Share

Bab 15

Author: skybby
last update Last Updated: 2023-12-31 09:48:26

"Tenang saja, dia hanya kelelahan."

Semua yang ada di dalam ruangan itu bernafas lega, lalu sang dokter pamit pulang. Hanya menyisakan Kara, Bi Ina dan Anton yang masih terbaring tak sadarkan diri. Bi Ina mengusap punggung Kara, menenangkan gadis yang sedaritadi masih menangis.

"Sudah jangan menangis, Tuan cuma kelelahan,"ucap Bi Ina.

Kara mengusap air matanya. Bi Ina mengajak gadis itu untuk keluar dari kamar Anton, Kara awalnya menolak. Ia mengatakan ingin menemani ayahnya hingga siuman. Bi Ina dengan sabar mengatakan kepada gadis itu untuk jangan mengganggu Anton dan membiarkannya untuk istirahat dahulu, Anton pasti sangat kelelahan karena bekerja terus setiap hari. Kara akhirnya menurut. Dibantu oleh Bi Ina, gadis itu berjalan keluar kamar Anton dengan terpincang-pincang. Kaki Kara sudah diperban dengan baik, sudah tidak memakai sobekan kaos Kaisar lagi. Kara bersikeras ingin turun ke lantai bawah tapi Bi Ina menolak, kakinya sedang terluka. Menuruni tangga dengan kaki yang terl
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 16

    "Sudah menunggu lama?"Grita menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. Ia meminta Dodi untuk duduk di kursi didepannya. Tidak seperti kemarin, lelaki itu tidak mengenakan pakaian formal, sepertinya dia pulang ke rumahnya terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Grita. Pakaiannya lebih santai, ia mengenakan pakaian serba hitam. Celana panjang yang dipadukan dengan kaos hitam yang dilapisi jaket kulit berwarna hitam juga. Sepertinya lelaki itu pecinta warna hitam. "Tidak, aku juga baru datang, "ucap Grita. Sekarang mereka tengah berada di warung kopi dekat apartement Grita. Ini tempat langganan Grita, dulu bersama Kaisar ia sering sekali nongkrong disini. Tapi setelah Kaisar pergi keluar kota, ia jadi jarang datang kemari. "Mau pesan apa? Biar aku pesankan, "tanya Grita. "Sama kan saja denganmu." Grita mengangguk, ia berdiri dan menghampiri penjual untuk memesan. Warung kopi ini tidak terlalu ramai, hanya ada Grita, Dodi dan 3 orang lelaki dewasa yang duduk tak jauh darinya. Warung ko

    Last Updated : 2024-01-01
  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 17

    Kondisi Anton sudah mulai membaik, luka di jari tangannya juga sudah diobati. Lelaki itu siuman setelah hampir 15 menit pingsan. Kara yang tahu bahwa ayahnya sudah bangun, langsung menghampiri Anton dikamarnya. Tentu saja dengan bantuan Kaisar, karena ia kesusahan menuruni tangga. "Aku mau ngomong berdua sama Papah,"ucap Kara pada Kaisar saat mereka berada tepat di depan kamar Anton. Kaisar memapah Kara, gadis itu duduk di kursi samping ranjang Anton. Lalu Kaisar menunggu di luar kamar. "Pah, "Kara menggenggam tangan Anton, mata lelaki itu yang sebelumnya terpejam menjadi terbuka. "Kara minta maaf, "ucap Kara pelan. Anton nampak kebingungan."Untuk apa?"tanya Anton pelan. Suaranya terdengar lemah dan serak. Kara menunduk, tak berani menatap Anton. "Untuk semuanya, ini semua salah Kara."Anton menggelengkan kepalanya lemah, ia tidak ada tenaga sedikitpun. Anton mengusap kepala Kara dengan penuh kasih sayang. "Bukan salahmu,"ucap Anton. Mata Kara berkaca-kaca melihat kondisi Anton

    Last Updated : 2024-01-03
  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 18

