“Kalau Mas Harsa belum gila ya tetep dilanjut!” celetuk Ayu.
“Ya ampun, Sayang!” Harsa tak henti-hentinya mengusap perut Ayu.“Ihhh, Mas! Aku pengen marah kenapa Mas tetep pegang sih!” seru Ayu.“Karena kamu istimewa buat saya,” jawab Harsa.Ayu keluar kamar dan menghampiri Aliza beserta Alifa. Mereka asyik bermain bola-bola kecil. Keduanya tumbuh menggemaskan dan sangat cantik.“Bun Ay!” pekik Alifa.“Boya,” kata AlizaAyu mengabaikan Harsa yang mencoba untuk mengajaknya bicara dan mengalihkan untuk berbicara dengan kedua anak kecil tersebut. Melihat istrinya demikian, Harsa membiarkan terlebih dahulu untuk menenangkan dirinya melalui cara berkomunikasi dengan anak kecil.Tidak marah dan juga tidak resah terhadap sikap Ayu yang demikian. Setiap orang punya ruang tersendiri untuk mengekspresikan apa yang ia rasakan. Arsa juga tidak boleh egois dengan mengatasnamakan di“Maaf, mommy belum bisa Sayang. Sini peluk aja ya Aliza Alifa!” Nyiur menadahkan tangan.“Mommy, Mommy!” racau Aliza dan Alifa.Kembar cantik itu tersenyum menatap Nyiur. Beberapa kali mereka mencoba memegangi dan mencium minuman terlezatnya dari luar baju. Hanya saja, Nyiur benar-benar belum bisa melakukan. Bahkan untuk memeluk seperti ini saja, Nyiur menahan risih dan takut yang masih luar biasa.“Sayang, kita main di luar dulu yuk! Mommy mau istirahat,” kata Harsa.Ia tidak tega melihat Nyiur yang sudah terlihat kesakitan. Nyiur terlihat sekali menahan hal tersebut sekalipun aslinya sangat tidak kuat. Daripada nanti Nyiur pingsan lagi, Harsa harus lebih siaga dalam memperhatikan sang istri.Harsa dan kedua putrinya bermain di luar, sedangkan Ayu tetap menemani Nyiur yang
Bayangan Harsa mengenai foto Nyiur yang ditelanjangi oleh Zaheer teringat kembali. Ingin rasanya Harsa menghabisi saudara kandungnya itu. Namun, ia harus lebih bersabar dan menjalankan misinya berpura-pura amnesia dengan baik. “Menyindir? Memangnya kamu pernah melakukan hal tersebut?” tanya Harsa. “P-pernah,” jawab Zaheer. “Apa? Melukai hati Nyiur dong! Yang penting sekarang sudah tobat kan?” Harsa mrnampilkan wajah kaget luar biasa. “Ya kayak gini sih, tetep aja,” jawab Zaheer. Zalfa dan Zulfikar tidak lupa selalu mendoakan Zaheer supaya bisa sadar. Trik yang dipakai Harsa saat ini adalah menggunakan kutipannya yang bagian, nama adalah bagian dari senjata. Faktanya, memang setiap orang tua tidak sembarangan dalam memberi nama. “Oh ya? Kamu pernah mikir nggak kalau itu menyakiti Nyiur? Dia orang yang kamu cintai, tapi justru kamu sakiti. Ahhh payah! Sekarang sembuhin ya Kak Heer? Saya paling tidak tega lihat perempuan tersakiti,” ungkap Harsa. “Ya lo bisa bayangin
“Sayang!” Nyiur segera mendorong Harsa. Namun, dua bukit ratu itu tetap terbuka. Aliza terlalu cepat naik ke atas ranjang saat Nyiur hendak menutup. Diakui mereka memang kepergok bahwasannya Harsa sedang meremas kedua bukit ratunya Nyiur. Hanya saja beruntungnya Aliza hanya mengerti kalau Harsa sedang menyentuh karena terlihat dari belakang, jadi Harsa masih bisa cepat menghentikan. “Yeey, udah dibuka! Emang Papa suka minum susunya Mommy juga?” tanya Aliza. “Eng-enggak Sayang, Papa kan sukanya minum kopi. Kalau yang ini khusus Aliza sama Alifa. Tadi itu di susu bunda kayak ada semutnya Nak, Papa tuh lagi nyari biar nggak jadi menggigit.” Harsa beralih beberapa kali mengecup dan mengganggu putrinya yang kini mengemut bukit ratu tersebut. “Papa jangan gangguin Aliza iih! Gak baik gangguin bayi cantik sedang minum!” Nyiur menahan wajahnya Harsa yang iseng dengan sang putri. *** “Sayang.” “Hmm.” Harsa berbisik merdu di depan bibir seksi sang istri. Tidak bisa dipungki
