Bulan sudah kembali ke peraduannya. Kini, tinggal mentari pagi yang bertugas memanjakan bumi. Sinarnya begitu hangat menelusup setiap celah.
"Emmm ...." Revalina bergumam saat sorot matahari mengenai wajahnya.
"Bangun, Sayang," titah Cindy sambil membuka gorden.
"Jam berapa ini, Ma?" tanya Revalina dengan mata masih terpejam.
"Sudah jam enam pagi. Bangun dan bersiaplah. Karena tamu kita akan datang pukul sembilan."
Revalina membuka matanya seraya berkata, "Tamu?"
"Ck! Jangan bilang kamu lupa kalau hari ini kita akan kedatangan sahabat Mama. Mama tidak mau tahu, pokoknya hari ini harus ada di rumah. Titik!" tutur Cindy kemudian pergi.
"Aarrgggh! Kenapa bisa aku lupa?" ucap Revalina kemudian duduk dan menepuk kening.
"Ponsel mana ponsel," sambungnya dengan mata dan tangan sibuk mencari benda pipih itu.
Revalina meraih tas yang ia simpan di atas nakas. Tangannya dengan lincah merogoh gawai yang ada di dalamnya. Jarinya menari di atas layar ponsel. Ia mengirim pesan kepada Kenzie yang semalam sudah resmi menjadi kekasihnya, untuk membatalkan kencan mereka.
"Hah! Untung saja kau pengertian, Kak," pujinya kepada Kenzie saat menerima balasan pesan. Ya, Kenzie membalas pesannya dengan kata tidak apa-apa, lain waktu saja.
Revalina bergegas melakukan ritual mandi.
Tepat pukul tujuh, gadis itu menuruni anak tangga menuju ruang makan. Di sana Carlos dan Cindy sudah menunggu. Sarapan pun berlangsung dengan khidmat.
Selesai sarapan, Cindy memerintahkan putrinya agar bersiap.
"Dandan yang cantik dan pakailah baju yang sopan," titah Cindy.
"Iya, Ma." Revalina meninggalkan ruang makan.
"Tunggu!" cegah Cindy.
Revalina menghentikan langkahnya lalu berbalik dan berkata, "Apa lagi Ibunda Ratu?"
"Semalam kamu ngapain saja dengan pemuda itu?"
"Kak Kenzie maksud Mama?"
"Iya, siapa lagi?"
Revalina tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang rapi. Dengan mimik bahagia, Revalina mengatakan bahwa dirinya dengan Kenzie resmi berpacaran.
"Uhuk!" Cindy tersedak saat minum.
"Pelan-pelan dong, Ma," imbuh Carlos sambil mengusap punggung istrinya.
"Cepat masuk kamar dan bersiap!" seru Cindy kepada Revalina.
Setelah Revalina pergi, Cindy mendelik ke arah suaminya. "Lihat! Itu akibat Papa mengizinkan mereka pergi semalam. Mama tidak mau tahu, pokoknya Revalina harus bersanding dengan anak sahabat Mama!"
Cindy meninggalkan ruang makan setelah ia menyeka mulutnya dengan tissue.
"Astaga! Tambah rumit ini urusan," gumam Carlos.
Jarum jam sudah menunjuk pada angka sembilan, tepat dengan bunyi klakson yang berbunyi nyaring di luar.
"Nya, di luar ada tamu," tutur Inah sambil mengetuk pintu kamar majikannya.
"Suruh masuk, Bi!" titah Cindy.
Tidak berselang lama, Cindy menemui tamunya.
"Hai, Jeng, apa kabar?" sapa Cindy.
"Eh, Jeng Cindy. Ya ampun sudah lama kita tidak bertemu. Kabarku tentu saja baik, Jeng."
"Ini pasti putramu?" tanya Cindy sambil menatap seorang lelaki tampan.
"Apa kabar, Tante?" sapa lelaki itu kepada Cindy.
"Baik, Nak," jawab Cindy. "Dan ini pasti an-"
"Permisi." Ucapan Inah memotong percakapan mereka. Ia menyuguhkan minuman dan berbagai camilan.
"Ah, kebetulan ada Bibi. Tolong panggilkan Tuan dan Rere, ya?" titah Cindy.
"Baik, Nyonya." Inah pergi mengikuti perintah majikannya.
