"Kalian sedang apa?" Bunga bertanya pada Rani dan juga Dika yang ketahuan berduaan di jam kerja. "Maaf Bu, saya cuma mau ambil minum, gak sengaja ketemu sama Mas Dika," ucap Rani beralasan. Tangan gadis itu terulur mengambil gelas yang sudah terisi air. "Kembali bekerja!" titah Bunga pada Rani. "Baik, Bu." Rani menunduk dan berjalan meninggalkan tempat itu. Dia sangat gugup setiap kali bertemu dengan pimpinannya yang baru. Apalagi wajah bunga yang tidak pernah tersenyum pada siapapun. "Saya dengar tadi ada keributan di ruang meeting, ada apa?" tanya Bunga. Dika mengangkat sebelah sudut bibirnya. "Masalah kecil, ada curut yang mencoba mencuri roti," kata Dika diiringi dengan senyum liciknya. Bunga hanya manggut-manggut saja. "Kamu sudah cocok jadi pimpinan. Wajahmu yang datar dan sikap tegas itu, aku suka," ujar Dika dan membuat Bunga tersipu malu karena pujiannya. "Kalau dibandingkan dengan kamu, saya bukan siapa-siapa," ucap Bunga merendah. "Bagus. Kejar profesional,"
"Rani, di mana kamu?" Setelah kehabisan akal, Retta akhirnya menghubungi Rani yang masih bekerja. Dia dan anaknya tidak mau menanggung malu karena tidak bisa membayar perhiasan itu. Terlebih sejak dulu Retta selalu menjunjung tinggi gengsinya. "Cepat kirimkan uang kepada Mama, sekarang!" perintah Retta kepada Rani. ["Jangan harap, saya tidak peduli masalah apa yang menimpa kalian,"] balas Rani dari seberang telepon sana. "Anak kurang ajar! Kamu tidak takut padaku?" ucap Retta begitu memaksa. "Halo, Rani!" panggil Retta kesal. Rani mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Gadis itu sudah sangat muak dengan segala ancaman yang Retta berikan. Sudah cukup sabarnya selama ini yang selalu di tindas dan di manfaatkan. "Gimana, Ma?" tanya Ariella. "Anak itu sudah berani melawan," kata Retta. "Kak Rani, tidak mau ngasih uangnya?" tanya Ariella lagi. Retta mengangguk, wanita itu meremas ponselnya erat, seolah tengah meluapkan segala emosinya. "Terus gimana ini, Ma?" tany
Dika menoleh saat sebuah suara halus memanggil namanya. "Iya," jawab Dika tak kalah lembut. "Makannya enak, aku suka," kata Rani sambil tertawa kaku. Dika juga ikut tertawa, laki-laki itu mengira Rani akan mengatakan hal lain. Mereka kembali menikmati makanannya hingga habis. Selepasnya Rani dan Dika meninggalkan tempat itu. Tak terasa, hari sudah mulai malam, sementara Rani dan Dika masih belum juga pulang. Mereka telah dekat dengan rumah, tetapi Rani masih betah berada di luar. Menurutnya, di rumah itu penuh dengan hawa panas yang membuatnya tidak betah tinggal di dalamnya. "Kalau kamu mau menjadi istriku yang sesungguhnya, aku akan membawaku keluar dari sana," tutur Dika seakan menggambarkan kebahagiaan di dalamnya. "Pufffh …." Rani tertawa. "Pernikahan itu butuh cinta, sedangkan kita? Kita cuma nikah pura-pura," sahut Rani mengingatkan. "Aku sih berharap pernikahan ini menjadi sungguhan, kalau kamu?" tanya Dika. Rani menoleh menatap wajah Dika, saat ini mereka tengah berad