"Mas, jangan nanya gitu Nyiur nggak suka!" tolak Nyiur. Cupp. Harsa kembali mengecup kening Nyiur lagi. "Iya-iya, tidur kalau begitu." *** "Cantik, bagaimana? Pengen sekarang apa besok aja?" tanya Harsa. "Besok aja ya Mas biar fitnya full. Nyiur pengen curhat sekarang," ucapnya dengan manja. "Oke, Sayang, tapi boleh cium dulu kan?" Harsa meraba bibir Nyiur. "Boleh, Mas." "Jadi kepikiran dan kebawa mimpi pertanyaan Mas semalem," kata Nyiur. "Sayangku mimpi gimana?" tanya Harsa. "Berasa nyata. Aku tuh lagi kayak dibawa ke masa lalu," kata Nyiur. "Masa lalu yang indah?" GLEK GLEK Terlebih dahulu Harsa minum air putih yang tiba-tiba sudah tersedia, padahal tadi waktu mau tidur tidak ada. Tidak lupa mengucapkan Terima kasih dulu terhadap sang istri. "Sebelumnya aku masih heran, kenapa orang lebih menguatkan nafsu daripada cinta?" tanya Nyiur. "Nafsu dalam arti yang mana ini? Nafsu yang ada kaitannya dengan ... seksual?" Harsa membenahi posisi dudu
“Mas Harsa jangan kayak gini. Ayu tuh lagi hamil besar, jawab dulu. Itu ada telepon dari Ayu Mas!” pintar Nyiur. “Kamu halu ya Sayang? Orang nggak ada telepon sama sekali,” kilah Harsa. “Mas!” Nyiur mendorong Harsa yang masih menindih tubuhnya. Ia seger mengambilkan ponsel Harsa dan memperlihatkan bekasnya. Tanpa persetujuan Harsa, Nyiur kembali menelepon Ayu. Tidak mungkin telepon dari Ayu hanya iseng jika dalam keadaan malam seperti itu. Harsa: “Halo Ay, ada apa Ay? Maaf Mas Harsa telat mengangkat telepon.” Ayu: “Nyiur, perut aku sakit banget. Aku nggak jadi tidur ditemenin Mama soalnya waktu mau panggil Mama semalam itu … aku dengar suara desahan dari depan kamar Mama wkwk. Ya udah gak mau ganggu.” Harsa: “Aku sama Mas Harsa segera ke kamar kamu..Hahahaha, Mama sama Papa masih effort juga.” “Ay, Ayu Sayang!” Harsa segera mengecup dan mengelus perut besar Ayu yang kini wajah Ayu sedang mering
“Waduh, kesindir aku!” celetuknya. “Maaf gak bermaksud, itu memang nada dering yang aku atur setiap jam segini.” “Hahaha, iya gak apa-apa. Kami sadar salah kok, emang kita mencari kelegaan dengan langkah pacaran, tapi gimana lagi? Kita nggak mau putus, habis aku sangat terpesona dengan ketampanannya,” kata orang itu. “Nikah aja Mbak hehe,” jawabku. – Nyiur teringat mengenai penjelasan perbedaan hati dan ruh yang dijawab oleh sang suami waktu itu yang mana hati dan ruh itu beda. Teringat juga dengan pertanyaan suaminya barusan sebelum tidur mengenai apakah saat pertama kali mencintai sang suami diiringi dengan syahwat? Ruh untuk menghidupkan, sedangkan hati untuk memutuskan. Lalu hawa nafsu itu memiliki sifat candu dan kepo luar biasa. Dari yang awalnya hati hanya berbisik bahwa untuk mencoba maksiat dengan menatap, nanti pendengarannya iri ingin ikut maksiat juga, tidak berhenti di situ lanjut ke kaki dan tangannya yang tidak mau kalah. Itulah mengapa dalam Al-Quran ad
