Tadinya, Inka sudah menyangka bila kehidupannya kembali normal. Namun, kedatangan Diana dengan wajah datarnya sama sekali tidak menyenangkan. Belum lagi, berita yang dibawanya. Mengapa setiap kali Diana datang pasti membawa berita nelangsa?
“Pak Presdir memanggilmu untuk ke ruangan beliau nanti sore sebelum pulang kerja. Pastikan kamu datang ke sana.”
Shasha juga ada di sana dan mendengar perintah itu. Sekarang ia bisa mengerti mengapa Inka begitu gelisah saat mendengar kedatangan Diana. Sungguh, bagai burung elang bermata tajam sedang mengincar mangsa yang lemah.
Sore itu datang sangat cepat. Kalau bisa menunda, sudah pasti Inka sangat ingin membuat waktu membeku.
Tuk tuk tuk!
“Masuk.” Singkat, padat dan jelas. Itulah bagaimana Candra memerintahkan Inka.
Ritme tak beraturan terasa pada jantung Inka. Ini lebih menyeramkan daripada masuk ke dalam rumah hantu. Ya, mungkin perumpamaan ini sedikit berlebihan.
“Pak, maaf … adakah yang bisa saya bantu?”
“Duduklah terlebih dulu barulah kita bicarakan tentang duduk permasalahannya.” Wajah sang presdir—Candra masih terlihat datar. Ia masih sibuk sesekali melihat-lihat beberapa berkas di depannya.
Ada sekitar 30 menit tanpa satu kata pun. Inka mulai gelisah berada di ruangan ini—hanya berduaan saja. Maksud dan tujuan dari sang presdir belum diketahui sama sekali. Tidak ada petunjuk sedikit pun tentang ini. Well, kalau bisa berteriak, tentu saja Inka sudah ingin melakukannya.
“Maaf, Pak. Apa boleh saya tahu kira-kira hal apa yang perlu saya lakukan?” Inka memberanikan diri. Matanya menatap sang presdir singkat lalu segera memalingkan padangannya.
“Tunggu sebentar. Tenang saja, setelah ini aku akan mengantarkanmu pulang.”
Gadis berponi itu kehilangan kata-kata. Apa pula maksud dari semua ini? Mengapa sang presdir mau mengantarnya pulang? Apa ini kompensasi karena sudah mengambil waktunya? Bahkan jauh lebih baik bila ia tak pulang bersama. Itu hanya akan membuat canggung. Sungguh, bagaimana cara Inka agar lepas dari situasi ini?
“Ti-tidak perlu, Pak,” tolaknya sangat halus. “Saya bisa naik—”
“Siapa yang menerima penolakan? Kalau saya bilang ingin mengantar, artinya kamu hanya perlu mengikutinya saja.” Mata tajam pria itu tidak menerima penolakan. “Aku benci saat tidak mendapatkan apa yang kuinginkan.” Kalimat terakhir dari mulut Candra sudah memperjelas maksud dan tujuan.
Butuh beberapa detik sampai gadis itu akhirnya memahami kalimat yang disampaikan oleh sang presdir.
Perjalanan pulang hari ini terasa sedikit berbeda. Siapa yang menyangka bila Inka akan bersama sang presdir. Entah ini adalah anugerah atau musibah. Baginya, keadaan ini sama sekali tidak nyaman!
“Diam saja sedari tadi. Atau jangan-jangan kamu menahan kentut?” tanya Candra mencoba mencairkan suasana.
“Bu-bukan begitu!!” Gadis itu langsung membalas. “Saya sama sekali tidak sedang menahan kentut. Ini hanya … merasa tidak terbiasa.”
“Biasakan. Nanti juga kita akan sering bertemu. Ya, kupastikan kita akan lebih sering bertemu.”
Pada akhirnya, Inka hanya bisa diam saja. Suka-suka sang presdir sajalah! Memangnya dengan statusnya sebagai karyawan, apa yang bisa dilakukannya? Mengatakan kalau tidak senang? Haha! Sangat tidak mungkin!
“Kita akan singgah makan dulu sebelum pulang.”
“Tidak perlu, Pak. Saya hanya ingin beristirahat—”
“Ini perintah. Memang benar, setelah jam kantor, hubungan kita bukan lagi atasan dan bawahan. Meski begitu, kamu adalah sebuah pengecualian.” Candra lalu berkata lagi; kali ini pada pak sopir, “Ke restoran biasa.”
