"Apa kamu benar-benar ingin menikahi Nia, Bayu?" Pak Suhardi menatap Bayu dalam-dalam. Saat ini kembali diadakan pertemuan antara kedua besar. Bedanya kali ini yang dibahas adalah pernikahan antara Bayu dengan Nia. Bukan dengan Kencana. Suasananya pun berbeda. Dari yang sebelumnya hangat dan penuh dengan canda tawa, menjadi kaku dan muram. Kencana, Dahayu dan Wahyu juga tidak ikut serta. Hanya ada kedua orang tua dan calon mempelai."Benar, Pak," sahut Bayu tegas. "Apa yang membuatmu pada akhirnya memilih Nia?" tanya Pak Suhardi terus terang. Nia yang duduk di samping Bayu menahan napas. Ia takut kalau jawaban Bayu tidak meyakinkan. Orang seperti Bayu pasti sulit jikalau harus mengarang bebas."Karena saya sudah jatuh cinta padanya, saat saya pertama kali melihatnya turun dari bus antar kota," ungkap Bayu sambil menatap Nia dalam-dalam.Nia meringis. Ia ingat sekali moment yang Bayu ceritakan. Hanya saja apa yang Bayu kisahkan ini sangat berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya. Kare
Akan hal Nia, ia tidak menyangka kalau ayahnya bisa semarah itu pada Bu Isnaini. Hatinya melembut. Ternyata ayahnya peduli padanya. Ayahnya marah karena Bu Isnaini menghinanya. Pembicaraan selanjutnya Nia tidak begitu memperhatikannya lagi. Hatinya sedang berbunga-bunga karena dibela ayahnya. Di tengah pembicaraan tentang tanggal pernikahan, tiba-tiba ponselnya bergetar. Tante Titik meneleponnya. Nia pun meminta diri untuk menerima telepon di luar. "Ya, Tante." Nia menerima panggilan dari Tante Titik."Hallo, Nia. Tante mengganggu tidak?""Tidak kok, Tante. Ada apa Tante menelepon saya? Uang penjualan tas-tas Tante sudah saya transfer bukan?" "Sudah, Nia. Terima kasih banyak ya karena sudah menjualkan tas-tas, Tante. Tante meneleponmu karena ada hal penting yang ingin Tante bicarakan." "Hal penting apa ya, Tante? Katakan saja." Nia memegang ponsel tegang. Nada suara Tante Titik yang bingung membuat perasaannya tidak enak."Begini, Nia. Tante sekarang berada di rumah sakit. Om Bowo
"Tidak apa-apa, Tante. Simpan saja perhiasannya dulu. Nanti kalau saya ke Jakarta, baru saya ambil. Tante ini ada-ada saja. Saya percaya kok sama Tante. Baik, Tante. Semoga Om Bowo segera pulih, ya." Dia menutup telepon dari Tante Titik. Hatinya ikut lega mendengar Om Bowo kini sudah membaik."Masuk," seru Dia ketika mendengar pintu ruangannya diketuk."Bu Sekar ingin bertemu dengan Ibu. Apakah Ibu bersedia menemuinya?" ujar Nani, staf front office, dengan nada hati-hati. Sejak insiden Kencana yang ia usir karena masuk tanpa izin, staf front office jadi semakin waspada menghadapi tamu yang datang tanpa pemberitahuan."Antar beliau masuk, Nan." Dia menegakkan punggungnya. Intuisinya mengatakan kedatangan Bu Sekar pasti berhubungan dengan rencana pernikahannya. Tak lama kemudian, Nani mengantarkan Bu Sekar masuk."Apa kabar, Dia?" tanya Bu Sekar kikuk."Kabar baik, Tante. Kan tadi malam kita baru bertemu," jawab Dia, mencoba mencairkan suasana dengan bercanda."Oh iya, ya. Kita tadi mal
"Maaf, Bu. Saya-""Jangan salahkan, Nani. Saya yang langsung masuk saja." Bayu memotong permintaan maaf Nani."Kamu boleh kembali ke depan, Win," perintah Dia. Nani pun buru-buru berlalu."Ngapain Ibu ke sini? Ibu tidak mengingkari hal-hal yang sudah kita sepakati bersama bukan?" Bayu langsung bertanya pada sang ibu, begitu pintu ruangan tertutup."Saya dan Ibu membahas tentang gedung-gedung pernikahan yang bagus namun budgetnya juga tidak terlalu mahal di Jakarta, Yu." Piasnya wajah Bu Sekar membuat Dia berpikir cepat. "Hari pernikahan saja belum ditentukan, mengapa kalian malah membahas masalah gedung?" Sembari menjatuhkan pinggulnya ke kursi, Bayu menatap Dia dan sang ibu curiga."Ya sekalian membahas hari dan bulan yang baik juga, Yu. Namanya juga perempuan, ingin semuanya sesempurna mungkin." Dia berusaha memberi alasan yang masuk akal."Tante setuju dengan gedung pilihan terakhir kita. Setelah tanggalnya dipastikan, kamu sudah bisa mengecek lokasi. Tante permisi dulu ya, Dia?"
