Bab 4
Rahang lelaki yang saat ini sedang duduk di hadapan Angel mengetat. Sementara sorot tajamnya semakin dalam menghujam Angel. Kilasan adegan demi adegan kini menari-nari di depan matanya. Saat itu kedua orang Ben memintanya untuk menerima perjodohan dengan Angel lalu menikahi perempuan itu.
“Aku nggak mungkin nikah sama dia, Pi!” sentak Ben keras menolak permintaan orang tuanya. Ia baru saja kembali ke rumah, lalu tiba-tiba disuruh menikah dengan wanita yang tidak dicintainya.
“Tapi kamu wajib menikahi Angel!” balas pria berbadan tegap yang wajahnya merupakan kopasan Ben versi senior.
“Aku nggak mau, Pi. Aku nggak mencintai perempuan itu. Aku sudah punya kekasih!”
Sekeras diri Ben menolak, maka sekuat itu pula ayahnya memaksa.
“Putuskan kekasihmu itu! Papi nggak mau mendengar apapun alasan kamu. Atau kamu mau usaha kita hancur? Kalau memang itu yang kamu inginkan bersiap-siaplah untuk hidup miskin!”
BRAAAK!!!
Pintu dibanting sebelum Ben sempat menjawab.
Ben Evano, pria muda berusia dua puluh tujuh tahun itu mendengus. Ia benci dan sangat menentang keinginan orang tuanya yang bermaksud menikahkannya dengan Angel hanya demi kerjasama bisnis. Saat ini perusahaan keluarganya sedang berada di ujung tanduk. Mereka butuh suntikan dana yang tidak sedikit. Keluarga Angel yang kaya-raya dari keluarga Ben bisa membantu. Apalagi menurut mereka, Angelica Daniel yang merupakan pewaris tunggal perusahaan belum terlalu berpengalaman mengurus bisnis. Gadis itu butuh seseorang untuk mendampinginya.
“Ben, sudahlah. Ikuti kemauan papimu. Soal cinta itu bisa tumbuh belakangan, yang penting kamu menikah dulu.” Natasya—maminya Ben, menyentuh pundak sang putra lalu memberinya nasihat.
“Nggak ada yang namanya cinta tumbuh belakangan, Mi! Aku sudah punya kekasih. Tolong mengertilah …,” ucap Ben memohon dengan sangat, berharap maminya itu benar-benar paham akan perasaannya. Ben tidak ingin menikah dengan orang yang tidak diinginkannya. Ia sudah memiliki kekasih yang sangat ia cintai dan dipacarinya sejak lama.
“No excuse, Ben. Kamu jangan buang-buang peluang emas ini. Kalau kamu menikah dengan Angel maka hidup kita akan terjamin. Kamu nggak perlu memikirkan apa pun sampai tua.”
Mau tidak mau Ben akhirnya menyerah pada keinginan kedua orang tuanya. Ia menikahi perempuan yang tidak dicintainya sama sekali.
“Jawab pertanyaanku, Ben! Kalau kamu memang nggak mencintaiku, jadi apa tujuan kamu menikahiku?”
Lamunan Ben buyar seketika saat suara Angel menyapa telinganya. Perempuan itu masih menanti jawabannya.
“Aku rasa kamu nggak perlu menanyakan hal itu lagi. Kita sama-sama tahu apa alasannya, Angel.”
“Karena kita dijodohkan?”
“Berhenti bertanya untuk hal-hal bodoh seperti itu.” Suara dan tatapan Ben sama dinginnya.
“Kalau memang kamu nggak mau dijodohkan dan menikah denganku, seharusnya kamu bisa menolak.”
Ucapan Angel membuat Ben seketika terdiam. Ia sudah menolak dengan mati-matian dan menentang dengan sekuat tenaga paksaan dari orang tuanya. Nyatanya ia tidak memiliki pilihan selain menerima perjodohan itu.
“Kita sama-sama tahu kita nggak mungkin menghindar dari perjodohan itu,” ucap Ben beberapa detik setelah mendapat jawaban yang paling tepat.
“Kalau begitu kenapa tidak kita jalani saja pernikahan ini, Ben? Kita dijodohkan lalu dinikahkan untuk hidup bersama. Apa salahnya kita coba untuk menjalani dengan baik?”
