Merusak suasana saja ...."Di otakmu cuma ada makanan ya? Kamu nggak peduli padaku?" tegur Harry."Kamu juga makanan di mataku," sahut Grace."Oh ya?""Ya! Kamu sangat menggiurkan! Tapi, aku nggak bisa melihatmu kalau kamu memelukku. Lebih baik biarkan aku makan sambil memandangmu. Begini baru benar.""Otakmu memang dipenuhi ide busuk."Harry tersenyum lebar sambil menatap wajah mungil Grace. Dalam hatinya, dia bertekad akan membawa Grace pergi setelah membalaskan dendam kakaknya.Mereka akan pergi ke tempat yang Grace sukai dan melewati kehidupan yang diinginkannya. Dulu Harry mengejar keuntungan, tetapi sekarang dia hanya ingin mengejar cintanya.Grace diopname selama 10 hari. Semua orang datang menjenguknya, termasuk anggota Keluarga Lugiman. Kali ini, Viktor bersikap lebih lembut padanya, seolah-olah tidak pernah terjadi masalah di ruang rias.Grace tahu ayahnya ini hanya bersandiwara, tetapi tidak menyangka sandiwaranya akan begitu luar biasa. Grace tetap bersikap tenang seperti b
Hari ini, Grace akhirnya keluar dari rumah sakit. Namun, dia merasa tidak senang.Harry datang menjemputnya. Pemulihan Grace sangat bagus. Jahitan di belakang kepalanya sudah dilepas. Jika ditutup dengan rambut, bekas jahitannya tidak akan terlihat. Luka-lukanya juga sudah membaik, kecuali memar di beberapa bagian tubuh.Dokter menyarankan Grace untuk diopname beberapa hari lagi, tetapi Grace tidak suka suasana di rumah sakit. Dia merengek supaya dipulangkan.Ketika melihat Grace murung, Harry ingin menepuk kepalanya, tetapi khawatir gadis ini kesakitan. Harry pun menurunkan tangannya dan bertanya, "Kenapa murung begini? Bukannya kamu yang mau pulang?""Aku tentu senang karena sudah bisa pulang. Tapi, cuma tersisa belasan hari sebelum ujian. Aku ketinggalan banyak pelajaran. Gimana ini?" keluh Grace.Kemudian, Grace menatap Harry dengan tatapan penuh harap sambil memelas, "Bos, tolong ajariku aku ya? Kamu guru yang hebat. Sebagai muridmu, aku pasti bisa sehebat kamu.""Masa? Aku takut
Harry seperti mengawasi penjahat di rumah. Grace tidak diperbolehkan beraktivitas berat, tidak boleh makan makanan pedas dan berminyak, bahkan tidak boleh nonton drama.Mumpung Harry pergi, Grace akan bersenang-senang. Dia langsung pergi ke dapur. Rudi juga tidak berada di rumah. Ini momen yang cocok untuk berbuat jahat!"Bibi, tolong masak sesuatu yang enak untukku .... Aku lapar sekali ....""Tuan bilang kamu harus makan makanan bernutrisi untuk sementara waktu ini. Semua ini untuk kebaikanmu sendiri.""Aku nggak mau, rasanya nggak enak. Ayolah, masakkan aku sesuatu. Aku cuma makan sedikit kok. Cium aromanya saja juga boleh!"Grace memohon dengan kasihan. Dia jadi kurusan belakangan ini. Sia-sia dia makan begitu banyak sebelumnya.Karena tidak tahan dengan permohonan Grace, pelayan itu memutuskan untuk membuatkan sup jamur kuping putih."Ini untuk menguatkan tubuh. Tuan seharusnya nggak bakal marah.""Terima kasih, Bibi. Kamu terlihat makin muda saja.""Dasar kamu ini. Mulutmu manis
