Share

66. CLAIRE, LARI!

Author: Allina
last update Last Updated: 2025-04-04 10:11:08

“Itu akibat kamu berani membentak Claire!” teriak Reagan dari dalam kamar.

Baru saja Reagan memberikan tendangan keras pada tubuh Elenio sebab, saat Reagan menginjakkan kakinya di kamar itu, Elenio tertangkap basah hendak melayangkan tamparan pada wajah Claire. Reagan tidak bisa diam melihat itu, sehingga, dia lekas menarik kerah kemeja Elenio dan menghempaskan tubuh pria itu dalam sekali tendangan.

Di lantai yang dingin, Elenio meringis kesakitan. Punggungnya nyeri bukan main setelah menghantam pintu kayu yang cukup tebal hingga membuat benda itu hancur berkeping-keping.

Saat ini, Reagan melangkah menghampiri Elenio dengan sorot mata merah menyala. Ada api amarah yang siap membakar Elenio kapanpun pria itu berulah lagi. “Apakah telinga keturunan bangsawan seperti dirimu mengalami masalah?” tandas Reagan sinis.

Tubuhnya menjulang tinggi tepat di hadapan Elenio yang merangkak mundur menjauh. “Apa kamu tidak dengar ribuan kali Claire mengatakan tidak dan dengan keras menolak tuntuta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    67. TAMPANG POLOS MANIPULATIF

    Pada saat ini Reagan sedang berkutat dengan layar laptopnya. Pikirannya terfokus pada laman website perusahaan Jordan Consisto, kliennya. Perusahaan itu adalah perusahan tambang batubara bonafit di kelasnya. Sudah berdiri sejak dua puluh tiga tahun lamanya namun empat tahun belakangan, diketahui bahwa Jordan Consisto berada di ambang kebangkrutan. Dan kini, mereka sedang membangun kembali perusahaan itu di bawah kepemimpinan Pricilla. Direktur sekaligus CEO baru Jordan Consisto. Reagan membuka setiap bar di laman itu. Membaca profil hingga informasi pendapatan empat tahun terakhir dan perkembangan saham perusahaan itu. Mata Reagan bergerak semakin awas dari kiri ke kanan. Memicing sesekali irisnya membola tiap kali melihat beberapa data yang terasa rancu. Tanpa Reagan sadari, seseorang telah mengisi kursi di sampingnya. Seorang pria mengenakan hoodie hitam mengisi kursi yang selalu kosong itu tanpa ragu. “Hai! Kamu Reagan ‘kan?” sapa pria itu. Reagan menoleh ke samping. Sosok pri

    Last Updated : 2025-04-04
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    68. MEREBUT REAGAN

    Nayla berdiri tak jauh dari Reagan dan Delia. Dia menatap Delia dengan sorot tak suka sejak semalam. Nayla tidak mengerti apa yang sebenarnya Delia pikirkan sampai dia bisa membuat Reagan terlihat frustasi saat ini. “Semalam aku melihat kalian berdua kompak keluar dari bilik penggemar rahasia. Sekarang kalian diam-diam bersembunyi di sini. Apa kalian benar-benar punya hubungan spesial?” tanya Nayla terdengar menghakimi. Matanya nyalang menatap Delia. “Kamu, aku pikir kamu tidak punya cukup nyali untuk mengejar Reagan,” cibirnya lagi. “Apa perlu aku memberitahu dunia tentang skandal kalian berdua?” Wajah Delia sontak memucat. Dia sangat menjaga reputasinya sebagai Mahasiswi berprestasi. “Aku hanya bicara pada Reagan dan mengakui aku mengaguminya karena dia …” Saat ini Reagan tidak akan membiarkan Delia dengan mudah mengungkap identitasnya sebagai sosok di balik SpectraVant. Dia melempar tatapan dingin pada Delia sebagai bentuk peringatan namun, nampaknya Delia tidak cukup peka unt

    Last Updated : 2025-04-05
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   1. HARI PERTAMA

    “Ahhh! Sungguh melelahkan!” Reagan turun dari kereta cepat yang dia tumpangi, meregangkan pinggangnya untuk memulai hari barunya di kota besar New York.Setelah mengatur perasaannya, Reagan bersiap untuk pergi meninggalkan stasiun. Namun, betapa kagetnya karena tiba-tiba pinggangnya dipeluk oleh seorang wanita.Yang pertama dia lihat adalah dada yang besar, pantat yang montok, wajah oval yang imut dan menarik, serta rambut pirang khas gadis Eropa.Prince Reagan Maverick, pria 20 tahun yang sudah menginjak dewasa, tentu saja merasa pemandangan di depannya cukup menarik.“Nona, apakah kamu ingin memelukku seperti ini terus?” tanya Reagan penuh seringai jahat.Claire Cecilia Delaney, memandang Reagan dengan tatapan menjijikkan. Selain tampan, bahkan tidak ada yang menarik dari penampilan pria itu.Eeemmm ... selain tampan, tubuhnya juga kekar dan berotot, itu bisa Claire rasakan saat memeluk tubuh Reagan tadi.Sayangnya, pakaian lusuh yang Reagan kenakan, menandakan dia tidak berasal dar