Semakin resah hati Inka selama bersama Candra. Saat berada di restoran pun, mereka tidak banyak bicara. Kelezatan makanan di sana terasa hambar bagi Inka.
“Pak, pernikahan bukanlah hal yang mudah.”
Hanya kalimat itu yang diucapkan Inka. 45 menit bersama Candra di resto hanyalah basa-basi tidak bermakna. Sejujurnya, ia menjadi kasihan dengan pria itu. Apakah sebenarnya Candra hanya butuh seorang teman makan? Lalu, saat selesai di sana, akhirnya Candra mengantarnya pulang. Porsche dengan warna hitam nan elegan selalu siap mengantar pria tampan itu ke mana saja. Bukan hanya sang pemilik, sang sopir pribadi pun tak kalah tampan.
“Oh, jadi kamu tinggal di sini?”
Mata Candra tak bisa berhenti menatap kediaman Inka. Ya, mereka bahkan sudah di depan gerbang kos Inka.
“Tempatnya tidak nyaman?”
“Bukan. Aku sama sekali tidak menyangka bila lumayan jauh dari kantor kita. Jarak tempuh 40 menit apakah tidak masalah bagimu setiap hari pergi dan pulang seperti itu? Pindahlah ke dekat kantor.”
“Anda sudah pernah ke daerah sini. Mestinya tidak begitu kaget.” Gadis itu mencoba mengingatkan kejadian saat ia dikejar oleh penagih hutang.
Inka bukannya tidak mau. Ada masalah keuangan yang sedang dihadapinya. Mana ada sewa kos murah di sekitar kantor. Itu sama saja seperti membunuh diri sendiri secara perlahan. Bisa jadi, uang gaji yang dihasilkannya hanya berlalu untuk membayar sewa.
“Pak, saya ini bukan orang kaya seperti Bapak. Kalau saya menyewa di sana bisa-bisa saya tidak makan. Bapak tahu berapa uang sewa di sekitaran kantor kita? Bahkan yang masih memerlukan jalan kaki 15 menit dari kantor saja bisa empat sampai lima kali biaya sewa di sini. Dan juga, hutang yang kupunya sudah sangat banyak.”
“Besok, bersiaplah untuk pindah. Aku akan mengurus bagian sewa tempat untukmu.”
Gadis itu jelas menjadi terkejut. Kenapa pula Candra sampai harus melakukan semua ini? Apakah ada maksud lain dari semua ini?
“Pak, saya sudah bilang kalau saya ini hanya sebatang kara tinggal di kota ini. Kalau Bapak membuat saya harus pindah ke tempat yang lebih mahal, saya bisa tidak makan.”
“Yang menyuruhmu membayar sewa siapa?”
“Ma-maksudnya?”
Inka bukannya tidak mengerti. Semua itu terdengar ambigu. Apakah sang presdir memang mau membiayai uang sewa tempat tinggal, ataukah hanya sedang bergurau?
“Kamu akan tinggal di wilayah dekat kantor kita. Tenang saja, aku masih memiliki 1 unit apartemen kosong. Itu tidak terlalu besar—mungkin bahkan terbilang kecil.”
Perasaan Inka bercampur aduk. Penawaran sebagus ini apakah ada maksud dan tujuan khusus? Bagaimanapun, tingkah laku sang presdir perlu diwaspadai. Wajah Inka yang cemas jelas terlihat. Ini sudah bukan tentang kecemasannya soal uang sewa.
“Pak presdir tidak sedang memanfaatkan situasi ini, ‘kan? Aku pikr, Anda sudah tidak akan membahas lagi soal pernikahan.” Meski ragu, gadis itu memberanikan diri untuk bertanya.
“Oh? Eh?”
Pria itu masih berpikir sejenak. Apalagi yang sedang dimaksudkan pegawainya ini?
“Tu-tunggu! Jangan katakan kalau kamu itu sedang mengira aku adalah pria mesum!!”
“Lalu, mengapa Anda menawarkan pada saya soal tempat tinggal?”
“Kamu akan tahu nanti. Dan juga soal penawaran itu. Aku mengatakannya bukan berarti kita akan langsung menikah dalam beberapa hari. Aku akan mengatur semuanya. Jadi, segeralah berikan jawaban. Sekali lagi, bukan hanya aku yang untung di sini. Kamu juga akan untung. Bayangkan dengan utang yang lunas begitu saja. Lalu, sebagai suami, aku tentu akan memberikanmu sejumlah uang.”