    Seperti dugaan Grita, Siska tidak masuk kerja. Kalau dia berangkat pun sudah pasti ia akan menjadi pusat perhatian dan bahan obrolan orang satu kantor. Malu sudah pasti Siska rasakan, aib nya sudah terumbar kemana-mana. Salah seorang teman Siska mengatakan bahwa nomor ponsel gadis itu tidak bisa dihubungi. Siska juga tidak membalas pesan. Ya tentu saja, jika Grita yang berada di posisi Siska ia juga akan melakukan hal yang sama. Bersembunyi seolah hilang ditelan bumi. "Sumpah sih, Ta. Gue masih kaget banget sama Siska,"ucap Luna. Gadis itu menyempatkan diri menghampiri Grita walaupun pekerjaannya belum ia selesaikan. Hanya untuk membicarakan tentang Siska, Luna sangat penasaran sepertinya. "Rumor itu bener berarti,"ucap Grita sambil menatap layar komputer, fokus pada pekerjaannya tanpa melihat kearah Luna sedikitpun. "Iya sih, tapi gue masih penasaran siapa yang nyebarin foto-foto Siska, "ucap Luna. Grita bersikap tenang, menyembunyikan fakta bahwa ialah orang dibalik menyebarnya

    Last Updated : 2024-01-04
  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 19

    "Ada perkembangan?"Dodi mengangguk, ia duduk di sofa sementara Heru berada di kursi kerjanya. Mereka saat ini tengah berada di ruangan kerja Heru di kantor."Sedikit, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali, "ucap Dodi. Ia menghisap rokok lalu menghembuskan asap nya keluar melalui mulutnya. Ia bebas mau merokok di mana pun. "Gadis itu bagaimana? Kita bisa mengandalkannya? "tanya Heru. Dia masih tidak begitu yakin dengan kemampuan Grita. Apa bisa gadis itu mengikuti semua rencana liciknya untuk menghancurkan perusahaan Anton, tempat dimana gadis itu bekerja. "Tentu, aku yakin kau akan puas dengan hasil kerjanya nanti, "ucap Dodi. Heru tak lantas percaya, ia butuh bukti yang bisa membuatnya percaya pada kemampuan gadis itu. Dodi menghembuskan asap rokoknya sebelum melanjutkan berbicara. "Gadis itu ternyata licik juga. Rencananya lumayan bagus, dan ku ikuti saja semua alur rencananya."Heru mengerutkan keningnya heran. Kenapa Dodi malah membiarkan gadis itu memimpin misi ini den

    Last Updated : 2024-01-09
  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 20

    Siska sudah memakai pakaian rapi siap untuk berangkat ke kantor, tapi langkah kakinya tertahan karena melihat banyak sekali pesan di grup kantor. Siska penasaran, apa yang sebenarnya terjadi hingga grup yang semulanya sepi menjadi sangat ramai.Mata Siska terbelalak, ada seseorang yang mengirim foto-foto nya digrup. Foto saat ia tengah berada diclub bersama seorang pria paruh baya. Tak hanya satu foto, melainkan 4 foto sekaligus. Siska membaca pesan-pesan dibawahnya, kebanyakan dari mereka menghujat Siska dan mengatai gadis itu dengan kata-kata yang tidak pantas. Siska malu, sangat malu hingga rasanya ia ingin menangis sekarang. Siska tidak mengelak ataupun membuat klarifikasi, itulah yang membuat orang-orang yakin bahwa perempuan di foto itu memang benar dirinya. Daripada menjelaskan, Siska memilih untuk langsung keluar dari grup obrolan kantor. "BAJINGAN!"Siska membanting ponselnya hingga terjatuh dilantai lalu pecah. Gadis itu mengacak kamar apartementnya sendiri menjadi sangat

    Last Updated : 2024-01-11
  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 21

    Sungguh, Kara sangat bosan sekali sekarang. Tak ada kegiatan selain membaca buku dan memainkan ponselnya. Semua buku yang ada di kamarnya sudah berkali-kali ia baca hingga tamat, lagipula sekarang ia juga sedang malas membaca. Kara ingin melakukan kegiatan lain, yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Tapi dengan segala larangan Anton ditambah kakinya yang masih cedera membuat Kara sulit melakukan sesuatu.Kara sedang berada di balkon kamarnya, ia melihat kegiatan orang-orang dari atas. Tak ada hal yang menarik, hanya terlihat Kaisar dan Pak Adi tengah mengobrol layaknya seorang bapak dan anak, sedangkan para pembantu ada di dalam dan belakang rumah. Dari balkon kamarnya Kara bisa melihat pemandangan sekitar, rumah-rumah tetangga yang tidak ia kenal, serta jajaran pohon-pohon besar di tepi jalan. Mata Kara tak sengaja menangkap sebuah tempat, tempat yang sering ia kunjungi dulu bersama Erlan. Sebuah danau."Danau senja," lirih Kara.Kara menamai danau itu dengan nama danau senja, al

    Last Updated : 2024-01-14
  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 22

