Home / Lainnya / Dear Joy / 28. Tenang Adalah Kunci

Share

28. Tenang Adalah Kunci

Author: Xerin
last update Last Updated: 2021-06-01 20:25:50

Selesai dengan kegiatan mandiku, aku segera menganti pakaian yang juga sudah kubawa ke dalam kamar mandi. Sesudahnya, aku memakai skincare. Muti masih seperti tadi yang masih terus mengeluarkan rasa kesalnya dalam bentuk omelan. 

"Duh, siapa sih menelepon terus? Amel ponselmu sedari tadi berdering."

"Biarkan saja. Palingan orang tuaku yang mau menanyakan kabar. Nanti akan aku kabari bila keadaan sudah memungkinkan," balasku sambil mulai mengeringkan rambut. "Mut, perlu bantuan?"

Muti menunjukkan mata elangnya sekarang. Sebuah tatapan penuh intimidasi. 

"Apa aku terlihat butuh bantuan? Tentu ...."

"Huahaha, aku akan membantumu."

"Membantuku? Ngaca dong, saat ini akulah yang sedang memabntumu, Mel."

"Iya, iya ... terima kasih Muti yang cantik, baik, rajin cari uang dan juga menghabiskannya ...."

"Yang terakhir tolong dihapus saja."

Ponselku terus berdering. 

"Jadi penasaran kenapa berder

Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

  • Dear Joy   29. Kejutan Lain

    Setelah suara riang itu, muncullah sosok yang sudah bisa aku tebak. Cintia muncul dengan senyum manis. Gigi ginsul miliknya juga tak kalah eksis tatkala ia melebarkan senyumnya."Lha? Perasaan tadi lagi menelpon sekarang sudah ada di sini." Langsung saja sebuah pertanyaan terlontar dari bibirku."Kan aku sambil menelepon sambil jalan. Aku mau kasih ini," balas Cintia."Wa ... tumben amat bawa makanan.""Firasatku sih si tukang tidur ini belum makan dari pagi. Aku tuh kayak orang gila dari tadi ye menelepon tapi tidak ada respons. Mau lihat berapa jumlah panggilan tak tgerjawab yang aku berikan?""Hm ... nih. Segini, kan?"Cintia menepuk dahinya. "Untung kamu jomblo ya, kalau tidak sudah dituduh macam-macam sama pacarmu itu ... bisa-bisanya enggak angkat panggilan hingga segitu banyaknya.""Iya, untungnya aku jomblo.""Ehm ... bukannya aku mau protes atau gimana nih ya ... tapi bagaimana caranya aku

    Last Updated : 2021-06-01
  • Dear Joy   30. Let's Go!

    Singkat cerita ... aku sudah selesai dengan segala keperluan yang semestinya aku bawa. Muti juga sudah berpulang ke kediamannya, begitu pula Cintia. Kami masih memiliki kurang lebih tiga jam untuk mempersiapkan atau hanya sekedar melakukan pengecekkan terakhir. Kata orang, sesuatu yang terburu-buru itu tidak baik. Ya, aku percaya itu. Aku mulai melihat detail kecil di kamar kosan. Memeriksa dan sekali lagi semua benda-benda yang akan kutinggal selama dua bulan itu akan baik-baik saja nantinya. Kalau seperti ini, apa baiknya kalau aku mengirim barang-barangku ke rumah saja? Ah, sudah terlambat rasanya. Sayang sekali bukan, bila harus membayar uang sewa selama dua bulan full namun tidak ditempati. Aku mengecek kembali ponselku lalu menghubungi Ibuku. Rasanya sedikit aneh, hari ini Ibu bahkan tidak menghubungiku. Sekali, dua kali ... hingga panggilan ke tiga. Aku mulai gelisah. Ada apa gerangan? Tidak menyerah, aku putuskan untuk menghubungi Ayah. Sa