“Pak Candra—”
“Bisa diam dulu? Aku belum selesai.” Candra tidak suka saat ucapannya terpotong. “Lagipula, ini hanyalah pernikahan kontrak. Apa yang kamu harapkan dariku?”
“Benar. Jika sebuah pernikahan kontrak, kenapa Pak Candra melakukan ini pada saya? Masih banyak perempuan lain yang lebih cantik dan mau melakukan itu dengan Pak Candra.”
Tidak ada jawaban. Candra malah meminta Inka turun dari mobil.
“Astaga, kalau saja dia bukan bosku, sudah pasti akan kumaki sedari tadi!” gerutunya dalam hati.
Inka mulai masuk ke dalam sebuah ruangan yang disewanya. Tidak terlalu kecil untuk 1 orang saja. Lagipula, siapa yang butuh tempat mewah jika keseharian hanya dihabiskan di kantor. Cukuplah memiliki tempat untuk tidur.
“Orang-orang seperti Pak Candra itu selalu seenaknya. Ah, aku ini … aku bukanlah anak orang yang berkekurangan tetapi hidup menggembel di sini. Apa yang salah denganku? Kalau saja aku ikut dengan keingin—”
Kalimat itu berhenti. Ia menyadari jika tidak ada yang perlu dilakukan tentang itu. Untuk apa juga menyetujui sebuah pernikahan?
“Aih, apa yang aku katakan?! Sudah sejauh ini aku melarikan diri. Bukan saat yang tepat untuk mengalah.”
Masih dengan pakaian kerja, gadis itu mulai tertidur. Hari yang begitu melelahkan telah usai.
“Bagaimana jika ternyata Pak Candra diam-diam menyukaiku?”
Inka menepuk keras pipinya. Membayangkan bagaimana perasaan sang presdir kepadanya hanya membuatnya malu.
“Apa yang aku pikirkan? Aku pasti sudah sangat gila! Bisa-bisanya aku menarik kesimpulan seperti ini?”
Ia baru saja mau mengambil air minum sebelum matanya menangkap siluet dua orang bertubuh besar di balik jendela. Untung saja saat itu pintu kamarnya tertutup.
Tuk tuk tuk!
Ketukan pintu itu tidak hanya sekali atau dua kali. Jika dihitung, sudah lebih dari 20 kali. Inka memilih meringkuk di belakang pintu.
“Cari siapa?” tanya seseorang di luar sana.
“Penghuni di kamar ini apakah benar bernama Inka Febrianti?” balas seseorang di sana. Inka mengingat dengan jelas pemilik suara itu.
“Entahlah. Kami yang kos di sini tidak mencari tahu siapa saja yang tinggal di sini.”
“Kalau begitu, coba lihat foto ini. Apakah dia yang tinggal di sini?” Suara berat itu terdengar kembali.
Inka yang sedang mendengar percakapan itu di balik pintu langsung terdiam. Para penagih itu benar-benar mencarinya. Jika beberapa hari lalu hanya di kompleks depan, sekarang penagih itu tepat di depan matanya. Tempat itu sudah tidak aman lagi. Ia memikirkan untuk pindah sesegera mungkin—saat ini juga.
“Ah, aku sering melihatnya. Tapi aku tidak yakin jika itu benar dia.”
“Jangan bohong. Kami mencarinya bukan untuk melukainya. Kami ini keluarga Inka.”
Semakin banyak percakapan yang didengarnya, semakin kalut perasaan gadis itu. Situasinya sama sekali tidak menguntungkan. Lalu, satu nama lalu terlintas dalam pikirannya. Jika Pak Candra akan mengambil kesempatan ini, tidak begitu dengan Bu Giselle di matanya.
Inka mengirimkan pesan singkat kepada Giselle dan penuh harap jika pesan itu segera mendapatkan balasan.
“Baiklah jika memang orangnya tidak ada. Kami akan kembali malam nanti.”
Untuk beberapa saat ia bisa merasa lega. Setidaknya sampai malam nanti ia bisa bersiap mengosongkan tempat itu. Sampai semuanya telah siap, tidak ada balasan dari Giselle. Pupus sudah harapannya tentang pertolongan itu.
“Kenapa kita harus menunggu di luar sana sampai malam? Di depan sini saja kan cukup.”
Suara yang menakutkan itu kembali terdengar. Inka tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang. Ia pikir, para penagih itu sudah pergi. Ia salah besar. Tidak ada pilihan lain. Jika itu ada, maka Candra adalah satu-satunya pilihan.
