Share

#101 Pusat Segalanya

Ben sibuk. Sangat sibuk. Sampai dia berharap punya dua tubuh untuk bekerja sana-sini. Kantornya membutuhkannya, kantor Bary juga membutuhkannya. Akhir-akhir ini pekerjaan menumpuk. Di suatu waktu kadang dia merasa seperti pegas yang ditarik kencang dari kedua sisi.

Ben menghempaskan diri di bangku kerjanya yang besar, memijat kepala pelan. Bahkan waktu untuk tidur pun terlalu tipis. Diliriknya ponsel yang tergeletak di meja.

Sebulan.

Sejak saat itu dia tidak bertemu Cantika lagi. Wanita itu tidak pernah datang ke rumahnya. Setiap kali Ben mencoba menelepon, nomornya selalu dialihkan. Setiap kali memikirkan Cantika, rasanya dia ingin mendatangi langsung perempuan itu. Tapi, Ben tidak pernah tahu di mana tempat tinggalnya. Mereka tidak pernah bertemu secara kebetulan lagi seperti dulu. Rasanya sepi.

Ben melipat kedua tangan di depan wajahnya. Melirik telepon kabel di atas meja. Dia juga sudah mencoba menghubungi Cantika dengan telepon kantor. Namun hasilnya tetap nihil. Setelah pekerjan
Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status