    Last Updated : 2021-06-02
  • Dear Joy   31. Kisah yang Tak Terucap

    Bus kami berangkat begitu seluruh mahasiswa dan mahasiswi memenuhinya. Perlahan, kami meninggalkan kota ini. Setengah jam sudah perjalanan ini berlalu, Joy masih dalam tidurnya yang nyaman. Bahkan saat tidur pun, ia masih sangat cantik. Jiwa iriku meningkat bila terus-terusan berada di sampingnya. Joy membuka matanya perlahan, aku lihat ia seperti sedang kehausan. "Uhuk!" "Mau minum?" tawarku sambil berusaha meraih sebotol air mineral dalam ranselku. "Ini." Aku lalu memberikan padanya. "Terima kasih." Ia menegak minuman itu dan di akhiri dengan kata 'ah' sebagai pelengkap. "Kalau masih mengantuk tidur lagi aja." Aku hanya sekadar basa-basi. Kenyataannya ialah aku hanya malas bila harus bercerita dengannya. Joy tiba-tiba meregangkan badannya. "Sudah cukup. Aku sudah bisa bangun sekarang." Kalau begitu aku saja yang tidur. "Amel bagaimana? Apa Amel juga tidur tadi?"

    Last Updated : 2021-06-05
  • Dear Joy   32. Menuju Tempat Baru

    Enam jam telah berlalu. Perjalanan menuju lokasi KKN memang tidak main-main. Sebuah pengabdian sebagai salah satu tridarma perguruan tinggi yang harus dilaksanakan. Masih dalam posisi yang sama, aku duduk diam di kursi yang tidak telalu empuk untuk ukuran perjalanan jauh. Ingin rasanya aku bertanya mengapa tidak memilih bus dengan pelayanan ekstra seperti tempat tidur atau sejenisnya. Setelah dipikirkan lagi, kami tidak membayar untuk akomodasi jadi sangat wajar dengan fasititas seperti ini. "Nanti kita istirahat singgah sekitar empat puluh menit ya. Jadi yang mau buang air atau singgah untuk makan boleh meninggalkan bus untuk sementara. Tapi ingat, jangan pergi sendirian dan juga saling mengingatkan satu sama lain, oke?" Setidaknya pengumuman dari supervisor itu membuatku sedikit senang. Aku menanti saat-saat bus diberhentikan. Aku tahu, sang supir juga perlu beristirahat setelah perjalanan enam jam. Bayangkan saja, bila dipaksakan terus-menerus bisa saj

    Last Updated : 2021-06-07
  • Dear Joy   33. Menuju Tempat Baru (2)

    "Bagaimana? Enak, kan?" tanya Joy yang terus memerhatikan ekspresi wajahku saat makan dengan lahapnya."Hm m ... apalagi gratis.""Ini air minum, anggap saja aku ganti air minum punyamu." Joy lalu memberikanku sebotol air bermerek Kristalain.Aku memandanginya sebentar. Air minum kemasan ini sedikit mahal dari yang lain. Masalah pH atau apalah itu yang digadang-gadang sebagai keunggulan."Air mineralmu harus yang merek ini ya, Joy?""Kenapa?""Ini kan mahal ....""Aku sensitif terhadap air."Gila! Bahkan air pun harus yang mewah. Aku sekarang bagai itik buruk rupa yang sedang bersama seekor angsa."Lalu sekarang apa perutmu baik-baik saja? Tadi aku memberimu air, aku jadi sedikit khawatir sekarang.""Sampai sekarang aku masih baik saja. Artinya aku masih cocok dengan merek yang kamu berikan.""Jadi Joy itu sedikit melelahkan ya? Harus serba cocok, kalau tidak men

    Last Updated : 2021-06-11
  • Dear Joy   34. Hampir Saja!

