Beranda / Romansa / Chef Galak, (tapi) Kucinta / 9. Ada Uang Abang Disayang

Share

9. Ada Uang Abang Disayang

Penulis: L Liana
last update Terakhir Diperbarui: 2022-10-26 13:20:57

“Hari ini kamu gak usah kerja,” ucap Bariqi yang membuat Elya menatap pria itu.

“Aku telpon manager untuk ijin kamu. Lagian tidak banyak orderan hari ini,” tambah Bariqi sembari mencuci gelas bekas jahe anget.

“Enak saja, aku tetap kerja meski gak banyak orderan. Kalau gak kerja gajiku dipotong sehari, bisa rugi bandar,” oceh Elya.

“Aku ganti.”

“Gak usah seenaknya jadi orang. Aku mau kerja hasil keringatku sendiri. Sekarang kamu keluar dari sini!” titah Elya menarik tangan Bariqi.

“Gak, aku gak akan keluar,” kata Bariqi dengan keukeuh.

“Terus mau kamu apa sih?”

“Aku mau kamu ikut aku.”

“Aku harus kerja.”

“Gak usah kerja, aku ijinkan sama manajer.”

“Kok kamu seenaknya sendiri jadi orang. Aku asistenmu di kerjaan, tapi aku bukan siapa-siapa kamu saat di luar,” sentak Elya ingin menendang kaki Bariqi. Namun Bariqi segera menghindar.

Bariqi merogoh celananya, mengambil dompet dan menarik dua kartu debit berwarna biru dan hitam. Elya membulatkan matanya melihat itu. Senjata Bariqi selalu kartu debit dan uang cash.

“Satu hari ini aku bayar dua kali lipat,” ucap Bariqi.

“Gak mau.”

“Tiga kali lipat.”

“Kurang,” jawab Elya memalingkan wajahnya.

“Empat kali lipat.”

“Lagi.”

“Lima kali lipat. Fiks, mau ikut apa enggak?” teriak Bariqi dengan kesal.

“Fine, aku mau ikut,” jawab Elya dengan senang. Elya memang plin-plan, tadi jual mahal tidak mau, tapi kalau sudah disogok pakai uang, gadis itu tidak bisa menolak.

“Transfer sekarang, nomor rekening tetap,” ujar Elya.

Bariqi mengambil hpnya dan mulai mengotak-atik benda pipih itu. Pria itu mengirim Elya uang lima ratus ribu. Kalau dengan Elya, Bariqi tidak bisa namanya menghemat. Pasti ada saja hal yang membuatnya mengeluarkan uang banyak. Bariqi memang masih single, tapi terkesan sudah menghidupi anak istri kalau bersama Elya. Kalau ada yang bilang Elya gadis murahan, fiks mereka salah besar, karena dengan Elya, uang Bariqi bisa ludes dalam hitungan menit. Kendati demikian, Baiqi tidak bisa hitung-hitungan dengan gadis itu.

“Nih sudah, aku transfer lima ratus ribu,” ujar Bariqi menunjukkan hpnya.

“Gitu dari tadi biar kita gak usah bertengkar,” kata Elya.

“Kamu yang mulai duluan. Tadi siapa yang bilang permintaan maaf gak bisa dengan materi, giliran dikasih uang baru mau,” cibir Bariqi.

“Itu beda. Kamu ngajak aku harus berani bayar mahal. Enak saja bawa anak gadis orang hanya dibeliin pop ice dua ribu lima ratus. Mau bawa anak orang harus modal,” oceh Elya.

Bariqi mendorong kepala Elya dengan pelan saking gemasnya dengan gadis itu. Kalau soal adu mulut, Elya memang tidak pernah mau mengalah.

“Cepat ganti baju sana. Aku numpang mandi,” kata Bariqi.

“Enak saja. Gak boleh mandi di kamar mandi cewek,” pekik Elya.

“Gak ada yang bisa larang aku mandi di kamar mandi kamu,” ujar Bariqi segera ngacir ke kamar mandi. Pria itu menutup pintu dan menguncinya sebelum Elya mencegahnya.

“Jangan pakai sabun dan shampoku,” teriak Elya dari luar kamar mandi.

“Wangi sabun kayak menyan saja pelit banget,” ketus Bariqi dari dalam sana.

“Iya tinggal kasih kembang buat cari pesugihan.”

“Kamu tumbalnya.”