Keluarga Ilmani baru saja meninggalkan rumah. Telah disepakati bahwa tiga bulan lagi pernikahan Bayu dan Nia akan dilaksanakan. Saat ini, di kamar Kencana sedang terjadi huru-hara. Kencana memporak-porandakan kamar setelah para tamu pulang. Malam ini adalah malam yang paling kelam dalam hidupnya. "Sudah, Cana. Sudah! Jangan merusak barang-barang lagi. Nanti terdengar oleh ayahmu!" Bu Isnaini sibuk menenangkan putri sulungnya. Kencana mengamuk karena akhirnya keluarga Ilmani menyetujui pernikahan Bayu dan Nia. "Biar saja terdengar! Cana sudah tidak peduli lagi. Cana diperlakukan tidak adil hanya karena Cana anak bawaan Ibu!" Kencana berteriak histeris sembari menghempaskan rangkaian kosmetik di meja riasnya. Suara benda-benda pecah menggema di udara. "Dayu, bantu Ibu memegangi tetehmu!" Bu Isnaini meminta bantuan Dayu, yang menghambur masuk ke kamar. Suara barang pecah membuatnya mencari sumber suara. Melihat kakaknya mengamuk seperti orang gila, Dayu memegangi sang kakak. Akibatnya
"Kalian tunggu di sini. Ibu terima telepon dulu." Bu Isnani keluar dari kamar Kencana. Ia tidak bisa menerima telepon di kamar karena keberadaan suaminya. Di ruang kerja juga tidak mungkin. Ia takut kalau suaminya muncul secara tiba-tiba.Setelah berpikir sejenak, Bu Isnani bergegas ke taman belakang. Bik Titin sedang mengepel ruang tamu dan Bik Mumun sedang mencuci piring. Berarti taman belakang aman. Sekarang ia harus lebih hati-hati setelah dipergoki oleh Bik Titin."Hallo, Akang mau apa lagi?" Bu Isnani membuka pembicaraan tanpa basa basi."Seperti biasa. Aku butuh uang.""Aku juga butuh, Kang. Akang tidak bisa terus menerus meminta uang seperti ini. Dari mana aku mencari uang, Kang?""Aku tidak mau tahu. Pokoknya aku butuh tiga puluh juta sekarang. Biaya hidup di Jakarta itu mahal. Aku juga harus rutin ke rumah sakit.""Ini terakhir kalinya aku mengirim uang untuk Akang. Suamiku bisa curiga kalau aku meminta uang terus.""Itu urusanmu. Kamu sendiri yang memilih jalan ini. Kirim u
Citeko di pagi hari. Minggu pagi ini, Bayu sudah menjemputnya di rumah. Sesuai dengan perjanjian, ia harus melakukan kegiatan bakti sosial untuk membayar utang 300 juta rupiahnya pada Bayu. Rencananya, mereka akan mendatangi panti asuhan Al-Mahramah. Ia akan mengajar anak-anak panti baca tulis di sana. Selain itu, Bayu juga membawa berbagai macam sembako dan hadiah untuk anak-anak panti."Masih jauh tidak panti asuhannya?" tanya Nia sambil membuka kaca mobil. Seketika, udara segar nan dingin masuk ke dalam mobil, membawa aroma khas dedaunan, bunga liar, dan tanah basah. Hujan memang baru saja berhenti."Tidak kok. Paling sekitar empat puluh menit lagi. Kenapa? Kamu bosan membayangkan harus mengajar anak-anak kecil yang rusuh?" tuduh Bayu langsung."Kamu salah besar." Nia tersenyum miris. Bayu selalu memandangnya negatif."Saya salah? Lantas apa yang benar? Bahwa kamu sangat antusias mengajar karena suka dengan anak kecil. Begitu?" sindir Bayu sarkastis."Walau kamu mengejek saya, untu