Delapan belas tahun kemudian “Abi, Kakak ke mana? Kok nggak ada?” tanya Alil. “Kakak siapa Sayang?” tanya Harsa.“Kak Aliza, Bi. Tadi ngajak Alil belajar, tapi sekarang hilang.” Lima tahun setelah proses lahiran Ayu yang Alhamdulillah lancar, sekarang rumah mereka berbeda-beda antara Ayu dan Nyiur. Akan tetapi, rumah tersebut tetap berdekatan. Sekarang Aliza dan Alifa sudah berusia 20 tahun. Sedangkan Alil dan Alif yang merupakan putra pertama atas pernikahannya dengan Ayu itu berusia 18 tahun. Sekarang ini mereka berempat sedang pulang dari pesantren masing-masing. Saat ini hunungan keluarga itu semakin cerah saja. Bahkan beberapa bulan yang lalu mereka menghadiri acara yang telah dirancang dari lama yaitu mengenai novel Nyiur yang sempat dipinang oleh Malaysia novel Nyiur yang sempat dipinang oleh Malaysia. Itu novel yang bagian sekuelnya yang kedua kalinya novel Nyiur beserta tat busananya Ayu tampil di
“Ya ngomong apa adanya. Saya orangnya males ribet,” jawab Yudhis. “O-om! Ya gak bisa segampang itu? Entar kalau Papa mints kita nikah beneran gimana? Apa tuh excited banget jag anak-anaknya supaya punya batasan!” Aliza memonyongkan bibir sembari mengecek ponselnya yang sedari tadi menunggu balasan chat dari Alifa. “Ribet banget, ya udah tinggal ucap saya terima nikah dan kawinnya Alifa Hafiyya—” goda Yudhis tersendat karena mulutnya ditutup pakai buku. “Ihhhh emangnya nikah semudah itu! Pernikahan kok dibuat mainan!” celetuk Aliza. *** Alifa: “Kak😭. Woiii ngapain peluk Om Ganteng!” Aliza: “Kakak lagi darurat. Jangan fokus ke foto. Baca caption-nya buruan! Pokoknya kamu harus bantu kakak nggak dimarahin Daddy😌, ini bukan kesengajaan.” Alifa: “Keberuntungan sih Kak menurutku.” Aliza: “Zaaaaa! Kakak nerveoes banget, k
Harsa: "Aman, Sayang. Kamu di belakang saja sama Nyiur." Ayu: "Huuh, iya-iya!" Harsa: "Hehe, bentar ya Sayang ya." Sejatinya, poligami itu pilihan. Pilihan yang bergantung pada kejadian apa yang menyebabkan diri tersebut harus, wajib, atau tidak dianjurkan poligami. Dalam Al-Qur'an memang poligami itu diperintahkan, Nabi Muhammad juga melakukan, tetapi tidak sekedar perintah mentah yang tak mempunyai syarat dan ketentuan. Dalam surat An-Nisa', poligami diperintahkan sampai maksimal empat, salah satu syaratnya yaitu dengan syarat adil terhadap para istri dan itu pun di ayat selanjutnya dipertegas bahwasannya laki-laki tidak akan bisa adil terhadap istri-istrinya. Itu artinya, poligami sifatnya kondisional. Penjelasan dari maksimal empat itu sendiri memliki maksud dalam sejarahnya sebagai batasan karena dulu di zaman Rosululloh itu laki-laki menikahnya dengan banyak sekali perempuan. Nabi Muhammad pun, melakukan poligami selepas istri pertamanya meninggal, poligami Nabi Mu
Poligami menjadi perbincangan besar mungkin dalam suatu kalangan ada yang berpikir bahwasanya poligami ini dianggap haram. Ada juga yang menganggap bahwasanya poligami itu justru dianjurkan. Saat ini harusnya berada di tengah orang yang menganggap bahwasanya poligami itu haram. Bisa dikatakan yang mengatakannya itu adalah orang baru di lingkungan tersebut. Bukan hanya berhasil menjadi orang baru yang memikat banyak perhatian karena ia adalah seorang yang kaya raya dan menjadi cucu dari kepala desa tersebut tetapi orang tersebut juga menjadi seorang yang terkenal agamanya kuat karena kabarnya juga dia ke situ itu setelah pulang dari pesantren serta kuliah juga di luar negeri. Mengetahui hari saya memang poligami seseorang tersebut mendatangi rumah Harsa dan mencoba mengatakan untuk menceraikan salah satu dari istrinya. Ayo langsung emosi Mendengar hal tersebut ya langsung ke belakang dan membicarakan hal tersebut dengan nyiur dengan keadaan wajah yang sa
