Home / Sci-Fi / Death Plague / Kamp Penyintas

Share

Kamp Penyintas

last update Last Updated: 2021-06-21 07:02:00

"Apa yang terjadi di sini?"

Argo dan Cheryll terbelalak saat melihat kamp penyintas yang mereka datangi telah hancur porak poranda. Bangunan museum dan kemah-kemah sederhana di sekitarnya telah dilalap api. Tidak ada yang tersisa, kecuali puing-puing yang terbakar.

"Kebakarannya belum lama," gumam Argo setelah menganalisis tempat itu. Mungkin sekitar satu atau dua jam yang lalu, dan aku rasa tidak ada korban yang selamat, atau bisa jadi mereka telah melarikan diri, pikirnya.

Tiba-tiba terdengar suara seseorang batuk dari dalam museum, sewaktu mereka mendekati bangunan tersebut.

"Kau mendengarnya? Sepertinya barusan ada yang batuk dari dalam," ujar Cheryll seraya menatap pria berambut hitam pekat di sampingnya.

"Kelihatannya masih ada orang yang selamat di dalam museum. Aku akan menolongnya," ujar Argo seraya berlari ke arah lubang besar di dinding museum. Sangat aneh tetapi ia tidak punya waktu untuk memikirkannya.

Kebakaran tidak menghabiskan museum itu, karena hampir keseluruhan bangunan penyimpan barang-barang sejarah tersebut tidak terbuat dari kayu. Hanya pintu dan beberapa rak yang digunakan untuk memajang barang-barang bersejarah. Atapnya sendiri terbuat dari beton.

Argo memeriksa ruangan museum yang tertutupi oleh asap hitam dan hawa panas sisa bara api dengan berhati-hati. Ia terbatuk-batuk dan matanya terasa perih.

Di dekat salah satu rak terguling yang hampir habis dimakan api, ia menemukan seorang pria tua terbaring lemah. Tak berdaya. Dari kaki sampai lututnya tertimpa oleh rak itu. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Pria ini cukup beruntung karena tidak ada rak lain di dekatnya, selain rak yang menimpa kakinya. 

"Bertahanlah!" ujar Argo seraya berusaha mengangkat lemari tanpa pintu itu.

Akan tetapi ia tidak cukup kuat untuk mengangkatnya. Terlebih lagi rak tersebut terasa panas. Baranya masih memerah.

"Uhuk … uhuk … tidak usah mengkhawatirkanku, Orang Asing!" lirih si kakek dengan bibir bergetar. "Aku sudah tidak tertolong lagi. Waktuku sebentar lagi akan segera habis."

"Maaf saja, Pak Tua! Aku tidak akan membiarkanmu pergi sekarang!" Argo tetap berusaha mengangkat rak itu sekuat tenaga, dan entah bagaimana ia berhasil mengangkatnya, meskipun hanya sedikit.

"Ah, Profesor Agatha!" kata Cheryll yang menyusul Argo.

"Cheryll! Cepat keluarkan dia! Aku sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi!" perintah Argo.

"Ba-baiklah!" jawab Cheryll seraya berlari melewati kepulan asap. Lalu menarik tubuh pria tua yang dipanggilnya profesor Agatha itu dengan susah payah.

Setelah Profesor Agatha berhasil dibawa menjauh dari bawah rak jatuh dan disandarkan pada dinding, Argo segera melepaskan rak itu. Ia membuang napas sambil mengelap peluh di keningnya.

"Oh, kalau tidak salah, kamu adalah Cheryll," kata Aghata seraya menyipitkan matanya.

"Iya, aku Cheryll, apa yang sudah terjadi, Prof?"

"Ah, begini, aku ingin menyelesaikan proyekku membuat robot tempur, untuk menjaga kamp ini dari para penjarah, tapi …." Terbatuk-batuk.

"Tapi robot itu lepas kendali, kemudian menghancurkan tempat ini dan membunuh semua orang?" Argo menyimpulkan.

"Tidak! Aku mendengar teriakkan mereka semakin menjauh," sangkal Profesor Agatha. "Pasti mereka selamat! Ya, setidaknya kuharap begitu."

"Ke arah mana mereka pergi?" tanya Argo menyelisik.