Jimmy tahu Harry pasti akan meminta sesuatu darinya. Namun, dia tidak menyangka permintaan Harry akan sesimpel itu. Harry hanya memintanya melindungi Grace. Jika dibandingkan dengan bantuan Harry, permintaan ini terdengar kurang bernilai.Jimmy pun memperingatkan, "Harry, cuma itu permintaanmu? Kamu cuma ingin aku melindungi Grace? Kalau begitu, untuk apa kamu bersusah payah seperti ini?""Grace pantas mendapat semua ini. Aku rasa kamu lebih berpengalaman dariku dalam hal ini. Aku sedang belajar darimu," sahut Harry.Jimmy menyunggingkan senyuman tipis, lalu menggeleng ringan sambil berkata, "Di ibu kota, aku selalu dianggap sebagai lelucon. Kamu malah belajar dariku?""Bukankah Grace pantas mendapat semua ini dariku? Aku rasa kalau kita bertukar posisi, Kak Felicia juga pantas diperlakukan seperti ini, 'kan?" tanya Harry.Tatapan Jimmy tampak agak suram. Itu artinya, mereka mempunyai pikiran yang sama, juga bisa dikatakan sebagai teman sevisi dan semisi."Harry, kalau di zaman dulu, m
"Aku cuma ingin mengendalikanmu untuk sesaat supaya tujuanku tercapai. Setelah semua beres, kita kembali ke jalan masing-masing dan mengambil milik masing-masing," lanjut Jimmy.Harry terkejut mendengarnya. Ternyata Jimmy ini serigala licik. Jimmy tahu segalanya tentangnya. Biasanya, Jimmy terlihat takut pada istrinya, sampai sering melawan banyak orang demi Felicia. Tanpa disangka, ternyata Jimmy begitu ambisius."Oke." Harry tidak ragu-ragu lagi. Dia memutuskan untuk bertaruh dengan berani.Jimmy merasa lega mendengarnya. Dia sempat khawatir Harry menolak, makanya memancingnya dengan Keluarga Adhitama.Harry bangkit dan berjalan ke hadapan Jimmy, lalu menjulurkan tangan kepadanya. Keduanya pun berjabat tangan dengan penuh keyakinan."Senang bekerja sama denganmu," ujar Harry sambil tersenyum."Ya, senang bekerja sama denganmu." Tanpa berbasa-basi, Jimmy pun berbalik dan pergi.Harry memandang sosok belakang Jimmy sambil merenung. Sebenarnya seperti apa Jimmy yang sesungguhnya? Jimmy
Ketika Harry pulang, pelayan tidak merahasiakan apa pun darinya. Harry juga bisa menebak bahwa Grace tidak mungkin bersikap patuh saat dirinya keluar."Lain kali rebus sarang burung walet merah untuknya. Tapi, jangan beri tahu dia apa itu.""Baik, Tuan.""Kamu juga harus mengawasinya makan. Aku takut dia makan nggak henti-henti. Nanti pencernaannya jadi bermasalah.""Tuan, kamu baik sekali pada Nona.""Dia juga sangat baik padaku. Aku tentu harus membalas kebaikannya."Ketika membahas tentang Grace, ekspresi Harry tampak lembut. Dia juga menyunggingkan senyuman penuh kasih sayang. Kemudian, Harry naik ke lantai atas dan menemukan Grace ketiduran di sofa. Dia memperlambat langkah kakinya karena takut Grace terbangun.Grace tertidur lelap. Namun, begitu Harry duduk, Grace langsung merasakan kehadirannya sehingga membuka matanya dengan linglung. "Kamu sudah pulang?""Ya. Tugasmu sudah selesai?""Sudah. Kamu boleh memeriksanya.""Oke.""Perutku sakit. Bantu aku usap dong. Mungkin karena ma
"Nona Grace cuma suka makan. Bawa saja dia pergi makan.""Cuma makan? Kalau begini, apa niat baikku bisa terlihat?""Pak, aku tahu restoran yang suasananya sangat romantis. Lokasinya di pulau tengah laut. Ada banyak kembang api di malam hari. Kalau kamu menyewa seluruh restorannya, Nona Grace pasti akan luluh. Kemudian, kalian akan terbawa suasana dan yang seharusnya terjadi akan terjadi, 'kan?"Juan seolah-olah sangat berpengalaman dalam hal ini. Ekspresinya dipenuhi kebanggaan saat berbicara.Harry merasa ide Juan cukup baik. Namun, makin didengar, dia merasa ada yang tidak beres. Dia pun memukul bahu Juan dengan dokumen dan menegur, "Singkirkan pikiran kotormu itu. Aku pria baik-baik. Jangan sampai Grace mendengar omonganmu itu dan jadi nakal.""Ya, ya. Aku janji nggak akan bilang apa pun pada Nona Grace.""Selain makan malam romantis, apa aku perlu menyiapkan hadiah lagi?" tanya Harry.Padahal, Harry tidak pernah seserius ini saat menangani kontrak senilai ratusan miliar. Demi meng
