Menuruni anak tangga sebab lift rumah sepertinya sedang ada yang memakai. Sheilla melongok ke bawah, lumayan juga turun dua lantai, hampir seperti naik ke ruangan kelas di Universitas—tempat dia menimba ilmu. Belum di sana, tenaga Sheilla sudah lumayan terkuras.
Anak tangga terakhir. Sheilla tertegun sejenak sembari menetralkan irama jantung dan tarikan napasnya. Rumah sebesar ini sepi sekali, batinnya. Hanya ada lalu-lalang asisten rumah yang sedang bersih-bersih. Sementara si pemilik entah ada di mana. Dhara, keponakan Narendra, putri semata wayang kakaknya—Dina Hasan—berlari ke arah Sheilla. Memeluk tante baru, gadis kecil itu mendongakkan kepala. Sheilla tersenyum menyambut. "Si cantik, kenapa lari?" "Aduh ... Dhara jangan kabur-kabur lagi, bunda capek, nih. Ayo cepet sini ... mandi." Terdengar suara Dina memanggil-manggil putrinya. Sheilla tersenyum, mengerti kenapa keponakan Narendra itu berlari. "Owh ... jadi ... lari sebab gak mau mandi, nih?” Sheilla berjongkok di hadapan Dhara. “Heum, pantesan ada yang bau!" serunya menggoda gadis berambut kriwil tersebut. Dhara menyengir kemudian memutar arah bersembunyi di balik punggung Sheilla begitu melihat sang bunda mendekat. “Aduh, Ara. Jangan peluk-peluk tantenya seperti itu, lho. Kamu belum mandi, nanti baunya nempel.” “Apa, sih, Bunda. Ara gak bau, ya.” Dhara semakin erat memeluk leher Sheilla. Kepala gadis itu melongok dari samping. “Gak bau gimana?! Itu kamu masih ada iler, tuh.” Dhara mencebik sementara Sheilla yang dipeluknya terkekeh. Masih posisi jongkok, Sheilla lantas berdiri membawa serta gadis 5 tahun itu dalam gendongan. “Dhara anak cantik, kan? Mandi dulu, ya, Sayang,” bujuknya. Dina sudah meminta Dhara turun, tapi anak itu malah semakin erat memeluk leher Sheilla. “Turunin, Shei. Dhara … walau kecil, dia berat juga, lho, gendong lama-lama.” “Gak apa-apa, Mbak. Dhara gak berat, kok.” Dina melihat Sheilla sama sekali tidak keberatan meski Dhara terus saja menempel. Padahal, Sheilla baru kemarin datang. Rupanya, istri Narendra itu sudah pandai mengambil hati putrinya. Dhara juga, anak itu jarang sekali bisa akrab secepat ini dengan orang lain. Bahkan dengan tunangan atau mantan-mantan Narendra sebelumnya, Dhara tidak pernah sedekat seperti pada Sheilla. “Tuh, gak apa-apa kata Tante Sheilla-nya juga, wle.” Dhara menjulurkan lidah ke arah Dina. “Tante mau ke mana?” Beralih lagi pada Sheilla, bocah itu melempar tanya sambil memainkan ujung rambut Sheilla. “Kuliah, dong, Sayang,” jawab Sheilla. “Tante masih kuliah?” Sheilla mengangguk sebagai respon dari pertanyaan berikutnya. “Bukannya tante sudah menikah sama om Narendra, ya?” Dhara gadis kecil yang pintar terlepas dari cara bicaranya yang masih cadel. Sheilla menurunkan keponakan suaminya itu dari gendongan. Lumayan pegal juga punggungnya, padahal hanya sebentar. Sheilla mengambil kembali beberapa buku yang sebelumnya dia letakkan di anak tangga terakhir—saat Dhara menghampiri. “Tante, kan, masih belum lulus kuliahnya, Ara Sayang.” Sheilla mengusap kepala Dhara seraya mengukir senyum. “Lulus itu apa?” tanya Dhara polos. “Hei … banyak tanya ini anak.” Dina menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan putri semata wayangnya yang mulai cerewet itu. “Mandi dulu, yuk! Nanti bunda jelaskan apa itu lulus kuliah. Lagi pula, memangnya Dhara tau kuliah itu apa?” “Enggak.” Dhara menggeleng sambil memperlihatkan deretan gigi kecilnya yang rapi dan putih bersih. “Tuh, kan!” Dina berdecak. “Kamu mau berangkat sekarang, Shei?” Kemudian beralih pada adik iparnya yang tengah tertawa kecil. “Eh ... iya, Mbak. Sheilla ada kelas pagi.” “Sepagi ini?” Sheilla mengangguk. “Ada yang mau aku ambil dulu, sih, di rumah.” Sementara itu, Dhara yang sudah setuju untuk mandi dijemput bibi pengasuhnya. “Mandi yang bersih, ya, Nak,” ucap Dina sambil melambai-lambai tangan ke arah sang putri. “Aku langsung berangkat aja, ya, Mbak. Om sama Tante … maksud aku, Mama sama Papa masih belum keluar, ya? Aku titip salam aja. Bye, Mbak Dina!” “Eh … berangkat pakai apa?” “Ojol, Mbak.” “Sopir, kan, ada.” Dina mengekor hingga ke pintu utama.” "Sheilla udah order. Dan ... ini kayaknya udah nunggu di depan." Sheilla melihat layar gawai yang dia keluarkan dari dalam saku celana jeans-nya. Tepat ketika Sheilla meninggalkan rumah, Narendra turun ke lantai satu bersama asisten pribadinya yang datang menggunakan lift. "Tuan, apa saya juga harus berangkat sekarang?" tanya sang aspri. "Iya. Jangan lupa apa yang kukatakan tadi di atas." "Baik, Tuan." Berlalu, asisten kepercayaan Narendra pergi mengikuti Sheilla sesuai perintah sang atasan. *** Benar saja, saat Sheilla muncul dari balik gerbang, ojol pesanannya sudah menunggu. Pengendara sampai heran melihatnya keluar dari rumah gedong. "Ini ... betul dengan Mbak Sheilla?" tanyanya. Helm tak segera dia angsurkan karena ragu. Sheilla tertawa kecil. "Ya, beneran, dong. Nih, lihat!" Dia menunjukkan layar ponselnya berada dalam aplikasi hijau. Titik pemesanan sudah tepat di tempat keduanya berada saat ini. "Aneh saja. Apa baru saya yang dapat orderan dari rumah semegah ini?" Abang ojol memandang takjub ke arah rumah. Lagi, Sheilla tertawa. "Ayo, berangkat!" Pengendara ojol segera menstater motor matic-nya begitu Sheilla duduk di belakang. "Kita ke titik pertama dulu, ya, Bang ojol. Nanti dari sana saya order ulang, lanjut ke kampus," imbuh Sheilla, Bang ojolnya lantas mengangguk. Motor bergerak keluar dari area perumahan menuju jalan raya. Keadaan cukup ramai meski tak sampai macet. Sheilla dan kendaraan yang ditungganginya hanya butuh kurang dari satu jam untuk sampai ke rumah Wira. Dia turun dan meminta ojol menunggunya. "Nanti saya lebihin ongkosnya kalo mau nunggu." Sheilla tersenyum seraya membayar biaya transportasinya. "Iya, Mbak. Gak lama, kan?" "Enggak, kok." Kembali, Bang ojol bengong melihat Sheilla memasuki rumah besar. Meski tak semegah rumah yang sebelumnya tetap saja itu bikin heran. Pemilik hunian seperti di hadapannya itu, biasanya kalau ke mana-mana pasti naik mobil lengkap dengan sopirnya sekalian. Beberapa menit kemudian, Sheilla sudah keluar lagi. Niatnya memang hanya ingin mengambil buku yang tertinggal di kamar Bella. Terakhir sebelum peristiwa pernikahan terjadi, malam harinya Sheilla masih menemani Bella sambil mengerjakan