“A-Adrik?” Carol nyaris ambruk melihat Adrik berdiri di ambang pintu. Andai saja kakinya tak menginjak kuat lantai, sudah pasti dia akan tersungkur di lantai. Darah yang mengalir di tubuhnya seakan berhenti di kepala, hingga menimbulkan rasa pusing yang hebat. Debaran jantungnya berpacu keras. Matanya melebar menunjukkan rasa takut yang menjalar dalam diri. Bahunya bergetar—dan kaki wanita itu melemah. Dia ingin berlari, tapi semua itu tak mungkin. Posisi Adrik di ambang pintu, menyulitkan dirinya untuk melarikan diri. “Halo, Carol? Senang bisa melihatmu.” Adrik menyunggingkan senyuman misterius pada Carol. Senyuman yang menampilkan kekejaman dan tersirat rasa benci serta kecewa yang mendalam. Carol menggelengkan kepalanya tegas. Meyakinkan bahwa apa yang dirinya lihat tidaklah nyata. “T-tidak mungkin! Kau ada di penjara!” serunya dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh, dia meyakinkan dirinya bahwa pria yang ada di hadapannya ini hanyalah bayangan. Tidaklah nyata. “Well, memangnya
Fargo membaringkan tubuh Carol ke ranjang yang megah dan empuk. Samar-samar isak tangis Carol masih terdengar. Meskipun pria itu sudah ada di sisi Carol, tetap saja kekasihnya itu tak bisa menghentikan tangisnya. “Sayang, jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihatmu menangis seperti ini.” Fargo menarik tubuh Carol, terduduk di pangkuannya, dan memeluknya erat. Saat ini Fargo membawa Carol ke hotel. Pria tampan itu sengaja meninggalkan apartemen, karena dia khawatir anak buah Adrik masih ada di sana. Pun dia ingin menghilangkan trauma Carol atas apa yang telah terjadi. Hal itu yang membuatnya memutuskan untuk membawa Carol ke hotel. Hingga detik ini, Fargo tak henti menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi. Andai saja dirinya tak masuk ke dalam jebakan, maka Carol tidak akan mengalami trauma. Terlalu banyak masalah yang bertubi-tubi yang datang di hidup mereka, wajar kalau sekarang trauma berat menghampiri Carol. Carol terisak sesegukan dalam pelukan Fargo. “Aku su
Carol tak menyangka kalau Fargo akan seperti harimau yang lapar. Sungguh, tubuhnya remuk. Setiap kali bergerak saja, dia merasakan perih dan sakit di inti tubuh bagian bawahnya. Pengalaman pertama yang indah, tapi juga membuat sekujur tubuhnya pegal-pegal. Meski demikian, tentu saja dia merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Benak Carol yang terisikan kenangan buruk, perlahan mulai lenyap tergantikan secercah harapan. Segala tindakan yang Fargo lakukan padanya, telah mampu memberikan ketenangan hati Carol. Fargo seperti rumah kokoh yang melindungi Carol dari terkaman badai. Hanya bersama Fargo membuat Carol tak pernah takut pada apa pun. Carol belum pernah cinta sedalam-dalamnya pada seorang pria, dan hanya Fargo yang mampu memorakporandakan hatinya. Tak pernah dia sangka kalau belahan jiwanya adalah sosok pria yang sudah lama dia kenal. Memang, tak akan pernah ada yang tahu tentang takdir kehidupan. Dulu, Carol berusaha menemukan belahan jiwanya. Wanita itu sering hadir ke pesta-