Obrolan hangat terjalin. Tawa menggema memenuhi ruang tamu tatkala mereka mengenang masa muda.
Di kamar, Revalina baru saja selesai merias wajahnya. Dirinya mematut di depan cermin merapikan tatanan rambut dan baju yang ia kenakan.
"Non, dipanggil Nyonya," panggil Inah seraya mengetuk pintu.
Mendengar suara ketukan pintu, Revalina menyudahi aksinya dan bergegas membuka daun pintu.
"Iya, Bi," imbuh Revalina. "Eh, Bi. Tamunya mama itu laki-laki apa perempuan?"
"Pastinya ibu dan anak, Non. Anaknya ganteng sangat, Non. Bibi liatnya aja seneng, hihihi ...."
Revalina tersenyum melihat tingkah asisten rumah tangganya. Akhirnya mereka melangkah bersama menuruni anak tangga. Sang gadis menuju ruang tamu dan Inah memanggil Tuan Besarnya.
Sayup terdengar suara yang tidak asing lagi menurut Revalina. Rasa penasaran membuncah, dan gadis itu mempercepat langkahnya.
Mata Revalina membulat sempurna. Pun dengan tamu yang ada di hadapannya sekarang.
"Eh, Sayang. Apa kabar? " sapa Revalina dengan senang sambil menghampiri.
Cindy melongo melihat reaksi Revalina terhadap salah satu tamunya. "Kalian sudah saling kenal?"
"Mbul, apa kabar sayang? Tate syantik kangen sama Mbul," tutur Revalina sembari menciumi pilih Aldevaro.
Ya, tamu Cindy adalah Hanna, Raffael dan bayi gembul --Aldevaro.
Hanna menceritakan bagaimana bisa dirinya mengenal Revalina. Bahkan semua tentang perkara sidang pun ia ceritakan semua. Jangan tanya di mana Revalina, gadis itu tengah asyik bermain dengan Aldevaro.
"Jadi, Nak Raffael ini dosennya Rere?" tanya Cindy.
"Rere?" tanya Raffael memastikan.
"Maksud Tante ... Revalina," jawab Cindy.
"Ah, iya, Tante."
Sedang asyik mengobrol, Carlos datang menghampiri.
"Tuan Diego?" sapa Raffael.
"Apa kabar Tuan Raffael? tanya Carlos sembari menjabat tangan.
"Jadi, tamu Mama ini Tuan Raffael? tanya Carlos kepada Cindy.
Cindy mengatakan jika Raffael adalah putra dari sahabatnya --Hanna. Pun wanita paruh baya itu menceritakan siapa Raffael dan bagaimana Revalina bisa mengenal mereka.
Raffael tidak menyangka jika ayah dari Revalina adalah rekan bisnisnya yang ia panggil Diego.
"Ahh, dunia terasa sempit. Aku mengenal anda hanya Tuan Diego saja tanpa tau nama depan Anda, Tuan Carlos," ujar Raffael sembari senyum.
Raffael dan Carlos sudah menjalin kerja sama sedari lama. Namun, Raffael jarang bertemu dengan Carlos karena memang kesibukan Raffael yang luar biasa. Setiap penandatanganan dokumen, asisten mereka masing-masing yang akan bertemu. Terlebih lagi nama Carlos tak pernah disebut oleh asistennya. Carlos dikenal dengan sebutan nama 'C. Diego' saja.
Tak ingin membuang kesempatan, Raffael mengatakan jika dirinya ingin meminta bantuan kepada Revalina untuk menjadi ibu sambung bagi Aldevaro. Ia menceritakan langsung perkara hak asuh anak.
Carlos hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti. Lelaki paruh baya itu meminta istrinya memanggil sang putri.
Gegas Cindy memanggil Revalina di taman depan.
Revalina menghampiri Carlos, tentu saja sambil menggendong Aldevaro. Tak ada b**a-basi dari Carlos, ia menanyakan maksud ucapan Revalina yang ingin membantu Raffael.
"Oh, i-itu ... itu karena Rere merasa kesal kepada mantan istrinya Tuan Dosen. Dan ... sejak pertama kali bertemu dengan bayi gembul ini, Rere suka dan sayang sama dia," tutur Revalina.
