Share

Bab 13

Penulis: Lin shi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-23 14:20:12

"Bunda," ucapnya sambil terdengar sedikit gemetar. "Kenapa bunda meneleponku malam begini?" Kata Dina dalam hati, Dina kemudian mengusap air matanya dan mengangkat teleponnya. "Assalamualaikum, Bunda. Apa kabar, Bunda?" kata Dina dengan suara yang pura-pura ceria.

"Din, Bunda ingin memberitahukan, Ayah sakit," ujar Bunda dengan nada cemas.

"Ayah sakit? Kenapa, Bun? Ayah sakit apa, Bun?" kata Dina yang tidak bisa mengontrol apa yang ingin dikatakannya, karena panik mendengar ayahnya sakit.

"Tiba-tiba Ayah pingsan di kamar mandi tadi," kata Bundanya dengan suara yang khawatir. "Ayah berada di rumah sakit sekarang, belum sadarkan diri," lanjutnya.

Dina terkejut dan terpaku sejenak, lalu dengan cepat berkata, "Dina akan pulang, Dina akan pulang sekarang, Bun." Tidak lama setelah itu, Dina memutuskan sambungan telepon dan bergegas untuk mempersiapkan apa yang akan dibawanya untuk pulang. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung menyambar tasnya dan memasukkan pakaiannya dengan serampangan d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 14

    Dina yang masih dalam perjalanan bus, masih memikirkan mimpinya yang membuatnya ingin cepat sampai di tempat tujuannya, yaitu rumah sakit tempat Ayahnya berada. Matanya Dina melihat keluar jendela dengan tatapan mata hampa.Sementara bus melaju memecah kegelapan malam, Dina terus memikirkan mimpi yang berkaitan dengan Ayahnya. Suaranya terdengar halus di antara penumpang yang lain, "Ayah..." gumamnya dengan hati yang penuh kerinduan.Sedangkan Danang dan teman-temannya, setelah keluar dari dalam bioskop, bingung tujuan mereka setelah menonton film."Kemana kita?" tanya Yoga, mencoba mencari arah yang ingin mereka tuju."Dan?" Yoga menoleh ke arah Danang, menanyakan pendapatnya."Kemana?" Danang juga merasa bingung dengan tujuan setelah menonton."Mau ke mana, Yul?" Yoga bertanya pada kekasihnya, Yuli."Ke mana? Makan?" Yuli berusaha memberikan saran."Boleh," ucap Shinta, setuju dengan ide untuk makan."Makan di mana ya?" tanya Danang, ingin memastikan tempat yang akan mereka kunjun

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 15

    Dina bergegas melangkah, melewati segerombolan preman tersebut. Para pria tersebut makin gencar menggoda dan ada yang mengikuti Dina.Tiba-tiba "Apa yang kalian lakukan !!" Suara laki-laki menegur pria yang mengikuti Dina."Maaf, pak. Hanya iseng," ujar pria tersebut dan kemudian berbalik badan dengan terhuyung-huyung, karena efek minuman keras."Terimakasih, pak," kata Dina."Mbak mau kemana?" "Mau ke rumah sakit, pak. Apa ada ojek motor pak ?" tanya Dina."Saya tukang ojek mbak.""Bisa antar saya ke rumah sakit." Dina menyebut rumah sakit tempat ayahnya di rawat."Bisa Mbak, tidak jauh dari sini. Ayo mbak."Lalu Dina mengikuti bapak tukang ojek, motor kemudian berjalan perlahan-lahan, setelah Dina duduk di atas boncengan."Mbak dari mana?" tanya pengojek yang menjadi pengemudi ojek yang ditumpanginya, dengan rasa ingin tahu.Dina kemudian menyebutkan asal kotanya dan mengatakan bahwa tujuannya adalah ke rumah sakit, untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit."Begitulah, Mbak. Jika

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-25
  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 16