“Pak, tolonglah saya, Pak. Sekali ini saja. Tolong bawa saya keluar dari sini.” Ia menelpon Candra tanpa basa-basi.
“Bagaimana, ya?” Candra sengaja mempermaikan perasaan Inka. “Apa kamu berubah pikiran?”
Tuk tuk tuk!
Ketukan pintu itu semakin keras. Tidak ada pilihan lain untuk Inka. Candra adalah satu-satunya yang bisa menolong saat ini.
“Baik, Pak. Saya akan tinggal di tempat Bapak.”
Di sisi lain, terlihat senyum dari seorang pria. Itu terlihat seperti makan malam keluarga yang kaku.
“Oh, kamu terlihat senang sekali, Candra. Apakah ini tentang kekasihmu?” Candra tidak membalas dan melanjutkan makan malamnya. “Jadi, kapan akan kamu kenalkan kekasihmu itu?”
“Aih, tidak usah malu-malu memperkenalkan gadis itu, Candra. Kita ini kan keluarga.” “Dia sibuk dan tidak punya waktu untuk bertemu dengan banyak orang. Apalagi dengan yang tidak terlalu penting.” Candra sengaja membalas dengan kalimat yang menyebalkan. Sontak saja perkataan Candra mendapatkan tatapan sinis dari wanita dengan lipstik berwarna ungu. Itu adalah Desti—simpanan yang berhasil menjadi istri pamannya. “Oh, begitukah caramu berbicara padaku sekarang, Candra? Ah, sepertinya aku tahu jika gadis pilihanmu kali ini mungkin lebih buruk dari yang sebelumnya. Astaga, seleramu memang sangat menarik.” “Bibi tidak perlu mengurusi urusan keluarga kami. Bibi hanyalah orang asing.” “Candra!” Candra berdiri dari kursi dan mengakhiri makan malamnya. Tidak ada yang menyenangkan di sana. Lagipula, ia harus segera menjemput Inka dari ancaman para penagih. Mobil berwarna hitam siap mengantarnya pergi. “Jadi, apa sekarang kamu akan pergi lagi? Gadis itu kah?” tanya sopir pribadinya. “Ya.
Tempat yang nyaman ternyata sama sekali tidak membuat Inka tidur dengan nyenyak. Ia sering terbangun dan memeriksa kembali keadaan di sekitarnya. Dalam pikirannya Candra akan datang dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Inka dalam mode waspada.Rasa kantuk yang tak tertahan itu terpaksa dilawannya dengan serangan kafein. Ia baru saja menghabiskan satu gelas kopi dan akan menambah lagi. Saat di sana, bertemulah ia dengan Giselle.“Hei, Inka. Selamat pagi!” sapa Giselle dengan riang. “Kenapa tidak membalas pesanku? Semalam aku sampai tidak bisa tidur karena memikirkan bantuan apa yang bisa kuberikan.”“Ah itu ….” Jika sudah begini, ia tak tahu hars menjawab bagaimana. Bantuan yang diinginkannya telah dipenuhi orang lain. “Aku ingin pinjam uang tetapi tak jadi.”“Astaga! Maafkan aku. Seharusnya aku segera membalas. Kamu pasti butuh sekali ya kemarin?”“Tidak apa-apa. Aku mengerti kalau Anda sibuk.”“Ah iya, ini memang masih pagi. Um … Pak Presdir memanggilmu.” Giselle menepuk bahu
Meski ragu untuk mengatakannya lebih jauh, Inka pada akhirnya harus tetap memberitahukan kepada keluarganya. Ia tahu jika ‘nenek sihir’ yang berada di sisi ayahnya pasti akan berkomentar ini dan itu atau bahkan mebuat sang ayah tidak bisa datang ke pernikahan itu.“Ayah bisa datang, ‘kan?”“Kamu ini bicara apa? Ayah pasti akan datang ke acara pernikahanmu.”“Itu … aku juga mau menyampaikan kalau bulan depan. Maaf jika semua ini sangat mendadak. Candra dan keluarganya akan datang ke sana dan melamarku secara resmi.”“Tidak perlu. Ia akan mengeluarkan banyak uang jika terbang ke sini. Kasihan, pria jaman sekarang biasa tidak punya tabungan. Sayang sekali ya, pria yang ingin dijodohkan denganmu di sini sebenarnya orang kaya. Ayah jadi enak enak dengan keluarganya.”“Jadi karena dia anak orang kaya kalian mau menjodohkanku? Sayang sekali juga ya … aku menemukan orang lain yang lebih baik di sini.”Inka tertawa kecil sehingga membuat ayahnya berhenti berbicara. Soal uang sama sekali bukan