"Lalu?"
"Ya, Papa harus membantu agar Aldevaro bisa berada di tangan Pak Dosen."
"Caranya?"
Revalina mengangkat kedua pundaknya.
"Caranya, kamu harus nepatin janjimu kepada Nak Raffael. Bukankah kamu siap untuk menjadi istrinya," timpal Cindy. Wanita paruh baya itu bersorak senang karena tujuan semula mendekatkan, tetapi malah menjadi menantu.
Revalina mendelik ke arah Raffael. Ia tidak menyangka jika dosennya itu sudah menceritakan semuanya.
"Tapi ...,"
"Tidak ada tapi-tapian. Apa kamu tidak kasian kepada Aldevaro? Lihatlah, sepertinya dia nyaman denganmu, Nak," sela Cindy.
Cindy mengatakan jika mereka harus menikah secepatnya. Tidak perlu menggelar pesta mewah. Cukup di depan Pendeta saja dan hanya keluarga saja yang tahu.
"Sidang digelar hari rabu nanti. Berarti ada waktu sekitar empat hari. Mau tidak mau kalian harus menikah besok," ujar Hanna ikut angkat bicara.
"Apa?! Revalina melongo.
Carlos menimpali ucapan Hanna. Ia mengatakan jika Revalina ingin menepati janjinya kepada Raffael, tidak masalah. Lelaki paruh baya itu setuju jika memiliki menantu seperti Raffael, meskipun seorang duda. Status tidak masalah buatnya. Carlos yakin, jika Raffael bisa membimbing putrinya.
Rona bahagia terpancar dari wajah Cindy. Ia sangat mendukung dengan apa yang dikatakan suaminya.
"Astaga, bagaimana ini? Mbul, Tate memang sayang sama kamu. Tate gak mau jauh dari Mbul. Tapi, haruskah Tate menjadi Mamamu? Dan menjadi seorang istri dari dosen duda. Ya, Tuhan, tolong beri aku petunjuk." Batin Revalina.
Revalina ragu. Ketika dirinya baru mengenal makhluk yang bernama laki-laki, ia malah dihadapkan dengan pilihan yang rumit. Bukan tidak pernah mengenal, tetapi ia membentengi dirinya sendiri karena enggan seperti Cecilia --sahabatnya, yang terluka karena sosok yang berwujud laki-laki itu.Pewaris tunggal konglomerat itu mulai membuka hati. Ia ingin merasakan mencintai dan dicintai. Kenzie, lelaki pertama yang diberi kesempatan untuk dekat dengan dirinya. Namun, ucap janji kepada Raffael menghancurkan semuanya."Bodoh! Kenapa kemarin mulut ini begitu entengnya mengatakan jika aku bersedia menjadi istri Raffael," sesal Revalina."Kalau tidak mau, tidak usah. Tenang saja, aku tidak akan menuntutmu seperti yang aku katakan waktu lalu," ucap Raffael. "Kalau pun aku kalah dalam persidangan, mungkin memang seharusnya Aldevaro berada di samping ibunya.Revalina terperanjat. Ia tidak menyangka jika Raffael mengikutinya ke taman belakang."T
Tepat pukul dua belas malam, Revalina tiba di kediaman Xie."Pengamanan di sini memang seperti ini? Dengan mudahnya kita masuk," tanya Revalina kepada sopirnya."Mereka sudah tau kalau kita dari keluarga Tuan Carlos, Nona.""Oo ... seperti itu. Baiklah, kau boleh pulang. Aku akan menginap di sini. Tolong bilang sama Mama, aku lupa membawa ponsel," ucap Revalina kemudian turun dari mobil.Samar terdengar Aldevaro menangis. Gadis itu bergegas menekan bel."Astaga! Lama sekali," gumam Revalina sambil terus menekan bel.Pintu terbuka. Ternyata asisten rumah tangga keluarga Xie yang menyambut Revalina.Tanpa kata, Revalina bergegas masuk. Namun, langkahnya terhenti dan berbalik menatap sang ART yang sedang menatap dirinya heran."Hehe ... antarkan aku ke kamar Aldevaro, Bi.""Oh, mari ikut saya, Non."Revalina mengikuti langkahnya, hingga akhirnya sampai di depan kamar."Den Al ada di sin
