Semua orang dibuat terkejut melihat dengan mata kepala mereka Kimberly jatuh pingsan. Tampak Rula dan Fidelya panik luar biasa. Diego yang ada digendongan Fidelya pun menangis kala melihat Kimberly pingsan. Sementara Damian? Tak perlu lagi ditanya, pria itu sangatlah luar biasa panik. Beberapa kali Damian mencoba membangunkan Kimberly, tapi hasilnya nihil. Kimberly tak kunjung membuka mata. Hal itu membuat semua orang semakin khawatir. Saat kejadian Kimberly jatuh pingsan, Fargo segera membantu Damian untuk memanggilkan dokter khusus keluarga Darrel. Mereka langsung meminta dokter datang, karena takut Kimberly butuh pertolongan pertama. Jika harus ke rumah sakit, takutnya akan memakan waktu. Ya, kini semua keluarga telah menunggu di depan kamar tamu di apartemen milik Fargo. Kamar di mana yang dijadikan tempat untuk ruang rawat Kimberly sementara. Diego yang tadi menangis digendongan Fidelya telah berhasil diluluhkan oleh Carol. Diego sempat mengamuk ingin melihat ibunya, tapi berha
Tanpa terasa tiga hari telah berlalu. Cadey sekarang sudah keluar dari rumah sakit. Selama ini, Carol selalu bolak-balik ke rumah sakit, mengantarkan makanan dan menunggu Cadey. Tentu Fargo begitu setia pada Carol mengantar ke rumah sakit. Selama di rumah sakit Cadey memang lebih banyak diam ketika Fargo datang. Hanya sesekali ibu Carol itu mulai bersuara. Pun sebenarnya ibu Carol itu mulai bicara karena Fargo yang memulai percakapan—menanyakan kabar. Carol mengerti ibunya selalu malu setiap kali melihat Fargo. Hal itu yang membuat ibunya itu memilih tidak banyak bicara. Well, kalau boleh jujur memang Carol seperti merasa kehilangan sosok ibunya yang cerewet. Bayangkan saja, tidak ada hari tanpa dimarahi. Hal itu sudah menjadi bagian hidup Carol Hanson sejak lama. Dia kerap melarikan diri layaknya maling demi terhindar dari omelan sang ibu. Padahal usia Carol bukan lagi usia anak sekolah. Namun tetap saja, dia kerap diperilakukan seperti anak-anak. “Carol, hari ini aku akan meeting
Berita rencana pernikahan Carol dan Fargo sudah tersebar di media. Tentu berita pernikahan Carol dan Fargo ini telah menghebohkan publik. Pasalnya, mereka tidak pernah sedikit pun mengumbar hubungan mereka. Bahkan di kala rumor beredar tentang hubungan Carol dan Fargo, kedua belah pihak tetap bungkam dan tidak mau sama sekali memberikan komentar apa pun. Begitu juga dengan pihak keluarga yang tak mau sama sekali memberikan komentar. Hal yang membuat berita menjadi ramai karena status Fargo yang merupakan mantan suami Kimberly. Sementara Carol adalah sahabat baik Kimberly. Siapa yang tak tahu berita panas tentang perceraian Fargo dan Kimberly beberapa tahun silam? Semua orang jelas tahu tentang skandal yang menggemparkan publik. Sejak di mana terbongkar skandal rumah tangga Fargo dan Kimberly, membuat kehidupan pribadi Fargo dan Kimberly selalu menjadi sorotan media. Ditambah Kimberly memiliki skandal dan bahkan sampai menikah dengan Damian Darrel—yang mana statusnya adalah Paman tir
