"Kita panggil, Mr. and Mrs. Kurniawan." Suara MC terdengar nyaring di dalam ruangan tersebut membuat semua mata tertuju pada dirinya dan dengan cepat teralih ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka lalu terlihat Sonya dan Awan yang masuk ke dalam ruangan sambil menggandeng Hana juga Haikal. Sonya terlihat cantik mengenakan gaun putih yang sewarna dengan baju Hana. Sedangkan Awan mengenakan pakaian dengan warna dan bentuk yang hampir sama dengan Haikal. Mereka berempat terlihat sebagai sebuah keluarga yang utuh dan bahagia. Hmm ... bukan, bukan terlihat namun memang pada kenyataannya mereka sangat bahagia. Para tamu undangan mendekati Sonya dan Awan untuk memberikan ucapan selamat karena pernikahan itu berkonsep di mana pengantin tidak diam di pelaminan tapi, bergerak mendatangi para tamu undangan yang ada. Sonya dan Awan mendatangi beberapa teman, rekan sejawat, saudara dan juga kolega. Mereka berbincang tipis dan saling berbasa basi, selama itu pula Awan sama sekali tidak melepaska
"Om Puad." Tubuh Awan sedikit bergetar saat melihat lelaki yang sangat membenci dirinya, entah mengapa dirinya langsung berubah menjadi mode siaga. Rasa-rasanya jantungnya berdebar sangat keras akibat kehadiran Fuad di acara pernikahannya itu.Mengapa Fuad harus datang ke acara pernikahannya? Apakah ia memberika undangan pada Fuad? Atau Fuad dan keluargnya merengsak masuk ke acaranya sebagai tamu tak di undang? Awan memanjangkan lehernya untuk melihat keluarg Fuad yang sedang berada di belakangnya, bahkan ia biasa melihat Intan dan Selena yang sedang tersenyum sambil melihat kedua anaknya yang sedang berbincang dengan saudara-saudaranya.Jantung Awan makin tak karu-karuan melihat pemandangan itu, semua pikiran buruk dengan cepat menghantamnya tanpa ampun. Perasaannya langsung terasa tidak enak karena ia merasa kalau acara pernikahannya akan sedikit rusak dengan kehadiran Fuad! Ayolah, siapa yang mengund—"Hai ... Om."Pikiran Awan seolah berhenti saat mendengar suara Sonya dan mendap
"Kamu yakin Hana dan Haikal mau ngobrol sama saya?" tanya Namira waswas karena ia ingat terakhir mereka bertemu Haikal hampir menendang Fuad karena tidak terima Sonya di maki-maki. Sonya menoleh melewati bahunya dan melihat Awan yang berbincang dengan Fuad, ada rasa berdebar melihat mereka berdua. Sonya takut kalau Fuad tantrum dan membuat ulah, walau dalam hati kecilnya ia sadar kalau Fuad tidah akan melakukan hal seperti itu di tempat ramai yang bisa menjatuhkan harga dirinya. "Eh ...." Sonya merasakan tepukan di bahunya dan menyadari kalau Namira sedang menepuk bahunya pelan."Tenang, suami saya nggak akan buat ulah." Namira yang seolah paham dengan apa yang sedang Sonya pikirkan mencoba menenangkan Sonya dengan tepukkannya. "Suami saya ingin berdamai dengan Awan, kami ingin mengurus Hana dan Haikal bersama. Mungki—""Mommy ...." Sonya kaget saat tangannya di tarik dan lagi-lagi pipinya di kecup cepat oleh Haikal. "Iya, Sayang kenapa?""Kenapa ada Tante itu?" tanya Hana yang sud
"Sonya ...."Sonya menoleh dan mendapati Miska sedang berdiri di belakangnya, sebuah senyuman terlihat di wajah Miska yang entah mengapa terlihat lebih redup namun, masih menyisakan guratan kecantikannya. Gadis muda yang dulu merebut kebahagiaannya dengan pongahnya sekarang sedang berdiri dan menatapnya dengan keadaan yang sangat berbeda.Entah mengapa, mungkin Sonya boleh menyombongkan diri tapi, melihat keadaan Miska sangat berbanding terbalik saat dahulu masih menjadi selingkuhan Emir, saat ini setahu Sonya, Miska sudah menjadi istri Emir.Apakah ini adalah kutukan bagi semua istri Emir yang akan berubah menjadi lebih menyedihkan saat menjadi istrinya? Seolah sari-sari kebahagiaan miliknya diambil dan hanya menyisakan bagian terburuknya saja? Entahlah ... Sonya tidak mau berspekulasi karena Sonya pernah ada di posisi Miska dan dia tahu betapa senewennya mengurus Emir dan dia bersyukur saat ini Awan bukan lelaki yang bisa membuat dirinya darah tinggi."Miska.""Hai, Sonya ... ehm ..