tugas kuliah. Sheilla hanya bertemu dan menyapa seperlunya pada Wira dan Alma. “Bang ojol, saya udah order ulang.” “I-iya, Mbak. Ini saya sudah terima.” Ojol mengangsurkan lagi helm untuk dipakai Sheilla. “Mbak gak malu, ya, naik ojol?” “Kenapa? Kenapa musti malu?” “Rumah Mbak-nya besar-besar.” Komentar pengendara ojol tersebut saat motor sudah kembali ke jalan raya. “Itu bukan rumah saya, Bang.” Sheilla menjawab sekenanya tanpa menjelaskan lebih detail. *** Sesampainya di pelataran Universitas, sudah ada yang menunggu Sheilla. Gadis itu melambaikan tangan. “Ini helm-nya. Ini ongkos serta lebihannya yang saya janjikan tadi. Terima kasih, ya, Bang.” “Sama-sama, Mbak.” Sheilla menyapa Jefri lebih dulu. “Masih marah?” “Kamu pikir apa? Aku harus gak marah saat lihat kamu nikah sama orang lain, gitu?” “Ya … maaf.” Sheilla menggigit bibir. Ribuan kali dijelaskan pun statusnya kini memang sudah jadi istri orang. “Coba kamu gak telat datangnya.” Jefri tersenyum miring. “Kalaupun aku gak telat. Memangnya kamu bisa nolak permintaan om sama tante kamu itu?” “Eum … nggak juga.” Jefri memutar bola mata. Sudah bisa dia duga jawaban Sheilla pasti seperti itu. Mana mungkin Sheilla berani membantah om serta tantenya. Setahu Jefri, kekasihnya itu gadis yang penurut, tak ubahnya seperti boneka. “Tunggu!” Sheilla menahan lengan Jefri ketika pemuda itu hampir berlalu. “Aku tau, aku salah. Pernikahan ini hanya sampai Kak Bella ditemuin, kok. Setelah itu … aku bakal minta pisah.” Jefri menatap Sheilla cukup lama seolah meragukan ucapan gadis di hadapannya itu. “Serius. Aku, tuh, lagi curiga kalau sebenarnya ….” “Sebenarnya apa?” “Kamu masih mau kita sama-sama, kan? Mau bantu aku gak?” tanya Sheilla tanpa menjelaskan ucapan dia sebelumnya yang masih menggantung. “Bantu … apa?” “Cari Kak Bella.” “Maksudnya? Cari gimana? Bukannya dia pergi sendiri, ya, gak mau nikah sama Narendra yang sekarang udah gak bisa jalan itu.” Sheilla menempelkan telunjuk di bibir. Tidak sedang berada di lingkungan keluarga Narendra, tapi tetap saja dia merasa harus waspada. “Sini, deh,” ajaknya pada Jefri. Menarik tangan pemuda itu ke tempat yang lebih sepi. “Justru itu, Kak Naren mencurigakan banget tau, gak? Aku curiga dia sebenarnya tau di mana Kak Bella. Apalagi, pas setelah akad aku dengar dia ngomong di telepon. Dia bilang, ‘sesuai rencana dan tepat sasaran’. Itu maksudnya apa coba?” “Dia sengaja ngejebak kamu gitu?” Sheilla mengangguk meski belum sepenuhnya yakin. “Aku harus tau apa alasannya, dan apa pula untungnya buat dia?” Sheilla berdecak. Masuk perangkap Narendra adalah takdir terburuk dalam hidupnya. Well, dia kaya raya, punya segalanya. Tapi, buat apa jika Sheilla tidak pernah mencintainya. Lebih-lebih, Narendra itu calon suami Bella kakak sepupunya sendiri. “Kalau untungnya aku gak tau pasti. Tapi … alasan, mungkin dia sebenarnya sukanya sama kamu, bukan Bella.” Sheilla lantas tergelak mendengar ucapan Jefri. “Kamu, tuh … lawak banget. Ya, jelas lebih Kak Bella ke mana-mana, Jef.” Jefri mengusap tengkuk. “Tapi, kamu, tuh, manis. Sadar gak, sih,” gumamnya. “Aku udah ada rencana cari Kak Bella ke apartemennya. Tadi