Sultan terkesiap dan sontak ia pun langsung berdiri dan merebut ponsel milik Rudi. Menatap tajam kearah anak buahnya ini, apakah mungkin dia adalah suruhan Duarto? Dada kembang-kempis menahan marah, lalu tatapannya mencoba untuk menelisik kebohongan di wajah Rudi."Rudi! Ada apa kamu? Kenapa kamu berhubungan dengan Duarto?" kesal Sultan membentak. "Harusnya kamu beritahukan kepada saya dimana Duarto berada, bukan berada dipihaknya dan menjadi mata-mata musuh!" kesal Sultan semakin menjadi-jadi, bahkan ia tidak bisa mengendalikan diri dan langsung mencekal kuat-kuat kerah kaos yang dikenakan oleh Rudi. Sultan langsung berpikir bahwa Rudi adalah seorang mata-mata yang ditugaskan untuk memberikan info. Karena sejauh ini Rudi tidak berbuat hal yang mencurigakan sehingga Sultan pun langsung menganalisa bahwa Rudi adalah mata-mata Duarto. Rudi tercengang kenapa bisa Sultan melihat nama yang ada di panggilan ponselnya? Ya ini memang kecerobohan dia sendiri yang malah mengangkat sambungan te
Rudi tercengang, saat mendengar dari temannya bahwa Sultan benar-benar akan mengeksekusi dirinya. Saat ini tubuhnya dililit oleh sebuah tali tambang dan berada di kursi belakang mobil, dihimpit oleh Farhan dan anak buah yang lain. "Dasar pengkhianat! Bisa-bisanya kamu ingin mencelakai Tuan Sultan. Untung saja Tuan Sultan bisa langsung tau siapa kamu sebenarnya," ucap Farhan kepada Rudi. Rudi hanya bisa kembang-kempis menahan marah. Sebentar lagi ia akan kehilangan nyawanya, dan hanya tinggal menunggu saja. Apa boleh buat, dirinya tidak bisa berkutik lagi karena tubuhnya dililit oleh tali tambang itu, bahkan tidak bisa bergerak sama sekali. Setelah beberapa saat, akhirnya mobil Sultan sampai di desa yang ditujunya. "Pak sopir, berhenti disini," ucap Sultan. Satu jam lagi ia sampai di pedesaan tempat dirinya di besarkan. Namun, Sultan meminta untuk berhenti karena ingin menyelesaikan masalahnya, yaitu Rudi. Sultan menuruni mobil, dan kedua mobil bodyguard Sultan pun ikut turun bers
Pak Erickson merasa bahagia jika memang Diki sudah berhasil jaya. Bahkan sudah menjadi seorang miliarder, ia pun langsung meraih tangan Diki dan mencoba untuk menariknya. Ingin mengajak Diki pergi ke rumahnya, tapi bodyguard Diki itu langsung agresif melihat tangan atasannya di tarik seperti itu dan langsung menjadi penghalang diantara tubuh Sultan dan Pak Erickson. "Hentikan, Farhan," ucap Sultan kepada Farhan yang hendak menyerang Pak Erickson. "Mereka semua adalah warga baik, jadi jaga perlakuan kalian dan setelah sampai sini saya tidak ingin dikawal lagi," ucap Sultan kepada sembilan pengawalnya. "Tapi Tuan, ini tugas kami. Jadi, tolong—""Kamu ingin saya pecat," sargah Sultan, membentak kepada semua bodyguardnya yang kukuh ingin mengawal. "Disini saya aman karena warga sini baik, tidak ada yang perlu dicemaskan karena semua orang sini baik-baik," ucap Sultan memandang semua wajah warga kemuning yang dirindukan. "Wah walaupun Diki sudah menjadi orang kaya, tapi hatinya tetap
