"Coba Kang Bayu jelaskan. Apa maksud ucapan Akang tadi? Akang pasti salah bicara kan?" Kencana membuntuti Bayu yang masuk ke dalam rumah. Ia harap Bayu segera meralat ucapannya. "Kamu tidak apa-apa, Nia?" Pak Suhardi meraih kedua tangan Nia. Memeriksa keadaan sang putri secara menyeluruh."Nia tidak apa-apa, Yah." Nia menangkan ayahnya. Padahal dalam hati ia juga butuh ditenangkan. Pengakuan Bayu yang mengatakan bahwa dirinya adalah pacarnya, jelas mengejutkan semua pihak. Terutama dirinya sendiri. "Syukurlah kalau begitu. Ayo kita masuk ke dalam." Setelah Pak Suhardi yakin kalau Dia baik-baik saja, Pak Suhardi membimbing sang putri masuk ke dalam rumah. Pertanyaan Kencana pun terabaikan. Karena semua orang sekarang fokus pada Nia. "Kang Bayu. Akang belum-" Kencana menghentikan kalimatnya. Gelengan samar sang ibu membuatnya bungkam. Kencana terpaksa kembali duduk di kursinya. "Apa yang diinginkan Pak Abdi darimu?" tanya Pak Suhardi penasaran. Kini mereka semua kembali duduk di rua
"Nia, Tante tidak membencimu. Tante hanya ingin hidup tenang tanpa masalah." Bu Sekar tidak enak hati menolak Nia secara terang-terangan. Makanya ia menyempatkan diri berbicara pada Nia di ambang pintu."Bu, Sudah. Jangan ikut campur masalah anak muda." Wahyu menarik lengan Bu Sekar. Mencegah sang ibu mengeluarkan lebih banyak kata-kata yang tidak enak didengar."Saya mengerti, Tante . Saya cuma ingin mengingatkan satu hal. Bahwa hidup yang tanpa masalah, justru adalah masalah. Bukannya saya ingin mengajari Tante yang hidup jauh lebih lama. Tapi setahu saya, selama seseorang masih hidup, maka masalah akan selalu ada," pungkas Nia tegas. Bu Sekar mengangguk singkat sebelum ditarik Wahyu menjauh. "Kalau kamu ingin memenangkan hati Bu Sekar, mulailah dengan bersikap lembut dan penurut. Bukan dengan memberinya nasehat kehidupan yang sudah lebih dulu ia jalani." Bu Isnaini menepuk simpatik bahu Nia."Sayangnya Ibu tadi juga sudah lebih dulu menjatuhkan nilai saya di hadapan Bu Sekar. Jadi
"Dari hari pertama ke sini, Teh Nia sudah menggoda Kang Bayu, Yah. Pokoknya Teh Nia terus mencari kesempatan untuk bisa terus berduaan dengan Kang Bayu." Kencana mengadu sambil menyusut air mata.Sembari menghisap rokoknya dalam-dalam, Pak Suhardi mengenadah. Menatap bintang-bintang di langit kelam. Saat ini pikirannya sama kelamnya dengan langit. Ia tidak tahu harus berbuat apa.Kencana melirik ayahnya yang hanya diam dengan tatapan kosong. Sepertinya ayahnya tidak menyimak apa yang ia katakan."Ayah pasti membela Teh Nia karena Teh Nia itu anak kandung Ayah kan? Sementara Cana hanya anak bawaan dari Ibu," tuduh Kencana kesal. Ia jengkel karenanya ayahnya tidak menanggapi keluh kesahnya."Kamu salah, Cana. Bagi Ayah kalian semua adalah anak-anak Ayah. Tidak ada satu yang istimewa dari yang lain," sahut Pak Suhardi lirih."Kalau begitu, jangan restui hubungan Teh Nia dengan Kang Bayu, Yah. Karena Cana pasti akan sakit hati setiap kali melihat mereka berdua." Kencana memohon kepada sa