Inka lupa tentang sesuatu yang harus dikatakannya pada seseorang. Jika keluarganya sudah tahu, lain hal dengan Sasha. Entahlah nanti gadis itu akan terkejut atau sebaliknya. Sebenarnya, ia masih ingin menahannya lagi sampai saat acara lamaran. Namun, itu bisa saja membuat Sasha jadi benci padanya. Untuk seseorang yang sering terbuka dengan masalah, Inka merasa tidak adil jika tidak berbagi cerita ini.“Coba katakan sekali lagi, Inka?” Mata yang membesar dan raut wajah heran sudah ada pada Sasha. “Apa aku tidak salah dengar?”Sasha mengambil dokumen yang tipis lalu mengipas-ngipaskannya.“Tidak panas kenapa kipas-kipas, sih?”“Kamu! Bisa-bisanya kamu merahasiakan kalau Presdir kita adalah kekasihmu. Pantas saja sejak awal aku merasa kamu terlalu menghindarinya. Oh, ternyata ini adalah alasannya.”Kalimat bagaimana yang bisa meyakinkan Sasha jika Inka sendiri pun sebenarnya tidak tahu tentang keadaannya. Semua ini terjadi begitu saja pada hidupnya. Ia memang bersyukur telah lepas dari h
“Adi!”Teriakan seseorang dari depan resto membuyarkan dua pikiran yang sedang mereka-reka apa gerangan hubungan anak kecil itu dengan Pak Candra.“Mama!” teriak anak kecil yang bersama mereka. Anak itu juga turun dari kursi dan berlari menuju ibunya.“Adi, kamu membuat Mama khawatir!” Sesaat kemudian, wanita itu melangkah maju dan menemui Sasha dan Inka lalu berkata, “Terima kasih ya sudah menjaga anakku. Astaga, aku hampir gila dibuatnya!”“Kebetulan kami melihatnya.” Sasha langsung membalas.Mata wanita itu lalu tertuju pada makanan yang ada di atas meja. Ia menatap wajah anaknya dan mulai menatap dengan tajam.“Aku tidak memintanya, Ma. Mereka yang menawari aku makan,” ucapnya. “Iyakan, Kak?” Menunggu sebuah konfirmasi dari Sasha dan Inka.“Tidak apa-apa, Bu. Kami senang bisa membantu.”Lain di mulut dan lain di hati. Bagaimana pun juga Sahsa masih menganggap makanan seharga 80.000 itu mahal. Sasha dan Inka merasa seperti pahlawan kali ini.“Duh, aku kayak enggak sopan sekali ya.
“Papamu akan datang nanti. Kalau memang sudah waktunya.” Balasan dari belakang Andita membuatnya terkejut. Itu adalah Candra. Sungguh, ia sama sekali tidak ingin adik lelakinya menjanjikan sesuatu yang belum pasti. Anak laki-lakinya pasti akan menuntut semua itu. “Jangan dengarkan Pamanmu. Ia hanya berbicara sembarangan.” Andita mencoba untuk menjauhkan Adi dari Candra. “Hei, aku ini tidak sedang berbohong. Aku sendiri yang akan membawa laki-laki itu untuk datang. Ia perlu menjenguk Adi beberapa kali.” “Hentikan, Candra! Aku tidak mau bertemu dengannya!” “Bukan untukmu. Ini untuk keluarga kecil yang akan kubangun nanti. Aku tak mau istriku menyangka aku sama sekali tidak perhatian dengan keluargaku.” Candra lalu menunduk sejajar dengan Adi. “Papamu akan datang nanti.” *** Hari demi hari terus berganti. Mau tak mau, banyak persiapan yang harus diperbuat pasangan calon pengantin itu. Jika saja ia tidak menggunakan jasa WO, itu akan membuat mereka lebih sibuk lagi. Di sela-sela