"Kamu mau?" tanya Dika memancingnya. "Ma-mau apa?" Rani balik bertanya. Cup! Tanpa permisi pada pemilik bibir mungil itu, Dika menyambar bibir Rani yang seakan selalu menggodanya setiap saat. Rani membelalakkan mata dengan degupan jantung yang terus berirama. Awalnya gadis itu menolak dan memberontak, tetapi setelah lama Dika menguasai rongga mulutnya, tanpa Sadar Rani menikmatinya. "Astaghfirullah, Mas," ucap Rani setelah mendorong tubuh Dika menjauh. "Aku sudah tidak suci lagi, hiks …." Rani menyesal. Sementara Dina menertawakannya, laki-laki itu menoyor istrinya yang labil itu. Setelahnya, Dika pergi dari hadapan Rani dengan membawa pakaian tidurnya. Sedangkan Rani masih terus membayangkan adegan ciuman yang ia lakukan bersama Dika beberapa detik yang lalu. 'Kok manis, ya?' batin Rani dengan mengusap lembut bibirnya. Tanpa sadar, Rani tersenyum sendiri membayangkan kejadian beberapa detik yang lalu. Ada rasa senang dalam hatinya menikmati ciuman pertamanya. Namun, ada
"Rani, Mas kasih tahu nih ya … kita mengalah bukan berarti kalah, kita mengalah karena kita waras. Buat apa capek-capek meladeni mereka yang suka menghina. Buang-buang waktu," tutur Dika menasehati Rani. Rani mendongak, menatap mata suaminya yang berada di depannya. Sangat indah, itu yang Rani lihat dari sinar di mata Dika. Dika pun tersenyum tatkala matanya bersitatap dengan Rani, hingga gadis itu merasa malu dan memalingkan wajahnya. "Kita naik taksi atau …."Belum sempat Rani melanjutkan ucapannya, Dika melambaikan tangannya pada mobil hitam yang berada di seberang jalan sana. Mobil itu melaju dan memutar arah menghampiri Dika yang memanggilnya. Ketika seseorang turun dari dalam mobil itu, orang tersebut membungkuk memberikan hormat kepada Dika. Tentu saja hal itu membuat Rani tercengang. "Terima kasih, ya," ucap Dika pada orang tersebut setelah dia menerima kunci mobilnya. "Sama-sama, Pak," jawab orang itu lalu kembali menunduk dan berlalu pergi. "Mas, itu tadi siapa?" tanya
"Eh, Mas, udah mau sampai!" seru Rani dan memotong ucapan Dika. “Oh iya, gak kerasa ya,” jawab Dika sambil tersenyum. "Apa karena naik mobil mahal ya, Mas," ucap Rani menggelitik. "Cari parkiran dulu," ucap Dika setelah memasukan mobil itu ke dalam halaman kantor. Dika membawa mobilnya ke tempat parkiran yang biasanya dia dan Bunga pakai. Di sana, tersusun rapi mobil para petinggi di perusahaan. Rani tampak bingung karena Dika membawa mobilnya kesana. "Mas, jangan parkir disini!" ucap Rani mencegahnya. "Kenapa?" tanya Dika bingung. "Ini parkiran para petinggi, nanti kita kena masalah," kata Rani memuji. "Memangnya karyawan biasa gak boleh parkir disini?" tanya Dika sekali lagi dengan terus memarkirkan mobilnya di sana."Gak boleh, Mas. Hanya yang punya kedudukan tinggi saja yang boleh parkir disini. Kita pindah aja yuk! Di sana tempat kita," ujar Rani dengan menunjuk area parkir di luar yang sangat panas tanpa adanya bayangan. "Di sana panas, Ran," ucap Dika. "Ya tapi memang
“Kamu akan menyesal!” batin Dika.Dika mengerjakan semua pekerjaan temannya yang dilimpahkannya kepadanya. Sekalian, laki-laki itu ingin mencari tahu tentang pekerjaan mereka, apakah dikerjakan dengan benar, atau hanya semaunya saja. Dika bersyukur karena penyamarannya ini membawanya menemukan wajah-wajah asli dari karyawannya.Rani melihat suaminya diperlakukan seperti itu, wanita itu merasa kasihan. Namun, dia tidak dapat melakukan apa-apa. Sampai sebuah ide terlintas di pikirannya untuk memberikan semangat kepada Dika.'Aku punya ide!' ucap Rani dalam hatinya.Rani pergi dari kursinya untuk mengambil sesuatu. Tak lama wanita itu kembali dengan segelas kopi panas dia bawa. Rani menghampiri meja Dika dan memberikan kopi itu.“Buatmu, semangat ya,” ucap Rani saat Dika mendongak.Dika tersenyum dengan melirik kopi di mejanya. "Terima kasih ya," ucap Dika sambil tersenyum. "Nanti makan siang kita ketemu," kata Rani, kemudian melambaikan tangan dan kembali ke kursinya. "Ran, perhatian