"Entahlah, aku hanya mendengar teriakan mereka saja! Kakiku terjebak rak di sini, ingat? Aku mendengar suara mereka terpencar-pencar."

"Huh, ya sudah, sebaiknya kita segera rawat kakimu, Pak Tua."

Argo segera membopong tubuh kurus ilmuwan pembuat robot itu keluar dari museum. Lalu dibaringkan di bawah pohon tua berdaun rimbun. Ia memakaikan perban pada kedua kaki Profesor Aghata yang telah patah.

Kamp itu berada lima belas meter dari sungai Kapuas yang berair kecokelatan. Jauh dari gedung-gedung lain. Tempatnya bersebelahan dengan hutan lindung. Ini adalah salah satu tempat yang masih memiliki udara segar dan pohon-pohon berbatang besar. Burung-burung bernyanyi riang seolah tidak tahu bencana yang telah melanda umat manusia, atau mungkin mereka memang tidak peduli sama sekali.

"Terima kasih sudah menolongku, anak-anak," kata Agatha seraya tersenyum palsu. "Tapi, sekarang aku sudah tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi, aku hanya orang tua tidak berguna. Mungkin lebih baik aku mati sekarang."

"Jangan bodoh! Kau sudah diberikan kesempatan untuk hidup dan selamat dari epidemi beberapa waktu yang lalu. Lagipula, tanpa kau inginkan juga, kematian pasti akan menjemputmu," tegas Argo.

"Ya, kau benar, anak muda." Agatha menghela napasnya. "Tapi sekarang aku hanya sendirian dan kakiku tidak bisa digerakkan lagi. Aku benar-benar tidak berguna."

"Jangan terlalu pesimis! Mungkin orang-orang yang melarikan diri itu akan kembali lagi ke sini. Kita tunggu saja sampai sore!"

"Aku harap juga begitu."

Mereka menunggu kembalinya para penyintas yang melarikan diri dari amukan robot tadi pagi, di bawah pohon berdaun lebat itu. Ditemani nyanyian burung dan belaian lembut angin sepoi-sepoi yang membuai mereka dalam rasa kantuk. Mata mereka semakin berat hingga tanpa sadar telah terlelap tidur.

Siang menjelang sore, Cheryll yang telah bangun lebih awal segera membangunkan Profesor Agatha dan Argo, sewaktu ia melihat sekelompok orang mendekat dari arah barat.

Orang-orang itu terdiri dari lima wanita paruh baya, tiga gadis remaja, satu anak laki-laki berusia kurang lebih delapan tahun dan dua pria dewasa. Salah satu dari mereka tidak diragukan lagi adalah Mia. Satu-satunya wanita yang memiliki rambut keemasan.

"Oh, itu mereka, syukurlah mereka benar-benar kembali," ujar si tua Agatha dengan ekspresi yang susah diungkapkan.

Orang-orang itu langsung menghampiri Agatha yang menunggu di bawah pohon rindang.

"Oh, kau ada di sini, Cheryll?" tanya Mia saat melihat wajah gadis yang dikenalnya.

Cheryll hanya mengangguk.

"Di mana ibumu?" Mia mengedarkan pandangannya. "Apa kau datang ke sini sendirian?"

"Tidak, aku bersama Argo." Cheryll menggelengkan kepalanya kemudian menunduk. "Tapi ibuku …."

Melihat respon Cheryll, Mia langsung memahaminya. Ia segera memeluk gadis berambut panjang tersebut dengan penuh kasih. "Maaf, aku turut berduka."

"Profesor Agatha, kau baik-baik saja?" tanya pria berjanggut tipis.

"Aku baik-baik saja, Den. Aku hanya tertindih rak museum dan kakiku tidak bisa dipakai lagi."

"Tapi setidaknya kau masih hidup, Kakek!" kata gadis bermantel biru yang tak lain dari cucunya, Nadira. Berkaca-kaca.

"Ya, aku selamat berkat anak muda ini," kata Profesor Agatha seraya melirik Argo.

"Terima kasih sudah menolong kakekku, aku pasti akan membalas kebaikanmu." Nadira membungkukkan tubuhnya kepada Argo.