"Kamu kenapa tadi nangis?" tanya Awan sambil melihat Sonya.Sonya melirik Awan yang sudah duduk dihadapannya. Tadi, setelah membuang surat dari Emir memang Sonya menangis beberapa saat di dada Awan dan menolak untuk menjawab pertanyaan Awan. Sonya melirik ke arah lantai di mana ia membuang surat dari Emir dan tersenyum lega saat melihat surat itu sudah tidak ada di sana lagi, Sonya yakin tadi surat itu sudah disapu oleh petugas kebersihan."Aku hanya bahagia," ucap Sonya pelan sambil tersenyum pada Awan. Ia merasa kalau surat tadi tidak perlu ia bahas bersama Awan, biarkan itu menjadi rahasia kecilnya yang tidak perlu Awan ketahui. Toh, Sonya yakin Emir tidak mungkin tiba-tiba mendatangi dirinya dan menculiknya. Sonya yakin setelah Emir keluar lelaki itu akan fokus pada keluarga kecilnya dan sedikit demi sedikit melupakan dirinya atau entahlah ... Sonya tidak peduli. Dia hanya bersyukur dan sedikit terhibur atas omongan Emir pada dirinya, ternyata mantan suaminya itu sangat menyesal
Awan berjalan di lorong hotel dengan kesal karena ia sadar kalau malam ini dia tidak bisa bermesraan dengan Sonya akibat penjajahan kedua anak kembarnya yang saat ini saja sudah menculik Sonya ke dalam kamar semenjak 30 menit yang lalu. Dengan kesel ia menekan tombol lift, sesekali ia melihat ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang lagi di sana. Acara pernikahannya sangat sukses dan berjalan dengan mewah, banyak rekan sejawat Sonya yang kaget saat mengetahui siapa Awan sebenarnya. Rasanya Awan ingin berteriak penuh gegap gempita saat beberapa dokter dan perawat yang dulu memandang dirinya sebelah mata dan tadi mereka datang ke acara pernikahannya langsung menunjukkan ekspresi tidak percaya akan statusnya. Iya, benar kata Aki Ben lebih baik dia diam saja dengan statusnya, walau Aki Ben itu Kakek dari samping atau adik Aki kandungnya tapi, tetap saja pandangan akan dirinya akan berbeda dan menjadi bias. Detik ini Awan merasakan sebuah privilage dari nama Kurniawan, tapi, dia
Awan dengan cepat melepaskan pakaiannya, ia melemparkan semua pakaian yang menempel di tubuhnya sembarangan, ia tidak peduli nanti pagi akan mendengar ocehan Sonya tentang pakaian miliknya yang berserakkan. Ia kesal karena harus tidur sendiri di malam pertamanya, harusnya ia bisa tidur bersama Sonya. Memeluk wanita itu dan mendengar suara Sonya yang merintih dan meminta ampun di bawah kungkungan tubuhnya berkali-kali sepanjang malam.Bukan seperti saat ini, di mana ia berjalan sendirian ke dalam kamar mandi. Iya ... situasinya sama seperti yang ia bayangkan beberapa hari ini. Berjalan ke kamar mandi dalam keadaan telanjang tapi ... keinginannya adalah bersama Sonya bukan berjalan sendirian tanpa ada wanita yang bisa ia gagahi di dalam kamar mandi. Ah ... sudahlah, mungkin ini nasib pria yang sudah menikah dan memiliki dua orang anak yang sangat suka menjajah mommynya. Menyebalkan.Awan terus berjalan, ia membuka pintu yang menuju tempat shower dan menatap kesal pada bathtub berukuran