“Kamu iblisnya.”

“Kamu raja setannya.”

“Dasar Bariqi sialan!”

Di dalam Bariqi memutar bola matanya jengah. Ia memilih diam daripada perdebatannya semakin panjang dengan Elya. Pria itu menarik sabun Elya dalam kemasan botol. Pria itu menghiraukan Elya yang melarangnya memakai sabun gadis itu. Toh Elya juga tidak tahu. Tubuh Bariqi sedikit sakit karena tidur di kursi, tapi setelah mandi terasa segar. Apalagi mengetahui Elya mau dia ajak pergi. Sebenarnya tidak sekali dua kali Bariqi mengajak Elya pergi. Di beberapa kesempatan pria itu mengajak Elya ke tempat karaoke, ke bar, ke tempat wisata dan lain-lain. Namun tidak sendiri, melainkan dengan teman kencan Bariqi dan Elya menjadi obat nyamuk.

Definisi buaya ulung adalah Bariqi, setiap tikungan ada ceweknya. Ibaratnya Bariqi itu kereta dan cewek-cewek itu stasiun. Namun dari banyaknya cewek Bariqi, satu pun tidak ada yang diseriusin. Semua sekadar main-main.

Setelah mandi, pria itu membelitkan handuk milik Elya ke pinggangnya. Pria itu segera keluar.

Elya yang baru selesai berganti baju memekik kaget tatkala melihat Bariqi yang datang hanya bertelanjang dada dan tubuh bagian bawahnya terbelit handuk.

“Heh, siapa yang mengijinkan kamu untuk memakai handukku?” jerit Elya dengan kencang. Gadis itu menjambak rambutnya saking emosinya dengan tingkah Bariqi.

“Pinjam sebentar. Nih kunci mobil, ambilkan celanaku di sana. Ada celana selutut warna hitam, ambilin!” titah Bariqi pada Elya.

“Enak saja, ambil sendiri!” titah Elya.

“Kamu gila ya? Masak aku keluar dengan handukan doang? Ini aset yang harus dijaga.”

“Kalau tahu begitu, kenapa tadi tidak ambil baju dulu baru mandi?”

“Cepat Elya, aku sudah membayarmu mahal.”

Elya menghentakkan kakinya, gadis itu menerima kunci mobil dan segera melenggang mengambilkan celana untuk Bariqi. Di sepanjang jalan menuju mobil Bariqi, semua sumpah serapah Elya layangkan pada pria itu. Kalau tidak menyusahkannya, namanya bukan Bariqi. Pertemuannya dengan Bariqi memang kesalahan besar. Dunia ini luas, banyak yang bisa Elya temui, tapi kenapa ia harus bertemu mahluk narsis sang playboy ulung.

Dulu awal bertemu dengan Bariqi, Elya pikir pria itu adalah goodboy. Karena perangai Bariqi yang pendiam, terkesan cool dan tidak mau disentuh orang meski itu laki-laki. Namun setelah menjadi asisten Bariqi, Elya baru sadar kalau laki-laki itu tidak sebaik yang terlihat. Bariqi adalah pemain wanita, sudah tidak terhitung berapa banyak wanita yang menjadi teman kencan Bariqi. Dari sekian banyak wanita, semuanya cantik dan anehnya mau juga sama Bariqi.

Elya membuka mobil Bariqi, ia menemukan celana pendek selutut berwarna hitam. Saat menariknya, sesuatu yang juga berwarna hitam langsung jatuh. Mata Elya membulat sempurna, gadis itu tampak menjilat bibirnya kecil tatkala tahu benda apa itu.

Elya mengambilnya dan membukanya lebar. “Tidak aku sangka sekarang aku mengambilkan kolor untuk musuhku sendiri,” ucap Elya menggelengkan kepalanya. Dengan usil Elya membaliknya dan melihat ukurannya. Mata Elya semakin membulat.

“Besar juga anaconda si chef itu,” batin Elya.

Tersadar dengan apa yang dia lakukan, Elya segera menggelengkan kepalanya dan berlari kencang menuju kamarnya. Gadis itu merutuki dirinya sendiri yang sudah mesum berpikir aneh-aneh.