"Bukan masalah besar!" jawab Argo dengan skeptis, kemudian berpaling pada wanita yang memeluk Cheryll. "Lagipula tujuanku ke sini untuk menemuimu, Dokter Mia Hipatia."

Mia sama sekali tidak terkejut mendengar orang yang tidak dikenal mengetahui namanya. Ia seorang dokter, sudah pasti banyak orang yang mengenalnya. Setidaknya itulah yang dipikirkannya.

"Kenapa kau mencariku?" tanyanya.

"Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu, kau tidak keberatan?" Argo menatap Mia lekat-lekat.

"Ya, boleh saja, tapi …." Mia menoleh ke arah kemah-kemah dan museum yang berantakan. "Kau harus membantu kami membereskan tempat ini. Bagaimanapun juga, ini adalah satu-satunya tempat tinggal kami yang aman dari para penjarah."

"Huh, baiklah."

Profesor Agatha tampak celingukan. Menatap setiap orang yang ada di sana satu per satu. Sepertinya sedang mencari seseorang.

"Omong-omong, di mana ayah dan ibumu, Nadira?" tanyanya.

"Aku, aku tidak tahu, kami berpisah saat robot itu menyerang." Nadira tertunduk.

Wajah pria yang sudah keriputan itu terlihat diliputi oleh penyesalan. "Maafkan aku, jika saja aku tidak membuat robot itu …."

"Apa yang kau katakan, Kakek!" tukas si pria berbaju hitam. "Ini bukan kesalahanmu, satu-satunya orang yang bersalah adalah aku, kalau saja waktu itu aku tidak lupa memberitahumu ada kesalahan sistem, mungkin robotmu tidak akan …."

"Ya, sudah! Sudah!" lerai seorang wanita paruh baya bergaun merah muda seraya tersenyum manis, tetapi terkesan menakutkan. "Daripada saling mengaku salah, lebih baik kita mulai memperbaiki tempat tinggal kita, lihat sudah hampir sore!"

Related chapters

  • Death Plague   Petunjuk Pertama

    Di halaman belakang museum itu terdapat taman bermain anak-anak. Ada banyak sekali permainan di sana. Mulai dari ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, sampai komidi putar pun ada. Tampak masih ada kerangka anak kecil yang belum disingkirkan dari sana. Argo duduk di atas bangku taman sambil menatap ke arah perempuan yang berjalan menghampirinya dengan membawa nampan berisi dua gelas teh hijau. Tersenyum manis. Perempuan berambut kuning jagung yang tak lain dari Mia itu duduk di samping Argo. Hanya dipisahkan oleh nampan. Sejenak keduanya terdiam, tak mengucapkan sepatah kata pun. Memperhatikan Cheryll yang tengah push-up di depan permainan komidi putar, peluh membasahi keningnya. Mulutnya komat-kamit berhitung, "dua puluh lima, dua puluh enam, dua puluh tujuh …." "Dia benar-benar anak yang sangat bersemangat, ya," mulai Mia. "Ya, dan dia juga sangat keras ke

    Last Updated : 2021-06-22
  • Death Plague   Pintu Rahasia Museum

    End Spray, Enofer, lalu idol yang mempromosikannya adalah Ellie E. O. A. E. Argo menggumamkan kata-kata tersebut beberapa kali, dengan kedua mata terus mengawasi langit yang semakin gelap. Ia mencoba membongkar setiap suku kata atau hurufnya, kemudian mencocokkannya dengan berbagai kosakata. Tiba-tiba ia tersentak kaget kemudian bangun—menyadari sesuatu yang mengejutkan. "E, O, A, E dan Enofer, kalau perkiraanku benar, itu bisa berarti 'end of an era,' yang artinya akhir zaman. Mungkinkah Edward Fuller yang telah merencanakan semua ini?" Ia menggelengkan kepalanya. Tidak, itu tidak mungkin, dia sudah mati setelah menciptakan Ellie, atau bisa jadi, dia telah dibunuh oleh seseorang dan Ellie diambil alih oleh orang tersebut untuk melancarkan rencananya, pikirnya. Ada banyak spekulasi di dalam kepalanya saat ini. Wajahnya terlihat sangat serius. Ia terlarut dalam pikirannya yang hanya berisi keingintahuan