Awan mengerang saat merasakan hisapan dan kecupan yang Sonya lakukan di kejantanan miliknya, rasa nikmat dengan cepat meledak dan memecut birahi Awan hingga ia memejamkan matanya. Jemari Awan membelit rambut Sonya hingga menjadi sebuat ikat rambut bagi wanita yang saat ini sedang memenuhi mulutnya dengan bagian paling sensitif miliknya. Kepala Sonya maju dan mundur, sedangkan lidahnya meliuk sempurna sambil meninggalkan jejak sensual yang membenamkan Awan dalam kenikmatan.Tangan Awan menahan kepala Sonya dan tanpa sadar dia menggerakkan pinggulnya menekan kejantanan miliknya, meminta Sonya untuk menerima miliknya seluruhnya tanpa ada yang bersisa. Rasa nikmat menjalar dengan pelan namun pasti keseluruh tubuhnya hingga tanpa sadar ia menarik rambut Sonya. "Sonya ... astaga ... Sonya, kamu ...." Awan tidak bisa melanjutkan perkataannya karena Sonya menekan kejantanannya hingga memasuki mulutnya sedalam mungkin sambil menghisapnya, membuat Awan menahan napasnya sendiri agar tidak mela
Hai semua pembacaku sayang ....Gallon ucapkan terima kasih sudah membaca hingga akhir kisa perjalanan cinta Awan dan Sonya. Sebuah kisah yang pelik, berat dan penuh gairah dari Awan dan Sonya.Kisah yang dimulai dari sebuah pengkhianatan, rasa benci, dan mamaki diri akibat sebuah kekurangan yang menjadikan diri Sonya membenci dirinya dan melupakan rasa dicintai juga mencintai.Sebuah kisah dengan akhir yang manis namun dibalut sebuah kenyataan hidup, sebuah kenyataan yang membuat kita sadar kalau kita hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Secinta apa pun kita pada seseorang ingatlah ada maut yang memisahkan namun, yakinlah maut juga yang akan menyatukan kalian kembali. Cerita ini harus berakhir di sini, cerita manis ini harus berakhir secara sedih namun tetap dibalut senyum bukan sebuah tangis. Cerita cinta Sonya dan Awan tidak akan ada kelanjutannya, semuanya sudah jelas dan mereka sudah sangat berbahagia dengan kehidupannya. Gallon harap semua yang membacanya puas dengan akhir ki
Tit ... tit ... tit ....Suara alat yang memonitor jantung Awan terdengar memilukan di kuping Hana dan Haikal, sudah lima hari mereka berdua berjaga di sana bergantian dan tidak mau meninggalkan Awan, semenjak Awan terjatuh dari kamar mandi."Hana, Haikal bisa keluar?" tanya Daniel melalui celah pintu kamar.Hana dan Haikal saling tatap lalu keluar dari kamar, sebelumnya mereka berdua mengecup kening Awan pelan. Setelah di luar Hana dan Haikal bertemu dengan Daniel dan juga Adara bersama seorang dokter. Mereka tahu siapa dokter itu, dokter itu adalah Dokter Intan, adik almarhum mama mereka."Tante ada apa?" tanya Hana sambil berdiri di samping Daniel, spontan suaminya itu merangkul bahunya pelan mencoba menguatkan Hana."Ada yang salah sama Daddy?" tanya Haikal sambil merangkul pinggang istrinya, mencoba mencari ketenangan dari tubuh istrinya itu.Intan mencoba tersenyum sebaik mungkin walau ia sadar kalau ia tidak bisa menipu Hana dan Haikal yang sudah mengenal dirinya dengan sangat b
Tangan Awan terus bergerak mengelus nisan Sonya, disetiap tarikan napasnya ia merasakan rasa rindu yang menusuk nan sakit. Ia rindu memeluk Sonya, mengecupi tubuh istrinya, dan tidur di samping wanita yang sudah menemaninya selama 37 tahun. Jemari Awan terus bergerak, sesekali terdengar suara tarikan napas berat Awan. Matanya mulai buram akibat menahan air mata yang selalu jatuh ke tanah setiap ia datang ke sana untuk bertemu Janu dan Sonya.Masih segar di ingatannya saat Sonya pergi