Sedangkan Bariqi, pria itu mengobrak abrik lemari kecil milik Elya. Pria itu mencari kaos oversize yang bisa ia pakai. Bariqi yakin Elya punya, karena setiap kali berpakaian, Elya selalu memakai kaos atau kemeja oversize. Bariqi adalah definisi orang modus. Sebenarnya ia bisa pulang untuk mandi dan berganti pakaian, tapi tetap saja ia memilih memakai punya Elya. Bariqi menarik kaos yang masih terbungkus plastik rapi dengan motif separuh love berwarna putih, sama seperti yang dipakai Elya. Tanpa berpikir panjang, pria itu menariknya bertepatan dengan Elya yang datang membawa celana.

“Dasar gak tahu malu. Seorang pria bujang nyuruh anak gadis orang ambil kolor,” umpat Elya melempar celana tepat ke tubuh Bariqi.

“Elya, kamu punya pacar?” tanya Bariqi mengalihkan pembicaraan.

“Gak.”

“Terus ini apa maksudnya baju couple? Baju ini sama kayak baju yang kamu pakai.” Bariqi menunjukkan baju yang dia bawa.

“Jangan sentuh itu!” pekik Elya segera berlari menyambar kaosnya lagi. Namun Bariqi kembali menariknya.

“Ini yang kamu bilang gak pacaran? Terus apa maksudnya baju couple begini? Gaya pacaran yang kekanakan.”

“Itu aku belikan untuk adikku, jangan disentuh-sentuh,” ujar Elya.

Bariqi yang awalnya mulai marah kini bagai diterpa angin segar tatkala mendengar ucapan Elya. Bariqi segera membuka plastik dan memakai kaos tersebut.

“Heh kenapa dipakai, itu milik adikku,” pekik Elya ingin menarik kaosnya. Namun terlambat, kaos itu sudah melekat di tubuh Bariqi. Kini mereka bagai pasangan kekasih yang memakai baju sama.

“Sudah diam saja. Tunggu di luar, aku mau pakai celana,” ujar Bariqi.

“Ini kamarku, kenapa aku yang harus keluar?” tanya Elya dengan ngegas.

“Baik kalau kamu gak mau keluar,” jawab Bariqi mulai menarik handuknya, pria itu berjalan mendekati Elya dan merapatkan tubuhnya dengan gadis itu berniat menggoda. Bukan Elya kalau tidak menantang, gadis itu malah memelototkan matanya.

“Cepat buka kalau kamu berani,” ucap Elya menantang.

Bariqi yang semula ancang-ancang ingin menarik handuknya pun kini menghentikan gerakannya.

“Cepat buka, kalau kecil mau aku ketawain sampai seujung dunia tahu,” ujar Elya lagi.

Bariqi menciut, pria itu mendorong Elya dengan paksa hingga gadis itu keluar dari kamar. Bariqi akan gila bila ia membuka handuknya di depan seorang gadis. Bariqi benar-benar belum menemukan strategi yang tepat melawan Elya. Kalau dengan gadis lain ia bisa mendominasi, tapi tidak dengan Elya yang sering menantangnya.

Bab terkait

  • Chef Galak, (tapi) Kucinta   10. Perasaan yang Berbeda

    Setelah perdebatan panjang dan prahara rumah tangga, akhirnya Bariqi dan Elya duduk anteng dalam mobil. Elya masih menatap sinis ke arah Bariqi, pun dengan Bariqi yang tidak kalah sinis. Bariqi menatap Elya dari atas sampai bawah, teman-temannya selalu mengatakan kalau Elya adalah gadis polos, dan teman-temannya seolah menjadi garda terdepan dalam menjaga Elya. Namun mereka tidak tahu kalau aslinya Elya tidak sepolos yang mereka kira. Elya saja sering menonton drama Petir merah, jelas otak Elya tidak polos lagi. Juga Elya bisa menjaga dirinya sendiri lebih baik dari orang lain. Bariqi tampak menimang-nimang, pantas saja Elya jomblo akut, karena tingkah lakuknya saja lebih ganas daripada laki-laki. “Kenapa lihat-lihat? Naksir?” tanya Elya sewot. Bariqi menjitak kepala Elya dengan kencang membuat Elya balas memukul pundak Bariqi. Bariqi tidak diam saja, pria itu kembali memukul lengan Elya. Tentu saja Elya memukul dada Bariqi lebih kencang. Tak! Bugh!Jrot! Suara jitakan, pukulan

    Terakhir Diperbarui : 2022-10-26
  • Chef Galak, (tapi) Kucinta   11. Semak-semak