    Last Updated : 2021-06-23
  • Death Plague   Menelusuri Lorong

    "Apa? Ada pintu rahasia di sini?" "Jadi, Dira pergi melalui lorong ini, huh? Syukurlah, dia bukan diculik oleh hantu." "Sekarang semuanya menjadi masuk akal. Kerja bagus, Argo." Semua orang berdiri di depan lorong yang gelap itu. Tak ada yang mengira ada pintu rahasia di basemen. Tentu saja, jika bukan karena Argo dengan kacamatanya, mereka tidak akan pernah tahu. Sewaktu Argo memeriksa ke dalam lorong, tampak banyak sekali obor kayu yang ditempelkan pada dinding-dinding batu di sepanjang koridor. Entah menuju ke mana. Ada satu obor yang menghilang, mungkin telah diambil oleh Nadira untuk menerangi jalan. Sepertinya lorong rahasia ini sudah ada bahkan sebelum museum dibangun, terlihat dari lumut dan debu yang menyelimuti dindingnya. Jejak kaki Nadira terlihat jelas di sana. "Apa k

    Last Updated : 2021-06-24
  • Death Plague   Serangan Tiba-tiba

    Kesunyian yang mencekam menyelimuti bangunan museum itu kala malam semakin larut. Hujan telah reda dua jam yang lalu dan gemuruhnya suara guntur tak terdengar lagi. Di dalam kamp atau museum itu, semua orang masih menunggu kelompok yang sedang mencari Nadira dengan harap-harap cemas. Terutama Agatha yang sangat mengkhawatirkan keselamatan nasib cucunya. Tiba-tiba suara ketukan pintu memecahkan keheningan dan ketegangan yang memenuhi seisi ruangan. Sontak semua orang terperanjat kaget. Mereka segera membukakan pintu tanpa berpikir panjang. Mereka berpikir mungkin itu adalah Nadira beserta Mia, Rizal, Argo dan Cheryll. Akan tetapi orang yang ada di depan pintu itu bukanlah Nadira atau pun regu pencarinya. Mereka adalah sepasang pria dan wanita separuh baya yang mengenakan jas hujan berwarna hitam. "Delon! Wahna! Syukurlah kalian sudah

    Last Updated : 2021-06-26
  • Death Plague   Amukan Robot

    Cheryll memberikan kotak pertolongan pertama itu kepada Mia, tetapi pada saat yang sama tiba-tiba terdengar suara berdesing. Sebuah misil, tetapi ukurannya dua kali lebih kecil. Senjata menyerupai roket tersebut mengenai atap museum di sebelah kanan dan menghancurkannya. "Kyaa!" Para wanita yang berdiri tak jauh dari sana menjerit histeris. Mereka segera berlari menjauh—menghindari puing-puing atap yang berjatuhan. Profesor Agatha yang berada di dalam museum pun terkejut. Ia ingin tahu apa yang sedang terjadi di luar, apalah daya kedua kakinya sudah tiada dan kaki palsu itu belum bisa digunakan. Penasaran, ia turun dari kursi goyangnya kemudian merangkak, menghampiri pintu. "Misil?" kaget Argo. Pandangan matanya segera tertuju ke arah rudal itu berasal. Samar-samar dari kejauhan di dekat kincir pembangkit listrik tenaga air, tampak sosok s

    Last Updated : 2021-06-28
  • Death Plague   Penembak Jitu Misterius

    "Jadi begitu? Kau sengaja mengendalikan robotku untuk membunuh kita semua, ha?" kata Agatha seraya memandang Gilang dengan ekspresi kesal. Duduk bersandar pada tembok di sebelah kincir air yang terus berputar itu. Laki-laki berambut merah itu duduk di tanah, dikelilingi oleh empat orang yang marah. Ia meringis, merasakan sakit di kaki kirinya yang terkena timah panas saat mencoba melarikan diri. Orang yang menembaknya adalah Argo. Ia sedang memeriksa robot yang tiba-tiba berhenti bergerak itu. Sesuai dugaannya, robot buatan Agatha itu mati bukan karena kehabisan daya, melainkan seseorang telah menembaknya tepat ke bagian inti sumber daya. Tidak salah lagi, pelakunya pasti seorang penembak jitu, pikir Argo. "Ya! Benar! Akulah yang telah mencuri alat pengendali robotmu dan menggantinya dengan yang palsu! Aku ingin menghabisi