Kimberly duduk di sofa kamar seraya memakan ice cream tiramisu. Baru saja wanita itu mengalami mual hebat, dan salah satu penawar rasa mualnya adalah makan ice cream. Jika ada wanita hamil tanpa mengalami mual, maka wanita itu sangat beruntung. Pasalnya, kehamilan pertama ataupun kehamilan kedua selalu mengalami mual hebat. Hal itu yang membuatnya selalu sulit mengerjakan beberapa pekerjaanya. Mau tak mau, Kimberly meminta Brisa untuk membantunya mengurus perusahaan. Dulu, Kimberly kerap meminta bantuan Carol untuk mengurus perusahaan dikala dirinya tengah hamil muda, tapi sekarang, dia tak bisa meminta bantuan Carol, karena kondisinya teman baiknya itu sedang mempersiapkan pernikahan. Tanpa terasa, hanya tinggal sedikit lagi, Carol dan Fargo akan segera melangsungkan pernikahan. Tak heran kalau sekarang Carol begitu sibuk mempersiapkan segala yang dibutuhkan. Meskipun, Fargo sudah meminta anak buahnya untuk mengurus, tetap saja Carol ingin ikut andil dalam mengurus persiapan pernik
Sepasang iris mata Fargo melebar terkejut mendengar apa yang dilaporkan oleh sang asisten. Tangan Fargo mencengkram kuat ponselnya, menunjukan kemarahan yang nyaris meledak. Sorot matanya terhunus tajam, penuh emosi. Rahangnya mengetat. Geraman kemarahan membuatnya tak terkendali. “Temui aku di luar sekarang!” bentak Fargo dengan nada keras. Tanpa menunggu balasan, dia langsung menutup panggilan itu sepihak—menyibak selimut, dan turun dari ranjang seraya menyambar jaket dan kunci mobilnya. “Fargo, tunggu.” Carol terkejut kala Fargo ingin pergi begitu saja. Wanita itu melompat dari ranjang, dan berlari menghampiri Fargo. “Kau mau ke mana, Fargo?” tanyanya seraya menyentuh lengan sang kekasih. Tampak, raut wajah Carol bingung melihat kemarahan di wajah Fargo setelah mendapatkan telepon dari Gene. “Ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan,” jawab Fargo berusaha bersikap biasa. Meski dadanya panas luar biasa, akibat emosinya, tetapi Fargo tetap mengendalikan dirinya di depan Carol
Fargo membanting kasar pintu mobilnya, berlari cepat masuk ke dalam lobi apartemen—disusul Damian yang juga berlari mengikuti Fargo. Ya, kedua pria itu sama-sama memarkirkan mobil sembarangan di halaman parkir. Mereka tak peduli jika mobil mereka menghalangi jalan sekali pun. Tampak jelas Fargo begitu cemas dan khawatir. Pancaran mata Fargo memancarkan rasa takut yang sulit terkendali. Sementara Damian tentu tak mungkin membiarkan Fargo sendirian. Damian takut terjadi sesuatu pada keponakannya itu. “Carol! Carol!” Fargo menerobos masuk ke dalam apartemen, dan terdengar suara tangis dari dalam kamar, membuat Fargo segera berjalan menuju ke arah kamar. Pun Damian mengikuti Fargo seraya mengendarkan pandangan ke sekitar. Tatapan Damian menelesik memastikan tak ada orang di apartemen Fargo. Saat tiba di kamar, tatapan Fargo melihat dua security yang harusnya berjaga di depan pintu apartemen malah ada di ambang pintu kamarnya. Sementara Carol duduk di lantai seraya dipeluk oleh pelayan.