    Wajah Elya memanas mendapat ciuman dari Bariqi. Bukan memanas karena tersipu atau pun terbawa perasaan, melainkan memanas karena rasa marah. Bariqi tersenyum puas, pria itu menatap hpnya yang kini ada gambar dirinya tengah mencium Elya. “Bariqi!” desis Elya mengepalkan tangannya dengan kuat. Elya mengangkat tangannya dan meninju pipi Bariqi dengan kuat. Jrot! “Akhh!” Brukk!Tubuh Bariqi ambruk tepat di semak-semak yang ada di bawah tumbuhan apel. Tinjuan Elya sangat kuat membuat Bariqi tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. “Siapa yang mengijinkan kamu menciumku, hah?” teriak Elya menduduki perut Bariqi yang kini jatuh telentang. Elya meninju lagi pipi Bariqi, tidak hanya meninju, gadis itu juga mencekik Bariqi. Sebisa mungkin Bariqi menahan teriakannya. Di seberang sedang banyak orang dan ibu-ibu grub senam tengah bertamasya, kalau ia berteriak, sudah pasti dikira ia aneh-aneh dengan Elya. Apalagi kini mereka berada di semak-semak. “Elya, jangan begini. Kita selesaikan deng

    Terakhir Diperbarui : 2022-10-26
  • Chef Galak, (tapi) Kucinta   12. Prahara Rumah Tangga

    Saat ini Bariqi dan Elya tengah duduk di ruang tamu rumah Bariqi. Tadi saat Elya sudah masuk ke mobil Bariqi dan Bariqi tengah membayar apel, ibu Bariqi nyelonong masuk ke mobil Bariqi dan ingin ikut anaknya bersama seorang gadis bernama Elya. Mau tidak mau Bariqi pun membiarkan ibunya ikut ke mobilnya. Ibunya memaksanya pulang bersama Elya. Bariqi duduk diam, sedangkan Elya di sampingnya pun juga mengunci mulutnya rapat. Bu Putri pergi mengambil minyak telon untuk mengobati tubuh Bariqi dan Elya yang penuh gigitan semut juga terkena bulu ulat. Dalam hati Bariqi, pria itu terus mengomeli ibunya yang pakai acara bertamasya dengan grub senamnya di Wisata Petik Apel. Ibunya sungguh mengganggu acaranya dengan Elya. Tidak hanya ibunya yang mendapatkan rutukan Bariqi, melainkan ibu-ibu yang lain. Sudah tahu tim senam, tapi pakai acara petik apel. Sudah senam paling semangat, tapi saat pulang makan gorengan, beli punten, sompil, lontong dan lain-lain. Bagi Bariqi, orang paling tidak konsis

    Terakhir Diperbarui : 2022-10-26
  • Chef Galak, (tapi) Kucinta   13. Apa Mau Elya

    Elya masih terdampar di rumah Bariqi. Bahkan saat ini di depannya ada sepiring nasi lengkap dengan urap dan bandeng, makanan kesukaan Elya, tetapi ia tidak enak hati ketika akan memakannya. “Nak, dimakan. Ibu ke dalam dulu, nikmati makanannya,” ujar Putri setelah menyodorkan satu teko air pada Elya. Putri memilih pergi dari ruang tamu agar anak-anaknya tidak canggung. Elya menatap pintu penghubung ruang tamu yang sudah menelan punggung Bu Putri. Elya tidak habis pikir kenapa orang yang sangat kalem dan cantik seperti Bu Putri mempunyai anak seperti Bariqi. “Dimakan, Elya!” titah Bariqi. “Kamu anak hadiah beli pasta gigi ya?” tanya Elya pada Bariqi. Bariqi mengerutkan alisnya bingung. “Kalau tidak gitu, pasti kamu anak pungut. Bagaimana bisa Bu Putri yang lemah lembut punya anak seperti kamu?” tanya Elya lagi. Bariqi menampilkan raut kesalnya, pria itu menjitak kepala Elya dengan pelan. “Mau aku anak hadiah dari pasta gigi atau anak pungut juga bukan urusan kamu,” ketus Bariqi.

