"Saya tau Pak Ryu bakalan bilang gitu," Rara mendengus, ia sudah duduk di kursi penumpang mobil Ryu. Mereka dalam kembali ke arah pabrik, pulang ke rumah dinas Rara.
"Lhoh? Saya salah? Kan emang kamu berharga, bisa keteteran kerjaan kantor saya kalau kamu nggak ada. Siapa yang bakalan ngatur jadwal dan lain-lain," bahas Ryu tak ingin Rara tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya. Jemarinya sibuk mengutak-atik music player di dashboard, sarana lari dari cecaran pertanyaan Rara. "Nikah itu bukan perkara gampang, mana bisa saya tinggal serumah sama buta hejo yang hobi tantrum? Serius 24 jam penuh saya nggak bisa lepas dari Pak Ryu?" gumam Rara kelepasan. "Buta hejo tantrum? Kamu kayaknya lagi mabuk perjalanan ya Azura?" Spontan, Rara menutup mulutnya, ia nyengir kuda ke arah Ryu yang menatapnya sedingin salju di kutub utara. Buru-buru Rara melempar pandangannya dari Ryu, kikuk. Ryu"Rame-rame apaan itu?" tunjuk Ryu di blok perumahan dinas sebelah, tak jauh dari blok Rara. "Mungkin orang kumpul-kumpul, Pak," jawab Rara menduga. "Ada Mas Jaka," gumam Ryu, otomatis melangkah mendekat ke arah tunjukannya, sedikit buru-buru. "Iya, tumben rame banget gitu," ujar Rara bermonolog, ikut mengekor Ryu mendekat. "Ada apaan Mas?" tegur Ryu hingga banyak orang yang tengah berkumpul, menoleh. "Pak GM!" sambut Pak Hengky, sang chief security aktif di estate Sungai Merah tempat Rara tinggal. "Ada maling, Bapak," lapornya. "Maling?" desis Ryu kaget. "Ketangkep?" tanyanya. "Enggak Pak, kabur masuk ke kebun sawit. Susah kami ngejarnya soalnya cuma pake kancut, apalagi masuk ke kebun, sama kayak nyari jarum di j
Akhirnya, bukannya pulang dan beristirahat, Ryu justru bertahan di rumah Rara sampai tengah malam. Suasana di luar masih ramai karena adanya pencurian tadi, banyak orang-orang estate yang berjaga malam, melakukan ronda. Sementara Ryu sudah menghabiskan setidaknya 6 batang rokoknya ditemani kopi buatan Rara. Minuman yang sempat Ryu tolak sebelumnya itu akhirnya ia terima untuk menghilangkan kecanggungan. "Saya sebenernya mikir keras, Pak. Gimana kita bakalan nikah kalau Pak Ryu sendiri nggak punya perasaan terhadap saya," lirih Rara buka suara, membahas hal serius di antara hal receh yang dikatakannya pada sang GM. "Pak Ryu segalak dan seketus itu sama saya selama ini, saya takut kena KDRT," ungkapnya konyol. Mulut Ryu spontan melongo, ia berkedip-kedip syok. Pikiran Rara memang tidak bisa ditebak, lebih misterius ketimbang pikiran laki-laki. "Gimana, gimana? KDRT?" gumam Ryu melotot. "Kekerasan Dalam Rumah Tangga, gitu?" ulangnya tampak syok. "Maksud saya, ehm, iya gimana ya P