Sudut-sudut bibir Ben terangkat membentuk senyum miring mendengar ide yang disampaikan perempuan yang berstatus sebagai istrinya itu. Bagaimana bisa mereka menjalani pernikahan dengan baik sedangkan Ben tidak menaruh rasa pada Angel.
“Apa masih belum mengerti juga? Aku tidak mencintai kamu, Angelica Daniel. Sedikit pun tidak.”
Perkataan Ben mengoyak hati Angel. Di sini hanya dirinya yang menyimpan rasa pada lelaki itu. Sejak pertama kali orang tuanya memperlihatkan foto Ben, Angel sudah tertarik pada laki-laki itu. Ia harap setelah menikah mereka bisa saling mengenal lebih dekat agar perasaan cinta tumbuh di antara keduanya. Nyatanya itu hanyalah sekadar angan yang menghuni kepala Angel. Ben tidak menyukainya alih-alih akan mencintainya.
“Tapi kamu bisa mencoba untuk mencintaiku, Ben. Kita sama-sama belajar untuk saling mencintai.” Perkataan itu terlontar dari bibir Angel begitu saja tanpa ia pikirkan apa respon yang akan diterimanya dari Ben. Saat ini hanya lelaki itulah tempat bergantung yang dimilikinya setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Angel ingin mereka menjalani hubungan yang baik serta kehidupan pernikahan yang normal selayaknya orang-orang.
“In your dream, Angelica Daniel. Sampai kapan pun aku nggak akan pernah mencintai kamu. Jangan mimpi kamu!” Ben mengibaskan tangan lalu meminta Angel agar pergi dari ruangannya. “Pacarku sebentar lagi akan datang. Jadi lebih baik kamu menjauh, jangan sampai dia melihat kamu.”
“Apa, Ben?” Angel mengernyitkan dahi, mencoba meyakinkan diri atas apa yang baru saja didengarnya.
“Pacarku akan datang ke sini, jadi sebaiknya kamu pergi.” Ben mengulangi ucapannya dengan nada suara yang diucapkan dengan lebih tegas.
Menguatkan hatinya, Angel membalas tatapan tajam pria di hadapannya itu. “Kamu mungkin terpaksa menikahi aku. Aku juga nggak akan memaksa kamu untuk mencintaiku. Tapi setidaknya jangan permalukan diri kita dengan membawa kekasihmu itu ke sini. Para karyawan dan orang-orang tahu kita adalah suami istri. Jangan rusak reputasimu, Ben.”
“Soal itu kamu nggak usah khawatir. Masih banyak hal-hal yang perlu kamu cemaskan dibanding aku,” balas Ben dengan nada mengejek.
Angel baru akan membalas perkataan Ben ketika tiba-tiba ponsel pria itu berbunyi mengiterupsi mereka. Ben mengambilnya lalu menjawab panggilan saat melihat nama kekasihnya di layar.
“Halo, Yang …”
Ada jeda sejenak sebelum lelaki itu kembali bersuara.
“Oh, kamu sudah berada di kantorku yang baru? Langsung naik saja ya. Ruanganku ada di lantai tiga. Kalau kamu ragu minta sekuriti untuk mengantar ke sini.”
Ben mengembalikan ponsel ke atas meja setelah percakapan singkat itu berakhir.
Angel yang sejak tadi duduk di hadapan Ben melihat dengan jelas perubahan yang begitu drastis di wajah lelaki itu saat berbicara dengannya dan setelah mendapat telepon dari kekasihnya. Raut dingin lelaki itu berganti dengan muka penuh binar yang membuat Angel sadar bahwa kekasihnya begitu berharga bagi Ben.
Ben berdiri dari kursi ketika pintu diketuk lalu berjalan menyongsong ke arah itu. Seorang perempuan bertubuh semampai muncul.
“Hai, Sayang …” Perempuan itu menyapa Ben lalu keduanya berpelukan melepas rindu membelakangi Angel.
Angel menegang di tempat duduk menyaksikan pemandangan menyakitkan yang tersaji di depan matanya. Meski Ben tidak menginginkan pernikahan mereka, namun setidaknya lelaki itu bisa menghargainya sebagai istri.
“Kantor kamu besar se—” Perkataan perempuan yang baru datang itu terputus begitu saja ketika ia melepas pelukannya dari Ben lalu menyaksikan ada orang lain bersama mereka.
