Villa untuk tempat tinggal Ravenna telah dibersihkan. Hari ini wanita itu pindah ke sana. Saat ia masuk ke dalam kamar utama, semua barangnya lima tahun lalu telah tertata rapi di ruang pakaian.
Ia ingat setelah ia dan Edrion bercerai, pria itu memang mengatakan akan mengirim barang-barangnya ke villa.
Karena semuanya sudah ada, Ravenna tidak akan membuang uangnya dengan membeli barang-barang baru, ia mungkin hanya akan menyingkirkan pakaian-pakaian lamanya.
Dulu ia selalu berpakaian sederhana karena ia tidak ingin disebut sebagai penghambur uang, tapi sekarang ia sudah hidup sendirian jadi ia tidak akan memakai pakaian yang sederhana itu lagi. Ia akan memakai pakaian yang telah ia rancang sendiri untuk dirinya.
Saat Ravenna melihat ke kotak perhiasan yang terbuat dari kaca, ia melihat ada cincin pernikahannya dengan Eldrion di sana. Saat meninggalkan kediaman Eldrion, ia telah melepaskan cincin yang sudah ia kenakan selama tiga tahun itu.
Sekarang
"Ibuku tidak akan melakukan hal seperti itu jika kau tidak memulai duluan!" Quillon menyela dari belakang Theodore.Miranda mengalihkan pandangannya. Ia melihat Quillon yang tampak seperti Eldrion."Siapa kau?""Aku Quillon Lysander, putra Eldrion Lysander dan Ravenna Artanis.""Tidak mungkin!" Miranda menolak mempercayainya."Apa yang tidak mungkin?" tanya Theodore."Kakek, dia pasti bukan anak Eldrion. Ravenna dan Eldrion sudah bercerai, itu mungkin anak pria acak yang diakui oleh Ravenna sebagai putra Eldrion."Kemudian sebuah tamparan mendarat di wajah Miranda, kali ini bukan Ravenna yang menampar Miranda melainkan Theodore."Berani sekali kau menyebut cicitku seperti itu!" marah Theodore.Miranda yang mendapatkan dua tamparan merasa semakin tidak bahagia. Namun, ia tidak akan membuat Theodore semakin marah."Maafkan aku, Kakek." Miranda segera meminta maaf.Theodore sudah merasa tidak senang. "Apa yang
Makan malam tiba, Ravenna mengisi piring putranya dan juga Theodore."Makanlah dengan perlahan." Ravenna selalu mengingatkan putranya untuk makan perlahan karena putranya mudah tersedak.Eldrion diabaikan oleh Ravenna, hanya piringnya satu-satunya yang kosong sekarang. Eldrion tahu diri, dulu ia dilayani sepenuh hati oleh Ravenna, dan sekarang ia sudah kehilangan keistimewaan itu.Eldrion mengisi piringnya sendiri. Ia mulai menyantap makanannya dengan sesekali melihat ke arah Ravenna dan putranya bergantian.Theodore hanya menjadi pengamat di sana. Ia melihat bahwa cucunya mulai berubah. Semoga saja Eldrion bisa membuat Ravenna kembali menjadi bagian dari keluarga Lysander.Makan malam itu selesai. Ravenna ingin segera pulang ke villa."Biar aku antar." Eldrion menawarkan dirinya."Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri." Ravenna menolak dengan sopan."Ravenna, kenapa kau selalu menolakku?""Tuan Eldrion, apa yang salah d
Siang ini Ravenna tidak makan siang bersama Quillon dan Theodore, ia memiliki janji dengan seorang klien.Sekarang ia berada di restoran dengan seorang pria yang mengenakan setelan jas mahal yang dibuat khusus."Adik saya sangat menyukai gaun rancangan Anda, jadi saya ingin Anda membuat gaun untuknya." Pria itu ingin memberikan gaun rancangan Ravenna sebagai hadiah untuk ulang tahun adiknya.Untuk membuat pertemuan dengan Ravenna, ia telah menghubungi asisten Ravenna beberapa bulan yang lalu."Baik, seperti apa gaun yang disukai oleh adik Anda?""Dia akan menyukai apapun yang Anda buat."Ravenna telah menemui berbagai klien dan klien kali ini adalah yang termudah baginya. Biasanya kliennya akan memiliki beberapa permintaan khusus."Saya akan menunjukan sketsanya pada Anda nanti," seru Ravenna."Baik," balas pria itu. "Mengenai ukurannya, tubuh adik saya hampir sama dengan tubuh Anda. Jadi buat saja ukuran Anda.""Anda ya