    Terakhir Diperbarui : 2022-10-26
  • Chef Galak, (tapi) Kucinta   14. Tidak Cemburu

    Meski sudah mendapat bentakan dari Bariqi, Elya tidak kunjung menurunkan kakinya dari paha Bariqi. Gadis itu juga tidak peduli kalau kakinya juga sudah dipukul dengan kencang. “Elya!” desis Bariqi menatap Elya tajam. Elya hanya menampilkan ekspresi sinisnya pada Bariqi. Ia sudah terbiasa mendapatkan tatapan tajam dari Bariqi, ia tidak takut lagi. “Dek, adek mau apa? Di depan ada penjual sempol, adek mau biar Mbak belikan,” ucap Cici pada Elya. Elya membulatkan matanya mendengar ucapan Cici, sedangkan Bariqi yang tadi menampilkan raut garangnya kini menahan tawanya yang akan meledak ketika mendengar ucapan Cici. Elya bukan gadis biasa yang mudah disuap dengan sempol, gadis itu sukanya hanya sama duit. Elya mengembungkan pipinya, gadis itu segera menurunkan kakinya dan beranjak berdiri. “Mau kemana?” tanya Bariqi. “Pulang,” jawab Elya. “Oh iya mau aku pesenin ojek online?” Tangan Elya terkepal dengan kuat, tadi ia pulang tidak boleh dan Bariqi juga bilang kalau tidak ada ojek. Nam

    Terakhir Diperbarui : 2022-10-26
  • Chef Galak, (tapi) Kucinta   15. Alasan Leher Merah

    “Elya, boleh aku tanya sesuatu sama kamu?” tanya Vino sedikit ragu. “Boleh,” jawab Elya. “Kamu ada hubungan apa sama Chef Bariqi?” “Babu dan atasannya,” jawab Elya dengan santai. “Maksudku bukan begitu. Em … seperti misalnya teman tapi mesra.” Brakk! “Demi langit bumi bersaksi, apa kamu gila, Vino?” teriak Elya dengan spontan memukul meja dengan kencang. Vino tersentak kaget karena ulah Elya, pria itu mengusap dadanya pelan. “Teman tapi mesra dari mananya? Setiap aku bertemu sama dia, sama saja aku bertemu dengan setan yang sangat ingin aku hindari. Mungkin saat dulu di dalam kandungan aku sangat nakal, suka gigit-gigit jantung ibuku dan main sepak bola dalam perut, makanya saat aku sudah gede, aku dipertemukan sama orang yang freak seperti Bariqi. Melihat tampangnya saja sudah membuatku ingin mencakarnya sampai habis. Lihat wajah sombongnya itu, apa kamu pikir aku mesra sama dia? Jadi temannya saja aku tidak sudi.” Elya mengoceh bertubi-tubi dengan nada yang sangat menggebu-ge

    Terakhir Diperbarui : 2022-10-26
  • Chef Galak, (tapi) Kucinta   16. Pertengkaran

    Sejak pagi aura dapur terasa sangat suram dan mencekam. Tidak ada yang salah dari para pekerja yang bekerja dengan giat, tetapi ada salah satu orang yang membuat suasana menjadi terasa mencekam, yaitu Bariqi. Sejak tadi pandangan Bariqi tidak lepas dari Vino, tatapannya sangat tajam menusuk pada pria berusia dua puluh dua tahunan itu. Vino salah tingkah seorang diri, ia merasa tidak membuat kesalahan, tetapi Bariqi terus menatapnya seolah mengibarkan bendera permusuhan.“Vino, kamu buat kesalahan apa?” tanya Chef Edo menyenggol lengan Vino. Chef Edo juga merasa tatapan Bariqi sangat tajam ke arah Vino. Vino menggelengkan kepalanya.“Aku tidak ngapa-ngapain, Chef,” jawab Vino.Edo mengangguk-anggukkan kepalanya, chef senior itu kembali pada pekerjaannya. Sesekali Edo akan melirik ke arah Bariqi. Wajah Bariqi menandakan amarah yang sangat dalam.Teng teng teng! Bariqi memukulkan spatula ke pan dengan kencang. Elya segera menghadap karena itu panggilan untuknya. “Siap chef, ada yang bis