    "Mut-" Ucapanku terhenti."Tidak mungkin ini milik Joy." Muti lalu melanjutkan rasa penasarannya dengan menuju ke bagian paling depan. "Hm ... bus ini memang sedikit lebih luas, tapi fasilitasnya ... bagaimana ya mengatakannya?"Aku berjalan mendekati Muti dan melintasi tempat duduk Joy.Syukurlah ... Joy sedang tidak ada di sana. Tapi tunggu, ke mana gadis itu sekarang?"Masih penasaran dengan tempat ini?" tanyaku pada Muti. Sejujurnya, aku hanya sekadar basa-basi."Enggak. Sini sini! Giliran kamu yang ke bus kami." Muti dengan mudahnya sudah memegang tanganku dan mengajakku keluar dari bus."Eh? Sudah mau pergi? cegat Cintia yang baru saja mau masuk ke dalam bus."Kamu jalannya terlalu lambat.""Ayo kita ke bus!""Ha?""Ajak Amel tour singkat."Tak berselang lama, banyak penumpang lainnya berdatangan."Loh, loh, loh ... kok jad

    Last Updated : 2021-06-12
  • Dear Joy   35. Perasaan yang Tak enak

    "Ayo lihat-lihat ke luar," ajaknya."Aku juga mau keluar dari bus ini sedari tadi.""Lantas?""Kita belum boleh sebelum semua bus yang lain kumpul. Entah mengapa kadang menjadi yang pertama tidak mengenakkan. Seakan selalu dituntut untuk menunggu yang lain tiba di garis yang sama agar bisa berjalan bersama.""Dalam sekali kalimat itu. Aku tidak menyangka seorang Amel berpikiran sedalam itu."Kalimat Joy barusan sedikit menggelitik dan juga menyinggung. Apa selama ini Joy menganggapku seorang yang bodoh atau hanya seorang gadis yang jauh dari kata bijaksana dan sejenisnya. Aku memang tidak secerdas gadis ini, hanya saja ... aku lebih manusiawi, ya ... dalam pikiranku. I love my self.Meski sedikit kesal, pada akhirnya aku hanya bisa memberikan senyum palsu padanya. Untuk apa aku membuat diriku semakin terlihat menderita dengan membalasnya. Aku benar, bukan?"Bagaimana dengan yang kemarin?" Joy yang memberi ko

    Last Updated : 2021-06-16
  • Dear Joy   36. Awal Pengabdian

    Kami dikumpulkan terlebih dahulu bersama di tengah lapangan, kemudian mendapatkan instruksi untuk masuk dalam sebuah gedung berwarna putih, aku lupa apa nama gedung itu ... biar aku coba ingat kembali ... balai Pertanian atau sejenisnya. Gedung yang bisa terbilang besar untuk berada di daerah kabupaten. Kami lalu diminta untuk mengisi kursi-kursi yang telah disediakan.Satu jam kemudian, datanglah para petinggi wilayah. Aku rasa akan ada penyambutan atau sejenisnya. Para supervisor kami juga sudah terlihat sangat rapi berbanding terbalik dengan para mahasiwa yang nampak kumuh dan dekil."Sumpah, baru kali ini aku menghadiri rapat atau apalah itu dalam keadaan seperti ini. Benar-benar ya ... jangankan mandi, sikat gigi saja tidak." Muti terlihat sangat kasihan dengan kondisi ini. "Ini, makan ... setidaknya dengan mengunyah permen karet ini napas kita tidak bau naga.""Hahaha." Ocehan Muti membuatku tertawa dengan tidak tahu diri."H

    Last Updated : 2021-06-26

Latest chapter

  • Dear Joy   Epilog

    Tidak ada yang tahu tentang hari esok. Kenyataan bila Lara juga memiliki keluarga inti adalah hal yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Aku dan Bibi Susana akhirnya memutuskan untuk melakukannya—membawa bayi cantik itu untuk menemui sang Nenek.Hari ini akhirnya datang juga. Bagaimanapun juga, aku masih harus membawa bayi itu untuk menemui keluarganya—maksudnya keluarga dari pihak Joy. Seorang Amel dengan bayi dalam gendongannya mungkin akan mengejutkan papa dan mama Joy. Ah, semua itu tak masalah.“Amel, kamu yakin sudah mau bertemu Tante Carla sekarang?” tanya ibuku. Beliau tidak ikut. Katanya merasa tidak enak badan.“Ya kalau enggak sekarang, terus kapan? Cepat atau lambat, mereka harus tahu tentang cucunya. Kalau Mama di posisi

  • Dear Joy   86. Akhir yang Bahagia?