Tubuh Rani terhuyung, jatuh membentur bagian depan mobil. Seketika gelak tawa kembali meramaikan area parkiran. Rani mendongak, menatap wajah-wajah sombong penuh tawa mereka. "Ops, jatuh … kasihan …." Ariella mencibirnya. "Eh hati-hati, kau membuat mobilku lecet," ucap Kevin dan menarik Rani menjauh dari mobil itu. "CK!" Rani menggulung lengan bajunya dan berkacak pinggang. Wanita itu ingin sekali membalas perbuatan mantannya. "Kenapa menatapku seperti itu? Mau marah?" tanya Kevin menantang. "Kamu harus ganti rugi karena sudah membuat mobil ini lecet!" ucap Kevin dan menatap tajam. "Memangnya siapa kamu?" Rani balik bertanya dengan berani. "Kamu gak tau siapa aku? Baiklah, kalau kamu gak mau ganti rugi, bulan depan gajimu harus dipotong sebagai ganti ruginya," ujar Kevin. "Kak Rani, makanya jangan menghayal terlalu tinggi. Upik abu itu tetap akan jadi upik abu, gak akan berubah menjadi cinderella. Jadi terima saja nasibmu yang malang ini," sahut Ariella. "Jadi menurutmu, nasi
"Bicara omong kosong, aku tidak akan bercerai dari Mas Dika," ujar Rani dengan berani. "Rani Rani, aku tahu kamu masih mencintaiku. Aku juga tahu kalau kalian hanya bersandiwara saja, kamu membayar Dika untuk menjadi suamimu kan?" kata Kevin menebak. "Sandiwara atau tidak itu bukan urusan kamu. Kita sudah selesai, jadi jangan ganggu aku lagi!" Rani memperingati Kevin. Hatinya teramat benci pada laki-laki yang kini menjadi mantannya itu. Rani kembali melangkah pergi sebelum ada yang melihatnya bersama Kevin. Jika tidak, akan ada masalah baru yang membuatnya cepat emosi. Sementara Kevin menatap kepergian Rani. Sampai detik ini Kevin masih mengagumi kecantikan Rani. Kevin masih berharap bisa memiliki Rani dan Ariella bersamaan. Sungguh laki-laki yang serakah. "Aku pastikan kamu akan kembali padaku Maharani," ucap Kevin sambil menyeringai. *******Rani menggeliatkan tubuhnya, merubah posisinya dari terlentang menjadi miring menghadap jendela. Rani langsung membuka matanya lebar-leba
Duduk berdua di dapur selayaknya pengantin baru yang menghabiskan waktu hanya berdua saja. Dika membawa sepiring nasi beserta lauk pauknya. Rani menunduk lesu, wanita itu merasa bersalah pada Dika yang tidak pernah diperlakukan baik di rumahnya. Meskipun laki-laki itu hanyalah menjadi suami sesaatnya, tetapi Rani paham harus bagaimana melayani Dika seperti istri pada umumnya. "Kamu kenapa Ran?" tanya Dika begitu lembut. Rani mengangkat wajahnya, menatap manik coklat milik Dika yang terlihat indah. Jika dipikir-pikir Dika adalah tipe laki-laki yang sangat tampan. Tubuh atletis yang sempurna, mata yang berpijar indah, bibir tebal berwarna merah alami, kulit putih bersih dan rambut lurus hitam sempurna."Mas, maafin aku ya," ucap Rani lirih. "Maaf kenapa?" tanya Dika bingung. "Selama Mas tinggal disini belum pernah merasakan kenyamanan. Keluargaku ya seperti ini, tidak pernah ada kehangatan. Dan aku, si anak tiri yang seperti bawang putih," ujar Rani. Dika tersenyum memandang wajah