Rara tidak mengejar Ryu, ia memilih duduk diam di kursinya, merenungkan kalimat-kalimat yang Ryu lontarkan barusan. Seakan mereka sudah sangat dekat dulu, tapi Rara sama sekali tidak memiliki memori tentang itu. Apa yang sudah Rara lewatkan dan tak ia sadari? Bukankah mereka saling mengenal hanya sejak Ryu resmi ditunjuk Rain untuk menggantikan posisi sebagai GM di kebun? Lantas kenangan apa yang sempat Rara lupakan hingga Ryu memintanya untuk mencari kepingan masa lalu yang tak ingin diingatnya? "Azura, saya pamit pulang," suara Ryu menyadarkan Rara dari lamunan. "Ah, iya Pak. Saking fokusnya saya melamun sampe lupa Pak Ryu di depan dari tadi," kata Rara seketika bangkit dari kursi. "Pintu jangan lupa dikunci," pesan Ryu perhatian. "Awas besok telat!" ancamnya kemudian berbalik melangkah ke pintu depan. "Kalau saya telat ya Bapak yang tanggung jawab. Pak Ryu di rumah saya sa
"Saya nggak mau kamu diremehin, nanti ganggu kinerja kamu," jawab Ryu. "Saya pulang dulu," pamitnya lagi. Rara tak menanggapi, ia iringi langkah Ryu hingga ke pintu depan. Suasana halte bus di dekat koperasi masih ramai oleh bapak-bapak yang berjaga, takut ada maling lagi. Sementara Jaka tampak sudah duduk manis di kursi kemudi mobil Ryu, rupanya Ryu meminta Jaka untuk mengantar pulang. "Kamu hati-hati, jangan lupa cek lagi pintu dan jendela sebelum tidur," pesan Ryu masih menyempatkan diri untuk berbalik ke arah Rara. Tatapannya pada Rara terlihat seperti tak tega untuk pulang meninggalkannya. "Iya Pak," jawab Rara mengangguk. "Kenapa Pak? Ada yang ketinggalan?" tanyanya seolah tahu sorot teduh mata Ryu yang tidak seperti biasanya. "Aman kan ya Mas, ini?" bukannya menjawab Rara, Ryu justru menoleh Jaka. "InsyaAllah aman Pak. Banyak yang begadang untuk berjaga j
-Sekolah Menengah Pertama Swasta Harapan Kita, Yayasan Agrorei Palm Oil Company, Central Kaimantan-12 tahun silam ...- "Cemberut gitu anak Mama," gumam Mika yang sudah siap turun dari mobil tapi Ryu, anak tampannya yang kini beranjak dewasa masih saja menekuk wajah. "Kalau ini bukan Mama yang minta, aku ogah ke sini ya Ma," kata Ryu mendengus lemah. "Kenapa sih? Cuma 5 hari doang lho Bang, nanti abis dari sini, boleh liburan ke Jerman nyusul Raya," bujuk Mika, menyebut anak keduanya sambil tersenyum sangat cantik. Awet menjadi Ketua Yayasan, Mika setidaknya aktif mengurus sekolah dan membantu memfasilitasi semua kebutuhan siswa di perkebunan bersama Rain. Perusahaan di Jakarta sana diurus dengan baik oleh Dila-kakak perempuan Rain, sementara Rain memimpin perusahaan sawit di kebun. Jadi, sebelum Mika siap mendampingi Rain hidup di Sampit tanpa harus bolak-ba
"Mas Ryu tunggu di sini dulu ya, temen-temen kelas 9 lagi dikumpulin di aula depan," kata Azura tetap menyungging senyum manis, menggoda Ryu untuk tak berpaling dari paras ayunya nan apa adanya. Memperkenalkan Ryu dengan dunia pendidikan yang digerakkan oleh yayasan memang sudah diusulkan Mika pada Rain sejak dulu. Harapannya, setelah Ryu lulus kuliah, si sulung siap untuk memimpin Raya dan Reiga, adik-adiknya mewarisi bisnis keluarga. "Ryu punya kemampuan PR yang bagus," bisik Mayang bangga sekali pada sang keponakan. "Duh, gantengnya kena ke bapaknya banget sih Mik," pujinya kesengsem. "Mbak, Cila terlalu tua buat Ryu ya," desis Narra tak melepas tatapannya dari sang anak tampan yang masih berbicara pada para siswa kelas 9 sambil memotivasi. "Heh!" Mayang melotot, "ada Jingga," kekehnya penuh kemenangan, menyebut kakak Cila, anak sulungnya.