    Dina menatap Deni, merasa sedikit penasaran. "Ada apa, Den? Apa ini menyangkut perihal Ayah?" tanya Dina.Deni menggelengkan kepalanya. "Tidak, Kak. Ini mengenai lain, ini mengenai Kak Dina," kata Deni dengan serius."Mengenai Kakak? Ada apa dengan Kakak? Apa sakit ayah, karena kakak ?" tanya Dina, mulai merasa khawatir."Ayo kita duduk di situ, kak." Deni dan Dina melangkah menuju tempat duduk yang berada dekat toilet.Lalu, Deni segera membuka suaranya dengan bertanya pada kakaknya, "Kakak ada masalah dengan Mas Danang," tanya Deni dengan lugas, membuat keterkejutan pada Dina.Dina terkejut mendengar pernyataan Deni tentang adanya masalah antara dirinya dan Mas Danang. Hatinya berdebar cepat, mencoba untuk menenangkan diri sebelum menghadapi percakapan yang mungkin sulit ini."Masalah ? Kakak tidak ada masalah, Den ," kata Dina dengan suara yang mencoba tetap tenang meskipun rasa cemasnya mulai merayap. Dia takut adiknya tersebut tahu dan akan menjadi beban pikiran adiknya tersebut

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-26
  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 17

    Dina kemudian meminta penjelasan dari suster yang tengah berada di ruangan itu, "Ada apa, suster? Apa yang sudah suster katakan pada bunda saya?" Tanya Dina dengan suara yang sedikit keras."Saya hanya mengatakan..." sang suster belum sempat menyelesaikan ucapannya, Aini memotong, "A-ayah... ayah..." kata Aini dengan suara yang terbata-bata, dan ia tidak sanggup untuk berkata apa-apa."Ada apa dengan ayah, Bun? Suster, katakan !" Dina menatap wajah sang suster dengan tatapan khawatir, menunggu jawaban dari pertanyaannya."Kondisi Pak Abdi menurun," kata suster dengan hati-hati.Kedua saudara itu merasa terkejut dan khawatir mendengar kabar tentang kondisi ayah mereka yang memburuk. Mereka saling bertatapan, merasa tegang dan cemas atas apa yang akan terjadi selanjutnya."Ayah !! Mas Abdi !" Aini menangis histeris mendengar apa yang dikatakan oleh suster itu.Deni langsung memeluk bunda mereka yang menangis, turut merasakan kepedihan yang sama. Sementara itu, Dina terpaku, terdiam dal

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-28
  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 18

    Di klub malam Danang melupakan segalanya, suasana semakin ramai ketika Sinta menarik tangan Danang untuk ikut menari bersamanya, dan Yuli juga mengajak Yoga untuk ikut berdansa."Ayo kita dansa, Mas," ucap Sinta dengan antusias."Berdansa?" Danang terkejut mendapat ajakan berdansa dari Sinta. Dia mendengar kata dansa adalah hal yang benar-benar tidak tepat untuk dirinya."Iya, mas, dansa," kata Sinta."Aku tidak bisa dansa," tolak Danang dengan sopan, menolak keinginan Sinta untuk menari."Tidak sulit, Mas!" kata Sinta, mencoba meyakinkan Danang untuk bergabung."Mas, yuk dansa," ajak Yuli Yoga untuk ikut berdansa."Apa? Aku? Oh... tidak! Aku tidak bisa dansa!" tolak Yoga dengan tegas."Ihh... Mas Yoga nggak asik!" gerutu Yuli, menatap Yoga dengan ekspresi kecewa."Ini bukan musik untuk berdansa," ucap Danang, mencoba menjelaskan ketidaknyamanannya."Musik apa saja bisa dipakai untuk berdansa, Mas. Ayolah! Lihat, mereka berdansa," kata Sinta, menunjuk ke arah sepasang muda-mudi yang t

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-29
  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 19

    Dokter yang memeriksa kondisi ayahnya, mengatakan bahwa kondisi Abdi belum stabil. Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh dokter, Dina berusaha untuk menahan air matanya untuk turun, dia berdiri di samping ayahnya yang terbaring lemah di rumah sakit. Tangisannya hanya ada dalam hatinya saja, untuk mengeluarkannya, ia tidak bisa, karena tidak ingin membuat Ayahnya bersedih. Ayahnya, Abdi, melihat putrinya dengan tatapan lembut meskipun dirinya tengah berjuang dengan kondisi kesehatannya yang menurun.Abdi mengarahkan pandangan mata pada sang istri, "Buka," ucap Abdi pada sang istri, Aini."Buka apa mas?" tanya Aini.Abdi menunjuk alat bantu napas yang menempel di mulutnya."Jangan, Mas," sahut Aini dengan suara gemetar, mencoba melindungi suaminya dari kemungkinan yang lebih buruk."Ayah mau apa, minta buka itu?" tanya Deni, adik Dina, yang berdiri di samping mereka dengan raut wajah penuh kekhawatiran."Bicara," ucap sang ayah dengan lirih, menunjukkan keinginannya untuk berkomunik

