***** Dava berjalan dengan langkah malas ke arah parkiran, sekolah sudah berakhir, dan dia berniat langsung pulang. Namun, saat dirinya sudah menaiki sepeda motornya dan keluar dari gerbang, Dava melihat Gevin dan Cia tampak berdebat di tepi jalan. Membuat cowok itu segera memarkirkan sepeda motornya."Cia?" Cia dan Gevin menoleh bersamaan. "Dav, belum pulang?" Gevin bertanya seperti biasa, seakan tidak terjadi apapun. Cia mengalihkan tatapannya."Kalian ngapain di sini?""Nggak, lo sendiri?""Gue mau balik, tapi liat kalian di sini, gue jadi kesini.""Kita nggak kenapa-napa kok, biasa lah. Namanya juga pacaran.""Yakin? Ci?" Cia menoleh, lalu mendekati Dava."Gue balik bareng lo!""Sayang ...""Eee, Vin. Kayaknya gue nggak bisa bantu. Gue duluan ya!" Gevin akhirnya pasrah, "nih, pake punya gue!" Cia mengambil alih helm milik Dava dan memakainya. Dava langsung tancap g
******* Gevin memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya, baru saja dia ingin masuk kedalam rumah, Kevin hampir bertabrakan dengannya. "Baru pulang?" Tanya Kevin. Gevin menatap sang Kakak yang memakai baju santai, bukan jas seperti biasanya."Lo mau kemana?" Kevin menoleh, lalu menatap mobilnya."Mau ke bengkel, kamu mau anter, nanti pulang pakai mobil kamu!" Gevin awalnya malas."Ogah! Lo aja sana sendiri!" Kevin menghela napasnya."Ya sudah. Kamu ganti baju dan istirahat saja di rumah, nanti malam Nenek datang. Jangan membuatnya marah lagi,""Apa! Nenek mau dateng?""Kamu belum tau?" Gevin menggeleng cepat, "Papa bilang, Nenek akan menginap beberapa hari, kamu harus ada di rumah beberapa hari kedepan!""Ah elah, kenpa mendadak banget sih!""Saya nggak tau, sudah saya mau pergi!""Tunggu brho! Gue ikut.""Ya sudah!"*****"Ini, Ci?" Cia mengangguk, lalu segera turun dari mobil Dava."Oi, Ci!" Seorang pria menyapa Cia."Eh, Lim. Mana yang lain?""Lagi di dalem.""Ya udah, gue masuk
***** Dava menatap tidak percaya dengan apa yang dia lihat, lagi dan lagi dia di buat takjub oleh apa yang Cia lakukan. "Ini semua, punya lo?" Dava menatap Cia lagi dan lagi."Lo nggak tau?" Gevin bertanya heran. Dava menggeleng, lalu kembali menatap sebuah bangunan besar bertuliskan castroom."Lo ..." Dava menatap Rio bingung. "Bukannya, lo itu ..." Rio mendekati Dava, dan mengulurkan tangannya."Gue Rio!""Dava ... tapi, bukannya lo yang waktu itu?" Cia sudah masuk ke ruangannya, tanpa perduli apa yang terjadi di luar."Iya, gue yang waktu itu!" Rio melangkah kembali ke sebuah meja yang menjadi meja kerjanya, sudah lebih dari 3 tahun ini, meja itu menjadi tempat dirinya bekerja."Tapi kata Gevin, lo itu ...""Gue juga baru tau kemarin! Ternyata, Rio itu orang kepercayaannya Cia, makannya dia loyal banget sama Cia, bahkan waktu kita tanyain soal hubungan dia sama Cia waktu itu." Gevin menjelaskan.