    Terakhir Diperbarui : 2022-10-28
  • Chef Galak, (tapi) Kucinta   17. Rasa Lelah

    "Mbak, orang tadi temen mbak? Kenapa gak disuruh masuk?" tanya Rafa saat mereka sudah masuk ke kamar Elya."Rafa, jangan pedulikan dia. Kamu duduklah, mbak ambilkan minum," ucap Elya. Rafa melihat raut Elya yang tidak baik-baik saja, kakak perempuan satu-satunya itu seolah tengah menahan tangisnya. Ada jejak air mata di pipi kakaknya."Nanti Rafa ambil sendiri, kakak makan saja ini," ucap Rafa menarik kakanya dan mengajak sang kakak duduk di ranjang dan membuka bolu kukus yang kakaknya taruh di ranjang.Elya memalingkan wajahnya, gadis itu selalu berusaha menyembunyikan tangisannya dari sang adik. Namun Rafa memaksanya duduk untuk makan bolu kukus."Ini kan kesukaan Mbak. Kalau aku yang makan sendiri, nanti mbak ngamuk," ucap Rafa menyodorkan bolu kukus yang sudah ia buka."Kamu buat sendiri?" tanya Elya."Beli," jawab Rafa terkekeh."Eh biar aku suapi," ujar Rafa menarik kembali bolunya. Rafa mengambil pisau plastik yang ada di balik kardus dan memotong bolu itu. Rafa menyuapkan satu

    Terakhir Diperbarui : 2022-10-28

Bab terbaru

  • Chef Galak, (tapi) Kucinta   55. Ending

    Pernikahan bukanlah akhir dari sebuah kisah, melainkan awal untuk memulai kehidupan yang baru. Sudah terhitung satu minggu Elya dan Bariqi menikah. Elya tidak tinggal lagi di Tulungagung, melainkan gadis itu ikut suaminya ke Batu. Bariqi diberi satu rumah oleh ayahnya untuk dia tempati bersama Elya. Selama satu minggu itu belum terjadi sesuatu antara Elya dan Bariqi. Bariqi belum menyentuh Elya karena bocah itu yang merengek belum siap. Bariqi harus mengalah karena saat dia akan mendekati Elya, Elya malah menangis. Hari ini terakhir kali Bariqi cuti dari pekerjaannya dan besok dia harus bekerja lagi, begitu pun dengan Elya. Bariqi menatap Elya yang memasak di dapur, sedangkan dia duduk di samping kulkas sembari meminum air. Pandangan Bariqi tidak lepas dari punggung kecil Elya. “Aduh … dasar wajan kurangajar. Gak lihat apa kalau di sini ada tangan, malah nyentuh tanganku. Dipikir gak panas,” omel Elya saat tangannya terkena wajan panas. Bariqi hampir menyemburkan airnya saat mend

  • Chef Galak, (tapi) Kucinta   54. Pernikahan

    48.Niat hati Elya tidak ingin menikah muda. Masih banyak cita-cita yang ingin Elya gapai. Menjadi koki utama misalnya, karena selama ini Elya hanya menjadi asisten Bariqi. Karir Elya mulai naik lagi saat dia dipindah tempat menjadi seorang bartender. Namun, untuk sekarang karir Elya terpaksa harus dihentikan. Waktu berlalu begitu cepat. Elya yang semula tidak mendapatkan restu dari ibunya, kini restu sudah dia kantongi. Acara lamarannya dengan Bariqi berjalan lancar. Dengan sepenuh hati ayah dan ibu Elya menerima Bariqi untuk menjadi menantunya. Satu tahun setelah lamaran Elya, tepat di usia Elya yang ke dua puluh satu tahun, Elya dan Bariqi resmi menikah. Hari ini adalah hari spesial untuk Bariqi dan Elya setelah empat tahun pertemuan mereka. Bariqi baru saja mengucap ijab qobul di depan penghulu juga ayah Elya. Pernikahan sudah sah secara agama dan negara. Pernikahan yang dilakukan hanya pernikahan sederhana, ijab qobul dan resepsi pernikahan yang dihadari oleh teman-teman Elya.

  • Chef Galak, (tapi) Kucinta   53. Cinta yang Tulus

    Seorang Gadis tengah mengocok shaker koktail di depan para pelanggannya. Elya sudah menguasai teknik shak setelah beberapa lama berada di bar. Perempuan itu dalam sekejap menjadi perempuan idola. Bahkan ada pelanggan yang terang-terangan setiap hari datang dan mengatakan kagum dengan Elya. Kalau lagi gabut, Elya akan balik menggoda para pelanggannya. Tapi itu hanya manis di bibir, kalau perasaannya hanya untuk Bariqi. Kendati demikian, Bariqi tidak bisa jenak dan ingin Elya berada di dapur saja. Bagi Bariqi, di bar terlalu banyak buaya yang siap memangsa Elya. Namun, Bariqi tidak sadar kalau dirinya juga buaya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tetapi Elya masih belum selesai dengan pekerjaannya. Elya pulang jam delapan sesuai jam kerja yang baru. Saat asik atraksi di depan para tamu, seorang pria tampan mendatangi Elya. Pandangan Elya mengarah tepat ke Bariqi, kalau dilihat-lihat orang yang sudah melamarnya itu sangat tampan. “Elya, seorang gadis dua puluh tahun, yang cant