"Pak, apa kamu bisa membantuku sedikit? Beri aku poin untuk kerapian. Nilaiku 59 dan 58. Sedikit lagi sudah bisa lulus. Sayang sekali lho ...," pinta Grace.Grace masih ingat betapa dirinya dipenuhi keyakinan saat menjamin dirinya pasti lulus ujian kepada Harry. Ternyata dugaannya salah!Rektor tampak serbasalah. Kalau bukan karena Harry, dia juga tidak akan memeriksa ulang hasil ujian Grace."Grace, aku juga nggak bisa apa-apa. Kami juga sudah memberimu nilai tambahan karena kertas ujianmu begitu rapi. Kami nggak bisa memberi nilai sembarangan.""Kamu mengambil jurusan akuntansi. Tapi, nilaimu malah seperti ini. Kalau aku membantumu lulus dan kamu salah berhitung waktu kerja nanti, bukankah kamu akan mendapat masalah hukum? Kamu pasti akan membenciku nanti," sahut rektor dengan berat hati.Grace merasa makin frustrasi mendengarnya. Sebelumnya Harry sudah mengajarinya. Grace jelas-jelas telah menguasai semuanya. Kenapa malah membuat kesalahan seperti ini saat ujian?"Pak, kamu benar-be
Telepon segera tersambung. Suara di ujung sana adalah milik Harry. Rasanya sungguh melegakan bisa langsung menghubunginya.Hannah memberi tahu, "Ha ... Harry, sesuatu terjadi pada Kezia. Ada sekelompok orang yang membawanya pergi. Tapi, kurasa mereka nggak akan melukainya. Mereka bahkan melepaskan aku dan Joshua.""Aku mengerti. Aku bakal suruh Juan segera mengurus ini," balas Harry. Suara pria itu sangat tenang dan dalam, hampir tanpa emosi.Hannah yang sedang cemas tak memperhatikan ketenangan yang terlalu mencolok itu. Dia hanya merasa sedikit lega setelah menutup telepon.Sementara itu, di kota tua.Harry dan Grace sudah tiba. Dua jam sebelumnya, Jimmy telah menelepon untuk memberitahunya bahwa semuanya mulai berjalan sesuai rencana. Orang-orang yang bertindak kali ini bukanlah orang-orang Steven, melainkan dari pasar gelap. Jadi, Kezia sepenuhnya aman.Harry juga tahu bahwa Joshua pasti menderita, tetapi dia hanya bisa menahan diri. Dia sadar bahwa metode Jimmy adalah cara paling
"Joshua! Hannah memanggil namanya dengan cemas.Melihat darah sudah merembes di sudut bibirnya, tetapi dia masih memaksakan diri untuk tetap bertahan, hati Hannah terasa perih."Jangan pukul lagi! Tolong, kumohon berhenti!""Ternyata, keturunan Keluarga Lubis juga bisa memohon belas kasihan, ya?" Pria berbadan besar itu mengejeknya dengan penuh hinaan."Jangan ... jangan mohon padanya. Kalau memang punya nyali, bunuh saja aku!""Berengsek! Kenapa bocah ini keras kepala sekali?" Pria itu mengumpat marah, lalu menendangnya lagi dengan keras.Joshua hanya bisa mengerang kecil. Tubuhnya meluncur di lantai hingga membentur dinding dengan keras sebelum berhenti. Tubuhnya menggigil dan meringkuk.Pria itu mendekat dan memeriksa napasnya. "Dia masih hidup." Pria satunya pun melepaskan Hannah. Dia segera berlari menghampiri Joshua dan menopang tubuhnya."Kau nggak apa-apa? Joshua, lihat aku!" Dia tidak menjawab, napasnya sudah lemah."Sudahlah, pergi sana. Jangan sampai ada yang mati, nanti Bos