Pak Erickson memang tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi, tapi ia berusaha untuk terus mencerna perkataan dari mereka berdua. Sultan menangkup kedua pipi milik Bi Ina, "Berbohong apa? Bibi melakukannya karena ingin melindungiku, 'kan!" Bi Ina mengangguk, lalu matanya terpejam dan hal itu membuat Sultan kembang kempis takut kalau hal buruk terjadi kepada Bi Ina."Bi … Bibi … apa yang terjadi? Buka mata Bibi!" teriak Sultan merasa panik. Pak Erickson langsung berjongkok untuk mengecek kondisi urat nadi milik Bi Ina. Memegang tangan dan menekan urat nadi itu, rupanya Bi Ina hanya pingsan saja. "Bi Ina pingsan, Dik," ujar Pak Erickson. Seketika Sultan bisa kembali bernafas lagi, sebelumnya nafasnya terasa terhenti melihat kondisi Bi Ina, pemikiran yang buruk pun menerpa, lalu ia tidak bisa membiarkan bibinya sakit-sakitan seperti ini. Maka ia pun langsung menghubungi nomor Farhan untuk menjemput Bi Ina. Ia berniat untuk segera pergi membawa Bi Ina ke kota agar bisa mendapatka
Dengan pemikiran yang kalut dan hati yang hancur. Membuat Sultan emosi menggebu-gebu, tidak bisa berpikir hal lain lagi dan ia langsung menarik tangan Mahira agar tubuhnya bisa menghadap. "Kamu mengkhianati aku, Mahira? Kenapa kamu bisa melakukan ini?" tanya Sultan membentak, marah dan begitu kecewa. Mahira mencoba melepaskan cekalan tangan Sultan, air matanya terus turun seperti arus sungai yang tidak berhenti mengalir. "Siapa yang kamu nikahi? Siapa yang telah berani menikahi dirimu?" tanya Sultan kesal nafasnya memburu dan wajahnya terlihat merah seperti sebuah cabai matang. Ia begitu murka dan membuat Mahira jadi ketakutan untuk berucap. "Nat … nat-ta …," jawab Mahira terbata karena sambil terisak dan menangis serta takut menghadapi emosi dari Sultan."Nata? Pria yang sudah bujang lapuk itu? Kenapa kamu menikah dengannya Mahira? Kenapa?" begitu frustasi sehingga Sultan pun meremas rambutnya sendiri dengan kasar. Menjerit tidak karuan yang jelas saat ini ia sedang terluka."Den
Begitu terpukul, Sultan mengemudikan mobilnya sendiri karena tidak ingin dikawal oleh sopir pribadi atau bahkan para bodyguard. Ia meminta agar bodyguard tidak mengikuti dia dan meminta mereka untuk membawa Bi Ina pergi ke rumah sakit terdekat. Sambil mengemudi ia terus saja membenturkan kepalanya ke stir mobil, ia masih merasa kecewa dan tersesak akan kenyataan yang telah mengkhianati dirinya. Bahkan ia pun membawa Rudi untuk memberikan Rudi hukuman. Hatinya saat ini sedang terpuruk, sehingga ia tidak mempunyai rasa kasihan juga ingin menghabisi seseorang. Ya, berhubung ada Rudi yang harus diberikan hukuman, jadi ia putuskan untuk mengeksekusi Rudi di tempat sepi dekat hutan sini. Ini waktu sudah malam dan Sultan pun langsung menghentikan mobilnya untuk menghabisi Rudi di tempat sepi ini. "Tuan, tolong kasihani saya, saya punya anak dan istri," mohon Rudi berharap kalau Sultan akan kembali mengasihani dia. Sultan tidak mendengarkan ucapan itu, ia langsung saja membuka pintu mobil
Sultan berjongkok, lalu ia menoleh ke arah suara tersebut. Tidak asing ditelinga dan ia sering mendengar suara itu. Namun, pertanyaannya adalah, kenapa mereka ada di sini? Jauh dari kota Angkita? "Rupanya kau ingin mati ya, Sultan?" tanya Hachiro dan Duarto yang saat ini sedang berada didepan Sultan. Mereka berdua berdampingan dan sama-sama berkacak pinggang. Lalu, dibelakang mereka terlihat ada lima orang anak buah Hachiro dan Duarto. Wajah Sultan terlihat begitu memilukan, dan hal itu membuat Hachiro dan Duarto menertawakan.Sultan merasa keheranan akan keberadaan Hachiro, tapi ia tidak bisa berkata-kata karena yakin mungkin waktu itu Hachiro bisa selamat karena lompat dari arah jendela. Sultan langsung menganalisa."Lihat aku, Sultan. Sudah berapa kali kamu mencoba untuk melenyapkan aku, tapi aku tetap selamat. Aku bisa melarikan diri dari maut karena Tuhan ada dipihakku! Aku bukan orang sembarangan," ujar Hachiro berbangga diri. "Ada apa? Kenapa kamu terlihat hancur? Apa karena