Itu semua adalah bayangan harga dan akibatkanlah mereka saat ini sedang di kamar tidur. tiba-tiba teringat dengan putrinya, yaitu Aliza yang dijodohkan dengan Yudhistira. bentar lagi memang acara apa di pesantren tersebut itu terlaksana dan rencananya mereka akan membahas hal tersebut lagi. Mereka bercerita seperti itu seakan-akan sudah nyata. meskipun harus sah dan istri pertama usai honeymoon di Bobocabin Coban Rondo Malang mana tempat tersebut juga menjadi tempat yang Ayu inginkan saat mereka di sana Ayu merasa sangat iri sekali sangat ingin segera ke sana dengan Harsa setelah Harsa pulang ternyata keinginan tersebut sudah hilang juga Ayu tidak terlalu menginginkan untuk pergi ke sana bahkan sekarang yang ia bahas setelah hari Sabtu pulang itu bukannya menceritakan tentang bobo cabin Coban Rondo tersebut tetapi saat ini Ayu justru terbuka untuk saling ngobrol mengenai masa depan dari anak-anak mereka. tidak keberatan untuk Harsa
Saat acara haflah di pesantren Nyiur, Harsa, dan juga Ayu, mereka terlebih dahulu sowan ke ndalem dan di sana mereka juga bertemu Yudhistira Pamungkas yang menjadi pura kecil dari Bhima Purnama dan Tessa Soraya yang merupakan pengasuh cabang pesantren yang dulu ditempati oleh mereka bertiga. "Om Tila ayo main!" ajak Aliza. "Main apa Za?" Kini keakaraban Yudhistira dengan putri Harsa pun sudah sangat erat. Sebenarnya mereka itu dijodohkan dari kecil, Yudhistira menyadari itu karena saat ini dia sudah menginjak usia SMP. Jaraknya memang sangat jauh, tetapi orang tua mereka yakin untuk menjodohkan sejak dini. Yudhistira ini orangnya cool, tidak terlalu mengurusi juga apa yang orang tuanya rencanakan. Berbeda dengan Aurora Willona. Sosok cantik kembaran Yudhistira yang sangat cerewet dan nakal. Meskipun sudah ditegur beberapa kali, dihukum juga, ia tetap saja teguh pada apa yang menjadi keinginan. Cewek tomboi, andaikan dia tidak berada di lingkungan yang kenthal agama, mungkin
"Mas Harsaaaaaa! Ayu kangen banget banget banget!" Ayu langsung memeluk sang suami saat masih di depan pintu. "Kamu nggak kangen aku, Ay?" tanya Nyiur. Ayu beralih memeluk Nyiur. "Kangen dong! Kapan sih aku nggak kangen sama kamu!" "Huum, Ayu! Lihat nih Mas Harsa KDRT!" kata Nyiur. "Mas Harsa!" Ayo melotot keras saat melihat lebam di tangan Nyiur. "Kalian ini udah mau bikin saya naik daerah ya masih di depan pintu!" CUPP CUPP Harsa mengecup keduanya dan memberi senyuman desta merangkul mereka untuk segera masuk ke dalam rumah. Putri dan putra mereka tanpa senyum bahagia dan bersorak meskipun sang buah hati yang masih kecil masih bisa tertawa tawanya bayi. Raut wajah mereka tidak bisa bohong bahwa mereka itu sangat merindukan Nyiur dan juga Harsa. Meskipun saat berada di dalam telepon juga Mereka terlihat seperti negara-negara saja itu sebenarnya nyiur dan