sebelum ke sini, aku mampir ke rumah buat ambil Access Card. Kamu mau gak temenin nanti sepulang dari kampus?” Jefri mengangguk sebagai jawaban. "Tapi, Sayang. Kalau Access card nya aja gak dibawa kakak kamu, apa mungkin dia ada di sana?" "Kalaupun gak ada, seenggaknya aku bisa cari petunjuk di sana," tukas Sheilla.Sampai di depan salah satu unit apartemen, Sheilla segera mengeluarkan access card yang dia bawa, dari dalam tasnya. Menempelkan benda tersebut pada bagian sensor. Bunyi khas dari kunci yang terbuka mengusik telinga Sheilla. Gadis itu tersenyum tipis, kemudian menoleh ke arah Jefri. Jefri yang semula menunggu sambil men-scroll layar gawai segera memberi respon. Menggerakkan kepala seolah menyuruh Sheilla masuk lebih dulu. Dia menyimpan ponsel ke dalam saku celana sebelum akhirnya mengikuti langkah Sheilla. Tak lupa, Jefri menutup kembali pintu apartemen rapat-rapat. “Kamu mau cari apa, sih, sebetulnya di sini?” Beberapa menit berlalu dan Jefri hanya menunggu dengan bosan. Sesekali dia melirik Sheilla yang tengah memeriksa barang-barang milik sepupunya. Laci, lemari, sampai bawah tempat tidur tidak luput dari atensi Sheilla. Jefri mendengkus, “Aku lapar, Sayang. Kamu masih belum selesai?” Sheilla menghentikan kegiatannya. Dia menoleh ke tempat Jefri berada. Kekasihnya itu duduk di
"Shei ... Sheilla." Panggilan Dina menghentikan langkah Sheilla yang baru saja tiba. Sheilla masuk lewat pintu samping menuju baseman. Niat hati hendak langsung naik ke lantai atas melalui kendaraan vertikal pun urung. Koper dan kandang kucing yang semula Sheilla bawa, disimpan asal di sisi lorong menuju ruang tengah. Dina berdiri di sana melihat ke arahnya. "Ya, Mbak?""Kamu baru pulang kuliah?" tanya Dina begitu Sheilla sudah mendekat. "Itu apa?""Eum ... Shei, tadi ke rumah Om Wira dulu." "Baju-baju kamu?""Iya, Mbak. Kemarin cuma bawa sedikit. Sama sekalian jemput Chiko," terang Sheilla. Dia menengok kanan-kiri. Tapi keadaan rumah sepi. Hanya ada sayup-sayup dari dapur disusul suara berdentang. Sepertinya bibi ART sedang masak. Dina menarik kursi di meja makan. Untuk Sheilla dan untuk dirinya sendiri. "Chiko siapa?""Kucing aku, Mbak.""Owh ... hah? Ku-kucing?" Melihat Dina terkejut, Sheilla yang baru saja hendak mendaratkan bokong pun tidak jadi. "Iya, kucing. Kenapa, Mbak?"
"Kamu lihat kemeja biru muda di mana memangnya, sampe ngira itu punya saya?"Sheilla menghempas punggung ke sandaran jok mobil begitu mengingat kejadian beberapa hari lalu. "Di ... apartemen Kak Bella." Sheilla menggigit bibir pasca menjawab tanya Narendra."Sama siapa ke sana? Sendiri? Ngapain?"Untuk pertanyaan berikutnya, Sheilla memilih bungkam. Dia bergegas pergi ke bilik mandi demi menghindari tatap penuh tuntutan dari Narendra. Pagi ini, tidak seperti biasanya, Narendra sudah lebih dulu terjaga. Sheilla melihat suaminya itu berpakaian rapi. "Dia bersiap sendiri tanpa bantuan? Atau ... asprinya masuk kamar saat aku masih terlelap?" tanya Sheilla menguap tanpa adanya jawaban. Kedua tangannya erat menggenggam kemudi mobil yang bahkan mesinnya belum dia nyalakan.Narendra memberinya kunci mobil sebelum dia keluar kamar tadi. Katanya, mobil sudah seminggu di rumah sejak mengalami perbaikan di bengkel dan tidak ada yang memakai. Padahal, dia sendiri seperti mau pergi. Sudah berbal
