Sabian mengernyitkan dahinya, menatap dengan tatapan bengis kepada lawannya, tidak ada seorangpun yang berani meminta barang miliknya apalahi wanita pujaan hatinya.
"Nyalimu sungguh besar anak muda, apakah kamu tahu apa yang kamu katakan itu bisa saja membuatku memotong lidah milikmu?" Sabian menegaskan kepada adik Han.
"Aku sungguh takut kepada tuan muda Sabian yang berkata sungguh kejam seperti itu," gumam adik Han itu.
Brakk! Sabian menggebrak mejanya dia berdiri meraih kerah baju Henri dengan kencang, bug! Sebanyak tiga kali Sabian memukul Henri dengan kencang, ia tidak suka di permainkan apalagi Henri dengan terang-terangan meminta Kirana untuk menjadi miliknya.
"Kamu jangan asal-asalan berkata, pertama kamu sudah mencemarkan namaku, kedua kamu sudah melecehkan istriku, kamu pantas mendapatkan pelajaran," Sabian meninju lagi wajah Henri dengan keras.
Kirana sedikit ngeri mel
Luna memeluk Kirana dengan erat, di usapnya lembut rambut Kirana, beban hidup di usia belia membuatnya rapuh, dan merindukan kasih sayang tulus seorang ibu, Luna jadi tak tega meninggalkannya."Kirana jangan takut lagi, sekarang di sampingmu ada suami yang hebat, ia akan melindungimu sepanjang waktu," ucap Luna menguatkan keponakannya."Bibi, aku akan merindukanmu," ucap Kirana sambil menitikkan air mata.Walau berat Luna harus tetap kembali menunaikan kewajibannya sebagai seorang ibu dan istri, dia berjanji pada Kirana akan selalu menghubunginya bagaimanapun Kirana masih tetap anggota keluarganya."Kirana walau bibimu kembali ke luar negeri, kamu masih bisa bertukar kabar dengannya," ucap tuan Handoko."Mama jangan bersedih lagi, kita akan antar nenek ke bandara besok pagi," Bima memeluk Kirana.Kirana tersenyum melihat wajah putranya, kekuatan utama Kirana
Bima dan Kirana memasuki sekolah yang cukup luas dan bersih, salah satu sekolah yang terkenal di ibu kota, biasanya yang sekolah di sini adalah murid dengan orang tua yang memiliki kekayaan berlimpah."Selamat siang apakah saya bisa mendapatkan informasi sekolah ini," Kirana mendatangi kantor pusat informasi mengenai sekolahm"Bisa bu, mari masuk saya jelaskan tentang sekolah ini," seorang petugas memoersilahkan masuk Kirana dan Bima.Selesai mendapatkan penjelasan mengenai seluk beluk sekolah, petugas mengajak Bima dan Kirana berkeliling sekolah, halaman yang luas, ruang kelas yang nyaman lengkap dengan pendingin ruangan, perpustakaan, kantin, semuanya di susun dengan rapi sehingga membuat siswa betah dan nyaman dengan kegiatan belajar di sekolah.Kirana bertanya pada Bima apakah cocok dengan sekolah itu atau tidak, jika cocok mungkin Kirana akan langsung mendaftarkannya saat itu juga."Bagai
Sabian mengangguk ia memilih sekolah yang sama dengan putra Mike, asisten pribadi Sabian itu kemudian menjelaskan apa saja kelebihan dan kekurangan kepada Kirana, setelah berunding akhirnya mereka memutuskan dimana Bima akan bersekolah."Aku akan menyekolahkan Bima di sekolah yang sama dengan Marcel putra dari Mike," ucap Sabian menunjuk salah satu brosur."Aku setuju dengan mu saat masuk tadi aku sudah srek di hati, tinggal keputusan dari putraku apakah dia setuju kita memilih sekolah ini," ucap Kirana yang matanya menyapu seisi ruangan mencari putranya.Sabian menunjuk dengan jari ada dimana sang putra, melohat Kirana yang mencari sang buah hati, seakan ia tahu apa yang ada di pikiran istrinya itu."Putramu ada disana, dia tidak akan lepas dari pengawasanku walau aku sedang sibuk mengurusi bisnis," ucap Sabian sambil menunjukkan arah dimana Bima berada."Ya ampun anak mama tidu