*******"Waaah." Mata kedua pria yang berdiri tak jauh dari arena latihan tampak berbinar. Bahkan mereka sempat lupa caranya bernapas."Dia ... Cia, kan?" Gevin tampak lebih tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Dava pun begitu, sosok Cia yang biasanya tampak urakan, terlihat hebat saat di arena latihan. Gerakan dan juga kelincahan seorang Elcia yang dia tunjukkan saat menghajar preman-preman di depan Gerbang hari itu, ternyata bukan gerakan sembarangan. Gevin melihat sendiri bagaimana Cia bertarung melawan para preman saat itu, ya walaupun pada akhirnya Cia terluka parah setelahnya."Gue ..." Dava terdiam, tak menyelesaikan ucapannya, matanya memerah dan jantungnya berdetak dengan kencang, Gevin meliriknya sekilas, cowok itu tau arti dari tatapan yang Dava tunjukkan, kagum sekaligus iri. Dava tampak ingin bersaing dengan adiknya, dia ingin menyamai langkahnya, dia ingin bisa berdiri di sisinya. Tidak, dia bahkan berharap bisa berdiri di depannya. "Lo liat, dia keren banget."
******"Tolong bantu gue cari pemain basket cewek!" Suara Kian lantang, terdengar di seluruh penjuru kelas, kedua tangannya menggenggam lengan Cia dengan erat dan ...'Gemetaran?' "Huh!?""Tolong, kali ini aja!" Kian memaksa, Cia memutar bola matanya jengah, menarik tangannya dengan kasar, membuat Kian tersentak dan hampir jatuh. Untungnya gadis itu segera berpegangan pada meja. Cia mendekatkan wajahnya, berucap dengan suara rendah dan tajam, sambil matanya menatap Kian tanpa berkedip."Jangan mimpi!" Setelah itu, pergi dari kelas. Kian terduduk lemas di kursinya, menangis sesenggukan dan bingung harus berbuat apa. Beberapa gadis di kelas, setelah melihat Cia pergi, mereka mendekati Kian, berkata dengan sinis."Burung jelek kayak lo, mau terbang sama phoenix! Lo lagi sekarat ya, sampe ngebayangin hal yang aneh-aneh." Kian yang tengah menangis, semakin menangis. Dia, memang burung jelek, dia tidak bisa di bandingkan den
******"So.sorry!" Gadis yang mengenakan seragam berwarna merah muda itu jatuh terduduk. Dia baru saja menabrak seorang siswa yang berjalan berlawanan arah dengannya."It's ok, cantik. Kenapa buru-buru?" Mendengar pertanyaan itu, si gadis segera bangun, membersihkan bagian belakang roknya lalu mengatakan dengan sangat cepat."Pertandingan basketnya bentar lagi mulai!" Tanpa permisi, si gadis segera berlari melewati murid itu begitu saja. Siswa yang tadi di tabrak menatap punggung gadis itu dengan heran. "Ada team Cheers pasti cantik-cantik, siapa tau bisa dapet satu." Siswa itu berjalan menuju lapangan basket yang berada di dalam gedung 3. Sampai di tempat itu, suasananya sungguh sangat ramai, tidak dia sangka bahwa pertandingannya melawan sekolah lain. Siswa itu segera menghubungi teman-temannya untuk datang menonton."Pasti seru!" Sang siswa duduk di bangku yang berada di tengah, agar bisa menikmati pertandingan dengan lebih
******"T.t.three point!" Seruan itu terdengar dari arah bangku penonton, seketika ruangan menjadi hening, bahkan pembawa acara tidak bersuara sedikitpun. Apa yang terjadi?2 hari sebelum pertandingan....'Syarat kedua, maksud kamu ... kamu ingin kami menyembunyikan identitasmu?' Marlin melihat Cia bingung. Kenapa murid pembuat onar ini sombong sekali, memangnya kenapa dengan identitasnya?'Benar, Bu. Saya tidak ingin identitas saya ketahuan.' ucapan Cia dengan santai. Seina menatap Cia lalu berkata.'Kita bisa atur itu, tapi emangnya lo bisa main basket?' Cia tersenyum.'Kalo mau, lo bisa tanding satu lawan satu, atau mungkin satu tim lawan gue?' Siena menatap Cia dengan bingung.'Apa! Lo mau tanding sama tim kita sendirian?''Kalo lo penasaran?''Nggak adil kalo lo lawan satu tim kita, jadi tanding satu lawan satu sama gue.''Ok!'