Beberapa saat kemudian, Nia telah asyik bercerita tentang hikayat Malin Kundang. Dari sudut ruangan, Bayu mengamati Nia yang tengah mendongeng seru. Posisi duduk anak-anak panti yang tadinya tegak sekarang menjadi lebih rileks. Aliya, anak yang paling kecil di panti, kini duduk bersandar di pangkuan Nia. "Pak Bayu, apa boleh kami mengambil foto Bu Nia dan anak-anak untuk keperluan dokumentasi?" Rudy, salah seorang pengurus panti bagian humas, menghampiri Bayu."Untuk apa mereka difoto-foto?" Bayu mengerutkan kening."Untuk dokumentasi kegiatan panti, Pak. Biasanya juga begitu. Bu Sekar yang memintanya. Nanti akan saya posting di media sosial panti," terang Rudy sopan."Baiklah," jawab Bayu, meskipun sebenarnya ia tidak menyukainya."Nah, anak-anak. Setelah Ibu menceritakan hikayat Malin Kundang tadi, pelajaran apa yang bisa kalian petik?" tanya Nia."Kita tidak boleh menjadi anak durhaka, Bu," jawab Wita sambil mengangkat tangan."Pintar," puji Nia sambil mengacungkan jempolnya pada
Nia tersenyum haru. Bayu sudah lulus ujian. Selama bulan-bulan terakhir ini, ia memang sengaja memperlakukan Bayu dengan buruk. Ia memberi Bayu begitu banyak tekanan dan juga sikap yang tidak menyenangkan. Ia kira, pada akhirnya kira Bayu akan menyerah dan meninggalkannya. Ternyata Bayu pantang menyerah dan sabar menghadapinya. "Saya juga mencintaimu kok, Yu. Hanya saja saya memilih mencintaimu dalam diam, dalam kesendirian dan dalam mimpi." Nia akhirnya membuka isi hatinya. Bayu terhenyak. Ia bengong sesaat karena mengira pendengarannya bermasalah. "Kamu bilang apa, Nia? Coba u... ulangi." Bayu membersihkan kedua telinganya dengan jari telunjuk. Ia ingin mendengar pengakuan cinta Nia dengan sejelas-jelasnya. Nia pun dengan senang hati mengulangi pernyataan cintanya. "Kenapa harus begitu, Nia?" tanya Bayu dengan suara parau. Keromantisan Nia dan Bayu membuat ruang bersalin hening sejenak. Dokter Widya membuat gerakan menggeleng pelan, saat perawat ingin memindahkan Nia ke ruang pe
Dua Bulan Kemudian - Rumah SakitBayu berlari menyusuri lorong rumah sakit, jantungnya berdegup kencang. Kedua orang tuanya, Bu Sekar dan Pak Jafar, mengikuti di belakangnya dengan wajah cemas. Pak Suhardi sudah menunggu mereka di depan ruang bersalin, wajahnya diliputi kekhawatiran."Bagaimana Nia, Pak?" Bayu bertanya dengan napas tersengal. Ia mengoper pekerjaan di Jakarta pada Wahyu di Jakarta langsung ke Cisarua. "Masih berjuang, Nak. Sudah hampir lima jam." Suara Pak Suhardi terdengar bergetar. Hatinya juga sangat risau.Sekonyong-konyong terdengar suara jeritan tertahan dari ruang bersalin, berikut instruksi-intruksi dari dokter. Bayu mengenali jeritan kesakitan menyayat hati itu. Suara Nia! Bayu mengepalkan tangan, matanya mulai memanas. "Apa saya boleh masuk ke dalam, Pak ?" tanya Bayu khawatir. "Walau kami sudah bercerai, tapi anak yang akan Nia lahirkan adalah darah daging saya. Tolong, beri saya kesempatan untuk mendampingi Nia, Pak." Bayu meminta izin Pak Suhardi."Perg
Nia duduk di sofa faviliun dengan ekspresi tenang, meskipun jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tahu pertemuan ini tidak akan mudah. Dan benar saja, ketika Bayu dan kedua orang tuanya memasuki ruangan, tatapan Bu Sekar langsung tertuju pada perutnya yang membukit.Bu Sekar menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya langsung berkaca-kaca. Ia pun segera menghampiri Nia di sofa dan duduk di sampingnya."Ya Tuhan…" bisiknya dengan suara bergetar. "Aku benar-benar akan menjadi seorang nenek," bisik Bu Sekar penuh perasaan.Pak Jafar yang berdiri di samping Bu Sekar menghela napas panjang. Ia ikut terharu akan menjadi seorang kakek. Selain itu, ia sangat lega. Karena setelah ditemukannya Nia, Bayu jadi kembali bersemangat. Hidupnya menjadi lebih terarah. Bayu sendiri walau diam, tapi sorot matanya penuh rasa haru. Sejak masuk ke dalam faviliun, pandangannya tidak pernah lepas dari wajah Nia. Sinar cinta tidak bisa disembunyikan dari tatapan matanya.Bu Sekar meraih tangan