Kirana terdiam tidak menyahut pertanyaan Sabian, sementara Bima banyak mengoceh menuntut kedua orang tuanya menuruti apa yang ia inginkan."Ayah aku ingin makan burger, tapi mama tidak mengijinkan aku makan fast food," ucap Bima sambil melipat kedua tangannya."Putraku tak tahukah kamu jika fast food itu tidak baik untuk pencernaanmu?" Sabian bertanya pada anaknya sekaligus mengetes pemgetahuan anaknya.Bima menggelengkan kepala, ia tetap bertahan dengan pendapatnya jika ia tetap ingin makan burger, Bima semakin merajuk menginginkan burger."Putra ayah jika ayah tidak mengijinkanmu makan fast food bagaimana?" Sabian mencoba menenangkan Bima yang merajuk."Aku minta sama paman Sandra pasti semua keinginanku akan di kabulkan olehnya," ucap Bima yang masih merajuk.Kirana tak enak hati dengan ucapan Bima, ia merangkul erat lengan tangan Sabian berharap suaminya tak marah dengan ucapan Bima, memang benar sejak lahir Bima selalu di manja oleh San
Sabian mulai bergerilya menikmati indahnya tubuh istrinya, sedangkan Kirana pikirannya terus melayang ke masa lalu sang suami."Sayang bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" ucap Kirana dengan suara lirih."Ayo kita berbicara di atas ranjang saja," ucap Sabian sambil menggendong Kirana ke atas ranjang.Sabian melucuti atasan yang di pakai Kirana dengan pelan penuh perasaan, melihat wajah sendu istrinya ia menahan hasrat dalam jiwanya, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya."Apakah ada kenanganmu bersama seseorang di tempat ini?" ucap Kirana dengan lirih."Aku tidak pernah mencintai seorang wanita sebelumnya," Sabian meyakinkan Kirana.Sabian menganggap wanita hanya menjadi beban dalam perjalanan karirnya, mereka banyak menuntut dan selalu ingin di mengerti bahkan akan metajuk saat sang pria tidak mengangkat telpon atau membalas pesan singkat padahal ada hal yang penting yang di kerjakan para pria, terlebih
Kirana membukakan pintu untuk seseorang yang mengetuk pintu ruangan restoran sekaligus tempatnya menginap, ternyata adalah seorang pelayan yang mengantarkan makanan, ia mempersilahkan masuk pelayan itu dan mereka segera denan sigap menata makanan di atas meja, aroma masakan yang menggoda membuat perut semakin keroncongan."Maaf nyonya kami hanya ingin mengantarkan makanan yang di pesan," ucap para pelayan itu."Silahkan masuk dan hidangkan makanan," Kirana mencium aroma masakan yang sangat lezat, bahkan ia senditi tidak tahu apa yang di pesan Bima barusan.makanan yang di pesan Bima adalah scrambled egg, salmon shouffle, mashed potato, sedangkan minumannya adalah teh camomile dan susu uht untuk dia nikmati, pelayan meletakkan berbagai masakan yang di pesan dengan rapi di meja makan keluarga cemara itu."Tuan muda kecil ini adalah makanan yang anda pesan barusan, silahkan di nikmati jangan sungkan jik
"Sisanya aku serahkan pada kalian!" ucap Sabian kepada para pengawal yang menjaga kediaman tuan Handoko."Baik tuan akan saya bereskan orang ini," ucap salah satu pengawal.Sabian menggendong Kirana menuju rumah untuk beristirahat, sepertinya mentalnya terguncang akibat ulah Dani Wijaya sang mertua yang sudah benar-benar kelewatan, ia membuat Kirana terbawa emosi dan mengingat kekejaman yang di lakukan oleh ayah kandung beserta keluarganya, sungguh lelaki yang tidak tahu malu, beruntung Sabian kembali ke rumah akibat ada barang yang tertinggal di rumah."Kirana aku akan memanggil Jay ke rumah untuk memeriksamu, jangan banyak bertanya dan bergerak dulu," ucap Sabian sambil menggendong Kirana masuk ke rumah."Apa yang terjadi Sabian, ada apa dengan cucuku, apakah kamu bermain dengan liar semalaman sehingga membuat cucuku lemas seperti ini?" ucap tuan Handoko geram tak tertahankan.