"Hahah, iya-iya. Kita keluarkan bareng-bateng ya Sayang!" Harsa masih sempat mengecup Sudah sejauh ini ia melangkah dalam rumah tangganya. Pernah berpikir, dulu waktu kecil punya kesenangan yang luar biasa itu ketika berkumpul dengan teman dan bermain bersama. Harsa terbengong di depan cermin saat menunggu istrinya masih buang air besar. Waktunya cepat sekali berubah. Seakan-akan kita hidup di dunia ini hanya tentang kenikmatan sementara dan digantikan dengan kenikmatan lain seiring berjalannya waktu. Itu bukan seakan-akan, tetapi kenyataan. Yang sebenarnya, dari situ Tuhan sudah memberi peringatan. Ya, peringatan bahwasannya hidup di dunia hanya mampir. Kebahagiaan di setiap detiknya berubah. Ini juga tentang, bagaikan merawat waktu yang sedikit ini untuk bisa menyelaraskan antara kepuasan dan kebijaksaan. Hidup itu ya begitu-begitu saja. Ada ekspetasi, kepuasaan, kekecewaan, dan kekhilafan. Kecil adalah simulasi dari besar. Waktu
"Sayang, aku kebelet banget! Tapi males ini gimana?" tanya Nyiur. "Ya dilawan dong malasnya. Emangnya kamu mau jadi budaknya hawa nafsu? Mau jadi pembantunya? Baru aja semalam kita bahas di Qosidah Burdah pasal 2. Hati-hati sama nasihatnya hawa nafsu, hawa nafsu sesat Sayang!" Harsa menghentikan mobilnya. "Mas! Apa sih orang kebelet malah diceramahin! Bisa-bisa aku ngompol aja di mobil kamu ini!" sahut ketus Nyiur. "Hmmm, maaf Sayang nggak ada maksud Mas yang mau menghakimi kamu! Sini peluk dulu!" kata Harsa. Nyiur pun mengambil kesempatan yang diulurkan oleh tangan sang suami. "Ceramahin boleh banget, tapi Nyiur lagi sensitif hawanya Mas. Aku pengennya marah-marah, aaa nggak jelas deh. Aku jadi makin kangen Ayu kalau lagi nggak jelas kayak gini. Tahu gak Mas? Aku sama Ayu yuh kadang punya perasaan ngerasa gak jelas kayak gini barengan loh." Mungkin, efek akan datang bulan. Ini yang ada da
mereka sudah beberapa hari menginap di Bobocabin Coban Rondo. saat sore hari sudah waktunya mereka untuk pulang, rasanya ya seperti masih ingin berteduh di tempat tersebut lebih lama. akan tetapi tidak bisa dibohongi mereka juga merindukan yang di rumah entah itu Aliza dan Alifa Ayu Alil dan Aliq maupun orang tua dan mertuanya. Salah satu beredar mereka supaya bisa ikhlas atau menerima bahwa mereka itu tempatnya tidak bisa selalu di situ ya karena menyadari bahwa mereka itu sudah berkeluarga dan memiliki keluarga yang tempatnya tidak di situ. tempat tersebut memang memberi sebuah ketenangan yang luar biasa untuk mereka dibalik seluruh keresahannya selama ini. bukan hanya menyediakan tempat untuk bersenang-senang bagi mereka dalam menjalankan sesuatu yang memang menjadi misi akan tetapi mereka di sana Ini juga banyak belajar tentang sebuah kerukunan yang ternyata Puncak dalam mencapainya itu harus disertai effort yang luar biasa. Di sana mere
Endingnya selalu memuaskan. Mereka sama-sama puas dan merasakan apa yang memang menjadi tujuan. Namun, di sisi lain Harsa merasa dirinya terlalu keras terhadap sang istri dalam urusan dunia erotisnya. "Maaf ya kalau di sini Mas mainnya lumayan lebih keras," bisik Harsa. "Hemm, gapapa suamiku, Nyiur seneng kok. Cuman kalau jadi, Mas jangan marah," jawab Nyiur. "Jadi apanya?" tanya Harsa. "Ya jadi anaklah," jawab Nyiur terkekeh. Sebuah hal terjadi di dunia ini sudah banyak tipu dayanya. Harsa mencoba angkat bicara seperti apa yang dinasihatkan dalam Qosidah Burdah pasal dua. Salah satu baitnya mengatakan tentang tipu daya, di sana pakai kata lapar lebih sering dari kenyang. Ini artinya, godaan hawa nafsu itu lebih pintar menyusun godaan yang mana akibatnya tidak seberapa memberi keberuntungan. "Jadi kembalinya gini Sayang. Ya kalau nggak siap dengan akibat, ngapain berbuat?" "Kan bisa jadi karena ngga