    Last Updated : 2025-01-30
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   2. PRIA KURANG AJAR

    Suara tamparan dan teriakan wanita itu menimbulkan kegaduhan di sekitar lobi lantai 1, seorang pria bergegas menghampiri wanita itu dan bertanya, “Nay, apa yang terjadi?”“Orang ini, dia ingin bersikap kurang ajar padaku!” seru wanita itu sambil menunjuk ke arah Reagan.“Nona, sejak tadi aku hanya diam dan bertanya ruangan rektor padamu. Kamu bukannya memberitahuku tapi malah menuduhku yang tidak-tidak.” Reagan menaikkan kedua alisnya.Seorang wanita pun maju selangkah dan bertanya pada Reagan, “Tuan, kamu mahasiswa baru? Kebetulan Nayla juga mahasiswa baru di sini, jadi dia masih belum tahu ruang rektor.”Wanita itu berkata sambil tersenyum, dia hanya memakai riasan tipis. Dia cantik secara alami, senyumnya membuat orang merasa betah.“Aku akan mengantarmu ke sana,” tambah wanita itu lagi.Namun, detik berikutnya, Reagan berkata, “Tidak usah, aku akan menghubunginya untuk datang menjemputku.”“Apa menjemputmu?” Wanita itu terkejut ketika mendengar Reagan menyuruh rektor kampus ternam

    Last Updated : 2025-01-30
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   3. TIDAK PUNYA BUKTI

    “Rektor?”“Rektor!”Beberapa mahasiswa menunduk hormat dengan berbagai ekspresi rumit di wajahnya, pun dengan Nayla dan Delia, kaki Nayla seperti sudah enggan untuk berpijak. Wajahnya pucat pasi, namun harga diri terakhirnya masih tidak bisa dibiarkan jatuh.“Rektor, ada keperluan apa Anda menghampiri kami?” tanya Delia penuh hormat.“Aku ingin menjemput mahasiswa baru, Reagan Prince Maverik,” jawab pria dengan rambut yang sudah memutih itu.“Saya, saya orangnya!” jawab Reagan sambil tersenyum menatap Nayla yang masih berdiri mematung.“Tidak mungkin, ini tidak mungkin, kan?” Nayla menggunjang tubuh Delia, “Delia, tolong katakan padaku bahwa ini tidak benar, tolong katakan bahwa aku sedang bermimpi!”Plaakkk!Sebuah tamparan mendarat di wajah Nayla. “Sekarang kamu merasa sakit, kan? Kamu percaya kan bahwa kamu tidak sedang bermimpi?” ujar gadis itu lagi.“Nona, urusan kita belum selesai. Aku akan menemuimu nanti siang.” Reagan berkata penuh seringai licik, sementara Nayla langsung mem

    Last Updated : 2025-01-30
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   4. MENJEBAK REAGAN

    “Kalau begitu ambil buktinya!” Nayla berpikir jika Delia tidak mungkin akan mengkhianatinya.“Bukti apa lagi yang kamu punya, hah?” Nayla kembali menantang.“Aku dari awal sudah menebak bahwa kamu akan mengelak dan menjadikanku kambing hitam. Jadi ….” Reagan mengeluarkan benda usang yang luarnya sudah berkarat. Ternyata itu adalah alat perekam berbentuk bolpoin.Sungguh, tampilannya saja sudah menjijikkan. Namun, tak ada yang tahu bahwa benda itu mampu merekam percakapan dalam radius 500 meter. Reagan biasanya menggunakan alat itu untuk merekam percakapan lawan dari klien-kliennya.Reagan kemudian menyambungkan alat perekam itu pada ponselnya, dan apa yang terjadi? Suara Nayla jelas terdengar di sana, tidak hanya suara Nayla, bahkan suara Delia yang berusaha mencegah Nayla pun terdengar nyaring.Setelah rekaman suara selesai berputar, Reagan lantas maju selangkah dan kini dia berdiri tepat di depan wanita itu.“Nona manis, sudah waktunya kamu mengakuinya, kan?” Reagan berkata sambil t