Raffael dan Revalina kembali menemui Hanna di ruang makan.Revalina mengatakan jika dirinya siap menjadi istri Raffael. Pernyataan gadis itu tentu saja membuat Hanna tidak percaya sekaligus senang. Bagaimana tidak? Kemarin, Revalina sudah menolak bahkan enggan menemuinya saat pamit pulang."Kamu seruis, Sayang?" tanya Hanna memastikan.Revalina mengangguk diiringi senyum yang tersungging. "Iya, Tante. Rere siap menjadi ibu sambung dari Mbul. E-eh, maksud Rere Aldevaro."Hanna memeluk Revalina dengan erat dengan rasa haru. Tak terasa bulir bening meluncur bebas jatuh di pipi wanita paruh baya itu.Revalina melerai pelukan. "Tante, kenapa menangis?""Jangan panggil Tante, mulai sekarang panggil Mama saja.""I-iya, Ma-Mama.""Mama senang, Nak. Akhirnya kamu menjadi menantu keluarga Xie. Itu yang papanya Raffael harapkan sebelum kematiannya beberapa tahun lalu."Raffael menunduk mendengar ucapan Hanna. Ya,
Makan malam mewah digelar di kediaman Xie sebagai tanda bersatunya dua keluarga. Senyum bahagia terpancar dari wajah Hanna juga Cindy."Aku bener-bener gak nyangka. Yang semula ingin Raffael mengajarkan bisnis kepada Revalina. Eeh ... malah jadi mantu," ujar Cindy diiringi senyum."Yang jelas aku bahagia. Akhirnya permintaan terakhir suamiku dapat terkabul," timpal Hanna sambil menatap foto besar yang terpajang di tembok.Raffael menggenggam tangan Hanna. "Maafkan El, Ma. Dulu tidak mendengar apa kata Mama dan Papa.""Iya, Nak. Yang penting sekarang kalian sudah bersatu. Sayangi menantu Mama ya? Jaga dia, cintai dia," pinta Hanna.Raffael hanya mengangguk sebagai jawaban."Uuuh ... kamu sudah ngantuk, Sayang? "Kita bobok, yuk!" ucap Revalina saat melihat Aldevaro menguap."Rere tidurin dulu Al, ya? Sepertinya sudah mengantuk," pamit Revalina kepada semua orang kemudian beranjak."Tunggu
Mobil milik Raffael sudah terparkir di halaman rumah nan luas milik Carlos.Revalina turun terlebih dulu sambil menggendong Aldevaro tanpa sepatah kata.Kedatangan mereka disambut hangat oleh Cindy dan Carlos."Eeh ... cucu Nenek," sapa Cindy sambil mengelus pipi Aldevaro."Ada apa, Sayang? Bukankah pakaian dan barang-barangmu sudah Mama kirim semalam?" sambung Cindy bertanya kepada Revalina."Iiih ... jadi Mama gak mau Rere pulang, gitu?" Bibir Revalina mengerucut kemudian duduk di sofa.Cindy tersenyum. "Bukan begitu juga, Sayang. Udah ah, jangan ngambek. Gak malu apa sama bayinya?"Revalina mengangkat kedua pundaknya."Silakan duduk, Nak Raffael," titah Carlos."Iya, Pa." Raffael duduk di samping Revalina."Aku titip Al dulu," ucap Revalina sambil menyerahkan Aldevaro kepada suaminya."Loh, ke mana, Sayang?" tanya Cindy."Kamar," jawab Revalina
Revalina sudah merasa tenang. Ia menghubungi James --sopirnya, untuk menjemput. Tidak berselang lama, James tiba di sana."James, ikut aku ke keluarga Xie. Kau tetap jadi sopir pribadiku," ucap Revalina saat di mobil."Iya, Nona, dengan senang hati."Mobil melaju dengan kecepatan sedang sampai akhirnya tiba di kediaman Xie. Revalina gegas turun dan masuk. Kedatangannya disambut gembira oleh Aldevaro yang tengah digendong oleh Raffael dan disuapi oleh Hanna."Dari mana?" tanya Raffael."Kafe," jawabnya singkat lalu meminta maaf kepada Hanna karena sudah repot menyuapi Aldevaro.Revalina membawa Aldevaro ke kamar sambil membawa bubur dalam mangkuk diikuti oleh Raffael.Di kamar, Aldevaro didudukkan pada kereta bayi untuk melanjutkan makannya."Maaf," kata Raffael.Revalina tersenyum kemudian berkata, "Tidak apa. Terserah kau mau melakukan apa. Aku tidak akan peduli. Yang aku pikirk