"Mari kita luruskan dulu beberapa hal sebelum pertemuan keluarga besar kita nanti malam, Nia." Bayu duduk di hadapan Nia. Saat ini ia mendatangi Nia di kantornya. Kedua keluarga besar akan kembali mengadakan pertemuan terkait perjodohan malam nanti. Tapi kali ini yang dibahas berbeda. Bukan antara dirinya dan Kencana lagi. Tetapi dirinya dan Nia. Untuk itu mereka berdua harus kompak terlebih dahulu sebelum disidang. "Oke. Mulai saja darimu. Toh kamu duluan yang menciptakan masalah," jawab Nia santai."Baiklah. Langsung saja, apa maksud ucapanmu kemarin pada Ibu?" Bayu mendekatkan kursinya. Ia ingin melihat secara dekat ekspresi Nia."Terbalik pertanyaannya. Harusnya saya yang bertanya : apa maksudmu semalam mengaku-ngaku sebagai pacar saya?" Nia bersedekap. Menanti jawaban Bayu. Satu detik... dua detik... tiga detik..."Karena saya memang memilihmu sebagai istri saya." Bayu menatap Nia lekat-lekat. "Kalau saya tidak mau, bagaimana?" tantang Nia sambil melipat tangannya di atas me
"Sebagai suami saya akan mencukupi sandang, pangan dan papanmu. Tetapi untuk gaya hidup hedon, tidak. Saya tegaskan semuanya dari awal agar kamu tidak merasa membeli kucing dalam karung." Bayu menerangkan hak-hak Nia. "Saya tidak buta huruf. Saya bisa membaca sendiri draft-draft perjanjian ini," tutur Nia seraya terus membaca poin demi poin yang seperti tiada habisnya. "Pihak pertama berjanji tidak akan menyentuh pihak kedua tanpa seizin pihak kedua, kecuali pihak kedua telah melanggar kesepakatan bersama. Ini maksudnya apa?" Nia mengembalikan dokumen pada Bayu."Baca penjelasannya dari poin paling atas. Ini, baca yang ini." Bayu menunjuk poin pertama."Ayo, baca. Yang keras," perintah Bayu lagi. Setelah dokumen kembali berpindah tangan, Nia pun melakukan apa yang diminta Bayu."Selama terikat dalam pernikahan, pihak pertama dan pihak kedua tidak boleh selingkuh, menjelekkan salah satu pihak atau pun menceritakan perihal perjanjian ini.""Mengerti kan sekarang?" Bayu menaikkan alisn
"Iya, masuk." Dengan cepat Nia menyambar tissue di meja. Ia menyusuti mata dan pipinya yang lembab. "Bu, di depan ada tamu yang ingin bertemu dengan Ibu." Nani-staffnya, muncul di ambang pintu. "Siapa, Nani?" Nia pura-pura sibuk dengan laptopnya."Kang Erga, Bu." Nani menerangkan nama lengkap tamunya."Oh, Erga Suparna anaknya Pak Koswara." Nia tiba-tiba teringat pada laki-laki yang kemarin dulu ikut berdemo. Ia ingat nama lengkap Erga, karena Dahayu menyukainya. "Iya, Bu. Beliau menunggu di depan," tutur Nani lagi."Antarkan ia ke sini, Ni.""Baik, Bu." Nani menutup pintu dan berlalu. Beberapa saat kemudian pintu kembali diketuk. Nani masuk dengan membawa seorang pemuda bertubuh tinggi dan kekar. "Selamat siang, Teh. Masih ingat saya?" Sang pemuda tersenyum lebar sembari mengulurkan tangan. Mengajak Nia bersalaman. "Masih kok. Silakan duduk, Erga. Ada yang bisa saya bantu?" Nia mempersilakan Erga duduk."Ada banget, Teh. Makanya saya mencari Teteh ke sini." Erga memamerkan gigi
"Apa kamu benar-benar ingin menikahi Nia, Bayu?" Pak Suhardi menatap Bayu dalam-dalam. Saat ini kembali diadakan pertemuan antara kedua besar. Bedanya kali ini yang dibahas adalah pernikahan antara Bayu dengan Nia. Bukan dengan Kencana. Suasananya pun berbeda. Dari yang sebelumnya hangat dan penuh dengan canda tawa, menjadi kaku dan muram. Kencana, Dahayu dan Wahyu juga tidak ikut serta. Hanya ada kedua orang tua dan calon mempelai."Benar, Pak," sahut Bayu tegas. "Apa yang membuatmu pada akhirnya memilih Nia?" tanya Pak Suhardi terus terang. Nia yang duduk di samping Bayu menahan napas. Ia takut kalau jawaban Bayu tidak meyakinkan. Orang seperti Bayu pasti sulit jikalau harus mengarang bebas."Karena saya sudah jatuh cinta padanya, saat saya pertama kali melihatnya turun dari bus antar kota," ungkap Bayu sambil menatap Nia dalam-dalam.Nia meringis. Ia ingat sekali moment yang Bayu ceritakan. Hanya saja apa yang Bayu kisahkan ini sangat berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya. Kare