Waktu terus berputar, siang berganti malam. Sepulang dari kantor, seperti biasa Rani akan merapikan rumah dan menyiapkan makanan. Sebenarnya gadis itu sudah muak tinggal bersama keluarganya, terlebih Retta ibu tirinya yang tidak pernah menyayanginya. Saat ini, Rani tengah menanak nasi dan menyiapkan berbagai makanan. Katanya, Ariella dan Kevin akan datang menginap malam ini. Retta memintanya untuk menyiapkan banyak hidangan."Huh kenapa harus aku yang repot sih setiap mereka mau datang," gerutu Rani."Mas Dika kemana lagi?" Rani tidak melihat keberadaan Dika sejak mereka pulang dari kantor sore tadi. Dika mengatakan akan keluar sebentar karena ada urusan. Namun, sudah lebih dari satu jam laki-laki itu belum juga kembali. "Rani, mana makanannya? Sudah sejam kamu masak tapi belum satupun tersaji di meja," ujar Retta, tiba-tiba muncul dan menghakimi Rani. "Ini juga lagi masak Ma," jawab Rani ketus. "Kamu ngomong sama orang tua ketus begitu, gak sopan Rani!" seru Retta kesal. "Dari
"Kalian tidak mungkin punya hubungankan?" tanya teman-teman Rani penuh selidik. "Yang benar saja Ran, kamu putus dari Pak Kevin yang pangkatnya lebih tinggi dan sekarang berpaling sama staf rendahan kayak ini, kamu masih waras kan Maharani?" sambung yang lainnya dan terus merendahkan Dika. "Ran, mending sama aku aja. Ya meskipun pangkatku gak setinggi Pak Kevin tapi setidaknya gak serendah dia juga," cibir yang lainnya lagi. Mendengar semua hinaan dan cibiran yang tertuju padanya, Dika hanya menanggapinya dengan senyuman saja. Rupanya banyak orang yang hanya menghargai seseorang dari statusnya saja. Lewat penyamaran ini Dika mengetahui wajah-wajah palsu dari semua karyawannya. "Memang sehebat apa kalian sampai merendahkan Mas Dika seperti ini? Jabatan kalian pun juga gak setara Pak Kevin," ucap Rani, membela suaminya.Prok ProkProk"Wah hebat, ternyata kamu masih mengagumiku Maharani," sahut Kevin yang tiba-tiba datang dengan bertepuk tangan. Di sebelahnya, Ariella berdiri denga
"Maharani!"Suara sepatu beradu dengan keramik dan panggilan dari seseorang membuat Rani menoleh. Saat ini, gadis itu sedang terburu-buru kembali ke mejanya. Namun, langkahnya terhenti saat suara itu memanggil namanya."Bu Bunga," ucap Rani ketika mendapati bosnya yang sangat cantik dan berkelas itu menghampirinya."Ini buat kamu," kata Bunga, sambil menyerahkan sesuatu di dalam paper bag berwarna putih.Rani mengernyit heran. "Apa ini?" tanya Rani, sambil membuka paper bag tersebut. "Makanan?" tanya Rani, memastikan ia tidak salah lihat. "Saya membelinya dan ternyata sudah dingin. Saya tidak memakan makanan yang dingin, jadi daripada dibuang ambillah," ujar Bunga, tanpa ekspresi. Sangat dingin seperti biasanya. Senyum di wajah Rani mengembang, kebetulan sekali dirinya juga tengah lapar karena melewati makan siangnya. "Wah, kebetulan sekali. Terima kasih Bu," ucap Rani senang. Bunga meninggalkannya tanpa menanggapi ucapan terima kasih dari Rani. Memang, Bunga di minta bersifat j
"Jadi Kevin adalah laki-laki matrealistis yang tidak berperasaan. Gila harta, gila wanita dan gila segala-galanya," ujar Rani dan diikuti dengan tawa renyahnya. "Benarkah?" tanya Kevin memastikan. "Hmm … dulu kami berpacaran saat dia akan melamar pekerjaan di perusahaan DS, dia tidak pandai dalam menyiapkan proposal dan lainnya di saat bosnya memberinya tugas. Aku ini yang mengerjakannya, semua tanpa terselip sedikitpun. Bahkan saat bertunangan dan rencana menikah, semua aku yang membiayainya. Bodohkan aku?" terang Rani dengan senyum bodohnya. "Cinta memang buta," sindir Dika. "Mas Dika benar, dulu aku benar-benar tergila-gila dengan Kevin sampai menutup mata dan telinga. Tapi setelah aku melihatnya di ranjang yang sama dengan Ariella, di saat itu aku sadar jika aku hanya dimanfaatkan," kata Rani menyesal. Dika mengambil tangan Rani dan mengelusnya lembut, wanita itu mendongak menatap suaminya. "Jangan sedih lagi, sekarangkan kamu sudah punya aku," ujar Dika lalu menghentikan mo