    “Um … kalian belum memutuskannya?” Muti semakin ingin tahu. “Sumpah, kalau bisa, Lara tinggal bersama kami saja selamanya. A ….” Aku berhenti sejenak. Ini memang sedikit aneh. Mungkin para tetangga bisa langsung pingsan jika mendengar semua cerita panjang ini. Bagaimana bisa sebuah keluarga yang selama ini tinggal di dekat mereka ternyata masih memiliki anak yang lain tetapi tidak diketahui. “Papa dan Mama mesti menjelaskan satu dan lain hal pada para tetangga. Ugh, dan … sudah pasti awalnya mereka tidak akan mempercayainya. Tetap saja, bakal ada tetangga yang … hm … langsung menuduh kalau cerita itu adalah karangan Papa dan Mama saja agar menutupi aibku.” “Hah

  • Dear Joy   85. Sepucuk Surat dari Bima

    “Amel, ayo … kita sudah sampai di bandara. Nanti kamu bisa tidur lagi sepuasnya di ruang tunggu dan di pesawat.” Suara ayah benar-benar membuatku tersadar dari alam lain.“O … a … ng … hoaaamm ….”Aku mulai melihat ke luar. Ini memanglah kawasan bandara. Padahal baru pagi tadi kami tiba dan sekarang sudah mau pulang saja. Hm … luar biasa sekali perjalanan yang singkat ini. Kalau diingat-ingat lagi. Ah, apalah itu. Intinya aku hanya ingin segera pulang ke rumah!Memang seperti itulah yang aku lakukan—tidur di ruang tunggu selama kurang lebih satu setengah jam, lalu melanjutkannya saat di dalam pesawat. Anggap saja ini adalah balas dendam tentang waktu istirahatku yang tersita.

  • Dear Joy   84. Bima adalah Adam

    Setelah mendapatkan informasi penting lain yang tak kalah membuat terkejut, kupikir akan datang berita baik. Aku salah besar. Ini jauh lebih buruk dari yang kubayangkan.Dan inilah yang terjadi sebelum Bibi Susana masuk ke dalam kamarku.Ponselku terus berdering. Bukan satu atau dua, bahkan panggilan dari satu orang. Tiga orang yang kusewa sebagai ‘mata-mata’ untuk mencari keberadaan Bima menghubungiku. Jelas, ini bukanlah sebuah pertanda yang bagus. Meski begitu, aku masih berusaha untuk berpikir yang jernih dan berharap apa yang aku pikirkan tidaklah benar.Bukan hanya itu, karena sedikit terlambat, panggilan itu terhenti. Kupikir mereka akhirnya menyerah. Aku salah, sebuah panggilan masuk melalui telepon rumah. Sedikit langka memang di era sekarang masih memiliki nomor telepon rumah.

  • Dear Joy   83. Tiada

    Sampai pada akhirnya aku sudah harus kembali ke kota tempatku kuliah. Muti sama sekali tidak bisa berjanji bila ia bisa hadir saat wisudaku. Tidak apa-apa, toh pada akhirnya kami masih akan bertemu di kota yang sama. Tentu saja saat aku sudah kembali pulang.“Sampaikan salamku pada Cintia juga. Ah, rasanya aku menjadi kesal sekarang.”“Tidak masalah, Muti. Aku dan Cintia bisa memahaminya. Kamu kan harus bekerja. Kita bisa merayakannya bersama lain kali saja.” Aku berusaha menenangkan Muti yang merasa bersalah.”“Hati-hati, ya.”Aku dan Muti saling mengucapkan salam perpisahan. Ayah dan ibu tidak mengantar. Ayahku jelas sedang