Desa Adat Bangkal, 12 tahun lalu... "Kamu sering nonton acara adat gini, Azura?" tanya Ryu sembari mengulur minuman teh kemasannya pada Rara. Rara menggeleng, "Jarang Mas, kalau lagi ada temen aja sih nontonnya. Atau ada klotok milik tetangga yang kebetulan memang mau menyeberang ke sini, kami sering ikut, nanti kami turun di dermaga, pulangnya nunggu tetangga itu juga. Kalau lewat darat kan jauh Mas. Ini aja kalau nggak dijemput mana bisa aku ke sini," terangnya melebarkan senyum. "Kalau nyeberang pake kelotok berapa lama? Sampe satu jam?" "Enggak, paling 20 menit juga sampe Mas," jawab Rara. "Mas Ryu mau coba?" tawarnya iseng. "Pengin, tapi waktuku di kebun terbatas. Besok udah harus balik ke Jakarta, lusa berangkat buat urus kuliah kan," cerita Ryu. "Ah iya, padat ya jadwalnya, Mas," gumam Rara. "Nanti kalau Mas Ryu liburan ke kebun lagi, cari aja aku Mas,
Kebun Agrorei, Hari ini.... "Kenapa kamu nolak buat diadain resepsi di Jakarta? Kamu tau orang tua saya aktivitasnya lebih banyak di sana ketimbang di kebun, otomatis tamu mereka orang Jakarta semua," sebut Ryu setelah meminta Jaka mengantar ayah Rara pulang ke Borneo Capital. "Saya nggak mau bikin malu Pak Rain dan Bu Mika. Saya ini apa sih Pak," keluh Rara tergopoh duduk di kursi taman restoran. Mika dan Rain sudah langsung pergi menuju Pangkalan Bun, melanjutkan acara liburan mereka ke Tanjung Puting. Sementara Ryu dan Rara tinggal di restoran untuk sesaat, mengobrol konsep lamaran dan acara pernikahan yang akan digelar sederhana itu. "Kamu nggak punya konsep pernikahan impian?" tanya Ryu setelah menghela napas panjang. "Kenapa Bapak tanya begitu?" "Saya pikir kamu punya bayangan lain soal pernikahan kita. Pertama, saya bukan
"Ayah ke mana?" tanya Rara tersadar. "Pak Darwis di Sampit, kamu lupa Ayah udah nikah lagi?" tanya Ryu balik, pelan-pelan menuntun ingatan Rara. Rara terpana, untuk beberapa saat ia terdiam sambil menutup mata. Tidak ada yang bisa ia ingat dari lelaki di depannya ini, tapi kenapa memori tentang ayahnya yang menikah lagi juga tidak ia temui? Meninggalnya sang bunda menjadi luka yang tak bisa Rara lupakan, dan kehadiran Bu Endah adalah luka lain baginya tapi masih bisa ia atasi. "Ayah nikah sama perempuan yang udah ngasih aku minuman aneh itu kan?" gumam Rara, tatapannya tampak kosong sekarang. "Kamu inget itu?" "Aku nggak bakalan lupa. Mas, kenapa dia beginiin aku? Kenapa dia jahat?" Ryu menghela napas sabar, ia raih jemari Rara dan digenggamnya jemari istrinya itu. "Aku boleh cerita?" tanya Ryu meminta ijin. "Boleh," jawab Rara lagi-lagi mengangguk. "Namanya Bu Endah, dulu satu SMA sama ayah kamu, mantan pacar lebih tepatnya," mulai Ryu hati-hati. Ia menghela napas sebentar,
Tiga hari lamanya, Ryu berperan sebagai orang asing untuk Rara. Praktis, selama 3 hari itu pula, Rara tidak bisa bekerja hingga Ryu terpaksa memberi istrinya cuti tahunan. Ryu juga meminta HRD untuk menugaskan Elok, personal assistant manajer operasional untuk menggantikan posisi Rara sementara. Kabar cepat merebak tapi Ryu tidak menganggapnya dan memilih fokus pada proses penyembuhan Rara. "Sudah makan, sudah mandi dan sepertinya, Mbak Rara suasana hatinya baik sekali hari ini, Pak," lapor Susi saat Ryu pulang dari GMO menjelang senja. "Dia nggak ngaco lagi kan Mbak ngomongnya?" tanya Ryu sambil melepas jasnya, ia langsung menuju ke kamar, melihat keadaan sang istri. "Enggak Pak, seperti kemarin, Mbak Rara udah nggak bilang mau mati lagi," jawab Susi. "Oke Mbak, biar saya yang temenin Rara. Mbak bisa bersih-bersih, kalau Mbak pengin mandi dan makan," ujar Ryu. Susi mengangguk, ia segera ke dapur meletakkan bekas piring yang tadi ia gunakan untuk membawakan Rara camilan, lal