    Last Updated : 2021-06-30
  • Death Plague   Tersesat di Hutan

    Argo bersandar pada batang pohon besar di tengah hutan yang gelap itu. Hanya sedikit cahaya yang dapat menyelinap melalui sela-sela dedaunan yang lebat. Ia memperhatikan suasana di sekitarnya yang terkesan menyeramkan. Tidak ada yang datang, sementara senja sudah mulai merona. Dengan tubuh yang semakin terasa sakit, ia mencoba untuk berdiri tetapi lututnya yang lemas mengkhianatinya. Ia terjatuh ke atas akar pohon yang menonjol ke luar itu. Ia sudah mencapai batasannya. "Sial, kakiku mati rasa." Sudah hampir setengah jam ia duduk di sana. Menantikan kedatangan Mia atau siapapun yang akan menyusulnya. Apa mereka tersesat? Atau mereka memang tidak mengikutiku? tanyanya di dalam hati. Di tempat lain, Mia berlari sendirian melewati pohon-pohon yang terlihat menakutkan dengan sepasang mata tiada henti melirik ke kanan dan kiri. Berteriak-

    Last Updated : 2021-07-01
  • Death Plague   Pertemuan Tak Terduga

    Di ambang pintu museum itu Nadira berdiri memandang ke arah hutan. Menunggu Argo dan yang lain kembali. Namun, apa yang dinantinya tak kunjung datang dan hanya membuat lehernya terasa pegal. Gelisah. Bukan hanya ia, ibunya Wahna pun mondar-mandir dengan ekspresi resah. Perasaan mereka saat ini bercampur aduk antara gelisah dan sedih. "Tenanglah, kalian berdua!" kata Agatha yang tengah duduk di atas kursi goyangnya. "Mereka pasti akan segera kembali, jadi tenanglah!" Lama-lama ia merasa tidak nyaman juga, melihat tingkah laku anak dan cucunya yang terlihat sangat risau. "Tapi mereka sudah pergi selama hampir dua jam, ditambah lagi hari sudah gelap dan mereka belum kembali juga, aku khawatir mereka diserang hewan buas," ucap Wahna berhenti mondar-mandir sejenak. "Kita doakan saja semoga mereka baik-baik saja!" &n

    Last Updated : 2021-07-03

Latest chapter

  • Death Plague   Kasus Argo

    Luka di hati Argo kembali terbuka, dendamnya yang sempat hampir terpadam kini membara lagi, tetapi sebisa mungkin ia menahan diri dan mempertahankan ekspresi tenangnya. Pepatah dari Jep dan mendiang ibunya selalu terngiang di benaknya. Dendam bukanlah pilihan, dendam hanyalah keinginan hati untuk membalas derita, yang hanya akan melahirkan rantai penderitaan yang selalu berulang. Bersabarlah andainya kau tidak bisa memaafkan seseorang. Sabar tidak berarti harus memaafkan. Sabar berarti menahan diri dan tidak berbuat tergesa-gesa, sehingga kau tidak akan melakukan perbuatan yang mungkin akan kau sesali kelak. Argo menatap wanita separuh baya berwajah sendu dengan bara api dendam dan amarah terpancar dari sorot matanya. Wanita itu baru saja menjelaskan semua yang dialami putri semata wayangnya. "Hem, baiklah, saya mengerti." Sejenak Argo merenung setelah menuliskan sesuatu di memo jam tangannya. "Seperti dugaanku, dia punya banyak nama, pantas pol

  • Death Plague   Guru dan Murid

    Pria tua itu bernama Kal, seorang pembunuh bayaran paling mahal dan paling ditakuti di dunia gelap pada masanya, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Umurnya sudah setengah abad lebih dua windu. Sudah cukup tua, tetapi kehebatan dan kegesitannya tidak bisa dianggap enteng. Orang tua yang keras kepala, begitulah Argo menamainya. Ia mengeluarkan shotgunnya dengan tangannya yang sebelah kanan kemudian diletakkan di atas bahu. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Argo kepada orang tua itu. Kal tua menyeringai. Jelas sekali ia ingin menguji kemampuan muridnya yang sudah lama tidak terlihat. "Ah, akhirnya aku bisa melihat wajahmu lagi, muridku, aku senang kau masih hidup. Kau tidak tahu betapa aku sedihnya saat melihat banyak orang mati, padahal tidak kubunuh." "Tidak usah basa-basi! Aku tahu kebusukan hatimu itu, orang tua keras kepala! Pembunuh tak berperasaan yang sudah membuatku jadi orang kejam sepertimu, tidak mungkin punya rasa simpati!" O