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-30
  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 20

    Lima belas menit menunggu dalam dalam ketidakpastian , ketiganya terus melantunkan doa-doa keselamatan untuk sang ayah. Saat suster memanggil mereka untuk masuk kembali, Dina, Aini, dan Deni dengan wajah penuh ketegangan memasuki ruangan yang kini terasa begitu hening. Mereka melihat dokter dan suster dengan tatapan tegang, menunggu apa yang akan disampaikan oleh keduanya.Dengan suara lembut dan hati-hati, dokter menyampaikan berita yang mengguncang hati mereka, "Maafkan saya, pasien telah pergi untuk selamanya. Semoga dia tenang di sisi-Nya."Aini, Dina dan Deni terdiam, tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Lalu, Tangis histeris pecah dari bibir mereka, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan. Lalu suster menyibak kain putih dan terlihat sang kepala keluarga sudah terbujur ditutupi oleh kain putih."Ayah !!" Dina lari dengan berteriak histeris memanggil 'Ayah '.Sedangkan sang istri, Aini yang tidak kuat melihat sang suami sudah pergi untuk selamanya, luruh jatuh ke lantai

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-31
  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 21

    “Kak, kita tidak punya ayah lagi,” ucap Deni dengan suara penuh kepedihan.Dina melihat adiknya yang duduk dengan kepala tertunduk, lalu berkata, “Jangan tunjukkan kesedihan kita di depan Bunda, Deni. Kita harus kuat bersama.”Deni melirik ke arah Bunda yang duduk bersama dengan adik kandung Ayahnya, yang datang setelah mendengar kabar tentang kepulangan Ayah.“Bunda berusaha menutupi kesedihannya, kak,” kata Deni dengan pengertian yang dalam terhadap perasaan Bunda yang berusaha keras untuk memberikan kekuatan pada anak-anaknya dalam menghadapi cobaan yang menimpa keluarga mereka."Kita harus menghibur Bunda, karena Bunda yang paling kehilangan. Kita juga begitu kehilangan, tapi hubungan Bunda dengan Ayah sebagai suami istri sudah pasti lebih mendalam," ucap Dina dengan suara penuh kebijaksanaan dan pengertian.Deni mengangguk setuju, memahami betapa beratnya kehilangan bagi Bunda yang telah kehilangan pasangan hidupnya. Mereka berdua merasa tanggung jawab untuk memberikan dukungan d

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-01

Bab terbaru

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 77

    Danang terbangun dengan terkejut saat sinar mentari yang terang langsung menerpa wajahnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan pandangan yang masih buram. Pandangannya segera tertuju ke jam dinding, dan matanya melebar saat melihat angkanya."Sudah siang!" serunya dengan nada panik, hampir melompat dari tempat tidur. "Jam setengah delapan!"Ia bangkit dengan tergesa-gesa, satu tangannya menyisir rambut yang acak-acakan, dan wajahnya terlihat tegang. Sambil menghela napas frustrasi, ia berseru dengan nada sedikit meninggi, "Dina! Kenapa aku tidak dibangunkan?"Di dapur, Dina mendengar suara teriakan Danang. Ia menghentikan sejenak gerakannya yang sedang mengaduk secangkir kopi. Dengan ekspresi datar, ia mengedikkan bahunya santai, seolah tak peduli. "Emang aku pengasuh," gumamnya pelan, bibirnya menyunggingkan senyum kecil yang tampak sinis. Tanpa mengubah langkahnya, ia kembali melanjutkan kegi