Di kepalanya, tiba-tiba muncul ingatan tentang malam itu saat dia membantu Hannah mengganti pakaian. Dia bahkan sempat melihat pakaian dalam di baliknya .... Joshua buru-buru menggelengkan kepala, berusaha menghentikan pikirannya yang mulai melantur.Mungkin gerakannya terlalu besar, suara itu membangunkan Hannah yang sedang tertidur lelap. Gadis itu menggumam dengan lembut, "Jangan ... jangan bergerak, aku capek sekali ...."Joshua langsung duduk tegak, tubuhnya kaku, dan sama sekali tidak berani bergerak. Sebenarnya .... Gadis ini terlihat sangat imut saat tidur. Dia tidak menangis atau merengek, hanya diam seperti boneka kecil yang cantik.Bagaimana mungkin ada orang yang tidak menyukai gadis seperti ini? Bagi Joshua, Hannah adalah sosok yang luar biasa. Tidak seperti gadis-gadis lain yang manja dan selalu perlu dilindungi. Hannah sangat tangguh. Tidak hanya bisa melindungi dirinya sendiri, tapi juga melindungi Joshua.Sebagai laki-laki, Joshua merasa sangat rendah diri. "Aku harus
Joshua bertanya, "Kenapa ... dia menolakmu?"Hannah menjawab, "Karena ... dia menyukai wanita lain. Dia nggak pernah menunjukkan perasaannya dengan jelas, jadi aku merasa punya kesempatan. Siapa sangka, aku yang membuat mereka nggak bisa bersama."Hannah melanjutkan, "Aku ingat sikap wanita itu sangat tegas waktu pergi, sedangkan aku malah membuat diriku sendiri terjebak."Joshua bertanya lagi, "Jadi ... kamu ikut kencan buta?"Hannah menyahut, "Aku melakukannya demi membuat dia tenang. Jadi, dia akan menganggap aku sudah melupakannya. Aku juga ingin membuat harapanku pupus."Joshua menimpali, "Sebenarnya ... kamu nggak usah korbankan diri sendiri. Kamu ... nggak suka pasangan kencan butamu, 'kan?"Hannah membalas, "Iya, tapi ... aku bisa terima biarpun harus hidup bersama selamanya."Joshua menanggapi, "Kenapa kamu begitu gegabah? Kalau nggak ... begini saja. Setelah kita keluar, aku bisa pura-pura jadi pacarmu. Dengan begitu, kamu bisa membuat orang itu tenang ... dan kamu nggak usah
Sebelumnya Hannah memarahi Joshua, tetapi sekarang dia malah dikurung bersama Joshua. Takdir benar-benar mempermainkan orang."Mana Kezia?" tanya Joshua.Hannah menyahut, "Dia dibawa pergi."Joshua bertanya, "Ini di mana? Aku mau keluar!"Hannah menjelaskan, "Nggak usah coba lagi, aku sudah coba. Nggak ada yang pedulikan kita. Ini rumah seng, seharusnya ini gudang. Orang-orang itu hanya mengincar Kezia, mereka nggak sakiti kita."Hannah menambahkan, "Aku nggak yakin mereka akan memberi kita air dan makanan. Jadi, kamu nggak usah sia-siakan tenagamu lagi. Duduk saja di sini.""Kezia ... aku memang nggak berguna. Aku bersalah pada kakakku. Aku nggak jaga Kezia baik-baik," kata Joshua.Hannah menceletuk, "Aku tebak mereka nggak akan sakiti Kezia.""Ke ... kenapa?" tanya Joshua.Hannah membalas, "Bisa-bisanya kamu masih gagap pada saat-saat penting seperti ini! Kamu berbalik saja waktu bicara."Hannah bertanya, "Kamu tahu siapa yang paling ingin menghabisi Kezia di ibu kota?"Joshua berbal
Joshua berkata, "Hannah ... kamu ... masih menggenggam tanganku ...."Hannah menimpali, "Sekarang situasinya sangat genting! Kamu jangan lihat aku dengan ekspresi malu lagi! Di luar ada banyak orang, apa kalian menyinggung seseorang? Kebetulan aku datang malam ini, benar-benar sial!"Kemudian, Hannah pergi ke dapur untuk mencari barang yang berguna. Dia juga menyuruh pelayan membawa Kezia ke lantai atas.Hannah berujar pada Joshua, "Kamu juga naik. Kamu nggak usah ikut campur lagi. Kalau nanti ada yang menerobos masuk, kamu juga nggak bisa bantu aku.""Di luar ... benar-benar ada orang?" tanya Joshua.Hannah menyahut, "Iya, sangat banyak. Keluargaku itu anggota militer, jadi aku pernah mempelajari pengindraan jauh. Aku pasti tahu kalau ada pergerakan di sekitar.""Orang-orang itu bersembunyi sambil mencari kesempatan. Sepertinya bukan untuk mencuri, tapi untuk menangkap seseorang. Aku rasa targetnya Kezia, jadi kamu cepat naik ke lantai atas," lanjut Hannah."Jadi ... bagaimana dengan