*'Hebat bahkan Kak Seina nggak cetak gol sama sekali.' Komentar salah satu anggota team.'Tapi Cia juga nggak masukin satu bola pun.' Komentar yang lain
*****"Sorry kita ketinggalan dua angka, gue mau bikin selisih cukup dua point, tapi malah jadi 4 point." Cia berlari masuk ke tengah lapangan, babak kedua akan segera di mulai. Dia menatap Seina yang lebih tinggi darinya."Nggak kok, ini bagus. Saatnya permainan yang sebenarnya." Setelah mengatakan itu, Cia melihat team Kian yang sedang menyemangati."Setelah ini selesai, lo harus berhadapan sama gue!" Gerutunya kesal."Tiga point berturut-turut, ternyata SIS bukan lawan yang mudah." Pembawa acara berucap heboh. Di bangku penonton, Dava masih berdiri, melihat kejadian paling langka yang perah ada dalam hidupnya."Dav, itu ... Cia!" Gevin terus memperhatikan semua pemain dan langsung tertarik dengan pemain bernama EL dengan nomor 4 di punggungnya."Ssttt, gue tau!" Dava segera memperingati Gevin. Terlihat di mata mereka, Cia bergerak dengan gesit tanpa hambatan. Tubuhnya yang cukup mungil di antara pemain yang lain, memudahkannya bergerak dengan bebas, seakan lapangan itu adalah milik
***** Di hari saat setelah pembagian kelas, Kian tengah Berjalan di koridor menuju perpustakaan, dia berniat untuk mengembalikan buku yang dia pinjam sebelum libur sekolah kenaikan kelas kemarin. Ketika masuk, Kian bertemu seorang pria yang tampak sedang membereskan tumpukan buku. Dia adalah Deren, penjaga perpustakaan. Berusia 26 tahun, dan lulusan salah satu jurusan di Samsard University. Jurusan penelitian tentang buku. Deren bahkan sudah hampir membaca setiap jenis buku yang ada di perpustakaan itu."Selamat siang, Kak." sapa Kian ramah dan ceria seperti biasanya."Siang juga. Kian rajin sekali, baru hari pertama masuk sudah ke perpustakaan saja." Kian terkekeh pelan."Iya, Kak. Mau ngembaliin buku yang waktu itu di pinjem." Kian mengangkat dua buah buku berukuran sedang yang dia pegang. Kian meletakkan buku itu di atas meja, Deren segera mencatat nya. Setelah selesai, Kian berniat kembali ke kelas, tentunya kelas barunya di mana
*****"Sama Cia. Gevin juga." Dava membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ponsel berwarna hitam miliknya di tempelkan di telinga kiri.'Jangan terlalu ikut campur, Sayang. Kamu tau kan Cia itu gimana.'"Iya, gue tau kok. Tapi gue juga nggak tau apa jawaban Cia." ucapnya lagi. Saat ini, dia sedang menghubungi kekasihnya, Aqila. 'Yah semoga aja, mereka bisa cepet selesain masalahnya.' harap Aqila. Dava menghembuskan napasnya lelah, tidak tau harus berkata apa."Ngomong-ngomong, lagi ngapain?" Dava bangun dari baringnya, menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya sama seperti biasanya, dia tampan, memiliki warna mata yang tidak umum di Indonesia. Dava pernah memakai softlens untuk menutupi warna asli matanya karena baginya terlalu mencolok, itu terjadi saat Dava masuk ke bangku SMP. Tapi setiap kali Dava memakai softlens, Cia selalu menatapnya tajam dan dingin lebih