“Selamat pagi, Nyonya Kimberly.” Sang pelayan menghampiri Kimberly yang duduk di sofa kamar. Pelayan itu segera menyajikan pancake saus madu yang sudah dia buat untuk Kimberly. “Ini sarapan Anda, Nyonya.” “Terima kasih.” Kimberly tersenyum hangat. Ya, pagi menyapa, dia mual hebat sampai membuatnya enggan keluar kamar. Bahkan tadi pagi, di kala Diego berpamitan berangkat sekolah saja, dia tak bisa mengantar ke depan rumah. Alasannya, dia selalu tak tahan ingin muntah. Beruntung, Diego anak yang patuh. Diego sama sekali tak marah saat Kimberly tak bisa mengantar ke depan rumah. Namun, meski demikian sebelum Diego berangkat sekolah, tentu saja Kimberly sudah menghujani Diego kecupan dan pelukan hangat. “Dengan senang hati, Nyonya.” Sang pelayan tersenyum sopan. “Maaf, Nyonya. Apa sekiranya ada lagi yang Anda butuhkan? Mungkin Anda ingin makanan lain?” tanyanya sebelum pamit undur diri. “Tidak, ini saja sudah cukup. Nanti kalau aku butuh sesuatu, aku akan memberikan kabar padamu,” jawa
Tubuh Kimberly bergerak-gerak gelisah dengan mata yang masih terpejam. Peluh mulai membanjiri kening Kimberly. Tampak jelas Kimberly sedang berada di dalam mimpi buruk. Damian yang ada di sampingnya langsung terbangun kala merasakan ada yang bergerak-gerak. Refleks, di kala mata Damian terbuka—pria itu terkejut melihat Kimberly mengigau. “Diego … Diego …” racau Kimberly mengigau memanggil nama Diego. “Kim? Kim?” Damian menepuk-nepuk pipi Kimberly lembut, membangunkan istrinya itu. “Kim? Hey, Sayang. Bangun?” Damian kembali berusaha membangunkan Kimberly. “Diego!” Mata Kimberly langsung terbuka lebar, berteriak memanggil Diego. “Kim? Ada apa?” Damian mengusap-usap bahu Kimberly. Napas Kimberly terengah-engah kala dirinya sudah terbangun. Tepat ketika dia sudah membuka kedua matanya, wanita itu langsung menyibak selimut, dan turun dari ranjang—melangkah terburu-buru meninggalkan kamar. Sontak, Damian yang melihat Kimberly keluar kamar, segera menyusul sang istri. Raut wajah Damian
Paris, Prancis. Lampu Menara Eiffel bersinar indah di malam hari. Suasana menyejukan, serta angin berembus memberikan ketenangan, dan kedamaian. Tampak jelas tatapan mata Fargo dan Carol menatap penuh hangat keindahan malam di kota Paris. Mereka menikmati keindahan kota itu bersama dengan Arabella—putri kecil mereka. “Sayang, Paris benar-benar kota yang indah. Terima kasih telah mengajakku dan Arabella berlibur.” Carol menyandarkan kepalanya di lengan kekar sang suami. Arabella kini ada digendongan Fargo tepat di tangan kanan pria itu. Sebelumnya Carol meminta Fargo untuk berlibur bersama dengan putri kecil mereka. Selama ini, mereka belum pernah liburan ke luar negeri bersama dengan Arabella. Beruntung, akhirnya Fargo mewujudkan keinginan Carol. Walau sebenarnya, pria itu sempat khawatir, karena usia kandungan Carol masih enam minggu, tapi akhirnya Fargo luluh karena dokter mengantakan kandungan Carol sehat dan kuat. “Maaf belakangan ini, aku selalu sibuk sampai tidak bisa mengaj
Carol tersenyum di kala sudah selesai menata foto-foto keluarga kecilnya. Bayi cantik dengan rambut cokelat dan mata abu-abu begitu menyejukan hati. Sebuah foto keluarga yang tersirat menunjukkan kebahagiaan yang tak terkira. Ya, di hadapan Carol adalah fotonya bersama dengan suami dan putri kecilnya. Sungguh, setiap kali Carol menata foto keluarga kecilnya, hatinya bergetar penuh dilingkupi kebahagiaan. Tanpa terasa hampir tiga tahun Carol menikah dengan Fargo—pria yang teramat, sangat dia cintai. Selama dua tahun ini, hidupnya memiliki warna yang baru. Sebuah warna yang mana memang tak pernah dia dapatkan sebelumnya. Menikah dan memiliki anak adalah hal yang indah. Arabella Fargo Jerald, adalah anak pertama perempuan Carol dan Fargo. Anak perempuan yang sangat cantik dan baru berusia 1,5 tahun. Arabella adalah anak yang penurut. Carol tak pernah kesulitan menjaga Arabella, karena putrinya itu begitu patuh padanya. Selama ini, Carol dibantu dua pengasuh dalam penjaga Arabella. Se