  • Chef Galak, (tapi) Kucinta   52. Fakta Mengejutkan

    Bariqi menggelengkan kepalanya, dia merasa bahwa dirinya sudah gila. Hanya gadis kecil yang bahkan dilihat sekilas biasa saja, tetapi Bariqi bisa jatuh cinta sedalam ini. “Kenapa tersenyum sendiri?” tanya Putri berdiri di depan pintu kamar anaknya. Bariqi terkesiap, pria itu langsung bangun dan menatap ibunya, “Ibu, kenapa ibu masuk nggak ketuk pintu? Kalau aku sedang ganti baju bagaimana?” tanya Bariqi bertubi-tubi. “Tapi kenyataannya kamu nggak sedang ganti baju, tapi kamu sedang senyum-senyum sendirian,” jawab Putri terkekeh. Bariqi malu bukan main, pria itu menarik selimut dan menyelimuti separuh tubuhnya. Putri melangkahkan kakinya mendekati Bariqi. Perempuan paruh baya itu duduk di ranjang anaknya. Tangan lembutnya mengelus puncak kepala Bariqi. Entah kenapa tiba-tiba Putri merasa sedih. Bukan maksud apa-apa, tetapi anaknya yang dulu kecil kini sudah menjadi pria dewasa. Putri selalu ingin anaknya menikah, tetapi saat tadi Bariqi pulang mengatakan sudah melamar Elya dan ing

  • Chef Galak, (tapi) Kucinta   51. Lamaran Romantis

    Elya menatap sinis ke arah Bariqi, saat ini Bariqi dan Elya tengah kencan di sebuah cafe yang ada di tengah kota. Cafe dengan penuh lampion yang sangat indah dan estetik untuk digunakan berfoto. Namun, Elya masih saja sinis perkara tadi saat Bariqi bersama Sera.“Situ boleh cemburu sama aku, tapi aku nggak boleh cemburu sama situ,” cibir Elya sambil mencebik-cebikan bibirnya.“Huh, dasar laki-laki semaunya sendiri. Kalau cemburu saja aku kayak mau dibanting di tempat, tapi aku sendiri yang cemburu malah gak boleh. Curang banget jadi cowok,” cibir Elya lagi.Sudah setengah jam mereka nongkrong di cafe, tetapi Elya tidak kunjung berhenti nyinyir. Kejadian tadi sore, tetapi masih diungkit sampai sekarang.“Rasanya mau ganti cowok saja. Cowok yang lebih … hmppp-”Ucapan Elya terhenti saat Bariqi menjejalkan kentang ke bibir Elya. Mata Elya melotot, perempuan itu menggebrak meja dengan kencang.“Hishh … apa-apaan kamu ini!” pekik Elya setelah menelan kentangnya.“Dari pada kamu terus ribut

  • Chef Galak, (tapi) Kucinta   50. Mode Cemburu

    Sudah satu minggu Elya kembali ke tempat kerja yang semula. Namun, Elya tidak berada di bagian dapur lagi. Melainkan di bagian bar. Elya meracik minuman alkohol di bar mewah yang ada di hotel. Tugas Elya dipindah ke sana bersama Vino. Awalnya Bariqi sangat tidak setuju Elya dipindah ke sana, tetapi itu keputusan papanya yang tidak bisa diganggu gugat. Umumnya, Bar dibuka saat malam hari. Namun, berbeda kalau di hotel Sunflowers di mana Bar buka dua puluh empat jam. Siang hari juga sangat ramai pengunjung. Elya sudah mulai terbiasa dengan pekerjaan barunya. Namun, berada di bar membuat Bariqi sering ngambek. Pasalnya banyak cowok di sana yang membuat Bariqi cemburu. Apalagi teman kerja Elya adalah Vino. Di dapur, Bariqi tampak bekerja dengan semangat meski pikirannya terkadang fokus pada Elya. “Sera, semua bahan yang dibutuhkan sudah siap?” tanya Bariqi kepada Sera. “Sudah, Chef,” jawab perempuan itu dengan cekatan mendekatkan bahan-bahan makanan yang diperlukan. Bariqi langsung