  • Death Plague   Penyusupan

    Spontan Argo balik badan sewaktu merasakan seseorang menyentuh bahunya. Dengan cepat pula pistol Makarovnya ditodongkan kepada orang yang berada di belakangnya itu. Tampak olehnya seorang laki-laki yang mengenakan plester luka di pipinya mundur dengan gugup sambil mengangkat tangan. Wajahnya sangat familier. "Tenanglah, Bung! Aku bukan orang jahat!" "Oh, Giz … ternyata kau," Argo menghela napasnya kemudian menurunkan pistol itu. Laki-laki yang umurnya enam tahun lebih muda dari Argo itu berkata dengan cepat. "Ya, ini aku, senang melihatmu masih hidup, Argo. Aku benar-benar bingung dan frustasi, wabah itu sudah membunuh banyak orang dan entah kenapa, kebanyakannya cuma orang jahat saja yang masih hidup. Omong-omong, apa yang sedang kau lakukan di sini, Argo?" "Aku sedang mencari cara untuk masuk ke sana," kata Argo seraya menatap gedung berlantai sepuluh itu. "Apa? Kau, kau berencana untuk menyusup ke sana lagi?" kaget Giz.

  • Death Plague   Ingatan Kawan Lama 2

    Restoran mewah itu berada di seberang jalan, bersebelahan dengan butik baju dan toko mainan. Seorang pelayan tampan berpakaian serba hitam dan mengenakan dasi kupu-kupu menyambut Argo dan Balaam dengan ramah sewaktu keduanya masuk. Semua makanan dan minuman yang ada di menu terlihat mahal-mahal sekali. Jelas sekali hanya orang kaya raya yang bisa masuk dan mencicipi masakan di sini. Argo cukup terkejut sewaktu ia dibawa ke tempat mewah yang cukup terkenal itu. Ia tidak menyangka orang yang mentraktirnya itu adalah seorang VVIP. Cukup memperlihatkan sebuah kartu hitam, maka pelayan segera membawanya ke tempat khusus yang lebih nyaman daripada meja yang biasa. Seorang violinis memainkan irama yang lembut sekali dan pelayan wanita muda yang cantik jelita menemani mereka. Sepertinya ia sudah sangat mengenal Balaam. Sementara Argo yang terlihat keheranan, Balaam tersenyum lebar. "Hahaha, kau pasti kaget, kan?" "Ya, bukankah tadi kau bilang, ayahmu masuk ke

  • Death Plague   Ingatan Lama dan Teman Lama

    Di depan pintu masuk hotel berlantai sepuluh itu tampak sepasang pria bertubuh besar sedang berjaga. Mereka terlihat kuat dan dapat diandalkan untuk meringkus siapa saja yang mencoba menyusup ke sana. Sebuah rifle menjadi pelengkap akan kesan mengintimidasi mereka. Bangunan itu mengingatkan kembali Argo akan masa lalunya. Sejenak ia terpaku, mengenang kembali ingatan beberapa tahun yang telah berlalu. "Kakak! Kakak! Bantu aku mengerjakan PR dong! Aku tidak mengerti dengan soal yang ini," kata Meina seraya menunjukkan tabletnya. "Ya, sebentar!" jawab Argo masih terfokus pada layar komputernya. Adiknya itu segera mengintip layar komputernya. "Kakak sedang apa sih?" "Aku sedang mencari pekerjaan paruh waktu, supaya bisa menabung untuk membeli lagi rumah lama kita, bagaimanapun itu adalah peninggalan terakhir ibu kita, tapi malah dijual oleh ayah tak bertanggung jawab itu!" "Oh, tapi, tapi kita kan masih bisa tinggal d