Inka mengambil kesempatan untuk berbicara 4 mata dengan Candra. Ia membawanya ke luar, di dekat kolam. Ada tempat duduk di sana dan mereka bisa berduaan saja. Ini tidak seperti yang ada dalam perjanjian mereka. Tidak ada kontak fisik atau semacam itu. Bagaimana bisa muncul pembicaraan tentang anak?“Kamu ingin berduaan denganku, ya?” goda Candra.“Bukan! Sama sekali bukan itu! Kita perlu meluruskan semua ini. Mengapa mereka—tidak, kamu juga. Apa maksudnya tentang anak? Hei, tidak ada anak dalam perjanjian kita.”Candra menikmati rasa khawatir Inka. Ia ingin mempermainkannya lebih jauh.“Bukankah wajar jika dalam pernikahan ada anak. Aku dan kamu juga tidak bisa menjamin jika kita berdua ternyata bisa terjebak dalam nafsu nantinya—”Inka menutup kedua tangannya. “Hentikan! Aku tidak mau mendengarnya!”“Hahaha! Kau ini lucu sekali! Aku hanya sedang berusaha meyakinkan pihak keluargaku. Mana bisa mereka percaya begitu saja kalau aku akan menikah. Perkataanku tadi adalah cara yang paling
“Ah, daripada memikirkan tentang itu, bagaimana kalau kita turun ke bawah dan menikmati jamuan makan malam,” ajak Andita. “Meski ini acara keluarga, tenang saja … kali ini tidak ada meja besar yang terlalu kaku. Kamu bisa memilih mau makan di mana.”“Aku akan ikut kamu saja.”Begitulah Inka mengikuti ke mana Andita pergi. Candra sama sekali tidak muncul lagi selama makan malam. Ia menurunkan amarahnya terlebih dulu sebelum bertemu dengan Inka.Ia juga sudah berganti pakaian begitu pun dengan Andita. Hanya kemeja santai dan celana jeans. Meski keluarga yang lain masih lengkap dengan jas beserta gaun, asalkan ada seseorang yang sama dengannya, Inka tidak akan merasa minder.“Pakaian ini lebih nyaman dari gaun. Benar, ‘kan? Aku juga tidak setuju sebenarnya pertemuan keluarga menggunakan gaun. Apa-apaan itu?”“Mungkin biar terlihat formal.”Inka dan Andita terus bersama. Ada baiknya juga selama pesta kecil-kecilan itu Andita menjadi ‘pengawal pribadinya’. Sosok wanita lain dari sana menat
"Jangan terlalu percaya diri, Candra. Tidak semua yang kamu bayangkan akan kamu dapatkan." Inka menegaskan sekali lagi. Itu hanya di mulut saja. Kenyataannya, ia adalah orang yang perlu mendapatkan peringatan keras agar tidak jatuh cinta pada Candra. "Kamu lapar?" Candra menggunakan topik lain. "Ayo bersiaplah, kita makan di luar saja. Ah, ini adalah pemborosan di rumah tangga."Inka melipat tangan di depan dada lalu memasang wajah kesal. "Kamu ini sebenarnya punya banyak uang atau tidak, sih? Hanya makan di resto saja mengeluhnya sangat luar biasa!""Tetap saja jika menghamburkan uang, kita bisa jatuh miskin."Kata 'kita' begitu manis untuk diucapkan. Telinga gadis itu mulai panas. Bagaimana bisa Candra mulai menyatukan mereka dengan seenaknya. "Kalau memang keberatan, ya sudah ... aku akan masak sekarang," keluh Inka. Ia menuju dapur, membuka kulkas dengan kasar. Matanya mulai melihat-lihat bahan makanan di sana yang bisa dijadikan makanan. "Kalau tidak mau mengajak makan, ya ja
“Inka, kenapa harus bersembunyi, sih?” “Siapa yang bersembunyi? Aku hanya tidak mau berbicara denganmu!” “Memangnya susah ya tinggal di sini? Ini bagus untuk kita. Semakin sedikit orang yang kita temui, semakin baik. Kamu lupa soal kontrak itu?” “Terserah kamu saja! Lagipula, apa pun yang aku katakan tidak akan berpengaruh padamu!” Inka gusar. Ia tahu tidak memiliki power menghadapi Candra. Hidup terkurung selama 11 bulan tersisa hanyalah yang bisa ia lakukan. Kontrak sudah berjalan, tidak ada celah. Setelah dipikirkannya kembali, uang bulanan dari Candra cukup besar. Setidaknya, itu bisa menyembuhkan sedikit rasa kesalnya. “Jadi, kamu maunya kita tinggal di mana?” tanya Candra menahan emosinya. “Ayo bicarakan baik-baik. Yang perlu kamu tahu, kalau kita tidak tinggal di sini, maka pilihannya adalah bersama ayahku.” Itu keadaan yang sama menjengkelkan. Inka sudah membayangkan kehidupan seperti di film-film. Apakah ia menjadi menantu yang dikuasai mertua dengan segala kekejamannya?