dari biasanya. Dava jadi ragu untuk memakainya lagi, apa menutupi warna mata aslinya ter
*****"Ok, gue duluan!" Dava melambaikan tangannya pada Iqbal sambil membawa sepeda motornya pergi meninggalkan sekolah, siang ini, seusai sekolah, Dava memutuskan untuk pulang lebih awal, Radith bilang ada yang ingin di bicarakan, jadi dia buru-buru untuk pulang. Di tengah jalan, Dava menghentikan laju motornya saat melihat mobil yang dia kenal tengah berhenti di bahu jalan, lampu mobil masih menyala, pertanda pemiliknya masih di dalam. Dava memutuskan berhenti di belakang mobil itu, lalu turun tanpa melepas helm miliknya. Dava mengetuk kaca mobil dengan pelan."Ci, Cia ..." panggilnya, gadis yang di dalam menoleh, membuka pintu dengan perlahan. Dava mundur beberapa langkah dan terkejut saat pintu terbuka, Cia langsung memeluk dirinya sambil menangis. Dava tentu saja tidak menyangka Cia langsung memeluknya dan menangis."Cia lo kenapa? Siapa yang bikin lo nangis?" Dava bertanya khawatir. Bukannya menjawab, Cia malah semakin menangis dalam
***** Gevin masih di posisi yang sama, duduk di samping tempat tidur sang Nenek. Padahal banyak yang memintanya untuk istirahat, tapi Gevin menolak. Pakaian yang dia pakai semalam masih sama, hingga pagi ini, Gevin tidak mau pergi ke sekolah dan betah duduk di samping Neneknya."Gue mau di sini aja! Jangan ganggu gue!" ucapan Gevin yang mendapat pelototoan dari Angga."Basi lo!" Angga kesal sekali dengan Gevin. "Emangnya lo mau nikah muda, pacar lo kan banyak!" sindir nya kesal. Gevin menatap sang Nenek yang baru saja tertidur. Semalam, setelah meminta maaf dan di maafkan, Sang Nenek berpesan.'Gevin, ingin sekali Nenek melihatmu menikah sebelum Nenek pergi.' tapi itu kan tidak mungkin. Gevin masih sekolah, terlebih dia mencintai Cia, apa Cia mau menikah dengannya, jika tidak, apa Gevin harus menikah dengan orang lain dulu, baru menceraikannya setelah itu kembali pada Cia. Tapi Gevin sudah berjanji akan berubah, jika dia melakuka
****** Rio menatap Gevin heran, cowok itu keluar sambil membawa handuk dan berjalan dengan santai sembari mengeringkan rambutnya. Empat orang lainnya yang tadi ada di sana sudah pulang, mereka bilang lain kali saja datang lagi, karena melihat mood Cia juga tampaknya tidak bagus. Siapa yang tidak tau jika mood Cia sedang buruk maka semua orang bisa kena getahnya. Mungkin hanya Gevin yang kebal dengan itu semua. Ya ada satu lagi, siapa lagi kalau bukan Dava."Lo baikkan sama Cia?" tanya Rio yang tau bahwa sebelumnya Cia bertengkar dengan Gevin."Iya. Thanks ya, udah cerita soal Cia waktu itu." Rio hanya mengedik acuh. Tak menyangka Cia akan memberikan kesempatan pada Gevin."Jangan nyakitin Cia ..." pesan Rio, "gue kasih tau sama lo ya." Rio melirik kamar Cia lalu berbisik pelan, "Cia kalo udah nyaman, bakalan manja minta ampun. Percaya deh sama gue!" Gevin tentu saja tidak percaya, tapi dia juga penasaran. Gimana sosok Cia yang manja. "Gue
****** Gevin membuka pintu ruangan Cia dan masuk tanpa ijin. Cia menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Gevin sudah biasa dengan itu, tapi sekarang Gevin juga sudah tau cara menenangkan nya."Di luar nggak ada yang gue kenal, sayang. Gue kan baru liat mereka." Gevin langsung memeluk Cia dari belakang, menenangkan gadis itu akan kemarahannya. Gevin melihat sekeliling, ruangan itu ternyata ruang kamar, dengan