Ia mengernyit memerhatikan Angel dengan saksama seakan sedang mengingat sesuatu.
“Hai, kamu Angel kan?” tebaknya kemudian.
Angel membalas tatapan perempuan berambut pendek sebahu itu. Perempuan itu cantik, wajahnya putih mulus. Hanya saja bekas luka sepanjang tiga senti di rahangnya membuat perempuan itu tidak sempurna. Dan Angel tidak akan pernah melupakan bekas luka itu. Bekas luka yang membuatnya diliputi perasaan bersalah untuk waktu yang lama.
Angel sontak berdiri dari kursinya lalu menyapa perempuan tersebut.
“Lolita?!”
***
Bab 5“Iya, aku Lolita. Jadi ini beneran kamu, Ngel?" Perempuan bernama Lolita itu berkata penuh rasa antusias lalu merengkuh tubuh Angel dan membawa ke dalam pelukannya.Angel membalas pelukan Lolita tanpa berkata apa-apa. Sedangkan Ben yang menyaksikan pemandangan tersebut kini diliputi kebingungan. Dari yang dirinya cerna, lelaki itu menyimpulkan bahwa kekasih dan istrinya saling mengenal satu sama lain. Entah ini merupakan sebuah kemalangan atau ia harus mensyukurinya.Kedua perempuan itu kemudian saling mengurai pelukan mereka lalu berpandangan satu sama lain."Ya ampun, Ngel, udah lama banget ya kita nggak ketemu. Kamu ke mana aja sih?" tanya Lolita sembari memindai tubuh Angel dari puncak kepala hingga bawah kaki."Aku kuliah di London, Ta," jawab Angel dengan lidah kelu. Pertemuan yang tidak disangka ini sungguh sangat mengejutkan baginya apalagi setelah mengetahui bahwa teman lamanya semasa SMU dulu adalah kekasih pria yang saat ini menjadi suaminya. Apa tidak ada lagi kejadi
Bab 6Cahaya matahari yang menerobos masuk melalui sela-sela gorden yang tidak sepenuhnya tertutup memaksa Angel untuk membuka matanya. Perempuan itu mengerjap berkali-kali, menyesuaikan diri dengan pemandangan baru.Lalu hal selanjutnya yang Angel rasakan adalah perasaan tidak nyaman yang berasal dari sela-sela pahanya.Perempuan itu lantas meringis. Ia baru akan bergerak ketika menyadari sesuatu hal. Ternyata dirinya tidak sendiri di ranjang besar itu. Ada laki-laki tidur di sebelahnya. Dan laki-laki itu adalah suaminya.Seakan belum cukup mendapat kejutan, Angel kembali dibuat kaget ketika menyingkap selimut dan mendapati dirinya berada dalam keadaan polos tanpa sehelai pun kain pelapis kecuali selembar selimut yang menutupi tubuhnya dan Ben.‘Astaga, apa yang sudah kulakukan?’ pikir Angel di dalam hati.Berbagai pikiran berkejaran di kepalanya. Otaknya dipenuhi oleh tanda tanya besar.Begitu mendapat ingatannya, dengan perlahan adegan demi adegan kemarin malam melintas di depan ma
Bab 7Angel mendengar suara bantingan keras di pintu di saat dirinya keluar dari kamar mandi. Ben menghilang meninggalkan aroma parfum yang soft tapi maskulin. Menghela napasnya dalam-dalam, Angel memutuskan untuk mengabaikan apa yang baru saja terjadi. Lalu perempuan itu membuka lemari. Ia mencari baju yang akan dipakainya hari ini di antara susunan pakaian yang terdapat di sana. Meski hari ini ia sedang tidak baik-baik saja tapi Angel harus tetap ke kantor.Ia menjatuhkan pilihan pada sebuah blus berwarna coklat muda yang dipadu dengan pencil skirt berwarna senada.Ringisan menyembul di paras manis perempuan itu ketika ia mengangkat kakinya untuk memakai rok. Tidak hanya itu saja, pergerakan sekecil apapun membuatnya harus menahan nyeri. Rasa sakit di pangkal pahanya tak kunjung hilang. Dirinya harus menanggung sendiri rasa sakit itu. Seakan belum cukup perasaan sakit yang dialaminya Ben juga menorehkan luka batin di hatinya.Sampai setengah jam kemudian Angel tiba di kantor ia masi