Sabian menatap sinis mertuanya yang kini di berikan suntikan halusinasi yang akan mengakibatkan dia kehilangan kesadaran, orang yang melihatnya akan mengira bahwa orang yang menerima suntikan obat haslusinsi adalah orang yang tidak waras alias gila. Sabian memanfaatkan situasi ini untuk mengiring opini publik bahwa Dani Wijaya menjadi gila karena harta yang di tinggalkan mediang istrinya harus sudah di pindah alihkan ke pewaris yang sebenarnya, dia kehilangan kemewahan dalam waktu sekejap sehingag menjadi frustasi."Maafkan aku, tolong jangan lakukan ini padaku," ucap Dani Wijaya yang sudah tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena di pegang dengan kuat oleh para bodiguard."Menyesal sudah tidak ada gunanya, aku sudah memberimu kesempatan untuk menjadi lebih baik, tapi kamu menyebabkan stress istriku kambuh," ucap Sabian yang tidak terima istrinya mengingat kejadian masa lalunya yang kelam sehingga jatuh sakit.Proses peny
Bima menginginkan Terus bisa bersama Clarisa selamanya, ia tak mempedulikan apa yang dikatakan Clarisa dan terus malanjutkan napsunya melucuti semua pakaian Clarisa dan bercinta dengannya sampai puas.Bima sangat menyukai apa yang ia lakukan terlebih di dalam hatinya tak ingin kehilangan Clarisa."Bima kau membuatku sakit," ucap Clarisa lirih."Maafkan aku Clarisa, aku melakukan ini karena aku cemburu dengan siapa saja yang pernah bersamamu, saat ini dan selamanya kau adalah milikku," balas Bima.Mereka melakukan lagi kegiatan yang menyenangkan dimalam itu. Hingga menjelang pagi dan juga di hari-hari berikutnya mereka sering bertemu dan melakukan itu sepanjang hari. ENtah apa yang ada di pikiran keduanya hingga kejadian yang tak terduga pun terjadi."Clarisa kau sudah beberapa hari tidak masuk kerja kenapa?" tanya Kirana lewat sambungan telepon."Saya sedang sakit nyonya, tidak tahu ini kenapa badanku rasanya lemas sekali," jawab Clarisa.
Bima memasang raut wajah yang berbeda dari tadi. Sebenarnya ada apa ya kenapa sampai seperti itu. "Kau tanya padaku, seharusnya kau tidak usah tahu apa yang aku rasakan," jawab Bima. "Kau kenapa sayang, padahal tadi kau sangat tampan," ucap Clarisa. Bima semakin jengkel mendengar ucapan Clarisa berati tadi dia sangat jelek dimatanya. Mungkin pria yang permah ia ajak kesini lebih tampan darinya. Bima sangat kesal sekali. Perasaannya campur aduk. "Apakah aku lebih jelek dari para pria yang pernah kau ajak kesini, aku tidak mau makan di sini," ucap Bima merajuk. "Kau lapar dari tadi, kalau kamu sakit aku akan sedih, kau marah karena mendengar pemilik warung tenda ini ya?" tanya Clarisa. Clarisa mengatakan pria yang pernah datang ke sini bersamanya lebih sering adalah ayahnya saat belum terpengaruh oleh ibu tirinya. Selebihnya hanya Antoni yang sekarang berkhianat. Tiba-tiba ia teringat lelaki yang pernah ia ajak ke sini semuanya berkhiana