"Mbak Rara sudah saya lap tubuhnya Pak, sudah tiduran dan sudah tidak menangis," lapor Susi sekembalinya Ryu dari pinggir danau. "Oke, makasih Mbak," jawab Ryu lega. "Saya masakin untuk makan malam ya Pak, seadanya bahan," ucap Susi lagi, meminta ijin. "Tadi saya minta Jaka belikan makanan untuk siang ini Mbak, sebelum masak, tolong suapin Rara dulu," pinta Ryu. "Oh, iya Pak, siap," Susi segera berbalik menuju dapur. Ryu mengekor Susi yang masuk ke kamarnya untuk menyuapi Rara. Ia sengaja menjaga jarak agar Rara tidak histeris melihatnya. Wajah Rara sudah lebih cerah, Susi sudah merapikan rambut dan mengganti pakaiannya. "Mbak Rara, makan dulu ya," bujuk Susi ceria. Rara spontan menggeleng, "Mau mati aja," katanya. "Heh, mau apapun itu, harus makan dulu, Mbak Susi bantu ya," kata Susi tak menyerah. Sorot mata Rara yang tadinya kosong menatap keluar jendela, akhirnya berpindah menatap pada Susi. Air matanya mengalir, tapi ia tidak meracau, hanya bibirnya saja yang bergetar me
"Kenapa kamu pengin mati?" Luna, dokter jiwa yang sejak bertahun-tahun lalu menangani Rara akhirnya didatangkan Ryu ke kebun. Mengingat kondisi Rara yang tidak mungkin untuk dibawa perjalanan jauh ke Sampit, Ryu meminta Jaka untuk menjemput Luna. Rara masih mengisolasi diri dan tak mau didekati lelaki, ia melempar apapun yang bisa dijangkaunya untuk menghalau Ryu saat berusaha mendekat. Baru ketika Luna datang, Rara menjadi lebih tenang. "Mau mati," jawab Rara lirih, pandangannya kosong, penampilannya sangat berantakan. "Kamu takut hidup sendiri ya?" tebak Luna berusaha untuk bertanya dengan santai. "Aku nggak mau hamil, nggak mau hidup, nggak mau semuanya," ucap Rara. "Tapi ada yang pengin kamu tetep hidup dan ada di sisinya," Luna menghela napas panjang. "Coba kamu inget Ra, ada seseorang yang sangat bisa kamu andalkan, sangat mencintai kamu. Ada nggak di ingatanmu tentang orang itu?" pancingnya. "Nggak! Dia nggak boleh tau! Dia nggak boleh liat aku begini. Aku kotor, menjiji
"Bundaaa," rintih Rara tak berdaya. Saat ia membuka mata, tubuhnya diseret begitu saja melewati semak, meski tak kuat, ia masih memiliki keinginan untuk melawan. "Pukul aja kepalanya!" perintah sebuah suara lain yang baru saja datang. Perlahan Rara mencoba membuka matanya, seragamnya sudah compang-camping sobek, roknya susah tersingkap. Saat itulah ia juga sadar bahwa ada 5 orang lelaki di sekitarnya, mengerubunginya. Satu orang sudah berlutut di depan Rara, siap menindih Rara yang setengah sadar. Air mata Rara mengalir, suaranya sudah tenggelam dalam rasa nelangsa yang tanpa akhir. Pening di kepalanya semakin terasa saat ia mendengar tawa dan obrolan vulgar orang-orang yang merudapaksanya. Tak ada lagi kekuatan Rara untuk sekadar membuka mata, tubuhnya digerayangi pun Rara seperti mati rasa. Kepalanya lalu dihantam sebuah benda keras, kesadaran Rara menghilang. *** "Bunda!" seru Rara seketika bangun dari posisi tidurnya dengan mata nyalang ketakutan. "Azura," panggil Ryu