Bab 8“Lolita? Kenapa harus dia?” tanya Angel memprotes.“Kenapa memangnya? Kamu keberatan?” Ben membalas pertanyaan dengan pertanyaan.Tentu saja Angel keberatan. Ia tidak mungkin membiarkan Lolita yang jelas-jelas berstatus sebagai kekasih Ben untuk bekerja di kantornya.“Aku memang keberatan. Apa nggak bisa cari orang lain saja?”“Nggak ada orang lain yang cocok denganku dan benar-benar mengerti aku kecuali Lolita,” jawab Ben bersikukuh dengan keinginannya.“Itu karena kamu belum mencoba. Kamu baru beberapa hari ngantor di sini tapi udah langsung bilang nggak cocok dengan Sofia.”“Jadi aku harus menunggu berapa bulan, hah?” tantang Ben mengangkat dagunya.Menghadapi Ben tidak akan mudah. Hal itu sudah Angel patrikan di dalam hatinya berkali-kali. Tapi tidakkah untuk kali ini lelaki itu bisa diajak berkompromi?“Dengar aku baik-baik, Angel. Aku ingatkan lagi kalau saja kamu lupa. Aku adalah pemilik perusahaan ini. Apa pun yang aku lakukan mutlak menjadi hakku. Aku nggak butuh pertim
Bab 9Angel dan Lolita serentak memandang ke sumber suara bersama dengan dekapan keduanya yang terurai.“Iya, Ben?” kata Lolita menanggapi.“Karena kamu sudah datang jadi aku pikir untuk membicarakannya sekarang dengan Angel. Ayo duduk dulu.” Ben berucap sambil menunjuk sofa yanng berada di ruangan tersebut.Tanpa menunggu diberi aba-aba kedua, segera saja Lolita melangkahkan kakinya menuju tempat yang Ben maksud.Angel masih berdiri terpaku karena merasa tidak diajak duduk bersama. Di dalam hati ia membandingkan cara Ben bicara padanya dan pada Lolita. Ben begitu kasar dan ketus pada Angel sedangkan saat berbicara dengan kekasihnya lelaki itu begitu lemah lembut. Entah kapan Angel akan berada di posisi itu.Ben dan Lolita mulai mengobrol. Setelah pertengkaran kemarin keduanya sudah kembali akur dan mesra seperti yang sudah-sudah. Angel tidak tahu bahwa hubungan keduanya membaik setelah Ben menjanjikan pada Lolita akan menceraikan Angel sesegera mungkin.Begitu menyadari bahwa Angel m
Bab 10Angel kembali ke ruangannya setelah pembicaraan bertiga dengan Ben dan Lolita selesai. Sambil membuka laptop perempuan itu memijit pelipisnya. Entah kenapa kepalanya mendadak berat. Mungkin karena kurang tidur atau bisa jadi karena ia baru saja menyetujui keputusan yang sebenarnya sangat bertentangan dengan hatinya. Namun, sekalipun Angel tidak menyetujui keputusan itu sikapnya tidak akan berarti apa-apa. Ben akan tetap mempekerjakan Lolita sebagai asisten pribadinya. Pria itu tidak butuh masukan dari Angel.Angel meraih gagang telepon lalu menghubungi Luna, meminta asistennya itu untuk datang. Tidak sampai lima menit perempuan berkacamata dengan frame oval serta rambut panjang bergelombang menampakkan diri di hadapannya.“Pagi, Bu, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sopan.“Lun, saya butuh laporan progress pembangunan Mandala Apartemen. Bisa saya lihat sekarang?”“Bisa, Bu, tapi hard file-nya Pak Ben yang pegang. Bapak juga minta laporan itu ke saya.”Angel tertegun sejenak l