Satu … dua … Mereka semua sudah bersiap, ancang-ancang untuk melempar tubuh Sultan ke jurang tersebut. Namun, disamping itu ada Hachiro dan Duarto yang sedang berseteru. "Kamu sih yang selalu rekomendasikan anak buah tol*l!" kesal Duarto. Ia merasa kesal karena tersulut emosi dari Hachiro sendiri yang mengatakan kalau 'percuma membayar jasa kalau kita sendiri bisa menghadapi.'"Bos, sendiri yang selalu meminta agar kita mencari anak buah? Rupanya tanpa anak buah kayaknya kita akan berhasil juga," sahut Hachiro, entah mengapa Hachiro terus saja berbangga diri dan memikirkan uang yang sayang telah mereka kasih kepada anak buahnya. Karena sempat merasakan hidup tanpa uang, membuat Hachiro berpikir pelit. Padahal dulu ia sangat suka menghambur-hamburkan uang, bahkan untuk melangkah saja harus ditemani pengawal yang bayarannya fantastis. Namun, sekarang beda lagi, hanya karena melihat anak buahnya hampir kalah oleh serangan Sultan, dan ia sudah berhasil melumpuhkan Sultan dengan tangann
Sultan menjelaskan semuanya tentang bagaimana dia bisa mempunyai anak dari Mahira."Mama sungguh tidak menyangka dengan apa yang telah kalian lalui. Kalau memang begitu baiklah. Mama justru bahagia karena rupanya Mama sudah mempunyai cucu sekarang ini," ucap Anara, lalu mencoba untuk membujuk Dirly agar mau untuk dia gendong. Dirly pun yang memang dibujuk oleh Anara langsung tertawa dan tersenyum. "Dirly anak Papa, itu Nenek sayang. Kamu digendong ya sama Nenek," ucap Sultan. Anara begitu terharu karena Dirly mau untuk dia gendong. Walaupun sebenarnya dia merasa cemas akan publik kalau sampai mengetahui tentang semua ini. "Mama, tolong jangan banyak pikiran. Mama bahagialah karena urusan publik biar Sultan yang atur."Sultan tahu apa yang membuat mamanya cemas, dan bisa melihat dari raut wajah sang mama tadi, pasti dia bahagia akan adanya Dirly. Namun, cemas bagaimana cara memberitahukannya kepada publik."Kamu selalu bisa mengatasi masalah. Mama tahu kamu bisa mengatasi semua ini
Apa ini, gadis ini ingin memeluk calon suaminya? Mahira dibuat geram dengan apa yang diminta oleh Dewi. Namun, Sultan pun malah mewujudkan permintaan Dewi dan langsung memeluk gadis itu dengan lekat dan senyuman mengambang. "Jadilah anak yang baik, Dewi. Turuti perintah ayahmu," ucap Sultan berbisik di telinga gadis itu. Lalu, Sultan pun melepaskan pelukannya. "Makasih, Aa Sultan sudah mau memeluk Dewi. Kalau begitu, sekarang kalian boleh pergi. Semoga kalian selamat dalam perjalanan." Bi Ina pun langsung tersenyum ke arah Dewi dan mengusap pucuk kepalanya. "Semoga segera mendapatkan seorang jodoh." Do'a Bi Ina kepada Dewi. Lalu, Sultan, Bi Ina, Robbie dan Mahira pun memasuki mobil dan mereka pun berangkat pergi.Saat berada di dalam Mobil, Dirly yang sedang berada di pangkuan Mahira itu pun menangis. "Cup … cup … cup, kenapa anak papa ini?" tanya Sultan kepada Dirly yang terus merengek, mungkin karena ingin mendapatkan Asi. Sedangkan Mahira ia yang duduk di kursi belakang, be