Eldrion keluar dari taksi, ia kini berdiri di depan sebuah pintu. Ia menekan bel dan menunggu di sana.Pintu terbuka, sosok Ravenna terlihat di sana.Eldrion langsung melangkah ke arah Ravenna, tubuhnya terhuyung ke depan, tepat masuk ke dalam dekapan Ravenna."Tuan Eldrion, apa yang Anda lakukan di sini?""Aku dibius."Ravenna membawa Eldrion ke sofa, ia kemudian mendudukan pria itu di sana."Berikan ponsel Anda, saya akan menghubungi dokter pribadi Anda.""Tidak perlu," balas Eldrion. "Dia akan segera datang dalam beberapa menit lagi."Wajah Eldrion merah seperti terbakar. Ravenna pikir Eldrion pasti sangat tidak nyaman."Tunggu di sini, saya akan mengambil air dingin untuk membantu Anda agar lebih nyaman." Ravenna hendak pergi."Ravenna!" Tangan Eldrion menggenggam tangan Ravenna.Ravenna menatap Eldrion sejenak, sampai akhirnya tangannya disentak dan ia jatuh di atas pangkuan Eldrion.Tubuh Ravenna membeku saat bibir dingin Eldrion membekap mulutnya. Lidah lembab Eldrion melesat m
"Apa yang sudah kau masukan ke dalam minumanku semalam?!" Eldrion menatap Miranda tajam.Ravenna kini tahu siapa yang membius Eldrion, rupanya itu adalah Miranda, saudara Eldrion sendiri."Eldrion, ada apa ini?" tanya Amanda."Coba Bibi tanyakan saja pada putri Bibi!""Miranda?" Amanda beralih pada putrinya."Eldrion, aku hanya membantu agar hubunganmu dengan Ysoria cepat berkembang," seru Miranda."Apakah aku membutuhkan bantuanmu? Atau apakah aku ingin memiliki hubungan dengan Ysoria?""Eldrion, aku tahu kau dan Ysoria sama-sama memiliki perasaan khusus, tapi karena kehadiran wanita itu kau dan Ysoria tidak bisa bersama. Aku hanya membantu kalian saja." Miranda berkata seolah tidak bersalah."Miranda, kau terlalu sok tahu!" bengis Eldrion. "Aku tidak memiliki perasaan khusus apapun pada Ysoria! Dan jika aku ingin bersama Ysoria maka sejak aku bercerai dengan Ravenna aku pasti akan menikahinya, tapi aku tidak melakukannya. Itu semua karena aku tidak menyukai Ysoria!""Eldrion, tidak
"Ada apa, Sera?" Ravenna baru akan tidur ketika Seraphim menghubunginya."Apakah kau bersama Quillon?""Tidak, Quillon menginap di rumah Kakek.""Ayo keluar. Aku sedang di klub malam sekarang.""Baik, aku akan bersiap dulu.""Ya.""Kirimkan aku alamatnya.""Baik." Seraphim memutuskan panggilan itu lalu kemudian mengirimkan lokasinya pada Ravenna.Ravenna bergerak turun dari ranjang. Ia pergi ke tempat pakaian lalu mengambil sebuah dress yang layak dipakai ke klub malam.Ravenna bukanlah seseorang yang mencintai dunia malam seperti Seraphim. Sejak ia masih remaja bahkan sampai sekarang mungkin hanya kurang dari lima kali ia mengunjungi klub malam.Namun, untuk minum alkohol, ia sudah cukup terbiasa dengan hal itu. Beberapa kali ia menghadiri pesta dan minum bersama klien nya.Lima tahun belakangan ini ia telah beberapa kali diajak ke klub malam oleh kenalannya di Paris, tapi ia selalu menolak karena lebih suka menghabiskan malam dengan Quillon.Sekarang Quillon sedang dengan Theodore j