Akan hal Nia, ia tidak menyangka kalau ayahnya bisa semarah itu pada Bu Isnaini. Hatinya melembut. Ternyata ayahnya peduli padanya. Ayahnya marah karena Bu Isnaini menghinanya. Pembicaraan selanjutnya Nia tidak begitu memperhatikannya lagi. Hatinya sedang berbunga-bunga karena dibela ayahnya. Di tengah pembicaraan tentang tanggal pernikahan, tiba-tiba ponselnya bergetar. Tante Titik meneleponnya. Nia pun meminta diri untuk menerima telepon di luar. "Ya, Tante." Nia menerima panggilan dari Tante Titik."Hallo, Nia. Tante mengganggu tidak?""Tidak kok, Tante. Ada apa Tante menelepon saya? Uang penjualan tas-tas Tante sudah saya transfer bukan?" "Sudah, Nia. Terima kasih banyak ya karena sudah menjualkan tas-tas, Tante. Tante meneleponmu karena ada hal penting yang ingin Tante bicarakan." "Hal penting apa ya, Tante? Katakan saja." Nia memegang ponsel tegang. Nada suara Tante Titik yang bingung membuat perasaannya tidak enak."Begini, Nia. Tante sekarang berada di rumah sakit. Om Bowo
Nia tersenyum haru. Bayu sudah lulus ujian. Selama bulan-bulan terakhir ini, ia memang sengaja memperlakukan Bayu dengan buruk. Ia memberi Bayu begitu banyak tekanan dan juga sikap yang tidak menyenangkan. Ia kira, pada akhirnya kira Bayu akan menyerah dan meninggalkannya. Ternyata Bayu pantang menyerah dan sabar menghadapinya. "Saya juga mencintaimu kok, Yu. Hanya saja saya memilih mencintaimu dalam diam, dalam kesendirian dan dalam mimpi." Nia akhirnya membuka isi hatinya. Bayu terhenyak. Ia bengong sesaat karena mengira pendengarannya bermasalah. "Kamu bilang apa, Nia? Coba u... ulangi." Bayu membersihkan kedua telinganya dengan jari telunjuk. Ia ingin mendengar pengakuan cinta Nia dengan sejelas-jelasnya. Nia pun dengan senang hati mengulangi pernyataan cintanya. "Kenapa harus begitu, Nia?" tanya Bayu dengan suara parau. Keromantisan Nia dan Bayu membuat ruang bersalin hening sejenak. Dokter Widya membuat gerakan menggeleng pelan, saat perawat ingin memindahkan Nia ke ruang pe
Dua Bulan Kemudian - Rumah SakitBayu berlari menyusuri lorong rumah sakit, jantungnya berdegup kencang. Kedua orang tuanya, Bu Sekar dan Pak Jafar, mengikuti di belakangnya dengan wajah cemas. Pak Suhardi sudah menunggu mereka di depan ruang bersalin, wajahnya diliputi kekhawatiran."Bagaimana Nia, Pak?" Bayu bertanya dengan napas tersengal. Ia mengoper pekerjaan di Jakarta pada Wahyu di Jakarta langsung ke Cisarua. "Masih berjuang, Nak. Sudah hampir lima jam." Suara Pak Suhardi terdengar bergetar. Hatinya juga sangat risau.Sekonyong-konyong terdengar suara jeritan tertahan dari ruang bersalin, berikut instruksi-intruksi dari dokter. Bayu mengenali jeritan kesakitan menyayat hati itu. Suara Nia! Bayu mengepalkan tangan, matanya mulai memanas. "Apa saya boleh masuk ke dalam, Pak ?" tanya Bayu khawatir. "Walau kami sudah bercerai, tapi anak yang akan Nia lahirkan adalah darah daging saya. Tolong, beri saya kesempatan untuk mendampingi Nia, Pak." Bayu meminta izin Pak Suhardi."Perg