Sesampainya di rumah, Revalina membaringkan bayinya yang masih tertidur nyenyak setelah menangis tadi. Pun dengan dirinya, ia ikut merebahkan diri di samping Aldevaro. Badannya menyamping sambil memeluk tubuh mungil sang bayi.Suara langkah mengalihkan perhatian Revalina. Ia mendongak kemudian fokus lagi kepada Aldevaro setelah tahu siapa yang datang."Kalau besok ada luka lebam pada bokong anakku, kau harus melaporkan mantan istrimu. Aku tidak mau tau!" ujar Revalina.Raffael duduk di tepi ranjang kemudian menjawab, "Iya, tentu saja aku akan memperpanjang kasusnya, jika itu terjadi.""Kau sangat menyayangi Al?" sambung Raffael bertanya."Ck! Pertanyaan macam apa itu? Tanpa bertanya seharusnya kau tahu itu semua, Tuan!"Raffael mengangguk. "Ya, tentu saja aku bisa melihatnya. Aku hanya memastikan saja," imbuhnya. "Terima kasih sudah menyayangi putraku. Dan aku berharap itu yang akan terjadi juga dengan kita."
Pagi sudah menyapa. Laiknya seorang ibu rumah tangga, Revalina sudah berkutat di dapur sedari pukul empat pagi. Keinginannya untuk bisa memasak sangat kuat. Dibantu oleh asisten rumah tangga keluarga Xie, ia menyajikan menu sarapan favorit untuk suami, anak, juga mertuanya.Satu jam sudah berlalu, bersamaan dengan selesainya tugas memasak mama muda itu."Bagaimana, Bi? Enak tidak?" tanya Revalina kepada Jumi --orang kepercayaan keluarga Xie untuk menjadi koki.Jumi tersenyum. "Untuk awalan, ini sudah lumayan enak, Nyonya Muda.""Benarkah?" tanya Revalina memastikan dengan wajah senang. "Bi, jangan panggil aku Nyonya Muda. Panggil saja Rere.""Ah, tidak. Nanti Bibi kena marah Tuan Muda. Bibi kapok dimarahin gara-gara dulu Nyonya Casandra.""Memangnya kenapa, Bi?"Jumi pun bercerita, jika dulu Casandra sangatlah sombong. Semua yang dilakukan pembantu di kelu
Tidak ingin membuang kesempatan, Casandra mengutarakan keinginannya untuk menjodohkan Elbert dengan Xiera. Pernyataannya itu tentu saja disikapi beragam ekspresi."Bagaimana? Kok, malah diam semua?" tanya Casandra."Emm ... aku gimana suamiku saja," jawab Revalina.Casandra menatap Raffael. "Gimana, Tuan?"Raffael menatap Revalina, Hanna, serta mertuanya bergantian. "Ini soal masa depan. Tidak bisa diputuskan saat ini juga.""Tapi, kau setuju, kan?"Raffael menghela napas. "Belum tentu."Mimik Xiera yang semula berseri, kini murung mendengar jawaban sang papa. "Aku udah kenyang. Maaf, Rara ke kamar dulu." Tanpa menoleh siapapun, gadis itu bergegas menaiki anak tangga.Semua menatap kepergian Xiera tanpa kata."Kamu tidak hanya memiliki Elbert, ada Aldevaro yang harus kamu pikirkan per