“Apa, Tan? Aku? Aku yang nikah sama Kak Naren?” Masih dalam suasana menegangkan pasca diketahui, Bella sang mempelai wanita tak ditemukan di kamarnya. Jangankan Sheilla yang masih speecless mendengar perkataan tantenya barusan, seluruh penghuni rumah tidak ada yang tahu ke mana perginya Bella.“Iya! Kamu gak salah dengar. Gantikan Bella demi tante, Sayang. Mau, ya?” Wanita paruh baya itu memegang kedua tangan Sheilla, seraya mengangguk meyakinkan keponakannya. “Cuma kamu yang bisa, Shei. Kamu sayang sama keluarga ini, kan? kamu gak mau, kan, kalau om sama tante harus menanggung malu karena ulah kakakmu, Bella?”Sheilla masih mematung. Bibirnya bergetar tak kuasa untuk berucap. Keringat dingin mulai mengucur di pelipis, bahkan juga tangannya yang digenggam Alma—sang tante. Entah ini permintaan atau perintah, sebab sejak Sheilla tinggal dan diurus di rumah ini, Alma tidak pernah bicara selembut sekarang. Mata Alma yang mulai berkaca-kaca membuat Sheilla semakin bimbang.“Om ….” “Kamu g
Hanya membutuhkan kurang dari satu jam untuk Sheilla dirias dan berganti pakaian. Kebaya yang seharusnya dipakai Bella, kini telah melekat di tubuhnya. Namun begitu, Sheilla masih duduk diam di depan cermin. Memandangi pantulan dirinya yang disulap MUA. Selama itu pula, pikirannya bercabang. Apa keputusannya benar? Di mana Jefri yang dia nanti-nantikan? Pemuda itu tidak juga menunjukkan batang hidungnya. Jangankan datang, chat-nya bahkan tak kunjung dibaca. Sheilla gelisah. Degup jantungnya dua kali lebih cepat dari keadaan normal. Ini tidak baik, pikirnya. Semua orang sudah menunggu. Sheilla melirik jam yang menempel pada dinding. Benda berbentuk lingkaran itu menunjukkan pada angka sembilan. Tamu undangan pasti telah datang lebih banyak dari yang Sheilla lihat sebelum drama calon pengantin menghilang. Atau justru mereka sudah bubar, sebab mengira pernikahan gagal? “Sudah waktunya acara inti, Kak. Mari saya antar ke depan,” ucap asisten penata rias yang tadi—saat Sheilla didandan
“Lho, Kak Naren udah selesai, mandinya?” “Ya, seperti yang kamu lihat,” jawab Narendra. Dia sudah kembali duduk di kursi roda dengan pakaian lengkap saat Sheilla membuka pintu. Hal yang membuat gadis itu keheranan dan menatap curiga pada laki-laki yang berstatus suaminya tersebut.“Kenapa?” “Kakak, kok, bisa pake baju dan naik kursi roda sendiri?” Selidik Sheilla.“Oh, itu … yang lumpuh, kan, cuma kaki. Tangan dan anggota tubuh lain masih berfungsi dengan baik,” ucap Narendra sambil mengangkat sebelah alis.Sheilla menggaruk pelipis. “Anggota tubuh lain,” gumamnya. “Ya … yang lain. Mata, telinga, mulut, masih berfungsi. Kamu pikir apa, heum?” Narendra menahan senyum. “Saya masih bisa mendengar suara kamu dari dalam sini. Kamu bilang mau mandi, kan? Tunggu apa lagi, silakan. Saya sudah selesai.”Lagi-lagi Sheilla menggaruk tak gatal, kali ini di bagian tengkuk seraya menyunggingkan senyum kaku. Narendra memutar roda pada kursinya, keluar melewati gadis itu. “Jangan lupa kunci pintu!