Melihat wajah itu … wajah mungil dan polos yang semua merah merona membuat hatinya terhenyak. Sultan begitu bahagia ketika mengetahui kalau dia sudah menjadi seorang ayah. "Mahira …," ucap Sultan. Lalu, dia mendekatkan wajah Mahira untuk dikecupnya. Cup …."Aku sangat bersyukur karena kamu telah memberikan buah hati yang begitu tampan untukku," ucap Sultan."Tadinya aku tidak akan membiarkan kamu tahu kalau putra kita ini adalah putramu," ucap Mahira tersenyum pahit. Sultan tercengang kenapa Mahira sampai berniat seperti itu?"Apa maksudnya? Kenapa kamu mengatakan itu?" tanya Sultan. "Karena aku kesel kamu sudah menikah dan aku kecewa saat kamu tidak mau mendengar penjelasan dariku," terang Mahira. Ayah Mahira bertepuk tangan dan mengejutkan semua orang yang ada disana. "Sudahlah … ayo kita bergembira dengan apa yang sudah terbongkar ini," sambung Joko. Sultan pun tersenyum, dia bahagia karena Joko sudah mulai bersikap ramah terhadap dia. 'Bapak senang akhirnya kamu bisa bersa
Meraih tubuh itu dan mendekapnya dengan erat. Sultan berhasil mengejar Mahira dan memeluknya. "Tolong jangan pergi, aku sangat tersiksa hidup tanpamu," ucap Sultan. Memeluk tubuh wanitanya dari belakang. Mahira terisak pilu, "rasanya aku tidak mau kalau harus menerimamu lagi. Aku kesal karena kamu tidak mau mendengarkan penjelasan dariku," balas Mahira dan berusaha untuk berontak. "Apa yang bisa aku lakukan agar kamu mau menerimaku?" tanya Sultan serius. "Aku tidak tahu! Pokoknya kamu pergi dari sini sekarang juga," bentak Mahira, dan langsung melepaskan tangan Sultan yang berada di perutnya. "Apalagi kamu sudah menikah! Untuk apa datang lagi kemari," ucap Mahira dan langsung berlari begitu saja membuat Sultan kecewa dan terluka hati. ***Sultan menghubungi Bi Ina dan memintanya untuk pergi ke desa Kemuning. Sultan ingin agar Bi Ina membantu dia mendapatkan Mahira. "Bi, tolong bantu yakinkan dia bahwa aku tidak menikah dan semua yang telah aku lakukan itu adalah pura-pura," ucap
Semua terkesiap melihat Rapika yang sampai membanting sebuah gelas sampai pecah di bawah lantai. "Ada apa, Rapika?" tanya semua orang menatap Rapika yang tubuhnya terlihat sedikit gemetaran. "Ah … Ma-maaf. Rupanya saya tidak sengaja karena tubuh saya tiba-tiba saja menggigil seperti ini," ucap Rapika. Rupanya Rapika ada niat untuk berpura-pura sakit, agar Sultan dilarang pergi oleh Anara karena harus menemaninya yang tidak sehat. "Apakah kamu sakit, Rapika?" tanya Anara terlihat cemas. Sultan menatap Rapika dan langsung saja berdiri dari tempatnya kini. "Ma, waktunya sudah mulai mepet. Sultan akan pergi sekarang," potong Sultan. Tanpa mau lama-lama lagi, Sultan ingin segera pergi. "Kamu ini kenapa? Lihat dulu kondisi istri kamu, tolong jangan pergi–""Ma, ini penting. Sultan harus segera pergi. Lagian disini banyak yang akan menjaga Rapika. Ada Bi Ina dan Maid yang lain, juga ada Mama kan." "Kamu benar juga, Nak. Yasudah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik ya." Anara pun mengi
Begitu mengejutkan, Sultan tidak menyangka kalau Bi Ina ada di dalam kamar dan mungkin mendengar apa yang sudah dia katakan kepada Rapika. Bi Ina terdiam, sungguh tidak menyangka kalau Sultan masih belum bisa melupakan Mahira dan melakukan pernikahan pura-pura. Rapika hanya bisa menunduk ketika Sultan mengetahui keberadaan Bi Ina. "Jadi, kalian pura-pura menikah?" ucap Bi Ina. Sultan langsung saja menghampiri Bi Ina dan memegangi kedua pundaknya. "Bi, tolong jangan bocorkan rahasia ini," mohon Sultan. Entah sampai kapan dia tidak ingin semuanya terbongkar. Namun, tidak sekarang karena Sultan takut membuat Anara kecewa. "Kamu ini kenapa? Selama ini Bibi tidak pernah mengajarkan kamu berbohong!" kesal Bi Ina. Apa yang dilakukan oleh Sultan ini sepenuhnya salah dan pasti akan menjadi bumerang untuk semua orang. "Sultan tahu kalau ini salah, tapi Sultan melakukan ini karena ingin membuat Mama bahagia," terang Sultan. "Memangnya kamu pikir Nyonya Anara akan bahagia, dibohongi ole