Sudah dua minggu Xiera dan Elbert di rumah sakit. Penyangga pada leher Xiera pun sudah dilepas, kecuali Elbert. Leher pemuda itu masih memerlukan penyangga karena benturan di kepala yang cukup parah. Dirawat dalam satu kamar tentu saja membuat mereka senang. Setiap hari tak luput dari kata sayang dan saling memberi perhatian. pun dengan Revalina dan Casandra yang makin kompak. Kedua wanita itu mengatur jadwal untuk menunggu putra dan putri mereka.Pagi itu saatnya perban Xiera dibuka. Didampingi Revalina, Xiera tengah duduk bersiap menunggu sang dokter. Sepuluh menit berselang, dokter datang didampingi seorang perawat."Pagi," sapa dokter dan perawat."Pagi, Dok," jawab Revalina dan Xiera kompak."Sekarang kita buka dulu perban nya, ya? Kita lihat sudah kering atau belum," ucap dokter.Xiera mengangguk."Lukanya sudah kering," ucap dokter saat perban itu terbuka.Xiera meminta cermin kepada Re
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Xiera kembali tertidur. Bella memutuskan untuk pulang."Bella pamit, Tante, Nek. Titip salam untuk Xiera," ucapnya kepada Revalina dan Hanna."Pamit, Tuan," lanjutnya kepada Raffael dan ditanggapi anggukkan."Tidak tunggu dulu Al?" tanya Revalina."Biar nanti bertemu di depan saja, Tan."Namun, dari kejauhan Raffael melihat Aldevaro berlari ke arah mereka. Tentu saja semua perhatian menjadi teralih kepada pemuda itu.Melihat mata Aldevaro yang merah, membuat Revalina bertanya, "Ada apa, Al? Kenapa lari-lari?"Napas Aldevaro terengah-engah. Pemuda itu menjatuhkan bokongnya di kursi stainless. "El, Ma ... El ....""Iya, El kenapa, Al?"Aldevaro menangis tersedu-sedu. "El meninggal, Ma."Semua tercengang mendengar jawaban Aldevaro."Ya, Tuhan!" Revalina membekap mulutnya sendiri, sedangkan Hanna dan Raffael saling bertatap dengan panda
Raffael dan Alex merasa bersyukur karena dalam situasi genting hubungan Casandra dan Revalina membaik. Kini, mereka hanya menunggu kabar baik dari anak masing-masing."Sayang, kapan sampai?" tanya Revalina."Baru aja," jawab Raffael.Casandra bergelayut manja di lengan Alex. Tentu saja membuat Alex merasa heran. Pasalnya, Casandra tidak pernahseperti itu."Bisa barengan, janjian, kah?" tanya Casandra kepada Alex."Kebetulan kami bertemu di parkiran."Akhirnya mereka memutuskan untuk menemui anak mereka masing-masing.Tiba di kamar inap, Raffael tentu saja bertanya bagaimana bisa Revalina dekat dengan Casandra. Sang istri pun menceritakan apa yang ia dan Casandra bicarakan di kantin."Syukurlah. Semoga saja semua itu ke luar dari hatinya.""Ya, semoga.""Selamat siang, Tuan," sapa Bella saat Raffael mendekat ke arah Xiera berbaring. Gadis itu beranjak dari duduknya.&n
Tiga hari sudah Xiera dan Elbert dirawat. Masa kritis Xiera sudah berlalu, tetapi belum sadarkan diri dan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Lain halnya dengan Elbert. Pemuda itu masih berjuang melewati masa kritisnya. Revalina dengan setia menemani putri kesayangannya. Tak peduli lelah dan kantuk menerpa, bahkan mata panda sudah terlihat jelas. Begitupun dengan Casandra. Wanita karir itu memilih menyingkirkan egonya. Ia setia mendampingi sang putra tercinta. Air mata tak henti jatuh di pipi. Alex yang melihat sang istri seperti itu merasa sedih. Namun, rasa syukur tak ia pungkiri karena dengan kejadian itu membuat Casandra sadar bahwa ada seorang anak yang butuh perhatiannya."Siang, Tante," sapa Bella saat masuk ke kamar inap Xiera."Siang, Sayang. Loh, langsung dari sekolah? Apa tidak lelah?"Bella duduk di samping Revalina. "Tidak. Yang lelah justru Tante dan itu gara-gara aku. Sekali lagi maaf, Tan."Revalina tersenyum dan membingkai pipi Bella.