Bagi seorang gadis yang baru saja menikah, meninggalkan rumah kedua orang tua adalah momen yang seharusnya paling menyedihkan. Namun, tidak berlaku bagi Sheilla. Gadis itu sudah bertekat untuk membuktikan kecurigaannya pada Narendra. Terlebih, sampai detik ini, masih belum juga ada kabar dari Bella. Mungkin dengan datang ke kediaman Narendra, dia bisa menemukan petunjuk tentang keberadaannya. Sheilla duduk di kursi penumpang tepat di samping Narendra. Sopir pula telah siap di bagian kemudi. Sheilla kembali menatap rumah yang sekian tahun dia tempati. Wira serta Alma melambaikan tangan padanya. Gadis itu menghempas punggung pada sandaran jok begitu mobil sudah melaju. "Tutup kacanya, Shei." Suara Narendra memecah sunyi. Tanpa menjawab, Sheilla mengulurkan tangannya memijit tombol yang ada di pintu, tepat di sisi jendela kendaraan roda empat tersebut. "Kamu masih sedih?" Sheilla menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Kamu tenang aja. Rumah om sama tante kamu gak jauh dari rumahku. Ka
Sheilla berada di kamar baru saat ini, dan tentu saja kamar tersebut milik Narendra. Dia mulai mengeluarkan beberapa barang dari dalam koper. Baju, sengaja Sheilla tidak membawa terlalu banyak. Dia pikir, dengan itu bisa ada alasan untuk bolak-balik ke rumah om-nya nanti."Baju-bajunya kamu simpan di lemari. Itu yang sebelah kanan masih ada ruang kosong." Suara Narendra memecah hening."Baju aku gak banyak, kok, Kak. Simpan di koper aja gak apa-apa."Seketika Narendra melongok ke arah tas di hadapan Sheilla. "Tetap aja harus disimpan, kan? Masa kalau mau ganti, musti buka-buka koper dulu. Lagian, pakaian segitu cukup? Biasanya perempuan ringkih, banyak banget barang yang dibawa padahal pergi cuma sehari dua hari. Ini kamu yang mau tinggal di sini selamanya masa cuma bawa segitu?"Kalimat panjang Narendra membuat Sheilla menoleh sejenak pada laki-laki tersebut. "Siapa juga yang mau selamanya tinggal di sini," gerutu Sheilla."Apa?!""Ish ... bukan apa-apa. Di mana harus aku simpan?" Ga
"Kamu lihat kemeja biru muda di mana memangnya, sampe ngira itu punya saya?"Sheilla menghempas punggung ke sandaran jok mobil begitu mengingat kejadian beberapa hari lalu. "Di ... apartemen Kak Bella." Sheilla menggigit bibir pasca menjawab tanya Narendra."Sama siapa ke sana? Sendiri? Ngapain?"Untuk pertanyaan berikutnya, Sheilla memilih bungkam. Dia bergegas pergi ke bilik mandi demi menghindari tatap penuh tuntutan dari Narendra. Pagi ini, tidak seperti biasanya, Narendra sudah lebih dulu terjaga. Sheilla melihat suaminya itu berpakaian rapi. "Dia bersiap sendiri tanpa bantuan? Atau ... asprinya masuk kamar saat aku masih terlelap?" tanya Sheilla menguap tanpa adanya jawaban. Kedua tangannya erat menggenggam kemudi mobil yang bahkan mesinnya belum dia nyalakan.Narendra memberinya kunci mobil sebelum dia keluar kamar tadi. Katanya, mobil sudah seminggu di rumah sejak mengalami perbaikan di bengkel dan tidak ada yang memakai. Padahal, dia sendiri seperti mau pergi. Sudah berbal
"Shei ... Sheilla." Panggilan Dina menghentikan langkah Sheilla yang baru saja tiba. Sheilla masuk lewat pintu samping menuju baseman. Niat hati hendak langsung naik ke lantai atas melalui kendaraan vertikal pun urung. Koper dan kandang kucing yang semula Sheilla bawa, disimpan asal di sisi lorong menuju ruang tengah. Dina berdiri di sana melihat ke arahnya. "Ya, Mbak?""Kamu baru pulang kuliah?" tanya Dina begitu Sheilla sudah mendekat. "Itu apa?""Eum ... Shei, tadi ke rumah Om Wira dulu." "Baju-baju kamu?""Iya, Mbak. Kemarin cuma bawa sedikit. Sama sekalian jemput Chiko," terang Sheilla. Dia menengok kanan-kiri. Tapi keadaan rumah sepi. Hanya ada sayup-sayup dari dapur disusul suara berdentang. Sepertinya bibi ART sedang masak. Dina menarik kursi di meja makan. Untuk Sheilla dan untuk dirinya sendiri. "Chiko siapa?""Kucing aku, Mbak.""Owh ... hah? Ku-kucing?" Melihat Dina terkejut, Sheilla yang baru saja hendak mendaratkan bokong pun tidak jadi. "Iya, kucing. Kenapa, Mbak?"