Sultan emosi ketika ia hendak pergi ke dapur untuk menghampiri Bi Ina. Tiba-tiba saja dia melihat Rapika yang sedang berduaan di taman belakang Mansion. "Kamu itu berani-beraninya ya?" ucap Sultan yang sedang mengangkat tangan kepada Rapika. Rapika mendongak sambil menyembunyikan pacarnya di belakang dia. "Perjanjian kita ini berakhir sampai kapan, Pak? Saya butuh belaian. Jadi, kalau memang Bapak tidak ingin menyentuh saya, Ya Sudah, biarkan saya bersenang-senang dengan pacar saya," ucap Rapika mulai berani. Sebenarnya Rapika sangat menginginkan Sultan, tapi sayangnya Sultan sama sekali tidak pernah melirik dirinya. Hanya menjadikan dia sebagai istri pura-pura dihadapan orang. Jadi, Rapika pun berniat untuk membuat Sultan cemburu, sehingga sampai menyewa pacar pura-pura dan ia sengaja berduaan di saat ada pesta seperti ini. Karena ingin tahu seberapa besar rasa cemburu Sultan terhadap dirinya. "Kamu ini Rapika! Terserah saja jika kamu ingin dibelai siapapun. Tapi tolong jangan s
Mahira dengan seksama melihat acara berita tersebut. Sungguh ia menanti akan sorot wajah Sultan yang ingin ia lihat. "Hanya Pak Wisnu yang disorot. Kapan Sultan ya?" gumam Mahira tidak sabar. Setelah beberapa saat ….(Setelah perusahaan Velopmant Group sukses, Sultan Mahesa pun menjalankan bisnis pertambangan terbesar di negeri Plrvo.)Terlihat wajah tampan dengan hidung mancung dan mata hazel sedang berdiri di dekat perusahaan Velopmant Group. Dia berdiri dan menyambut para wartawan yang ada di depan perusahaan itu. Mahira pun yang melihat tampang sempurna itu langsung menelan salivanya sendiri, rupanya wajah Sultan terlihat begitu sempurna. Balutan jas formal kelas atas yang mengkilap menempel pada tubuh maskulin miliknya. Tiba-tiba saja Plep …."Apa-apa ini, Mahira? Aku tidak boleh jatuh cinta lagi kepada pria itu. Pria yang tidak mau mendengarkan penjelasan dariku."Mahira mensugesti dirinya sendiri dan langsung mematikan televisinya. Dia ingat pada saat terakhir kali berte
Senyuman indah mengambang dengan sempurna karena melihat sang putra yang sudah mulai berjalan. "Kamu tumbuh dengan baik, Nak," ucap Mahira yang sedang membantu sang putra belajar berjalan. Begitu bahagianya Mahira melihat pertumbuhan Dirly putranya dengan cepat. Walaupun tanpa dampingan suami dalam hidupnya. Mahira tetap bisa membesarkan sang putra sendirian. Juga, saat ini Mahira menjalani bisnis ekspor ikan patin yang diternak oleh juragan Joko ayahnya. Mahira langsung merangkul tubuh Dirly dan menjulangkannya ke atas. Sehingga bayangan bayi mungil itu berada di atas wajahnya, bahkan Dirly pun tertawa dengan begitu riangnya."Dirly, putraku. Bunda yakin kalau kamu akan menjadi hebat seperti ayahmu," ucap Mahira yakin. Lalu, ia pun menggendong Dirly yang masih tersenyum menunjukan kedua giginya yang baru tumbuh. Usia Dirly saat ini adalah satu tahun lebih. Dan satu tahun ini Mahira masih menyembunyikan kebenaran tentang Dirly. Namun, ada beberapa orang yang terheran-heran den