meninggalkan dirinya di pelukkannya. Sonya kalah dan menyerah pada penyakitnya, wanita itu pergi meninggalkan dirinya tiga tahun lalu. Sonya menyerah pada penykitnya, Sonya meninggalkan dirinya sendirian di dunia. Maut sudah memisahkan mereka, mengakhiri sebuah dongeng cantik nan bahagia yang selama ini Awan dan Sonya rajut. Menikah dengan Sonya adalah sesuatu yang sangat Awan sukai. Setiap harinya selalu Awan lewati dengan perasaan senang dan bahagia, walau ada beberapa kali mereka menemui hambatan ke
37 Tahun Kemudian .....Awan mematut dirinya di depan kaca sambil menarik-narik kemejanya. Ia sesekali tersenyum sambil mengusap-usap bagian rambutnya yang sudah memutih termakan usia. Ia sekali lagi memutar tubuhnya memastikan kalau tampilannya sudah sesuai dengan apa yang ia harapkan.Tangan Awan mengambil parfume yang sudah ia pakai semenjak dahulu kala, seketika itu juga wangi laut menyeruak ke indera penciumannya. Mencium itu semua membuat ia ingat perkataan Sonya kalau menciumnya wangi tubuhnya seolah ia sedang berlibur ke pantai."Sonya," bisik Awan sambil tersenyum kembali ke arah cermin. Ah ... ia rindu pada istrinya, ia rindu pada celotehan istrinya itu. Tanpa sadar pikirannya menghitung sudah berapa lama ia menikahi Sonya. "37 tahun," bisik Awan yang mulai menghitung berapa lama ia sudah menikah dengan Sonya, wanita yang sangat ia cintai hingga masa tuanya itu. Tok ... tok ... tok ....Awan menoleh melalui bahunya dan mendapati pintu kamarnya di buka. Senyumannya melebar
"Mereka tidur di sini," ucap Lidya sambil membuka pintu kamar Tara.Sonya melihat Hana dan Haikal yang tidur di ranjang bersama Tara dan Amia. Terlihat kedua anaknya itu mengenakan piayama yang sama sambil memeluk sesuatu yang mereka bagi, Sonya tanpa sadar tersenyum melihat apa yang anak kembarnya itu peluk. "Aku nggak paham kenapa Hana dan Haikal meluk handuk, mereka tiap tidur selalu meluk handuk itu. Aku sampai sangka itu selimut tapi, aku liat-liat itu ternyata handuk," terang Lidya sambil mengambil tas si kembar yang sudah rapih di pojok kamar. "Itu anduk aku, mereka minta katanya buat mereka bawa." Sonya menahan tawanya sendiri saat mengingat keinginan si kembar, tanpa sadar tangan Sonya mengusap kening si kembar. "Ya ampun, manis banget ... padahal mereka bukan anak kamu secara biologis tapi, manis banget," ucap Lidya sambil mengusap kedua lengannya. "Iya ... aku bersyukur mendapatkan mereka berdua ... aku bersyukur dipertemukan dengan Awan dan diberkahi dua malaikat ini,"
"Bener-bener si kupret!" maki Eka sambil berjalan berlalu lalang di hadapan Lidya yang sedang membaca majalah dan sesekali melirik ke arah Eka.Eka kembali melihat jam yang ada di dinding rumah dengan geram, bagaimana tidak, waktu sudah menunjukkan jam 12 malam di hari senin dan bila jarum panjang jam bergerak sedikit saja maka hari sudah berganti menjadi hari selasa. "Bisa duduk nggak, sih?" tanya Lidya yang akhirnya kesal melihat Eka terus bergerak hilir mudik seperti setrikaan. "Duduk, sini." Lidya menepuk sofa yang ada di sampingnya berharap suaminya duduk di sana dan tenang. Sayangnya keinginannya tidak tercapai, Eka menggeleng sambil kembali hilir mudik dan memainkan ponselnya."Ini kupret satu, kebiasaannya ya Tuhan, dia bilang hari senin ... ini hari senin, bahkan ...." Eka melihat jam dinding dan menyadari jarum panjangnya sudah bergeser. "Udah hari selasa ... dasar manusia tanah sengketa, hobi bener bikin susah orang."Lidya hanya bisa menahan tawanya melihat kelakuan Eka y