Bab 11“Jadi begini sikap yang baik? Baru datang di saat semua sudah berkumpul dan meeting sudah dimulai?”Selama hitungan detik Angel tertegun mencerna kata-kata Ben padanya. Pria itu marah padanya hanya karena Angel terlambat beberapa menit saja.Bukan hanya Angel sendiri, namun seluruh peserta meeting melongo menatap Angel yang sukses menjadi pusat atensi. Mereka tak menduga jika atasan mereka akan sekeras itu pada istrinya sendiri.“Maaf, Pak, saya salah.” Angel melafalkan kata itu sembari matanya menyebar mencari tempat duduk kosong yang tersedia. Ia menemukan satu kursi tak berpenghuni di sebelah Luna. Ia bisa menggunakannya nanti.Ben menggeram kesal di hatinya melihat sikap yang ditunjukkan Angel. Perempuan itu meminta maaf padanya tapi bola matanya bergulir ke mana-mana seakan kata maaf yang baru saja disampaikannya hanya sekadar syarat agar Ben mengizinkannya masuk lalu bergabung bersama peserta rapat yang lain.“Semua orang bisa mengaku salah dan meminta maaf. Tapi apa itu
Menahan perasaan malu, Angel tergesa melangkahkan kakinya menuju tempat duduk kosong di sebelah Luna. Segala gerak-geriknya tidak lepas dari perhatian seisi ruangan kecuali Ben yang saat ini sedang fokus pada iPad-nya.Setelah Angel duduk barulah pria itu menjauhkan muka dari gadget-nya lalu mengalihkan atensi kepada para peserta meeting.“Baik, meeting kita lanjutkan. Seperti yang sudah saya katakan di awal, saya mempunyai asisten baru yaang menggantikan asisten lama di perusahaan ini. Dia yang akan mengatur semua schedule saya dan apa pun yang berhubungan dengan pekerjaan. Tidak itu saja. Dia juga yang akan mengurus semua keperluan pribadi saya. Jadi nanti kalau kalian ingin berhubungan dengan saya harus melewati dia dulu. Saya tidak mau menerima siapa pun secara langsung. Semua harus melalui asisten saya. Dan hal ini berlaku untuk siapa pun.” Di ujung ucapannya Ben melempar pandang padu Angel seakan semua yang dikatakannya barusan ditujukan khusus untuk perempuan itu.Angel membala
Detik waktu seakan berhenti berputar ketika pria itu memutar tubuhnya hingga bertemu mata dengan Angel. Sekujur tubuh Angel seketika menggigil. Pria itu adalah satu-satunya manusia yang tidak ingin Angel temui di muka bumi ini. Kalau pun dirinya harus bertemu dengan pria tersebut maka dia adalah orang terakhir yang ingin Angel lihat."Angel ..." Bibir Ben gemetar saat melafalkan nama perempuan yang sudah bertahun-tahun menghilang dari kehidupannya.Angel membeku di tempat. Kakinya terasa selunak agar-agar hingga ia merasa tidak sanggup lagi menopang tubuhnya sendiri."Mama, Om itu lagi bicara sama Mama." Bobby menggoyang-goyangkan tangan Angel karena ibunya itu terpaku membisu.Angel masih belum sanggup melakukan apa-apa. Semua ini begitu mendadak dan sangat mengejutkannya.Sementara itu Ben masih belum berkedip memandang Angel. Adegan demi adegan yang terjadi di masa lalu kini berputar-putar di kepalanya seperti tayangan film yang diputar ulang. Namun yang paling berkesan adalah saat
Ben yang tadi berdiri tegak membungkukkan sedikit badannya agar sejajar dengan Bobby. Melihat cara anak itu memandangnya membuat Ben mengerti bahwa Bobby meragukannya."Bobby, jangan takut. Om bukan orang jahat atau penculik anak. Maksud Om sebenarnya baik. Om hanya kasihan dan nggak mau Bobby lama menunggu di sini.”Meski Ben sudah mencoba meyakinkannya namun Bobby masih merasa bimbang. Mamanya mengajarkan pada anak itu agar berhati-hati pada orang tidak dikenal."Dari mana Om tahu namaku?" tatap Bobby curiga.Ben menahan senyum melihat ekspresi Bobby yang menggemaskan. Tangannya lantas menyelinap ke balik jas. Dikeluarkannya sesuatu dari sana. Kertas gambar yang kemarin ditemukannya."Ini, Om tahu dari sini."Sepasang mata anak itu terbuka lebar menyaksikan kertas yang kemarin dicarinya ternyata ada bersama Ben."Ini dia yang aku cari. Om ketemu di mana?" kejarnya antusias."Om ketemu di sekolah ini. Kemarin kertasnya jatuh tapi Bobby sudah pulang. Ini ambillah." Ben memberikan kert