Di dalam mobil Eldrion masih memikirkan Ravenna. Jika Ravenna menyerah padanya maka sudah saatnya bagi dirinya yang mencoba mendapatkan hati Ravenna kembali.Ravenna mencoba mengetuk pintu hatinya selama tiga tahun, jadi ia akan menggunakan seumur hidup waktunya untuk mengetuk pintu hati Ravenna, mungkin saja suatu hari nanti pintu yang telah tertutup itu akan kembali terbuka lagi.Di mobil lain saat ini Ravenna masih bisa merasakan ciuman paksa Eldrion. Hatinya benar-benar marah sekarang, ia merasa seperti dipermainkan. Dulu saat ia sangat mencintai Eldrion, pria itu tidak akan pernah menciumnya kecuali saat mereka bercinta, dan setelah mereka bercerai Eldrion dua kali menciumnya.Dan beberapa saat lalu Eldrion meminta kembali dengannya. Untuk apa? Untuk diabaikan seperti dulu? Ravenna tahu bahwa alasan Eldrion ingin kembali dengannya pasti karena Quillon. Ya, hanya itu dan tidak ada alasan lain.Dering ponselnya mengganggu pemikiran Ravenna. Ia meraih ponselnya dan menjawab panggil
"Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan Eldrion?" Ravenna bertanya pada Eldrion yang masuk ke dalam ruang kerjanya.Eldrion melihat ke lembaran kertas di atas meja Ravenna. Selama menikah dengannya Ravenna hanya sering mengenakan celemek, tapi sekarang yang ia lihat sudah berbeda. Ravenna memiliki meja kerjanya sendiri. "Aku hanya ingin melihatmu.""Tuan Eldrion?""Kenapa? Apakah aku tidak boleh melihatmu?"Ravenna tidak tahu bahwa Eldrion akan memiliki sisi tidak tahu malu seperti ini. "Anda sudah melihat saya. Sekarang pergilah!""Aku tidak mau."Ravenna kesal. Ia berdiri dari tempat duduknya. Jika Eldrion tidak mau pergi, maka ia yang akan pergi.Eldrion menahan Ravenna dengan menggenggam lengannya."Lepaskan, Tuan Eldrion!""Tidak, aku pernah melepaskanmu dan akhirnya aku menyesal, jadi aku tidak akan melepaskanmu lagi." Eldrion tidak peduli pada harga dirinya. Dahulu ia terlalu sedikit bicara dengan Ravenna, dan sekarang ia akan banyak bicara.Ravenna membeku. Sekali lagi ia tidak p
Mata Ravenna ditutup oleh sebuah kain penutup. Wanita itu dituntun oleh Eldrion dan Quillon menuju ke sebuah tempat.Ravenna sangat penasaran ke mana ia akan dibawa oleh suami dan anaknya.“Apakah masih belum bisa dibuka?” Ravenna bertanya.“Sebentar lagi, Bu.” Quillon menjawab pertanyaan ibunya.Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah ballroom. Tempat itu telah didekorasi dengan indah. Ada sebuah panggung di depan sana. Juga ada layar lebar di sisi kanan dan kirinya. Penutup mata Ravenna dilepaskan lalu kemudian Quillon memegang bunga. “Selamat ulang tahun, Ibu.”Hati Ravenna sangat tersentuh. “Terima kasih, Sayang.” Ia menerima buket bunga dari putranya.“Selamat ulang tahun, Istriku.” Eldrion memberikan kecupan di kening Ravenna.“Terima kasih, Suamiku.”Setelahnya Ravenna mulai melihat ke sekelilingnya. Ia berada di tempat yang bisa menampung ribuan orang, tapi sekarang di sini ia hanya berdiri dengan anak dan suaminya.“Ayo duduk.” Eldrion membawa Ravenna ke tempat duduk
Bulan madu Eldrion dan Ravenna telah berakhir. Keduanya ini telah berada di kediaman Theodore.“Ayah, Ibu, bagaimana? Apakah aku sudah akan memiliki adik?” Quillon bertanya dengan penuh harapan pada orangtuanya.Ravenna tertawa kecil mendengar pertanyaan putranya, ia tidak akan menjawab pertanyaan itu dan membiarkan Eldrion yang memberikan pengertian pada putranya.“Sayang, Ayah dan Ibu sudah sangat berusaha, tapi sepertinya usaha kami kurang keras. Ayah dan Ibu akan berusaha lebih keras lagi nanti sehingga Quillon akan memiliki adik dengan cepat.”Quillon mendesah. “Sayang sekali, padahal aku benar-benar sangat menginginkan seorang adik.”Ravenna menarik putranya ke dalam dekapannya. “Sayang, memiliki seorang adik bukan sesuatu yang mudah. Jika Quillon bersungguh-sungguh maka Quillon harus berdoa pada Tuhan.”“Baik, Ibu. Aku akan mulai berdoa pada Tuhan agar Tuhan memberikanku adik.”“Anak pintar, Tuhan pasti akan mengabulkan doamu.” Eldrion mengelus kepala Quillon dengan penuh kasih