Suara bariton seseorang seketika membuat semua orang menoleh. Dika berjalan dengan wajah merah padam, ia menarik tangan istrinya ketika telah sampai di antara mereka. Satu persatu wajah yang mengganggu istrinya dia perhatikan baik-baik."Pahlawan datang,"ucap salah satu dari mereka."Apa yang kalian lakukan pada Maharani?" tanya Dika dengan suara beratnya."Kenapa? Kami hanya bermain-main saja, benarkan Sayang?" jawab satu diantara mereka sambil menoel dagu Rani.Rani menepis tangan laki-laki kurang ajar itu. Dika menariknya ke belakang tubuhnya untuk melindunginya. Dengan sorot mata tajam Dika mengintimidasi mereka."Beraninya kalian mengganggu wanita!" bentak Dika."Siapa kamu berani membentak kami? Staff baru dan mantan OB saja belagu." Kevin mencibir Dika."Punya masalah apa Rani, sehingga kalian mengganggunya?" tanya Dika selembut mungkin dan menahan emosinya."Rani sudah merusak mobilku dan tidak mau bertanggung jawab," ujar Kevin berbohong.Dika melihat mobilnya yang memang se
Tubuh Rani terhuyung, jatuh membentur bagian depan mobil. Seketika gelak tawa kembali meramaikan area parkiran. Rani mendongak, menatap wajah-wajah sombong penuh tawa mereka. "Ops, jatuh … kasihan …." Ariella mencibirnya. "Eh hati-hati, kau membuat mobilku lecet," ucap Kevin dan menarik Rani menjauh dari mobil itu. "CK!" Rani menggulung lengan bajunya dan berkacak pinggang. Wanita itu ingin sekali membalas perbuatan mantannya. "Kenapa menatapku seperti itu? Mau marah?" tanya Kevin menantang. "Kamu harus ganti rugi karena sudah membuat mobil ini lecet!" ucap Kevin dan menatap tajam. "Memangnya siapa kamu?" Rani balik bertanya dengan berani. "Kamu gak tau siapa aku? Baiklah, kalau kamu gak mau ganti rugi, bulan depan gajimu harus dipotong sebagai ganti ruginya," ujar Kevin. "Kak Rani, makanya jangan menghayal terlalu tinggi. Upik abu itu tetap akan jadi upik abu, gak akan berubah menjadi cinderella. Jadi terima saja nasibmu yang malang ini," sahut Ariella. "Jadi menurutmu, nasi
“Kamu akan menyesal!” batin Dika.Dika mengerjakan semua pekerjaan temannya yang dilimpahkannya kepadanya. Sekalian, laki-laki itu ingin mencari tahu tentang pekerjaan mereka, apakah dikerjakan dengan benar, atau hanya semaunya saja. Dika bersyukur karena penyamarannya ini membawanya menemukan wajah-wajah asli dari karyawannya.Rani melihat suaminya diperlakukan seperti itu, wanita itu merasa kasihan. Namun, dia tidak dapat melakukan apa-apa. Sampai sebuah ide terlintas di pikirannya untuk memberikan semangat kepada Dika.'Aku punya ide!' ucap Rani dalam hatinya.Rani pergi dari kursinya untuk mengambil sesuatu. Tak lama wanita itu kembali dengan segelas kopi panas dia bawa. Rani menghampiri meja Dika dan memberikan kopi itu.“Buatmu, semangat ya,” ucap Rani saat Dika mendongak.Dika tersenyum dengan melirik kopi di mejanya. "Terima kasih ya," ucap Dika sambil tersenyum. "Nanti makan siang kita ketemu," kata Rani, kemudian melambaikan tangan dan kembali ke kursinya. "Ran, perhatian