kasur king size dan sebuah lemari besar, juga meja kerja yang berada di sudut ruangan."Lepas gue mau ganti baju! Keluar sana!" Gevin tersenyum cerah."Mau dong liat lo ganti baju ... Bercanda! Sumpah bercanda!" Gevin segera tertawa melihat reaksi Cia. Cowok itu duduk di sofa yang berada di dekat pintu, lalu mengeluarkan ponselnya. "Gue main game sambil nungguin lo aja gimana?" Cia masih menatap Gevin tajam. Dia heran, kenapa bisa nyaman dengan orang semenyebalkan Gevin. Sungguh bodoh sekali. Gevin benar-benar serius bermai
***** Sore harinya, saat Cia tengah mengendarai mobilnya untuk pulang, ya lebih tepatnya dia ingin pergi ke CR, tiba-tiba saja ban mobilnya meledak dan Cia hampir kehilangan kendali, untungnya dia pembalap handal, jadilah dia berhasil selamat, walaupun dia merusak beberapa tanaman yang ada di trotoar jalan. Gadis itu keluar dan terkejut mendapati sebuah paku berukuran cukup besar tertancap di ban depan mobil miliknya. Beberapa Pejalan kaki, bahkan pengenadara motor yang lewat segera berkumpul dan melihat apa yang terjadi dan berniat membantu jika di perlukan."Bahaya banget!" Cia mengambil ponselnya untuk menghubungi Rio, tapi sebelum panggilan tersambung, Cia melihat mobil Gevin yang mendekat, Cia tak jadi menghubungi Rio. Gevin keluar dengan terburu-buru, tanpa menutup pintu mobilnya, dia mendekati Cia dan langsung memeluknya. Cia sendiri sampai terkejut."Are you ok?" tanya cowok itu penuh kekhawatiran."Ya, gue baik-baik aja kok."
*****"Ngapain hayooo!!" "Woaah!" Gevin terkejut bukan main saat seseorang berbicara tepat di belakang kepalanya. Cowok itupun menoleh dan lebih terkejut lagi karena orang yang berada di belakangnya itu adalah seorang cowok jangkung yang bahkan sedikit lebih tinggi darinya. Gevin itu tinggi, bagi anak seusia Gevin, karena cowok itu memiliki tinggi 180 cm. Sedangkan cowok yang tadi mengejutkannya itu lebih tinggi 5 atau 6 centi darinya."Ngapain ngintip-ngintip?" tanya cowok jangkung itu. Gevin melotot kesal."Lo ngapain sih ngagetin gue!" dengusnya kesal."Lo sendiri ngapain di sini, nggak gabung sama yang lain?" Cowok itu kini melihat ke arah orang-orang yang tadi Gevin perhatikan. "Ssst! Jangan ngurusin urusan orang. Dah sana lo pergi. Awas kalo lo ganggu gue lagi!" Gevin memutar kepalanya ingin melihat teman-temannya lagi."Woaaah!" teriakan Gevin lebih kencang dari yang tadi. Cowok itu bahkan sampai terjatuh t
****** Cia mengemasi barangnya dengan hati-hati. Wajahnya masih murung, Bu Dewi yang juga tengah membantu, tampak tersenyum, lalu menepuk bahunya pelan."Jangan terlalu di pikirkan, Mba. Sebaiknya Mba Cia mengikuti kata hati saja." Cia diam tanpa menjawab. Ferry juga sebenarnya sudah membebaskannya, tapi Cia masih ragu, bagaimaba kedepannya, dia sudah dua kali di sakiti dengan hal yang sama, apa dia akan merasakan yang ketiga, keempat, kelima bahkan seterusnya?"Mama, nanti pulang Nuca mau beli kucing." Cia terkejut sekaligus bingung."Kucing?" Bu Dewi justru tertawa."Kemarin saat jalan-jalan, saya dan Mas Nuca lihat kucing di pet shop. Lucu sekali, Mas Nuca katanya mau minta sama Mba Cia." Cia mendekati Nuca dan berjongkok di depannya."Iya, Mama janji nanti pulang kita beli kucing ya.""Yeeey, Mama yang terbaik." Nuca mencium pipi Cia dan memeluknya. Entah kenapa, melihat Nuca bahagia dan tertawa saja membuat Cia ikut merasakannya.*****