Bima melirik Stevan yang ada di sofa ujung sebelum menjawab pertanyaan kakeknya. Ia mengedipkan mata memberikan sebuah kode."Ah itu aku serahkan kepada Stevan saja. Biar dia mengajari adiknya bagaimana rasanya belajar ilmu bela diri, juga menjadi lelaki yang kuat," jawab Bima."Maksudmu apa Bima?!" gertak tuan Alexander marah.Bima menjabarkan maksudnya. Sean ini belum mengerti mana musuh mana kawan. Stevan sudah terlatih dan bisa di andalkan untuk mengajari adiknya sendiri."Kakek tenanglah, kita serahkan pada Stevan bagaimana dia akan mengajari adiknya," jawab Bima."Aku tak yakin kalau ia tega menghukum adiknya sendiri!" seru tuan Alexander.Bima menegaskan kalau Bima akan menemani Stevan untuk melatih Sean yang masih polos dan selalu bertindak gegabah."Tuan Alexander tenang saja orang yang salah memang harus di hukum bukan. Aku harus bertanggung jawab atas masalah ini!" tegas Stevan."Aku pegang janjimu anak muda," ucap t
Belinda mencibit punggung kakaknya yang ternyata meremehkannya. Belinda menagtakan akan mengikat tangan dan kaki Sean di bangku mungkin ia akan mengguyurnya menggunakan air hingga basah sebelum mengelurkan kata-kata kasar karena berani menyakiti kakaknya."Aku bisa saja mengguyurnya dengan air atau menimpuknya dengan beberapa penghapus papan tulis ke kepalanya agar dia tidak seenaknya bertindak," balas Belinda."Kau benar-benar adikku kalau begitu," sahut Bima.Bima memarkir motornya di garasi rumah mereka. Belinda memberi salam pada kakeknya yang berada di ruang keluarga dan menceritakan bahwa kakaknya habis di keroyok oleh geng motor saat pulang mengantarnya sekolah."Apa katamu, lalu kakakmu sekarang dimana?" tanya tuan Alexander panik dan kaget."Aku ada disini kakek, jangan dengarkan Belinda berbicara karena aku tidak apa-apa," jawab Bima.Tuan Alexander beridiri dari kursinya dan memutari tubuh Bima mengecek apakah ada yang lecet di tu
Bima melahap makananya lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan dari Clarisa. Sepertinya gadis itu penasaran dengan apa yang terjadi."Aku tadi di hadang geng bermotor," jawab Bima singkat."Apa yang terjadi, apa kau bertemu musuh?" tanya Clarisa panik.Bima menarik Clarisa sampai ke pangkuannya ia mencecap bibirnya agar tidak terlalu banyak bicara. Saat sudah tenang ia baru menceritakan apa yang terjadi."Jadi seperti itu, lucu sekali anak SMA itu, bukannya sungkem dengan kakak calon pacar malah menghadangnya," ucap Clarisa terkekeh."Untung aku tidak menghajarnya tadi marena dia adiknya Stevan," balas Bima.Stevan adalah sahabat Bima tapi Clarisa belum begitu dekat dengan orang itu. Biarlah yang penting Clarisa akan mempertahankan Bima apapun yang terjadi."Masakan hari ini enak sekali," ucap Bima."Apa kau menyukainya. Kalau begitu aku akan lebih sering memasak untukmu," balas Clarisa.Bima menatap raut bahagia gadis it
Bima menghentikan motor dan belum membuka helmnya. Ia terkekeh melihat tingkah geng motor anak SMA didepannya."Yang mana bosmu, suruh maju ke depan!" seru Bima."Bedebah, sudah memakai motor butut kau berani membonceng gadis pujaan bos kami, kau pikir kamu pantas berhadapan dengan bos kami?" hardik salah satu anggota geng motor lainnya.Bima semakin terkekeh dengan anak muda yang mengedepankan emosi dari pada pikiran mereka. Motor butut ini jika dipakai untuk membeli keangkuhan mereka juga bisa."Anak muda jaman sekarang tidak mengerti motor antik ya?!" ledek Bima."Lepas helm kamu jika punya nyali!" hardik salah satu anggota geng motor itu.Bima menggelengkan kepalanya. Ia tak punya masalah dengan mereka untuk apa melepas Helm. Meladeni bocah sungguh membuat Bima merasa rendah ia menyalakan motornya dan menggeber gas dengan kencang membuat mereka tersulut emosi dan salah satu menyerangnya."Kurang ajar sekali apa kau tak mengerti si