    Kondisi rumah sedang kacau saat ini, Anton yang tadinya masih terbaring lemah di kasur sekarang sudah bisa bangkit. Ia sedang memarahi para pekerja di rumahnya. Mulai dari para pembantu, Kaisar, Pak Adi dan tukang kebun juga tak luput dari amukannya. Penyebabnya hanya satu, Kara tak ada di rumah.Semua orang baru menyadari jika Kara tak ada didalam rumah setelah 1 jam semenjak kepergian Kara. Pada awalnya Anton meminta salah satu pembantu untuk memanggilkan Kara, tak disangka pembantu itu memberikan jawaban yang tak terduga, Kara tidak ada di kamarnya.Saat itu Anton masih berpikir positif, ia beranggapan mungkin Kara berada di teras,halaman belakang atau mungkin juga ia sedang bersama Kaisar. Pembantu itu lantas mencari Kara dan juga bertanya kepada pekerja yang lain. 20 menit mencari tapi tak membuahkan hasil, bahkan semua orang ikut andil mencari Kara. Tapi hasilnya tetap sama, Kara tidak ditemukan."Bagaimana? Sudah ketemu?"tanya Bi Ina.Kaisar menggeleng. Walaupun sudah berkali-k

    Last Updated : 2024-01-19
  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 23

    "Maaf semuanya."Anton menatap dengan tatapan dingin, ia berjalan mendekat. Suasana hatinya sedang tidak bersahabat, amarah masih menyelimuti dirinya. Kara tahu apa yang dihadapinya sekarang, ia siap dengan segala resiko yang akan ia terima. Ia sudah berani pergi keluar dan melanggar aturan, itu berati ia juga harus berani menghadapi segala resiko."Tau apa kesalahanmu?" tanya Anton dingin. Kara mengangguk pelan sambil menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap Anton. Lelaki itu sedang marah besar dengannya.Dalam hati Anton sebenarnya ia merasa lega karena Kara sudah pulang, tapi ia masih tetap khawatir karena gadis ini pergi tanpa izin dan Kara pulang sendirian. Itu artinya Kara tidak bertemu dengan Kaisar ataupun Pak Adi. "Maaf, Papah."Hening, tak ada jawaban dari Anton. Tiba-tiba tangan Kara ditarik oleh Anton, gadis itu terkejut dengan pergerakannya yang mendadak. Anton membawa Kara masuk kedalam rumah tanpa berkata apapun. Para pembantu yang melihat kejadian itu tidak bis

    Last Updated : 2024-01-21

Latest chapter

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 99

    Pak Adi berdiri di depan pos mengamati Kaisar dan Vano yang sedang menahan Grita diluar gerbang. Pak Adi berulang kali menoleh ke gerbang lalu ke rumah mengawasi apabila Anton maupun Kara tiba-tiba datang. Apabila salah satu diantara mereka keluar dan melihat Grita, maka keributan pasti akan terjadi lagi."Beliau ga bisa diganggu, silakan pulang saja," ujar Kaisar.Grita tidak percaya, dengan kekeh ia terus meminta untuk masuk kedalam dan bertemu dengan Anton."Eh, santai mbak!" ujar Vano saat Grita hendak maju dan menerobos masuk."Biarin saya masuk, saya mau ngomong sama dia!" desak Grita.Mudah saja bagi Kaisar dan Vano menghalangi jalan dengan tubuh mereka dari Grita yang memaksa ingin masuk. Perempuan ini pantang menyerah, dia bahkan berani mendorong tubuh yang dua kali lebih besar dari tubuhnya. Tapi tetap saja tidak membuat dua pria itu menyingkir."Wah, gila kali ini cewek," ujar Vano sedikit kewalahan karena ulah Grita.Kaisar juga tampaknya kebingungan bagaimana mengatasi pe

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 98

    "Pecat Grita."Suara Kara terdengar halus namun tegas. Hanya dua kata namun mampu membuat Anton terdiam dibuatnya. Seketika hening diantara mereka, sekeliling mereka juga seakan ikut terdiam. Semilir angin membuat rambut panjang Kara bergerak bebas. Kara tersenyum miring, tahu bahwa ayahnya itu pasti akan bimbang dan kebingungan dengan ucapannya ini.Anton kebingungan dan terlihat sangat sulit mengambil. keputusan. Lalu setelah menunduk untuk beberapa saat, Anton menghela nafas dan telah mengambil keputusan."Sudah kuduga Papah tidak akan melakukannya." Kara berdiri lalu berjalan pergi. Sampai di beberapa langkah, suara Anton menghentikan langkah kaki Kara."Oke, akan Papah pecat," ucap Anton.Kara berhenti, tersenyum miring. Kali ini ia berhasil, Anton akan mulai mengikuti apa yang ia ucapkan. Ini adalah permulaan yang bagus, Kara harap rencananya akan berjalan lancar. Kara membalikkan badannya menatap Anton dengan senyuman tipis, senang dengan keputusannya."Sekarang juga," ucap Ka