Dua tahun berlalu … “Brisa, aku tidak bisa hadir meeting launcing product. Tolong kau minta Carol untuk gantikan aku. Atau kau bisa minta direktur perwakilan. Sekarang aku harus ke sekolah Diego. Aku baru saja mendapatkan kabar Diego berkelahi di sekolah.” Kimberly berkata dengan nada cepat seraya memasukan barang-barangnya ke dalam tas. Tampak jelas, dia sedang terburu-buru. Namun, sayangnya dia tak menemukan kunci mobilnya. Dia langsung mengumpat saat tak menemukan kunci mobilnya. Terpaksa, dia menggunakan mobil lain, kala kunci mobil yang biasa dia pakai tak bisa ditemukan. “Nyonya, Nyonya Carol juga sibuk. Beliau ada meeting dengan—” “Brisa, putraku lebih penting. Kau urus saja. Kalau kau tidak mengerti, kau bisa meminta Freddy untuk membantumu. Aku yakin Freddy tahu apa yang harus dilakukannya. Aku harus tutup telepon.” “Nyonya, tapi—” Kimberly menutup panggilan secara sepihak. Dia tak bisa berlama-lama. Dia langsung berlari masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobil dengan
Beberapa bulan berlalu … Gilda mengusap perutnya yang buncit dengan penuh kelembutan. Dia tampak begitu bahagia setiap kali melihat perut buncitnya. Hatinya menyejuk. Gelenyar akan secercah pengharapan indah, selalu menyelimutinya. Dia merasa seperti mimpi. Namun tidak! Ada bayi di perutnya, dan itu nyata! Dia akan segera menjadi seorang ibu. Gilda duduk di taman belakang rumahnya. Saat ini, dia masih berada di Los Angeles, dia belum pindah ke Melbourne, karena dia memilih melahirkan di Los Angeles. Usia kandungannya telah memasuki minggu ke dua puluh. Dokter mengatakan dia mengandung anak laki-laki. Sungguh, Gilda tak pernah mengira dirinya akan menjadi seorang ibu. Dari segala kejahatan yang dilakukannya di masa lalu, harusnya Gilda tak diberikan kesempatan untuk memiliki sebuah keluarga indah. Tapi rupanya, takdir masih berbaik hati padanya. Dulu, Gilda hampir menjadi seorang ibu, tapi bayi yang ada di kandungannya tak selamat. Pun kala itu sifatnya masih buruk. Dia bersyukur b
Beberapa minggu berlalu … Kimberly tersenyum melihat lukisan yang baru saja dirinya pesan dalam pemasangan di dinding. Kehamilan kali ini, membuatnya menyukai menata rumah. Jika biasanya, dia selalu menyerahkan pada pelayan, kali ini benar-benar berbeda. Entah kenapa, selalu saja ada ide dalam benaknya untuk menata rumah. Mulai dari menata taman, ruang tengah, ruang tamu, bahkan kamar. Dia selalu mengganti suasana agar tak bosan. Usia kandungan Kimberly saat ini sudah tiga belas minggu—yang mana kehamilannya sudah memasuki trimester kedua. Perutnya mulai membuncit. Well, bisa dikatakan perutnya jauh lebih membuncit ketimbang, kehamilan pertamanya. Padahal usia kandungan Kimberly masih baru tiga belas minggu. Mungkin efek terlalu banyak makan. Itu yang ada di dalam pikirannya. Kehamilan kedua ini memang membuat nafsu makan Kimberly meningkat tajam. Tentu, dia pasrah di kala tubuhnya mengalami kenaikan cukup drastis. Baginya yang paling terpenting adalah bayi yang ada di dalam kandu