    Last Updated : 2025-01-30
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   5. GADIS PERAWAN

    Delia merasa bingung, tidak bisa hanya menonton dan menunggu, dia lalu berkata pada Reagan, “Minumanku sudah habis, bisakah aku meminta minumanmu?”“Oh, sure, ambillah!” ucap Reagan tanpa pinggir panjang.Delia mengangkat tangannya dan menuangkan susu milik Reagan ke dalam gelasnya. Dan apa yang terjadi? Susu itu terasa menyengat di tenggorokannya, tidak hanya itu, perutnya sudah mulas dan tidak bisa tertahankan.Ekspresi Delia sangat lucu sekali, dan Reagan tidak bisa menahan senyum liciknya.“Delia, ada apa denganmu?” Reagan berpura-pura terkejut, padahal dalam hati dia sudah bisa menebak hasilnya.Sejak tadi perutnya juga ingin meledak, tidak hanya itu, rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Namun Reagan menahannya sejak tadi, hanya agar Delia beranggapan bahwa rencananya telah gagal.“Reagan, Reagan, apa kamu baik-baik saja?” tanya Delia sambil meringis.“Kenapa? Aku baik-baik saja, apa yang bisa terjadi padaku?”“Kamu! Kamu! Pergilah!” Delia langsung berlari meninggalkan Reagan

    Last Updated : 2025-01-30
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   6. MELEWATI MALAM PERTAMA

    Dan Reagan saat ini sedang duduk minum kopi di sebuah coffee shop dengan gaya santai.“Hhhmm, setelah bercinta, hal yang paling menyenangkan adalah istirahat sejenak sambil minum kopi.” Reagan sedang berpikir dengan tenang, tapi dalam sekejap ketenangannya hilang.“Delia, bagaimana gadis polos nan lembut seperti kamu bisa melakukan hal tolol seperti ini?” gumam Reagan dalam hatinya.Baru setelah memikirkan hal yang mengecewakan ini, ponsel keluaran lama ditambah nama seseorang yang dicintainya muncul di situ.“Reagan, kamu sekarang di mana?” Suara yang sangat bermartabat itu terdengar, tidak perlu ditebak, dia adalah ayah Reagan yang saat ini menetap di Australia.Reagan berkata dengan pasrah, “Ayah, jangan menghubungiku jika masalah tambang itu belum ada kabar baiknya. Sebaiknya Ayah kembali ke New York dan aku akan menghidupi kalian di sini.”Anthony, ayah Reagan berkata, “Kamu bicara apa? Sebaiknya kamu yang pindah ke sini, tambang litium kita sudah menghasilkan dan ayah menduga ha

    Last Updated : 2025-02-06

Latest chapter

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    68. MEREBUT REAGAN

    Nayla berdiri tak jauh dari Reagan dan Delia. Dia menatap Delia dengan sorot tak suka sejak semalam. Nayla tidak mengerti apa yang sebenarnya Delia pikirkan sampai dia bisa membuat Reagan terlihat frustasi saat ini. “Semalam aku melihat kalian berdua kompak keluar dari bilik penggemar rahasia. Sekarang kalian diam-diam bersembunyi di sini. Apa kalian benar-benar punya hubungan spesial?” tanya Nayla terdengar menghakimi. Matanya nyalang menatap Delia. “Kamu, aku pikir kamu tidak punya cukup nyali untuk mengejar Reagan,” cibirnya lagi. “Apa perlu aku memberitahu dunia tentang skandal kalian berdua?” Wajah Delia sontak memucat. Dia sangat menjaga reputasinya sebagai Mahasiswi berprestasi. “Aku hanya bicara pada Reagan dan mengakui aku mengaguminya karena dia …” Saat ini Reagan tidak akan membiarkan Delia dengan mudah mengungkap identitasnya sebagai sosok di balik SpectraVant. Dia melempar tatapan dingin pada Delia sebagai bentuk peringatan namun, nampaknya Delia tidak cukup peka unt

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    67. TAMPANG POLOS MANIPULATIF