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 76

    Dina tidak bisa menerima apa yang dilakukan oleh Danang. Tubuh dan pikirannya menolak sentuhan Danang. Pikirannya menyuruh Dina untuk mendorong tubuh Danang menjauhinya. Pelukan dan ciumannya, yang biasanya menjadi sumber ketenangan, sekarang terasa seperti sangkar, menjebaknya dalam labirin perasaan yang tak terucapkan.Kehadiran Danang, yang dulunya menjadi sumber kenyamanan, sekarang terasa seperti pengingat konstan tentang kebencian yang tak terucapkan. Dia adalah teka-teki yang tidak bisa dia pecahkan, melodi yang tidak bisa dia uraikan. Dan seiring berjalannya malam, Dina tahu bahwa satu-satunya cara untuk melarikan diri dari siksaan ini adalah dengan menghadapi kebenaran, menghadapi emosi yang menawannya, dan menemukan keberanian untuk mengucapkan kata-kata yang terjebak di hatinya. Tapi, Dina tidak ingin melakukannya, di saat dia begitu letih dengan apa yang dialaminya hari ini.Tubuh Dina tiba-tiba meronta, "Lepas!!" serunya dengan

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 75

    Dina masuk ke dalam kamar dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam."Belum pulang juga," gumamnya. Dina kemudian merebahkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya. Matanya terpejam, tubuhnya lelah, dan pikirannya kosong. Ia tertidur tanpa menunggu kepulangan Danang, sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Sekarang, ia tidak ingin melakukan itu lagi. Hatinya sudah penuh terisi dengan kekecewaan, tidak ada lagi nama sang suami di dalam pikirannya.Sejak pagi, Dina disibukkan dengan berbagai aktivitas. Ia berlari dari satu tempat ke tempat lain, berusaha menyelesaikan semua apa yang menjadi target masa depannya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk masa depannya. Dia ingin meraih kesuksesan setelah perpisahannya dengan Danang terjadi. Namun, di balik semua itu, ada rasa lelah yang tak tertahankan.Suara orang membuka pintu pagar. Dan suara motor juga tidak berhasi

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 74

    Deni sedang asyik belajar dalam kamarnya. Buku-buku terbuka di mejanya, pena bergerak cepat menorehkan huruf di atas kertas. Cahaya lampu meja menyinari wajahnya yang kusut karena lelah."Den, jangan tidur terlalu larut, ya," ujar bundanya dengan suara lembut, penuh perhatian. Ia masuk ke kamar Deni dengan langkah tenang, membawa segelas susu hangat di tangannya. Ia meletakkan susu itu dengan hati-hati di atas meja belajar Deni."Minumlah, selagi hangat," lanjut bundanya, senyum hangat menghiasi wajahnya."Terima kasih, Bun," sahut Deni dengan senyum lebar. Ia mengambil gelas itu, meneguk susu hangat tersebut dengan lahap. Rasanya begitu nikmat, menghangatkan tubuhnya dan membuat perutnya terasa nyaman."Sudah malam, Den. Istirahatlah sebentar," kata bundanya sambil mengusap rambut Deni dengan lembut, penuh kasih sayang. "Besok kamu harus bangun pagi untuk sekolah.""Iya, Bun," j

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 73

    "Sudah lama menunggu, Mas? Maaf ya, tadi boss masih sibuk kerja, jadi aku nggak bisa pulang lebih cepat," kata Sinta, suaranya lembut, penuh rasa penyesalan. Nada bicaranya yang tenang membuat hati Danang sedikit terasa nyaman.Danang tidak langsung menanggapi ucapan Sinta. Matanya tertuju pada rambut Sinta yang terlihat sedikit basah, menarik perhatiannya. Ia mengerutkan dahi, seolah mencoba mencari alasan di baliknya.Sinta menyadari tatapan Danang yang begitu lekat mengamatinya. "Ada apa, Mas?" tanyanya, penasaran dengan sorot mata Danang."Rambutmu basah? Kenapa?" tanya Danang akhirnya dengan nada ingin tahu, matanya tertuju pada rambut Sinta yang tampak lembap, sementara alisnya sedikit berkerut."Ah, tadi kehujanan sedikit pas keluar kantor. Ada urusan mendadak, dan aku lupa bawa payung," jawab Sinta sambil tersenyum tipis. Tangannya bergerak mengipas-ngipaskan rambutnya, mencoba

