena makan daging kerbau, lalu mengalami panas dalam.Rafa akhirnya menjual habis semua ramuan herbalnya untuk meredakan panas dalam, juga semua persediaan pil.Inilah yang disebut efek domino. Kerbau tua milik Rahman mati, membuat seluruh desa menderita panas dalam, tetapi justru memberi Rafa keuntungan kecil.Satu pasien bisa menghasilkan 20 ribu, jadi totalnya dia berhasil mendapatkan 400 ribu. Uang receh tetap uang!Saat makan malam, Rafa berdiskusi dengan Miko. "Kak, besok aku harus pergi jauh. Aku mau ke Kota Obat, kampung halamanku, untuk beli beberapa bahan obat."Dia harus menjual batu empedu kerbau itu, menukarnya dengan uang, lalu membeli obat untuk menyembuhkan Diah."Kampung halaman?" Miko tidak mengerti,
"Kak, ini klinik. Kita ... bicarakan soal pengobatan." Rafa mulai berkeringat. Matanya menghindar, tidak berani menatap wajah Hana. "Sebenarnya ... apa yang sakit?"Baru saat itu, Hana melepaskan tangannya dari pipi dan mendekatkan wajahnya. "Gigiku sakit."Rafa mengangguk, mengambil senter untuk memeriksa mulut Hana, lalu meraba nadinya. "Nggak apa-apa, Kak. Kamu cuma kepanasan ....""Kepanasan?" Hana tersenyum. "Ya, aku memang kepanasan. Bisa nggak kamu bantu meredakan?""Ten ... tentu bisa ...." Rafa langsung gugup dan terbata-bata. "Kak, kamu makan apa dua hari ini?""Apa lagi? Ya daging kerbau yang kamu kasih 1,5 kilo kemarin, karena kamu kasihan padaku," sahut Hana dengan nada penuh keluhan."Daging kerbau?" Rafa langsung paham.Di cuaca panas seperti ini, makan daging kerbau berlebihan memang bisa menyebabkan panas dalam. Niat baiknya justru membawa masalah untuk diri sendiri."Nggak apa-apa. Aku akan bantu kamu redain panasnya .... Eh, maksudku, aku akan racik obat untukmu." Ka
Setelah mendengar analisis Rafa yang begitu logis dan masuk akal, Miko akhirnya merasa tenang. Namun, dia masih bertanya, "Rafa, apa Pak Dika ... benar-benar akan mati?""Kak, coba ingat-ingat. Aku sudah menangani pasien selama setengah bulan ini, apa pernah aku salah mendiagnosis?" tanya Rafa balik."Memang benar yang kamu katakan ...." Miko mengangguk, lalu menghela napas. "Sayangnya, Pak Dika nggak mau mendengarkanmu. Satu nyawa hilang begitu saja."Rafa hanya mengangkat bahunya. Kalau orang memang ingin mati, apa yang bisa dia lakukan?Setelah kembali ke kamar, Rafa mengambil batu empedu yang didapatkannya. Di mana dia bisa menjual barang berharga ini?Di kota kecil? Tidak mungkin. Tempat kecil seperti itu tidak akan ada orang yang bisa menilai harganya. Selain itu, jika kabar ini bocor dan Rahman tahu, pasti akan muncul masalah lagi.Ke Kota Obat saja! Tanah kelahiran leluhur mereka, sang tabib legendaris, pusat perdagangan obat tradisional terbesar di negara ini!Namun, bukan sek
"Baik, baik." Dika mengangguk dan melambaikan tangan ke sekeliling. "Hari ini, dengan kesaksian warga desa, Pak Galih, serta Pak Hansen, aku bertaruh dengan Rafa. Hari ini aku biarkan dia lolos, tapi 3 hari kemudian, aku akan datang lagi. Jangan sampai ada yang bilang aku menindasnya!"Galih, Hansen, dan warga desa terdiam menatap Rafa. Taruhan ini terlalu besar!Rafa juga melambaikan tangan dan berseru dengan lantang, "Hari ini aku bertaruh dengan Pak Dika! Tiga hari kemudian, kalau beliau masih bisa muncul dengan sehat di depan rumahku, aku sendiri yang akan membakar klinikku dan menyerahkannya kepadanya!"Kerumunan mulai berbisik-bisik.Rafa menatap Dika dan berkata, "Pak Dika, aku sarankan kamu jangan mempertaruhkan nyawa dalam taruhan ini. Aku akan memberimu resep. Pergilah ke rumah sakit di ibu kota provinsi, jalani operasi. Gunakan ramuan herbal coptis chinensis dan houpoea officinalis, seduh dengan teh, dan minum setiap hari. Itu bisa menyelamatkan nyawamu.""Terima kasih! Tiga
"Aku beli untuk dimakan sendiri, boleh 'kan? Badanku kurang sehat, jadi aku memang suka makan obat."Rafa tersenyum, lalu meneruskan, "Kamu menuduhku membuka klinik, mengobati pasien, mencari uang secara ilegal. Silakan tunjukkan buktinya. Siapa yang kuobati? Aku menerima uang dari siapa? Tolong tunjukkan bukti itu."Kemudian, Rafa menoleh ke arah warga desa yang berkumpul di depan pintu dan melambaikan tangan. "Saudara-saudara sekalian, apa ada di antara kalian yang pernah sakit dan mencariku untuk berobat?"Orang-orang tertawa serempak. "Semua penduduk Desa Kenanga sehat walafiat!""Kamu ...!" Dika terdiam, tidak bisa membalas. Dia menoleh ke Hansen dan membentak, "Pak Hansen! Kemari dan bersaksi! Ini urusan desa kalian!"Hansen menggaruk kepalanya dan mendekat. "Bersaksi gimana?""Bersaksi kalau Rafa menghasilkan uang dengan mengobati orang!""Oh, oh ...." Hansen berpikir sejenak, lalu menghela napas. "Kalau soal mengobati orang, memang ada. Ayahnya dulu seorang tabib, jadi meningga