Ben menekuri dengan saksama kertas putih di tangannya. Di kertas itu berisi gambar. Bukan gambar biasa melainkan gambar pesawat. Dilihat sepintas lalu gambar tersebut digambar oleh orang dewasa atau seseorang yang begitu berbakat. Gambar tersebut begitu bagus dan rapi. Mulai dari goresannya yang begitu estetik hingga kombinasi warna yang digunakan. Tidak akan ada yang menyangka jika gambar tersebut adalah hasil goresan tangan dari seorang anak yang masih berusia lima tahun. Bahkan Ben sendiri.Kertas itu Ben dapat di sekolah Taman Kanak-Kanak tempatnya bertemu dengan anak yang begitu mirip dengannya. Saat anak itu pergi bersama lelaki yang Ben duga adalah ayahnya Ben baru menyadari anak tersebut meninggalkan sesuatu.Ben memungut kertas gambar tersebut dari tanah. Lalu akibat terlalu penasaran lelaki itu membawa kertas tersebut bersamanya.‘Bobby Fernanda.’ Ben mengeja di dalam hati dua potong kata yang merupakan nama anak tersebut.Berbagai pertanyaan berputar-putar di kepalanya yang
Enam tahun kemudian. "Papa!!!" Segaris senyum tipis terselip di bibir Refal di ketika melihat seorang anak laki-laki memanggil lalu berlari menghampirinya. Anak laki-laki itu berkulit putih dan memiliki paras yang rupawan. Tinggi badannya juga melebihi anak-anak seusianya. Refal tersenyum lantas menyambut tangan anak itu saat ingin bersalaman dengannya. "Gimana sekolahnya, By?" tanyanya pada Bobby, nama anak itu. "Menyenangkan, Pa. Aku suka sekolah di sini." Refal membelai kepala Bobby. Mereka melangkah bersisian menuju tempat mobil Refal diparkir. Tiba-tiba seorang lelaki yang berjalan terburu-buru dari arah berlawanan dengan mereka tidak sengaja menabrak Bobby hingga anak itu terjatuh. "Aduuuuh, Papaaa ...," rintihnya dengan ringisan di wajah. Sontak pria yang menabrak memandang ke arah Bobby. "Maaf, Om nggak senga—" Perkataan pria itu terputus. Wajah anak yang ditabraknya terasa tidak asing lagi dengannya. Matanya, hidungnya, bibirnya, serta bentuk dahinya bagai copy pa
Setelah meninggalkan kamar Angel dan menyuruh perempuan itu beristiraharat Refal muncul tak lama kemudian dengan membawa nampan berisi nasi dan dua buah gelas. Masing-masing gelas tersebut berisi air putih dan teh. Lelaki itu lantas meletakkan di atas nakas."Makanlah dulu," suruhnya pada Angel. Setelah berkata demikian lelaki itu keluar dari kamar.Menghela napasnya, Angel bangkit dari posisinya berbaring. Perempuan itu memijit-mijit pelipisnya. Sementara itu pikirannya mulai mengurai kejadian demi kejadian yang terjadi dalam hidupnya.Apa yang dilakukan Ben sekarang? Apa lelaki itu mencarinya? Apa lelaki itu tidak merasa penasaran karena Angel tidak pulang?Angel menepis pikiran demi pikiran itu dari kepalanya. Mana mungkin Ben mencarinya. Lelaki itu sudah mengusirnya dan terlihat begitu membenci Angel.Memejamkan mata, Angel mengusir pikiran tersebut jauh-jauh. Ia tidak boleh lagi memikirkan Ben apalagi berharap lebih dengan menginginkan lelaki itu mencarinya."Kenapa tidak dimakan