  • Chef Galak, (tapi) Kucinta   49. Kembali Bekerja

    Bariqi mengetuk-ketuk ujung jari di pahanya. Suasana sangat canggung saat antara dirinya dan Elya tidak ada yang membuka suara. Bagaimana mau membuka suara, sejak tadi mood Elya tidak baik. Setelah menyiram kopi di wajah adiknya, ibu Elya mengusir Elya untuk pergi. Bahkan semua baju Elya juga dikeluarkan oleh ibunya.Ayah Elya mencegah Elya pergi, tetapi Elya pun kukuh pergi. Elya bilang akan kembali bekerja di tempat semula. Bariqi senang Elya akan berada di dekatnya lagi, tetapi di sisi lain, Bariqi sangat iba Elya harus mendapatkan perlakuan tidak baik dari ibunya.Meski Bariqi tidak merasakannya secara langsung, tetapi Bariqi tahu betul betapa sakit hatinya Elya saat diusir oleh ibunya sendiri. Kalau bisa, Bariqi menghajar ibu dan adik Elya, tetapi dia tidak bisa melakukannya karena bagaimana pun ibu Elya tetaplah orang tua.“Maafkan aku,” cicit Elya setelah lama diam.Saat ini Elya dan Bariqi tengah berada di kereta api untuk perjalanan ke Kota Batu. Sebentar lagi sampai di stasi

  • Chef Galak, (tapi) Kucinta   48. Tamu Menyebalkan

    Saat di kandangnya sendiri, Bariqi bagai singa yang siap mengaung kapan saja. Di dapur tempatnya bekerja, siapapun yang salah, tidak akan luput dari amukan Bariqi. Namun, saat ini Bariqi harus menciut di hadapan ibu Elya. Sejak kedatangannya, ibu Elya menatap Bariqi dengan tajam.Bariqi menjadi serba salah di sini, tetapi dia bukanlah pria cupu yang mundur begitu saja. Ibu Elya menatapnya dalam diam, membuat Bariqi menerka-nerka apa yang sebenarnya dipikirkan perempuan yang terlihat masih muda itu.Bariqi membuka bibirnya ingin berbicara, tetapi terhenti saat seorang pria paruh baya memasuki rumah.“Loh ada tamu. Teman kamu, Raf?” tanya Rahman menatap Bariqi sembari mengusung senyum.Bariqi langsung berdiri, pria itu mengulurkan tangannya pada Rahman yang langsung disambut baik oleh pria itu.“Aku pacare Elya, Pak,” ujar Bariqi memperkenalkan diri.Bariqi yakin kalau pria itu adalah ayahnya Elya. Saat bersama ayah Elya, Bariqi akan lebih sat-set, tidak peduli bila nanti Elya marah.“P

  • Chef Galak, (tapi) Kucinta   47. Tamu Dari Jauh

    ”Gak usah mampir ke rumahku. Lebih baik kamu langsung pulang!” pinta Elya merengek.“Ya, ya! Mas, jangan ke rumahku!” pinta Elya lagi. Elya memegang tangan Bariqi dengan erat. Saat ini mereka sedang menaiki bus perjalanan ke Tulungagung.Saat menaiki bus, Bariqi harus menggendong tubuh Elya karena enggak mau naik. Elya terus merengek lebih baik langsung ke Batu saja dari pada ke Tulungagung. Namun, Bariqi tetap kukuh ingin ke Tungagung. Bariqi tidak mau membuang-buang waktunya untuk berpacaran dengan Elya, Bariqi ingin cepat menikahi gadis itu. Meski Elya masih berusia dua puluh tahun. Toh mereka sama-sama tinggal di desa, sudah wajar kalau gadis seusia Elya menikah.“Mas!” rengek Elya menduselkan kepala ke dada Bariqi.Bariqi mendorong pelan kepala Elya, “Kamu kenapa sih kayak gini? Kamu gak sayang sama aku sampai aku gak boleh ke rumah kamu?” tanya Bariqi.“Bukan maksud begitu, Mas. Tapi … ah pokoknya sulit dijelaskan,” kata Elya.“Kalau sulit dijelaskan, ya gak usah dijelaskan. Bia

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status