"Kenapa motornya, Dek?" Jepi, buruh panen lepas berbadan kurus kecil tapi bertato ini mendekat ke arah Rara yang tengah mengamati motor mogoknya. "Kayaknya habis bensin, Om," jawab Rara tanpa rasa curiga. "Lhoh? Emang mau ke mana?" Randu, si tambun dengan kumis tipis dan menenteng 'dodos' di tangannya ikut keluar dari sawitan, menghampiri Rara. "Mau ambil paketan ke GMO, Om," balas Rara ramah. "Lha kok sendirian, nggak takut? Rumahnya mana?" tanya Jepi lagi, pura-pura ikut mengamati motor yang dibawa Rara. "Rumahnya di Borneo Capital Om," gumam Rara. "Oh, iya, habis ini bensinnya. Kami ada bawa tapi motornya di blok I, mau dipake?" tawar Randu. "Boleh kah ulun pake, Om?" tanya Rara mengakrabkan diri. "Boleh, tapi kamu ambil sendiri ke sana ya, kami mau panen sawit lagi ini," ucap Jepi. Tanpa menaruh curiga sedikit pun, Rara mengangguk setuju. Kondisi di tengah hutan sawit, masih setengah jalan sampai ke tujuan, bantuan dari Jepi dan Randu adalah keajaiban yang tidak
Rara menggigit bibir bawahnya sensual saat Ryu menegakkan tubuh untuk melepas kemejanya. Tubuh Ryu selalu menarik, apalagi hiasan tato nama Rara yang terpatri di dadanya itu, sungguh lambang kesetiaan yang tiada duanya."Tato ini, namaku kan Mas?" tanya Rara meraba dada Ryu hati-hati. "Emang ada lagi perempuan bernama Lembayung selain kamu? Nama itu khas dan langka, jelas itu nama kamu. Mau kubikin pake nama lengkap kepanjangan, sakit," ujar Ryu setengah bercanda. Dikecupinya leher Rara lembut, mengembus napas hangatnya. "Ih, gitu deh," Rara mencembikkan bibirnya. Tak menanggapi sang istri, Ryu bergerak lagi. Ia loloskan t-shirt yang Rara kenakan hingga menampilkan bra warna abunya yang penuh. Kecupannya di leher Rara perlahan semakin turun, tulang selangka, kemudian menghirup aroma manis tubuh istrinya dalam-dalam. Baru setelahnya, tangan Ryu terampil melepas kaitan bra hingga Rara spontan menopang lenga
"Nggak pa-pa nih kita di sini?" gumam Rara menerima uluran tangan suaminya dan naik ke atas dermaga. "Ya nggak pa-pa," Ryu tersenyum. "Aku udah sengaja bawa kuncinya. Kutitip kunci mobil ke Mas Aldi biar dikasih Jaka. Ikan yang tadi kita beli biar Jaka yang bawa sekalian anter mobil ke rumah. Nanti kita jalan kaki aja ke rumah, nggak pa-pa?" gumamya seraya membuka pintu samping guest house milik perusahaan di pinggir danau itu. "Iya, iya. Kalau lewat darat, jalan kaki aja dari sini ke rumah juga deket ya Mas," gumam Rara mengitarkan pandangan. "Jadi kerasa jauh karena tadi kita naik klotok dari Kampung dan turun di dermaga," ujarnya takjub. Isi di dalam guest house selalu rapi dan bersih karena memang dirawat seminggu dua kali oleh divisi perawatan khusus. Ada dua ranjang besar di kamar yang berbeda, lengkap dengan dapur dan ruang tamu, hanya ukurannya memang lebih kecil ketimbang rumah dinas yang Ryu tempati. Di kamar mandi pun dilengkapi dengan handuk bersih dan peralatan mand
"Di mana ada banyak orang pasang perangkap, Mas?" tanya Ryu. "Nanti kalau kita keluar di hilir sungai ketemu sama danau, banyak yang pasang Pak," ucap Aldi informatif. "Nggak sabar," ujar Rara senang. "Dulu pas jaman aku kecil, Ayah sering ngajak aku pasang lukah di belakang rumah, Mas. Enaknya kalau mancing ikan taja yang kecil-kecil kayak teri gitu, pake minyak jelantah nanti mereka udah ngumpul sendiri, tinggal dijaring," ceritanya penuh semangat. "Kangen ya sama Ayah?" tanya Ryu maklum. Rara menggeleng, "Kenangannya. Beruntung kenangan itu nggak ikut kulupain," desisnya. "Sekarang kuajak cari ikan juga ini," kata Ryu. "Bentar lagi kita sampe muara," ujarnya menunjuk papan rambu warna biru yang memang dipasang sebagai panduan lalu lintas air di danau dan sungai. "Ibu mau mancing? Saya ada bawa joran, umpannya bisa pakai tempe," tawar Aldi. Mata Rara yang tengah bertatapan dengan suaminya itu berbinar indah. Ia spontan berdiri menghampiri Aldi, menerima joran dari sang