Sampai di depan salah satu unit apartemen, Sheilla segera mengeluarkan access card yang dia bawa, dari dalam tasnya. Menempelkan benda tersebut pada bagian sensor. Bunyi khas dari kunci yang terbuka mengusik telinga Sheilla. Gadis itu tersenyum tipis, kemudian menoleh ke arah Jefri. Jefri yang semula menunggu sambil men-scroll layar gawai segera memberi respon. Menggerakkan kepala seolah menyuruh Sheilla masuk lebih dulu. Dia menyimpan ponsel ke dalam saku celana sebelum akhirnya mengikuti langkah Sheilla. Tak lupa, Jefri menutup kembali pintu apartemen rapat-rapat. “Kamu mau cari apa, sih, sebetulnya di sini?” Beberapa menit berlalu dan Jefri hanya menunggu dengan bosan. Sesekali dia melirik Sheilla yang tengah memeriksa barang-barang milik sepupunya. Laci, lemari, sampai bawah tempat tidur tidak luput dari atensi Sheilla. Jefri mendengkus, “Aku lapar, Sayang. Kamu masih belum selesai?” Sheilla menghentikan kegiatannya. Dia menoleh ke tempat Jefri berada. Kekasihnya itu duduk di
Menuruni anak tangga sebab lift rumah sepertinya sedang ada yang memakai. Sheilla melongok ke bawah, lumayan juga turun dua lantai, hampir seperti naik ke ruangan kelas di Universitas—tempat dia menimba ilmu. Belum di sana, tenaga Sheilla sudah lumayan terkuras.Anak tangga terakhir. Sheilla tertegun sejenak sembari menetralkan irama jantung dan tarikan napasnya. Rumah sebesar ini sepi sekali, batinnya. Hanya ada lalu-lalang asisten rumah yang sedang bersih-bersih. Sementara si pemilik entah ada di mana. Dhara, keponakan Narendra, putri semata wayang kakaknya—Dina Hasan—berlari ke arah Sheilla. Memeluk tante baru, gadis kecil itu mendongakkan kepala. Sheilla tersenyum menyambut. "Si cantik, kenapa lari?" "Aduh ... Dhara jangan kabur-kabur lagi, bunda capek, nih. Ayo cepet sini ... mandi."Terdengar suara Dina memanggil-manggil putrinya. Sheilla tersenyum, mengerti kenapa keponakan Narendra itu berlari."Owh ... jadi ... lari sebab gak mau mandi, nih?” Sheilla berjongkok di hadapan
Sheilla berada di kamar baru saat ini, dan tentu saja kamar tersebut milik Narendra. Dia mulai mengeluarkan beberapa barang dari dalam koper. Baju, sengaja Sheilla tidak membawa terlalu banyak. Dia pikir, dengan itu bisa ada alasan untuk bolak-balik ke rumah om-nya nanti."Baju-bajunya kamu simpan di lemari. Itu yang sebelah kanan masih ada ruang kosong." Suara Narendra memecah hening."Baju aku gak banyak, kok, Kak. Simpan di koper aja gak apa-apa."Seketika Narendra melongok ke arah tas di hadapan Sheilla. "Tetap aja harus disimpan, kan? Masa kalau mau ganti, musti buka-buka koper dulu. Lagian, pakaian segitu cukup? Biasanya perempuan ringkih, banyak banget barang yang dibawa padahal pergi cuma sehari dua hari. Ini kamu yang mau tinggal di sini selamanya masa cuma bawa segitu?"Kalimat panjang Narendra membuat Sheilla menoleh sejenak pada laki-laki tersebut. "Siapa juga yang mau selamanya tinggal di sini," gerutu Sheilla."Apa?!""Ish ... bukan apa-apa. Di mana harus aku simpan?" Ga
Bagi seorang gadis yang baru saja menikah, meninggalkan rumah kedua orang tua adalah momen yang seharusnya paling menyedihkan. Namun, tidak berlaku bagi Sheilla. Gadis itu sudah bertekat untuk membuktikan kecurigaannya pada Narendra. Terlebih, sampai detik ini, masih belum juga ada kabar dari Bella. Mungkin dengan datang ke kediaman Narendra, dia bisa menemukan petunjuk tentang keberadaannya. Sheilla duduk di kursi penumpang tepat di samping Narendra. Sopir pula telah siap di bagian kemudi. Sheilla kembali menatap rumah yang sekian tahun dia tempati. Wira serta Alma melambaikan tangan padanya. Gadis itu menghempas punggung pada sandaran jok begitu mobil sudah melaju. "Tutup kacanya, Shei." Suara Narendra memecah sunyi. Tanpa menjawab, Sheilla mengulurkan tangannya memijit tombol yang ada di pintu, tepat di sisi jendela kendaraan roda empat tersebut. "Kamu masih sedih?" Sheilla menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Kamu tenang aja. Rumah om sama tante kamu gak jauh dari rumahku. Ka