Bima hanya berjanji untuk mengajaknya jalan-jalan. Mungkin hari minggu nanti Bima akan meminjam mobil untuk mengajak jalan-jalan adiknya."Dia ingin mempunyai kakak perempuan. Sepertinya dia sudah jatuh hati pada seseorang dan ingin jalan-jalan dengannya!" seru Bima."Jadi dia meminta ijinmu untuk mengajak Clarisa jalan-jalan?" tanya Kirana.Bima mengangguk tapi dia juga mengutarakan kekhawatirannya jika mereka hanya pergi berdua saja. Jadi hari minggu nanti dia akan mengawasi dua wanita itu jalan-jalan."Bagus kalau begitu ayah juga akan meminta orang untuk mengawasi mereka berdua," balas Sabian."Sekarang tidurlah, besik masih hari sabtu Belinda juga masih harus sekolah," pinta Kirana.Belinda senang mendengar jawaban kedua orang tuanya serta kakaknya. Ia segera lari ke kamarnya setelah mebgucapkan terima kasih ke ayah dan mamanya."Ayah terima kasih sudah percaya padaku!" seru Bima."Sudah seharusnya ayah percaya padamu Bima
Bima menatap ayahnya yang sedang fokus menyetir itu. Kemudian ia tertawa kecil sambil menepuk pundak Sabian ia berkata, "Seharusnya ayah tidak bilang cari istri yang bisa masak,"Sabian menggelengkan kepalanya kenapa bisa salah bicara apa maksud Bima yang sebenarnya. Perasaannya sudah benar karena memakan masakan yang di buat istri itu menyenangkan."Lalu apa yang kau ingin ayah katakan tentang memilih istri?" tanya Sabian."Cukup katakan cariah istri yang sefrekuesi, meneremi segala keadaan susah, senang, sedih, kaya atau miskin," jawab Bima.Bima menuturkan mungkin dahulunya sang mama juga tidak bisa memasak. Karena keadaan menuntutnya untuk bisa mengenyangkan perutnya sendiri maka ia harus bisa mengolah bahan makanan menjadi makanan yang lezat. perjalanan untuk bisa memasak juga tak muda karena jaman sekarang tidak seperti jaman dahulu kala."Ayah jangan telalu kolot wanita sekarang tidak seperti wanita jaman dulu, banyak media untuk berlatih me
Bima mengambil ponselnya dan melihat telepon masuk dari mana. Ternyata dari sang kekasih hati Clarisa Manggala. Bima yang awalnya kesal menjadi lunak hatinya karena mendapatkan telepon dari sang kekasih hati."Haloo kesayangan, apa kau merindukanku?" tanya Bima sambil tertawa."Jangan kegeeran siapa juga yang merindukanmu, tadi adikmu menelponku!" jawab Clarisa.Bima menanyakan ada apa gerangan sehingga Belinda menelpon kekasih hatinya. Baru saja Bima merencanakan jalan-jalan dengan mereka bertiga kenapa bisa Belinda membuat ulah seperti ini. Pikiran Bima sudah menari kemana-mana."Apa adikku membuat ulah padamu?" tanya Bima yang panik."Tidak ada, dia hanya mengabari kalau hari minggu ingin mengajakku jalan-jalan," balas Clarisa.Bima tersenyum kecut, ternyata anak kecil itu sudah tak sabaran mengajak calon kakak iparnya untuk jalan-jalan sendirian. Bima merasa cemburu karena adik kesayangannya ingin memiliki kakak perempuan daripada mempun