Carol menatap tenderloin steak yang baru saja diantar oleh pelayan. Wanita cantik itu tampak enggan untuk makan. Memang, nafsu makannya sejak kemarin belum juga membaik. Hal yang dia inginkan adalah lebih banyak beristirahat. Namun, tentu Fargo selalu memaksa Carol untuk makan. Bahkan, pria itu kerap menyuapi Carol untuk makan.“Aku kenyang sekali.” Carol menghela napas dalam. Detik selanjutnya, dia menyingkirkan piring yang berisikan tenderloin steak ke atas meja. Sungguh, dia sedang tak ingin makan. Hati dan pikiran yang masih tak kunjung tenang, membuat nafsu makannya hilang. Fargo melangkah keluar dari kamar mandi sudah mengganti pakaiannya. Sebelumnya, pria itu meninggalkan Carol sebentar karena ingin mandi. Hingga detik ini, Fargo dan Carol masih berada di hotel. Alasanya karena Fargo masih merasa apartemennya sekarang tidaklah aman. Itu kenapa dia memilih untuk menetap di hotel bersama dengan sang kekasih. “Carol, kenapa kau belum makan?” Fargo duduk di samping Carol, menatap
Napas Carol sedikit terengah-engah kala Fargo melumat bibirnya dengan liar. Tangannya melingkar di leher Fargo, merapatkan tubuhnya pada tubuh sang kekasih. Pun Fargo memeluk tubuh Carol, mendekap begitu erat. Ya, dua insan itu tengah berciuman di kolam renang. Terdengar suara desahan Carol saat Fargo meremas payudara wanita itu. Bikini merah yang dikenakan Carol, membuat Fargo benar-benar kehilangan akal sehat. Pria itu tidak bisa mengendalikan diri. Tubuhnya terlalu indah, dan sempurna. Segala hal yang dimiliki Carol, membuat Fargo tergila-gila. “Sayang, tadi malam sudah,” desah Carol di sela-sela ciuman itu. “Hanya satu kali saja, aku tidak akan melakukan berkali-kali di sini,” bisik Fargo seraya melucuti bra yang dipakai oleh Carol, dan melempar sembarangan. Dia bebas melancarkan aksinya karena kolam renang ini khusus disewa untuknya bersama dengan sang kekasih. Tidak akan ada yang bisa masuk ke dalam ruang kolam renang ini. Carol hanya bisa pasrah. Tak mungkin dia menolak ke
“Mommy, kapan adikku muncul? Kenapa dia lama sekali?” Diego bertanya seraya menikmati soup yang disuapi oleh Kimberly. Bocah laki-laki itu tampaknya sudah tak sabar ingin bertemu dengan adiknya. “Adikmu masih sangat kecil, Sayang. Jadi, tunggu beberapa bulan lagi baru kau bisa melihat adikmu.” Kimberly mencium gemas hidung Diego. “Lama sekali, Mom.” Diego melipat tangannya di depan dada. “Aku sudah tidak sabar.” “Hm, dulu Daddy bilang kan seekor kuda saja harus butuh waktu lama untuk melahirkan. Ingat tidak?” Kimberly menggali ingatan Diego, tentang ucapan Damian yang menyamakannya seperti kuda. Sungguh, raut wajah Kimberly sempat jengkel, akibat mengingat ucapan Damian dulu. Bayangkan saja dirinya disamakan oleh kuda. Kalau saja tidak demi Diego paham, Kimberly mana mungkin akan mengatakan hal itu. “Iya, Mom. Aku ingat. Kuda butuh waktu untuk melahirkan anaknya. Tidak bisa langsung. Tapi, aku sangat tidak sabar ingin melihat adikku, Mom.” Bibir Diego tertekuk kala mengatakan itu.