Nia duduk di sofa faviliun dengan ekspresi tenang, meskipun jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tahu pertemuan ini tidak akan mudah. Dan benar saja, ketika Bayu dan kedua orang tuanya memasuki ruangan, tatapan Bu Sekar langsung tertuju pada perutnya yang membukit.Bu Sekar menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya langsung berkaca-kaca. Ia pun segera menghampiri Nia di sofa dan duduk di sampingnya."Ya Tuhan…" bisiknya dengan suara bergetar. "Aku benar-benar akan menjadi seorang nenek," bisik Bu Sekar penuh perasaan.Pak Jafar yang berdiri di samping Bu Sekar menghela napas panjang. Ia ikut terharu akan menjadi seorang kakek. Selain itu, ia sangat lega. Karena setelah ditemukannya Nia, Bayu jadi kembali bersemangat. Hidupnya menjadi lebih terarah. Bayu sendiri walau diam, tapi sorot matanya penuh rasa haru. Sejak masuk ke dalam faviliun, pandangannya tidak pernah lepas dari wajah Nia. Sinar cinta tidak bisa disembunyikan dari tatapan matanya.Bu Sekar meraih tangan
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Nia, tetapi suaranya terhenti di tenggorokan.Nia tetap berdiri di sana, tersenyum tipis, tanpa dendam atau amarah. Ia sudah mengikhlaskan semuanya."Sudah ya, saya harus ke kantor guru. Setelah beristirahat sebentar saya harus mengajar kembali," kata Mia, menjauh. Elusan tangan Bayu pun terlepas."Baiklah. Bisakah kita bertemu lagi? Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan," pinta Bayu penuh harap."Bisa saja. Tapi harus disesuaikan dengan jadwal saya," jawab Nia setelah menimbang-nimbang sesaat."Kalau begitu, bolehkah saya meminta nomor ponselmu yang baru? Saya membutuhkannya untuk mengatur jadwal denganmu.""Kamu telepon saja Ayah. Nanti Ayah pasti akan menyampaikan pesanmu."Nia menolak memberikan nomor ponselnya."Satu pertanyaan lagi, Nia. Apakah kamu membenci saya?" tanya Bayu harap-harap cemas.Nia mengerutkan kening sesaat sebelum menggeleng mantap. "Tidak."Alhamdulillah."Tepatnya, saya tidak memiliki perasaan apa pun l
Di sebuah sekolah dasar swasta, Budi Pekerti, anak-anak berseragam merah putih duduk dengan tertib. Mereka tengah menunggu kedatangan guru Bahasa Inggris yang sangat mereka sukai.Beberapa saat kemudian, guru yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang. Dengan senyum manis, guru favorit anak-anak kelas dua itu masuk dengan sebuah buku panduan di tangannya."Good morning, class," Nia menyapa murid-muridnya. Sudah empat bulan ini, ia mengajar Bahasa Inggris di sekolah Budi Pekerti."Good morning, Mrs. Nia," murid-murid menjawab serempak."Oke. Today, we are going to learn new words. Does anyone know what 'apple' means in Indonesian?" tanya Nia kepada murid-muridnya.Fuji—salah satu muridnya—mengangkat tangan."Yes, Mrs! 'Apple' is 'apel' in Indonesian," jawabnya dengan yakin."Very good, Fuji! Now, repeat after me. Apple.""Apple," seluruh kelas mengikuti.Bayu berdiri diam di luar kelas. Matanya tak berkedip menatap Nia—mantan istrinya—yang sedang mengajar. Ia tidak menyangka bahwa tempa