  • Death Plague   Side Story: Ledakan Cincin Api

    Hai, hai, selamat pagi-siang-sore-malam semuanya. Perkenalkan namaku Kazuko. Aku adalah partner sekaligus pelayan kesayangan tuan Kaz. "Tidak, kau cuma moe pungutan aja, aku kasihan kau hidup sendirian di dalam kardus di gang kotor, jadi aku memungutmu." Duh, ya ampun, Tuan selalu saja begitu (⁰͡ ε ⁰͡ )╬ "Sudahlah! Jangan banyak basa-basi! Katakan saja tujuan kita! Kasihan tuh pembaca sudah menunggu!" Baiklah, baiklah ( ͡°з ͡°) Oke, pertama-tama, aku mewakili Tuan Kaz ingin mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya karena sudah lebih dari dua minggu ini Death Plague tidak update, karena sedang dirombak dulu. Silakan dibaca lagi dari bab 1 ya, karena banyak yang diubah. Sekali lagi mohon maaf. Sebagai permintaan maaf, kami akan memberikan satu bab bonu

  • Death Plague   Pertemuan Tak Terduga

    Di ambang pintu museum itu Nadira berdiri memandang ke arah hutan. Menunggu Argo dan yang lain kembali. Namun, apa yang dinantinya tak kunjung datang dan hanya membuat lehernya terasa pegal. Gelisah. Bukan hanya ia, ibunya Wahna pun mondar-mandir dengan ekspresi resah. Perasaan mereka saat ini bercampur aduk antara gelisah dan sedih. "Tenanglah, kalian berdua!" kata Agatha yang tengah duduk di atas kursi goyangnya. "Mereka pasti akan segera kembali, jadi tenanglah!" Lama-lama ia merasa tidak nyaman juga, melihat tingkah laku anak dan cucunya yang terlihat sangat risau. "Tapi mereka sudah pergi selama hampir dua jam, ditambah lagi hari sudah gelap dan mereka belum kembali juga, aku khawatir mereka diserang hewan buas," ucap Wahna berhenti mondar-mandir sejenak. "Kita doakan saja semoga mereka baik-baik saja!" &n

  • Death Plague   Tersesat di Hutan

    Argo bersandar pada batang pohon besar di tengah hutan yang gelap itu. Hanya sedikit cahaya yang dapat menyelinap melalui sela-sela dedaunan yang lebat. Ia memperhatikan suasana di sekitarnya yang terkesan menyeramkan. Tidak ada yang datang, sementara senja sudah mulai merona. Dengan tubuh yang semakin terasa sakit, ia mencoba untuk berdiri tetapi lututnya yang lemas mengkhianatinya. Ia terjatuh ke atas akar pohon yang menonjol ke luar itu. Ia sudah mencapai batasannya. "Sial, kakiku mati rasa." Sudah hampir setengah jam ia duduk di sana. Menantikan kedatangan Mia atau siapapun yang akan menyusulnya. Apa mereka tersesat? Atau mereka memang tidak mengikutiku? tanyanya di dalam hati. Di tempat lain, Mia berlari sendirian melewati pohon-pohon yang terlihat menakutkan dengan sepasang mata tiada henti melirik ke kanan dan kiri. Berteriak-

  • Death Plague   Penembak Jitu Misterius

    "Jadi begitu? Kau sengaja mengendalikan robotku untuk membunuh kita semua, ha?" kata Agatha seraya memandang Gilang dengan ekspresi kesal. Duduk bersandar pada tembok di sebelah kincir air yang terus berputar itu. Laki-laki berambut merah itu duduk di tanah, dikelilingi oleh empat orang yang marah. Ia meringis, merasakan sakit di kaki kirinya yang terkena timah panas saat mencoba melarikan diri. Orang yang menembaknya adalah Argo. Ia sedang memeriksa robot yang tiba-tiba berhenti bergerak itu. Sesuai dugaannya, robot buatan Agatha itu mati bukan karena kehabisan daya, melainkan seseorang telah menembaknya tepat ke bagian inti sumber daya. Tidak salah lagi, pelakunya pasti seorang penembak jitu, pikir Argo. "Ya! Benar! Akulah yang telah mencuri alat pengendali robotmu dan menggantinya dengan yang palsu! Aku ingin menghabisi

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status