Carol menatap jam dinding, waktu menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Fargo belum juga pulang. Tadi dia tak bertanya jam berapa Fargo akan pulang. Dia pikir kalau Fargo tak akan lama menemui Brant Zeno. Namun ternyata sampai detik ini, Fargo belum juga kembali. Sungguh, ingin sekali dia menghubungi Fargo menanyakan kapan kekasihnya itu pulang, tapi dia merasa tak enak. Dia takut mengganggu Fargo. Carol menghela napas dalam. Detik selanjutnya, dia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, menatap ke layar sebentar. Dia sedikit merasa bosan akhirnya memilih untuk menghubungi Kimberly. Selain ingin menghilangkan kebosanan, dia juga ingin menanyakan kabar teman baiknya itu. “Halo, Kim,” sapa Carol saat panggilan terhubung. “Ya, Carol. Kau di mana?” jawab Kimberly dari seberang sana. “Aku masih di hotel Kim.” “Oh, apa kau belum tahu sampai kapan kau dan Fargo tinggal di hotel?” “Belum, Kim. Aku belum tahu. Fargo belum membicarakan kapan kami check-out.” “Menurutku kalian tinggal sa
Tubuh Carol bergeming menatap sosok wanita di hadapannya itu. Wanita yang sudah lama sekali tidak pernah Carol lihat. Carol tak pernah mengira kalau akan kembali melihat wanita itu lagi. Terlebih dalam kondisi dirinya dan Fargo tengah makan malam romantis. “Carol? Fargo?” Gilda menyapa Carol dan Fargo bersamaan. Raut wajah Gilda pun tampak terkejut melihat Carol dan Fargo. Ya, di hadapan Carol dan Fargo saat ini adalah Gilda bersama dengan sosok pria. Tentu Carol dan Fargo tak mengenal siapa pria itu. Pun yang Carol dan Fargo pusatkan padangan adalah pada Gilda. Fargo berdeham sebentar. Ada rasa tak menyangka akan kembali melihat Gilda. Pria itu sama sekali belum mengetahui kalau Gilda berada di Los Angeles. “Hai, lama tidak bertemu. Aku tidak tahu kalau kau sudah di Los Angeles.” Fargo membalas sapaan Gilda, mencairkan suasana. Gilda tersenyum hangat. “Hai, Fargo. Lama tidak berjumpa denganmu. Kebetulan aku memang datang ke sini, jauh lebih awal dari jadwal yang sudah aku tentuka
Paris, Prancis. Lampu Menara Eiffel bersinar indah di malam hari. Suasana menyejukan, serta angin berembus memberikan ketenangan, dan kedamaian. Tampak jelas tatapan mata Fargo dan Carol menatap penuh hangat keindahan malam di kota Paris. Mereka menikmati keindahan kota itu bersama dengan Arabella—putri kecil mereka. “Sayang, Paris benar-benar kota yang indah. Terima kasih telah mengajakku dan Arabella berlibur.” Carol menyandarkan kepalanya di lengan kekar sang suami. Arabella kini ada digendongan Fargo tepat di tangan kanan pria itu. Sebelumnya Carol meminta Fargo untuk berlibur bersama dengan putri kecil mereka. Selama ini, mereka belum pernah liburan ke luar negeri bersama dengan Arabella. Beruntung, akhirnya Fargo mewujudkan keinginan Carol. Walau sebenarnya, pria itu sempat khawatir, karena usia kandungan Carol masih enam minggu, tapi akhirnya Fargo luluh karena dokter mengantakan kandungan Carol sehat dan kuat. “Maaf belakangan ini, aku selalu sibuk sampai tidak bisa mengaj
Carol tersenyum di kala sudah selesai menata foto-foto keluarga kecilnya. Bayi cantik dengan rambut cokelat dan mata abu-abu begitu menyejukan hati. Sebuah foto keluarga yang tersirat menunjukkan kebahagiaan yang tak terkira. Ya, di hadapan Carol adalah fotonya bersama dengan suami dan putri kecilnya. Sungguh, setiap kali Carol menata foto keluarga kecilnya, hatinya bergetar penuh dilingkupi kebahagiaan. Tanpa terasa hampir tiga tahun Carol menikah dengan Fargo—pria yang teramat, sangat dia cintai. Selama dua tahun ini, hidupnya memiliki warna yang baru. Sebuah warna yang mana memang tak pernah dia dapatkan sebelumnya. Menikah dan memiliki anak adalah hal yang indah. Arabella Fargo Jerald, adalah anak pertama perempuan Carol dan Fargo. Anak perempuan yang sangat cantik dan baru berusia 1,5 tahun. Arabella adalah anak yang penurut. Carol tak pernah kesulitan menjaga Arabella, karena putrinya itu begitu patuh padanya. Selama ini, Carol dibantu dua pengasuh dalam penjaga Arabella. Se