Hannah hendak naik ke lantai atas, tetapi dia melihat Kezia yang berdiri di dekat tangga. Kezia sedang memandangi mereka sambil menggendong boneka. Ekspresinya terlihat polos.Tubuh Hannah menegang saat bertatapan dengan Kezia. Hatinya terasa sakit. Sebelum Hannah sempat bicara, Kezia bertanya, "Kalian ... bertengkar, ya?""Kezia, cepat tidur," sahut Joshua dengan suara serak.Melihat bibir Joshua terluka, mata Kezia berkaca-kaca. Dia bertanya, "Paman, wajahmu kenapa?"Kezia buru-buru turun, lalu Joshua memeluknya. Kezia bertanya lagi, "Sakit, nggak?"Joshua menjawab, "Nggak sakit. Tadi nggak sengaja terbentur, nggak apa-apa. Kezia, seharusnya kamu tidur. Kamu ikut Hannah, ya?""Hannah," ucap Kezia sembari melihat Hannah dengan ekspresi ketakutan.Hannah mengepalkan tangannya. Dia tidak ingin tinggal di sini lagi. Ini bukan rumahnya, untuk apa dia tinggal di sini?"Maaf, aku tiba-tiba ingat ada urusan. Aku pergi dulu," ujar Hannah. Dia segera naik ke lantai atas, lalu memakai jaket dan
Joshua yang gugup segera menjelaskan, "Malam itu ... kamu mabuk ... kamu yang bilang ... orang yang kamu suka nggak menyukaimu ...."Hannah mengernyit setelah mendengar perkataan Joshua. Ternyata dia melontarkan kata-kata seperti itu saat mabuk?Hannah menunduk, lalu berkata, "Aku sudah kenyang. Kamu makan saja."Kemudian, Hannah membawa piring ke dapur. Joshua bergegas mengikuti Hannah dan melihatnya membuang pasta ke tong sampah."Hannah," panggil Joshua. Dia meraih pergelangan tangan Hannah. Entah kenapa, dia panik ketika melihat Hannah marah. Joshua ingin meminta maaf.Hannah terlihat mengerikan saat marah. Joshua merasa Hannah tampak menawan saat tersenyum, membalas dendam, dan tidur. Joshua juga merasa sedih saat Hannah marah."Lepaskan aku!" tegur Hannah."Nggak mau!" tegas Joshua. Kali ini, dia berbicara dengan lantang.Joshua melanjutkan, "Aku tahu ... aku membuatmu nggak senang, kamu boleh pukul aku untuk lampiaskan emosimu. Tapi ... jangan abaikan aku. Aku bukan sengaja ...
Hannah yang menunjukkan kesopanan bertanya, "Aku mau makan. Kamu mau, nggak?""O ... Oke," sahut Joshua.Hannah menimpali, "Kalau begitu, kita sama-sama cari makanan di dapur."Hannah membuka kulkas, tetapi tidak menemukan nasi sisa. Dia tidak bisa membuat nasi goreng telur. Orang kaya memang tidak pernah menyimpan makanan sisa. Bahkan Hannah tidak menemukan makanan beku, jadi dia makan apa?Hannah berkata, "Sudahlah. Aku nggak jadi makan. Aku minum air saja, lalu tidur.""Kamu ... mau ... makan pasta?" tanya Joshua.Hannah menyahut, "Aku nggak bisa ...."Joshua menyela, "Aku ... yang ... masak."Hannah bertanya, "Repot, nggak?"Joshua menjawab, "Nggak ...."Sebelum Joshua menyelesaikan ucapannya, Hannah berujar, "Kamu masak saja. Nggak usah bicara lagi."Joshua mengembuskan napas lega. Dia selalu gagap setiap melihat Hannah. Joshua merasa lebih rileks jika tidak bicara.Hannah melihat Joshua mengeluarkan daging sapi, cabai, dan bawang dari kulkas. Dia mulai memotong sayur, lalu memasa