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 72

    Begitu Dina tiba di rumah, Dina langsung membersihkan tubuhnya. Dina berdiri depan cermin dan menatap pantulan tubuhnya dalam cermin, "Pegal sekali," kata Dina sambil memijat pinggangnya yang terasa pegal. Lalu dia kemudian melihat ke arah jam dinding. "Sudah jam 5 sore, aku belum masak. Ahh... untuk apa masak, masak juga tidak ada yang makan," kata Dina."Beli makanan siap saja. Untuk apa capek-capek masak, tidak ada yang makan. Mulai hari ini, jangan pikirkan orang lain. Aku harus memikirkan diri sendiri. Untuk apa memikirkan orang, jika kita tidak dihargai."Lalu Dina mengambil ponselnya dan mencari makanan yang ingin dipesannya. Setelah mendapatkan apa yang ingin dimakannya untuk makan malam, Dina memesan dan kemudian meletakkan ponselnya.Tiba-tiba, Dina terpikir untuk mulai mengumpulkan syarat-syarat untuk mengajukan perceraian. "Aku harus mengumpulkan berkas-berkas untuk mengajukan perceraian. Aku harus mencari buku nikah, sebelum Mas Danang pulang."Dina kemudian melangkah men

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 71

    Dina sibuk merencanakan masa depan setelah perpisahan dengan Danang terjadi, sementara di sisi lain, Danang tenggelam dalam pikirannya yang dipenuhi kegelisahan akibat permintaan cerai dari Dina. Ia terus mencari cara agar bisa membujuk Dina untuk membatalkan niatnya berpisah."Dina harus segera hamil secepatnya," gumam Danang dengan wajah penuh tekad, sambil melamun di ruang kerjanya, memutar otak untuk mencari solusi.Bagaimana bisa hamil, belakangan ini dia tidak mau aku sentuh. Hemmm... Apa aku beri dia obat, agar mau ku sentuh." Danang tersenyum memikirkan idenya yang cemerlang menurutnya."Tok tok " bunyi pintu ruang kerja Danang diketuk, diikuti dengan suara pintu yang terbuka perlahan sebelum Danang sempat memberikan izin. Danang mendongak dari meja kerjanya dengan wajah sedikit terganggu."Dan, sudah daftar untuk ikut family gathering?" tanya Yoga sambil melangkah

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 70

    "Bagaimana kalau kita kembali untuk nego harga sewa?" kata Alma."Ya, baiklah. Aku mau coba nego lagi," kata Dina. Ia berharap bisa mendapatkan harga sewa yang lebih rendah."Kita coba aja, Din," kata Alma. "Yang penting kita berusaha dan tidak menyerah."Keduanya kemudian kembali ke toko milik Bu Linda. Dina mencoba mengumpulkan semua keberaniannya untuk bernegosiasi dengan Bu Linda.Tiba di ruko, Bu Linda masih berada di rukonya tersebut dan tersenyum ramah melihat kedatangan Alma dan Dina."Permisi, Bu," kata Dina. "Kami ingin menanyakan tentang harga sewa toko lagi. Apakah bisa dikurangi?""Ya, Bu. Kami mencoba menghitung biaya yang dibutuhkan. Dan ternyata harga sewanya sedikit tinggi untuk kami. Apakah bisa dikurangi sedikit?" tanya Dina."Hmm, kalau ambil setahun bisa saya berikan diskon 10%. Tapi kalau hanya sebulan, maaf ya, saya

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 69

    Jika tidak mendapatkan kebahagiaan dalam hal-hal besar, temukanlah kebahagiaan dalam hal-hal kecil. Kebahagiaan tidak selalu bersumber dari pencapaian besar, tetapi juga dari apresiasi terhadap apa yang kita miliki. Nikmati keindahan sederhana, seperti senyum seorang anak, secangkir kopi hangat di pagi hari, atau cahaya matahari yang menyinari wajah. Kebahagiaan sejati terletak dalam rasa syukur dan penghargaan terhadap momen-momen kecil yang kita alami setiap hari.~~**~~"Eh, Bu Linda, berapa sih harga sewanya?" tanya Alma. Suaranya menunjukkan keingintahuan yang mendalam."Harga sewanya 5 juta per bulan," jawab Bu Linda. Suaranya menunjukkan kepercayaan diri, menawarkan harga sewa yang terjangkau."Wah, cukup mahal juga ya," kata Dina dalam hati. Raut wajahnya menunjukkan keprihatinan, mencoba mempertimbangkan harga sewa yang ditawarkan."Bisa di tawar. Kalau ambil pertahun bi

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status