Andita berhenti dengan kegiatannya. Sayur yang sedang dipotong itu ditinggalkannya. Ia bergerak menuju Inka dan memeluknya erat.“Katakan padaku apa saja yang kamu rasakan. Perlukah aku mencarikan dokter yang hebat?”Saat mendengar suara halus Andita, Inka ingin tertawa keras.“Aku tidak apa-apa, Kak Andita. Aku hanya sedang berpikir saja seandainya ada hal yang buruk terjadi.”“Astaga. Kupikir kamu mau mengatakan kalau hasil pemeriksaan kesehatanmu—”Inka menggenggam tangan Andita. Ia menatap lalu tersenyum. “Kak, aku baik-baik saja. Rahimku sangat bagus. Lalu, Candra juga sangat sehat. Ini tidak ada hubungannya dengan mandul atau sejenisnya.”Satu hal penting tidak bisa diucapkan bibir itu. Perjanjian tanpa sentuhan fisik. Jangankan mau punya anak, tidur satu ranjang pun tidak terjadi.“Jangan membahasnya lagi. Besok ayah dan nenekmu akan kembali ke Paris. Apa boleh aku ikut? Lumayan numpang gratis.”“Tentu. Kenapa tidak? Aku akan bilang pada ayahku secepatnya.” Inka bahkan sudah si
"Jadi, bagaimana dengan malam pertamamu?"Blush!Pipi Inka merona. Pertanyaan dari Andita membuatnya salah tingkah. Meski tidak ada yang terjadi, tetap saja pertanyaan itu terlalu brutal. Apakah semua pengantin baru selalu mendapatkan pertanyaan ini? "Stt! Sudah, meski kamu tidak memberitahukannya, aku tahu apa yang sudah terjadi, hihihi.""Ti-Tidak, Kak. Antara aku dan Candra benar-benar tidak ada apa-apa. Kami langsung tidur begitu hari menjelang malam.""Oh, Inka. Aku sangat tahu Candra. Ia tidak akan membebaskanmu begitu saja." Andita malah menuju kamar mereka. "Uh, sepertinya hal yg brutal terjadi tadi malam." Inka semakin tersudutkan. Kamar yang berantakan karena Inka melempar bantal pada Candra tadi pagi kini membuatnya tidak bisa berkutik."Sumpah! Kami tidak melakukan apa-apa!" Inka sudah hampir gila untuk menjelaskan semua itu."Lupakan saja. Aku akan menganggap seperti itu."Mengelak, memberi alasan bahkan menjelaskan dengan detail pun hanya akan sia-sia. Pada akhirnya In
"Kembali bekerja. Sepertinya aku terlalu baik padamu sampai kamu lupa kalau aku adalah bos di sini.""Aku mengerti."Rehan tidak berkutik saat Candra mulai menunjukkan kekuasannya. "Hubungi kembali Rani dan pastikan proyek kali ini berhasil. Aku tidak akn menyerah soal itu.""Itu yang ingin aku bicarakan padamu. Sebenarnya ada sesuatu yang mengganggu pikiranku."Candra memasukkan dua tangan ke dalam saku dan berjalan menuju Rehan yang sedang duduk di sofa. "Apa kamu mencurigai seseorang?" Satu alis mata Candra naik. Rehan mengangguk pelan. Pikirannya kembali pada peristiwa kemarin saat pesta pernikahan itu. Giselle yang tidak tahu jika ada seseorang yang mendengar pembicaraanya bersama orang lain."Kamu yakin mau melihat mantan terindahmu menikah? Bagaimana kalau kita hancurkan pesta ini."Rehan berusaha fokus dan menebak siap yang sedang bersama Giselle saat itu. "Aku hanya ingin menjadi saudara perempuan yang baik. Mengejutkan Inka sudah cukup bagiku.""Ayolah, hanya sekali keme
“Ckckck, berani-beraninya menyebut nama pria lain di hadapan suamimu.”“Emang kenapa? Pernikahan ini hanyalah semu. Aku juga tidak mau menganggap serius perlakuanmu nanti. Tenang saja, aku profersional.” Inka terlalu percaya diri mengatakannya.“Dengan siapa pun tidak masalah. Tentang Rehan aku tidak suka!”Inka semakin terheran-heran dengan tingkah Candra. Mengapa membatasi ruang geraknya? Lagipula, Rehan adalah sepupu Candra. Kenapa ia malah melarangnya untuk dekat dengan pria itu? Sungguh hal yang sama sekali tidak masuk akal!“Meski dilarang, aku tidak peduli. Tidak ada semacam itu di kontrak kita. Aku akan melakukan apa yang kusuka.”Inka meninggalkan Candra di sofa dan naik ke atas ranjang.“Kamu bisa tidur di sofa, oke?” kata gadis itu dengan sangat santai. “Empuknya!”Candra berkacak pinggang. Panas hatinya melihat mantan karyawan yang terlalu berani padanya.“Di mana Inka yang selalu hormat padaku? Aku tidak percaya jika gadis itu sekarang bahkan bisa memerintahku seenaknya.”