Dua tahun berlalu … “Brisa, aku tidak bisa hadir meeting launcing product. Tolong kau minta Carol untuk gantikan aku. Atau kau bisa minta direktur perwakilan. Sekarang aku harus ke sekolah Diego. Aku baru saja mendapatkan kabar Diego berkelahi di sekolah.” Kimberly berkata dengan nada cepat seraya memasukan barang-barangnya ke dalam tas. Tampak jelas, dia sedang terburu-buru. Namun, sayangnya dia tak menemukan kunci mobilnya. Dia langsung mengumpat saat tak menemukan kunci mobilnya. Terpaksa, dia menggunakan mobil lain, kala kunci mobil yang biasa dia pakai tak bisa ditemukan. “Nyonya, Nyonya Carol juga sibuk. Beliau ada meeting dengan—” “Brisa, putraku lebih penting. Kau urus saja. Kalau kau tidak mengerti, kau bisa meminta Freddy untuk membantumu. Aku yakin Freddy tahu apa yang harus dilakukannya. Aku harus tutup telepon.” “Nyonya, tapi—” Kimberly menutup panggilan secara sepihak. Dia tak bisa berlama-lama. Dia langsung berlari masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobil dengan
Beberapa bulan berlalu … Gilda mengusap perutnya yang buncit dengan penuh kelembutan. Dia tampak begitu bahagia setiap kali melihat perut buncitnya. Hatinya menyejuk. Gelenyar akan secercah pengharapan indah, selalu menyelimutinya. Dia merasa seperti mimpi. Namun tidak! Ada bayi di perutnya, dan itu nyata! Dia akan segera menjadi seorang ibu. Gilda duduk di taman belakang rumahnya. Saat ini, dia masih berada di Los Angeles, dia belum pindah ke Melbourne, karena dia memilih melahirkan di Los Angeles. Usia kandungannya telah memasuki minggu ke dua puluh. Dokter mengatakan dia mengandung anak laki-laki. Sungguh, Gilda tak pernah mengira dirinya akan menjadi seorang ibu. Dari segala kejahatan yang dilakukannya di masa lalu, harusnya Gilda tak diberikan kesempatan untuk memiliki sebuah keluarga indah. Tapi rupanya, takdir masih berbaik hati padanya. Dulu, Gilda hampir menjadi seorang ibu, tapi bayi yang ada di kandungannya tak selamat. Pun kala itu sifatnya masih buruk. Dia bersyukur b
Beberapa minggu berlalu … Kimberly tersenyum melihat lukisan yang baru saja dirinya pesan dalam pemasangan di dinding. Kehamilan kali ini, membuatnya menyukai menata rumah. Jika biasanya, dia selalu menyerahkan pada pelayan, kali ini benar-benar berbeda. Entah kenapa, selalu saja ada ide dalam benaknya untuk menata rumah. Mulai dari menata taman, ruang tengah, ruang tamu, bahkan kamar. Dia selalu mengganti suasana agar tak bosan. Usia kandungan Kimberly saat ini sudah tiga belas minggu—yang mana kehamilannya sudah memasuki trimester kedua. Perutnya mulai membuncit. Well, bisa dikatakan perutnya jauh lebih membuncit ketimbang, kehamilan pertamanya. Padahal usia kandungan Kimberly masih baru tiga belas minggu. Mungkin efek terlalu banyak makan. Itu yang ada di dalam pikirannya. Kehamilan kedua ini memang membuat nafsu makan Kimberly meningkat tajam. Tentu, dia pasrah di kala tubuhnya mengalami kenaikan cukup drastis. Baginya yang paling terpenting adalah bayi yang ada di dalam kandu