“Aw—” Carol meringis saat tangan Fargo terlepas di pergelangan tangannya. Tampak jelas pergelangan tangan wanita itu memerah, akibat Fargo mencengkeram tangannya dengan sangat kencang. Ya, sejak tadi suaminya itu menarik tangannya dengan keras. Carol berusaha menjelaskan tentang Bruno, tapi Fargo menolak membahas Bruno. Alhasil, sekarang amarah Fargo semakin menjadi. Carol mengerti pasti Fargo salah paham tentang Bruno. Apalagi tadi Bruno sampai memeluknya. Ya Tuhan! Carol menjadi serba salah. Ingin menjelaskan, karena takut semakin salah paham, tapi di sisi lain, dia juga malu untuk menjelaskan. Dia benar-benar dalam keadaan dilema. “Siapa pria yang bernama Bruno, Carol? Berani sekali kau berpelukan dengannya!” bentak Fargo keras dan menggelegar. Dia dan sang istri kini sudah tiba di kamar hotel. Dia tampak jelas dilingkupi kemarahan dan cemburu yang besar. “Sayang, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kau salah paham. Bruno adalah—” “Adalah apa?! Kau ingin beralasan Bruno adala
Amsterdam, Netherlands. Setelah perjalanan cukup panjang, akhirnya Fargo dan Carol tiba di Amsterdam, sebuah ibu kota Belanda yang sangat indah dan menawan. Selain itu, Belanda terkenal dengan sepeda. Ya, budaya bersepeda memang sudah mendarah daging di Belanda. Pemerintah bahkan telah membangun infrastruktur berupa jalan khusus pesepeda yang membentang di seluruh wilayah di negara ini. Amsterdam bukan hanya sekadar kota yang indah, tapi kota yang menyimpan jutaan kenangan antara Carol dan Fargo. Lihat saja, ketika dua insan itu mendarat di Amsterdam, mereka tersenyum semeringah bahagia. Mereka tak mengira kembali lagi ke kota ini, dalam keadaan mereka berdua telah resmi menjadi sepasang suami istri. Dulu, Carol ke Amsterdam karena ingin melakukan pertemuan bisnis. Sementara Fargo tinggal di Amsterdam, karena mengurus perusahaannya. Pun di kala Fargo bercerai dari Kimberly, pria itu memang memutuskan tinggal di Amsterdam. Sekarang, dua orang asing yang tak pernah berpikir akan ber
Fargo dan Carol tak menunda bulan madu mereka ke Amsterdam. Setelah Gavin dan Gilda menikah, mereka langsung bersiap untuk melakukan penerbangan ke Amsterdam. Hal itu membuat Carol tadi sempat sibuk dengan barang-barang yang akan dia bawa. Namun, sekarang barang yang akan dibawa Carol telah dimasukan ke dalam mobil oleh pelayan. Perasaan yang dirasakan Carol adalah bahagia. Tentu dia bahagia karena akan segera ke Amsterdam—tempat yang dulunya menyebalkan, tapi ternyata memberikan kebahagiaan mendalam. Namun, sekarang bukan hanya kebahagiaan yang dia rasakan, melainkan rasa khawatir tentang ucapan nenek tua tempo hari. “Astaga Carol, kenapa kau masih memikirkan ucapan peramal tidak jelas itu?” gumam Carol seraya menepuk jidatnya, mengumpati kebodohannya di mana masih mendengar ucapan peramal tidak jelas. Tiba-tiba ponsel Carol berbunyi, membuyarkan lamunannya. Dia mengambil ponselnya yang ada di atas meja, dan menatap ke layar tertera nomor ‘Gilda’ yang terpampang di sana. Detik i
The Ritz-Carlton tempat di mana yang dipilih Gavin dan Gilda melangsungkan pernikahan mereka. Gilda melangkah dengan pelan dan anggun—mamasuki ballroom hotel dengan tangan yang terus memeluk lengan Ernest. Ya, yang menemani Gilda adalah Ernest—tentu ini semua karena permintaan Ernest sendiri. Hal itu yang membuat Gilda merasakan syukur tanpa henti. Meski dia pernah jahat, tapi ternyata kesalahannya mampu dimaafkan oleh keluarga. Gilda tersenyum hagat, dan kini kilat kamera yang terus tersorot padanya. Tampak jelas dia sedikit gugup, tapi wanita itu berusaha mengatasi rasa gugupnya. Ribuan tamu undangan yang datang, menatap hangat dan kagum pada penampilannya. Di ujung sana, tepat di kursi paling depan ada Maisie yang tak henti menangis. Pun Kimberly yang duduk di belakang Maisie ikut menangis kala Gilda mulai mendekat. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis haru bahagia. Dari altar, Gavin begitu tampan dengan tuxedo berwarna putih menatap kagum penampilan Gilda yang sangat cantik