Nia duduk di sofa faviliun dengan ekspresi tenang, meskipun jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tahu pertemuan ini tidak akan mudah. Dan benar saja, ketika Bayu dan kedua orang tuanya memasuki ruangan, tatapan Bu Sekar langsung tertuju pada perutnya yang membukit.Bu Sekar menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya langsung berkaca-kaca. Ia pun segera menghampiri Nia di sofa dan duduk di sampingnya."Ya Tuhan…" bisiknya dengan suara bergetar. "Aku benar-benar akan menjadi seorang nenek," bisik Bu Sekar penuh perasaan.Pak Jafar yang berdiri di samping Bu Sekar menghela napas panjang. Ia ikut terharu akan menjadi seorang kakek. Selain itu, ia sangat lega. Karena setelah ditemukannya Nia, Bayu jadi kembali bersemangat. Hidupnya menjadi lebih terarah. Bayu sendiri walau diam, tapi sorot matanya penuh rasa haru. Sejak masuk ke dalam faviliun, pandangannya tidak pernah lepas dari wajah Nia. Sinar cinta tidak bisa disembunyikan dari tatapan matanya.Bu Sekar meraih tangan
Nia duduk di sofa faviliun dengan ekspresi tenang, meskipun jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tahu pertemuan ini tidak akan mudah. Dan benar saja, ketika Bayu dan kedua orang tuanya memasuki ruangan, tatapan Bu Sekar langsung tertuju pada perutnya yang membukit.Bu Sekar menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya langsung berkaca-kaca. Ia pun segera menghampiri Nia di sofa dan duduk di sampingnya."Ya Tuhan…" bisiknya dengan suara bergetar. "Aku benar-benar akan menjadi seorang nenek," bisik Bu Sekar penuh perasaan.Pak Jafar yang berdiri di samping Bu Sekar menghela napas panjang. Ia ikut terharu akan menjadi seorang kakek. Selain itu, ia sangat lega. Karena setelah ditemukannya Nia, Bayu jadi kembali bersemangat. Hidupnya menjadi lebih terarah. Bayu sendiri walau diam, tapi sorot matanya penuh rasa haru. Sejak masuk ke dalam faviliun, pandangannya tidak pernah lepas dari wajah Nia. Sinar cinta tidak bisa disembunyikan dari tatapan matanya.Bu Sekar meraih tangan
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Nia, tetapi suaranya terhenti di tenggorokan.Nia tetap berdiri di sana, tersenyum tipis, tanpa dendam atau amarah. Ia sudah mengikhlaskan semuanya."Sudah ya, saya harus ke kantor guru. Setelah beristirahat sebentar saya harus mengajar kembali," kata Mia, menjauh. Elusan tangan Bayu pun terlepas."Baiklah. Bisakah kita bertemu lagi? Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan," pinta Bayu penuh harap."Bisa saja. Tapi harus disesuaikan dengan jadwal saya," jawab Nia setelah menimbang-nimbang sesaat."Kalau begitu, bolehkah saya meminta nomor ponselmu yang baru? Saya membutuhkannya untuk mengatur jadwal denganmu.""Kamu telepon saja Ayah. Nanti Ayah pasti akan menyampaikan pesanmu."Nia menolak memberikan nomor ponselnya."Satu pertanyaan lagi, Nia. Apakah kamu membenci saya?" tanya Bayu harap-harap cemas.Nia mengerutkan kening sesaat sebelum menggeleng mantap. "Tidak."Alhamdulillah."Tepatnya, saya tidak memiliki perasaan apa pun l
Di sebuah sekolah dasar swasta, Budi Pekerti, anak-anak berseragam merah putih duduk dengan tertib. Mereka tengah menunggu kedatangan guru Bahasa Inggris yang sangat mereka sukai.Beberapa saat kemudian, guru yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang. Dengan senyum manis, guru favorit anak-anak kelas dua itu masuk dengan sebuah buku panduan di tangannya."Good morning, class," Nia menyapa murid-muridnya. Sudah empat bulan ini, ia mengajar Bahasa Inggris di sekolah Budi Pekerti."Good morning, Mrs. Nia," murid-murid menjawab serempak."Oke. Today, we are going to learn new words. Does anyone know what 'apple' means in Indonesian?" tanya Nia kepada murid-muridnya.Fuji—salah satu muridnya—mengangkat tangan."Yes, Mrs! 'Apple' is 'apel' in Indonesian," jawabnya dengan yakin."Very good, Fuji! Now, repeat after me. Apple.""Apple," seluruh kelas mengikuti.Bayu berdiri diam di luar kelas. Matanya tak berkedip menatap Nia—mantan istrinya—yang sedang mengajar. Ia tidak menyangka bahwa tempa