“Aw—” Carol meringis saat tangan Fargo terlepas di pergelangan tangannya. Tampak jelas pergelangan tangan wanita itu memerah, akibat Fargo mencengkeram tangannya dengan sangat kencang. Ya, sejak tadi suaminya itu menarik tangannya dengan keras. Carol berusaha menjelaskan tentang Bruno, tapi Fargo menolak membahas Bruno. Alhasil, sekarang amarah Fargo semakin menjadi. Carol mengerti pasti Fargo salah paham tentang Bruno. Apalagi tadi Bruno sampai memeluknya. Ya Tuhan! Carol menjadi serba salah. Ingin menjelaskan, karena takut semakin salah paham, tapi di sisi lain, dia juga malu untuk menjelaskan. Dia benar-benar dalam keadaan dilema. “Siapa pria yang bernama Bruno, Carol? Berani sekali kau berpelukan dengannya!” bentak Fargo keras dan menggelegar. Dia dan sang istri kini sudah tiba di kamar hotel. Dia tampak jelas dilingkupi kemarahan dan cemburu yang besar. “Sayang, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kau salah paham. Bruno adalah—” “Adalah apa?! Kau ingin beralasan Bruno adala
Amsterdam, Netherlands. Setelah perjalanan cukup panjang, akhirnya Fargo dan Carol tiba di Amsterdam, sebuah ibu kota Belanda yang sangat indah dan menawan. Selain itu, Belanda terkenal dengan sepeda. Ya, budaya bersepeda memang sudah mendarah daging di Belanda. Pemerintah bahkan telah membangun infrastruktur berupa jalan khusus pesepeda yang membentang di seluruh wilayah di negara ini. Amsterdam bukan hanya sekadar kota yang indah, tapi kota yang menyimpan jutaan kenangan antara Carol dan Fargo. Lihat saja, ketika dua insan itu mendarat di Amsterdam, mereka tersenyum semeringah bahagia. Mereka tak mengira kembali lagi ke kota ini, dalam keadaan mereka berdua telah resmi menjadi sepasang suami istri. Dulu, Carol ke Amsterdam karena ingin melakukan pertemuan bisnis. Sementara Fargo tinggal di Amsterdam, karena mengurus perusahaannya. Pun di kala Fargo bercerai dari Kimberly, pria itu memang memutuskan tinggal di Amsterdam. Sekarang, dua orang asing yang tak pernah berpikir akan ber
Fargo dan Carol tak menunda bulan madu mereka ke Amsterdam. Setelah Gavin dan Gilda menikah, mereka langsung bersiap untuk melakukan penerbangan ke Amsterdam. Hal itu membuat Carol tadi sempat sibuk dengan barang-barang yang akan dia bawa. Namun, sekarang barang yang akan dibawa Carol telah dimasukan ke dalam mobil oleh pelayan. Perasaan yang dirasakan Carol adalah bahagia. Tentu dia bahagia karena akan segera ke Amsterdam—tempat yang dulunya menyebalkan, tapi ternyata memberikan kebahagiaan mendalam. Namun, sekarang bukan hanya kebahagiaan yang dia rasakan, melainkan rasa khawatir tentang ucapan nenek tua tempo hari. “Astaga Carol, kenapa kau masih memikirkan ucapan peramal tidak jelas itu?” gumam Carol seraya menepuk jidatnya, mengumpati kebodohannya di mana masih mendengar ucapan peramal tidak jelas. Tiba-tiba ponsel Carol berbunyi, membuyarkan lamunannya. Dia mengambil ponselnya yang ada di atas meja, dan menatap ke layar tertera nomor ‘Gilda’ yang terpampang di sana. Detik i
The Ritz-Carlton tempat di mana yang dipilih Gavin dan Gilda melangsungkan pernikahan mereka. Gilda melangkah dengan pelan dan anggun—mamasuki ballroom hotel dengan tangan yang terus memeluk lengan Ernest. Ya, yang menemani Gilda adalah Ernest—tentu ini semua karena permintaan Ernest sendiri. Hal itu yang membuat Gilda merasakan syukur tanpa henti. Meski dia pernah jahat, tapi ternyata kesalahannya mampu dimaafkan oleh keluarga. Gilda tersenyum hagat, dan kini kilat kamera yang terus tersorot padanya. Tampak jelas dia sedikit gugup, tapi wanita itu berusaha mengatasi rasa gugupnya. Ribuan tamu undangan yang datang, menatap hangat dan kagum pada penampilannya. Di ujung sana, tepat di kursi paling depan ada Maisie yang tak henti menangis. Pun Kimberly yang duduk di belakang Maisie ikut menangis kala Gilda mulai mendekat. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis haru bahagia. Dari altar, Gavin begitu tampan dengan tuxedo berwarna putih menatap kagum penampilan Gilda yang sangat cantik