  • Dear Joy   82. Tentang Adam

    Benar saja, aku dan ibuku melakukannya! Kami pergi bersama ke tukang jahit baju. Suasana di antara aku dan ibu menjadi jauh lebih baik. Ya, memang sudah seharusnya begitu. Memangnya aku mesti marah sampai berapa lama?Kami langsung pulang setelah pengukuran untuk pola selesai. Dengan penambahan 2 cm untuk jaga-jaga. Jangan sampai dalam tiga minggu ini badanku menjadi naik. Itu bukanlah hal yang tidak mungkin apalagi bila menjelang masa datang bulan. Aku akan makan jauh lebih banyak.“Tukang jahitnya, gimana? Ramah, bukan?”“Hm m. Mungkin karena Mama sudah langganan sangat lama. Belum tentu sama pelanggan baru.”“Astaga, anak ini ….”

  • Dear Joy   81. Amarah yang Mereda

    “To-tolong ... siapapun di luar sana, tolong aku ....” Suara jerit Seseorang seakan memanggilku. Aku mengenalnya. Itu adalah A40. Kenapa aku bahkan mendengar suaranya sekarang? Apa aku sedang berhalusinasi sekarang? Tidak mungkin!Satu ….Dua ….Tiga.Aku terbangun. Badanku penuh dengan keringat. Itu adalah sebuah mimpi yang terlalu menakutkan untuk diingat. Bagaimana seseorang dibunuh dengan sadis di depan mataku tidak bisa aku lupakan begitu saja. wajah A40 lalu menyadarkanku pada sesuatu. Ia kini terlihat sangat familiar. Aku sangat mengenal wajah itu sekarang. Itu ada di dalam buku harian milik Joy.

  • Dear Joy   80. Kebohongan

    Ini bukan hal yang mudah untuk membicarakan langsung tentang hak asuh Lara. Apa yang akan dipikirkan oleh Bibi Susana? Marahkah ia setelah mendengarkan kalimatku nanti atau malah menyetujuinya dengan syarat ini dan itu? Tidak ada yang tahu tentang itu dengan pasti. Yang jelas, aku berharap baik dari semua ini.“Kalau Lara ingin diadopsi oleh keluarga kami, apa Bibi tidak masalah?” Aku memberanikan diri untuk mengatakannya.Beberapa detik Bibi Susana terdiam. Wajahnya juga sempat terkejut saat mendengarnya. Lalu, ia tersenyum dan menjawab, “Kalau soal hak asuh, sebenarnya Bibi sama sekali tidak memiliki hak yang kuat di sini. Orang tua Joy-lah yang paling berkuasa dan tepat untuk memutuskannya.”

  • Dear Joy   79. Gelisah?

    Lara yang mulai rewel akhirnya pula yang membuat aku dan ibu memutuskan untuk meninggalkan café Diandara. Dalam perjalanan kami tidak saling bicara. Ibuku fokus menyetir sedangkan aku memastikan Lara aman dalam pangkuanku di dalam mobil.“Memangnya ada ya, orang tua yang tidak mengakui anaknya sendiri?” tanyaku tiba-tiba. “Si Bima itu memanglah brengsek. Bisa-bisanya ia malah menuduhku seorang penipu! Memangnya apa yang mau aku ambil darinya? Uang? Bukannya dia saja tidak punya uang? Ckckck!”“Kamu itu mengomel mulu ya kalau sudah tentang Bima,” balas ibu yang mulai kesal mendengar kata demi kata yang keluar dari mulutku.“Ckckck! Soalnya Mama belum tahu semua yang dilakukan oleh Bima pada Joy. Kalau aku ceritakan s

DMCA.com Protection Status