    Pada saat ini Reagan sedang berkutat dengan layar laptopnya. Pikirannya terfokus pada laman website perusahaan Jordan Consisto, kliennya. Perusahaan itu adalah perusahan tambang batubara bonafit di kelasnya. Sudah berdiri sejak dua puluh tiga tahun lamanya namun empat tahun belakangan, diketahui bahwa Jordan Consisto berada di ambang kebangkrutan. Dan kini, mereka sedang membangun kembali perusahaan itu di bawah kepemimpinan Pricilla. Direktur sekaligus CEO baru Jordan Consisto. Reagan membuka setiap bar di laman itu. Membaca profil hingga informasi pendapatan empat tahun terakhir dan perkembangan saham perusahaan itu. Mata Reagan bergerak semakin awas dari kiri ke kanan. Memicing sesekali irisnya membola tiap kali melihat beberapa data yang terasa rancu. Tanpa Reagan sadari, seseorang telah mengisi kursi di sampingnya. Seorang pria mengenakan hoodie hitam mengisi kursi yang selalu kosong itu tanpa ragu. “Hai! Kamu Reagan ‘kan?” sapa pria itu. Reagan menoleh ke samping. Sosok pri

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    66. CLAIRE, LARI!

    “Itu akibat kamu berani membentak Claire!” teriak Reagan dari dalam kamar. Baru saja Reagan memberikan tendangan keras pada tubuh Elenio sebab, saat Reagan menginjakkan kakinya di kamar itu, Elenio tertangkap basah hendak melayangkan tamparan pada wajah Claire. Reagan tidak bisa diam melihat itu, sehingga, dia lekas menarik kerah kemeja Elenio dan menghempaskan tubuh pria itu dalam sekali tendangan. Di lantai yang dingin, Elenio meringis kesakitan. Punggungnya nyeri bukan main setelah menghantam pintu kayu yang cukup tebal hingga membuat benda itu hancur berkeping-keping. Saat ini, Reagan melangkah menghampiri Elenio dengan sorot mata merah menyala. Ada api amarah yang siap membakar Elenio kapanpun pria itu berulah lagi. “Apakah telinga keturunan bangsawan seperti dirimu mengalami masalah?” tandas Reagan sinis. Tubuhnya menjulang tinggi tepat di hadapan Elenio yang merangkak mundur menjauh. “Apa kamu tidak dengar ribuan kali Claire mengatakan tidak dan dengan keras menolak tuntuta

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   65. MENYELAMATKAN CLAIRE

    Sebelumnya…Ketika sampai di salah satu rumah elit di kawasan Cobbham, Reagan memarkirkan mobilnya di salah satu sisi pelataran rumah itu. Pria disampingnya nampak gugup. Melihat ke arah rumah itu dan Reagan bergantian. “Kamu serius membawaku kemari?!” katanya dengan ekspresi wajah terkejut-kejut. “Aku sudah mengatakannya, kamu yang tidak percaya,” sahut Reagan. Dia membuka sabuk pengamannya, juga milik pria itu sebelum benar-benar turun dari mobil. “Kamu akan menemui ajalmu hari ini.” Setiap ucapan yang keluar dari mulut Reagan terdengar santai sekaligus menusuk. Pria itu gelagapan diserang panik seakan ucapan Reagan saat ini adalah ancaman nyata yang tidak bisa dielak. Kini Reagan sudah turun dari mobil, dan beralih ke kursi penumpang untuk melepas ikatan tangan pria itu. “Ayo turun! Kamu harus menunjuk siapa di antara mereka yang telah mengusik ketenangan aku dan Claire.”Tubuh lemah penuh lebam itu diseret paksa keluar dari mobil. Langkahnya terseok-seok karena Reagan tidak c

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    64. SIAPA DALANGNYA?

    Satu tangan terkilir dan diputar ke belakang. Gagang pisau yang masih di tangan pria itu, menyisakan sedikit patahan besi runcing. Jika pria itu cukup cerdik, dia bisa menghunus perut Reagan dengan itu. Sayangnya, dia tidak cukup pintar. Seringai di wajah Reagan membuat pria itu merinding. “Kamu tidak akan bisa mematahkan satupun tulangku, bajingan! Pria rendahan sepertimu sebentar lagi akan takluk pada kematian!” ucapnya. Berusaha menggoyahkan Reagan dengan kalimat-kalimat intimidasi. “Berhenti mengatakan omong kosong! Sekarang katakan padaku siapa yang menyuruhmu atau kamu memang sengaja memintaku mematahkan tulang ekor!” Ketika Reagan melayangkan ancamannya, pria itu bungkam seketika. Antara hidup dan mati saat ini nyawanya dipertaruhkan. Dia melirik ke arah temannya yang tergeletak mengenaskan. Tidak bergerak pun tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Apakah dia sudah mati? Sialan! Bahkan di sisa hidupnya saja dia menyebalkan! Pria itu kini hanya bisa berdialog dengan diri