Isak tangis Revalina dan Casandra tak terbendung menambah ketegangan. Semua gelisah menunggu hasil pemeriksaan dokter. Kursi stainless yang berjajar rapi tak satu pun mereka duduki. Semua berdiri dilanda kecemasan yang luar biasa."Keluarga pasien," panggil seorang suster.Revalina menghampiri. "Gimana putri saya, Sus?""Bagaimana dengan putraku?" tanya Casandra.Suster itu mengatakan jika Xiera dan Elbert harus segera menjalani operasi. Pendarahan di kepala yang cukup serius membuat hal itu harus dilakukan."Lakukan yang terbaik, Sus. Berapa pun saya akan bayar!" kata Raffael."Cepat lakukan, Sus!" seru Casandra."Silakan urus administrasi dulu, Tuan, Nyonya," kata suster itu, kemudian pergi.Raffael dan Alex bergegas mengurus administrasi.Sambil menangis, Revalina menghubungi kedua orang tuanya. Selain memberitahu kondisi sang putri, pun ia meminta agar Carlos menyiapkan jet p
Hari yang dinanti pun tiba. Sedari pagi, Xiera tidak jauh dari Revalina. Pasalnya, gadis itu mendengar jika sang mama akan menghabiskan waktu bersama Cecilia sore nanti. Xiera menduga jika Revalina lupa jika hari itu adalah hari spesialnya. Akan tetapi, bagus menurutnya, karena acara nanti benar-benar menjadi kejutan untuk Revalina, pikirnya.Revalina duduk di karpet berbulu di ruang keluarga sambil menikmati camilan."Kamu kenapa, sih, Sayang? Dari tadi glendotan terus.""Rara kangen sama Mama."Revalina mengernyit. "Kangen?"Xiera mengangguk. "Pokoknya hari ini, Rara mau ditemenin sama Mama.""Yaaah ... tapi, Mama ada janji sama Tante Cecil nanti sore.""Gak! Mama gak boleh pergi. Titik!""Udah, temenin aja anaknya, sih," kata Raffael yang baru saja datang dari dapur."Baiklah."Revalina meraih ponselnya di atas meja. Ia menghubungi Cecilia. Wanita itu berucap maaf dan berjanji akan pergi dengan saha
Dua hari lagi menuju hari Minggu. Aldevaro sudah menyewa salah satu aula di sebuah restoran mewah dan mengajukan konsep yang ia inginkan kepada pihak restoran. Xiera, Bella dan Hanna masih sibuk di butik karena gaun milik Xiera belum rampung. Nenek dua cucu itu tentu saja mendukung apa yang cucu-cucunya rencanakan, bahkan ia pun akan turut serta. Tidak hanya Hanna yang Xiera mintai kerjasama, tetapi Raffael juga. Papa tampan itu tentu saja menyambut dengan antusias rencana anak-anaknya. Terbukti, ia turun tangan dalam hal keuangan.Lain halnya dengan Elbert. Ia terus berusaha membujuk Alex agar mendukung rencananya. Bukan Alex tidak mau, tetapi kondisi Casandra yang sibuk di butik."Please, Dad, please ... terserah Dady mau rayu Mommy seperti apa. Pokoknya El mohon, hari Minggu nanti Mommy harus hadir. Urusan kado biar El yang cari."Alex menghela napas. "Baiklah, Dady usahain. Demi kamu dan demi kebaikan kita bersama.""Yes! Gitu, dong, Dad.
Waktu bergulir begitu cepat, Aldevaro sudah menjadi seorang mahasiswa di salah satu universitas terkenal di Jakarta. Pemuda tampan itu sudah bertekad ingin menjadi seorang pengusaha seperti Raffael. Jurusan yang ia ambil pun bisnis dan manajemen. Begitu juga dengan Xiera, kini ia duduk di bangku SMA. Ya, mereka memutuskan untuk mengikuti ujian kelas akselerasi. IQ yang mumpuni tentu saja memudahkan mereka untuk mengikuti kelas tersebut. Begitu juga dengan Elbert. Ia mengikuti langkah Aldevaro. Kini, mereka satu fakultas. Namun, tidak dengan Bella. Gadis itu memang memiliki IQ yang sama mumpuni, tetapi dirinya tidak akan melanjutkan ke jenjang kuliah. Selain masalah biaya, ia lebih memilih menggantikan pekerjaan Rudy karena sang ayah sering jatuh sakit."Ma, kapan Rara boleh bawa mobil sendiri?" tanya Xiera disaat menikmati sarapan."Nanti, kalau sudah masuk kuliah.""Rara pengen mobil seperti mobil Abang.""Keren, ya? Iya, kan, iya, dong?" Ald