“Lho, Kak Naren udah selesai, mandinya?” “Ya, seperti yang kamu lihat,” jawab Narendra. Dia sudah kembali duduk di kursi roda dengan pakaian lengkap saat Sheilla membuka pintu. Hal yang membuat gadis itu keheranan dan menatap curiga pada laki-laki yang berstatus suaminya tersebut.“Kenapa?” “Kakak, kok, bisa pake baju dan naik kursi roda sendiri?” Selidik Sheilla.“Oh, itu … yang lumpuh, kan, cuma kaki. Tangan dan anggota tubuh lain masih berfungsi dengan baik,” ucap Narendra sambil mengangkat sebelah alis.Sheilla menggaruk pelipis. “Anggota tubuh lain,” gumamnya. “Ya … yang lain. Mata, telinga, mulut, masih berfungsi. Kamu pikir apa, heum?” Narendra menahan senyum. “Saya masih bisa mendengar suara kamu dari dalam sini. Kamu bilang mau mandi, kan? Tunggu apa lagi, silakan. Saya sudah selesai.”Lagi-lagi Sheilla menggaruk tak gatal, kali ini di bagian tengkuk seraya menyunggingkan senyum kaku. Narendra memutar roda pada kursinya, keluar melewati gadis itu. “Jangan lupa kunci pintu!
Hanya membutuhkan kurang dari satu jam untuk Sheilla dirias dan berganti pakaian. Kebaya yang seharusnya dipakai Bella, kini telah melekat di tubuhnya. Namun begitu, Sheilla masih duduk diam di depan cermin. Memandangi pantulan dirinya yang disulap MUA. Selama itu pula, pikirannya bercabang. Apa keputusannya benar? Di mana Jefri yang dia nanti-nantikan? Pemuda itu tidak juga menunjukkan batang hidungnya. Jangankan datang, chat-nya bahkan tak kunjung dibaca. Sheilla gelisah. Degup jantungnya dua kali lebih cepat dari keadaan normal. Ini tidak baik, pikirnya. Semua orang sudah menunggu. Sheilla melirik jam yang menempel pada dinding. Benda berbentuk lingkaran itu menunjukkan pada angka sembilan. Tamu undangan pasti telah datang lebih banyak dari yang Sheilla lihat sebelum drama calon pengantin menghilang. Atau justru mereka sudah bubar, sebab mengira pernikahan gagal? “Sudah waktunya acara inti, Kak. Mari saya antar ke depan,” ucap asisten penata rias yang tadi—saat Sheilla didandan
“Apa, Tan? Aku? Aku yang nikah sama Kak Naren?” Masih dalam suasana menegangkan pasca diketahui, Bella sang mempelai wanita tak ditemukan di kamarnya. Jangankan Sheilla yang masih speecless mendengar perkataan tantenya barusan, seluruh penghuni rumah tidak ada yang tahu ke mana perginya Bella.“Iya! Kamu gak salah dengar. Gantikan Bella demi tante, Sayang. Mau, ya?” Wanita paruh baya itu memegang kedua tangan Sheilla, seraya mengangguk meyakinkan keponakannya. “Cuma kamu yang bisa, Shei. Kamu sayang sama keluarga ini, kan? kamu gak mau, kan, kalau om sama tante harus menanggung malu karena ulah kakakmu, Bella?”Sheilla masih mematung. Bibirnya bergetar tak kuasa untuk berucap. Keringat dingin mulai mengucur di pelipis, bahkan juga tangannya yang digenggam Alma—sang tante. Entah ini permintaan atau perintah, sebab sejak Sheilla tinggal dan diurus di rumah ini, Alma tidak pernah bicara selembut sekarang. Mata Alma yang mulai berkaca-kaca membuat Sheilla semakin bimbang.“Om ….” “Kamu g