Sore itu Refal baru saja pulang dari tempat kerjanya. Hari ini pasiennya tidak terlalu banyak sehingga ia bisa meninggalkan rumah sakit lebih awal.Sejak pagi hujan turun tanpa henti. Titik-titik air masih terus membasahi hingga saat ini.Refal mengemudi dengan santai. Namun lama kelamaan ia mulai merasa ngantuk. Berkali-kali lelaki yang berprofesi sebagai dokter kandungan tersebut menutupi kuap dengan telapak tangan. Ia berencana setibanya nanti di rumah akan tidur sepuasnya. Bergelung di dalam selimut adalah hal yang sangat diinginkannya saat ini.Tiba-tiba sesuatu mengejutkannya. Lelaki muda itu sontak menekan pedal rem dengan mendadak ketika tiba-tiba melihat seorang perempuan berlari ke tengah jalan dan menabrakkan diri ke mobilnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga ketika orang tersebut ambruk ke aspal tepat di depan mobilnya.Refal buru-buru keluar dari mobil dan melihat sendiri perempuan itu. Kantuknya lenyap. Matanya yang tadi begitu berat mendadak terbuka leb
Langkah kaki Angel semakin menjauh meninggalkan Galaxy Group. Ia mulai lelah lantaran tenaganya yang terus terkuras. Hingga pertolongan itu akhirnya datang.Angel melihat ada taksi melintas di tengah-tengah hujan yang bertambah deras. Diulurkannya tangan ke arah jalan, meminta agar taksi tersebut berhenti.Taksi menepi lalu berhenti di dekat Angel. Beruntung taksi tersebut sedang kosong sehingga Angel bisa masuk ke dalamnya.“Ke mana, Mbak?” Supir taksi menanyakan tujuan Angel saat telah bergerak pelan.Angel tak lantas menjawab karena memang dirinya tidak tahu harus pergi ke mana. Ia hanya ingin menjauh dari Ben yang telah mengusirnya.“Mbak, kita akan ke mana?” Untuk kedua kali supir taksi menanyakannya lantaran Angel belum memberi jawaban.“Jalan saja dulu, Pak.” Angel menjawab. Sambil taksi berjalan ia akan memikirkan tujuannya.Menuruti keinginan penumpangnya, taksi melaju membelah jalan raya. Hingga tiba di traffic light Angel belum bisa menentukan tujuannya.“Mbak, saya harus m
Hari ini Angel tetap beraktivitas seperti biasa. Perempuan itu datang ke kantornya. Kehamilan yang dialaminya sama sekali bukan halangan baginya untuk menjalankan rutinitas. Lagipula ia ingin bertemu dengan Ben. Ia ingin tahu apa suaminya itu sungguh-sungguh dengan keinginan untuk menyuruh Lolita pergi.‘’Kamu yakin tetap kerja hari ini?” tanya Rendra bimbang mengingat saat ini sepertinya keadaan Angel tidak benar-benar sehat.“Aku akan baik-baik saja, Rend. Nggak usah terlalu mengkhawatirkanku,” kata Angel meyakinkan.“Jadi nanti setelah dari kantor kamu juga akan kembali ke apartemen Ben?” Rendra bertanya lagi.“Aku harap begitu.”Kalau sampai Lolita belum pergi juga dari apartemen tersebut maka Angel benar-benar tidak akan kembali ke sana. Sudah cukup. Ia tidak tahan lagi.“Terus kapan Tante ke sini lagi? Sasa kan belum puas main sama Tante,” sela Marsha sambil memandangi Angel dengan wajah polosnya.Angel mengalihkan perhatiannya pada Marsha. Lalu diberinya anak itu segaris senyu
Butuh waktu beberapa detik bagi Lolita untuk meresapi ucapan Ben sebelum perempuan itu berkata, “Hamil?”“Aku juga baru tahu kalau dia hamil,” ucap Ben menimpali.“Kamu yakin kalau dia hamil anakmu?”Pertanyaan yang dilontarkan Lolita tentu mengejutkan Ben. Iya, tadi Ben juga melafalkan hal yang sama saat berada di rumah Rendra. Hanya saja itu merupakan bentuk kekagetannya atas hal yang sekali pun tidak pernah melintas di kepalanya, bukan berarti ia meragukan kalau anak yang dikandung Angel bukan anaknya.“Maksudmu apa, Ta?” Ben ingin Lolita memperjelas kata-katanya yang ambigu.“Maksudku adalah bagaimana mungkin dia bisa hamil anakmu sedangkan kalian baru beberapa waktu belakangan ini berbaikan. Jadi menurutku sangat nggak masuk akal.”Ben sontak membisu. Pria itu mencoba mencerna perkataan kekasihnya. Belum sempat pria itu menyimpulkan, Lolita sudah kembali berbicara.“Aku tahu kamu nggak bodoh, Ben. Kamu sangat cerdas. Jadi aku harap kamu bisa menggunkan kecerdasanmu itu. Jangan ma