“Ayah, Ibu, aku ingin adik perempuan.” Quillon bicara pada Eldrion dan Ravenna yang akan pergi untuk berbulan madu tanpa membawa Quillon bersama mereka.Eldrion tertawa kecil. “Ayah akan berusaha keras untuk mewujudkan keinginanmu. Jadilah baik selama Ayah dan Ibu pergi.”“Baik, Ayah.” Quillon menjawab dengan patuh.“Baiklah, Ayah dan Ibu pergi dulu. Sampai jumpa lagi, Jagoan. Ayah sangat mencintaimu.” Eldrion mengecup puncak kepala Quillon.Ravenna menarik Quillon ke dalam dekapannya. “Ibu sangat mencintaimu, Sayang.”“Aku juga sangat mencintai Ayah dan Ibu. Selamat bersenang-senang, Ayah, Ibu.” Quillon berkata dengan ceria.Sebagai seorang anak ia tidak menutut ikut orangtuanya yang akan berbulan madu ke Maldives. Ia diberitahu oleh kakeknya, jika ia menginginkan adik maka ia harus membiarkan orangtuanya pergi berdua saja.Quillon mengerti dengan cepat, ia ingin menjadi seorang kakak, jadi ia memilih untuk tinggal bersama dengan kakek buyutnya.Eldrion dan Ravenna kemudian pergi m
Hari pernikahan Eldrion dan Ravenna tiba. Semua tamu undangan telah mengisi aula megah yang disulap seperti negeri di atas awan.Ada begitu banyak bunga segar di dalam ruangan itu. Eldrion menghabiskan begitu banyak uang untuk pesta pernikahan yang luar biasa untuk Ravenna.Di dalam ruangan khusus, saat ini Ravenna telah mengenakan gaun pengantin dengan bagian bawah yang mengembang. Ia terlihat seperti seorang putri dari sebuah kerajaan. “Ibu, Ibu sangat cantik.” Quillon terus memuji Ravenna. Bocah laki-laki itu sangat suka memandangi ibunya yang baginya tampak seperti peri.“Kau juga terlihat sangat tampan, Sayang.” Quillon mengenakan setelan jas berwarna putih, anak laki-laki itu terlihat sangat tampan dan menggemaskan.Waktu bagi Ravenna untuk memasuki aula pernikahan tiba. Ravenna menggenggam tangan Quillon, di belakangnya ada Seraphim yang menjadi pengiring pengantin.Ravenna sudah mengatakan pada Seraphim untuk tidak perlu menjadi pengiring pengantinnya karena ia tahu kondisi
Setelah berpikir semalaman, Seraphim akhirnya memutuskan untuk mempertahankan janin yang ada di kandungannya. Selain itu ia juga berpikir untuk memberitahu Alejandro. Bukan karena ia ingin meminta pertanggung jawaban dari pria itu, tapi karena ia pikir Alejandro berhak tahu tentang kehamilannya.Hari ini Alejandro datang ke kota ini untuk menghadiri pesta penikahan Ravenna dan Eldrion yang akan diadakan lusa.Seraphim menunggu Alejandro di sebuah restoran, ia merasa sedikit gugup. Harus dari mana ia memulai membicarakan tentang kehamilannya.Hai, selamat kau akan menjadi ayah, aku hamil.Seraphim menggelengkan kepalanya, ia harus basa-basi terlebih dahulu. Alejandro mungkin akan terkena serangan jantung jika mendengar apa yang ia katakana.Saat Seraphim sibuk berpikir, Alejandro tiba. Pria itu mendekati Seraphim.“Maafkan aku sedikit terlambat.” Pria itu segera duduk di seberang Seraphim.“Ya, tidak apa-apa,” balas Seraphim.“Kau belum pesan makanan?”“Belum.”“Mari kita pesan makana