Tatapan tajam bagai elang yang siap memangsa dihadiahkan untuk gadis berponi di sana.“Harus sekarang membahas tentang perceraian?” Candra benar-benar tidak habis pikir. “Masa ada satu tahun dan kamu sudah memikirkan tentang itu?”“Ya mau bagaimana lagi? Satu tahun itu cepat, kok.” Inka sangat santai saat membalasnya. “Pernikahan kita saja hanya sebulan dipersiapkan. Oh, aku lupa bukan setahun. Sebelas bulan lagi. Kontrak itu di mulai saat aku tanda-tangan.”“Hm … kamu benar-benar ingin bercerai?”Inka mengangguk senang. Senyuman di bibirnya sangat lebar. Saat membayangkan lepas dari perjanjian saja sudah bisa menyenangkan hatinya.“Cerai, ya?”Berbeda dengan Inka, Candra terlihat tidak senang mendengar kata ‘perceraian’. Ia tidak ingin semua itu terjadi.“Oke, aku anggap kamu menantangku. Entahlah tapi … kurasa nantinya kamu akan memohon agar kita tidak berpisah.”“Apa? Haha! Hayalan macam apa ini? Pak Candra, jangan terlalu percaya diri. Aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan plu
“Aku ke sini hanya untuk menikmati indahnya suasana vila.”Wanita itu tidak peduli. Ia malah duduk di samping kolam dengan santai. Rehan yang melihatnya lalu bertepuk tangan. Keberanian yang luar biasa untuk membalas perkataan Candra dengan sangat santai.“Kalian berdua benar-benar tidak tahu malu!” umpat Candra.Candra memutuskan pergi dari kolam. Tidak ada gunanya masih berada dan menghirup udara yang sama di sekitar sana. Saat ia kembali ke kamar, Inka terlihat tidur nyenyak di sana. Piyama pink yang dikenakan Inka terlihat lucu malam itu. Candra menghela napas. Itu artinya ia akan tidur di sofa. Sungguh hari yang terlalu menyebalkan!“Kamu sudah kembali?” Inka bergerak dari posisinya yang damai.Candra menoleh ke arah suara dan berkata, “Kupikir kamu tidur.”“Aku hanya berbaring. Ini tempat baru. Aku tidak bisa tidur,” terang Inka. “Waktu pertama di apartemenmu juga aku tidak bisa tidur.”“Kenapa? Karena sekamar denganku? Tenang, aku tidak akan melakukan apa pun padamu.”“Bukan. A
“Hidup berbahagia selamanya!”Sorak-sorak dari penari setelah menampilkan tarian indah terdengar. Inka tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya hari ini. Semalaman ia berpikir panjang tentang ini dan itu. Pada akhirnya, ia ingin menikmati momen indah yang dimilikinya.“Senyummu lebar sekali. Apa kamu senang menikah denganku?” tanya Candra membuat perasaannya terusik. Ia juga sesekali curi-curi pandang pada pengantinnya. Cantik—satu kata untuk menjelaskan tentang Inka.“Aku hanya menikmati setiap momen dalam hidup. Kamu juga, ayo kita menyapa tamu undangan.” Pada akhirnya, Inka mengontrol emosinya.Inka menggenggam tangan suaminya dan mulai perlahan menelusuri taman itu dan menyapa satu per satu tamu dengan senyuman yang paling manis.“Auramu benar-benar keluar dengan sempurna. Duh, duh, duh!” Sasha langsung berkomentar saat didatangi sang pengantin.“Mungkin kamu harus mengikutiku menikah segera,” goda Inka.“Tidak, tidak! Aku mau menikmati masa lajangku sampai puas!” tolak Sasha. “Ak