Awan mengambil madu dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi menyusul Sonya yang sudah menghilang di dalam kamar mandi. Saat sampai di ambang pintu kupingnye mendengar suara gemericik air dari dalam tempat shower.Langkah kaki Awan terhenti saat ia melihat Sonya sedang membasahi sekujur tubuhnya dengan air hangat yang keluar dari pancuran. Siluet tubuhnya terlihat menggoda, tubuh sintal Sonya seolah meminta Awan untuk menyentuhnya. Napasnya makin tertahan saat ia melihat tangan Sonya menyentuh setiap inci tubuhnya dengan pelan dan sensual, ia suka melihat Sonya menyentuh tubuhnya sendiri, birahinya seolah dipuaskan melalu visual Sonya yang entah bagaimana caranya selalu menjadi magnet untuk dirinya. Sonya berbalik dan mendekati Awan selangkah demi selangkah, seolah setiap langkah yang Sonya lakukan sebagai sebuah tombol yang lagi-lagi membuat pria itu menggemeretakkan giginya menahan hasrat liar yang sudah meronta untuk dilepaskan detik itu juga."Nggak buka baju?" tanya Sonya sambil
"Aku nggak sanggup lagi, Wan," tolak Sonya sambil mendorong piring sejauh mungkin dari hadapannya, perutnya seolah akan meledak karena sudah menghabiskan banyak sekali hidangan laut yang tersaji."Terus ngapain kamu pesen makanan sebanyak ini?" tanya Awan kesal sambil menunjuk hidangan laut yang ada di hadapannya. "Yah tadi, keliatannya enak semuanya jadi aku pesen," kilah Sonya sambil mengambil garpu dan menusuk-nusuk udang yang ada di atas piring. Sonya mengakui kalau makanan itu enak tapi, rasanya perutnya sudah tidak mampu lagi menerima makanan lebih banyak lagi."Terus ini gimana? Aku udah bilang tadi, pesen seperlunya aja, jangan lapar mata, Sonya," ucap Awan sambil melihat meja makannya yang masih terhidang cumi saus padang, udang galah asam manis, kepiting bakar dan juga ikan bakar.Awan ingat tadi saat Sonya memesan semuanya ia sudah mengingatkan Sonya kalau mereka tidak akan mampu menghabiskan semuanya tapi, istrinya ini tetap pada pendiriannya ingin memesan semua makanan y
"Mommy baru sampai, Nak," ucap Sonya sambil duduk di sudut ranjang dan melihat Awan yang terlihat sibuk berbicara dengan petugas hotel."Iya ... Hana, 3 hari aja, Daddy kamu juga bilang tiga hari, kan, kalau lebih nanti biar Mommy yang pulang sendiri dan Daddy, Mommy tinggal di sini," lanjut Sonya sambil menyentuh handuk yang dibentuk angsa di atas ranjangnya. Matanya dengan cepat menyisir keadaan kamarnya, jujur pada awalnya Sonya tidak tau mau di bawa kemana dirinya oleh Awan. "Iya, janji. Udah kamu di sana baik-baik dan jangan nakal. PR-nya kerjain dan tolong, suruh Haikal kerjain PR-nya juga, adik kamu suka lupa diri kalau nggak diingatkan," pinta Sonya sambil mengucapkan beberapa kata perpisahan sebelum memutuskan sambungan telepon dari Hana.Setelah ia menitipkan Hana dan Haikal di rumah Lidya, Awan sama sekali tidak mau mengatakan ke mana mereka akan pergi dan ternyata Awan membawanya ke salah satu resort yang ada di pulau seribu. H island resort.Sonya tersenyum saat berjalan