"Suhar..." Suara Bu Sekar pecah."Aku mohon... Bayu sudah seperti orang gila enam bulan ini! Ia tidak bekerja, tidak peduli dengan kesehatannya. Tidak ada yang ia pikirkan selain mencari Nia!"Pak Suhardi menarik napas panjang. Hatinya resah. Ia bisa membayangkan bagaimana keadaan Bayu.Bu Sekar menelan ludah, air matanya menggenang."Bayu depresi, Hardi. Aku takut kalau dia sampai menyakiti dirinya sendiri. Bayu hanya ingin menemui Nia sekali saja, Har. Satu kali saja."Hening. Di ujung telepon, Pak Suhardi mengusap wajahnya, serba salah. Ia tahu Nia sangat tersakiti, dan ia sudah berjanji akan melindungi putrinya itu dari segala hal yang membuatnya menderita. Namun, di sisi lain, ia juga melihat bagaimana Bayu benar-benar berubah."Aku akan mengatakan satu rahasia yang selama ini aku pendam semampuku, Har." Suara Bu Sekar bergetar."Apa itu, Sekar?" Suara Pak Suhardi terdengar khawatir."Aku menderita kanker pankreas stadium tiga, Har.""Astaghfirullahaladzim. Berarti pertemuan kit
Enam bulan kemudian.Hujan deras menyelimuti Cisarua sore itu, menciptakan kabut tipis di sepanjang jalanan desa yang sepi. Bayu turun dari mobilnya dengan langkah gontai, membiarkan hujan membasahi tubuhnya yang sudah kedinginan. Rambutnya lepek, wajahnya pucat, dan tubuhnya lebih kurus dari terakhir kali ia menginjakkan kaki di rumah ini.Di beranda, Bu Sekar berdiri dengan payung di tangan. Wajahnya sendu saat melihat putranya dalam keadaan menyedihkan. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih tangan Bayu dan menariknya masuk ke dalam rumah."Ya ampun, Bayu. Enam bulan lamanya kamu tidak pernah ke sini, sekarang kamu datang dalam keadaan seperti ini?" Bu Sekar menyambut sang putra dengan tatapan prihatin.Bayu tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, menatap kosong ke seantero rumah yang dulu terasa hangat karena ada Nia di dalamnya. Namun, kini semua hanya tinggal kenangan."Kau menyiksa diri sendiri, Nak. Lihat dirimu... Kamu bahkan lebih mirip gelandangan sekarang." Bu Sekar memandu putra
"Saya cemburu," ucap Bayu pelan, nyaris seperti bisikan.Nia mengernyit. "Apa maksudmu?"Bayu menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Nia."Semua kekacauan ini, ketidakmasukakalan sikap saya, diawali oleh rasa cemburu," ulang Bayu, kali ini dengan suara lebih keras."Setiap kali saya melihatmu dekat dengan pria lain, saya tidak bisa berpikir jernih. Makanya, semua jadi kacau."Nia diam, namun ia tetap mendengarkan curahan hati Bayu.Bayu menarik napas panjang, menguatkan hatinya untuk terus mengeluarkan isi hatinya."Kamu ingat tidak saat saya melamarmu dulu? Saya bilang pada ayahmu kalau saya jatuh cinta padamu sejak melihatmu turun dari bus. Itu semua benar, Nia. Saya memang sudah menginginkanmu sejak saat itu. Namun, saya gengsi untuk mengakuinya. Karena...""Karena kamu menganggap saya yang penuh dosa ini tidak pantas untukmu yang suci, murni, tak bernoda, bukan?" potong Nia cepat.Bayu kembali menghela napas panjang. Walau terdengar memalukan, ia harus jujur."Benar. S