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   63. TEROR MISTERIUS

    Saat ini Reagan mengusap wajahnya frustasi. Di depannya, Delia menatapnya dengan penuh harap. “Bagaimana? Kamu mau ‘kan, Reagan?” Delia bertanya lagi. Dia meluruskan pandangannya pada Delia. Benar-benar serius. “Kita akan bahas masalah ini lain kali,” ujar Reagan dengan nada dingin. “Aku harus mencari seseorang.” Reagan hendak pergi, tetapi Delia menahannya, “Kamu mau cari Claire?” Niat Reagan tertahan. Raut wajah Delia kini berubah murung. “Apakah kamu… ada hubungan dengannya?” Kali ini dia terdengar sangat kecewa.Reagan menghela napas berat. Dia tidak merasa harus mengklarifikasi apapun pada siapapun. Delia bisa merasakan dinginnya sikap Reagan. Sesuatu yang tidak pernah dia temukan sebelumnya. “Tolong berhenti mencari tahu,” ucap Reagan. Dia hanya melontarkan beberapa kata, tetapi ucapannya cukup menusuk dada. Setelah mengatakan itu dan menyisakan kebekuan di hati Delia, Reagan pergi dengan cepat. Siapapun yang berpapasan dengannya, lekas menyingkir karena aura kuat yang pe

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    62. MOMEN GENTING DAN JEBAKAN

    Tidak hanya penonton dan tamu yang datang ke acara itu yang terkejut. Reagan juga diam mematung di tempatnya. “Delia! Penggemar rahasia wanita terbaik malam ini!” Suara pembawa acara semakin membuat kesadaran Reagan hilang.“Delia?” Reagan bergumam lirih. Terlalu terkejut untuk menerima kenyataan. Di tempatnya berdiri Delia melempar senyum tipis nan malu-malu ke arahnya. Dia bahkan tidak segan menghampiri Reagan dan meraih tangan pria itu. “Hai, Reagan! Aku tidak menyangka kamu yang akan menjadi pasangan penggemar rahasiaku,” ujar Delia girang. “Dan aku akan menjaga rahasia tentang kita,” ucap Delia. Dia kini sudah mendekatkan wajahnya ketika mengatakan itu. Tubuh Reagan langsung menegang, tetapi dia juga tidak ingin terlihat lemah di hadapan Delia. Detik itu juga Reagan menyadari, dia telah salah langkah. “Ikut aku,” ucap Reagan tegas. Dia meraih tangan Delia kemudian memboyong gadis itu meninggalkan bilik. Semua orang melempar pandang ke arah mereka, penuh tanya. Bisik-bisik

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    61. BILIK PENGGEMAR RAHASIA

    Bilik penggemar rahasia berisi dua pintu. Akan ada satu orang pria dan satu orang wanita yang dipilih secara acak dari nomor gelang yang mereka pasang dengan sistem. Saat ini, panitia sedang mempersiapkan dua orang yang akan masuk ke dalam bilik. Keduanya tidak akan mengetahui siapa yang akan keluar jadi pasangannya dari bilik itu. “Nomor gelang tiga belas!” Satu panitia laki-laki bertugas memanggil kandidat lelaki di barisan. Merasa nomornya dipanggil, Reagan mengangkat tangan. “Kamu nomor tiga belas? Kemarilah!” kata pria itu. Reagan menurut. Berjalan santai mendekatinya. Dia tahu ini terlalu beresiko. Apalagi dia membawa Claire bersamanya. Bagaimana jika nantinya bukan Claire yang ditemui di bilik itu? Dia cukup khawatir ketika memikirkannya, tetapi, di sinilah tantangannya. “Kamu siap untuk masuk ke bilik?” tanya sang panitia. Reagan mengangguk. “Semoga orang di balik bilik itu adalah orang yang memang kamu harapkan,” sambungnya lagi. Panitia menyuruh Reagan masuk ke dalam bi

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   60. PEMENANG TERKUAT

    “TRING”Tambahan angka seribu muncul di kredit salah satu finalis. Para penonton tercengang dengan hasil yang terpampang di layar besar.Terdengar wanita hologram bersuara lagi. “Selamat! Tambahan seribu poin untuk SpectraVant!”“SpectraVant, kamu telah memenangi kompetisi peretas internasional. Berikan ucapan selamat untuknya!”Kemenangan telak telah diumumkan. Suara pendukung Reagan mulai bergemuruh menyorakkan kemenangan. Sedang Reagan sendiri di balik topengnya tersenyum tipis.Dia tahu dia bisa mendapatkan nilai sempurna dalam lima tugas itu, tetapi dia tidak berniat untuk memamerkan kemampuan

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status