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 97

    Bi Ina yang sedang menyapu lantai rumah terkejut melihat Anton yang tiba-tiba muncul. Dia langsung mendekati Anton untuk memastikan dan mengecek keadaannya dengan panik layaknya ibu kepada anak sendiri. "Tuan, darimana saja!" panik Bi Ina sambil terus melihat kondisi Anton yang tampak lusuh.Anton tersenyum tipis, lalu menoleh ke sekeliling seperti mencari seseorang."Kara ada dimana, Bi?" tanyanya.Bi Ina langsung paham, ia lalu tersenyum tipis, "Ada dikamar, Bibi panggilin ya," ucap Bi Ina.Bi Ina hendak pergi menuju kamar Kara untuk memanggil gadis itu, tapi langsung dicegah oleh Anton. "Biar saya saja yang kesana," ucap Anton. Bi Ina mengangguk.Pria itu lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar yang ada di lantai atas, Bi Ina hendak mengikutinya tapi langsung dicegah oleh Pak Adi. Bi Ina kebingungan dan protes kenapa dia mencegahnya. Pak Adi dengan nada tegas menjawab."Jangan ikut campur, itu bukan urusan kita."Anton berjalan menuju kamar anak gadisnya yang sudah beberapa ha

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 96

    Setelah Raven pergi meninggalkannya sendirian di apartemennya, Anton menghela nafasnya panjang dan mengacak rambutnya. Keadaan apartemennya sangat berantakan, beberapa botol alkohol yang kosong isinya ada diatas meja, puntung rokok juga berserakan diatas lantai, bahkan gorden jendela juga tidak dibuka. Anton benar-benar meluapkan emosinya disini malam tadi. Ia sudah lupa waktu, sudah berapa lama ia tak pulang kerumah, hari apa saat ini bahkan sekarang jam berapa pun Anton tak ingat. Pikirannya kacau, ia butuh kebebasan. Tapi ia kembali mengingat ucapan Raven sebelum ia pergi tadi. Anton hanya punya Kara seorang, seharusnya ia harus menjadi figur ayah yang baik padanya, bukannya menjauhinya seperti ini. Anton menyadari bahwa penyebab keluarganya diteror terus terusan seperti ini adalah ulahnya, ia harus menghentikan ini semua. Menyelesaikan semuanya sampai ke akar-akarnya.Setelah berdebat dengan pikirannya sendiri, Anton bangkit dari duduknya, mengambil ponselnya lalu berjalan sambil

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 95

    "Bodoh!"Dodi menggebrak meja dengan keras hingga semua orang yang ada diruangan itu terkejut. Grita menoleh kearah Sean yang terlihat biasa saja dengan reaksi Dodi, seperti ini bukan kali pertama Sean melihat Dodi seperti ini. Pria paruh baya itu berdiri dari kursinya lalu mendekati Sean."Apa yang kau pikirkan sebenarnya?" ucap Dodi dengan tatapan kesalnya. Sean tak bereaksi."Saya hanya mengikuti rencana yang sudah dibuat sebelumnya," jawab Sean dengan tenang."Lalu apa yang kau dapatkan? tak ada kan?"Seam terdiam. Memangnya apa yang Dodi harapkan pada misi ini? ia dipasangkan dengan seseorang yang bahkan belum pernah berkecimpung di dunia seperti ini sebelumnya, apalagi Grita sepertinya gadis baik-baik. Tentu sulit bagi Sean untuk melakukan tugasnya, menurutnya bahkan lebih mudah melakukan ini sendirian."Memang belum menemukan apa-apa, ini baru pertama kalinya kami bekerja sama."Dodi mendengus, lalu beralih ke Grita. Gadis itu tampak ragu dan gelisah. Dodi menatapnya dingin,"A