"Suhar..." Suara Bu Sekar pecah."Aku mohon... Bayu sudah seperti orang gila enam bulan ini! Ia tidak bekerja, tidak peduli dengan kesehatannya. Tidak ada yang ia pikirkan selain mencari Nia!"Pak Suhardi menarik napas panjang. Hatinya resah. Ia bisa membayangkan bagaimana keadaan Bayu.Bu Sekar menelan ludah, air matanya menggenang."Bayu depresi, Hardi. Aku takut kalau dia sampai menyakiti dirinya sendiri. Bayu hanya ingin menemui Nia sekali saja, Har. Satu kali saja."Hening. Di ujung telepon, Pak Suhardi mengusap wajahnya, serba salah. Ia tahu Nia sangat tersakiti, dan ia sudah berjanji akan melindungi putrinya itu dari segala hal yang membuatnya menderita. Namun, di sisi lain, ia juga melihat bagaimana Bayu benar-benar berubah."Aku akan mengatakan satu rahasia yang selama ini aku pendam semampuku, Har." Suara Bu Sekar bergetar."Apa itu, Sekar?" Suara Pak Suhardi terdengar khawatir."Aku menderita kanker pankreas stadium tiga, Har.""Astaghfirullahaladzim. Berarti pertemuan kit
Enam bulan kemudian.Hujan deras menyelimuti Cisarua sore itu, menciptakan kabut tipis di sepanjang jalanan desa yang sepi. Bayu turun dari mobilnya dengan langkah gontai, membiarkan hujan membasahi tubuhnya yang sudah kedinginan. Rambutnya lepek, wajahnya pucat, dan tubuhnya lebih kurus dari terakhir kali ia menginjakkan kaki di rumah ini.Di beranda, Bu Sekar berdiri dengan payung di tangan. Wajahnya sendu saat melihat putranya dalam keadaan menyedihkan. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih tangan Bayu dan menariknya masuk ke dalam rumah."Ya ampun, Bayu. Enam bulan lamanya kamu tidak pernah ke sini, sekarang kamu datang dalam keadaan seperti ini?" Bu Sekar menyambut sang putra dengan tatapan prihatin.Bayu tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, menatap kosong ke seantero rumah yang dulu terasa hangat karena ada Nia di dalamnya. Namun, kini semua hanya tinggal kenangan."Kau menyiksa diri sendiri, Nak. Lihat dirimu... Kamu bahkan lebih mirip gelandangan sekarang." Bu Sekar memandu putra
"Saya cemburu," ucap Bayu pelan, nyaris seperti bisikan.Nia mengernyit. "Apa maksudmu?"Bayu menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Nia."Semua kekacauan ini, ketidakmasukakalan sikap saya, diawali oleh rasa cemburu," ulang Bayu, kali ini dengan suara lebih keras."Setiap kali saya melihatmu dekat dengan pria lain, saya tidak bisa berpikir jernih. Makanya, semua jadi kacau."Nia diam, namun ia tetap mendengarkan curahan hati Bayu.Bayu menarik napas panjang, menguatkan hatinya untuk terus mengeluarkan isi hatinya."Kamu ingat tidak saat saya melamarmu dulu? Saya bilang pada ayahmu kalau saya jatuh cinta padamu sejak melihatmu turun dari bus. Itu semua benar, Nia. Saya memang sudah menginginkanmu sejak saat itu. Namun, saya gengsi untuk mengakuinya. Karena...""Karena kamu menganggap saya yang penuh dosa ini tidak pantas untukmu yang suci, murni, tak bernoda, bukan?" potong Nia cepat.Bayu kembali menghela napas panjang. Walau terdengar memalukan, ia harus jujur."Benar. S