Satu bulan berlalu, rencana pernikahan Eldrion dan Ravenna yang sempat tertunda akan segera dilanjutkan. Undangan yang baru telah disebar.Pernikahan Eldrion dan Ravenna akan diadakan dalam satu minggu lagi.Keamanan di sekitar Eldrion dan Ravenna ditingkatkan. Eldrion memastikan bahwa tidak akan ada yang bisa mengacaukan rencana pernikahannya dengan Ravenna lagi.Tidak ada banyak hal yang perlu Eldrion dan Ravenna siapkan, karena mereka akan tetap menggunakan semua yang sudah mereka siapkan untuk pernikahan mereka yang sempat dibatalkan.Siang ini Ravenna pergi ke restoran untuk makan siang dengan Seraphim. Sejak Eldrion masuk rumah sakit, ia sudah lama tidak keluar dengan Seraphim.Seraphim beberapa kali mengunjunginya, tapi ia tidak bisa bepergian dengan Seraphim bahkan hanya untuk makan saja karena kondisi Eldrion dan Quillon.Lalu, setelah Eldrion sadarkan diri, Seraphim memiliki pekerjaan di luar negeri. Dan hari ini mereka baru bisa bertemu.Pesanan Ravenna dan Seraphim tiba,
Kesehatan Eldrion semakin membaik setiap harinya, setelah dirawat beberapa hari di ruang rawat biasa, Eldrion kini sudah kembali ke rumah.Sampai di rumah, ia disambut oleh putranya dengan suara yang ceria.Eldrion memeluk Quillon, menghujani wajah putranya dengan ciuman penuh kasih sayang.“Ayah sangat merindukanmu.” Eldrion menghirup aroma di ceruk leher Quillon.“Aku juga sangat merindukan Ayah.” Quillon bahagia karena akhirnya sang ayah kembali ke rumah juga. Saat ia diberitahu oleh ibunya bahwa hari ini ayahnya akan keluar dari rumah sakit, ia menjadi sangat tidak sabar untuk bertemu dengan ayahnya.“Bagaimana kabarmu, hm?”“Aku sangat baik, Ayah. Apakah Ayah sudah baik-baik saja?”“Ya, Ayah sudah baik-baik saja. Ayah sudah bisa menemanimu bermain lagi.”“Syukurlah, aku sangat senang mendengarnya.”Setelah memeluk putranya, Eldrion menghampiri kakeknya. Setelah ia dipindahkan ke ruang rawat biasa, ia meminta kakeknya untuk tidak perlu menjenguknya. Eldrion tidak ingin kakeknya ke
Beberapa hari setelah pemantauan, Eldrion dipindahkan keluar dari ruang perawatan intensif. Beberapa alat bantu yang sebelumnya terhubung dengan tubuh pria itu kini sudah terlepas.Teman-teman Eldrion segera datang mengunjungi Eldrion. Selama beberapa hari ini mereka hanya bisa melihat Eldrion dari luar karena tidak diperbolehkan masuk.Ketiga pria itu benar-benar lega setelah melihat Eldrion sudah sadarkan diri. Dan sekarang Eldrion sudah berada di ruang pemulihan.Setelah beberapa waktu kunjungan, ketiga pria itu meninggalkan ruang rawat Eldrion. Mereka akan datang lagi nanti.Yael masuk ke dalam ruangan, saat ini Ravenna sedang kembali ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian dan juga keperluan lainnya. Jadi Yael bertugas untuk menjaga Eldrion.“Apa saja yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri?” Eldrion bertanya dengan suara lemah.Selama lebih dari satu minggu ini baik Ravenna ataupun yang lainnya tidak membahas mengenai apapun yang berhubungan dengan tragedi penembakan. Mer
Pagi harinya Ravenna mengunjungi Eldrion lagi. Ia hanya tidur sangat sebentar. Kepalanya saat ini terasa sakit, tapi Ravenna mengabaikan rasa sakit itu.Ravenna masuk ke dalam ruangan. Ia mendekati Eldrion, tapi kali ini ia tidak bisa mengatakan apapun untuk waktu yang lama.“Aku merindukanmu.” Ravenna bersuara pelan. Ia benar-benar merindukan Eldrion. Ia rindu ciuman pria itu, ia rindu dekapan hangat Eldrion. Ia rindu senyuman hangat Eldrion. Ia rindu segalanya tentang Eldrion.Ravenna ingin menangis lagi, tapi ia sudah benar-benar banyak menangis. Eldrion mungkin tidak akan bahagia jika tahu ia terlalu banyak menangis.“Aku akan pulang sebentar. Aku perlu membersihkan tubuhku dan mengganti pakaian.” Ravenna berkata lagi. Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Eldrion, tapi ia harus pergi karena ia juga tidak diperbolehkan berada di dalam ruangan itu dalam waktu yang lama.Setelah beberapa saat Ravenna keluar dari ruangan rawat itu. Bukan hanya dirinya yang perlu mandi dan mengganti