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 94

    "Iya, dia kekasihku."Baik Kara maupun Pak Adi sama-sama terdiam, sedang mencerna ucapan Kaisar. Kara mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya, menatap pria dihadapannya lalu tersenyum sinis. Pak Adi melirik Kaisar dengan tatapan tajam, seolah menuntut penjelasan lebih lanjut. "Pantas saja. Kalian bekerja sama untuk menghancurkan keluarga ku?" sinis Kara.Kaisar menggelengkan kepalanya, "Tidak, sama sekali tidak."Pak Adi melirik Kaisar dengan tatapan tajam, seolah menuntut penjelasan lebih lanjut. Tapi lelaki itu masih terdiam seolah enggan untuk berucap atau menjelaskan barang sepatah kata pun."Kau ingin aku percaya? Setelah semua ini?" Kara tertawa kecil, penuh sindiran. "Kekasihmu itu wanita yang mendekati ayahku dan tiba-tiba saja muncul di sekelilingku? Jangan bilang ini semua kebetulan."Kaisar tetap berdiri tegak, meski sorot matanya menunjukkan kegelisahan, mereka sedang mencurigainya saat ini. "Aku tahu ini sulit dipercaya, tapi aku tidak pernah berkhianat padamu atau keluar

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 93

    Grita telah benar-benar menghilang dari pandangan Kara. Gadis itu menghela napas kasar, emosinya masih menggebu-gebu. Dua pria yang berdiri di belakangnya tetap terdiam, seakan menimbang kata-kata mereka dengan hati-hati setelah menyaksikan perubahan sikap Kara yang begitu drastis barusan."Siapa yang membiarkan wanita itu masuk?" tanya Kara dengan nada dingin, tatapannya tetap lurus ke depan, tidak sekalipun melirik ke belakang.Pak Adi dan Kaisar saling berpandangan, seolah melempar tanggung jawab satu sama lain. Pak Adi menatap Kaisar dengan isyarat halus, mendorongnya untuk berbicara sebelum amarah Kara semakin memuncak.Namun, Kaisar tetap diam.Pak Adi menghela napas berat. Ia bisa merasakan ketegangan yang semakin menggantung di udara."Maaf, Non. Ini salah Pak Ad—""Saya."Sebuah suara tiba-tiba memotong, membuat Pak Adi terhenti di tengah kalimatnya."Saya yang mengizinkan dia masuk."Kara berbalik cepat, langkahnya mantap saat ia mendekat ke Kaisar. Sorot matanya tajam, penu

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 92

    Sean kembali mengetukkan jemarinya ke kemudi, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Ia mencoba sekali lagi, menekan tombol di alat komunikasinya, berharap ada suara yang menyambutnya di sisi lain. Tapi tetap saja, hanya ada kesunyian yang mengganggu.Ia menghela napas, menatap rumah besar itu dengan mata tajam. Tidak ada tanda-tanda Grita keluar, dan itu membuatnya semakin tidak tenang. Seharusnya, ia bisa mendengar setidaknya suara langkah kaki atau suara samar dari dalam rumah. Tapi sekarang? Tidak ada apa-apa."Brengsek," gumamnya.Sean mengamati alat komunikasinya dengan saksama. Tidak ada indikasi bahwa alat itu mati total, tapi juga tidak menangkap sinyal apa pun. Seakan ada sesuatu yang menghalangi transmisi antara dirinya dan Grita.Matanya beralih ke atas rumah. Mungkinkah ada sistem penghalang sinyal di tempat ini? Anton bukan orang sembarangan, dan jika rumah ini memang memiliki perlindungan khusus, tidak aneh jika alat komunikasi biasa seperti miliknya menjadi tidak bergun

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 91

    Sean mengetuk-ngetukkan jarinya ke kemudi, matanya tak lepas dari sosok Grita yang masih berdiri di depan pintu rumah besar itu. Sudah hampir sepuluh menit sejak ia masuk, dan bukannya segera melanjutkan rencana mereka, perempuan itu justru larut dalam percakapan dengan seorang pria bernama Kaisar, kalau dia tidak salah ingat.“Harusnya dia sudah bergerak ke dalam,” gumam Sean pelan.Dari balik kaca mobil yang sedikit tertutup embun, ia tida bisa melihat ekspresi Grita karena ia membelakangi nya dan jarak terlalu jauh. Sementara Kaisar, pria itu berdiri dengan sikap yang lebih kaku, tapi tatapannya seakan berusaha membaca sesuatu dari mata Grita.Sean mengerutkan kening. Apa mereka memiliki hubungan? Dia tahu Grita tidak punya riwayat di tempat ini, tapi ia juga tidak menduga ada orang yang bisa membuatnya bertahan selama itu hanya untuk berbicara. Apa dia sedang merayu Kaisar agar lebih mudah mendapatkan informasi? Atau ini sesuatu yang lebih pribadi?Sean mengernyit heran kenapa ala

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status